My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 68.


__ADS_3

Gempa bumi itu seakan mimpi. Mimpi siang bolong yang tak akan pernah diduga. Namun yang dihadapan mereka adalah nyata. Reruntuhan tanah dan bangunan adalah bagai cipratan air yang membawa mereka pada kesadaran. Masalahnya semuanya terlalu tiba-tiba.


Namun itulah bencana, selalu datang tanpa permisi dan pergi tanpa izin.


"Bagaimana ini? Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba gempa?" cerocos Andi panik. Dia menatap Alfin dengan frustasi.


"Bencana memang tak pernah terencana. Itu adalah takdir." balas Alfin pelan.


Andi mengusap rambutnya dengan kasar. Pandangannya menoleh pada warga yang berkerumun ketakutan. Suara jeritan dan tangisan bersatu padu. Malam yang tadinya hening, kini berubah ramai.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Andi dengan nada tak sabaran.


Alfin tak menjawab. Dia malah mengambil ponselnya. Setelah dihidupkan, terlihat batang sinyal yang kosong. Sebelum gempa, sinyal disini masih level edge, tetapi begitu gempa, sinyalnya terputus dan tak ada sama sekali. Alfin pun kembali memasukkan ponsel ke saku celananya. Tindakannya itu diperhatikan oleh semua anggotanya.


"Tidak ada sinyal?" tebak Nana. Alfin mengangguk. Semua orang pun mendesah pelan.


"Jadi bagaimana? Kita tidak mungkin diam saja bukan? Terlebih ada beberapa korban yang tertimbun reruntuhan." tukas Putri.


"Untuk malam ini, kita semua hanya bisa menyerahkan pada Tuhan. Semoga para korban selamat. Kita tidak bisa melakukan penyelamatan malam ini, tidak dengan peralatan seadanya. Semoga saja Tim SAR bisa segera datang." kata Alfin.


"Jadi malam ini kita hanya diam saja begitu? Lalu apa gunanya kita disini?!" seru Rendy marah.


"Tenangkan dirimu! Maksud Alfin itu baik." lerai Nana.


"Dokter Alfin benar. Malam ini kita tidak bisa melakukan apapun. Yang ada kalau kita memaksakan menyelamatkan korban, nyawa kita juga akan terancam. Lebih baik menunggu esok tiba. Siang jauh lebih baik dibanding malam bukan? Dimana sinar matahari bisa menjadi penerang kita." ucap Niko bijak.


"Niko benar. Melakukan pencarian di malam hari terlalu berbahaya. Kita juga tidak profesional dalam hal itu. Lebih baik malam ini kita menghemat energi dan menghibur para warga. Kita berdoa semoga para warga yang terjebak reruntuhan selamat." timpal Alfin.


Semua anggota mengangguk menyetujui termasuk Rendy yang sempat emosi.


"Oh ya, terus cek ponsel kalian. Dan bila sudah ada sinyal, segera hubungi Tim SAR." titah Alfin.


"Baik, dokter." angguk semua anggota.


***


Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi.


Kansha terus menelfon nomor Nana namun suara operatorlah yang terus menjawab. Kansha mondar mandir di ruangannya. Disampingnya ada Seli yang sedang menghubungi Tim SAR.


"Baik, bila ada kabar terkini, segera hubungi saya."


Seli mematikan telfonnya. Dia pun menatap direkturnya yang terus berjalan mondar mandir sembari terus menelfon sahabatnya. Tampak di wajahnya, kekhawatiran yang mendalam.


"Bu, saya sudah menghubungi Tim SAR." celetuk Seli.

__ADS_1


Kansha berhenti mondar-mandir. Dia dengan secepat kilat duduk di depan Seli. Menatapnya dengan penuh harap.


Semoga kabar baik, batinnya dengan penuh harap


"Tim SAR sudah mengetahui mengenai gempa bumi tersebut. Badan Meteorologi setempat pun sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Katanya besok subuh mereka akan menuju lokasi bencana untuk melakukan evakuasi."


"Besok? Kenapa tidak malam ini?" protes Kansha.


"Katanya jalur menuju lokasi gempa, sangat sulit diakses. Belum lagi tidak ada penerangan di malam hari. Mereka juga cemas bila sewaktu-waktu terjadi longsor atau malah gempa susulan." jawab Seli.


Kansha merenung. "Malam hingga esok hari berarti 12 jam. 12 jam mereka akan kesulitan meminta bantuan. Bagaimana dengan Nana? Kalau terjadi apa-apa bagaimana?" seru Kansha frustasi. Dia menunduk dengan rambut sudah acak-acakkan.


"Bu, ibu jangan berfikir aneh-aneh. Saya yakin, Bu Nana baik-baik saja. Kita serahkan semuanya pada Tuhan." hibur Seli.


Kansha mendesah pelan. Air matanya menitik. Kehilangan Nana adalah salah satu ketakutannya yang terbesar. Kansha belum siap bila harus kehilangan sahabat terbaiknya yang sudah dia anggap sebagai keluarga.


Lindungi Nana, aku mohon pada-Mu, doa Kansha dalam hati.


***


Keesokan paginya, Kansha baru saja mendapat kabar bahwa Tim SAR sudah berangkat menuju Desa Mauri. Mendengarnya, Kansha menghela nafas lega.


"Tunggu sebentar." Kansha tiba-tiba menghentikan pekerjaannya. Dia teringat sesuatu.


"Bukankah Alfin juga ikut bersama Nana kesana? Kira-kira Alan dan keluarganya sudah tahu belum?" gumamnya.


Kansha


Alan, bisa kita bertemu?


Kansha mengetuk-ngetuk jemarinya sembari menunggu balasan Alan. Tak lama, Alan membalas.


Alan


Kalau kamu tidak keberatan, kita bertemu di rumah sakit.


Kansha membulatkan matanya. Rumah sakit? Siapa yang sakit? Alan? Tapi tidak mungkin. Dia baik-baik saja kemarin. Atau jangan-jangan keluarganya yang sakit?


"Aisyah..dia kolaps. Aku harus ke rumah sakit sekarang!"


Tiba-tiba kilasan perkataan Alan menghampiri benaknya. Seakan-akan memberikan jawaban atas pertanyaannya barusan. Kansha memejamkan matanya dan dengan pelan berusaha meredakan nyeri di ulu hatinya.


Ingat, Kansha, Alan memang calon suami Aisyah batinnya terus memperingatkan.


Kansha

__ADS_1


Kirimkan alamatnya padaku.


Kansha menghela nafas begitu pesannya sudah terkirim. Dia benar-benar mencari penyakit.


***


"Nona, kami sudah memastikannya bahwa Kansha Adindra Williams memang Azzahra Zakariyanissa."


Aura tak bereaksi apapun. Dia sudah menduga hal ini karena itulah dia mau membantu Aisyah mencari keberadaan kakaknya. Karena lagi-lagi, benang merahnya selalu terpaut pada Kansha. Firasatnya kembali tepat.


"Bagus. Terimakasih atas kerja kerasmu." puji Aura.


Joe mengangguk sopan. "Tapi Nona, mengapa Anda bisa tahu bahwa Azzahra adalah Kansha?" tanya Joe penasaran.


Aura tersenyum kecil, di balik mejanya, dia menatap bawahannya melalui cermin kecil.


"Karena intuisi seseorang yang membenci selalu lebih tajam. Dalam kata lain--semacam hadiah pembalasan dendam dari Tuhan?"


Joe tersentak. Dalam benaknya dia berfikir, bagaimana bisa Tuhan memberikan hadiah sebagai pembalasan dendam? Tuhan tak pernah melakukannya. Hanya manusia yang merasa demikian karena rasa dendam yang sudah menyelimuti. Joe geleng-geleng kepala.


"Joe, kamu tahu apa yang terjadi begitu patih lawan berada didepan raja?" celetuk Aura.


Joe mendongak dan bertanya polos, "Maksud Anda dalam catur?" Aura mengangguk.


"Maka akan skakmat." jawab Joe.


"Itulah yang akan terjadi pada Kansha. Perempuan jalang itu harus menerima konsekuensinya." ucap Aura penuh dendam.


"Apa yang akan Anda lakukan pada Kansha?" tanya Joe.


"Apa lagi? Kalau bukan menghancurkannya. Tapi kali ini aku tidak sendirian. Ada saudarinya yang akan membantuku. Dia adalah eksekutorku."


"Maksud Anda..."


"Benar." Aura mengangguk, "Aku akan mendapat bayaranku. Aisyah akan memberikannya secara sukarela. Kehancuran Kansha adalah bayaran pantas untukku."


"Anda yakin bahwa Aisyah akan membantu Anda dan melawan kakaknya?"


"Tentu saja kalau Aisyah tidak mengetahui kebenarannya. Kamu tahu..rasa sakit apa yang paling menyakitkan?"


Kali ini Joe menggeleng.


Aura mengulas senyum licik, "Rasa sakit yang paling menyakitkan adalah rasa sakit karena ditusuk dari belakang oleh saudarinya sendiri."


"Dan Kansha akan merasakannya."

__ADS_1


Begitu kalimat itu selesai diucapkan, sebuah sumpah penuh dendam pun sukses dilayangkan. Dimana sumpah itu, Aura berjanji akan membayar semua rasa sakit dan kehancurannya yang disebabkan Kansha. Akan Aura ajari soal pelajaran timbal balik. Dimana dia hancur, maka Kansha pun harus hancur. Baru Aura bisa tenang.


__ADS_2