My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 127.


__ADS_3

Warning : Ada sedikit adegan kekerasan. Bila ada yang tidak nyaman, boleh di skip🙏


... -----------...


Alvaro sampai di tempat pintu masuk sebuah hutan. Dia bertemu dengan Alan, Nana dan Ruben yang sedang menunggunya dengan gelisah.


“Lokasinya berhenti sampai sini.” gumam Alvaro.


“Kenapa sih tuh nenek lampir menculik Kansha? Dasar kurang kerjaan!” umpat Nana emosi.


“Itu karena konferensi pers.” Jawab Alan.


“Konferensi pers? Apa hubungannya dengannya?” tanya Nana bingung.


“Selama ini Aura membenci Kansha karena menganggap Kansha telah membunuh Kania, sahabatnya. Dan berita itu dibuat oleh Aura melalui Pak Benny—“


“Dia ingin agar Kansha dibenci oleh semua orang atas perbuatannya tapi semuanya gagal karena mereka tiba-tiba mengklarifikasinya melalui konferensi pers.” Potong Alan turut menimpali jawaban Alvaro.


Alvaro tak urung mengangguk meski sedikit tidak nyaman karena Alan yang memotong ucapannya tiba-tiba.


“Dasar gila! Otaknya sebenarnya dimana sih?” gerutu Nana.


“Sekarang kita tidak punya waktu lagi. Nyawa Kansha bisa saja dalam bahaya. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Aura pada Kansha. Jadi kita harus cepat.” Sela Alan khawatir.


“Iya, tapi kemana sekarang? Lokasinya terputus sampai sini.” tukas Nana.


Mereka saling terdiam dan menatap kelebatan hutan yang terbelah oleh jalan aspal kecil yang lengang dan gulita itu. Kemudian tiba-tiba saja sebuah sorot lampu mobil menyinari mereka. Mereka saling menatap ke arah mobil yang berhenti di depan mereka dan sepasang kaki yang dibaluti gamis panjang turun dari mobil.


“Aisyah?” seru Alan tak percaya. “Alfin?” serunya lagi kala adiknya keluar dari pintu pengemudi.


“Kalian kenapa bisa—“ Alan tak melanjutkan ucapannya. Dan dia baru tersadar bahwa dia juga memberitahu alamat ini pada Aisyah tadi.


“Aku tahu dimana Mbak Aura menyekap Mbak Kansha. Aku pernah melihatnya di laptop Mbak Aura dulu.” tandas Aisyah masih dengan nada panik.


“Benarkah? Kalau begitu ayo kesana.” Ajak Nana.


Alan, Ruben, Nana, Alfin, Alvaro dan Aisyah langsung naik mobilnya masing-masing dengan mobil Alfin yang berada di depan sebagai penunjuk jalan. Mereka berkendara lebih masuk ke dalam hutan hingga sampai pada ujung jalan. Didepan tak ada apapun lagi selain semak-semak belukar.


“Kamu yakin mereka kesini?” tanya Alfin agak sangsi.


“Iya. mungkin kelihatannya tidak ada jalan. Tapi sebenarnya ada. Ini adalah perkebunan kayu jati milik Mbak Aura dan ada gudang disebelahnya. Pasti disana tempat Mbak Kansha disekap.” Sahut Aisyah yakin.


“Kalau begitu kita menyebar saja. Ingat jangan gegabah yang akhirnya membuat nyawa Kansha dalam bahaya. Kita juga harus menelfon polisi.” Ucap Alan.


“Aku sudah memberikan alamat ini pada polisi kenalanku. Mereka akan segera kesini.” Balas Alvaro.


Alan mengangguk lega.


“Na, kamu tunggu di mobil, jangan kemana-mana.” Tegas Ruben pada istrinya.


“Apa? Aku tidak mau. Aku juga ingin menyelamatkan Kansha!” tolak Nana.


“Kamu lagi hamil, bagaimana kalau terjadi sesuatu?” sanggah Ruben.


“Tapi kan—“


Nana hendak menyanggah tapi keburu Ruben memotongnya.


“Pilih anak kita atau keegoisan kamu?”


Nana terdiam seolah merasa sudah kalah. Dia mendesah pasrah.


“Aku tetap diam di mobil TAPI—kalian harus pastikan bahwa Kansha selamat!” tegas Nana.


“Kita janji. Tapi kamu juga berdoa ya.” Sahut Ruben lembut.


Nana mengangguk, “Kalian hati-hati ya. Kamu jangan sampai terluka. Meski Aura perempuan tapi dia IBLIS! IBLIS!” tekan Aura.


“Kalau begitu kita segera menyebar mencari keberadaan Kansha. Kabari bila ada yang sudah menemukannya.” Pungkas Alan.


Semuanya mengangguk dan mereka langsung bergegas mencari Kansha kecuali Nana yang ditinggal sendiri di mobil.


***


Srrh


“Wah, darah segar yang harum.” Komentar Aura menatap genangan darah dari leher kelinci itu dengan tatapan puas.


“Dasar psikopat! Teganya kamu—“ Kansha tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya sudah diliputi kengerian karena ulah Aura.


“Kamu tahu, hewan memang sudah ditakdirkan akan mati cepat atau lambat begitupun manusia. Itu adalah proses alam, tidak perlu dilebih-lebihkan.” Ujar Aura santai. Dia membersihkan sisa-sisa darah kelinci itu di mata pisaunya dengan sapu tangannya.


“Munafik.” Decih Kansha. Aura jadi menoleh ke arah Kansha.


Dan Kansha mendapat keberanian entah dari mana. Dia menatap Aura dengan sorot tajam dan tenang tak seperti tadi.


“Dasar munafik. Kamu bilang mati adalah proses alam yang akan dialami siapapun. Jangan dilebih-dilebihkan. Tapi kamu sendiri terlalu melebihkan seakan-akan kematian Kania menjadi kiamat untukmu.”


Aura terdiam tak menanggapi pernyataan Kansha.


“Kania meninggal memang ada campur tangan dariku. Kakakku itu terlalu baik mengorbankan nyawanya untukku tapi kamu tahu? Tanpa atau adanya insiden itu, kalau Kania memang harus meninggal, maka dia akan meninggal. Seharusnya kamu tabah dan menerimanya alih-alih memupuk kebencian tak berdasar pada orang tak bersalah. Kamu seharusnya malu pada Kania. Kania mungkin tak akan pernah mengharapkan sahabat kecilnya yang manis ini berubah jadi iblis.” Lanjut Kansha dengan nada tenang namun menohok.


Aura tersenyum sinis mendengarnya. Dia mendekati Kansha dengan seringaian mengerikannya. Pisau besar itu tergenggam erat di tangannya.


“Sudah kuduga. Ini Kansha yang kukenal, bukan seperti tadi yang mengkeret ketakutan.” Puji Aura.


“Lepaskan aku, Aura.” tekan Kansha.


“Untuk apa aku melepaskanmu?”


“Dengar, kamu tidak akan memiliki manfaat apapun ketika membunuhku. Apa menurutmu dengan membunuhku, semuanya akan kembali normal? Apakah Kania akan hidup lagi? Kemana akal sehatmu, Aura?”


“Aku tidak pernah berharap Kania akan hidup lagi. Aku hanya berharap kamu akan menemaninya di atas. Dan untuk menemaninya, kamu harus mati dulu, kan?”


Kansha tiba-tiba saja diam dan itu membuat Aura bingung dengan reaksi Kansha.


Bug


Tiba-tiba Aura terdorong kebelakang. Perutnya ditendang keras oleh Kansha yang tiba-tiba saja menyerangnya. Sebenarnya ada alasan kenapa Kansha diam saja daritadi. Dia sedang bersusah payah melepas ikatan tangannya selagi Aura fokus pada eksekusi kelincinya. Dan ketika Aura lengah dan hanya menatapnya sambil bicara, diam-diam, Kansha menggesekkan tali yang mengikat kakinya ke bagian tajam dari kursi besi itu. Dan begitu semua ikatan melonggar, Kansha langsung menyerang Aura yang lengah.


“Sialan.” Umpat Aura kesal. Dia memegang perutnya yang berdenyut sakit. Dan selagi Aura kesakitan, Kansha langsung melepaskan dirinya.

__ADS_1


Aura langsung menyerang Kansha yang kini sudah berdiri sempurna itu dengan pisau teracung kearahnya. Kansha terbelalak dan langsung menghindar sedetik sebelum pisau itu hendak menusuknya. Aura terdorong kedepan karena kekuatannya yang besar.


“Sialan! Akan kubunuh kamu!” teriak Aura penuh amarah.


Aura langsung mengejar Kansha yang melarikan diri. Dan Kansha berlari sekuat tenaga mencari jalan keluar dari gudang yang seakan tak beruang ini. Jantungnya dipompa cepat dan adrenalinnya terpacu. Dia terus berlari menghindari kejaran Aura yang mengejarnya bagai kerasukan.


Kansha naik tangga menuju lantai dua. Tempat itu ternyata memiliki berapa lantai. Dan di lantai dua, terdapat banyak box kaleng yang saling bertumpukan. Potongan kayu gelondongan juga berada di salah satu sudut. Dan Kansha terjebak disana. Dia akhirnya bersembunyi di antara box-box itu.


“Kansha! dimana kamu?” suara Aura bergema di seluruh penjuru ruangan. Kansha langsung berkeringat dingin.


“Baiklah, sembunyi dengan baik. Jangan biarkan sehelai rambutmu terlihat atau aku akan menangkapmu.” Nada Aura yang terlampau ceria membuat bulu kuduk Kansha berdiri.


“Tapi tunggu. Aku harus menghitung dulu sebelum mencarimu. Itulah peraturan bermain petak umpet.” Tiba-tiba Aura menuju sebuah dinding kosong. Dia menempelkan wajahnya menghadap dinding itu.


“Aku akan mulai menghitung. Siap-siap ya!”


“Satu.”


Kansha makin berkeringat dingin. Dia menggigil hebat di tempat persembunyiannya.


“Dua.”


Tapi Kansha tidak boleh terus bersembunyi dan membiarkan perempuan gila itu menemukannya. Kansha tiba-tiba saja bangkit dan bersiap kabur sebelum Aura selesai menghitung.


“Ti—“ Aura tiba pada hitungan ketiga. Dan Kansha tanpa menunggu lagi langsung keluar dari persembunyiannya. Hanya saja—


“Ketemu!” seru Aura senang.


Dan Kansha langsung membeku ketakutan kala dia melihat Aura berada tak jauh dari tempatnya sedang menatapnya dengan mata berbinar-binar seolah-olah menemukan buruannya.


“Bukankah seharusnya kamu menutup mata?” gerutu Kansha pelan tapi ternyata mampu terdengar oleh Aura.


“Aku memang selalu curang saat bermain petak umpet.” Balas Aura acuh.


Dan tiba-tiba saja Aura maju. Kansha tanggap, dia segera berlari menuju tangga untuk turun lagi. Tapi Aura menyadarinya dan langsung melemparkan sebuah box kaleng pada kaki Kansha. Kansha seketika terjatuh dan mengaduh kesakitan.


“Kamu sudah tertangkap. Jangan curang mau kabur.” Ucap Aura kesal.


Dia lalu menarik satu kaki Kansha dan menyeretnya. Kansha berusaha meronta-ronta agar bisa melepaskan diri. Dan Aura yang merasa terganggu akhirnya membanting kaki Kansha yang diseretnya dengan keras dan menginjak kaki satunya yang tadi tertimpa box.


Brak


“Aaaa!” jerit Kansha kesakitan. Karena pasalnya, sepatu yang dipakai Aura bukan sepatu sembarangan. Dia memakai sepatu boot dimana alasnya memiliki banyak sudut bergerigi.


Setelah menginjak dengan keras kaki Kansha, dia langsung menarik kembali kaki satunya milik Kansha.


“Kamu tadi mau turun tangga, kan? Kalau begitu aku bantu.” Ucap Aura.


Kansha menggelengkan kepalanya keras.


“Jangan, tolong, jangan.” Pinta Kansha panik.


Aura tak menanggapinya. Dia langsung menyeret Kansha menuju tangga. Kansha makin ketakutan dan panik. Kalau sampai Aura menyeretnya menuruni tangga, maka bisa dipastikan kepalanya akan bocor.


Tiba-tiba Kansha memelintir kakinya menyebabkan genggaman Aura terlepas. Kansha langsung bangkit berdiri. Dia berlari menuruni tangga meninggalkan Aura.


“Sialan, kembali kau, Kansha!” teriak Aura emosi.


Kansha terus berlari menghindari kejaran Aura. Dia terus berlari untuk menemukan pintu keluar dengan nafas ngos-ngosan. Tenaganya sudah habis tapi dia dipaksa terus berlari untuk menyelamatkan nyawanya dari Aura yang tenaganya seolah tak habis itu.


“Sial, tolong terbukalah.” pinta Kansha panik. Air mata sudah berlinang mengaliri pipinya.


Sret


Ketika Kansha sedang fokus mendobrak pintu, sebuah pisau yang dilayangkan Aura menancap tepat di samping tubuhnya. Pisau itu menancap di pintu. Kansha seketika bergidik ketakutan.


"Meleset." celetuk Aura.


Kansha menoleh kebelakang, ada Aura disana yang menatapnya bagai mimpi buruk.


"Kenapa kamu lakukan semua ini? Apa salahku sebenarnya?!" seru Kansha frustasi.


Aura tak menjawab. Dia hanya memerhatikan Kansha dengan senyum menjijikannya.


"Karena Kania." balas Kansha membalas ucapannya sendiri. "Dengar, aku tidak bersalah. Dengan atau tanpa insiden itu, kalau Kania ditakdirkan meninggal, aku bisa apa? Kania menyelamatkanku karena dia kakakku. Dan apakah aku sebagai adiknya tak merasa sedih atau bersalah?"


" AKU MENGHABISKAN DUA PULUH TAHUN HIDUPKU DALAM KUBANGAN RASA BERSALAH!" teriak Kansha dengan air mata mengalir.


"Aku juga hancur! Aku juga menderita! Dan kini, kebenaran telah terungkap. Aku tidak membunuhnya. Dia meninggal karenanya sendiri. Dan kamu tidak berhak memutuskan hidupku karena Kania." desis Kansha menatap tajam Aura.


"Aku yakin, disana Kania merasa sedih dan kecewa karena teman manisnya ini berubah jadi monster. Kamu jahat, Aura. Terlalu jahat untuk menjadi teman baik Kania. Orang sepertimu tak pantas dicintai oleh Kania."


Dan Kansha sudah gila. Dia sudah kehilangan akal karena memancing amarah Aura. Tapi biarlah, dia harus melakukannya untuk membuka lebar-lebar mata Aura. Dia muak harus terus disalahkan.


"Tutup mulutmu." desis Aura mulai kehilangan kesabaran.


"Kenapa? Merasa tertampar? Itu memang dirimu. Kamu harus berkaca, Aura. Apa alasannya kenapa semua orang yang kamu sayangi itu meninggalkanmu. Mau kuambilkan cermin? Tapi mungkin cermin juga akan muak harus melihat wajahmu." hina Kansha.


"Diam." desis Aura dengan wajah memerah.


"Kania, Alvaro dan kedua orang tuamu, mereka muak dengan sifatmu. Selama ini kamu bersikap seolah jadi korban yang kejahatannya harus kamu bayari. Salah, Aura. kamu bukan korban melainkan tersangka yang berlindung dalam kehancuran keluarga. Kamu menyalahkan semua orang atas kehancuran duniamu tapi kamu tidak pernah sekalipun melihat dirimu. Kesalahan apa yang sudah kamu buat hingga kamu kehilangan semuanya. Kamu munafik, Aura. Egois! Dan tidak punya empati sama sekali."


"KUBILANG DIAM!" teriak Aura dengan nafas tersengal-sengal.


Tapi Kansha tak mau diam, "Itu sebabnya ibumu bunuh diri. Karena dia muak denganmu." tandas Kansha.


"DASAR SIALAN!"


Tiba-tiba Aura maju menyerang Kansha. Dia langsung menjambak rambut Kansha dengan kasar. Kansha berusaha melepaskan jambakan kuat Aura tapi dia juga harus menahan sakit kala satu tangan Aura lainnya menampar-nampar wajahnya.


"Katakan sekali lagi." desis Aura marah.


"Munafik." umpat Kansha berani.


"KATAKAN SEKALI LAGI!" teriak Aura.


"Kamu bukan manusia dan tak pantas dicintai!" pekik Kansha.


"Dan kamu tidak pantas hidup." tandas Aura dingin.


Brak

__ADS_1


Aura membenturkan kepala Kansha ke pintu. Tidak sekali, tapi berkali-kali hingga darah segar mulai mengalir dari kepala Kansha. Tak hanya itu, Aura juga menampar wajah Kansha bolak-balik. Sudut bibir Kansha robek dan lebam tak karuan ada dimana-mana. Kansha tak melawan karena tenaganya sudah hilang.


"Kamu harus mati!" teriak Aura bagai kesetanan.


Brak


Bug


Bug


Brak


Aura mendorong Kansha hingga jatuh dan setelah itu menendang-nendangnya bagai sudah kerasukan. Kansha berusaha melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.


Brak


Bagai sebuah pertolongan dari semesta, Alan muncul dengan mendobrak pintu yang ada di sisi lain. Kansha samar-samar melihat wajahnya karena matanya yang bengkak akibat dipukuli Aura tersenyum tipis. Sedangkan Aura terkejut dan langsung tanggap menarik paksa Kansha agar bangun dan langsung menyanderanya. Dia bahkan menodongkan pisau yang tadi sempat tertancap itu ke leher Kansha.


"Jangan berani-berani maju atau nyawa Kansha akan melayang." ancam Aura.


Alan terdiam panik. Dia melihat Kansha yang sudah babak belur itu dengan perasaan cemas. Dan dia butuh bantuan saat ini. Dia tidak bisa mengamankan Aura disaat nyawa Kansha taruhannya.


"Jangan berani menyakiti Kansha, Aura." desis Alan marah.


Aura tak menjawab. Alan berusaha maju perlahan tapi Aura juga berusaha tak kehilangan kewaspadaannya. Perempuan itu juga turut mundur ke pintu. Dia tahu bahwa bila ada Alan, maka disana juga pasti ada polisi.


Hingga Alan bertatapan dengan Alfin, Alvaro dan Ruben yang berada di luar. Mereka menyuruh agar membiarkan Aura membawa Kansha keluar dan mereka akan membekuknya.


Alan pun maju kembali perlahan membuat Aura juga diam-diam mundur. Dan begitu sampai di pintu, Aura langsung mengeluarkan kunci di sakunya dan langsung membuka pintu dengan tetap menyandera Kansha.


Aura berhasil keluar dengan berjalan mundur.


Dor


Tiba-tiba Aura menembak di sisi dimana Alvaro, Ruben dan Alfin berada. Dia menyadari keberadaan mereka bertiga yang bersembunyi.


"Jangan mendekat atau kutembak kalian." ancam Aura tak main-main. Dia menodongkan pistolnya mengedar ke arah Alfin, Alvaro, Ruben bahkan Alan.


Aura tetap menodongkan pistolnya di satu tangan dan tangan lainnya menawan Kansha dengan siku tangan. Pisau miliknya sudah dia buang entah kemana.


"Itu pak, disana!"


Tiba-tiba Aisyah berteriak sambil menunjuk ke tempat Aura dan beberapa orang polisi datang. Aura panik dan langsung menembak membabi buta ke segala arah.


Dor


Dor


Dor


Dor


Semuanya berjongkok berlindung dari tembakan Aura yang menyasar segala arah itu. Sedangkan Kansha, dia sudah hampir kehilangan kesadaran dan bersandar lemah di tubuh Aura.


"Jangan mendekat!" teriak Aura panik. Semua yang ada disana seketika mengangkat tangan agar Aura tak menyakiti Kansha.


"Pelurunya sudah habis." gumam Alan masih ragu.


Untuk membuktikannya, Alan maju mendekat yang membuat Aura makin panik. Dia berteriak agar Alan mundur sambil menodongkan senjatanya. Semua yang ada disana seketika turut panik dan menyuruh Alan agar mundur. Tapi Alan mengabaikannya dan terus maju hingga Aura langsung mengubah sasarannya menjadi Kansha. Dia menekan mulut pistol itu di samping kepala Kansha.


"Mundur atau kutembak kepalanya." ancam Aura dingin.


Alan tak menjawab, dia terus maju dan itu membuat suasana makin panas dan menegangkan.


"Mundur! Kubilang mundur!" teriak Aura. Tapi Alan terus saja maju.


"Lan, mundur, Lan. Hentikan." ucap Ruben panik.


"Mas, mundur, mas." timpal Alfin.


"Jangan bahayakan nyawa Kansha!" tambah Alvaro panik dan cemas.


Tapi Alan tak menanggapinya. Dia terus maju hingga membuat Aura kalap. Dia langsung menarik pelatuknya. Semua orang menarik nafas dan seketika menjerit.


Hening


Mereka tersadar bahwa tak ada suara letusan tembakan sama sekali. Alan pun berlari maju sebelum Aura menyadari semuanya.


Bug


Alan memukul Aura agar melepaskan kaitannya pada Kansha. Setelah berhasil, dia membawa Kansha pada pelukannya. Sedangkan Aura langsung dibekuk polisi.


"Kansha. Kansha." panggil Alan cemas. Dia membaringkan kepala Kansha di pahanya.


"Kansha! Bangunlah!" ucap Alan khawatir. Tapi Kansha nampak hampir tak sadarkan diri. Dia mengerjapkan matanya berusaha mendapatkan kesadarannya untuk bisa melihat Alan.


Tes


Setitik air mata Alan jatuh ke wajah Kansha.


"Jangan menangis. Masa kapten pilot menangis." lirih Kansha berusaha tersenyum.


"Sakit? Maaf aku terlambat." ucap Alan.


"Aku tidak apa. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."


Usai mengatakan itu, Kansha tiba-tiba tak sadarkan diri. Dan itu membuat panik Alan.


"Kansha, bangun! bangun!" pekik Alan panik setengah mati.


"Kita bawa Kansha ke rumah sakit." ucap Alfin juga panik.


Alan pun langsung membopong Kansha naik ke ambulans. Diikuti oleh Alfin. Aisyah dan Ruben.


Sedangkan Alvaro hanya terdiam dan begitu dia menoleh ke tempat lain, matanya terbelalak dan dia langsung berlari tiba-tiba.


***


Di sisi lain, Aura yang ditangkap ke polisi hendak dimasukkan ke mobil tepat sebelum perempuan itu tiba-tiba menyerang para polisi itu. Setelah dia berhasil melepaskan diri, Aura langsung berlari meninggalkan lokasi kejadian menuju mobilnya yang terparkir tak jauh.


"Aku harus kabur." gumam Aura panik.

__ADS_1


Dia akhirnya berhasil masuk ke mobilnya sebelum para polisi itu berhasil mengejarnya. Dia langsung menjalankan mobilnya, tak peduli dengan para polisi yang menyuruhnya berhenti.


Dan mengetahui Aura kabur, Alvaro yang kebetulan melihat kejadian itu langsung berlari menuju mobilnya dan mengejar Aura. Aura tidak boleh sampai melarikan diri.


__ADS_2