
Kansha menatap wajah Alan yang tengah tertidur pulas, dia melipat tangannya dan menumpukkan kepalanya di atas lipatan lengannya. Seiring waktu berjalan melambat dan cahaya hangat lampu neon, Kansha terus menatap wajah Alan. Bila Alan bangun, dirinya mungkin tak seberani itu menatap lama pada visual tampan lelaki idamannya ini. Dan seiring dengan lantunan pujian yang dia dendangkan dalam hati untuk Alan, matanya terpejam menyusul Alan yang tengah menjelajahi dunia mimpi lebih dulu.
Alan dan Kansha tertidur nyenyak dengan saling berhadapan. Kemudian tak lama, Alan bangun dari lelapnya tidur. Begitu retinanya menyentuh cahaya, pemandangan Kansha yang tengah tertidur di depannya menyentuh hatinya. Alan menatap Kansha yang begitu polosnya tertidur. Bibirnya yang ranum dan bulu mata lentik menambah keanggunan gadis berusia 25 tahun ini. Dalam diam, Alan terus mengagumi kecantikan Kansha.
Jemari Alan tiba-tiba terangkat pelan mencoba menyentuh rambut Kansha yang menjuntai di wajahnya. Begitu Alan hampir menyentuhnya, Kansha menggeliat. Alan seketika menutup matanya dan pura-pura tertidur.
Kansha membuka matanya dan menggeliat pelan. Lehernya sakit karena tidur menyamping dalam waktu lama. Dia meregangkan tubuhnya ketika Seli datang menghampirinya.
“Sudah waktunya makan siang bu.” Ujar Seli lalu melirik Alan yang masih pura-pura tertidur.
Kansha mengangguk sebagai isyarat. Seli pun pergi meninggalkan mereka berdua. Kansha menggoyangkan bahu Alan pelan dengan wajahnya yang kembali berhadapan dengan Alan. Alan menggeliat dan matanya kembali bertatapan dengan Kansha kini sudah terbuka.
“Ayo makan siang.” Bisik Kansha lembut.
***
Kansha dan Alan sampai di kantin, tampak seluruh pegawai sudah duduk di meja dan tengah menunggu mereka. Kansha dan Alan saling bertukar senyum dengan para pegawai ARC kemudian duduk di tempat yang sudah disiapkan Seli.
Makan siang pun berlangsung dengan hangat. Kansha tak sungkan mengobrol dengan santai dengan pegawainya. Tentu saja, Kansha pernah menjadi bagian mereka, meski dia kini menjabat, bukan berarti dia melupakan teman lama. Alan pun yang sudah tak canggung, asik mengobrol dengan pegawai laki-laki. Mereka membahas seputar mobil dan memancing. Rupanya mereka punya hobi dan kesukaan yang sama. Jadilah pembicaraan mereka nyambung.
Usai makan siang, Alan pamit shalat dzuhur di masjid kantor. Sedangkan Kansha kembali ke ruangannya. Tak lama, Alan datang.
“Oh ya, aku lupa menanyakan ini. Tapi apa kamu tidak bekerja?” tanya Kansha di balik mejanya.
“Aku awalnya akan pergi ke bandara, karena direktur memanggilku. Tapi katanya beliau ada rapat keluar jadi tidak jadi.” Jawab Alan. Kansha mengangguk mengerti.
“Jadi, kamu luang hari ini kan?” tanya Kansha lagi.
“Tentu.” Alan mengangguk.
Kansha mengangguk puas, dia mematikan laptopnya kemudian menghampiri Alan yang masih duduk.
“Ayo, ku ajak kamu ke suatu tempat.” Ajak Kansha.
“Kemana?” tanya Alan lekas berdiri.
Kansha tersenyum misterius, “Lihat saja nanti.”
***
Kansha membawa Alan ke suatu tempat. Mereka sampai di pelataran cafe mewah yang berada di Jakarta Utara. Setelah memarkirkan mobil, Alan mengikuti Kansha masuk dengan mengernyit bingung.
Kansha dan Alan langsung disambut oleh Lisa, salah satu pegawai cafe yang kenal dekat dengannya.
“Ibu ada?” tanya Kansha.
“Ada, mbak. Nanti saya panggilkan.” Kansha mengangguk dan mengucap terima kasih.
“Ayo.” Ajak Kansha. Dia membawa Alan duduk di sudut cafe dan dengan tenang menunggu seseorang.
Tak lama, orang yang ditanyai Kansha datang. Lisa datang dengan Bu Sari. Kansha lantas berdiri dan memeluk ibu sambungnya itu. Mereka bercipika-cipiki.
“Alan, ini Bu Sari, malaikat yang pernah kuceritakan padamu dulu ketika di pulau.” Ucap Kansha memperkenalkan Bu Sari.
“Malaikat? Kamu ngomong apa sih.” Ujar Bu Sari tertawa malu.
__ADS_1
Alan menyalami Bu Sari, “Saya Alan bu. Teman Kansha.” Ujar Alan sembari tersenyum.
“Iya saya sudah tahu. Kita pernah bertemu ketika di rumah sakit. Tidak disangka kalian juga masih berhubungan. Dan oh ya, ini kali pertama Kansha membawa seseorang kesini.” Kata Bu Sari ceria.
“Oh ya?” tanya Alan melirik Kansha.
“Ibu, aku kan pernah membawa Nana dan Kak Ruben juga. Masa ibu lupa.” Sanggah Kansha.
“Itu berbeda.” Tukas Bu Sari ambigu. Dia tersenyum dengan ceria. Kansha mengangkat bahunya ketika Alan menoleh padanya lagi.
“Duduk dulu saja, nanti ibu bawakan makanan kesukaan Kansha.” Kata Bu Sari.
“Jangan makanan bu. Kami sudah makan di kantor. Bagaimana kalau sorbet dan es krim saja?”
“Yasudah, tunggu sebentar ya.” Kata Bu Sari. Beliau kemudian kembali ke dapur. Kansha dan Alan kembali duduk.
“Beliau masih sangat cantik.” Puji Alan.
“Iya, dia masih muda. Baru berumur lima puluh tahun.” Timpal Kansha santai.
“Lima puluh tahun?” Alan terpekik kecil.
“Memangnya kamu fikir beliau berusia berapa?”
“Kufikir, masih muda. Sekitar penghujung tiga puluh.”
Kansha tertawa mendengar nada polos Alan. Dia memegang perutnya karena asik tertawa. Alan mengernyit melihatnya. Memangnya perkataannya selucu itu?
“Sebenarnya kamu bukan orang pertama yang mengira ibuku berusia tiga puluh-an. Nana dan Kak Ruben juga sama. Banyak yang memuji kecantikan ibuku hingga tidak percaya usianya sudah setengah abad. Makanya banyak lelaki yang ingin meminangnya tapi beliau tidak mau.” kata Kansha begitu selesai tertawa.
“Jadi kalau memang benar ibuku berusia segitu, kamu akan ikut meminangnya?” goda Kansha.
“Masih ada putrinya yang jauh lebih muda, kenapa malah harus dengan ibunya?” kata Alan berkata ringan.
Kansha mematung begitu mendengar perkataan Alan.
“Maksudmu?”
“Apa maksudmu dengan maksudmu?” tanya balik Alan bingung.
Kansha menurunkan pandangannya dan mengibaskan tangannya pelan, “Lupakan saja.”
***
Nana dengan langkah ringan masuk ke kantor tempat Ruben bekerja. Di tangannya, ada paperbag yang berisi bekal makan siang. Dia sengaja memasak hari ini karena sedang libur berkerja. Ditambah ini adalah masakan yang dia buat dengan penuh perjuangan. Dan dia ingin membagikannya pada Ruben dan meminta penilaian lelaki itu.
Nana masuk ke ruangan dan langsung disambut oleh keriuhan para pegawai yang tengah berkerumun. Nana yang penasaran langsung menerobos dan ketika sampai di barisan depan, dia melotot kaget ketika seorang wanita memegang tangan Ruben dengan erat dan mengucapkan kata cinta.
“Ruben, aku benar-benar mencintai kamu. Sudah setahun aku mengejar kamu, dan kamu tidak pernah terfikirkan sedikitpun untuk mencintaiku?” kata wanita itu yang ternyata Diana dengan nada putus asa.
Ruben mendesah kasar. Dia benar-benar muak dengan ini selama setahun penuh. Andai bukan karena ini adalah firma milik pamannya, sudah lama dia ingin resign. Bayangkan saja, drama menye-menye yang dibawakan Diana, wanita tak tahu malu itu selalu dia lihat di setiap harinya selama satu tahun ini.
Nana yang muak dengan drama air mata palsu itu langsung maju menghadang Diana yang ingin memeluk Ruben. Orang-orang terkejut tak terkecuali Ruben dan Diana.
“Mbak, maaf ya. Mbak tidak lihat bagaimana ekspresi Kak Ruben? Dia muak dengan mbak. Mbak tahu tidak? Dasar tidak punya malu!” labrak Nana pedas.
__ADS_1
“Nana.” Tegur Ruben menarik baju Nana pelan.
“Kamu siapa?” tanya Diana kesal.
“A-aku...” Nana terdiam. Sial, dia memang siapanya Ruben ya hingga berani melabrak wanita gila itu.
“A—aku adik kelasnya!” balas Nana lantang. Diana tertawa remeh mendengarnya.
“Hanya adik kelas? Daripada kamu disini dan buat malu, lebih baik pergi belajar, adik kelas.” Ejek Diana.
Wajah Nana merah padam, dia hendak maju mendekati Diana namun tangannya dipegang Ruben. Setelah itu Ruben memegang bahu Nana dan mendekatkannya padanya. Nana yang tiba-tiba diberi perlakuan seperti itu membeku dengan jantung berdebar.
Ruben menatap Diana dengan datar. “Dia pacar saya.” Kata Ruben tegas.
Semua orang terkejut tak terkecuali Diana dan tentunya Nana yang lebih terkejut. Dia menatap Ruben dengan raut syok. Sedangkan Ruben masih menatap Diana lurus-lurus.
“Tidak mungkin.” Ujar Diana tidak percaya. “Kamu tidak bisa membohongi aku hanya karena kamu menolakku. Dia tidak mungkin pacar kamu.” tunjuk Diana pada Nana.
“Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Tidak ada untungnya untuk saya. Yang jelas harus kamu tahu, saya tidak bisa dan tidak akan pernah mencintai kamu.”
Mendengar hal itu, setetes air mata Diana jatuh. Dia mendesah kasar kemudian langsung pergi begitu saja. Nana yang melihat Diana menangis seketika tak tega. Bagaimanapun posisinya sama dengan Diana, sama-sama mencintai lelaki yang mencintai wanita lain. Hanya saja perbedaannya, Diana jauh lebih berani mengutarakan perasaannya dibanding dirinya yang terus bersembunyi.
***
Nana duduk canggung di ruangan Ruben setelah insiden itu. Sedangkan Ruben tengah menyeduh minuman.
“Terima kasih tadi kamu sudah menyelamatkan kakak.” Ujar Ruben menaruh air minum untuk Nana di meja.
Nana mengambil gelas itu dan memegangnya di pangkuannya, “Seharusnya kakak tidak melakukan itu. Aku lihat perempuan itu sangat sakit hati.” Kata Nana pelan.
“Mau bagaimana lagi. Kakak sudah muak dengan drama percintaaannya itu. Lebih baik ditegasi sekali meski harus sakit hati daripada tidak sama sekali, maka dia akan terus menganggu.” Tukas Ruben mendesah pelan. Nana mengangguk setuju.
“Oh ya, kamu kesini ada apa?” tanya Ruben.
Nana terkesiap, dia hampir lupa dengan tujuan kedatangannya. “Aku kesini membawakan kakak makan siang. Ini masakan pertamaku jadi aku ingin meminta penilaian dari kakak.” Ujar Nana. Dia mengeluarkan bekal makanannya dan menyajikannya di depan Ruben. Ada nasi, ayam, salad sayur, dan sup ayam hangat.
“Merepotkan sekali. Padahal tidak perlu.” Kata Ruben.
Nana menggeleng dengan senyuman mengembang, “Tidak merepotkan kok. Awalnya aku ingin meminta Kansha yang mencicipinya, dia kan jago masak. Tapi akhir-akhir ini dia sibuk. Jadi aku meminta kakak yang mencicipinya. Oh ya, aku juga sudah membeli pasta, jaga-jaga andai masakanku tidak layak dimakan.” Kata Nana dengan terkekeh kecil di ujung kalimatnya.
Ruben tersenyum, dia langsung memakan salad sayur Nana. Nana menelan ludah gugup.
“Bagaimana kak?” tanya Nana penasaran.
Ruben menatap Nana dengan pandangan tak terbaca membuat Nana makin gugup. “Rasanya enak.” komentar Ruben. Nana mendesah lega. Senyumnya kembali mengembang.
“Kalau begitu coba yang lain.” Ujar Nana semangat.
***
Kansha sedang memainkan ponselnya sedangkan Alan tengah ke toilet. Dia tertawa kecil ketika melihat video lucu di instagram. Kemudian kesenangannya terganggu ketika ada seseorang yang mengetuk mejanya.
Tuk tuk
Kansha mengalihkan tatapannya dari ponsel dan menoleh pada orang itu. Dia yang awalnya tersenyum seketika melunturkan senyumnya. Matanya menatap terkejut dan takut.
__ADS_1
“Hai, Kansha. Lama tidak bertemu.”