My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 18. Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Usai Kansha menceritakan masa lalu kelamnya itu, tak ada yang bersuara lagi. Alan masih mencerna cerita Kansha yang bagai drama melankolis itu. Alan sungguh tidak menduga ada kisah sentimental seperti itu.


"Menyedihkan kan? Aku tahu." kata Kansha. Ini kali pertamanya ia menceritakan keseluruhan ceritanya. Bahkan pada Nana, sekalipun.


"Awalnya aku tidak mengira ini akan sesedih ini. Aku memang tidak pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Bersyukurnya aku hidup dengan keluarga yang baik."


"Kamu beruntung. Kisahku ini seperti drama menye-menye di televisi. Bahkan mungkin kalau diangkat ke layar kaca, bisa jadi viral." ujar Kansha terkekeh pelan.


"Kansha kamu tahu, ada alasan mengapa seseorang diberi ujian seberat itu. Bagi seseorang yang mau berfikir dan merenungi, selalu ada pelajaran yang terselip di setiap ujian yang diberikan. Tuhan juga tidak mungkin memberikan hambanya ujian yang melebihi batas kemampuan hambanya sendiri. Dan ujian itu diberikan berarti karena Tuhan tahu kamu manusia hebat dan bisa melaluinya."


"Ada pepatah lama yang mengatakan, setelah hujan selalu ada pelangi, Kamu tau?" Kansha mengangguk mengiyakan.


"Anggap ujian berat tadi adalah sebuah hujan bagi kamu. Dan bila kamu bersabar melewati setiap proses turunnya hujan itu, hujan tadi akan berhenti. Dan sebagai imbalan atas kesabaran kamu, terciptalah sebuah pelangi indah. Anggap pelangi indah itu sebagai kebahagiaan yang akan kamu cecapi setelah berhasil melalui ujian ini."


"Kamu benar. Mungkin karena rasanya sudah tak sesakit dulu, aku juga bisa menceritakan keseluruhan ceritanya padamu. Kuharap bahwa, jalan penuh terjal itu selesai ku tapaki dan dibaliknya, aku bisa menemukan kebahagiaan" Kansha menoleh pada Alan.


"Makasih Alan. Aku merasa lebih baik." ujar Kansha tersenyum tipis.


"Kamu wanita luar biasa. Semoga kamu selalu bahagia." kata Alan ikut tersenyum.


"Kamu juga."


***


“Kakak serius?” seru Nana. Saking terkejutnya, ia bahkan berseru sambil berdiri. Ruben mengangguk. Nana tersenyum lega lalu kembali duduk.


“Jadi saat ini mereka kembali akan mendatangi pulau yang diduga ada titik cahaya seperti api itu?” tanya Nana memastikan lagi. Ruben mengangguk sekali lagi. Nana mendesah lega. Betapa senangnya ia mendengar kabar penting ini.

__ADS_1


“Meskipun mereka juga belum tahu, sebenarnya apa titik kecil itu. Namun terkait dengan keberadaan pulau yang berstatus tak berpenghuni dan terpencil ada kemungkinan terdapat tanda kehidupan seseorang. Dan kakak berharap itu salah satu korban pesawat.” Ujar Ruben.


Nana mengangguk. Ia kembali merasa tak tenang. Semuanya belum pasti. Ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi. “Jadi apa langkah selanjutnya?” tanya Nana.


Ruben merenung, “Entahlah. Kita hanya bisa menunggu kabar dari tim pencari. Konfirmasi pasti terkait petunjuk itu kita hanya bisa menunggu saat ini.” jawab Ruben.


Nana mendesah kecewa, “Aku jadi pesimis.” Ucap Nana.


Ruben menatap Nana dengan sorot peringatan. “Jangan bilang seperti itu. Yakinlah semuanya akan baik-baik saja.” Nana hanya mengangguk. Dia memang tak seharusnya patah arang.


“Na, mau jadi saksi?” tanya Ruben tiba-tiba.


“Saksi apa?” Nana mengernyit bingung.


“Bila Kansha selamat. Kakak akan mengutarakan perasaan kakak dan melamarnya.” Ucap Ruben yakin.


“Ma—maksud kak Ru-ruben?” tanya Nana tercekat.


“Kakak sudah lama menyukai Kansha. Dan kakak ingin mempersunting Kansha segera setelah ia dipastikan selamat.”


Nana membasahi bibir bawahnya, “Tapi belum ada konfirmasi pasti apakah Kansha selamat.” Ujar Nana kelu.


Ruben menatap Nana terkejut. “Na, bisa-bisanya kamu mengatakan demikian pada sahabat kamu sendiri? Kamu sebenarnya mengharapkan Kansha tidak selamat bukan?” tuduh Ruben marah.


Nana langsung menggeleng cepat. “Bukan begitu, kak. Tentu saja aku mengharapkan Kansha selamat.” Tukas Nana tersenyum pedih.


****

__ADS_1


Nana duduk di pinggir ranjangnya dengan satu kaki ditekuk. Sudah satu botol wine yang sudah diminumnya. Apartemennya gelap tak seperti biasanya. Sudah lama sejak ia mabuk-mabukan seperti ini. yaitu sejak ia mengenal Kansha dan Kanshalah yang menariknya keluar dari dunia kotor ini.


Namun begitu mendengar perkataan Ruben yang ingin melamar Kansha ketika Kansha dinyatakan selamat, membuat gadis berusia 26 tahun itu seketika hilang kendali. Ia kembali menyesap minuman alkohol yang sudah membuatnya rusak dahulu. Dan karena rasa cintanyalah yang ternyata bertepuk sebelah tangan membuatnya berbuat demikian.


Seharusnya ia senang bahwa sahabatnya disukai oleh seseorang yang baik dan bertanggung jawab seperti Ruben. Hidup Kansha tak akan semenyedihkan dan semenderita dulu lagi. Ruben pasti akan memberi Kansha kebahagiaan yang sudah lama tak dicecap oleh sahabatnya itu.


Namun andai semudah itu. Andai hatinya mau berkompromi. Andai ia tidak memiliki perasaan khusus pada kakak tingkatnya itu. Namun mau bagaimana lagi, jauh sebelum Kansha mengenal Ruben, Nana sudah mengenalnya. Ruben adalah teman mendiang sang kakak. Dan Nana menyukainya.


Ia belakangan ini sering beribadah pagi ke gereja dan berdo’a untuk keselamatan sang sahabat. Tak ada pinta lainnya, hanya itu saja. Dan selalu berulang.Tapi kini Nana bahkan ragu dengan keinginannya tentang Kansha.


Tapi, entah mengapa, hati kecilnya malah ingin agar Kansha tidak selamat. Agar Ruben tidak bisa melamar Kansha. Nana akui, itu pemikiran yang kejam. Kansha adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Namun, sekali lagi, hatinya tidak mau berkompromi.


Andai, dia bisa meminta dua permohonan, Kansha selamat dan Ruben menyukainya. Nana akan sangat berterimakasih.


***


"Hacih.” Sudah berulang kali Kansha bersin. Ia bahkan tidak bisa menikmati makanannya. Kansha merasa kepalanya pusing dan tubuhnya menggigil kedinginan.


“Kansha, kamu tidak apa-apa?” tanya Alan cemas.


Kansha menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku kayaknya lagi flu saja.” Jawab Kansha pelan lalu kembali memakan ikan bakar tangkapan Alan itu.


Alan masih terdiam memerhatikan Kansha. Kansha terlihat pucat dan tidak sehat. Kansha bahkan memeluk lututnya dan beberapa kali meringis kedinginan.


Alan meletakkan ikan bakarnya di pelepah pisang lalu mendekati Kansha. Ia mengecek suhu Kansha dengan punggung tangannya. Alan terkejut ketika merasakan suhu panas menjalar dari dahi Kansha.


“Kansha kamu demam!” seru Alan panik.

__ADS_1


Kansha terdiam mendesah, ini sakit pertamanya semenjak terdampar di pulau.


__ADS_2