My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 126.


__ADS_3

Alvaro berjalan pelan menuju ruangan temannya, Kenan. Meski sudah malam, rumah sakit masih cukup ramai. Banyak pengunjung yang berlalu lalang di sekitaran koridor utama. Cukup berjalan, Alvaro sampai di ruangan Kenan.


Tok Tok


“Masuk.” Ucap Kenan dari dalam. Alvaro pun masuk ke dalam ruangan.


“Kamu sudah datang.” Sambut Kenan langsung menghentikan pekerjaannya begitu Alvaro masuk.


Alvaro mengangguk. “Sudah selesai?” tanyanya.


Kenan tak menanggapinya, dia langsung mengeluarkan sebuah amplop coklat panjang yang didepannya terdapat logo rumah sakit. Lelaki dengan sneli putih itu langsung menyerahkannya pada Alvaro.


“Kamu bisa langsung berangkat besok.” Ucap Kenan.


“Maaf merepotkanmu.” Ujar Alvaro langsung memasukkan surat itu ke saku jasnya tanpa perlu mengeceknya.


“Tidak masalah. Ini sudah tugasku sebagai doktermu. Aku justru yang meminta maaf tidak bisa membantumu lebih banyak soal penyakitmu.” Balas Kenan.


Alvaro tersenyum tipis, “Tidak masalah. Lagipula kamu sudah merekomendasikan dokter untukku. Itu sudah lebih dari cukup. Dan surat rujukan itu, aku minta maaf harus menyusahkanmu untuk membuatnya sekali sebulan.”


“Itu bukan hal yang besar. Hanya perlu mengetik dan mencetak perlembar sebulan sekali. Bukan masalah besar.” Balas Kenan terkekeh.


Alvaro mengangguk, “Sekali lagi terimakasih ya.”


“Sama-sama. Jangan sungkan. Oh ya kalau ada apa-apa, beritahu aku. Aku pasti akan membantumu.”


“Tumben sekali. Hari ini kamu terlihat baik sekali. Ada apa?” tanya Alvaro sambil mengangkat satu alisnya.


“Apakah aku tidak pernah baik padamu?” balas Kenan kesal.


“Tentu saja.” Sahut Alvaro cepat.


Kenan mengatupkan mulutnya mendengar jawaban Alvaro yang spontan. Dia jadi merasa bersalah dan kehilangan kata-kata.


“Aku melakukan ini sejujurnya karena merasa bersalah. Kamu tidak bisa bersatu dengan orang yang kamu cintai gara-gara sepupuku.” Tandas Kenan dengan nada cukup lirih.


“Apa maksudmu?”


Kenan memperbaiki posisi duduknya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Alvaro.


“Aku sudah tahu semuanya. Aura adalah mantan kekasihmu dan dia memaksamu berpacaran karena Kansha, kan?”


Alvaro diam saja.


Karena tak mendapat tanggapan apapun dari Alvaro, Kenan melanjutkan ucapannya.


“Adikku memang seperti itu. Dia terbiasa mendapatkan apa yang dia mau meskipun harus dengan cara kasar atau kejam. Dia juga lebih suka mendominasi lawan jenisnya. Dia tidak suka dikendalikan. Dan karena sifatnya itulah, banyak orang yang tidak nyaman berada didekatnya. Bagi Aura, tidak ada yang salah dan benar. Baginya, selagi bisa dilakukan, dia tidak peduli dengan resikonya. Dia cukup gigih meski kegigihannya untuk hal negatif.” Jelas Kenan.


Alvaro hanya menghela nafas lelah, dia menanggalkan jasnya merasa gerah tanpa sebab, “Dia memaksaku menurutinya karena dia tahu soal kasus kecelakaan itu. Dia tahu bahwa aku menyukai Kansha dan berusaha untuk menghentikannya.” Ujar Alvaro.


“Kamu tahu kenapa dia melakukan itu?”


“Awalnya tidak. Kufikir itu karena dia menyukaiku. Tapi selama kami berpacaran, Aura tidak pernah menunjukkan ciri-ciri itu. Dia sama bersikap dinginnya padaku. Hingga pada akhirnya aku tahu alasan sesungguhnya.”


“Apa itu?” tanya Kenan penasaran.


“Itu karena rasa bencinya pada Kansha. Semua kekejaman yang dia lakukan pada Kansha, dan semua hal yang yang dia lakukan padaku. Itu semata-mata hanya untuk membuat Kansha menderita. Dia tidak peduli dengan perasaan. Dia hanya peduli dan tahu bahwa dia harus membalaskan dendamnya meskipun harus mengorbankan orang lain.” Tutur Alvaro.


Kenan mendesah pelan mendengarnya. “Tidak kusangka Aura menyimpan dendam sebesar itu.”


Alvaro tak menanggapinya. Dia malah terdiam seakan tengah memikirkan sesuatu. Kemudian dia menoleh pada Kenan.


“Menurutmu, haruskah aku mengatakan kebenarannya pada Kansha?”


Kenan balas menatap sahabatnya itu dengan pandangan bingung. “Mengatakan apa?”


“Soal kecelakaan yang melibatkan ibu angkatnya. Aku tidak pernah tenang karena terus kefikiran hal ini.”


“Kalau begitu katakan. Lebih cepat lebih baik.”


Tapi Alvaro malah diam saja. Seakan-akan masih bimbang.


“Kenapa? Kamu belum siap?” tanya Kenan.


Alvaro menanggapinya dengan desahan berat seolah-olah apa yang dikatakan Kenan benar adanya.


“Aku tahu waktu ini akan tiba cepat atau lambat. Tapi aku takut ketika waktu ini tiba, Kansha menjadi membenciku.”


Mendengar penyataan Alvaro, Kenan mau tak mau jadi ikut terdiam. Dia tahu apa yang dirasakan sahabatnya itu.


“Mengatakan kebenaran memang sulit. Orang terkadang tak memedulikan isi kebenarannya, melainkan resikonya nanti. Takut dibencilah, takut dijauhilah, dan ketakutan yang lainnya. Tapi ketakutan itu hanyalah hantu di sudut fikiran kita. Kita yang menstimulasi itu sendiri. Padahal kita tidak tahu kebenaran pastinya. Seharusnya, sesulit apapun kejujuran itu, Kansha akan memaafkanmu karena mau jujur. Lebih baik dia tahu hal itu dari dirimu alih-alih dari orang lain.”


Alvaro baru saja hendak menimpali kala ponsel yang berada di sakunya bergetar. Lelaki itu langsung mengambil ponselnya dan pesan dari Kansha muncul di layarnya.


Kansha


Tolong lacak pelat nomor B 3203 WJF


Alvaro mengernyitkan keningnya kala melihat pesan aneh yang dikirimkan Kansha.


“Pelat nomor?” gumam Alvaro bingung.


“Ada apa?” tanya Kenan menyadari raut kebingungan Alvaro.


“Kansha tiba-tiba saja mengirimiku pesan ini.” ucap Alvaro sembari menyodorkan ponselnya pada Kenan.


Kenan membacanya sekilas. Dia lalu menatap Alvaro dengan pandangan yang sama bingungnya.


“Kamu mengerti? Pelat nomor apa ini? Mungkinkah bukan Kansha yang mengirimnya? Lantas siapa?” Alvaro sungguh tidak mengerti.


Kenan yang awalnya bingung seketika tersentak kaget. Dia menyadari apa maksud pesan yang dikirim oleh Kansha.


“Mungkinkah yang dimaksud Kansha, pelat nomor mobil? Benar kan? B itu untuk Jakarta!”


Alvaro menganga terkejut. Dia baru mengerti apa maksudnya.


“Tapi kenapa Kansha mengirimiku pelat nomor?”


Tiba-tiba Alvaro dan Kenan saling berpandangan. Raut mereka sama-sama menunjukkan reaksi serupa dengan pemikiran yang sama.


“Mungkinkah..” seru keduanya.


Alvaro cepat-cepat memakai jasnya kembali. Dia cepat-cepat berlari pergi meninggalkan ruangan Kenan tanpa sepatah kata lagi.


***


Maaf Nomor yang Anda Tuju sedang Tidak Aktif atau Berada di Luar Jangkauan. Cobalah Beberapa Saat Lagi


Alvaro tak henti-hentinya menelfon nomor Kansha, tapi nomornya tidak aktif. Kekhawatiran makin menggunung di dada lelaki itu. Kenan lalu menelfon orang lain.


“Halo?” sapa seseorang di seberang telfon.


“Halo. Ini aku. Bisakah kamu lacak pelat nomor B 3203 WJF?” pinta Alvaro tanpa basa-basi.


“Tentu saja. Aku akan segera melacaknya.” Ucap orang itu.

__ADS_1


“Terimakasih. Segera hubungi aku bila kamu sudah mendapatkanya.” Balas Alvaro.


Selesai menelfon kenalannya itu, Alvaro melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi. Dia berniat ke rumah Kansha untuk memastikan keberadaan perempuan itu.


Tapi baru saja dalam setengah perjalanan, kenalannya yang tengah melacak pelat nomor menghubungi kembali.


“Halo? Bagaimana?” tanya Alvaro tak berbasa-basi lagi. Dia tidak punya waktu.


“Aku sudah memeriksanya. Dan itu adalah pelat nomor palsu.” Ucap kenalannya.


“Apa?” seru Alvaro terkejut. “Jadi kamu tidak bisa melacak lokasi maupun pemilik mobilnya?” tanya Alvaro lagi.


“Untungnya aku sudah mengeceknya. Dan mobilnya terdaftar resmi. Hanya pelat nomornya saja yang palsu. Jadi aku bisa melacak lokasinya berdasarkan GPS mobil itu.” jawab orang itu.


“Benarkah?”


“Pemilik mobil itu adalah Aura Anastasya. Dan GPS terakhirnya—“


“Apa?!”


Ctit


Alvaro tiba-tiba saja mengerem mendadak. Dia terkejut kala mendengar nama yang tidak asing terucap di bibir rekannya itu.


“Ada apa?” tanya rekannya bingung.


“Siapa tadi namanya?”


“Aura Anastasya. Perempuan kelahiran lima Mare—“


“Aku tahu soal itu. sekarang kirim saja lokasinya.” Potong Alvaro resah.


“Baiklah.” Sahut rekannya.


“Terimakasih. Maaf aku sudah menganggumu malam-malam begini. Nanti kutraktir makan siang.” Ucap Alvaro tak enak.


“Tidak masalah. Lagipula ini sudah menjadi tugasku sebagai polisi.”


“Apa maksudmu?”


“Kamu memintaku melacaknya karena kasus penculikan, kan? Perlu kukirim bantuan polisi?”


Alvaro terdiam lalu mengiyakan. “Tolong kirim polisi. Ini sudah masuk dalam tahap kriminal. Dan tentunya kalian yang berwenang mengatasinya.” Ucap Alvaro.


“Baiklah kalau begitu.”


“Sekali lagi terimakasih ya atas bantuanmu.” Ucap Alvaro lagi.


“Sama-sama. Berhati-hatilah. Kami akan segera menyusul.”


“Baiklah. Sampai jumpa.” Tutup Alvaro.


Selesai menelfon, Alvaro kembali menelfon seseorang.


“Halo?”


“Segera ke alamat yang kurimkan padamu.”


“Ada ap—“


“Jangan banyak tanya. Nanti aku jelaskan begitu kamu tiba.” Potong Alvaro.


“Tidak mau! Atas dasar apa aku mematuhi perintahmu tanpa alasan yang jelas?! Cepat Katakan!” tuntut Nana di seberang telfon.


Alvaro mendesah pasrah. “Kansha diculik dan aku sedang mengejar mobil yang membawanya.”


“Apa?!”


***


Ceklek


Zakariya datang ke kamar anaknya dengan membawa segelas susu putih.


“Minum susu dulu, nak. Agar tidurmu nyenyak.” Ucap Zakariya lembut.


Aisyah menerima segelas susu itu dan langsung menengguknya hingga tandas. Setelah itu dia menaruh gelas itu di nakas.


“Terimakasih, Abi.” Ucap Aisyah tersenyum.


Zakariya balas tersenyum. Dia menatap Aisyah penuh kasih sayang. Tangannya yang telah menua mengusap lembut surai kecoklatan Aisyah.


“Abi sayang sekali dengan Aisyah.” ucap Zakariya.


Aisyah tersenyum sembari memegang tangan Zakariya yang berada di pucuk kepalanya.


“Aisyah juga sangat menyayangi Abi. Maafkan Aisyah yang selama ini telah khilaf dan banyak berbuat dosa.” Balas Aisyah merasa menyesal.


“Tidak apa-apa, Nak. Abi sudah memaafkanmu. Dan Abi bersyukur kamu sudah bertobat dan meminta ampun pada Allah.” Ucap Zakariya.


“Tapi Abi ada satu yang mengganjal di hati Aisyah.” ucap Aisyah menatap Abinya penuh keresahan.


“Apa itu, Nak?” tanya Zakariya penasaran.


“Mbak Kansha. Aisyah amat merasa sangat bersalah padanya.” Jawab Aisyah pelan.


“Sudah meminta maaf padanya?” tanya Abi tenang.


Aisyah mengangguk lalu menggeleng membuat Zakariya mengernyit bingung.


“Aisyah merasa seberapa banyak pun Aisyah meminta maaf pada Mbak Kansha rasanya belum cukup untuk menebus dosa Aisyah padanya.”


“Aisyah, minta maaf adalah sesuatu hal yang wajib dilakukan oleh setiap manusia yang bersalah. Entah diterima atau tidak, yang penting kita sudah berusaha. Permintaan maaf adalah bentuk penebusan diri kita dari kekhilafan kita yang sudah disadari. Jangan merasa ragu. Minta maaflah meskipun kamu tidak bersalah. Karena maaf adalah bagaimana kamu memenangkan egomu sendiri.” Nasihat Zakariya.


Aisyah mengangguk mengerti.


“Aisyah ingin menelfon Mbak Kansha dulu.” ucap Aisyah. Zakariya mengangguk menyilakan.


Aisyah langsung menelfon Kansha namun seperti yang bisa ditebak, saat ini ponsel Kansha tidak bisa dihubungi. Kebingungan juga tercetak jelas di kening perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu.


“Ponsel Mbak Kansha tidak aktif.” Gumam Aisyah.


“Ada apa, Nak? Kansha sudah bisa dihubungi?”


Aisyah menggeleng, “Ponselnya tidak aktif. Mungkin Mbak Kansha sedang bersama Mas Alan. Aisyah akan menghubungi Mas Alan. Semoga saja dijawab.” Harap Aisyah.


“Halo, Assalamu’alaikum.” Sapa seseorang yang suaranya amat familiar. Dia Alan tapi dengan nada panik.


“Waalaikum salam, Mas Alan! Alhamdulillah Mas masih mau menerima telfon dari Aisyah.” ucap Aisyah bahagia.


“Ada apa?” tanya Alan langsung.


“Maaf sebelumnya mas, bila Aisyah menganggu. Tapi apa Mbak Kansha sedang bersama mas? Aisyah sudah menghubunginya tapi tidak dijawab.”


Hening disana membuat Aisyah bingung. mungkinkah sambungannya terputus? Aisyah langsung mengecek ponselnya, tidak, sambungan telfonnya masih terhubung.

__ADS_1


“Halo, mas?” tegur Aisyah.


“Ah iya?”


“Mbak Kansha bersama Mas kan?” tanya Aisyah lagi.


“Sebenarnya..kamu yakin kamu tidak tahu dimana Kansha?” tanya balik Alan.


“Apa maksud mas? Tentu saja Aisyah tidak tahu. Bukankah Aisyah menghubungi mas karena bertanya keberadaan Mbak Kansha?” Aisyah semakin bingung.


“Benar juga.” rutuk Alan dari seberang telfon.


“Ada apa memangnya, Mas? Jangan bilang, terjadi sesuatu dengan Mbak Kansha?” tebak Aisyah.


“Sebenarnya..” Alan menjeda ucapannya. Dia menghela nafas berat.


“Katakan, mas!” seru Aisyah cemas.


“Kansha diculik.” Hening sesaat kemudian suara Alan kembali terdengar, “Oleh Aura.”


“APA?” pekik Aisyah syok.


“Ada apa, Nak?” tanya Zakariya ketika melihat ekpresi syok Aisyah.


“Mbak Kansha, Abi, Mbak Kansha diculik!” lirih Aisyah tergagap-gagap.


“Apa?” seru Zakariya terkejut.


“Aisyah harus kesana. Aisyah harus menyelamatkannya.” Ucap Aisyah panik. Dia langsung menutup telfon Alan begitu meminta alamat dari Alan.


“Aisyah tunggu!” cegah Zakariya mencekal pergelangan tangan anaknya yang hendak melangkah keluar kamar.


“Ada apa lagi, Bi?” tanya Aisyah yang sudah dikuasai kepanikan.


“Tenang dulu. Jangan panik. Kamu tidak bisa kesana sendirian tanpa persiapan apapun. Bagaimana kalau disana malah membahayakan nyawamu?”


“Abi, Aisyah harus menolong Mbak Kansha. Mbak Kansha dalam bahaya!” tukas Aisyah.


“Iya, Abi tahu. Tapi apa yang bisa kamu lakukan untuk menolongnya? Biarkan saja para polisi dan Alan yang mengurusnya. Kamu tidak perlu kesana karena yang ada kamu juga dalam bahaya.”


“Abi!” seru Aisyah tak percaya bercampur emosi. “Aisyah tidak peduli soal itu. kalaupun Aisyah harus mengorbankan nyawa Aisyah demi Mbak Kansha, Aisyah ikhlas Bi!”


“Aisyah, jangan sembarangan bicara.” Tegur Zakariya. “Kamu tetap disini, jangan kemana-mana. Abi tidak akan mengizinkanmu kemanapun!” tandas Zakariya tegas.


“Abi, Aisyah tidak bisa. Aisyah harus kesana menolong Mbak Kansha. Aisyah takut terjadi sesuatu dengannya.” mohon Aisyah.


“Tidak, Aisyah. Abi tidak akan mengizinkannya.” Tegas Zakariya.


“Abi, Mbak Kansha juga manusia dan bukankah kita sebagai sesama manusia harus saling menolong?”


“Tpai tidak dengan membahayakan nyawamu, Aisyah. Banyak yang menyalamatkan Kansha, kamu tidak perlu ikut.” Keukeuh Zakariya. Dibanding pada Kansha yang bukan siapa-siapanya, dia jelas lebih mengkhawatirkan keselamatan Aisyah, putrinya.


Aisyah sudah kehabisan kesabaran. Wajahnya memerah menahan tangis dan emosi.


“MBAK KANSHA ADALAH KAK AZZAHRA, PUTRI KANDUNG ABI JUGA!” pekik Aisyah. Biarlah dia disebut durhaka sekali ini, tapi dia sungguh sudah kehilangan kesabaran dan muak harus menutup-nutupi semuanya.


“Apa kamu bilang?” Zakariya menatap syok.


“Mbak Kansha adalah Kak Zahra. Azzahra Zakariyanissa. Putri kandung Abi yang Abi singkirkan seolah sudah tak ada.” jelas Aisyah dengan air mata yang jatuh.


Zakariya terdiam tak percaya. Wajahnya mengeras dengan bibir yang tiba-tiba saja pucat.


“Maafkan Aisyah, Abi. Tapi Aisyah izin pergi. Aisyah harus menyelamatkan kakak kandung Aisyah.” pamit Aisyah.


Dia mengambil tangan Abinya yang masih terdiam kaku dan menciumnya. Setelah itu berlari pergi meninggalkan Zakariya yang masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.


***


Sebuah sinar redup tertangkap retina sayu Kansha. Dia mengedip-ngedipkan matanya. Berusaha menangkap lebih jelas cahaya-cahaya itu. Setelah membuka mata dengan sempurna, Kansha tersentak kaget bahwa dia sudah tak lagi di mobil Aura melainkan di sebuah tempat gelap yang asing.


“Sshh. Dimana ini?” gumamnya meringis pusing.


Dia tak ingat mengapa bisa dirinya tiba-tiba saja berada di tempat asing ini. Yang dia ingat terakhir kali adalah, begitu dia berbalik menyamping menatap jendela, sebuah benda berat dipukulkan ke tengkuknya. Setelah itu semuanya gelap dan tahu-tahu dirinya sudah berada disini. Dalam keadaan duduk terikat.


“Sialan, kamu Aura!” desis Kansha marah. Dia tahu bahwa Aura yang membuatnya pingsan dan membawanya kesini.


Kansha mengedarkan sekelilingnya, tidak apapun disini kecuali tumpukan kardus kosong yang tergeletak sembarang di lantai semen yang kotor. Tak ada pencahayaan apapun kecuali satu sinar neon yang bergelantungan di langit-langit rendah. Bau khas angin malam dan sapaan pepohonan yang daun-daunnya rapat menyelimutinya menimbulkan suasana dingin dan mencekam. Kansha jelas tidak tahu dimana dia sekarang. Dia bahkan tidak yakin bahwa ini masih di Jakarta.


“Sudah bangun, Putri Tidur?” sapa seseorang dari kegelapan malam.


“Lepaskan aku, Aura.” desis Kansha menatap tajam Aura yang datang membawa seekor kelinci putih.


“Masih ingat ini?” Aura mengabaikan Kansha dan malah bertanya tentang kelinci yang dia bawa.


“Semua orang tahu bahwa itu kelinci. Kamu buta apa?!” desis Kansha kesal.


Aura hanya tersenyum tak merasa marah dengan ucapan Kansha yang mengatainya.


“Ini adalah kelincimu. Kelinci yang diberikan Kania padaku sewaktu kecil. Masa kamu lupa?”


Kansha terdiam kaget. Dia menatap kelinci itu dengan seksama, seolah memastikannya.


“Ini adalah hadiah terakhir dari Kania untukku. Meski aku tak sudi menerimanya karena baru tahu ini adalah milik adiknya. Tapi aku masih bersyukur karena kelinci ini adalah salah satu saksi bahwa Kania pernah menjadi malaikatku di dunia yang kelam dan jahat ini. Tidak—dia bukan hanya pernah, melainkan akan selalu menjadi malaikatku. Meski pertemuan kami cukup singkat, tapi aku sangat bergantung padanya. Aku belum pernah melihat ada orang yang menganggapku berharga kecuali Kania. Dan kehilangan Kania, meruntuhkan semua duniaku.” Tutur Aura.


“Setelah kematian Kania, satu persatu mulai diambil dariku. Dimulai dari kematian mamaku yang berujung pada semua keluarga kami yang menjauh. Papa yang semakin sibuk dan akhirnya meninggal dunia akibat perbuatannya sendiri. Tapi brengseknya, lelaki itu malah menggoreskan luka lagi di hatiku. Dia menyumbangkan semua asetnya pada yayasan Williams tanpa sedikitpun memikirkanku, anaknya.” Lanjut Aura emosi.


“Tapi tidak masalah.” Aura mengangkat bahunya acuh, “Toh aku juga akan pergi dari dunia ini. Dan disana tidak perlu harta, kan? Tapi tenang saja, aku tidak akan mati sekarang. Tidak sebelum aku membunuhmu.” Aura tiba-tiba menyeringai jahat.


Kansha merasa bulu kuduknya merinding. Dia baru menyadari bahwa Aura amat berbeda kali ini. Tidak ada binar nakal maupun kebencian yang biasa diperlihatkan padanya. Hanya ada tatapan datar tanpa harapan. Kansha rasa, Aura memang sudah seputus asa itu.


“Nah, sebeum itu, kita harus mengeksekusi yang lain dulu. Anggap saja persembahan untuk Kania sebelum aku membawakan rohmu padanya.” ujar Aura.


“Jangan bilang—“ Kansha tak melanjutkan ucapannya. Dia terlalu ngeri bahkan untuk sekedar membayangkannya.


“Kita harus membunuhnya. Agar tidak ada yang tersisa lagi.” Balas Aura.


Dia menaruh kelinci itu di lantai, tepat didepan Kansha yang kini sudah membeku ketakutan. Aura lalu mengambil sebilah pisau tajam dari sarung sakunya.


“Kamu gila! Psikopat!” umpat Kansha tak percaya.


“Yeah, anggap aku begitu. Lagipula ini hanyalah hewan, tidak perlu bereaksi seperti itu.” tukas Aura santai.


“Baiklah, kita mulai. “ Nada suara Aura yang terlewat ceria itu membuat Kansha makin ketakutan. Dia berusaha menutup matanya kala pisau tajam itu sudah terangkat hendak menuju leher kelinci itu. “Jangan tutup matamu. Kalau kamu berani melakukannya, akan kucongkel matamu dua-duanya.” Ancam Aura menoleh pada Kansha sambil menodongkan pisau.


“Kamu gila, Aura! jangan lakukan itu!” seru Kansha panik.


“Diamlah. Aku jadi tidak bisa berkosentrasi.” Seru Aura. Dia menatap kelinci putih itu dengan pandangan datar.


“Sebentar lagi, kamu akan menemui pemilikmu. Bukan dia, tapi Kania. Ingat itu.” Bagai sudah gila, Aura malah berbicara dengan kelinci itu.


Dan begitu selesai berbicara, Aura mulai mengangkat pisaunya menuju leher kelinci itu. kansha yang melihatnya merasa ngeri dan tak ingin melihatnya. Keringat sudah membanjiri wajah cantiknya. Meski kelinci memang sering disembelih karena bisa dimakan, tapi tetap saja ini menakutkan untuknya. Terlebih Aura melakukannya seakan-akan dia sudah sakit jiwa.


“Selamat tinggal, kelinci putihku.” Ucap Aura riang. Dia menekan pisau tajam itu ke leher kelinci itu.


“Tidak! Aaaa!” teriak Kansha ketakutan setengah mati.

__ADS_1


Srrrhh


Dan darah merah mengalir deras menyebar di seluruh lantai kotor nan berdebu itu.


__ADS_2