My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 85.


__ADS_3

"Sedang apa kamu disini?" tanya Alan.


Alfin baru hendak menjawab, ketika pintu dibuka. Alan dan Alfin menoleh bersamaan.


"Eh, Nak Alan dan Nak Alfin, sudah lama disana? kenapa tidak masuk." tegur Zakariya menutupi kegugupannya. Pria berusia empat puluh enam tahun itu terkejut menemukan Alan dan Alfin berada di depan pintu ruang inap.


Apakah mereka mendengar percakapanku dengan Aisyah? semoga saja tidak, batin Zakariya cemas.


Alan tersenyum, "Kami baru saja sampai. Om tidak mengabari akan datang ke Jakarta, tahu begitu saya akan menjemput om." kata Alan sopan.


"Tidak perlu, Nak. Om bisa sendiri, terlalu merepotkan." tukas Zakariya tersenyum.


"Kalau begitu ayo masuk, kita mengobrol di dalam saja." ajaknya.


"Saya ada urusan dulu dengan Alfin, soalnya Alfin baru saja tiba dari Kalimantan." tolak Alan dengan sopan.


"Oh, begitu ya. Ya sudah kalau begitu."


Alan mengangguk, "Kalau begitu kami pergi dulu. Assalamu'alaikum." pamit Alan melirik Alfin.


"Assalamu'alaikum." timpal Alfin mengikuti Alan pergi.


"Waalaikum salam." jawab Zakariya. Dia masih terdiam di tempatnya menunggu punggung Alan dan Alfin menjauh dengan tatapan aneh.


***


Alan membawa Alfin menuju taman rumah sakit. Mereka duduk di sebuah bangku dekat air mancur.


"Katakan, kamu menguping, benar kan?" tebak Alan tanpa basa-basi.


Alfin mengangguk, "Tapi aku tidak sengaja melakukannya." sanggahnya.


"Kenapa kamu menguping? kamu tahu itu tidak baik kan?"


Alfin terdiam. Dia tahu.Tapi andai dia tidak menguping, maka dia tidak tahu soal rahasia apa yang disembunyikan Aisyah dan abinya.


"Aku sudah bilang tidak sengaja." tukas Alfin.


"Apa yang kamu kupingkan? mereka membahas apa hingga kamu menguping?" tanya Alan.


Alfin terdiam. Dia bingung haruskah mengatakannya pada Alan atau tidak. Tapi masalah ini kan memang berhubungan dengan Alan, hanya saja ini juga belum terbukti benar. Alfin pun perlu bukti dan melakukan penyelidikan dahulu. Jadi Alfin putuskan untuk menyembunyikan sementara dari Alan.


Alfin beralih menatap Alan, "Tidak ada yang penting. Aku juga tidak tahu mengapa aku menguping pembicaraan mereka." bohongnya.


"Kamu serius?" selidik Alan curiga.


Alfin mengangguk cepat-cepat, "Tentu. Mas tahu kan aku memang kadang melakukan hal konyol." sahut Alfin terkekeh. Meski tak menutupi bahwa dia tengah gugup.


"Ya sudah. Tapi jangan lakukan lagi. Itu tidak sopan." peringat Alan percaya.


Alfin menghela nafas lega, "Baik mas." ucapnya mantap.

__ADS_1


Tapi tanpa Alan tahu, Alfin sudah menyusun rencana. Dia harus tahu rahasia apa yang disembunyikan Aisyah dari keluarganya dan mengapa Alan tidak boleh tahu.


***


Kansha masih berada di kantornya. Dia baru saja selesai rapat mengenai pembangunan kantor cabang di Seoul yang sudah rampung 60%. Tinggal beberapa bulan lagi, dan kantor cabang luar negeri ARC pertama akan rampung. Kansha tak sabar menantinya. Ini merupakan terobosan besar bagi perusahaan.


Kansha sudah tak memiliki pekerjaan apapun, memilih membuka sosial medianya dan berselancar ria. Dia melihat-lihat postingan terbaru teman-temannya.


Alfin_Adendraa12



Ekspresi ketika lihat mantan di pelaminan. Bahagia karena cuma khayalan. FYI, I'am home, guyss :)


Kansha melihat unggahan Alfin tiga jam lalu. Ternyata lelaki itu juga sudah pulang. Kansha pun menekan nomor Alfin dan memanggilnya. Telfonnya langsung diangkat oleh lelaki itu.


"Kamu sudah pulang tapi tak mengabariku? Teman macam apa kamu?" ucap Kansha langsung.


"Aku baru akan mengabarimu. Tapi berhubung kamu sudah tahu, yasudah tidak jadi." balas Alfin di ujung telfon.


"Kamu memang jahat ya." komentar Kansha.


Alfin tertawa, "Aku becanda. Kamu baperan sekali sih. Ayo makan malam, kutraktir sebagai permintaan maafku."


"Tidak, aku sibuk." tolak Kansha jual mahal.


"Yasudah."


"Aku mengajakmu tapi kamu menolak, lalu aku harus apa? dimana letak kesalahanku?"


"Aku tunggu di Cafe Gardenia. Sepuluh menit. Kalau kamu terlambat, kupastikan traktiranmu mencapai satu juta." ancam Kansha. Usai mengatakan itu, dia langsung menutup telfonnya.


Kansha tertawa geli setelahnya. Dia bisa membayangkan ekspresi Alfin diseberang sana.


***


Kansha sudah berada di Cafe Gardenia. Perempuan itu tengah menunggu Alfin. Tak lama, Alfin datang.


"Kamu terlambat lima menit dua puluh detik." tandas Kansha.


"Siapa suruh hanya memberiku waktu sepuluh menit. Aku kan harus bersiap." tukas Alfin duduk di depan Kansha.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Kansha.


Alfin mengangguk, "Baik, hanya sedikit terkejut kemarin. Tapi tak apa, semuanya sudah ditangani."


"Maksudmu soal Nana kan? Aku tahu kamu pasti terkejut."


Alfin mengembuskan nafas pelan, "Bagaimana bisa aku tidak terkejut."


"Aku juga. Nana juga menyembunyikan hal itu padaku. Tapi Nana pasti sudah menjelaskannya padamu kan?"

__ADS_1


Alfin mengangguk. "Meski aku masih belum mengerti, tapi tak jadi masalah. Itu kehidupan pribadinya."


"Kufikir kamu menyukainya. Tapi sikapmu biasa saja. Kamu juga tidak terdengar marah." celetuk Kansha.


"Aku tidak menyukainya. Aku hanya meganggapnya sebagai temanku. Terlalu merepotkan bila harus bersama. Tidak ada hubungan saja, aku hampir selalu darah tinggi dengannya." Jawab Alfin mengernyit.


Kansha tertawa mendengarnya. Lelaki dihadapannya ini memang selalu to the point dan jujur. Dan hal itulah yang membuat Kansha nyaman dengannya.


"Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Alfin.


"Baik. Seperti yang kamu lihat."


Alfin menggeleng, "Maksudku, dengan Mas Alan. Kalian ada kemajuan apa?"


"Kemajuan apa maksudmu? kamu juga berfikir aku akan merebut Alan? begitu?"


"Tentu saja tidak. Kenapa sih kamu emosi terus." decak Alfin.


Kansha menghembuskan nafas pelan, "Ini pasti gara-gara kejadian kemarin."


"Kejadian kemarin? apa maksudmu?"


"Daripada disebut kemajuan, lebih baik disebut kemunduran. Aku dan Alan bertengkar."


Kansha pun mulai menceritakan kejadian kemarin pada Alfin. Alfin pun membelalakan matanya usai Kansha menceritakannya.


"Alan fikir aku ingin mendorong Aisyah, padahal Aisyah yang memfitnahku. Dia memanipulasi fakta. Lagipula untuk apa aku mendorongnya? Aku masih waras." tukas Kansha kesal.


"Kamu serius?" tanya Alfin masih terkejut.


"Kamu fikir aku mengada-ada?!" seru Kansha.


"Aisyah semakin aneh tindakannya. Sore ini aku juga tidak sengaja mendengar percakapannya dengan Abinya. Mereka membahas soal kakak kandung Aisyah dan rahasia yang disembunyikan dari keluarga kami." tutur Alfin.


"Rahasia? Rahasia apa?"


"Entahlah. Aku juga tidak tahu, makanya aku ingin menyelidikinya. Katanya, Mas Alan tidak boleh sampai tahu soal rahasia ini."


Kansha mendesah pelan, "Ini aneh." komentarnya.


"Oh ya, kamu sudah tahu soal penyakit yang diderita Aisyah?" tanya Alfin.


Kansha mengangguk, "Sudah, tapi.."


"Tapi apa?"


"Entah kenapa Aisyah terlalu sehat untuk seseorang yang menderita penyakit mematikan."


Alfin terdiam. "Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?"


"Entahlah, aku hanya mengutarakan pemikranku saja." balas Kansha mengangkat bahu.

__ADS_1


Tapi tanpa disadari, perkataan Kansha membuat Alfin termenung.


__ADS_2