My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 52.


__ADS_3

“Jadi ini rumahmu? Berantakan sekali.” Decak Nana mengedar kesekeliling apartement Alfin.


Alfin berdecak, “Untuk ukuran seorang laki-laki, ini sih masih mending. Lagipula aku tak punya waktu untuk membersihkan. Jadi terima saja apa adanya. Kamu bisa membersihkannya nanti.” Katanya sebal.


“Masih mending sih.” Kata Nana mengangguk setuju, “Apartement ku jauh lebih kotor dari ini.” lanjutnya tanpa dosa.


Alfin hanya mendelik.


“Jadi kamu benar-benar ingin tinggal disini?” tanya Alfin. “Kamu tak mau kembali ke rumahmu?” lanjutnya memastikan.


Nana mengangguk, “Biarkan aku tinggal disini sampai minggu depan. Aku janji tak akan mengotori rumahmu.” Katanya.


“Aku sih tak masalah. Tapi kenapa kamu tak ingin pulang ke rumahmu?”


Nana menghela nafas, “Aku tak sendiri di rumah, dan aku sedang tak ingin bertemu dengannya saat ini.”


“Semacam roommate? Siapa?”


“Ada saja.”


“Laki-laki atau perempuan?”


“Laki-laki.”


“Laki-laki? Teman serumahmu laki-laki?” pekik Alfin.


“Jangan berfikir terlalu jauh. Kami hanya sekedar hidup bersama, aku dan dia bersahabat sejak lama.” Jawabnya. Dia lalu melirik Alfin yang masih memasang tampang terkejut, “Aish, aku memiliki penyakit gastritis akut dan dia menjagaku sampai aku sembuh, itu saja.” Lanjutnya.


“Kenapa harus dengan lawan jenis? Temanmu tak hanya satu, ada Kansha juga.” Tukas Alfin sedikit ngegas.


“Kalau aku tinggal dengan Kansha, maka aku harus tinggal di rumah orang tuanya. Aku tidak mau. Aku belum terbiasa bertemu dengan orang tuanya.” Sanggah Nana.


“Sudah, hentikan pembicaraan ini. aku ingin istirahat.” Potong Nana ketika melihat Alfin hendak membuka suara.


Alfin mendesah pelan, “Ya sudah, kamarnya ada disana. Itu kamarku sih, tapi aku sudah tidak tidur disana hampir sebulan, seprainya sudah diganti. Dan oh ya, kamu harus hati-hati. Bundaku selalu datang kesini tanpa pemberitahuan jadi bersembunyilah atau pastikan kamu tidak di rumah saat itu.” Kata Alfin mewanti-wanti.


“Bundamu suka datan kesini meski kamu tidak tinggal disini?” tanya Nana tak percaya.


“Aku tahu kamu tidak percaya, tapi ini sungguhan. bunda juga selalu datang ke apartement Mas Alan. Bunda cuma ingin memastikan apartement anak-anaknya bersih saat aku lembur atau Mas Alan terbang dini hari, dia tahu kalau kamu selalu menginap disini jadi dia selalu datang untuk bawa makanan.” katanya


“Jadi aku harus bagaimana? Bagaimana caranya tidak ketahuan sedangkan ibumu selalu datang tanpa pemberitahuan?” tanya Nana.


“Kalau bundaku datang, sembunyi di belakang lemari bajuku. Disana ada ruang kerjaku yang tidak diketahui anggota keluargaku. Sembunyi disana sampai bunda pergi.” Kata Alfin sambil menunjuk sebuah lemari kayu yang terlihat siluetnya dari arah ruang tamu.


“Kamu yakin?” tanya Nana ragu. Alfin mengangguk.


“Ruangan itu kedap suara. Aku sengaja membangunnya untuk kebutuhan praktekku. Tapi jangan sentuh apapun kalau kamu tak mau jantungan lebih dini.”


“Kamu menyimpan apa disana? Jangan bilang kamu menyimpan mayat? Atau organ manusia?” pekik Nana takut.


Alfin menyentil dahi Nana, “Kamu terlalu banyak nonton drama. Tidak ada hal seperti itu. Aku bukan psikopat.” Decaknya.


Nana hanya mengendikkan bahu acuh. “Eh, aku baru sadar bahwa usia kita berbeda tiga tahun dan aku lebih tua darimu. Tapi kenapa kamu memanggil namaku saja? Tidak sopan.” tanyanya kesal.


“Usiamu masih muda lagipula untuk apa aku memanggilmu mbak atau kakak padahal sifatmu masih kekanakkan?” ejek Alfin.


“Apa? Kekanakkan?” seru Nana melotot.


“Iya kekanakkan. Contohnya ini, punya masalah malah kabur begitu saja, tak tanggung-tanggung sampai mau ke luar negeri. Ini namanya apa kalau bukan kekanakkan?” ejek Alfin.


Nana mendengus kesal, “Aku tidak kekanakkan ya! Enak saja.”


“Terserah kamu saja.” Timpal Alfin malas. Dia pun beranjak berdiri dan menghampiri pintu.


“Jangan buat berantakan dan hiduplah seperti hantu, oke adik kecil?” ujar Alfin dengan senyum miring.


Nana menggertakan giginya dan melemparkan sendal ke arah Alfin. Alfin terkekeh dan segera kabur. Nana mendengus, “Sialan.”


Usai kepergian Alfin, Nana langsung masuk ke kamar Alfin. Dia langsung menuju lemari kayu tempat dimana ruang rahasia lelaki itu berada. Dia ingin memastikannya dahulu.


Nana membuka lemari itu dan yang nampak hanya baju-baju Alfin saja. Tak ada yang aneh, persis seperti lemari biasa.


“Bagaimana cara kerjanya? Sialan, dia tidak memberitahuku dahulu.” Decak Nana.


Kemudian, jemari Nana menelusuri helai demi helai baju Alfin, dia menarik-narik baju-baju itu, tapi tak ada yang terjadi. Nana pun memindahkan jemarinya ke selasar kayu di belakang baju itu, menelusurinya kalau-kalau ada suatu yang aneh seperti tonjolan atau lubang namun nihil, dia tak menemukan apapun. Nana berdecak kesal.

__ADS_1


“Damn it! Bagaimana cara melakukannya?” umpat Nana kesal.


Nana berkacak pinggang dengan satu tangan memegang salah satu gantungan baju yang kosong. Nana menyerah, dia pun hendak berbalik tepat ketika sebuah suara menginterupsinya. Di belakang baju-baju itu, sebuah pintu terbuka dan menampilkan ruang lain. Nana menganga saking terkejutnya.


“Bagaimana tadi cara melakukannya?” tanya Nana bingung. Dia mengedar lagi ke gantungan-gantungan baju itu dan matanya terpaku pada seuah gantungan baju yang kosong di tepi. Nana memegang gantungan baju itu dan mendorongnya pelan, pintu rahasia itu tertutup. Nana terpekik kecil.


Kriet


“Ah, jadi ini caranya? Mudah juga. laki-laki itu meski nyablak tapi jenius juga.” kata Nana sedikit menghina sedikit memuji(?)


Nana pun kembali mendorong gantungan baju itu dan pintu rahasia tadi terbuka. Ternyata pintu itu terkamuflase oleh kayu dari lemari. Tanpa lama lagi, Nana masuk ke dalam ruang rahasia itu.


Begitu masuk, mata Nana langsung membelalak takjub. Ruang ini memang kecil dan terlihat seperti ruangan biasa pada umumnya. Ada karpet bulu nyaman dan satu sofa malas serta meja kecil. Kemudian di depannya ada lemari hitam yang tak tahu isinya apa dan satu set meja kerja. Berbagai dokumen tertata rapi di meja dengan boneka kerangka manusia disampingnya. Wajar sih, Alfin kan dokter.


“Bagus dan jelas nyaman.” Puji Nana. Dia pun duduk di kursi kerja Alfin. Kemudian menghidupkan lampu belajar dan membuka salah satu berkas. Nana lupa pesan Alfin agar tidak menyentuh apapun.


“Berkas apa ini. Lyc apa ini cotonum acontum.” eja Nana. “Apa ini? kenapa katanya sulit sekali?” gumamnya dengan dahi mengernyit.


Nana kemudian membalik lembaran lainnya, dan ada banyak kata asing lainnya yang tak dimengerti oleh Nana. Menyerah, Nana menutup berkas itu dan menaruhnya ke tempat semula. Kemudian matanya menoleh ke lemari hitam yang misterius itu.


Nana bangkit dari duduknya dan melangkah menuju lemari itu. Didorong rasa penasaran, Nana membuka lemari itu. Dia menutup mata erat kalau-kalau yang keluar adalah organ manusia atau hewan aneh. Namun tak ada hal apapun yang terjadi, Nana pun membuka matanya pelan-pelan. Dan hal yang ada di hadapannya membuatnya bingung.


“Oh? Ini hanya bunga-bunga.” Kata Nana. Dia jadi parno sendiri mengira bahwa dia akan menemukan organ manusia atau hewan buas.


Alfin kan dokter, bukan psikopat, camkan itu Nana batinnya.


Nana menyadari bahwa bunga-bunga itu bukanlah bunga yang biasa ia lihat seperti mawar, lily ataupun melati yang familiar oleh orang-orang. Nana yang penasaran akan bunga-bunga apa itu ingin menyentuhnya. Tangannya sudah terulur ingin menyentuh sebuah bunga berwarna ungu. Sejengkal lagi dari kelopak bunga itu sebelum teriakan Alfin menghentikannya.


“Jangan sentuh!”


***


Aisyah menghampiri abinya yang tengah membaca buku di halaman belakang. Abi yang menyadari Aisyah mendekat, menaruh bukunya dan menyuruh Aisyah duduk.


“Kamu sudah selesai membersihkan lemari umi mu?” tanya abi lembut. Aisyah mengangguk pelan.


“Alhamdulillah, terima kasih ya nak.” Kata Abi senang.


“Sama-sama, bi.” Balas Aisyah.


Dia lalu terdiam, ragu-ragu haruskah dia menyakan perihal foto yang dia temukan di laci uminya itu pada abi. Tapi Aisyah takut karena dia lancang sudah membuka dan mengambil barang tanpa izin. Tapi rasa penasarannya jauh lebih tinggi hingga Aisyah sangat ingin tahu.


Abi mengangguk dan memusatkan perhatiannya pada putrinya, “Silakan. Kalau abi bisa menjawab, insyaallah akan abi jawab dengan baik.”


Aisyah lalu menaruh dua foto dan selembar data diri yang tadi dia temukan ke hadapan abi. Abi terkejut melihat apa yang ditemukan oleh Aisyah


“Aisyah, dimana kamu temukan ini?” tanya Abi terkejut tak terkira.


“Sebelumnya Aisyah mohon maaf karena lancang membuka laci umi tapi Aisyah penasaran, siapa bayi di foto ini karena nama belakangnya sama dengan nama belakang Aisyah. Bayi ini juga dua tahun lebih tua dibanding Aisyah. Abi bisa menjawabnya?” tanya Aisyah sopan. Dia tahu bahwa abinya tahu sesuatu melihat dari reaksi sang abi yang begitu terkejut.


“Abi mencari kunci ini kemana-mana tapi tak ketemu dan siapa sangka kamu yang menemukannya lebih dulu.” kata abi masih terkejut.


“Aisyah menemukannya di saku gamis umi. Jadi abi, siapa bayi di foto ini, apakah dia adalah kakak Aisyah?" tebak Aisyah. Rasa penasarannya sudah tak terbendung.


Abi mendongak, matanya membulat saking terkejut. Aisyah tahu bahwa tebakannya tadi benar karena abi bereaksi kuat.


“Tolong ceritakan abi. Kalau abi merasa Aisyah belum waktunya mendengar, Aisyah tak akan memaksa. Tapi abi, Aisyah sudah dewasa, Aisyah harus tahu apa yang terjadi terlebih ini menyangkut kakak Aisyah.” Kata Aisyah dengan mata penuh harap.


Abi mendesah pelan, Aisyah sudah mengetahuinya dan dia tidak bisa berkelit lagi. Bagaimanapun, Aisyah memang berhak tahu.


“Baiklah, nak. Abi akan menjelaskan dengan sejujurnya. Tapi abi harap kamu tetap tegar mendengarnya dan bagaimanapun, ini tidak ada kaitannya denganmu. Dan rahasiakan ini paling tidak hingga kamu menikah dengan Alan.” kata abi mewanti-wanti sebelumnya.


“Kenapa harus dirahasiakan? Dan kenapa harus sampai menikah dengan Mas Alan? sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Aisyah mengernyit.


“Karena kamu akan kehilangan segalanya bila keluarga Alan mengetahui rahasia ini.” jawab Abi. Aisyah membulatkan mata.


23 tahun yang lalu...


“Zahra, cantikkan sayang. Nanti kamu akan seperti kakakmu saat sudah lahir.” Kata Nafizah, umi Aisyah yang tengah mengandung Aisyah saat itu. Dia mengelus perutnya lembut dengan matanya menatap penuh cinta pada Azzahra Zakariyanissa, anak perempuan pertamanya yang berusia 13 bulan.


“Umi, umi, cepat kita harus sembunyi!” Zakariya, abi Aisyah datang sambil terpogoh-pogoh.


“Ada apa abi?” tanya Nafizah cemas.


“Musuh bisnis abi mengirim perampok bayaran kesini. Mereka dendam karena mereka kalah dari abi yang berhasil memenangkan tender.” Jawab Zakariya cemas. Nafizah kini tak kalah cemas.

__ADS_1


“Ada mang Supri yang sudah menunggu di pintu belakang. Umi dan Zahra segera kesana. Abi akan menyusul.” Lanjut Zakariya.


Suara ketukan makin terdengar di kamar utama mereka. Zakariya terus menyuruh istrinya cepat pergi, Nafizah yang tak punya pilihan lain menangis tanpa suara, dia menggendong Zahra dan berjalan cepat melalui pintu lemari yang terhubung dengan pintu belakang. Sedangkan depannya ada Zakariya yang bersiap menghalau para pembunuh itu.


“Lindungilah suamiku dan keluargaku, ya Allah.” Do’a Nafizah dalam hati.


Suasana malam itu sangat mencekam, hujan deras disertai guntur ikut menambah suasana malam. Malam yang pas untuk merampok dan membunuh.


Nafizah sudah sampai di perhentian jalur rahasia, dia terdiam sebentar menilai situasi. Tak ada siapapun. Nafizah pun dengan pelan membuka pintu rahasia itu. Dia sudah sampai di dapur. Nafizah berjalan cepat menuju pintu belakang namun tiba-tiba beberapa orang bertopeng hitam menghadang langkahnya. Mereka ternyata sudah menunggu dengan bersembunyi. Nafizah terjebak.


Nafizah berteriak tatkala seseorang *mengambil Zahra dari gendongannya. N*afizah mencoba melawan tapi yang ada dia terdorong dan perutnya menabrak dinding. Nafizah mengerang kesakitan. Keringat sudah mengucur deras di wajahnya.


Zakariya lalu datang dari belakang, dia memukul kepala perampok itu hingga pingsan. Zakariya menghampiri Nafizah yang meringkuk kesakitan. Ada darah dari sela-sela kakinya.


“Ssela—mat-kan Za-zahra.” Ucapnya terbata-bata.


Zakariya menoleh, dia langsung menerjang seseorang yang membawa Zahra. Zahra menangis kencang. Zakariya mencoba mengambil Kansha namun dia malah tertendang di perutnya. Zakariya terkapar di lantai dan meringis.


Kemudian terdengar suara sirine polisi. Para perampok itu langsung kabur membawa beberapa harta berharga dan Azzahra. Zakariya hendak mengejarnya namun dia tertegun ketika Nafizah meringis kesakitan. Zakariya dalam dilema. Antara menyelamatkan putrinya atau istri serta *janin yang ada di perut Nafiz*ah.


Air mata Zakariya menetes, tatkala dia memilih menghampiri Nafizah. Zakariya pun tanpa suara langsung membopong istrinya menuju rumah sakit.


Maafkan, abi, Zahra, ucapan penuh kesakitan dan penyesalan itu selalu Zakariya ucapkan dalam hati sepanjang perjalannanya ke rumah sakit.


Nafizah yang tahu bahwa Zahra dibawa pergi hanya bisa menangis tanpa suara. Rasa sakit pada perutnya tak sebanding dengan sakit penyesalannya karena tak bisa melindungi putrinya.


“Zahra..ma-mafkan u-uu-mi.” Desisnya pilu.


Flashback Off


“Sejak saat itu, kondisi umi terus menerus menurun. Bahkan saat usiamu lima bulan di kandungannya, umi harus diinfus karena terus mengalami muntah dan pingsan. Dan kamu lahir ke dunia dengan penuh perjuangan.” Kata abi.


Aisyah menghapus air matanya. “Jadi, dimana Kak Zahra sekarang?” tanya Aisyah. Abi menggeleng pelan.


“Abi tidak tahu. Abi sudah mencarinya kemanapun. Tapi dia tidak ditemukan. Abi tidak tahu apakah Zahra masih hidup atau sudah meninggal.” Jawab Abi menangis. Dia menutup wajahnya dan terisak hebat.


“Abi merasa sangat menyesal dan bersalah. Abi tidak bisa menyelamatkan Zahra. Dia baru berusia delapan bulan saat itu. Masih sangat kecil.”


“Abi, Aisyah yakin, kak Zahra masih hidup. Aisyah akan mencoba mencarinya.” Kata Aisyah bertekad.


Abi menggeleng, “Jangan. Jangan mencarinya lagi. Tidak perlu dicari.” Tolak Abi mencoba tegar.


“Kenapa bi? Aku yakin Kak Zahra masih hidup. Ekonomi kita juga sudah membaik, kita bisa menyewa belasan bahkan puluhan detektif swasta. Kita cari dia bi dan berkumpul bersama lagi.”


Abi menatap nanar Aisyah, "Kalau kamu mencarinya maka kamu akan kehilangan Alan.”


“Apa? Apa hubungannya dengan Mas Alan?” tanya Aisyah bingung.


“Ada sebuah tradisi di keluarga kita dan keluarga Rendra. Siapapun anak pertama harus dijodohkan. Di keluarga mereka, Alan adalah putra pertama. Dan kalau Zahra masih ada saat itu, maka Zahra yang dijodohkan dengan Alan bukan kamu. Seharusnya perjanjian itu batal karena Zahra menghilang. Tapi abi tak ingin kamu kesusahan nanti maka abi berbohong pada mereka bahwa kamu adalah putri pertama kami.” Tutur Abi.


“Apa? Bagaimana bisa abi berbohong seperti itu?” pekik Aisyah tak percaya.


“Nak, abi hanya ingin agar kamu memiliki keluarga yang baik dan harmonis seperti keluarga Rendra. Alasan kenapa Zahra dihapuskan di akta keluarga kita adalah itu. Anggap Zahra sudah tiada agar kamu tidak kehilangan posisimu.”


“Abi, kenapa jahat sekali? Kak Zahra salah apa hingga abi melakukan hal ini padanya?” Aisyah kehabisan kata-kata.


“Turuti saja apa kata abi, nak. Atau kamu ingin kehilangan Alan?” Aisyah menggeleng pelan.


“Maka rahasiakan ini. Dan jangan pernah mencoba mencari Zahra.”


***


Sret


Kansha sedang memotong buah-buahan di dapur ketika jarinya teriris pisau. Kansha meringis dan memegang teleunjuknya yang berdarah. Dia pun segera membersihkannya dengan air mengalir di wastafel.


“Ada apa denganku sampai-sampai telunjukku teriris pisau?” gumam Kansha.


“Aku merasa sangat aneh. Seolah-olah hatiku sakit akan sesuatu. Tapi apa?” lanjutnya memonolog. Dia memegang dada kirinya yang berdenyut sakit.


Tiba-tiba air mata keluar dari matanya,”Ada apa sih denganku?” tanyanya sambil menghapus air matanya. “Kenapa rasanya sakit sekali ya?”


Kansha terus menghapus air mata yang mengaliri pipinya tiba-tiba. Dia menghirup nafas dan membuangnya perlahan, menenangkan hatinya yang tiba-tiba bergemuruh aneh. Setelah itu dia mengambil kotak obat di laci dapur dan mengobati lukanya.


Setelah selesai, Kansha menaruh kembali kotak obat itu. Kemudian ponselnya berbunyi.

__ADS_1


“Halo? APA?“


Kansha menutup laci dapur itu dan segera pergi mengendarai mobilnya.


__ADS_2