My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 113.


__ADS_3

Aura berjalan dengan arogan memasuki perusahaan papanya. Semua pegawai menyapanya, tapi mood Aura sudah terlalu buruk untuk membalasnya. Perempuan itu terus saja berjalan dengan pandangan lurus kedepan.


Aura naik lift menuju lantai dua belas, dimana ruangan papanya berada. Begitu masuk ruangan, Aura langsung duduk begitu saja tanpa perlu repot-repot menyapa Robin, kuasa hukum keluarganya yang sudah menunggunya.


“Mana surat wasiatnya?” todong Aura tanpa basa-basi. Dia bahkan tak melihat Robin sama sekali.


Robin agak ragu menyerahkannya. Jadi dia mengurungkannya.


“Ada hal yang harus kamu ketahui dan pahami dahulu soal hal ini.” ucap Robin.


Aura menatap Robin dengan dingin, “Lelaki kejam itu tidak memberikan sepeserpun kekayaannya untukku, itukah?”


“Aura, pasti ada alasan mengapa papamu mendonasikan semuanya pada yayasan milik Williams. Saya harap kamu mampu berfikir positif akan hal itu.” ujar Robin.


Brak


Aura menggebrak meja dengan keras pertanda dia marah dengan perkataan Robin. Robin pun tersentak kaget.


“Aku sudah menderita di sepanjang hidupku karenanya! Dia tidak menyayangiku, selalu memukulku dan selalu melontarkan kebencian padaku. Dia bahkan penyebab ibuku bunuh diri!” teriak Aura penuh emosi.


“Aura, tenangkan dirimu. Jangan emosi.” Ucap Robin berusaha menenangkan.


Tapi Aura tak mau tenang. Emosi sudah terlanjur mengepung dadanya. Hatinya sudah terlampau sakit akibat perlakuan papanya selama akhir hayatnya. Otaknya dipaksa mengingat semua hal menyakitkan yang dilakukan papanya padanya.


“Bagiku, dia adalah iblis terkejam yang pernah kutahu! Dia tidak punya hati, dia tidak punya cinta dalam dirinya. Andai aku tahu bahwa dia akan menorehkan luka padaku lagi saat bahkan dia sedang sekarat, seharusnya kubuat dia tersiksa lebih dulu. Hatiku tidak tenang bahwa lelaki itu pergi dari dunia tanpa penyesalan dan permohonan maafnya untukku.” lanjut Aura berapi-api.


Kebencian sudah mengakar terlalu kuat dalam hatinya. Hati seorang anak yang terlahir dan berkembang tanpa cinta memang kerap membuat anak itu menjadi sensitif atas segala sesuatu yang terjadi. Karena baginya, dia merasa tak berharga karena kerap dilukai dan disakiti.


Robin menghela nafas berat. Di satu sisi, dia memang merasa kasihan dan simpati pada Aura. Anak dihadapannya telah tumbuh jadi gadis pendendam dan jahat karena ulah orang tuanya sendiri. Kalau dari awal, papanya, Hans mau berdamai dengan masa lalunya dan berusaha menciptakan keluarga harmonis penuh cinta untuk Aura, maka Aura tak akan menjadi seperti sekarang. Gadis itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau tanpa memandang salah atau tidaknya. Ini adalah imbas dari perlakuan tidak adil yang dia salahkan pada semesta karena menyiksanya lahir batin.


“Aku tidak ingin mendengar ceramahanmu tentang apapun. Yang harus kamu tahu, aku akan melakukan berbagai cara untuk bisa merebut semua aset milik Hans. Sekalipun dengan menghancurkan Williams!” Tandas Aura. Perempuan dengan rambut pirang itu lalu berdiri dan tanpa kata langsung pergi meninggalkan ruangan Hans dan hanya menyisakan Robin seorang.


Bruk


Pintu ditutup keras oleh Aura membuat Robin sedikit berjengit karena kaget. Namun sedetik kemudian, lelaki paruh baya itu menghela nafas kasar. Pandangannya lalu teralih pada foto besar dimana potretnya adalah Hans yang duduk tegap dengan jas hitam. Robin tak mengatakan apapun, hanya terus saja menghela nafas berat. Banyak yang ingin dia katakan, tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana. Robin malah mengambil ponsel dari saku jasnya dan menghubungi seseorang.


Begitu panggilannya diangkat, Robin langsung berbicara dengan nada ceria.


“Halo, nak. Papa akan pulang sebentar lagi, ayo makan malam bersama.”


***


Kansha langsung merebahkan diri di atas ranjangnya begitu dia pulang ke rumahnya. Alan juga langsung pulang begitu sudah mengantarnya selamat hingga ke depan pintu.


Kansha menghela nafas lega. Dia bersyukur bahwa acaranya tadi lancar dan mereka sudah mendapat restu dari ayah Alan. Memikirkan bahwa dia sudah mengantongi restu menjadi menantu keluarga Alandra, membuatnya tersenyum sendiri.


Drrt


Kansha seketika berhenti tersenyum sendiri. Dia tersentak kala getar ponsel di dalam tas miliknya yang dia simpan tepat di samping telinganya bergetar. Kansha pun langsung mengambil ponselnya dan langsung tesenyum lebar kala yang menelfonnya adalah Alan.


“Halo, Alan.” sapa Kansha langsung menjawab telfon.


“Cepat sekali kamu menjawabnya.” Komentar Alan geli.


Kansha hanya tertawa malu.


“Oh ya, kamu sudah pulang ke rumah?” tanya Kansha mengalihkan pembicaraan.


“Sudah, makanya aku bisa menelfonmu.” Balas Alan.


“Syukurlah. Aku tidak enak kamu harus mengantarku malam-malam begini.” Ujar Kansha.


“Apa yang tidak enak? Aku mengantar calon istriku sendiri pulang. Aku takut terjadi apa-apa dengannya kalau kubiarkan pulang sendirian.” Tukas Alan.


Kansha tak bisa menahan senyumnya. Dia memukul guling dengan gemas.


“Kalau begitu, apa yang kamu lakukan saat ini?” tanya Kansha mengganti topik.


“Umm, kamu mau jawaban jujur atau sangat jujur?” tanya balik Alan.


Kansha mengernyitkan dahinya bingung, “Apa yang berbeda?”


“Tentu saja berbeda. Kalau jawaban jujur, aku akan memberikan jawaban jujur 100%, tapi kalau sangat jujur maka 105%.” Jelas Alan.


Kansha terkekeh geli mendengarnya, “Kalau begitu jawaban jujur.” Pilih Kansha.


Hening sesaat disana lalu suara Alan kembali muncul, “Aku sedang membaca buku.” Jawab Alan.


Kansha entah kenapa sedikit kecewa mendengarnya. Entah kenapa dia ingin mendengar bahwa Alan sedang memikirkannya dan ucapan romantis lainnya. Lalu Kansha seketika memukul dahinya pelan, berusaha menyadarkan diri pada fantasi liarnya itu. Ayolah, dulu dia sangat membenci ucapan konyol itu!


“Kalau sangat jujur, bagaimana?” tanya Kansha penasaran.


Kini hening cukup lama dari seberang telfon membuat Kansha mengangkat satu alisnya. Apakah pertanyaannya salah?


Lalu terdengar Alan mendesah, suara nafasnya terdengar jelas di telinga Kansha.


“Aku sedang membaca buku tapi kuakhiri padahal belum mencapai lima menit. Aku tidak bisa fokus karena terlalu merindukanmu.” Tandas Alan.


Kansha kini benar-benar mengembangkan senyum amat lebar. Dia menutup mulutnya kala dia tidak tahan ingin menjerit bahagia. Dulu ucapan yang dilontarkan Alan seperti itu baginya hanyalah sebuah godaan sampah dari para lelaki hidung belang. Tapi kini, begitu lelaki yang dia cintai mengatakannya, Kansha seperti ingin terbang melayang di luar angkasa. Rasanya ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.


Ah, inilah nikmatnya jatuh cinta. Kansha baru menyadarinya.


Tidak terdengar tanggapan apapun dari Kansha membuat Alan kembali bersuara, “Garing ya? Maaf ya, aku tidak bermaksud melakukannya.” Ucapnya merasa malu.


Kansha kini terkekeh geli mendengarnya. Dia jadi ingin melihat bagaimana Alan berekspresi kala mengatakan itu. Pasti akan lucu sekali.


“Aku sungguh terkejut dengan sisimu ini, Alan.” ucap Kansha dengan nada biasa saja. Berpura-pura tak bereaksi apapun.


“Tidak apa-apa. Kedepannya, kamu akan melihat lebih banyak lagi sisiku ini.” tukas Alan ringan.


Kansha tersenyum kecil mendengarnya, “Kurasa aku harus menyiapkan mental yang kuat untuk itu.” ucapnya. Alan tertawa mendengarnya.


“Oh ya, apa kamu selalu sarapan rumahan?” tanya Alan begitu tawanya sudah reda.


“Begitulah. Tapi Bi Ningsih masih pulang kampung jadi tidak ada yang memasak makanan. Itu sebabnya aku mengusulkan padamu untuk pertemuan orang tua kita dilakukan di restoran saja.” Jawab Kansha.


“Tapi bukankah kamu jago masak? Kenapa tidak masak sendiri?” tanya Alan penasaran sekaligus bingung.

__ADS_1


“Aku terlalu lelah untuk memasak sendiri. Pekerjaanku sudah sangat banyak dan semua energiku terkuras. Jadi aku tidak punya energi lagi untuk melakukan pekerjaan rumah tangga termasuk memasak.”


“Ah begitu.” Balas Alan mengerti.


“Kamu tidak merasa jengah kan? Maksudku, aku terlihat seperti pemalas.” Ucap Kansha tiba-tiba merasa khawatir.


“Tentu saja tidak. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku juga sering pulang larut. Yang ada difikiranku hanyalah istirahat. Aku bahkan sering mengabaikan rasa laparku karena malas memasak atau membeli makanan.”


“Tapi aku melakukan hal itu karena saat ini aku masih sendiri. Tapi begitu kita menikah nanti, aku pasti akan mengerjakan semuanya dengan penuh tanggung jawab.” Ucap Kansha mantap.


“Aku percaya padamu. Aku yakin kamu akan menjadi istri sekaligus ibu yang hebat.” ujar Alan.


Kansha tersenyum mendengarnya, “Terima kasih, Alan.” balasnya.


“Sama-sama. Oh ya, untuk besok, bagaimana kalau kita sarapan bersama saja?” usul Alan.


“Boleh. Dimana?" tanya Kansha antusias.


“Di cafe favoritku. Sandwich mereka enak sekali. Kamu harus coba.” Jawab Alan.


“Boleh, boleh. Dengan senang hati.” Sahut Kansha semangat.


“Kalau begitu, aku akan menjemputmu pukul tujuh ya.” Ucap Alan.


“Siap, bos!” sahut Kansha kemudian terkekeh.


Lalu pembicaraan mereka terus berlanjut. Banyak yang dibicarakan oleh dua orang yang sedang dimabuk asmara ini. Mereka berbicara banyak hal. Menanyakan apa yang masing-masing sukai dan tidak sukai. Mencoba menyelami lebih dalam tentang kehidupan masing-masing. Hingga tanpa disadari, malam semakin larut. Dan pembicaraan hangat mereka juga harus diakhiri. Mereka mengakhirinya dengan ucapan sederhana namun sama hangatnya dan mengandung kasih mereka didalamnya.


Selamat malam


***


Pagi tiba. Dan Kansha sedang dalam perasaan yang buruk amat buruk. Itu karena Alan tidak menepati perkataannya. Bilangnya akan menjemput pukul tujuh, tapi baru saja pukul enam, lelaki itu sudah berkoar-koar membangunkannya. Ketika ditanya kenapa, dia hanya menjawab bahwa sebelum sarapan mereka harus lari terlebih dahulu. Kansha, si Tetap Kurus Meski Malas Olahraga, langsung menolak keras.


Tapi disinilah mereka. Berlari-lari kecil di sekeliling taman. Nyatanya Kansha kalah pertempuran, dia dengan tak rela diseret Alan untuk berolahraga. Kata Alan, yang seorang pilot dan bukan dokter, olahraga itu sehat.


Kansha dan Alan terus berlari-lari kecil atau biasa disebut jogging itu. Dan sedari tadi muka Kansha terus ditekuk. Rautnya yang masam juga disadari oleh Alan.


“Jangan terus kesal. Ini juga demi kesehatan kamu.” Celetuk Alan melirik Kansha di sela-sela jogging mereka.


Kansha hanya mendengus sebal. “Kamu tidak bisa dipegang omongannya. Janjinya jam tujuh malah datang sejam lebih awal!”


Alan terkekeh mendengarnya, “Awalnya memang jam segitu tapi aku kefikiran bagaimana kalau kita berolahraga pagi dulu. Aku ingat kamu pernah mengeluh sakit pinggang karena terus-terusan berjalan.” ucap Alan.


“Tapi seharusnya kamu memberitahuku dong! Aku belum siap dan langsung diseret olehmu. Aku bahkan masih tidur ketika kamu datang. Kukira siapa orang iseng yang menekan bel terus menerus di pagi buta?!” tukas Kansha kesal.


“Tadinya aku ingin memberitahumu tapi sudah terlalu malam saat itu. Aku khawatir aku akan membangunkanmu.” Jelas Alan.


Kansha berdecih, “Padahal langsung kirim pesan saja. Lagipula saat itu aku tidur dini hari.”


Alan tersenyum menyesal, “Baiklah, maafkan aku ya.” Ucapnya tulus.


Kansha memalingkan mukanya, “Asal dengan satu syarat.” Tandasnya.


“Apa?” tanya Alan penasaran.


“Balet?” seru Alan tak percaya.


Kansha mengangguk, “Iya, kamu berputar-putar dengan kaki yang dijengkitkan sambil membawa bubur, mudah kan?” tanya Kansha ringan.


Alan hanya mampu tertawa sumbang mendengarnya.


***


Kansha tertawa begitu melihat Alan menari berputar-berputar sambil membawa dua mangkuk bubur. Kansha makin tertawa keras kala melihat raut malu Alan karena aksinya dilihat banyak orang yang juga sedang berolahraga. Banyak yang tersenyum geli bahkan tertawa pelan. Rata-rata orang tua menahan senyuman mereka.


“Ini, tuan putri.” Ucap Alan penuh penekanan sambil menaruh dua mangkuk bubur ke atas meja dengan hati-hati. Wajahnya tetap tersenyum meski dia menanggung malu amat besar.


Kansha tertawa kembali. Dia senang mengerjai Alan. Astaga, tadi lucu sekali.


“Terima kasih ya.” Balas Kansha manis. Dia mengambil botol air dan mengangsurkannya satu pada Alan.


“Astaga, kepalaku pusing.” Keluh Alan terengah-engah. Dia duduk di samping Kansha.


“Wah, masnya perhatian sekali dengan istrinya. Pasti sedang hamil muda ya?” celetuk ibu-ibu yang duduk di dekat mereka.


Uhuk


Kansha langsung tersedak air begitu sebuah pertanyaan tak terduga terdengar dari ibu-ibu itu. Sedangkan Alan juga mematung. Dia terkejut dan tidak siap dengan pertanyaan seperti itu.


Uhuk uhuk


Setelah tersadar dari keterkejutannya, Alan menepuk-nepuk punggung Kansha yang masih terbatuk-batuk.


“Tidak apa-apa?” tanya Alan khawatir. Kansha mengangguk sebagai jawabannya. Dan tindakan manis Alan juga tak luput dari perhatian ibu-ibu lain.


“Kalian romantis sekali. Pasti baru menikah ya? Irinya.” Celetuk seorang perempuan muda yang duduk sambil menimang anak.


Kansha dan Alan gelagapan. Mereka saling melempar pandangan.


Hingga Kansha yang pertama kali membuka suara, “Eee, kami bukan—“


“Iya bu. Kami baru menikah beberapa bulan, iya kan Sayang?” sela Alan sambil menatap Kansha dengan senyum manis.


Kansha menganga. Dia menatap protes pada pernyataan Alan yang salah itu. Sejak kapan mereka menikah?


“Kita belum—“ Lagi-lagi Kansha berbicara tapi terus dipotong Alan.


“Istri saya sedang hamil muda dan dia manjanya tidak ketulungan. Dia tadi mengidam agar saya menari balet sambil membawa bubur.” Curhat Alan dan ucapannya terdengar sangat realistis.


“Kapan aku menikah dan hamil?” desis Kansha berbisik di telinga Alan.


“Waduh, itu hal yang biasa dialami ibu hamil, mas. Masnya harus ekstra sabar menghadapinya. Ibu hamil juga sering manja dan maunya nempel terus sama suaminya.” Ucap ibu-ibu tadi.


“Tapi saya pas hamil, malah tidak mau dekat-dekat suami saya. Bawaannya pengen marah terus.” Tukas perempuan muda tadi.


“Nah benar bu. Saya juga tidak mau dekat-dekat dengan suami saya. Tapi suami saya ngeyel makanya saya marah. Saya tidak mau dekat-dekat karena dia bau ketiak.” Kini Kansha ikut dalam sandiwara Alan. Dia menjelek-jelekkan Alan dengan nada sangat meyakinkan.

__ADS_1


Alan melirik Kansha penuh protesan. Dia tidak bau ketiak, loh!


“Itu berarti si masnya yang pengen dekat-dekatan sama kita. Biasalah, aura ibu hamil itu sangat luar biasa. Mas nya pasti terpesona sama mbaknya.” Timpal Ibu-ibu itu.


Kansha tersenyum kemenangan sambil melirik Alan. Sedangkan Alan, dia kalah telak. Dia termakan sandiwaranya sendiri.


“Betul itu, bu.” Sahut Kansha semangat. “Suami saya makin bucin sama saya, iya kan sayang?” tanya Kansha sambil melirik Alan Sengan senyuman manis yang menyebalkan.


“Mengangguk, dong.” Bisik Kansha penuh penekanan. Dia lalu menginjak kaki Alan karena diam saja.


Alan mengaduh lalu tubuhnya otomatis membungkuk. Kansha tertawa setelahnya.


“Kami menikah muda jadi suami saya masih malu-malu.” Ucap Kansha enteng.


“Ee, Sayang, sepertinya kita harus pulang. Kamu tidak boleh terlalu lama diluar.” Celetuk Alan ingin segera mengakhirinya.


“Loh, kita kan baru sebentar, Sayang. Apalagi kita sedang mengobrol dengan ibu-ibu hebat ini. Aku ingin bertanya seputar kehamilan pada mereka.”ucap Kansha.


“Ayo pulang, Kansha.” bisik Alan penuh penekanan meski wajahnya tetap menampilkan senyum.


“Aku masih mau disini.” Ucap Kansha.


Alan langsung menggandeng lengan Kansha, “Maaf ya ibu-ibu, kami pulang dulu kapan-kapan main ke rumah kami ya. Kita satu komplek.” Ujar Alan pamit.


“Iya hati-hati ya. Langgeng pernikahannya ya.” Sahut ibu-ibu itu.


“Terima kasih bu.” Ucap Kansha senang.


Kemudian Alan segera menggandeng Kansha untuk pergi. Dan begitu menjauh dari ibu-ibu tadi, Kansha langsung tertawa keras..


“Apa itu lucu?” tanya Alan sebal.


“Tentu saja lucu. Kamu ingin mengerjaiku. Siapa sangka kamu termakan candaanmu sendiri.” Ucap Kansha geli.


Alan memutar bola matanya malas. Lalu dia mendesah.


“Tidak apa-apa. Meski sedikit kesal, aku tetap mengaminkannya.” Balas Alan.


Kansha lantas menatap Alan dengan penuh peringatan, “Yah, kalau aku hamil nanti. Kupastikan kamu tidak boleh dekat-dekat denganku barang semeterpun!” ujar Kansha kemudian mulai berjalan lebih dulu.


Mendengar hal itu, Alan hanya berkata, "Kalau itu tidak akan kuaminkan."


***


Seorang lelaki dengan kemeja kasual sedang duduk di sebuah cafe sambil meminum teh. Sejak dia diagonosis memiliki penyakit, Alvaro menjauhi segala gaya hidup yang tak sehat termasuk dengan kecanduannya pada kafein tersebut. Dan lelaki itu sedang menunggu seseorang.


Karena Alvaro duduk di samping jendela, dia tahu siapa saja yang berlalu lalang di depan cafe. Dan pandangannya teralihkan pada sebuah mobil range rover hitam yang menepi di depan cafe. Alvaro memperhatikannya dan muncul seorang perempuan dari dalam mobil. Dia adalah Kansha.


Tapi Kansha tak sendiri, dia terlihat mengobrol dengan seseorang yang berada di balik kemudi. Alvaro menyipitkan matanya dan langsung tersentak kala lelaki itu keluar dari mobil. Alvaro masih ingat namanya, dia Alan.


Mereka terlihat berbincang sebentar. Kansha seperti berpamitan pada lelaki itu. Kemudian terlihat Alan mengelus rambut Kansha dan setelah itu Alan kembali ke dalam mobil. Kansha melambaikan tangannya berbarengan dengan mobil yang dikemudikan Alan melaju pergi.


Kemudian Kansha berbalik. Pupil matanya menjadi terlihat agak besar kala menyadari kehadiran Alvaro yang duduk di samping jendela. Kansha lalu melambaikan tangan padanya dan Alvaro membalasnya lengkap dengan senyuman. Dan begitu Kansha masuk ke kafe, senyuman Alvaro luntur digantikan banyak pertanyaan yang bercokol dalam fikirannya. Dan sebagian besarnya adalah mengenai kedekatan Kansha dan Alan.


Di sisi lain, setelah berpamitan dengan Alan, Kansha cukup terkejut mendapati ada Alvaro yang duduk di samping jendela tepat di depan mobil Alan. Kansha yakin bahwa Alvaro sudah melihat semuanya.


Kansha kemudian melambaikan tangannya pada Alvaro seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kemudian perempuan bercelana jeans itu masuk ke kafe dan langsung menghampiri ALvaro yang tengah menunggunya.


“Maafkan aku, kamu pasti menunggu lama.” Ucap Kansha begitu duduk. Dia merasa tak enak karena tidak disiplin waktu. Dia seharusnya datang sesuai jam yang sudah ditentukan, tapi gara-gara Alan yang menahannya untuk tidak pergi dengan sejuta alasan, membuatnya terlambat.


“Tidak apa-apa. Aku juga baru datang.” Balas Alvaro tenang. “Oh ya, tadi kamu bersama Alan?” tanya Alvaro.


Kansha mengangguk, “Tadinya aku ingin pergi sendiri tapi Alan ingin mengantarku.” Balas Kansha santai.


Alvaro menganggukkan kepalanya, “Ah begitu.” Sahutnya pelan.


“Oh ya, jadi apa yang ingin kamu bicarakan soal Aura?” tanya Kansha masuk ke topik pembicaraan.


“Aku akan menceritakannya dari awal. Aku menemani Aura dari awal hingga akhir prosesi pemakaman papanya. Awalnya Aura biasa-biasa saja. Dia tidak terlihat sedih bahkan menangis. Kufikir dia memang berusaha tegar, terlebih mengenai hubungan buruknya dengan papanya, aku bisa mengerti bahwa Aura mungkin tidak akan terlalu sedih. Tapi begitu pemakaman selesai, Aura mengamuk. Dia terus mengutukmu. Menyumpah serapahmu dan menghinamu habis-habisan. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi kurasa Aura sangat membencimu.”


Kansha mendesah pelan, dia juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


“Kufikir penindasan Aura padaku saat SMA hanyalah sebuah sikap kekanak-kanakannya karena masih SMA. Setelah berjalannya waktu, karena kita sudah dewasa, Aura tidak akan melakukannya lagi. Tapi aku menyadari ada yang salah begitu aku tahu bahwa Aisyah selama ini diprovokasi Aura. Aku menyadari kebencian Aura padaku tidak hanya sebatas saat SMA tapi berlanjut hingga kini. Kalau tidak, Aura tidak akan serepot itu untuk membantu sepupunya.” Jelas Kansha.


“Tunggu, Aisyah? Sepertinya aku pernah mendengarnya.” Ujar Alvaro mencoba mengingat-ingat.


“Benarkah?” tanya Kansha penasaran.


“Ah, aku ingat sekarang. Kenan yang juga temanku dan termasuk sepupu Aura pernah membicarakannya. Kurasa dia terlibat sesuatu dengan Aura karena Kenan memintanya berhenti.” Jelas Alvaro.


“Alasan itulah kenapa Alan menelfonku dan menanyakan soal adakah sepupu Aura yang merupakan seorang dokter!” seru Kansha. Kini dia mulai bisa mengurutkan sebab akibatnya secara runtut.


“Ah benarkah?” seru Alvaro terkejut.


“Katanya Alan didatangi oleh dokter yang merawat Aisyah, dia mengakui semua kesalahannya termasuk tindakan manipulatif yang dia lakukan atas suruhan Aura. Sepupunya mengetahui hal itu dan akhirnya meminta berhenti melakukannya karena itu ilegal.”


Alvaro mangut-mangut. Dia juga mulai mengerti sekarang. Ada alasan kenapa Aura kerap datang ke ruangan Kenan, bukan karena urusannya dengan Kenan sendiri melainkan pada Nadin, yang Alvaro ketahui baru-baru ini adalah kekasih Kenan.


“Aku mengerti sekarang.” Ucap Alvaro. “Tapi apa hubungannya dengan Aura sebenarnya?” tanya Alvaro bingung.


“Itulah yang sedang kuselidiki. Alasan sebenarnya Aura melakukan itu semua. Kufikir awalnya dia memang ingin membantu Aisyah tapi baru kusadari semua tindakannya malah menjurus pada kehancuran hubungan Aisyah dan Alan alih-alih membuatku menjauh dari Alan.”


Alvaro terdiam dia lalu mulai berspekulasi, “Mungkinkah motifnya adalah adu domba?”


Kansha tersentak. Adu domba?


Benar! Kenapa dia tidak kefikiran soal itu. alasan kenapa Aura mati-matian membantu Aisyah. bukan soal membuatnya menjauh dari Alan tapi ada maksud lain yang tersembunyi.


Tunggu..


Aura membantu Aisyah mencari tahu keberadaan Azzahra selama ini. Mungkinkah Aura sudah tahu bahwa Azzahra adalah dirinya hingga alih-alih membuat Aisyah mempertahankan hubungannya dengan Alan, Aura malah menghancurkannya agar Aisyah membencinya dan menganggapnya sebagai orang ketiga yang pada akhirnya membuat dirinya dan Aisyah saling bermusuhan. Karena Kansha dan Aisyah bersaudara jadi Aura ingin Aisyah membenci Kansha agar tujuan utamanya lebih mudah melalui Aisyah. Karena selama ini Aisyah hanyalah pion yang dikendalikan Aura.


Tapi apa tujuan sebenarnya? Mengapa Aura ingin membuatnya dan Aisyah bermusuhan?


“Alvaro, apa hewan kesukaan Aura?” tanya Kansha tiba-tiba.


Alvaro bingung dengan pertanyaan tak terduga Kansha namun akhirnya menjawab, “Setahuku hanya kelinci, satu-satunya kesukaannya.”

__ADS_1


Kansha mematung mendengarnya. Ini tidak seperti yang dia fikirkan kan?


__ADS_2