My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 103.


__ADS_3

Senja hari di Pantai Sire amatlah damai. Banyak pengunjung termasuk warga lokal menghabiskan penghujung hari mereka dengan bersantai di tepi pantai. Anak-anak kecil bermain kejar-kejaran diantara pohon kelapa yang bergoyang di tiup angin. Buah kelapa dengan sedotan dan payung kertas tertata di setiap meja pantai. Dengan para turis mancanegara mengobrol ria disana.


Di sisi lain, Kansha nampak anggun dengan gaun putih berkibarnya berjalan beriringan dengan Nana yang memakai topi pantai lebar dan kacamata hitam. Mereka berjalan dengan riang di tepi pantai. Kaki mereka yang telanjang, membuat butiran halus pasir terasa acapkali melangkah.


Setelah puas berjalan-jalan di tepi pantai, Kansha dan Nana berjalan menuju sebuah gazebo yang atapnya adalah pohon beringin. Mereka duduk sambil melepas penat.


“Sudah lama rasanya kita tidak menghabiskan waktu berdua.” Celetuk Nana.


Kansha mengangguk menyetujui, “Ketika kita sudah pada usia produktif kerja, semua fikiran kita bukan tentang bermain lagi. Tak jarang, teman menjadi sebatas rekan kerja atau teman almamater.”


“Untungnya kita tidak. Meski aku dan kamu satu kampus dan aku lebih dulu lulus dibandingmu, persahabatan kita masih awet hingga sekarang.”


Mendengar ucapan Nana, Kansha kini jadi teringat dengan pertemuan pertama mereka dulu.


“Na, kamu ingat pertemuan pertama kita dulu?” tanya Kansha.


Nana mengangguk, “Itu masa-masa paling menyebalkan dalam hidupku karena ada seseorang yang mengatur hidupku.” Balasnya terkekeh.


FLASHBACK ON


Pada saat Kansha masih di tingkat satu, dirinya selalu melakukan pekerjaan paruh waktu. Entah jadi pegawai cafe atau bahkan seorang pelayan di sebuah bar terkenal di Jakarta. Kansha memang kekurangan uang untuk menunjang kebutuhan hidupnya dan tidak bisa terus menggantungkan hidup pada Bu Sari yang jelas bukan siapa-siapanya.


Malam ini adalah giliran Kansha untuk bekerja di bar. Gadis cantik itu sudah siap dengan seragam hitam putih melekat di tubuhnya yang semampai. Meski bekerja di bar, untungnya Kansha tidak mendapat pelecehan apapun dari pengunjung bar.


“Kansha, tolong antarkan ini ke meja sana.” Titah seorang pelayan kepada Kansha sambil menunjuk seorang perempuan yang nampak teler di meja ujung.


Kansha mengangguk lalu menerima nampan yang disodorkan rekan kerjanya itu. Dia lalu berjalan menuju meja yang dimaksud. Dan setelah sampai, dia terdiam kala perempuan itu yang sudah nampak mabuk namun masih terus menenggak minuman alkohol berjenis vodka itu. Dalam hati Kansha berdecak tak percaya, ada wanita yang kuat minum vodka hingga berbotol-botol.


“Mana minumanku? Taruh disini.” Titah perempuan itu dengan mata yang amat sayu. Tak jarang dia tertawa sendiri.


“Anda sudah mabuk.” Ucap Kansha.


Perempuan itu menatapnya dengan mata tidak fokus, “Aku tidak mabuk. Mana minumanku? Cepat berikan!”


Kansha pun mau tak mau menaruh gelas minuman di atas meja.


Kemudian perempuan itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Itu adalah sebuah serbuk putih yang Kansha tidak ketahui. Serbuk itu lalu dia masukkan ke dalam minuman yang dibawa Kansha. Kemudian perempuan itu mengaduk minuman itu dengan jarinya agar tercampur dengan serbuk tadi. Setelah selesai, dia meminumnya. Kansha memerhatikan semuanya hingga dia menyadari bahwa benda putih itu adalah sabu-sabu. Dia terbelalak kaget.


Kansha menghentikan ulah perempuan itu dan melemparkan gelas itu ke lantai. Suara kencang musik untungnya meredam suara pecahan gelas sehingga tidak menarik perhatian.


“Apa yang kamu lakukan?!” sentak perempuan itu marah.


“Mbak sudah minum banyak dan kini malah ngedrug! Mbak tidak tahu bahayanya apa?!” Balas Kansha.


“Kamu jadi pelayan saja belagu! Tugasmu hanya mengantarkan minuman padaku, bukannya mengaturku!” seru perempuan itu menarik kerah baju Kansha. Matanya menyalang marah.


“Saya tahu bahwa tugas saya hanya melayani. Tapi tindakan mbak sudah sangat salah. Saya masih mewajari mbak minum-minum hingga teler. Tapi narkoba? Mbak bahkan mencampurnya dengan minuman!” tukas Kansha.


Plak


Kansha ditampar keras oleh perempuan itu hingga kepalanya menoleh ke kiri. Pipinya serasa panas.


“Kamu bukan siapa-siapaku, jadi berhentilah mengaturku atau aku akan melaporkanmu pada atasanmu agar kamu dipecat!”


Kansha tak gentar. Dia tahu tindakannya sudah amat berani dan fatal. Tapi dia tidak bisa membiarkan ada pelanggannya yang mempertaruhkan hidupnya dengan barang-barang haram.


“Saya tidak takut. Sebagai sesama manusia, saya wajib mengingatkan mbak tentang bahayanya menggunakan barang haram itu. Kalau mbak punya otak, mbak pasti tahu kalau itu membahayakan hidup mbak! Mbak mau mati sia-sia?”


Perempuan itu makin emosi. Suasana hatinya makin buruk setelah dengan lancangnya Kansha melawannya.


Bruk


Tapi tiba-tiba perempuan itu ambruk ke lantai. Kansha menjerit kaget dan semua pengunjung bar jadi melihat kearahnya. Kansha tak memedulikan dengan seruan terkejut dari para pengunjung, Kansha langsung berjongkok disamping perempuan itu.


“Mbak. Mbak.” Panggil Kansha menepuk-nepuk pipinya. Namun, perempuan itu tak bergeming.


“Dia sepertinya terlalu mabuk.” Gumam Kansha panik.


Tak lama, datang dua pelayan pria ke lokasi kejadian. Rupanya ada pengunjung yang melaporkan hal ini dan meminta bantuan. Dua pelayan pria itu langsung mengangkat perempuan itu.


“Bawa mbak ini ke kamar tamu saja.” Ucap Kansha. Para pelayan itu mengangguk. Mereka bergegas menuju kamar tamu yang berada di bangunan lain bar ini.


Kansha mengikutinya dari belakang dengan menjinjing tas dan sepatu milik perempuan pingsan itu. Tak lama, mereka sampai di salah satu kamar. Mereka langsung masuk dan perempuan itu dibaringkan di ranjang.


“Apa perlu kita telfon ambulans?” tanya Kansha.


“Dia hanya pingsan karena kebanyakan minum. Kita tunggu keadaannya hingga pagi. Kalau dia masih belum sadar, kita bawa ke rumah sakit.” Jawab salah satu pelayan pia itu.


Kansha mengangguk. Para pelayan pria itu lalu keluar ruangan meninggalkan Kansha dan perempuan itu.


Kansha mendekati ranjang. Matanya menatap mata perempuan itu yang terpejam. Wajah putih perempuan itu memerah karena mabuk. Belum lagi dengan hembusan nafasnya yang berbau menyengat.


Kemudian Kansha teralihkan oleh ponsel yang berdering sejak tadi di dalam tas perempuan itu. Dia membuka tas dan pemanggil bernama Kak Bara muncul di display. Kansha hendak menjawabnya namun keburu telfon itu mati. Kansha juga tak bisa membuka ponsel karena dikunci oleh kata sandi.


Kansha lalu menggeledah tas milik perempuan asing itu. Dia harus tahu identitasnya agar bila terjadi apa-apa, dia bisa menjelaskannya dengan baik. Kansha lalu menemukan dompet milik perempuan itu.


Kansha membuka dompet itu dan mengambil sebuah KTP. KTP itu bertuliskan Adindra Anaya.


"Jadi namanya Adindra Anaya." gumam Kansha.


Dia lalu menemukan kartu lain. Itu adalah kartu mahasiswa. Kansha sontak menganga, bahwa perempuan asing itu ternyata satu kampus dengannya. Dan hebatnya lagi, dia merupakan kakak tingkat Kansha.


"Dia juga mahasiswa di kampus yang sama denganku. Jurusannya keren sekali. Sepertinya dia ingin jadi desainer."


"Tapi kenapa dia mabuk-mabukkan seperti itu? Dia bahkan memakai narkoba. Dan kurasa itu bukan kali pertamanya dia melakukan hal itu."


Kansha merenung di pinggiran ranjang. Dilihat dari perilakunya yang mabuk-mabukkan, Sepertinya dia tengah dirundung masalah. Hingga tidak punya pelarian lain selain pada benda haram.


"Ah sudahlah, berhenti berspekulasi apapun. Kamu harus bekerja, Kansha." ucap Kansha mengingatkan dirinya sendiri.


Kansha lalu menaruh dompet tadi ke dalam tas setelah itu meletakkannya di atas nakas. Kemudian dia berjalan menuju pintu. Dia akan kembali nanti pagi untuk mengecek keadaan perempuan bernama Adindra itu.


****

__ADS_1


Pagi tiba. Kansha yang sudah selesai shift nya, berjalan menuju kamar perempuan itu. Dia membuka pintu bersamaan dengan Adindra yang bangun.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kansha.


"Dimana aku?" lirih Adindra atau Nana. Dia memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Di salah satu kamar yang ada di bar. Mbak mabuk parah semalam." jawab Kansha.


Nana menoleh pada Kansha, "Kamu yang bawa aku kesini?"


Kansha mengangguk.


"Aku memaafkanmu yang sudah lancang melawanku tadi malam." ucap Nana. Dia lalu bangkit hendak berdiri namun kembali limbung.


Kansha menahan tubuh Nana sigap, "Sebaiknya mbak beristirahat lebih lama." saran Kansha. Dia mengulurkan air minum padanya.


Perempuan itu menepisnya, "Aku harus pergi."


Nana kembali berdiri namun dia ditahan oleh Kansha.


"Mbak belum boleh pergi."


Nana menyentak tubuh Kansha keras, dia menatap kesal pada Kansha. "Berhentilah bertingkah sebelum kesabaranku habis."


"Saya bukan bertingkah, tapi mbak masih tidak cukup kuat untuk pergi. Mbak mabuk parah karena ngedrug." balas Kansha.


"Aku tidak selemah itu." desisnya.


"Tetap saja mbak belum bisa pergi. Kalau ada apa-apa bagaimana?"


"Dengar, kita hanyalah orang asing, kamu seharusnya tidak sepeduli itu padaku." desis Nana dingin.


"Mbak, saya tahu kalau kita tidak saling mengenal. Tapi sudah jadi kewajiban saya untuk mengingatkan mbak. Mbak tidak boleh memakai narkoba lagi."


"Terserah saya mau pakai atau tidak. Kenapa kamu ikut campur?!"


"Saya tahu mbak sedang dirundung masalah, tapi tidak sepatutnya mbak memakai narkoba terlebih mbak campurkan pada minuman mbak. Kalau mbak kolaps bagaimana?!"


"Berarti saya tidak perlu repot-repot untuk mati." tandasnya santai.


Nana tiba-tiba berdiri kembali. Dia merebut tas yang semula dipegang Kansha. Dia lalu berjalan cepat menuju pintu.


"Hanya orang idiot berotak kosong yang tidak peduli dengan kehidupannya sendiri. Sesulit apapun masalahnya, narkoba bukan pelarian yang tepat."


Nana terhenti dengan tangan memegang gagang pintu begitu mendengar ucapan Kansha. Dia menghembuskan nafas berat lalu membuka pintu meninggalkan Kansha sendiri.


FLASHBACK OFF


"Setelah mendengar perkataanmu bahwa aku adalah orang idiot berotak kosong, aku sungguh kesal. Tapi anehnya aku mendengar kalimat yang sama dari Kak Bara." ungkap Nana.


"Kamu memang orang idiot berotak kosong. " timpal Kansha.


Nana terkekeh alih-alih kesal, "Setelahnya aku mabuk-mabukkan lagi dan memakai narkoba. Dan benar saja, aku kolaps hingga dinyatakan kritis. Saat itu ketika sekarat, yang aku fikirkan adalah Kak Bara. Begitu mendengar tangisannya, aku merasa tidak mau mati begitu saja."


"Dan setelah aku sadar, aku berjanji bahwa aku tidak akan menggunakan narkoba lagi. Bagaimanapun kita hanya bisa saling menggantungkan hidup satu sama lain. Tapi tak berapa lama, Kak Bara meninggal dunia." lanjutnya pelan.


"Aku masih ingat kamu bertobat karena mendengar cerita masa laluku." timpal Kansha.


"Saat itu aku berfikir, dia adalah pembunuh kecil yang membunuh kakaknya sendiri. Tapi setelah itu aku menyadari bahwa masalahmu hanyalah salah paham."


"Tetap saja hidupku yang paling berat. Kamu kehilangan orang tuamu saat masuk kuliah. Sedangkan aku? Aku ditelantarkan orang tua kandungku, lalu dibenci oleh orang tua angkatku."


Nana memeluk Kansha pelan, "Kita adalah anak broken home tapi karena kita bersama-sama, kita bisa saling menguatkan satu sama lain."


"Aku senang karena di masa sendirianku, aku bertemu denganmu." Balas Kansha pelan.


Lalu Nana melepas pelukannya."Kita tidak bisa pelukan terlalu lama karena pelukanku akan menjadi milik Kak Ruben selamanya." ucapnya tersenyum manis.


Kansha berdecih, "Dasar bucin!"


***


Hari bahagia itu tiba. Para tamu juga sudah tiba dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Kansha dan Alfin berdiri di pintu masuk menyambut para tamu. Musik klasik khas wedding bergema di pagi damai di Pantai Sire.


"Aku lelah tersenyum." celetuk Alfin. Dia tersenyum garing tiap para tamu datang.


"Jangan begitu, ini kan hari bahagia Nana." bisik Kansha tetap menampilkan senyumnya.


"Awas kalau kalian menikah, aku dijadikan penerima tamu lagi. Akan kuhancurkan pernikahan kalian." ancam Alfin.


Kansha memukul lengan Alfin, "Kamu berfikir terlalu jauh."


Satu jam kemudian, prosesi pernikahan dimulai. Alan dan Alfin melihatnya dari kejauhan saat pemberkatan mulai dilangsungkan. Sedangkan Kansha setia menemani Nana di samping altar.


"Nana terlihat sangat bahagia." celetuk Alan.


Alfin mengangguk, "Aku bahagia dia akhirnya menikah dengan orang yang dia cintai."


"Kamu kapan menyusul?" tanya Alan iseng.


"Dia masih menyelesaikan pendidikannya di Spanyol." jawab Alfin.


"Jadi kamu sungguhan tidak berani melamarnya duluan?"


"Dia sangat memprioritaskan pendidikan. Aku tidak mau memaksanya."


"Kamu laki-laki sejati." ucap Alan menepuk pundak Alfin bangga.


Alfin tersenyum kecil, "Mas kapan akan melamarnya?"


Alan mengalihkan tatapannya pada Kansha yang terlihat sangat cantik di pinggir altar itu.


"Sore ini." tandasnya singkat.

__ADS_1


***


"Selamat." ucap Kansha memeluk Nana yang kini sudah resmi menjadi istri itu.


"Terima kasih. Kamu juga harus segera menyusul." timpal Nana.


Kansha hanya tersenyum. Dia lalu berhadapan dengan Ruben.


"Selamat kak. Aku harap kakak bisa membahagiakan Nana dan calon anak kalian nanti kelak."


Ruben tersenyum menatap cinta pertamanya itu. Dia sudah tak memiliki perasaan apapun pada gadis itu selain rasa sayang sebagai seorang kakak pada adiknya. Karena rasa cintanya sudah dia habiskan semuanya pada Nana, istrinya.


"Terima kasih, Kansha. Kakak minta maaf atas semua yang terjadi. Kuharap kita masih bisa berteman baik kembali."


Kansha tersenyum mengangguk, "Sudah seharusnya begitu kan kak. Aku senang memiliki kakak tingkat yang bisa kuanggap sebagai kakakku sendiri."


Kemudian beralih pada Alfin yang berhadapan dengan Nana. Banyak perasaan yang ingin lelaki itu ungkapkan pada gadis didepannya. Dan dia merampungkan semuanya dalam satu kalimat.


"Selamat atas pernikahanmu."


Nana tiba-tiba memeluk Alfin membuat Alfin membeku karena terkejut.


"Terima kasih atas semuanya Alfin. Aku tidak bisa membalas satu persatu kebaikanmu."


Alfin membalas pelukan Nana, "Melihatmu tidak akan mengacaukan lagi hidupmu itu sudah cukup."


Alfin lalu melepas pelukan mereka, dia lalu menatap Ruben yang menatap mereka dari tadi.


"Suamimu dari tadi melihatku terus hingga matanya hampir copot." ucapnya pada Nana.


Ruben gelagapan, dia menggelengkan kepalanya. Sedangkan Nana hanya terkekeh kecil. Dia lalu menggandeng tangan Ruben.


"Dia suamiku soalnya." ucapnya santai.


Pipi Ruben memerah usai Nana mengatakan bahwa dia adalah suaminya untuk pertama kalinya. Sedangkan Nana, Alan, Alfin dan Kansha hanya terkekeh melihat Ruben yang malu.


Dan sisa hari itu dijalani dengan damai dan indah. Pernikahan adalah fase simalakama. Terkadang kamu bahagia, terkadang kamu kesulitan. Tapi semuanya akan terlalui dengan baik bila bersama pasanganmu.


***


Kansha sedang makan kue ketika pundaknnya ditepuk seseorang dari belakang. Kansha menoleh dan ternyata Alfin yang menepuknya.


"Kamu tidak bersama Mas Alan?" tanyanya sambil duduk di samping Kansha.


"Dia sedang ke toilet." balas Kansha singkat.


"Benarkah? Tapi aku melihatnya ada di pantai bersama seorang perempuan." tukas Alfin.


Kansha menghentikan makannya, "Perempuan?" serunya tak percaya.


Alfin mengangguk, "Mereka terlihat akrab."


Kansha tak percaya. Mana mungkin lelaki kaku dan tidak peka itu sedang bersama seorang perempuan. Terlebih perempuan yang tak dikenalnya.


"Kalau ingin menipuku, harus lebih masuk akal dong." tukas Kansha terkekeh geli.


"Kamu tidak percaya?" Kansha sontak mengangguk.


"Lihat saja dipantai. Tapi jangan menangis kalau Mas Alan benar-benar digaet oleh perempuan lain."


Kansha jadi terdiam. Dia mau tak mau merasa khawatir. Alan belum jadi miliknya. Apalagi Alan hari ini terlihat amat tampan, tadi saja banyak perempuan yang meliriknya.


"Awas kalau kamu berbohong." peringat Kansha. Dia tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju pantai. Dia harus memblok segala bentuk serangan apapun.


Alfin yang melihat Kansha berjalan cepat karena khawatir dengan ucapannya hanya terkekeh.


***


Setelah sampai di pantai, disana tidak ada siapapun termasuk Alan. Kansha seketika mendengus. Dia kibuli lagi oleh Alfin.


"Dasar brengsek. Seharusnya aku tidak percaya begitu saja dengan ucapannya." rutuknya.


Kansha kemudian berbalik hendak pergi tapi tiba-tiba angin menghembus kencang dan suara baling drone terdengar. Kansha mendongak ke atas. Ada drone yang terbang diatasnya. Drone itu lalu perlahan turun hingga mendarat di depan kaki Kansha.


Kansha mengernyit bingung ketika drone itu membawa sebuah surat. Dia mengambil surat bersampul pita merah itu dan membacanya.


Ikuti aku dan berjalanlah menuju ujung senja.


Kansha makin menekuk alisnya, dia bingung dengan isi surat itu.


"Mungkinkah ini bukan untukku?" gumam Kansha.


Lalu tiba-tiba drone itu menyala. Baling-balingnya berputar dan naik ke atas. Dia terbang sejajar dengan tinggi Kansha.


Drone itu bergerak-gerak aneh. Kansha mengernyit.


"Maksudnya aku harus mengikuti kemana drone ini pergi?" gumam Kansha.


Seolah mendengar gumaman Kansha, drone itu mulai terbang pergi. Kansha mengikutinya meski masih dilanda kebingungan.


Drone itu tetap terbang rendah diikuti Kansha hingga mereka tiba di suatu tempat. Sebuah dermaga kosong yang ujungnya menjorok lebih jauh ke laut.


Drone itu lalu terbang tinggi dan menghilang ke balik awan. Kansha tak sempat mencegahnya.


Dia lalu menatap ke arah dermaga itu. Tidak ada apa-apa disana. Tapi Kansha tetap berjalan lurus menuju dermaga karena penasaran dengan si pengirim drone itu. Dan sepertinya pengirim drone itu ada di dalam dermaga.


Kansha berjalan lurus dan beberapa langkah sebelum mencapai ujung, langkahnya terhenti kala ada seseorang berkemeja putih yang berdiri membelakanginya. Di tangannya tergenggam sebuket bunga mawar merah.


"Alan?" panggil Kansha ragu.


Orang itu tiba-tiba berbalik. Kansha menganga kaget kala tebakannya benar bahwa itu Alan.


Alan berjalan tenang menuju Kansha yang masih terdiam bak patung. Adegan ini sama persis, kala Alan berjalan menghampirinya setelah berwudhu kala terdampar dulu. Wajah yang persis sama dan pesona yang persis sama. Tapi bedanya, dulu ditangannya adalah sebuah obor kayu, namun kini adalah sebuket bunga mawar merah yang terayun selaras dengan langkahnya.

__ADS_1


Jantung Kansha berdegup cepat dan makin cepat seiring Alan yang terus mendekat satu langkah demi satu langkah. Hingga pada langkah ke dua puluh, Alan berhenti tepat didepannya.


Di tengah senja yang perlahan habis, Alan hanya menatapnya tanpa suara.


__ADS_2