My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 118.


__ADS_3

“Jadi katakan, apa yang kalian maksud soal Kansha yang melukai Kania hingga meninggal?”


Aura, dan tiga perempuan pengurus yayasan yang dia temui itu kini tengah berada di kantornya. Setelah negoisasi, akhirnya ketiga perempuan tak setia itu tunduk pada uang. Mereka berkompromi dengan Aura.


”Sebenarnya bukan melukai lebih ke Bu Kansha mencelakai kakaknya saat liburan musim panas di Korea dulu.” jelas Eva, perempuan berambut sebahu.


Aura mengangkat satu alisnya, “Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Ini menurut salah satu orang kepercayaan pak Andrian, mengatakan bahwa Kania meninggal terseret ombak ketika hendak menyelamatkan nyawa Bu Kansha.” ujar Dina, perempuan salah satunya.


Aura terdiam mendengar fakta itu. Sejujurnya dia tidak tahu alasan dibalik kenapa Kania bisa meninggal saat liburan. Dia hanya mengetahui bahwa Kania tenggelam dan jasadnya tak bisa ditemukan hingga kini. Dan mengetahui bahwa ini ada hubungannya dengan Kansha, itu membuat dirinya terkejut.


“Lalu apa yang terjadi setelahnya?”


“Pak Andrian mengerahkan ratusan regu penyelamat untuk mencari Kania tapi hingga satu bulan pencarian, jasadnya tak kunjung ditemukan. Banyak ahli mengatakan bahwa mungkin jasad Kania sudah tercerai berai dan hanya tinggal tulang saja di dasar laut. Pak Andrian tidak percaya, dia terus melakukan pencarian bertahun-tahun tapi jasad Kania tidak ditemukan dimanapun. Mereka akhirnya menyerah dan menganggap Kania memang sudah meninggal.” Tutur Beti.


Aura syok luar biasa. Dia menarik nafasnya karena sesak yang tiba-tiba datang menghantam dadanya.


“Lalu apa yang terjadi pada Kansha?” tanyanya.


“Kalau soal itu saya tidak tahu. Kami baru tahu soal Bu Kansha ketika terdengar berita soal tragedi pesawat jatuh itu. Bu Grace mengadakan doa bersama di yayasan untuk mendoakan Bu Kansha, disitulah saya tahu mengenai putri keduanya.” Jawab Dina.


“Lalu bagaimana kalian tahu sebanyak ini?”


“Itu bukan berita baru bagi para pengurus yayasan. Orang-orang kepercayaan Pak Andrian yang dulu membantu pencarian Kania masih bekerja hingga sekarang. Awalnya kami juga tidak tahu karena berita ini seakan ditutup-tutupi oleh Williams hingga ketika kami tahu soal Williams yang memiliki putri lain, disitulah mereka mulai menceritakan kebenarannya.” Jawab Beti.


“Mereka bahkan masih ingat dengan ekspresi sedih dan syok Bu Grace dan Pak Andrian serta raut polos Kansha.” tambah Eva.


Aura menghembuskan nafas kasar. Kepalanya entah kenapa pusing. Dadanya juga terus sesak.


“Apa lagi yang kalian tahu?” tanya Aura pelan. Dia mulai lemas karena fakta-fakta ini.


Mereka bertiga terdiam kemudian Dina menyahut, “Alasan kenapa yayasan ini didirikan oleh Williams adalah untuk didekasikan pada Kania.”


“Oh benar-benar. Kita bahkan sering mengadakan santunan ke anak yatim piatu!” tambah Beti.


“Tentu saja itu bisa ditebak setelah mendengar cerita itu. Yayasan ini seperti yayasan amal karena menampung anak-anak yang kurang beruntung seperti anak-anak yang kehilangan keluarganya, ini pasti didekasikan untuk putri kandung mereka.” Imbuh Eva menimbrung ucapan kedua rekannya.


“Putri kandung?” sela Aura.


Mendengar pertanyaan Aura, mereka bertiga langsung mengangguk, “Iya, putri kandung.”


“Kania atau Kansha?”


“Tentu saja Kania.”


Aura terdiam. Rautnya mengernyit bingung.


“Lalu bagaimana dengan Kansha?”


****


“Nama saya Aura.”


Kansha langsung menurunkan micnya begitu sebuah wajah tak asing berdiri dihadapannya. Kansha bahkan sampai melunturkan senyumannya. Perasaannya menjadi tidak enak.


“Baik, silakan pertanyaannya.” Ucap pembawa acara tanpa menyadari perunahan raut Kansha.


“Saya ingin bertanya,”Aura menjeda ucapannya dan memeriksa ekspresi Kansha, “Bagaimana caranya agar bisa mencapai posisimu saat ini?”


Aura selesai bertanya dan Kansha masih diam. Dia cukup terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Aura. Kansha sudah berfikir macam-macam sejak kehadiran Aura di studio.


“Silakan Mbak Kansha boleh dijawab.” Ujar pembawa acara.


Kansha berdeham dan berusaha mengembalikan ketenangannya dan bersikap biasa saja. “Semuanya karena usaha dan juga doa. Tanpa itu semua, segala yang kita inginkan juga tidak akan terwujud.” Balas Kansha.


“Baik, apakah Anda puas?” tiba-tiba pembawa acara itu kembali melemparkan pertanyaan pada Aura, berbeda ketika saat sesi penanya satu yang langsung diakhiri.


Aura mengangkat kembali micnya ke mulutnya, “Usaha? Saya rasa itu benar. Anda tidak akan mencapai posisi Anda saat ini kalau bukan karena kakak Anda, benar kan?”


Kansha tersentak begitupun para penonton yang tiba-tiba bingung dengan maksud ucapan Aura.


“Apa maksud Anda?” tanya pembawa acara itu.


Aura menggeleng sambil tersenyum, “Tidak ada.” balasnya.


“Kalau begitu silakan kembali duduk.” Ujar pembawa acara itu. Aura mengangguk dan langsung duduk kembali.


“Baik, sesi tanya jawab sudah selesai. Dan sekarang kami akan membacakan pertanyaan dari penonton melalui instagram resmi kami. Ada beberapa pertanyaan favorit yang berhasil dipilih oleh kru produksi. Saya akan membacakannya satu persatu.”


Kemudian pembawa acara itu membuka tabnya. Dia seketika mengernyit bingung kala pertanyaan yang dipilih krunya sangat krusial dan privasi. Alih-alih langsung membacakannya, pembawa acara itu malah melihat kru produksi seakan bertanya, bolehkah dia membacakannya?


Kansha menyadari ada yang salah hingga dia menoleh pada pembawa acara.


“Ada apa?” tanyanya.

__ADS_1


Pembawa acara seketika menoleh pada Kansha dan rautnya menunjukkan kebingungan.


“Ada pertanyaan yang aneh disini. Kami tidak mengerti apa maksudnya. Jadi kami memutuskan akan menghubungi si pemberi pertanyaan untuk menjelaskannya.” Ujar pembawa acara.


Kansha menjadi bingung seketika. Tiba-tiba firasatnya bertambah tak enak. Dan sejak kapan ada sesi menghubungi si penanya di acara ini? Setahunya semua pertanyaan sudah disaring terlebih dahulu dan dipilih yang kira-kira bermutu dan berbobot. Tapi ini? Kansha merasa ada yang tak beres. Dan tiba-tiba Kansha menoleh ke barisan penonton, masih ada Aura disana, duduk dengan tenang.


Kru produksi menghubungi si penanya karena kebetulan dia menyematkan nomor telfonnya seakan dia tahu bahwa ini akan terjadi. Telfon berhasil tersambung dan suara seorang pria terdengar.


“Halo, kami dari Bincang Show. Mengenai pertanyaan Anda ini, apa maksudnya?” tanya pembawa acara.


“Bukankah itu sudah jelas? Saya bertanya tentang kebenaran dibalik pengusiran paksa saya dari perusahaan saya sendiri karena Kansha. Williams mengakuisisinya dengan paksaan pada saya dan perusahaan itu diberikan pada Kansha yang jelas-jelas tidak memiliki hak.” Ucap si penelfon.


Semua penonton dan kru produksi kebingungan begitupun dengan pembawa acara. Sedangkan Kansha terdiam, itu suara yang amat dia kenal.


“Pak Benny?” gumam Kansha.


“Apa maksud Anda tidak memiliki hak? Bukankah Mbak Kansha adalah putri kandung Williams dan beliau jelas memiliki hak.” Ucap pembawa acara.


Tiba-tiba si penelfon terkekeh, “Kansha bukanlah putri kandung mereka. Dia adalah anak angkat yang bahkan membunuh kakaknya sendiri.”


“Hah?”


Semua orang di studio seketika terkejut dengan ucapan si penelfon anonim itu. Mereka tidak menyangka akan mendengar suatu hal seperti itu. Sedangkan Aura, dia memasang tampang penasaran dan tertarik. Dan Kansha, dia hanya mampu terdiam. Dia masih tidak tahu siapa penelfon itu.


Pembawa acara itu melihat Kansha yang diam saja. Kemudian meminta kru produksi untuk mematikan sambungan. Tapi begitu hendak ditutup, si penelfon kembali bersuara.


“Saya mengatakan ini bukan untuk menjelekkan mantan pegawai saya sendiri, hanya agar semua orang tahu tentang berita yang ditutup-tutupi selama ini oleh Williams. Alasan kenapa Kansha seakan menghilang ketika dia remaja, ada hubungannya dengan ini. Saya hanya ingin bilang, bahwa saya sebagai mantan bosnya turut prihatin akan hal ini.”


Pembawa acara segera meminta kru untuk mematikan sambungan telfon. Dan sambungan telfon pun berakhir. Dan Kansha terduduk diam dengan wajah pias.


Kemudian pembawa acara bertanya melalui microphone kecil di bajunya, “Apa yang harus kulakukan?” bisiknya.


Setelah mendengar jawaban dari atasannya, pembawa acara itu lalu menoleh pada Kansha yang diam saja. Setelah itu dia kembali menatap kamera yang menyala.


“Umm, baik episode ini kita akhiri sampai disini. Terima kasih bagi yang sudah menonton. Sampai jumpa lagi!” tiba-tiba pembawa acara itu mengakhiri syuting mereka.


“Cut!”


Syuting selesai dan Kansha makin tertunduk lemas. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak tahu harus menyangkal atau membenarkan.


Semua penonton sudah dipaksa keluar studio oleh kru produksi kala hendak menerobos masuk set ingin menghampiri Kansha. Semua penonton akhirnya keluar tak terkecuali Aura yang keluar terakhir. Dia berjalan tenang seakan tidak ada hal yang terjadi dan semua gerak-geriknya disadari oleh Kansha.


“Mbak Kansha.” tegur pembawa acara itu mendekati Kansha.


Dia keluar dari studio dengan linglung. Tadi adalah siaran langsung dan bisa dipastikan berita ini akan tersebar. Kansha tidak tahu bagaimana cara mengatasinya terlebih orang tuanya sedang berada di luar negeri.


Di koridor menuju ruang tunggu, Kansha berhenti kala melihat Aura berdiri bersandar di dinding menatapnya seakan sengaja menunggu kedatangannya.


Aura berdiri tegak begitu Kansha berada di hadapannya. Dia tersenyum.


***


Kebiasaan laki-laki muda saat hari libur adalah bersantai. Begitupula yang dilakukan oleh Alfin. laki-laki jomblo tidak jomblo ini menghabiskan waktu liburnya dengan bersantai di taman belakang rumah sembari minum es kelapa yang dia beli di depan komplek.


“Langsung saja ke penanya pertama. Boleh namanya siapa dan apa pertanyaannya?”


Alfin sedang menyaksikan acara Kansha. Acara yang ditayangkan secara live itu tengah berada dalam sesi tanya jawab.


“Halo, Mbak Kansha. Nama saya Tyas Ayu, saya ingin bertanya, adakah motivasi yang bisa diberikan mbak pada kaum perempuan agar bisa berprestasi seperti Anda? Terima kasih."


“Pertanyaannya bagus.” Komentar Alfin sambil menyemil keripik kentang.


Di layar, Kansha sedang mengambil microphonenya.


“Semangat! Jangan pernah menyerah dan mengeluh. Jangan dengarkan omongan orang lain dan jangan menjadikan laki-laki sebagai standarnya. Sering kali alasan perempun tidak bisa berkarya adalah hakikatnya yang selalu berada di bawah lelaki. Pasti semuanya pernah mendengar ‘untuk apa sih kuliah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya kalian berada di dapur?’ Itu pasti hal yang sangat menjengkelkan seakan-akan bahwa impian perempuan itu tidak penting. Kita memang akan menjadi ibu rumah tangga pada akhirnya tapi apa salahnya bila kita mengejar impian kita? Mengejar apa yang kita sukai? Masih banyak kok, para wanita di luar sana yang tetap bisa berkarier meski sudah menikah.”


“Dan faktor lainnya adalah banyaknya ucapan meremehkan dari orang lain terhadap kemampuan kita. Jangan didengarkan! Anggap telinga kita tuli sesaat. Maju terus kedepan, jangan tengok kiri-kanan. Fokus dengan impian. Tidak peduli rintangan apapun, terjanglah dengan sekuat tenaga. Saya yakin, hasilnya akan baik. Ingat, tidak ada reaksi tanpa aksi. Semuanya punya jalur panjangnya sendiri.”


“Sudah diduga. Dia jenius kalau urusan berbicara. Tapi apa semua perempuan seperti itu? Entah kenapa aku merasa kemampuan bicara mereka terutama saat terdesak sangat melampaui imajinasi.” Komentar Alfin lagi kini sambil geleng-geleng kepala.


Dasar Alfin cerewet!


“Baik, kita ke penanya kedua, silakan sebutkan nama dan pertanyaannya.”


“Nama saya Aura.”


“Uhuk.” Alfin tersedak keripik kentang kala nama yang dia pernah dengar disebutkan.


Alfin langsung menatap layar tabnya. Seorang perempuan misterius tengah membuka tudung kepalanya dan bisa Alfin pastikan itu adalah Aura.


Tapi Alfin tidak tahu apakah itu Aura sepupu Aisyah dan teman Kansha atau bukan. Dia tidak pernah bertemu dengannya soalnya.


“Saya ingin bertanya,” Aura menjeda ucapannya, “Bagaimana caranya agar bisa mencapai posisimu saat ini?”


“Silakan Mbak Kansha boleh dijawab.” Ujar pembawa acara.

__ADS_1


Kansha berdeham sebentar, “Semuanya karena usaha dan juga doa. Tanpa itu semua, segala yang kita inginkan juga tidak akan terwujud.”


Alfin mengangguk puas mendengar jawaban Kansha.


“Baik, apakah Anda puas?” tanya pembawa acara itu.


Di layar Aura mengangkat kembali micnya ke mulutnya.


“Usaha? Saya rasa itu benar. Anda tidak akan mencapai posisi Anda saat ini kalau bukan karena kakak Anda, benar kan?”


“Apa maksudnya?” gumam Alfin bingung.


“Apa maksud Anda?” tanya pembawa acara itu.


Aura menggeleng sambil tersenyum, “Tidak ada.”


“Kalau begitu silakan duduk kembali.”


“Baik, sesi tanya jawab sudah selesai. Dan kami akan membacakan pertanyaan dari penonton melalui instagram resmi kami. Ada beberapa pertanyaan favorit yang berhasil dipilih oleh kru produksi. Saya akan membacakannya satu persatu.”


Kemudian pembawa acara itu membuka tabnya. Dia seketika mengernyit bingung kala pertanyaan yang dipilih krunya sangat krusial dan privasi. Alih-alih langsung membacakannya, pembawa acara itu malah melihat kru produksi seakan bertanya, bolehkah dia membacakannya.


Terlihat Kansha bertanya pada pembawa acara itu.


Pembawa acara seketika menoleh pada Kansha dan rautnya menunjukkan kebingungan.


“Apa yang terjadi?” gumam Alfin kebingungan. Dia mengambil gelas berisi es kelapanya.


“Halo, kami dari Bincang Show. Mengenai pertanyaan Anda ini, apa maksudnya?” tanya pembawa acara.


"Kenapa mereka tiba-tiba menelfon?" gumam Alfin tambah penasaran.


“Bukankah itu sudah jelas? Saya bertanya tentang kebenaran dibalik pengusiran paksa saya dari perusahaan saya sendiri karena Kansha. williams mengakuisisinya dengan paksaan pada saya dan perusahaan itu diberikan pada Kansha yang jelas-jelas tidak memiliki hak.” Ucap si penelfon.


“Apa maksud Anda tidak memiliki hak? Bukankah Mbak Kansha adalah putri kandung Williams dan beliau jelas memiliki hak.” Ucap pembawa acara.


Tiba-tiba si penelfon terkekeh,


“Kansha bukanlah putri kandung mereka. Dia adalah anak angkat yang bahkan membunuh kakaknya sendiri.”


“Byur!”


Alfin langsung menyemburkan minumannya. Layar tabnya bahkan sampai basah oleh minuman. Dia mengusap layar tab itu agar bisa terlihat jelas lagi.


Dan dilayar, semua orang tengah berbisik kebingungan dan terkejut dengan apa yang mereka dengar.


Pembawa acara itu melihat Kansha yang diam saja. Kemudian meminta kru produksi untuk mematikan sambungan. Tapi begitu hendak ditutup, si penelfon kembali bersuara.


“Saya mengatakan ini bukan untuk menjelekkan mantan pegawai saya sendiri, hanya agar semua orang tahu tentang berita yang ditutup-tutupi selama ini oleh Williams. Alasan kenapa Kansha seakan menghilang ketika dia remaja, ada hubungannya dengan ini. Saya hanya ingin bilang, bahwa saya sebagai mantan bosnya turut prihatin akan hal ini.”


“Hah?” Alfin tambah bingung dan syok. Ini sebenarnya apa yang terjadi sih?


Kemudian acara tiba-tiba diakhiri. Setelah acara berakhir, Alfin langsung memeriksa internet untuk mengecek apa yang terjadi. Dia seketika terbelalak melihat sebuah berita yang amat mengejutkan.


Benarkah Kansha Andara Williams Adalah Putri Angkat Williams?


Alfin langsung membaca uraian berita itu.


Sebuah penelfon anonim membuat geger kala menguak mengenai rahasia Williams selama ini di Bincang Show. Diketahui Kansha Andara Williams yang baru-baru ini diketahui sebagai putri kedua Williams mendadak disebut sebagai putri angkat Williams. Di acara Bincang Show juga si penelfon membeberkan hal lain dan menuduh bahwa Kansha telah membunuh kakaknya sendiri yang merupakan putri kandung Williams. Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi apapun dari pihak Kansha maupun Williams.


“Hah?”


Alfin buru-buru mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja didepannya. Dia langsung menghubungi Kansha namun Kansha tidak menjawabnya sama sekali. Alfin lalu beralih menelfon Alan. Kakaknya itu baru saja terbang ke Surabaya, dia pasti belum melihat berita ini.


“Halo, Fin.” Suara Alan yang serak terdengar di telfon.


“Halo, mas!” sapa balik Alfin.


“Ada apa kamu menelfon? Semuanya baik-baik saja?”


“Kenapa suara mas serak?” tanya balik Alfin.


“Mas baru saja karaokean dengan rekan kerja mas. Kami bernyanyi sampai serak.”


“Mas, ini bukan waktunya karaokean!” seru Alfin tak habis fikir. Dan sejak kapan masnya itu senang karaokean?


“Ada apa memangnya? Apa terjadi sesuatu?”


“Tentu saja.” Sahut Alfin gemas, “Kansha, mas, Kansha!” lanjutnya.


“Ada apa dengan Kansha? Dia baik-baik saja kan?” Alan seketika terdengar khawatir.


“Ada penelfon anonim yang mengatakan bahwa Kansha bukanlah putri kandung Williams dan membunuh kakaknya sendiri.”


“APA?”

__ADS_1


__ADS_2