My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 109.


__ADS_3

Begitu Aura menutup telfon, dia membeku. kabar mengenai meninggalnya ayahnya membuatnya syok dan tak bisa berfikir jernih.


Apa yang akan dia lakukan setelahnya?


Alvaro yang melihat Aura hanya membeku langsung mendekat.


“Aura, kamu baik-baik saja?” tanya Alvaro khawatir.


Aura menatap Alvaro dengan linglung, “Tadi polisi mengabari bahwa ayahku terlibat kecelakaan dan meninggal di tempat, benar kan?”


Alvaro hanya terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.


Aura mengerti arti keterdiaman Alvaro. Dia langsung terduduk dengan lunglai. Alvaro tak sempat menahan tubuhnya.


“Aura,” ucap Alvaro tambah cemas.


“Dia pergi. Dan aku sungguh sendirian.” Lirihnya.


Alvaro menjadi tidak tega melihat Aura yang terlihat rapuh itu. Meski perempuan itu tidak menangis, tapi dia tahu bahwa Aura merasa sangat sedih. Gadis itu memang memiliki mental yang kuat.


“Kita pastikan kebenarannya ke rumah sakit.” Ajak Alvaro pelan.


Aura menggeleng, “Aku tidak ingin.”


“Kenapa?” tanya Alvaro bingung.


“Sudah cukup aku menyaksikan sendiri kepergian ibuku, kini tidak dengan ayahku. Aku tidak sanggup kesana dan menghadapi kenyataan bahwa aku benar-benar sudah sendirian.” Ucap Aura lirih.


Alvaro mendesah pelan, dia lalu mengusap bahu Aura, “Kamu tidak sendirian. Aku yang akan menemani kamu kesana.”


***


Alvaro menuntun Aura ke rumah sakit tempat jenazah papanya terbaring. Di depan UGD, sudah ada beberapa polisi lalu lintas yang tengah berbicara dengan seseorang saksi mata. Begitu menyadari kehadiran Aura dan Alvaro, para polisi itu langsung menghampirinya.


“Anda keluarga Pak Hans?” tanya salah satu polisi.


Aura tidak menjawab, dia hanya menatap lurus hingga Alvaro yang menjawabnya.


“Perempuan di samping saya adalah putri kandungnya.” Balas Alvaro melirik Aura.


“Ah begitu.” Polisi itu mengangguk. “Ini pasti sangat mengejutkan bagi putrinya.” Lanjutnya merasa empati pada Aura.


“Oh ya, untuk jasad Pak Hans ada dimana?” tanya Alvaro hati-hati.


“Jasad Pak Hans masih berada di ruang UGD. Waktu kematiannya sekitar pukul 12.40.” ucap polisi itu. Aura yang mendengarnya hanya bisa memejamkan matanya. Dia kembali terpukul kenyataan.


“Kamu ingin melihatnya?” tanya Alvaro pada Aura.


Aura menggeleng, “Tidak sekarang.” Balas Aura lirih. Alvaro mengangguk maklum.


“Sebenarnya bagaimana kronologi kecelakaannya?” tanya Alvaro kembali menatap polisi itu.


“Menurut saksi mata di lokasi kejadian, mobil yang dikendarai Pak Hans melanggar lalu lintas jalan. Korban melanggar lampu merah dan naasnya saat itu ada truk yang melaju berlawanan arah. Pak Hans tidak sempat menghindar dan akhirnya terjadi tabrakan yang cukup keras. Kemudian Pak Hans dinyatakan tewas ditempat.” Jelas polisi itu.


Alvaro kembali Aura untuk melihat reaksinya. Namun Aura hanya terdiam dengan mata memejam. Alvaro pun kembali menatap polisi.


“Lalu bagaimana dengan supir truk itu? Apakah ada korban jiwa lainnya?” tanya Alvaro.


“Untungnya korban yang merupakan satu supir truk dan satu lainnya hanya mengalami patah tulang dan luka-luka di sekitar wajahnya. Namun meski begitu keluarga korban ingin meminta kerugian akibat hal ini.”


“Mereka tidak akan membawa ini ke jalur hukum bukan? Karena tergugat sudah meninggal.” Ucap Alvaro.


“Mereka hanya meminta uang ganti rugi pengobatan rumah sakit dan kerusakan pada badan depan truk yang terbentur dengan mobil Pak Hans.”


“Kalau begitu---“ Alvaro tak menyelesaikan ucapannya, karena Aura terlebih dahulu memotongnya.


“Saya akan memberikan kompensasi sangat besar untuk keluarga korban termasuk para saksi yang melihat kejadian ini. Dengan syarat jangan sampai pemberitaan soal papa saya yang melanggar rambu-rambu lalu lintas tersebar ke publik.” Pungkas Aura.


“Aura, kamu ingin menyuap mereka?” bisik Alvaro.


“Itu bukan suap. Lagipula papa saya yang memang bersalah, sudah sepatutnya kami mengganti rugi. Saya hanya meminta jangan sampai hal ini bocor ke publik atau reputasi perusahaan kami akan hancur.” Ucap Aura datar.


“Kepada semua polisi yang sudah bekerja keras menyelamatkan papa saya, saya juga akan memberi kalian kompensasi asal kalian tutup mulut mengenai kejadian ini.” lanjut Aura menatap polisi dihadapannya itu.


Polisi itu dengan ragu-ragu mengangguk.


“Sekarang, saya ingin melihat jenazah papa saya.”


***


Kansha sedang duduk sambil menekuk lutut di kamar apartementnya. Setelah dari pemakaman, Kansha langsung mengurung diri di kamar apartementnya. Dia tidak keluar sama sekali meskipun hanya untuk mengisi perut. Perempuan itu hanya terus berdiam diri dengan pandangan sayu.


Drrt


Ponselnya bergetar. Kansha dengan lesu mengambil ponselnya yang berada di samping badannya. Rupanya ada panggilan dari Alan di layarnya. Kansha cukup lama hanya terdiam menatap layar hingga pada akhirnya dia menekan tombol hijau.


“Halo.” Ucap Kansha pelan.


“Kansha? apa kamu sibuk?” tanya Alan.


“Sedikit. Ada apa?” tanya balik Kansha.


Namun diseberang telfon, Alan nampak mengerutkan dahinya. Dia merasa ada yang tidak biasa dari nada bicara Kansha tersebut.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Alan sedikit khawatir.


Kansha mengangguk pelan, “Aku hanya kelelahan.” Balasnya jujur. Dia memang kelelahan akibat terus menerus menangis.


Di telfon, Alan terdengar menghela nafas lega. Setidaknya Kansha tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan. Alan takut terjadi sesuatu padanya.


“Kamu sudah makan?” tanya Alan.


Kansha kini menggeleng, “Aku tidak terlalu lapar.” Tolaknya.


“Jangan bilang seperti itu. aku akan ke tempatmu, kita makan siang bersama.” Tandas Alan.


Kansha terdiam sebentar lalu mau tak mau mengiyakan, “Aku di apartement. Nanti kukirimi alamatnya.”


***


Ting tong


Suara bel terdengar di apartement Kansha. Terlihat Kansha langsung menuju pintu. Dia membuka pintu dan ada Alan yang berdiri didepannya dengan dua tangan mengangkat tas penuh belanjaan.


“Kejut—“ Alan tiba-tiba berhenti berkata dan malah langsung berubah cemas. “Ada apa dengan wajahmu? Kamu sakit?” tanya Alan menaruh belanjaan di lantai dan mendekati Kansha.


Kansha sedikit tersenyum, “Aku tidak apa-apa.” Ucap Kansha menggeleng.


Alan menaruh punggung tangannya di dahi Kansha, “Kamu sedikit demam.” Serunya.


Kansha menepis tangan Alan yang bertengger di dahinya dengan lembut kemudian menggenggamnya, “Sudah kubilang aku hanya kelelahan. Jangan terlalu khawatir,” Tukasnya lembut.


Alan balas menggenggam kedua tangan Kansha dengan satu tangannya lagi, “Kamu pasti lelah karena pekerjaanmu. Aku minta maaf, tidak bisa membantumu.” Ucap Alan.


“Apa maksudmu, aku tidak masalah. Ini pekerjaanku sendiri. Kamu tidak perlu membantuku.” Tukas Kansha. “Ayo masuk, tidak baik berdiri terlalu lama.” Ajak Kansha.


Alan mengangguk, “Kamu masuk duluan.” Ucapnya lembut. Kansha mengangguk, dia langsung masuk kedalam rumah sedangkan Alan mengambil barang belanjaannya yang tadi tergeletak di lantai. Setelah itu masuk ke dalam apartement dan menutup pintu.


“Untungnya aku membeli bahan untuk membuat sup. Oh ya kamu punya beras kan?” tanya Alan sambil menaruh barang belanjaannya ke atas pantry.


“Iya punya.” angguk Kansha.


“Aku akan membuatkanmu bubur dan selama itu, kamu beristirahat di kamarmu.” Ucap Alan.


“Kamu ingin memasak?” tanya Kansha tidak percaya.


“Kenapa memangnya? Ah, kamu meragukanku ternyata.” Dengus Alan merengut merajuk.


“Bukan begitu. Aku hanya belum pernah melihatmu memasak jadi aku cukup kaget kamu mengajukan diri ingin memasak.” Sanggah Kansha.


“Kalau begitu kamu harus mencicipi makananku. Dijamin enak karena dibuat dengan penuh cinta.” Ucap Alan percaya diri.


Kansha tersenyum lebar, “Kalau begitu aku ingin mencoba masakanmu, Chef Alan.” ucap Kansha.


“Siap, nona. Masakan spesial penuh cinta dari pemiliknya akan dihidangkan tiga puluh menit lagi.” Ujar Alan mantap.

__ADS_1


***


Dan seperti dijanjikan Alan, Kansha keluar kamar setelah tiga puluh menit. Namun alih-alih mencium aroma sedap masakan, dia malah mencium bau gosong. Cemas, Kansha bergegas ke dapur.


“Bau apa ini?” tanyanya sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya.


Kemudian matanya membelalak kala melihat ayam goreng yang sudah sangat hitam di wajan yang di atas kompor yang menyala. Minyak untuk menggorengnya bahkan sudah hampir habis dan malah menghitam.


“Alan. kamu menggoreng ayam atau wajan sih?” tanya Kansha horor. Dia segera mematikan kompor.


“Aku juga tidak tahu bagaimana bisa gosong. Kansha, tolong kamu cek penanak nasinya sudah matang belum. Aku sedang menambahkan gula ke supnya.” Ucap Alan kewalahan.


“Maksudmu cek nasi yang ada di penanak nasi sudah matang atau belum.” ralat Kansha. Dia lalu menuju penanak nasi dan melihat lampu kecil yang menyala disana.


“Sudah matang.” Ucap Kansha dan ketika dia berbalik menghadap Alan, terlihat Alan sedang membuang kaldu sup ke wastafel.


“Eh, apa yang kamu lakukan? Kenapa malah membuangnya?” tanya Kansha kaget.


“Ini keasinan.” Ucapnya meringis.


“Terus kamu buang kaldunya begitu saja?” tanya Kansha tak percaya.


“Aku sudah banyak memasukkan gula dan air tapi rasanya makin aneh jadi aku membuang airnya saja dan membuat yang baru.” Jelas Alan merasa malu.


Kansha ternganga. Dia mengurut pelipisnya, pusing dengan pemikiran ajaib Alan. Dia baru menyadari bahwa Alan memang tidak bisa dipercaya. Katanya lelaki itu pintar memasak tapi nyatanya di luar ekspetasi. Sia-sia saja dia menunggu selama tiga puluh menit yang hanya untuk membuat dapurnya berantakan.


“Minggir.” Usir Kansha pelan. Alan bergegas pindah ke samping.


“Apa yang kamu mau lakukan?” tanya Alan kala melihat Kansha mengambil celemek lainnya.


“Memperbaiki kekacauan yang kamu buat.” Balas Kansha penuh penekanan.


Alan hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya,” ucapnya lirih.


Kansha hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia lalu menggulung lengan bajunya dan mencuci tangan. Melihat ada Alan yang menghalanginya bergerak, Kansha menatap tajam menyiratkan untuk menjauh dan membuat Alan bergidik ngeri. Alan pun


melipir jauh secara alami.


Kansha pun menaruh wajan yang sudah tak tertolong itu ke wastafel. Setelah itu dia mengganti wajan baru dan menaruhnya di atas kompor. Dia juga membuang semua sup buatan Alan yang sangat-sangat tidak bisa ditolong lagi.


“Untung masih ada bahan masakan yang tersisa.” Ucap Kansha sambil memotong-motong sayuran.


Alan hanya menyengir malu, “Maafkan aku.” Ucapnya.


Kansha tak menanggapinya. Dia mnambahkan air ke dalam panci kemudian merebusnya. Sambil menunggu air yang mendidih, dia menggoreng ayam yang masih tersisa.


“Kamu jangan khawatir ayam ini akan gosong kalau ketepatan apinya benar. Tidak perlu dibalik terus menerus agar bentuknya tidak hancur dan menempel di wajan.” Ucap Kansha memberi saran.


Alan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


“Kamu awasi ayam-ayam itu. Aku akan membuat sup lebih dulu.” titah Kansha menyerahkan spatulanya pada Alan.


Alan menerimanya dengan sedikit ragu karena takut hal tadi akan terulang.


“Cukup awasi saja, dan balik bila sudah terlihat keemasan.” Ucap Kansha. Alan mengangguk kemudian berdiri di depan ayam goreng yang sedang digoreng itu.


Di sisi lain, Kansha mulai membuat sup. Dia memasukkan semua sayuran yang tadi dipotongnya ke air mendidih. Seharusnya dia membuat sup ayam, tapi karena ayamnya sudah habis, maka dia hanya membuat sup biasa. Setelah diaduk beberapa saat, Kansha memasukkan beberapa bumbu dan kembali mengaduknya. Dia lalu melirik Alan yang masih mengawasi ayam goreng itu. Ekspresinya lucu hingga membuat Kansha mau tak mau terkekeh.


“Tatapanmu intens sekali. Tenang saja, mereka tidak akan kabur.” Ujar Kansha terkekeh.


Alan hanya meringis malu, “Habisnya kalau lengah sedikit, ayam ini bisa-bisa gosong lagi.”


“Kalau kamu berani membuatnya gosong lagi, awas saja ya.” Ancam Kansha sambil mengacungkan centong sayur. Alan hanya menyengir takut.


Kansha lalu menyendokkan sup yang masih mendidih itu dan meniupnya agar dingin. Setelah itu dia mencicipinya. Kansha mengangguk pertanda rasanya sudah pas. Kansha kemudian kembali menyendokkan sup lagi dan kali ini untuk Alan.


“Cobalah, apa rasanya sudah pas tidak?” kata Kansha sambil mengulurkan sendok itu ke arah Alan.


Alan membuka mulutnya menerima suapan Kansha. Dia lalu mengangguk puas.


“Ini seperti sup yang dijual di restoran-restoran.” Puji Alan takjub.


“Kamu terlalu berlebihan.” Tukas Kansha malu.


Alan hanya tersenyum kecil, “Wah, calon istriku memang pandai memasak ya.” Godanya.


“Kamu sudah membaliknya?” Alan mengangguk bangga. Untungnya tadi timingnya pas, jadi ayamnya matang keemasan.


“Wah, calon suamiku pandai membalik ayam ya.” Goda balik Kansha.


Alan hanya tersenyum bangga, “Tentu saja, aku kan belajar dari calon istriku.” Balas Alan.


Kansha termakan umpannya sendiri, dia gagal membuat Alan tersipu. Dan malah dirinya sendiri yang tersipu oleh perkataan Alan.


“Sudah tiriskan, itu sudah matang.” Ucap Kansha berusaha bersikap datar.


“Baik, Nyonya.” Sahut Alan semangat. Kansha hanya menahan senyumnya.


***


Kansha dan Alan saling bekerja sama menata meja untuk makan siang mereka. Setelah tertata, Kansha dan Alan duduk berhadapan. Di depannya sudah terhidang masakan yang mereka buat tadi dan dua gelas jus.


“Oh ya kamu bilang akan membuat bubur tadi?” tanya Kansha.


Alan hanya mengusap tengkuknya, “Aku kelupaan gara-gara insiden sup asin.” Aku Alan malu.


Kansha tertawa keras. Insiden sup asin itu kembali memutar di ingatannya.


“Dasar pembuar onar.” ejek Kansha.


“Aku harus belajar memasak nanti agar aku bisa menggantikanmu nanti.” Ujar Alan tak nyambung.


“Apa maksudmu?” tanya Kansha bingung.


“Kamu pasti harus memasak setiap hari untukku dan anak kita, kamu pasti akan kelelahan. Jadi kalau aku bisa memasak, aku bisa menggantikanmu.” Jelas Alan.


Kansha terbatuk kecil, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Kamu berfikir terlalu jauh.” Ucapnya.


“Loh bukannya itu benar? Kita akan menikah. Jadi kita harus bersiap-siap.” Timpal Alan.


“Habiskan dulu makananmu.” Tukas Kansha mengalihkan pembicaraan. Dia lalu mulai memakan makanannya. Alan menurut dan mulai makan.


Suasana hening langsung menyelimuti keduannya. Mereka makan dalam diam.


“Oh ya, setelah kita bertemu orang tuamu, kita akan bertemu kedua orang tuaku.” Celetuk Kansha baru teringat.


“Kapan?” tanya Alan.


“Minggu depan, papa dan mamaku baru pulang saat itu.” jawab Kansha.


Alan mengangguk, “Mereka tahu hubungan kita?” tanya Alan lagi.


Kansha menggeleng pelan, “Aku belum mengatakannya. Rencananya nanti sekalian saat kita bertemu.”


“Oh begitu.” Alan kembali mengangguk-anggukan kepalanya. “Lalu apa yang bisa kulakukan untuk kedua orang tuamu?”


“Melakukan apa?”


“Mendapat restu. Kudengar ayah yang memiliki anak perempuan, sangat sulit memberikan restunya.” Jawab Alan.


Kansha terdiam sesaat, “Aku tidak tahu soal itu. Ini pertama kalinya untukku dan kedua orang tuaku.” Sahut Kansha.


“Lalu bagaimana kepribadian orang tuamu?” tanya Alan penasaran. Dia kan harus bersiap-siap untuk menyiapkan amunisi.


“Papaku, orang yang baik, dia orang yang berfikiran terbuka dan bijaksana. Kalau mamaku, kamu bisa melihatnya sendiri dariku. Cantik, manis, menarik dan mempesona.” Ujar Kansha dengan mengibaskan rambutnya pada kalimat terakhir.


Alan mengangguk singkat, “Calon mertuaku memang sangat cantik.” Komentarnya.


“Jangan berani-beraninya merebut dia dari papaku ya!” ucap Kansha becanda.


“Untuk apa? Kalau hanya putrinya yang kuinginkan." tukas Alan manis.


Kansha terdiam, dia lagi-lagi tersipu dengan ucapan manis Alan. Astaga, dia hampir terkena diabetes kalau seperti ini.


“Ucapanmu semanis gula, apakah kamu juga akan begini setelah menikah?” tanya Kansha.

__ADS_1


“Tentu saja, bahkan jauh lebih manis. Akan kuperlakukan kamu seperti ratu.” Jelas Alan mantap.


Sudut bibir Kansha berkedut, dia lalu menatap ke arah lain untuk menyembuyikan senyumnya.


“Kamu bisa saja.”


“Kansha, aku berjanji akan membahagiakanmu.” Ucap Alan serius.


Kansha kini menatap Alan yang tersenyum penuh cinta padanya. Kansha balas tersenyum.


“Akan kutagih janjimu.”


***


Seusai makan siang, Alan dan Kansha sedang bersantai di ruang tamu dengan kepala Kansha berada di paha Alan yang terlapisi bantal sofa. Alan yang tengah bermain ponsel dan Kansha yang sedang membaca buku.


“Alan, kemarikan ponselmu.” Ucap Kansha sambil mengulurkan tangannya ke arah Alan.


“Untuk apa?” Alan bertanya sambil menaruh ponselnya di telapak tangan Kansha.


“Untuk memasukkan kode akses untukku.” Kansha kemudian mengutak-atik ponsel Alan. Setelah selesai, dia memberikannya lagi pada Alan.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Alan bingung.


“Mulai sekarang, aku bisa membuka ponselmu dan kamu juga bisa membuka ponselku.” Jawab Kansha sambil mengutak-atik ponsel miliknya juga.


“Kamu tidak percaya padaku?” tanya Alan.


Kansha bergegas duduk lalu menghadap Alan yang menatapnya penuh tanya.


“Tentu saja tidak. Aku melakukannya karena kita akan menjadi satu. Kuharap cara ini justru lebih bisa meningkatkan kepercayaan kita satu sama lain.” Jelas Kansha.


Alan mengangguk mengerti.


“Kalau kamu ingin memeriksa ponselku kapan saja silakan.” Ucap Alan sambil menghadapkan ponselnya ke arah Kansha. Tapi kemudian, ponselnya berdering, nama bunda sebagai pemanggilnya.


“Bundamu telfon.” Ucap Kansha.


Alan langsung menerima telfon itu dan mendekatkannya ke telinganya.


“Halo, assalamu’alaikum bun.” Sapa Alan.


“....”


Usai bunda berkata, Alan langsung melirik Kansha yang menatapnya penasaran. Setelah itu Alan kembali berbicara dengan bundanya.


“Iya, bun. Assalamu’alaikum.” Ucap Alan setelah itu menutup telfonnya.


“Ada apa?” tanya Kansha penasaran terlebih melihat raut Alan yang tak biasa.


“Tadi bunda mengabarkan bahwa...” Alan menjeda ucapannya membuat Kansha makin menatapnya penasaran.


“Apa?” tanya Kansha.


Alan membasahi bibir bawahnya lalu menatap Kansha ragu, “Aisyah kecelakaan dan masuk rumah sakit.” Tandasnya.


Kansha seketika terdiam.


“Bunda memintaku untuk menjenguknya lebih dulu di rumah sakit. Bagaimanapun Aisyah adalah---“


“Ayo pergi.” Sela Kansha.


Giliran Alan yang terdiam terkejut.


“Kamu yakin?” tanya Alan tak percaya.


“Tentu. Kerabat kita sedang sakit, kenapa kita tidak menjenguknya?” tukas Kansha.


Alan mengangguk, “Kalau begitu kamu siap-siap dulu saja.” Ucap Alan.


Kansha mengangguk kemudian lekas berdiri, “Aku ke kamar dulu.” ucap Kansha. Alan mengangguk menyilakan.


Kansha lalu berbalik pergi. Rautnya yang tadi biasa kini mendadak tegang.


***


Di sepanjang perjalanan, Kansha hanya melihat pemandangan di luar jendela. Alan melirik berkali-kali pada gadis itu. Tidak tahu apa yang sedang difikirkan Kansha.


Tak lama, mereka sampai di rumah sakit yang dituju. Alan dan Kansha masuk ke lobi dan menanyakan kamar berapa pasien atas nama Aisyah. Kansha sebenarnya tahu, tapi dia memilih diam saja agar tidak mengundang curiga Alan.


Alan dan Kansha berjalan menyusuri koridor lantai tiga, mencari kamar Aisyah. Setelah ketemu, Kansha dan Alan malah terdiam lebih dulu di depan pintu.


“Kamu yakin akan masuk?” tanya Alan memastikan sekali lagi.


Kansha mengangguk, “Aku sudah jauh –jauh kesini. Meski aku terlibat sebuah 'masalah' dengan Aisyah, tidak baik bila aku hanya diam saja kan.” Jawab Kansha.


Alan mengangguk, “Ayo.” Ucap Alan menggenggam tangan Kansha. Mereka berdua lalu membuka pintu kamar.


“Assalamu’alaikum.” Sapa Alan begitu masuk.


Semua orang termasuk bunda dan Alfin langsung menoleh ke sumber suara. Mereka terdiam begitu melihat Alan tak sendiri. Dia juga membawa Kansha. Alfin yang pertama tersadar, dia langsung menghampiri Alan.


“Mas, kenapa membawa Kansha?” bisik Alfin.


Alan tak sempat menjawab, dia keburu teralihkan oleh Kansha yang diam-diam maju mendekati ranjang Aisyah.


“Bunda.” Sapa Kansha lebih dulu pada bunda Alan itu.


“Kamu juga datang rupanya.” Sahut bunda bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika melihat putranya membawa Kansha menjenguk Aisyah. Bunda hanya cemas pada Kansha.


Kansha lalu menatap Aisyah yang ternyata menatapnya juga. Namun Kansha menjadi bingung, tak ada raut kebencian atau kekesalan pada raut Aisyah. Perempuan itu malah menatapnya penuh rasa bersalah (?)


“Aisyah.” Ucap Kansha.


“Mbak Kansha.” lirih Aisyah.


“Bagai—“ Ucapan Kansha terpotong tiba-tiba.


“Boleh tinggalkan kami berdua?” sela Aisyah menatap semua orang di ruangan itu.


Kansha mengerutkan dahinya bingung begitupun yang lainnya. Mereka bingung mendengar permintaan Aisyah yang tak terduga.


“Apa yang akan kamu lakukan, Aisyah?” bisik Zakariya cemas. Dia takut Aisyah akan berbuat ulah lagi pada Kansha yang sudah menyelamatkannya.


“Aisyah hanya ingin berbicara empat mata dengan Mbak Kansha mengenai suatu hal.” Jelas Aisyah.


Semua orang masih terdiam, tidak ada yang mengiyakan atau menolak. Hingga Kansha membuka suara.


“Tidak apa-apa. Tolong penuhi permintaan Aisyah.” Ucapnya yang mengudang keterkejutan dari semua orang.


“Kansha.” ucap Alan terkejut. Namun Kansha mengabaikan panggilan Alan dan malah menatap lurus pada Aisyah. Dia penasaran apa yang ingin disampaikan oleh Aisyah padanya.


“Yasudah, kita penuhi saja permintaan mereka. Mungkin mereka ingin menyelesaikan kesalahpahaman mereka, benar kan?” Ujar Alfin menengahi.


Namun Kansha dan Aisyah sama-sama tidak menjawab membuat Alfin menoleh pada semua orang yang bertambah ragu. Tentu saja mereka ragu. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi kalau membiarkan Aisyah dan Kansha berdua dalam satu ruangan yang sama.


“Kita beri keleluasaan untuk Aisyah dan Kansha. Mereka ingin membicarakan sesuatu berdua saja. Kita harus menghargainya.” Ucap Alan mengambil alih.


“Tolong, bi. Aisyah ingin berbicara hal penting pada Mbak Kansha.” pinta Aisyah menoleh pada Zakariya.


“Apa tidak bisa dibicarkan ramai-ramai saja? Kenapa harus berdua saja?” tanya Zakariya masih keberatan.


“Karena ini sangatlah penting. Tolong abi, bantu Aisyah sekali saja.” Pinta Aisyah hampir putus asa.


Zakariya akhirnya luluh. Dia lalu mengirim isyarat pada semua orang untuk meninggalkan ruangan dan hanya menyisakan Kansha dan Aisyah saja. Alan, Alfin dan bunda menurut. Mereka keluar ruangan satu persatu dengan orang terakhir yang keluar adalah Zakariya. Pintu pun sudah ditutup oleh Zakariya.


Kini di diruangan, hanya tersisa Kansha dan Aisyah saja. Mereka belum membuka suara lagi dan hanya menatap wajah masing-masing.


“Katakan.” Ucap Kansha pada akhirnya.


Aisyah nampak ragu. Dia malah terus diam membuat Kansha pegal menunggu.


“Kalau tidak ada yang dibicarakan, aku akan menyuruh semua orang masuk kembali.” Ucap Kansha. Percuma menyuruh semua orang keluar kalau nyatanya, Aisyah tidak mengatakan apapun.


Aisyah masih tak mengatakan apapun membuat Kansha berdecak pelan. Dia tanpa kata lagi langsung berbalik hendak menuju pintu namun perkataan Aisyah menghentikannya.

__ADS_1


“Mbak adalah Azzahra, benar kan?”


Kansha seketika membeku. Dua tangannya terkepal di samping tubuhnya.


__ADS_2