
Seusai resepsi, semua orang beristirahat di kamar hotel yang telah dipesan sebelumnya. Tak terkecuali Alan dan Kansha, pasangan baru itu juga masuk ke kamar mereka. Dan begitu masuk, taburan kelopak bunga mawar merah membentuk love berada di atas kasur putih. Kansha terbelalak terkejut.
"Apa ini?" serunya tak percaya.
"Layanan kamar, mungkin?" ucap Alan tak yakin.
"Mereka menyiapkan banyak hal." komentar Kansha. "Tapi kukira dari kamu." lanjutnya menatap Alan.
Alan menggaruk kepalanya, "Aku tidak kefikiran sampai situ." akunya malu.
Kansha mencebik, "Dasar tidak romantis." dengusnya.
Kansha lalu melanjutkan, "Kamu atau aku dulu yang mandi?"
"Kamu saja." balas Alan.
Kansha mengendikan bahunya lalu melangkahkan kaki menuju kamar mandi, "Aku mandi dulu ya." ucapnya.
"Tunggu." cegah Alan. Kansha berhenti di depan pintu masuk kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Kansha bingung.
Alan tak menjawab, dia malah berjalan menuju Kansha, terus berjalan hingga Kansha mau tak mau memundurkan langkahnya dan masuk ke kamar mandi dengan Alan.
"A-apa yang kamu lakukan?" gelagap Kansha.
Alan terus menatap istrinya dengan sejuta tatapan membuat Kansha menelan salivanya sendiri. Gugup dengan apa yang hendak dilakukan Alan.
"Kansha." panggil Alan dengan nada berat.
"A-apa?" Kansha gugup setengah mati.
Alan terus menatap Kansha, senyumnya hilang ditelan wajah serius yang menggairahkan.
"Jangan lama-lama."
Kansha mengendurkan rahangnya. Jantungnya hampir meledak karena kegugupan luar biasa.
"Aku tahu! Keluar sekarang." usir Kansha cepat. Dia bisa merasakan wajahnya panas karena telah menduga hal yang tidak-tidak.
Alan memundurkan tubuhnya. Dia menatap Kansha dengan santai, "Airnya dingin jangan lupa pakai air panas ya." ucapnya.
"A-aku tahu. Bisakah kamu keluar sekarang?" pinta Kansha masih memerah.
Alan menganggukan kepalanya. Lelaki itu berbalik. Dan Kansha menghembuskan nafas pelan. Masih kesal dengan otaknya yang sudah berfikir macam-macam.
Tapi baru saja sedetik, Alan tiba-tiba memutar kembali tubuhnya menghadap Kansha.
"Kansha." panggilnya.
Kansha tersentak kaget, dia menatap Alan. "Apa lagi?"
"Setelah kufikir-fikir, akan lebih baik kalai kita mandi berdua saja. Jadi airnya akan lebih hangat."
"Apa? Tidak-tidak!" tolak Kansha keras.
"Kenapa?"
"Tentu saja tidak. Jangan macam-macam Alan."
"Kita sudah menjadi suami istri. Apa yang salah?"
"Tapi jangan sekarang. Maksudku bisakan kalau nanti saja malam?"
Kansha seketika menutup mulutnya. Dia keceplosan bicara.
Mata Alan berubah nakal, "Ah jadi maksudmu nanti saja kita melakukannya ketika malam pertama begitu? Kamu sepertinya sudah tidak sabar."
Kansha menggeleng gelagapan, "Bukan itu maksudku." ralatnya.
"Lalu apa maksudmu?" tanya Alan dengan langkah yang semakin dekat pada Kansha.
"A-aku...begini...um." Sial, umpatnya pada dirinya sendiri. Dia jadi tidak bisa menjawab apapun.
"Tidak kusangka kamu sudah memikirkan hal itu. Tapi baguslah. Aku jadi tidak perlu canggung lagi." ujar Alan.
"Alan, begini....pertama, bisakah kamu mundur?" pinta Kansha panik kala dirinya sudah tersudut di wastafel.
Alan menggeleng pelan, "Aku ingin sekarang." bisiknya. Tubuhnya menempel erat di kebaya Kansha.
Kansha menelan salivanya dengan wajah memerah. Masa sekarang? Disaat hari yang masih terang, Alan ingin sekarang? Lalu bagaimana dengan malam pertama mereka?
"Lan..." Kansha sudah tidak bisa berkutik. "Aku masih pakai kebaya dan aksesoris." lirih Kansha.
"Tidak masalah, aku akan membantumu melepaskannya. Termasuk, "Alan menatap Kansha dari atas ke bawah dan berakhir menatap wajah Kansha, "Semuanya." lanjutnya.
"Lan," lirih Kansha. Perempuan itu seketika menutup matanya kala Alan memajukan bibirnya.
Tok tok
Begitu bibirnya akan mendarat di atas bibir Kansha, suara ketukan pintu menyela. Mereka tersentak kaget. Dan Kansha menyadari inilah kesempatannya.
"Aku ke depan dulu." ucap Kansha buru-buru pergi.
Alan yang melihatnya hanya tersenyum geli dan menyusul istrinya yang sudah kabur duluan.
Di sisi lain, Kansha sudah sampai di depan pintu dan langsung membukanya. Figur Alfin dengan satu koper kecil di tangannya berada di hadapannya.
"Alfin!" ucap Kansha dengan raut bahagia.
Ucapkan terimakasih pada adik Alan itu yang sudah membantunya melewati krisis.
"Loh, mbak! Kenapa masih pakai kebaya?" tanya Alfin terkejut kala melihat Kansha masih dengan tampilan sama beberapa jam lalu.
"Mbak?" sahut Kansha mengernyit bingung
Alfin menggaruk kepalanya, "Aku dimarahi bunda karena masih memanggilmu dengan sebutan Kansha padahal kamu adalah kakak iparku dan lebih tua dariku." ucapnya.
Kansha menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Akhirnya sadar juga." ucapnya angkuh.
Alfin hanya meringis kecil.
"Tapi ada apa dengan pakaianmu? Dan koper? Kamu mau pergi kemana?" tanya Kansha baru sadar.
"Iya, aku harus ke Bali sore ini untuk menghadiri acara reunian kampus. Setelah itu aku juga akan ke Spanyol." jelasnya.
"Malam ini? Mendadak sekali." komentar Kansha. "Lalu untuk apa kamu ke Spanyol?" tanyanya.
Alfin baru hendak menjawab kala Alan menyelanya dari dalam, "Dia hendak menjenguk pacarnya." Alfin menganggukan kepalanya.
"Pacar?" seru Kansha kaget. Dia menatap Alan yang sudah berdiri disampingnya kemudian beralih menatap Alfin lagi.
"Wah, Alfin Adendra! Tidak kusangka lelaki sepertimu ternyata diam-diam sudah punya pacar. Jangan lupa kenalkan kepadaku." goda Kansha.
"Jangankan padamu. Aku juga akan mengenalkannya pada anggota keluarga yang lain." timpal Alfin.
"Jadi ceritanya kamu akan menyusul nih?"
"Tentu saja!" balas Alfin cepat. "Aku menyatukan dua pasangan yang tidak sadar diri satu persatu. Dan kini aku juga harus menikah. Mau tunggu apalagi kan, kalau perempuan, harta dan pekerjaan sudah kupunya?" sahut Alfin sombong.
Kansha berdecak, "Baiklah baiklah, Tuan comblang. Terserah apa katamu."
"Jadi kamu datang kesini menganggu kami untuk apa?" sela Alan.
"Aku hendak pamit. Takut-takut aku pergi dan kalian mencariku walau kemungkinannya nihil karena kalian pasti sibuk belah duren." ucapnya dengan kalimat terakhir yang sengaja dipelankan.
"Apa?" seru Kansha tak percaya.
"Ya sudah, sekarang kami sudah tahu. Jadi pergilah." usir Alan.
"Mas benar-benar tidak manusiawi. Adiknya hendak perjalanan jauh malah diusir tidak sopan. Dikasih pelukan dulu kek atau syukur-syukur diberi uang saku." dumel Alfin.
"Memangnya kamu teletubis? Sudah bangkotan kok kelakuannya masih seperti anak kecil." ejek Alan.
"Mas Alan, jahat ih! Lihat tuh mbak, suami nistamu." adu Alfin kesal.
"Sudah peluk saja." ucap Kansha mendorong bahu Alan.
Alan berdecak sebal, dia pun maju dan merentangkan tangannya memeluk Alfin. Kansha yang melihatnya hanya bisa terkekeh.
Pelukan itu hanya sedetik karena Alan buru-buru melepaskan pelukannya. Setelah itu Alfin menatap Kansha dan tersenyum lebar.
"Mbak peluk!" serunya dengan nada manja sembari merentangkan kedua tangannya.
Bug
Kansha terbelalak dan seketika menutup mulutnya kala Alfin tiba-tiba meringis kesakitan. Rupanya Alan menendang tulang kering Alfin dengan keras.
"Jangan kelewatan, kamu. Ini hanya milik mas seorang!" seru Alan kesal. Dia mendekap Kansha dengan erat.
Alfin hanya memutar bola matanya, "Dasar tidak manusiawi. Adik sendiri ditendang! Posesif." umpatnya.
"Makanya punya istri." ejek Alan tak mau kalah.
Alfin mendengus kesal, "Aku pergi. Assalamu'alaikum." pamitnya dengan wajah tertekuk dalam.
"Waalaikum salam." balas Alan dan Kansha.
Sepeninggal Alfin, Kansha memukul bahu Alan membuat Alan menoleh dengan raut bingung.
"Kenapa kamu memukulku?"
"Posesif." ucapnya hendak pergi.
"Eh, " Alan tiba-tiba mencekal tangan Kansha.
"Lepaskan, Lan." ucap Kansha.
"Kamu salah arah, sayang. Seharusnya berbalik bukan maju." ucapnya geli.
Kansha memalingkan wajahnya karena ketahuan hendak melarikan diri, "Aku harus ke kamar mama dulu." bohongnya.
__ADS_1
Alan menarik tangan Kansha hingga mau tak mau Kansha membalikkan badannya, "Sudah jangan banyak alasan lagi."
"Kalau aku tidak banyak alasan, maka aku langsung diterkam olehmu." lirih Kansha dengan raut keruh.
"Apa?" sahut Alan dengan sudut bibir yang berkedut.
"Tidak ada." geleng Kansha.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukannya sekarang." jelas Alan tenang.
Wajah Kansha seketika berseri, "Benarkah?" sahutnya senang.
Dan sebuah smirk muncul di wajah Alan, "Tapi kita harus tetap mandi bersama!" seru Alan menarik tangan Kansha masuk ke dalam kamar.
"Alan!!"
Brak
***
Alfin sudah sampai di bandara, sembari menunggu keberangkatannya, dia menyempatkan diri menghubungi kekasihnya.
Tapi Alfin langsung mengerutkan dahinya kala panggilannya malah ditolak. Dia hendak menelfon kembali tapi tersela dengan pesan yang masuk.
Aku sedang belajar, nih. Maafkan aku ya:((
Alfin menyunggingkan senyumnya. Dia pun mengetikkan jawaban.
Maaf, kukira kamu sedang santai. Oh ya, aku akan terbang ke Bali sekarang.
Pesannya sudah terkirim, tapi kekasihnya itu tidak online lagi. Alfin pun kembali mengirimkan pesan.
Nanti aku juga akan mengunjungimu di Spanyol. Jangan lupa jemput aku ya!
Pesannya sudah terkirim dan Alfin tinggal menunggu balasan dari kekasihnya.
Mungkin dia sedang sibuk. ujarnya dalam hati.
Lalu terdengar suara pengumuman yang memberitahukan tentang pesawat yang hendak dia tumpangi. Alfin pun beranjak berdiri memasuki pintu keberangkatannya.
Drrrt
Ponselnya bergetar kala Alfin tengah mengantri masuk ke dalam kabin.
Tolong jangan datang!
***
Keesokan paginya, Kansha mengunjungi Aisyah di rumahnya. Seperti Alfin, Aisyah juga akan pergi.
"Semalam, Alfin, sekarang kamu. Kenapa kalian pergi begitu mendadak?" keluh Kansha duduk di samping Aisyah sedangkan Alan duduk di sofa kamar.
Aisyah tersenyum, "Aisyah juga agak terkejut begitu tahu harus berangkat hari ini. Aisyah fikir masih lama."
Kansha hanya mendesah pelan.
"Selamat atas pernikahan kalian ya. Semoga sakinah, mawadah serta warrahmah. Maaf Aisyah tidak bisa memberi hadiah apapun selain doa." ucapnya.
Kansha menggeleng, "Tidak masalah. Itu justru lebih baik."
Kemudian Aisyah menatap Kansha dan berlaih melirik Alan.
"Mas Alan, maaf sebelumnya, tapi Aisyah ingin berbicara empat mata dengan Kak Zahra boleh?" pintanya.
Alan menganggukkan kepalanya, "Kalau begitu aku tunggu di ruang tamu." Setelahnya Alan langsung pergi meninggalkan dua kakak beradik ini.
"Ada apa, Aisyah?" tanya Kansha sepeninggal suaminya.
"Aisyah ingin meminta maaf sama kakak terkait tindakan memalukan Aisyah dulu. Saking tidak inginnya kehilangan Mas Alan, Aisyah sampai ingin mencelakai kakak. Andai Aisyah tahu kakak adalah kakak kandung Ausyah, Aisyah mungkin tidak akan sebenci itu pada kakak." ucap Aisyah menyesal.
Kansha tersenyum, "Tidak apa-apa. Saat itu kita memang berada di masa penuh ketegangan dan rasa ketidaksukaan. Aku juga sama. Terlebih aku benci dengan diriku karena menyukai orang yang sudah memiliki calon istri." jelasnya dengan tatapan menerawang.
"Tapi Aisyah, bolehkah aku bertanya?" ucap Kansha menatap Aisyah dengan serius.
"Silakan, kak." balas Aisyah.
"Apa kamu...masih mencintai Alan?"
Aisyah terdiam sebentar atas pertanyaan yang tak diduga itu, dia lalu tersenyum hambar, "Kenapa kakak bertanya soal itu?"
"Hanya..memastikan. Maksudku kita adalah kakak--"
"Kak, Aisyah sudah tidak mencintai Mas Alan lagi." potong Aisyah.
"Benarkah?" sahut Kansha pelan.
Aisyah tersenyum kini lebih tulus dan bermakna, "Jujur Aisyah terkejut mendengar pertanyaan ini terucap di bibir kakak, tapi Aisyah juga lega karena Aisyah bisa menjelaskan kebenarannya sekarang."
"Kak Zahra, Aisyah sudah melepaskan Mas Alan lahir batin. Aisyah sadar bahwa Mas Alan adalah hal yang haram untuk Aisyah sejak saat kini. Aisyah juga tidak mungkin menyukai bunga yang sama dengan kakak. Karena kalau seperti itu, Aisyah sama saja tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Dan alasan yang paling penting adalah karena sudah tak ada rasa cinta. Bahkan Aisyah berfikir bahwa rasa yang selama ini Aisyah fikir cinta justru rasa sayang kepada seorang kakak. Karena Mas Alan lah yang menemani Aisyah di masa terberat Aisyah. Yaitu saat kehilangan umi. Sejak saat itu Aisyah seperti bergantung padanya. Dan rasa itu berubah tertarik mungkin karena Aisyah tidak dekat dengan lelaki lain selain Mas Alan."
"Tapi Aisyah janji, demi Allah Aisyah sudah tidak mencintai Mas Alan lagi." pungkas Aisyah.
Kansha tersenyum mengangguk, "Kakak percaya. Maaf ya kakak bertanya itu padamu."
"Aku lega." angguk Kansha.
Tok tok
Aisyah dan Kansha menoleh ke arah pintu ketika terdengar suara ketukan.
Alan lalu muncul, "Penerbangannya sebentar lagi. Ayo ke bandara." beritahunya.
Kansha mengangguk, dia lalu menatap Aisyah.
"Rahasia tadi jangan diberitahukan pada siapapun ya." bisiknya.
Aisyah mengangguk mantap, "Kakak tenang saja." kekehnya.
Setelah itu mereka berdua menyusul Alan ke luar kamar.
***
Hidup adalah tentang memilih dari sejuta pilihan. Pilihan yang terpilih itulah yang akan menentukan alur kehidupanmu. Kamu harus memilih yang tepat untuk kebahagiaanmu. Meskipun awalnya berasal dari kecelakaan.
Nana dan Ruben sedang duduk di sofa. Mereka sibuk memilih desain interior untuk kamar bayi mereka.
"Ini lucu ya, Kak." tunjuk Nana pada sebuah gambar kamar bernuansa pink.
"Kita harus memilih yang netral sayang. Kan kita belum tahu dia laki-laki atau perempuan." jawab Ruben lembut.
"Ih, aku yakin anak kita perempuan." tukas Nana.
"Kenapa?"
"Kan aku ibunya!" balas Nana cepat.
"Tapi tetap saja kita harus memilih warna yang netral karena siapa tahu saja mereka kembar."
"Kembar?" tanya Nana.
"Iya, memang di keluarga kamu tidak ada yang kembar?" tanya balik Ruben.
Nana menggelengkan kepalanya, "Setahuku tidak." jawabnya bingung.
"Keluargaku juga tidak." balas Ruben.
"Terus kamu sebut kembar darimana?" sahut Nana.
"Mungkin saja kan. Kalaupun tidak, ya tidak masalah."
"Kamu memangnya ingin kembar?"
"Tidak juga asal anak kita tidak hanya satu. Atau kamu sudah siap melahirkan lagi tahun depan?" tanya Ruben menatap Nana usil.
Nana mengatupkan bibirnya. Dia mengambil bantal sofa dan melemparkannya pada wajah Ruben. Ruben seketika terjengkang.
"ANAK SATU SAJA BELUM LAHIR, SUDAH MIKIR ANAK KEDUA!"
***
Tak selamanya hidup dipenuhi hal baik dan bahagia. Selalu ada masa kelabu dan penuh dengan cobaan. Tapi layaknya musim dingin menuju musim semi, musim kemarau pada musim hujan, selalu ada masa peralihan untuk memperoleh kembali ketenangan setelah badai. Meskipun harus jauh.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya Aisyah sampai di Negeri Bulan Sabit itu. Setelah keluar dari bandara, Aisyah menghirup udara Turki untuk pertama kalinya. Dia tersenyum lebar.
"Ini adalah awal bagiku. Akan kutulis setiap kisah di lembaran baru ini. Kuharap tidak ada lagi kesedihan dan tidak ada lagi air mata. Semuanya kuserahkan pada-Mu." lirihnya.
Dia lalu mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan pesan.
Kak Zahra, Aisyah sudah sampai.
Aisyah kembali tersenyum. Kaki kecilnya mulai melangkah. Perlahan menjauh menuju tempat mimpi barunya.
***
Hidup bukan hanya tentang romansa. Melainkan juga tentang persahabatan. Meski berawal dari hubungan buruk, selama hati saling memaafkan dan melapangkan dada atas semua hal, maka akan ada hubungan baru yang terjalin baik.
"Mbak Aura, Kiara itu bukan anak yang beruntung. Sejak lahir, Kiara sudah tidak memiliki ayah dan ibu Kiara meninggal ketika Kiara masih bayi. Tapi Kiara tidak pernah marah pada Tuhan meskipun hidup Kiara sulit. Mbak tahu kenapa?"
Aura menggelengkan kepalanya, lalu anak perempuan yang duduk disampingnya melanjutkan ceritanya.
"Karena Kiara tahu bahwa itu adalah hal terbaik untuk Kiara. Tuhan menguji Kiara karena Kiara jauh lebih tangguh dan pantas daripada yang lainnya."
Aura terdiam mendengarnya. Dia sudah satu jam duduk dan bercerita dengan gadis kecil bernama Kiara itu. Dan salut atas kedewasaan Kiara.
"Kiara anak yang baik. Tuhan pasti sayang sekali dengan Kiara." ucap Aura mengelus surai keemasan Kiara.
"Jadi Mbak Aura jangan patah semangat ya. Selalu lihat hal yang baiknya saja. Jangan pernah marah pada Tuhan, nanti Tuhan balas marah sama kakak." sahut Kiara.
Aura seketika malu pada Kiara dan jijik pada dirinya sendiri. Nyatanya usia tidak menentukan seberapa dewasa seseorang. Dirinya kalah jauh dari Kiara yang hidupnya jauh lebih sulit soal kedewasaan dalam menerima hidup.
Aura menganggukkan kepalanya mantap, "Mulai sekarang, mbak tidak akan marah lagi pada Tuhan. Mbak sudah kapok pernah dimarahi oleh-Nya."
__ADS_1
"Aura!" panggil seseorang dari kejauhan.
Aura menoleh dan seketika tersenyum melihat kehadiran Alvaro.
"Kiara, kamu main dulu dengan teman-temanmu ya. Kakak harus kesana dulu." ucap Aura.
"Oke kak." Kiara pun beranjak berdiri dan menghampiri teman-temannya yang lain.
Sepeninggal Kiara, Aura juga beranjak berdiri dan menghampiri Alvaro yang sudah duduk di kursi taman.
"Kenapa kamu datang kesini? tanya Aura ikut duduk.
"Hanya memastikan hari pertamamu disini. Bagaimana? Sudah betah?"
Aura hanya tersenyum, "Aku senang aku bisa disini. Keputusan Kansha memang tepat."
"Apa maksudmu?"
"Kansha membebaskanku dari penjara ternyata karena ini alasannya. Dia ingin aku berubah. Dan keputusannya tepat membawaku kesini. Karena alih-alih mengguruiku yang pada akhirnya tak akan pernah kudengarkan. Kansha langsung membawaku kesini. Membiarkan mataku melihat secara langsung tentang kehidupan."
"Jadi apa yang sudah kamu pelajari disini?"
"Tentang keikhlasan. Kita harus menerima dengan lapang dada terkait semua cobaan di hidup kita. Jangan mengeluh apalagi marah pada Tuhan, karena nanti Tuhan akan berbalik memarahi kita."
"Itu yang kamu pelajari?"
Aura mengangguk, "Aku baru dapat pelajaran itu dari anak kecil berkuncir kuda disana." tunjuknya pada Kiara.
Alvaro mengikuti arah telunjuk Aura, "Dia pasti lebih dewasa dari usianya." komentarnya.
"Tentu saja. Aku bahkan merasa malu karena diceramahi oleh seseorang yang berusia lima belas tahun lebih muda dariku. Tapi tidak apa, pelajaran bisa diambil dari siapa saja. Merekalah guru-guruku."
"Aku senang karena kamu mau belajar." ujar Alvaro.
Aura menoleh, "Tolong tetap bersamaku ya setidaknya sampai aku menjadi baik. Aku takut sendirian lagi." pinta Aura.
Alvaro mengangukkan kepalanya dengan senyum tersungging, "Aku berjanji."
***
Semuanya bergantung pada nurani. Meski enggan, tapi kenangan masa dulu ikut meluluhkan.
Di sebuah kafe di salah satu hotel di Bali, belasan orang sedang duduk-duduk ria sambil mengobrol dengan sesama teman jauh yang pernah satu seperjuangan dulu. Ada Alfin di tengah-tengah mereka.
"Tidak kusangka, kamu sungguhan datang! Kamu orang yang paling dirindukan loh." ucap Niko senang.
Alfin hanya mendengus, "Aku capek melihat pesan spam-mu yang seperti teror itu."
Niko tertawa keras, "Aku baru pertama kali melakukannya. Bagaimana menurutmu?"
"Dasar tidak punya kerjaan!"
Niko terkekeh. Merasa tak bersalah dengan tindakannya. Toh meski harus menyampah di roomchat-nya dengan Alfin, tapi kan membawa hasil baik. Lelaki paling populer sekampus itu datang ke pesta reuni mereka.
"Siapa yang menyelenggarakanya?" tanya Alfin.
"Amelia. Mantanmu dulu. Lihat, dia sedang menatapmu." jawab Niko sambil menatap Amelia. Alfin juga menoleh dan langsung tidak nyaman melihat Amelia sedari tadi terus menatapnya.
"Dia bukan mantanku." koreksi Alfin sambil meneguk sodanya. Dia memalingkan wajahnya dari pandangan Amelia.
"Bukannya kalian pernah bersama?"
"Siapa yang bilang?"
"Rumor itu sudah menyebar. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kamu pernah tidur dengannya." cerita Niko.
"Sialan." umpat Alfin.
"Toh itu sudah berlalu. Tidak usah difikirkan." tukas Niko santai sambil mengibaskan tangannya.
Niko tiba-tiba saja berdiri sambil mengangkat gelasnya, "Nah, ayo minum semuanya! Kita bersulang untuk pangeran kampus kita." Niko berdiri dan setelah itu menyuruh Alfin turut berdiri.
Semua orang turut berdiri termasuk Alfin yang berdiri dengan malas.
Niko lalu menyerahkan gelas bening berisi alkohol pada Alfin.
"Sudah kubilang aku tidak minum, brengsek!" seru Alfin kesal. Dia menolak menerima gelas itu.
"Hanya sekali saja. Seriusan." bisik Niko.
"Tidak." tolak Alfin tegas.
"Ayolah, Fin. Jangan konservatif begitu. Sekali saja. Just have fun." bujuk Niko.
"Kalau kamu masih memaksa, aku pergi." ancam Alfin.
"Eh, eh, oke. Fiks. Kalau kamu tidak mau. Maka ini saja." Niko mengambil gelas berisi seperti cairan teh dan memberikannya pada Alfin.
"Apa ini?" tanya Alfin curiga.
"Menurutmu?" balas Niko.
Alfin masih menyelidik curiga dan membuat Niko memutar bola matanya malas.
"Hanya teh. Astaga berhentilah curiga. Matamu seperti hampir copot."
Alfin masih diam.
"Ayo, minum. Mereka sudah lama berdiri." ucap Niko lagi. Mau tak mau Alfin menurut.
"Untuk pesta reuni akbar ini, terima kasih untuk Amelia yang sudah mendanainya." Niko tersenyum pada Amelia yang matanya terus menatap Alfin. "Dan untuk pangeran kampus kita yang lebih suka teh daripada wine." lanjutnya menatap mengejek Alfin. Alfin melotot.
"Cheers!"
"Cheers!"
***
Hidup adalah tentang menyadari. Sadar akan sesuatu hal tak pasti dan sadar akan sesuatu hal yang tak diharapkan. Tapi setiap doa dan harapan akan selalu terwujud bila terlihat ketulusan hati. Karena semua pada akhirnya berakhir pada perasaan.
Alan membuka pintu kamarnya dan langsung tersenyum kala melihat istrinya sedang duduk di sofa dengan memangku laptop.
"Sedang apa?" tanya Alan lembut sembari duduk di dekat istrinya.
"Sedang bekerja." jawab Kansha singkat.
"Sayang, ini masih masa bulan madu kita." keluh Alan tak percaya istrinya malah bekerja.
Kansha tersenyum, "Bukan bekerja yang itu tapi yang ini." Kansha membalikkan laptopnya menghadap Alan.
"Kamu sedang menulis novel?" tanya Alan terkejut.
Kansha mengangguk semangat, "Iya. Sudah lama aku ingin melakukannya."
"Tapi kenapa judulnya seperti ini?" tanya Alan mengerutkan keningnya.
"Apa yang salah?" tanya Kansha.
"My Husband My Pilot. Jangan-jangan kamu sedang menulis cerita kita ya?" tebak Alan.
Kansha mengangguk antusias.
"Tapi kenapa sub judulnya harus ada kata Tragedi sih? Terlalu menyedihkan." komentar Alan.
"Bukannya awal pertemuan kita juga karena tragedi ya? Lagipula aku ingin semua orang tahu bahwa tidak semua kisah yang berawal dari tragedi akan berakhir tragis. Siapa tahu kan ada yang akhirnya seperti kita?"
Alan mengangguk-angguk, "Oh aku mengerti. Jadi ending-nya bagaimana?"
Kansha menerawang, "Entahlah. Aku masih belum tahu."
"Kenapa?"
"Karena kisah kita juga belum berakhir. Tapi aku harap sih happy ending." jawab Kansha tersenyum.
Alan ikut tersenyum, "Kalau begitu aku harus berusaha keras."
"Bukan kamu, tapi kita. Kita harus sama-sama menjaga keluarga kecil kita. Aku harap kita berjodoh baik di dunia maupun di syurga." harap Kansha.
Alan mengambil laptop Kansha dari pangkuan setelah itu mengambil kedua tangan Kansha.
Alan mengangguk-anggukan kepalanya, "Aku juga berharap demikian. Tapi sekarang," Alan tiba-tiba tersenyum smirk.
"Kita main dulu!" Alan tiba-tiba saja membopong Kansha membuat Kansha yang tak siap menjerit kaget.
"Alan, turunkan aku! Alan!" jerit Kansha.
Alan tak mendengarkan, dia membawa Kansha ke kasur mereka dan membaringkannya dengan lembut.
"Ini masih pagi. Dasar tidak tahu waktu!" seru Kansha kesal.
"Justru aku tahu waktu." balas Alan santai.
Alan tiba-tiba menggelitik Kansha membuat Kansha tertawa kegelian.
"Hahaha, hentikan Alan. Hahaha."
Alan masih terus menggelitik dan Kansha turut membalasnya. Dia berusaha menggelitik balik Alan hingga Alan juga tertawa kegelian.
"Hahahaha," tawa Alan tetap terus menggelitik Kansha.
"Hahahaha." Kansha juga terus tertawa.
Setelah cukup lama saling tertawa larena geli, mereka terengah-engah. Nafas mereka saling beradu dan mata saling menatap.
"Satu hal yang paling kusyukuri adalah bahwa aku bisa mempersuntingmu." ucap Alan serius.
Kansha tersenyum mendengarnya, "Tragedi itu membawa berkah. Setidaknya karena hal inilah, hidupku yang kelam kembali berwarna. Terima kasih Alan karena sudah hadir di hidupku." ucap Kansha tulus.
"Aku mencintaimu, Nona Reporter." ujar Alan penuh cinta.
"Aku juga mencintaimu, Pak Pilot." balas Kansha.
__ADS_1
Dan perasaan mereka akan terus memeluk hati mereka. Berharap bahwa hanya akan ada kebahagiaan yang datang meski tidak menampik bahwa hidup tak selalu berjalan mulus. Tapi setidaknya mereka kini jauh lebih siap karena saling memiliki satu sama lain.
...THE END...