
Segera setelah mendengar Kansha melakukan usaha bunuh diri, Alfin segera berlari menuju ruangan dimana Alan dirawat. Setelah sampai, Alfin langsung menerobos masuk kedalam dan terengah-engah mendekati Alan yang menatapnya terkejut bercampur bingung.
“Ada apa, Fin? Kenapa kamu berlari?” Tanya Bunda bingung.
“Mas, Mas Alan, Kansha..” ucap Alfin terengah-engah. Alan mengernyit lalu sedetik kemudian berubah cemas. Perasaanya jadi tidak enak.
“Kansha kenapa? Alfin, Kansha kenapa? Cepat katakan!” ujar Alan khawatir.
“Kansha, kata salah satu perawat, tidak sadarkan diri usai melakukan percobaan bunuh diri. Dia menusuk nadinya dengan jarum infus.” Jawab Alfin.
Alan mematung, ia menjatuhkan remot yang dipegangnya. Bunda dan Aisyah memekik kecil. Alan tersadar dari keterkejutannya dan buru-buru mencabut jarum infus di punggung tangannya. Dia lekas bangkit dan berlari ke luar kamar.
“Alan!” panggil Bunda. Alfin mendesah pelan kemudian berlari mengikuti Alan yang berlari seperti kesetanan. Bunda dan Aisyah juga ikut menyusul.
Alan berlari cepat, tak dipedulikan punggung tangannya yang berdarah. Denyutan sakit di kakinya juga tidak ia rasakan. Di fikiran Alan, bagaimana kondisi Kansha. Alan merasa kehilangan separuh kesadaran ketika Alfin mengatakan bahwa Kansha mencoba bunuh diri.
Ada apa dengan gadis itu? fikir Alan.
“Dimana kamar pasien bernama Kansha Andara?” tanya Alan panik pada salah satu perawat di resepsionis.
“Kamar VIP no 3.” Jawab perawat itu.
“Terima kasih.” Usai mengatakan itu, Alan langsung berlari kembali.
Ia mengedarkan kanan kiri mencari kamar Kansha. Alan makin cemas hingga kemudian ia melihat papan nama bertuliskan Kansha Andara. Alan langsung masuk begitu saja. Lututnya lemas ketika mendapati Kansha terbaring lemah dengan wajah pucat. Di tangannya, selain infus, juga ada jarum tranfusi darah.
“Alan.” Bunda, Aisyah dan Alfin mendekat pada Alan yang masih terdiam di tempatnya. Mereka bertiga juga mengalihkan tatapannya pada seorang wanita pucat yang terbaring di ranjang.
Alan tidak mengindahkan panggilan bundanya. Dia maju perlahan mendekati Kansha. Bibirnya serasa kering, dan tenggorokannya tercekat. Hingga setetes air mata menetes di pelupuk matanya ketika ia sudah beberapa jengkal dari Kansha.
__ADS_1
“Kamu siapa?” tegur Andrian namun Alan tidak mengindahkannya. Alan malah mengambil tangan kanan Kansha yang pergelangan tangannya di perban. Andrian sempat ingin menghentikan namun Grace menggeleng dan membiarkan Alan menyentuh Kansha.
“Dasar bodoh. Apa yang coba kamu lakukan Kansha?” tanya Alan lirih. “Kenapa kamu mau bunuh diri Kansha? Kenapa kamu mau melukai pergelangan tanganmu?” lanjut Alan mengusap perban Kansha lembut.
Alan mendesah, “Aku bertanya-tanya bagaimana kondisimu. Ketika aku akhirnya mengetahui kondisimu, bukan ini yang kuharapkan. Cepat bangun Kansha.” Kata Alan dengan terisak kecil.
Cepat bangun, Kansha. Kata-kata yang selalu berulang Alan ucapkan.
***
Sudah tiga jam Kansha tidak sadarkan diri. Dan sudah 3 jam pula, Alan hanya duduk memandangi Kansha. Ia tidak bergeming sedikitpun bahkan ketika bunda dan Alfin menyuruhnya kembali ke kamar rawatnya. Dia juga diam saja ketika perawat memasang kembali infusnya. Intinya, Alan tidak ingin pergi kemana-mana sebelum Kansha sadar dan baik-baik saja.
Bunda yang tidak enak dengan kelakuan putranya, meminta maaf pada Grace dan Andrian. Grace dan Andrian mengangguk memaklumi. Bahkan Andrian menitipkan Kansha pada Alan karena dia dan Grace akan pergi menemui seorang psikolog. Di ruangan itu, hanya ada Alan, bunda dan Aisyah. Sedangkan Alfin ada jadwal operasi.
Aisyah menatap punggung Alan dengan nanar. Kekhawatiran Alan pada perempuan bernama Kansha sungguh membuat hatinya teriris. Entah apa yang terjadi sebenarnya. Entah apa yang dirasakan Alan pada Kansha. Aisyah merasa tidak nyaman melihat Alan yang terlihat khawatir dan cemas pada wanita lain.
Bunda menepuk punggung tangan Aisyah yang termenung. Aisyah terkesiap, ia menoleh pada bunda yang tersenyum menenangkan. Aisyah ikut tersenyum dan kembali manatap ke depan.
“Kansha, kamu sudah sadar?” tanya Alan dengan mata memerah. Dia amat bahagia.
“Alan?” ucap Kansha pelan tidak percaya. Ia mendengar suara Alan. Apa ini halusinasinya saja? Apa ia sudah mati?
“Iya, aku Alan. Ada yang sakit? Bagaimana keadaan kamu? Dokter sebentar lagi kesini.” Ujar Alan beruntun.
Kansha mendesah lelah,“Kufikir, aku sudah mati. Kufikir ini halusinasiku saja ketika mendengar suara kamu. Kenapa aku tidak mati?”
Alan mengernyit tidak suka, “Kamu bilang apa? Jangan coba-coba melakukan hal bodoh dan konyol kayak tadi. Ingat, nyawa kamu hanya satu, kamu bukan kucing yang memiliki 9 nyawa.” Tegas Alan.
“Itu sebabnya karena aku hanya punya satu nyawa, jika aku mati sekarang, maka aku tidak akan hidup lagi.” Ucap Kansha tersenyum.
__ADS_1
“Kansha!” seru Alan marah. “Darimana kamu dapat pemikiran konyol seperti itu? Kamu tidak memikirkan dampaknya? Kamu tahu apa yang kamu perbuat itu sangat gila?”
“Aku tahu. Aku hanya merasa tidak sanggup lagi. Ketika ibuku menyebut nama Kania, aku merasa penyesalan itu semakin dalam, mencabik-cabik ulu hatiku dengan perlahan. Membuat rasa penyesalan berkubang hingga menjadi rasa keputus asaan. Aku hanya ingin terbebas dari rasa ini dan aku rasa bila aku mati, aku tidak akan terjebak lagi pada rasa yang menakutkan ini.” jawab Kansha menyayat hati. Begitu melihat Kansha terisak kecil, Alan pun meneteskan air matanya. Ia sungguh tidak sanggup melihat Kansha yang rapuh seperti ini.
“Dasar bodoh. Memangnya kamu fikir, mengakhiri hidupmu sendiri adalah solusi terbaik? Kalau iya, berapa nilai agamamu, hingga kamu tidak mempertimbangkan akan dosa yang akan kamu tanggung nanti?”
“Aku kan sudah bilang, aku jarang beribadah pagi lagi.” Timpal Kansha pelan.
“Nah, kan. Gara-gara kamu jarang ibadah makanya jadi seperti ini. pokoknya aku tegaskan sama kamu, jangan berbuat hal konyol dan bodoh seperti ini lagi. Kalau sampai terjadi lagi, aku cabik-cabik mayat kamu dan kuberikan pada binatang buas di pulau.” Ancam Alan dengan nada marah kontras dengan air matanya masih terus menetes.
***
“Kondisi Kansha baik-baik saja. Untung pendarahannya mampu dihentikan, kalau tidak, maka akibatnya bisa fatal. Dan soal kondisi mental Kansha, saya rasa ada baiknya berkonsultasi pada psikolog. Mental Kansha terguncang hebat. hingga menyebabkan ia memiliki dorongan untuk bunuh diri.”
Perkataan dokter membuat Grace dan Andrian merasa jatuh. Hingga disinilah Andrian dan Grace, menemui psikolog kenalan Andrian sekaligus koleganya itu.
“Apa yang dikatakan dokter Irfan memang benar. Bukan fisik yang mendorong Kansha untuk mengakhiri hidup namun mentalnya. Ia mengalami guncangan hebat menyebabkan dia putus asa dan beranggapan bahwa bunuh diri adalah solusi terbaik. Saya rasa ada semacam trauma masa lalu yang menjadi pemicunya.” Ujar Marisa, sang psikolog.
“Menurut kalian berdua, apa Kansha pernah mengalami kejadian buruk di masa lalunya? Misal saat masa kecilnya?” tanya Marisa.
Andrian mengangguk, “13 tahun lalu, Kansha dan Kania, kakaknya tenggelam di laut, namun saat itu hanya Kansha yang berhasil selamat, sedangkan Kania terseret ombak hingga jasadnya tidak ditemukan.” Jawab Andrian sendu.
“Saat saya mengucapkan nama Kania, Kansha seperti orang kesetanan. Dia berteriak keras dan mengamuk pada kami serta mengusir kami semua keluar.” Tambah Grace.
"Disaat itulah, Kansha melakukan percobaan bunuh diri." tukas Andrian. Bayangan Kansha tak sadarkan diri dengan tangan penuh darah kembali menari dibenaknya. Andai bila Andrian datang lebih satu menit saja, nyawa Kansha akan melayang.
Marisa mengangguk, “Berarti itu yang menjadi traumanya. Kansha mungkin merasa bersalah pada Kania, karena kejadian 13 tahun lalu. Kondisi fisiknya tengah lemah dan dia malah diingatkan dengan Kania, otomatis itu membuat Kansha mengingat kejadian buruk itu. Pemicu bunuh dirinya adalah rasa penyesalan dan rasa bersalah pada Kania.” jelas Marisa.
Andrian mendesah, ia mengurut pangkal hidungnya. Begitupun Grace yang sudah terisak. Ini semua salahnya, fikir Grace. Bila dia tidak mendiktekan bahwa Kansha lah pembunuh Kania, Kansha mungkin tidak mengalami trauma hingga ia memutuskan bunuh diri.
__ADS_1
“Saya tahu, ini berat untuk kalian berdua. Namun saya minta kerja samanya, kita harus berjuang sama-sama demi kesembuhan Kansha. Dan satu lagi, jangan dulu membicarakan soal Kania, Kansha masih belum tenang.” Pesan Marisa.
Kini, Andrian dan Grace punya satu tugas, membuat Kansha kembali seperti sedia kala. Andrian dan Grace juga memutuskan untuk melupakan semuanya dan ingin membuka lembaran baru dengan Kansha, sang putri.