
Malam tiba, Kansha dan Alan sedang dalam perjalanan menuju rumah keluarga Alan. Di sepanjang perjalanan, Kansha tak henti-hentinya mengembuskan nafas. Tangannya saling bertaut karena gugup. Alan yang melihatnya tersenyum kecil.
“Kamu gugup?” tanyanya dengan melirik Kansha sesekali.
Kansha mengangguk.
“Kenapa gugup?” tanya Alan.
“Bagaimana aku tidak gugup? Aku akan bertemu kedua orang tuamu untuk pertama kalinya setelah kita berhubungan. Ini bukan kunjungan biasa tapi kunjungan untuk meminta restu.” Jawab Kansha dengan penekanan.
Alan ikut mengangguk menyetujui, “Sejujurnya kita memang akan dua lawan dua malam ini. Tapi tenang saja, kamu dan aku saling memiliki. Kita harus memenangkan pertarungan ini.”
“Kenapa dua lawan dua? Alfin tak kamu ikut sertakan?”
Alan terkekeh geli, “Dia sudah pasti akan memberi restu. Bukankah dia seperti mak comblang bagi hubungan kita?”
Kansha mengangguk dengan senyum geli, “Di saat kamu dan aku saling meragu karena perasaan kita sendiri, Alfin adalah orang pertama yang punya keyakinan kuat tentang kita. Aku senang karena tanpa bantuannya, aku dan kamu mungkin saat ini masih ‘berteman’ .” ujar Kansha.
“Yah, dia memang adikku yang paling cuek namun peduli.” Timpal Alan.
“Tapi, aku penasaran akan suatu hal.” Ujar Kansha.
Alan melirik gadis itu lalu bertanya, “Apa?”
“Apakah Alfin melakukan hal itu semua murni ingin menyatukan kita atau justru dia terlibat cinta sepihak yang mengharuskannya berkorban?”
“Apa maksudmu?” tanya Alan tidak mengerti.
Kansha memperbaiki posisi duduknya lalu berkata dengan nada sedikit kaku, “Bisa saja kan awalnya dia menyukaiku tapi dia tahu bahwa aku menyukai kakaknya hingga—“
“Hingga dia memutuskan mengorbankan cintanya dan menyatukan kita begitu?” sela Alan geli.
Kansha mengusap tengkuknya malu, “Apa itu salah?” tanyanya polos.
Alan tertawa keras hingga beberapa kali memukul kemudi, “Astaga, kamu terlalu imajinatif. Kisah-kisah seperti itu hanya ada di dalam drama-drama.” Ujar Alan geli.
“Kata siapa? Mentang-mentang tidak pernah mengalaminya jadi seenaknya mencap demikian.” Gerutu Kansha.
“Memang kamu pernah mengalaminya?” tanya Alan.
“Tentu saja.” Sahut Kansha cepat, “Aku bahkan hampir terbunuh karena mencintaimu dengan rasa sakit.” Lanjutnya pelan.
“Apa?” tanya Alan tidak mendengar lanjutan kalimat Kansha.
“Tidak ada.” tukas Kansha cepat.
“Lagipula Alfin sudah memiliki calonnya sendiri jadi dia tidak mungkin mengalami skenario yang kamu katakan tadi.” Ujar Alan lagi.
“Benarkah?” seru Kansha terkejut.
Alan mengangguk, “Kurasa dia teman semasa kuliahnya. Aku tidak begitu tahu tapi Alfin sangat mencintainya.” Jelas Alan.
“Tapi kenapa aku tidak pernah sekalipun melihat Alfin bersama perempuan?”
Alan sesaat terdiam mengingat-ingat soal cerita Alfin mengenai perempuan yang dicintainya itu lalu berkata, “Kalau tidak salah perempuan itu sedang melanjutkan pendidikan magister di luar negeri. Itu sebabnya Alfin belum melamarnya karena dia lebih memprioritaskan impian perempuan yang dia cintai.”
“Sungguh wanita beruntung bisa membuat lelaki tangguh seperti Alfin rela menunggu. Alfin benar-benar romantis.” Komentar Kansha iri.
“Jangan iri, disampingmu juga ada lelaki tangguh lainnya.” Ujar Alan.
“Apa yang bisa kamu korbankan untukku memangnya?” tantang Kansha.
Alan terdiam cukup lama untuk berfikir, “Apa saja selain dirimu dan keyakinanku.” Ucapnya tegas.
Kansha tak bisa menahan senyumnya.
“Tapi aku sungguh tidak bisa mengorbankan dirimu. Aku rela menunggu tapi tidak untuk selamanya.” Lanjut Alan serius.
“Aku tidak akan kemana-mana. Tidak perlu serius seperti itu.” tukas Kansha geli.
“Kansha, kita tidak akan tahu apa yang terjadi pada hidup kita kedepannya. Tapi aku harap, skenario terburuk apapun yang menimpa hidup kita, kuharap kamu tahu bahwa aku benci berpisah tanpa penjelasan.”
Sudut bibir Kansha terangkat, “Aku juga membencinya.”
“Tapi kamu pernah melakukannya dulu.” sanggah Alan melirik Kansha.
Kansha terdiam. Dia lalu mengangguk mengakui.
“Aku memang membencinya tapi saat itu aku terpaksa melakukannya. Kalau aku tidak melakukannya, aku tidak tahu apa posisi diriku di hadapanmu nanti.” Jelas Kansha.
“Aku nyaris gila karena kamu pergi tiba-tiba tanpa penjelasan. Aku bertanya-tanya mengapa kamu melakukan hal itu. Apa aku melakukan kesalahan? Apakah kita bisa bertemu kembali?”
Kansha mendesah pelan, “Tapi pada akhirnya kita bertemu kembali. Kurasa itulah yang disebut ikatan takdir. Sekeras apapun aku mencoba menghindari setiap pertemuan kita, tapi kuasa Tuhan selalu selangkah lebih depan. Pada akhirnya kita memang ditakdirkan bertemu kembali meskipun terlihat seperti ketidaksengajaan.” Terang Kansha.
“Dan aku senang dengan hal itu.” ujar Alan tersenyum.
Kansha pun turut tersenyum. Mereka bertatapan sesaat dengan senyum yang terlukis di raut bahagia mereka.
***
__ADS_1
Kansha dan Alan akhirnya sampai di tujuan. Namun sebelum masuk ke rumah, Kansha terlebih dahulu membalas pesan yang dikirimkan Nana beberapa saat lalu.
“Kata Nana, semangat untuk kita.” Ucap Kansha sambil menunjukkan layar ponselnya.
Alan membaca pesan Nana di dalam hati lalu mengangguk. “Sampaikan padanya terima kasih.” Pintanya.
Kansha pun langsung mengetikkan jawaban setelah selesai, dia mematikan ponselnya.
“Siap?” tanya Alan menatap Kansha.
Kansha menghembuskan nafas dalam lalu mengangguk.
“Ayo maju!” ucapnya mantap.
Alan terkekeh kecil lalu mulai berjalan masuk ke rumah diikuti Kansha.
“Assalamu’alaikum.” Salam Alan sebelum masuk.
“Waalaikum salam.” Sahut bibi yang ternyata membuka pintu. “Eh, Mas Alan dan mbaknya sudah datang.” Lanjut Bibi sambil tersenyum pada Kansha. Kansha balas tersenyum.
“Ayah sudah di rumah bi?” tanya Alan.
Bibi mengangguk, “Iya, bapak, ibu dan Alfin sudah di ruang makan. Mas alan dan Mbak..” bibi menghentikan ucapannya. Tidak tahu nama Kansha.
“Kansha.” ucap Kansha memperkenalkan diri.
“Mas Alan dan Mbak Kansha langsung saja ke ruang makan kata ibu.” Lanjut bibi ramah.
Alan mengangguk, “Terima kasih bi.” Ucap Alan.
Alan dan Kansha pun masuk dan segera ke ruang makan mengikuti bibi. Begitu tiba di ruang makan, terlihat bunda dan Alfin sedang duduk di kursi makan begitupun ayah Alan yang baru pertama kali Kansha lihat juga sudah duduk dengan penuh wibawa di kursi ujung.
“Assalamualaikum.” Salam Alan membuat atensi ketiga orang itu mengarah padanya.
“Waalaikum salam. Kalian sudah datang?” sambut bunda langsung berdiri menyambut Kansha dalam pelukannya.
“Ayo duduk, kita makan malam dahulu.” Lanjut bunda kemudian membimbing Kansha duduk di sampingnya.
Begitu Kansha duduk, Alfin yang berada satu kursi di depannya mengangguk menyapa. Kemudian Alan terlihat duduk di depan Kansha dan disamping Alfin.
“Ini..” Ayah menjeda ucapannya sambil melirik Kansha.
“Saya Kansha Andara, om.” Ucap Kansha canggung. Dia juga tidak tahu harus memanggil ayah Alan dengan sebutan apa karena baru pertama bertemu.
“Ah, Kansha. Sepertinya saya pernah mendengar namamu.” Ujar Ayah berfikir.
Ayah menganggukkan kepala, “Ah iya, saya ingat. Bagaimana kabarmu?” tanya Ayah ramah.
“Saya baik, Om. Om sendiri bagaimana?” tanya Kansha sopan.
“Alhamdulillah baik. Senang bertemu denganmu kembali ya. Saya tidak menyangka kalian masih berhubungan baik sampai kini.”
Kansha menanggapinya dengan senyum canggung.
Menyadari Kansha yang masih canggung dan malu membuat bunda akhirnya mengambil alih.
“Kita stop dulu saja bincang-bincangnya ya ayah. Lebih baik kita makan dahulu.” Ucap bunda.
“Tentu, tidak baik makanan yang sudah tersaji tidak langsung dimakan. Mari makan.” Timpal Ayah.
Kemudian ayah memimpin doa setelah dipersilakan mulailah bunda, Alfin dan Alan makan. Kansha terdiam sebentar lalu mulai menyendokkan nasi ke mulutnya. Suasana makan mereka hening dan tak ada pembicaraan apapun. Sepertinya ini adalah adat makan mereka yang tidak boleh berbincang. Alhasil hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Mereka terlihat harmonis sekali. Bunda yang sesekali memberikan lauk ke piring ayah dan ayah yang menyuapkan makanan pada bunda padahal mereka memiliki piring masing-masing. Mungkin inilah definisi Sepiring Berdua.
Di sisi lain, Alan dan Alfin juga makan dengan tenang. Meski tata cara makannya sama, tapi dua kakak beradik ini berbeda dalam hal selera makanan. Alan diketahui lebih suka makanan yang padat dan tak perlu selalu berkuah. Sedangkan Alfin sebaliknya, lelaki itu lebih suka makanan berkuah apapun seperti sup yang kini tengah ia nikmati. Namun Alfin tak mencampurnya dalam nasi, melainkan dibiarkan dalam mangkuk lain. Meski mereka berbeda, Alan dan Alfin terlihat tampan ketika sedang makan.
Dan Kansha kini mulai bisa mengatasi kecanggungannya dan makan dengan tenang. Kansha akui masakan bunda memang sungguh lezat. Dia sudah lama tidak makan makanan rumahan, hanya terakhir kali ketika sang mama pulang dan memasak untuknya. Setelah itu dia lebih sering memesan lewat go-food padahal Kansha sendiri termasuk jago memasak, buah belajarnya dari Bu Sari. Oh ya, omong-omong Bu Sari, Kansha belum menjenguknya lagi semenjak dia dan Alan terakhir kali kesana untuk makan siang.
Setelah tiga puluh menit berlalu, akhirnya makan malam usai. Anggota keluarga Alandra pun langsung menuju ruang keluarga tak terkecuali Kansha. Kemudian Alan menyerahkan dua bingkisan pada bunda dan ayah. Hadiah yang mereka beli siang tadi.
“Ini hadiah dari Kansha untuk ayah dan bunda.” Ucap Alan menatap Kansha.
“Semoga om dan bunda suka.” Timpal Kansha gugup begitu Ayah membuka bingkisan itu langsung didepannya.
“Wah, apa itu ayah?” tanya bunda penasaran.
Ayah membuka kotak dan mengambil syal dari dalam kotak.
“Kenapa kamu memberikan ini?” tanya Ayah menatap Kansha.
Kansha sesaat terdiam lalu mulai berbicara, “Kata Alan, om suka dengan dasi tapi saya fikir kalau saya beri hadiah dasi maka hadiah saya tidak istimewa lagi karena ayah sudah punya banyak dasi. Saya juga khawatir warna dan desainnya akan sama dengan punya om. Jadi saya memilih syal. Om adalah pilot untuk rute penerbangan ke Eropa, dan tak jarang om pasti harus terbang di musim dingin. Jadi saya fikir memberikan syal adalah ide yang bagus agar om bisa memakainya saat terbang nanti.” Jelas Kansha.
“Kalau bunda kenapa diberi seperangkat cangkir teh?” tanya bunda dengan senyum kecil.
“Adapun hadiah untuk bunda karena bunda suka membuat kue. Kalau Kansha memberi alat-alat untuk membuat kue pasti bunda sudah punya semua. Dan kue adalah teman yang pas untuk bersanding dengan teh. Jadi Kansha harap ketika bunda makan kue sambil minum teg dengan cangkir teh yang Kansha beli, bunda akan ingat Kansha.” jelas Kansha.
Bunda tersenyum senang, “Terima kasih ya Kansha. Bunda senang sekali dapat ini karena bunda belum punya set cangkir teh seperti ini. Kapan-kapan kita minum teh bersama.” Ucap bunda tulus.
“Saya juga mengucapkan terima kasih untuk hadiahnya. Insyaallah hadiahnya akan saya manfaatkan dengan sebaik mungkin.” Timpal Ayah.
__ADS_1
Kansha mengangguk sambil tersenyum senang. Dia lega hadiahnya diterima dengan baik oleh kedua orang tua Alan.
“Untukku mana?” celetuk Alfin.
“Untukmu ucapan terima kasih sebesar-besarnya saja.” Balas Alan acuh tak acuh membuat Kansha melirik Alfin dengan geli.
Alfin mendengus sebal.
“Jadi, sebenarnya ada kedatangan apa kalian kesini? Alan tak biasanya membawa perempuan lain ke rumah sekalipun Aisyah dulu.” ujar Ayah serius.
Kansha melirik Alan yang si empunya malah menatap dengan pandangan lurus ke depan.
“Ayah, bissmillahirrahamanirrahim, Alan ingin memperkenalkan Kansha sebagai calon istri Alan.” ucap Alan tegas dan berani.
Kansha menarik nafasnya kala Alan menjawabnya tanpa basa-basi. Bunda dan Alfin juga turut terdiam. Sedangkan ayah malah menatap Alan dengan tatapan tak terbaca.
“Punya apa kamu hingga berani melamar seorang perempuan tanpa sepengetahuan kami?” tanya ayah dingin.
“Alan minta maaf karena tidak mendiskusikan hal ini lebih dulu pada ayah dan bunda tapi Alan sudah yakin dengan keputusan Alan. Kansha adalah perempuan yang tepat untuk menemani sisa hidup Alan.” jawab Alan tanpa ragu.
Ayah mengangguk singkat kemudian kembali bertanya dengan wibawanya yang sedikit membuat suasana tegang itu.
“Apa kalian satu keyakinan?”
Alan terdiam begitupun Kansha yang merasa jantungnya hampir berhenti berdetak. Dia menahan nafasnya kala pertanyaan yang paling dia takuti terdengar di telinganya dengan jelas.
“Ayah tanya sekali lagi, apa kamu memilih calon istri untuk duniamu atau untuk dunia akhiratmu?” tanya ayah lagi.
“Al--”
“Saya berbeda keyakinan dengan Alan, Om.” Sela Kansha memotong ucapan Alan.
Alan, bunda dan Alfin langsung melirik Kansha dengan raut terkejut. Mereka tak menyangka Kansha akan seberani itu.
“Saya kristiani sedangkan Alan adalah muslim. Saya tahu om akan menanyakan hal ini makanya saya mengatakannya lebih dulu.” jelas Kansha.
“Alan, jelaskan.” Titah Ayah mengabaikan penjelasan Kansha.
“Seperti yang sudah Kansha bilang, bahwa kami berbeda keyakinan. Dan Alan tak masalah akan hal itu. Kami memang saling mencintai tapi kami tak akan mencampuri urusan keyakinan satu sama lain. Kansha mungkin bukan muslim tapi dia adalah orang yang baik. Dia memiliki hati malaikat.”
“Alan, kamu tahu seperti apa keluarga kita bukan? Ayah memang memintamu mencari wanita yang baik tapi satu hal yang menjadi syarat mutlak dalam meminang calonmu, dia haruslah seorang muslimah. Dia seperjuangan dengan kita. Dia membantumu bukan hanya untuk duniamu melainkan untuk akhiratmu.” Papar Ayah.
Kansha diam-diam menghela nafas, dia sudah tahu jawaban seperti apa yang dilontarkan oleh ayah Alan itu. Bunda dan Alfin juga diam-diam mendesah. Mereka sepakat secara tak langsung bahwa jalan Alan dan Kansha mendapat restu dari ayah masih panjang.
“Saya tahu om akan mengatakan demikian. Bagaimanapun masalah keyakinan memang masih sensitif di kalangan kita. Tapi saya mencintai Alan dengan tulus, tak peduli seperti apa latar belakangnya, apa keyakinan yang dia anut. Saya hanya melihatnya sebagai pribadi yang saya cintai. Meski kami pada akhirnya akan terhalang restu karena keyakinan kami, saya akan tetap mencintainya.” Terang Kansha.
“Alan minta maaf mungkin keputusan Alan sudah membuat Ayah kecewa. Tapi Alan juga mencintai Kansha apa adanya. Alan tak masalah dengan keyakinan apa yang Kansha anut. Dalam islam, dikatakan laki-laki muslim masih bisa menikah dengan perempuan non-muslim. Dan Alan sudah memikirkan ini matang-matang, bahwa kami masih bisa hidup saling berdampingan meski memiliki perbedaan. Dan bukankah perbedaanlah yang menyatukan? Tapi Alan masih sangat mementingkan restu dari orang tua Alan. Sebagaimana dalam hadist disebutkan bahwa ridho Allah tergantung ridho orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua. Alan menyerahkan keputusan ini sepenuhnya pada ayah dan juga bunda.”
Ayah terdiam cukup lama kemudian mendesah pelan, “Alan, ikut ayah.” Ucapnya tegas. Setelah mengatakan itu ayah segera bangkit dan pergi dari ruang keluarga.
Alan nampak bingung dan cemas namun pada akhirnya memilih mengikuti kemana Ayah pergi. Dan di ruang keluarga hanyalah tinggal bunda, Kansha dan Alfin.
“Kamu berani sekali mengatakan hal itu pada ayah.” Celetuk Alfin.
“Kalau tidak diberanikan maka Om tidak akan melihat seberapa besar tekadku.” Timpal Kansha.
“Bunda, apakah ayah tidak akan merestui kami?” tanya Kansha menatap bunda khawatir.
Bunda tersenyum lembut, “Berdoa saja ya, Nak. Bagaimanapun juga manusia hanya bisa berusaha, keputusan ada pada Sang Kuasa.”
Kansha mendesah pelan, “Maafkan Kansha bunda yang membuat keadaan sepelik ini.” desahnya.
Bunda mengelus rambut Kansha pelan, “Bukan salah kamu kok. Seperti yang dikatakan Alan tadi, yang namanya perbedaan adalah hal yang wajar. Allah bahkan menciptakan makhluk-Nya dengan berbeda-beda. Tidak ada kesamaan apapun kecuali identitasnya sebagai makhluk-Nya.” Jelas bunda.
“Tapi Kansha, apa kamu tidak pernah kefikiran ingin masuk Islam?” celetuk Alfin penasaran.
Bunda memukul paha Alfin pelan, memperingatinya yang berbicara tanpa disaring.
“Sebenarnya Kansha sudah mulai tertarik dengan Islam. Itu semua bermula dari melihat Alan yang berwudhu dan shalat seadanya ketika kami terdampar. Alan juga banyak menjelaskan mengenai Islam membuat Kansha sedikit demi sedikit mulai mengenalnya. Tapi..” Kansha tak melanjutkan ucapannya.
“Tidak apa-apa. Masuk Islam haruslah masuk secara sukarela, tulus dan dengan niatan karena Allah. Tidak perlu dipaksa dan memaksa karena Islam tidak demikian. Kamu harus masuk ke dalam Islam karena niat dari dirimu sendiri. Karena kalau tidak begitu, maka kamu akan sulit menjalaninya yang pada akhirnya kamu malah menyia-nyiakan indetitasmu sebagai muslim.” Ucap bunda.
Alfin mengangguk membenarkan, “Jadi mu’alaf itu sulit. Kamu harus beradaptasi dengan ajaran Islam yang tentunya sangat berbeda dengan ajaran agama lainnya. Contohnya shalat. Shalat adalah ibadah yang wajib dan dilakukan lima kali sehari. Dan karena hukumnya wajib maka tidak ada alasan apapun shalat bisa ditinggalkan. Kamu mungkin melihatnya sendiri ketika Mas Alan yang tetap menjalankan kewajibannya padahal kalian sedang kesulitan karena terdampar di pulau terpencil.”
“Kamu benar karena hal itulah, aku berfikir bagaimana bisa ada agama semenarik itu. Ketika aku pertama kali bertemu Aisyah, aku sangat terpesona dengan kecantikannya yang berbalut hijab. Padahal Aisyah serba tertutup pakaiannya tapi aura kecantikkannya sangat terpancar. Sedangkan mindsetku saat itu adalah wanita memang menarik dengan gaya apapun tapi baru kali ini aku merasa perempuan berhijab sangat cantik. Begitupun ketika aku melihat bunda. Bunda terlihat elegan dan nampak anggun padahal pakaian bunda amat sederhana dan sangat tertutup.” Jelas Kansha sambil memuji bunda dengan tulus.
Bunda tersenyum mendengarnya, “Itu adalah salah satu istimewanya perempuan dalam Islam. Allah sebaik mungkin menutupi aib dan aurat perempuan agar menjadikannya sebagai perempuan terhormat dan bermartabat. Melalui hijab, perempuan pun secara tak langsung dilindungi. Contohnya ketika dia lewat saat ada segerombolan lelaki yang nakal, perempuan yang berpakaian terbuka pasti akan digoda sedikit atau tidaknya. Tapi perempuan berhijab? Apa yang harus digoda ketika bahkan pakaiannya tertutup? Dan cara itulah membuat lelaki akhirnya menjaga pandangannya dari aurat perempuan yang berhijab.”
“Terlebih lagi perempuan yang berhijab nampak terhormat dan anggun. Membuat lelaki manapun akan segan padanya terlebih lagi yang memang kepribadiannya baik.” Tambah Alfin.
Kansha mengangguk setuju. Penjelasan bunda dan Alfin membuka fikirannya lebih luas lagi. Apa yang mereka katakan memang benar. Kansha pernah melihatnya sendiri kala dia dan beberapa teman kampusnya sedang magang.
Kala itu ada segerombolan laki-laki yang berpakaian preman dengan tindik disana-sini serta tato yang menutupi seluruh tubuhnya. Saat itu temannya yang bernama Andine adalah seorang muslimah yang berpakaian amat tertutup dengan hijab yang menjuntai hingga perutnya. Dia dan teman-temannya saat itu terpaksa harus lewat gerombolan orang itu karena harus menuju kantor. Awalnya mereka cemas akan digoda atau dijaili karena mereka melihat beberapa rekan kerjanya sebelumnya digoda oleh mereka namun begitu dia dan teman-temannya lewat dengan Andine, gerombolan lelaki itu diam saja dan tak melirik mereka. Entah karena mereka memang tak sejail yang diduga atau memang karena kehadiran Andine.
Di tengah pemikirannya, suara derap langkah saling beriringan terdengar. Muncul ayah dan Alan dari balik ruang keluarga. Kansha seketika menjadi gugup kembali dan tersentak kala Alan berkata dengan nada lesu.
“Kansha, maafkan aku.”
Jantung Kansa berdebar-debar. Firasatnya mengatakan ada hal yang tak beres.
__ADS_1