My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 57.


__ADS_3

Nana yang sudah menunggu cukup lama, akhirnya keluar. Dia berpapasan dengan Alfin yang berjalan dengan wajah cemas.


“Bundamu sudah pulang?” tanya Nana pelan.


Alfin menatap Nana datar, kemudian menghembuskan nafas pelan. Membuat Nana mengenyit bingung.


“Kenapa?”


“Bagaimana bisa kamu ketahuan?” tanya Alfin kesal.


“Ketahuan? Aku tidak ketahuan kok.” Jawab Nana.


“Bukan oleh bundaku, tapi oleh Mas Alan!” seru Alfin.


“Apa?” pekik Nana. Dia membulatkan matanya dan menganga kaget.


“Kakakmu tahu? Pantas aku mendengar suara laki-laki. Kufikir itu kamu!”


“Suaraku dan mas ku berbeda. Jelas-jelas itu bukan suaraku. Kamu tidak bisa membedakannya?” omel Alfin sedikit ngegas.


“Mana ku tahu. Lagipula, bukan salahku juga. siapa yang tahu bahwa bunda dan kakakmu akan datang? Aku lari pontang panting begitu terdengar pintu dibuka.” Sungut Nana.


Alfin menghembuskan nafas pelan. Dia mengacak rambutnya. Dia benar-benar frustasi. Apa yang harus dia jawab nanti ketika Alan menanyainya bagaimana bisa ada wanita di apartementnya. Terlebih wanita yang tak dikenal oleh keluarganya.


“Kakakmu benar-benar akan datang?” tanya Nana pelan ketika melihat raut Alfin yang sangat frustasi.


“Iya. dia pasti akan menginterogasi kita.” Jawab Alfin.


“Kamu tenang saja. Biar aku yang berbicara padanya. Ini diluar kesalahanmu, aku sendiri yang meminta tinggal disini sementara waktu.” Ujar Nana.


“Kamu tidak mengerti. Masku, tidak bisa ditebak. Aku tidak tahu apakah dia akan marah besar atau tidak. Maksudku—di antara anggota keluargaku, aku bahkan lebih takut pada Mas Alan.” kata Alfin cemas.


Nana mendesah pelan, dia jadi bingung. Memangnya semenakutkan apa kakak Alfin ini hingga Alfin sangat cemas ketahuan olehnya. Nana dan Alfin pun saling terdiam.


***


Kansha sedang melakukan sambungan video dengan Alvaro. Alvaro tengah berada di panti bersama anak-anak dan mengusulkan menelfonnya untuk mengobati kerinduan anak-anak padanya.


“Kak Kansha kapan pulang?” tanya Deni, anak lelaki paling tua disana.


“Kakak nanti pulang dua hari lagi.” Jawab Kansha.


“Dua hari lagi? Itu berarti bertepatan dengan sidang bapak hakim.” Timpal Sera. Kansha mengangguk.


“Jadi, kak Kansha tidak akan datang dan menemani kami sidang?” tanya Kanaya dengan raut sedih.


Kansha tersenyum, merasa terenyuh. Bagaimana bisa anak berusia dua belas tahun mengerti arti sidang. “Siapa bilang? Justru kakak pulang karena harus mendukung kalian nanti.” Kata Kansha.


“Benarkah?” tanya anak-anak dengan mata berbibar-binar. Kansha mengangguk.


“Yey! Kak Kansha akan datang! Yeay!” sorak anak-anak panti senang. Kansha tertawa melihatnya. Dia sedari tadi menahan air matanya.

__ADS_1


Kemudian suara panggilan Bu Marni menghentikan percakapan mereka. Rupanya bu Marni memanggil mereka karena sudah waktunya makan siang.


“Anak-anak, makan saja dulu.” kata Kansha pada anak-anak.


“kalau begitu kami makan dulu ya kak. Kakak jangan lupa makan.”


“Tenang saja, kakak sudah makan tadi. Selamat makan!”


Begitu anak-anak panti satu persatu pergi dari layar video, kini yang tersisa hanya wajah Alvaro saja.


“Mereka jauh lebih antusias denganmu.” Kata Alvaro.


Kansha tersenyum bangga, “Tentu saja. Itu salah satu kelebihanku. Aku suka dengan anak-anak. Jadi aku bisa sangat cepat akrab dengan mereka.”


“Aku iri padamu.” Kansha tertawa mendengarnya.


“Jadi, kapan kamu landing?” tanya Alvaro.


Kansha terdiam dengan dahi mengernyit, “Aku belum mengecek tiketku tapi kurasa dua jam sebelum sidang dimulai. Aku mengambil penerbangan dini hari.”


“Kalau begitu aku akan menjemputmu.” Kata Alvaro.


Kansha menggeleng, “Tidak perlu. Aku bisa memesan taksi atau menyuruh sopir perusahaan. Aku tidak mau merepotkanmu.” Tolak Kansha.


“Justru aku yang sangat merepotkanmu. Kamu terbawa masalah ini karenaku. Jadi biarkan aku menebusnya sedikit dengan menjemputmu.”


“Baiklah kalau kamu memaksa.” Angguk Kansha.


“Aku tidak memaksamu sebenarnya.” ujar Alvaro dengan nada jahil.


“Aku bercanda.” Kata Alvaro tertawa.


“Alvaro ih!”


Alvaro terkekeh kembali melihat raut Kansha yang memerah malu.


***


“Jadi, jelaskan bagaimana bisa ada perempuan asing di apatementmu?” tanya Alan dingin. Dia duduk dengan melipat tangan sedangkan didepannya Alfin dan Nana berdiri dengan menunduk.


“Itu...jadi ceritanya, begini...anu..” Alfin malah tergagap.


“Saya sedang memiliki masalah di rumah. Saya bertemu dengan Alfin di bandara ketika saya hendak kabur ke luar negeri dan Alfin mengajak saya ke apartementnya kemudian saya meminta tinggal disini sementara waktu.” Sela Nana dengan kecepatan 4G.


Alfin dan Alan menoleh pada Nana. Nana langsung menunduk kembali.


“Pertama, silakan duduk dulu.” kata Alan pada Nana. Nana menoleh pada alfin kemudian ragu-ragu duduk.


“Terima kasih.”kata Nana sopan. Dia terkejut ketika Alan menyuruhnya duduk.


“Bagaimana denganku?” tanya Alfin sambil menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Tetap berdiri tegap sampai interogasiku selesai.” Kata Alan tegas. Alfin memberengut.


“Pilih kasih.” sungutnya bete. Tapi untungnya Alan tidak mendengarnya.


“Jadi, apa saja yang sudah kalian lakukan?” tanya Alan.


“Kami tidak melakukan apapun. Sudah kubilang sebelumnya, temanku tinggal disini sementara waktu karena sedang memiliki masalah dan aku tidak pernah berduaan dengannya. Aku selalu pulang ke rumah meski dini hari pun.” Jawab Alfin.


“Baiklah. Mas percaya. Tapi masalahnya adalah bunda dan ayah tidak tahu kalau ada teman wanitamu tinggal disini. Tadi hampir saja temanmu ketahuan oleh bunda. Coba kalau temanmu lengah sedikit, mas tidak tahu apa yang akan diperbuat bunda dan ayah padamu nanti. Bisa-bisa kalian berdua dinikahkan.” Kata Alan.


“APA?” pekik Alfin dan Nana bersamaan.


“Aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar moral, kenapa harus dinikahkan?” ujar Alfin tidak terima.


“Iya, mas tahu. Tapi apa bunda juga akan berfikir sama? Kita lahir di keluarga yang religius, yang sangat menjungjung tinggi nilai agama,apa jadinya bila ada wanita tinggal di apartementmu selama ini?”


“Temanku hanya tinggal disini sejak tiga hari yang lalu.”


“Benarkah?” tanya Alan menoleh pada Nana.


Nana mengangguk, “Saya sebenarnya sangat tidak enak menumpang tinggal di apartement Alfin. Jadi saya memutuskan untuk pergi saja.” Kata Nana.


“Kamu mau kemana? Masalahmu dengan temanmu memang sudah dibereskan?” tanya Alfin.


“Seperti yang kamu bilang. Bahwa percuma aku lari sejauh apapun. Masalah akan tetap ada. meski aku belum siap menghadapinya tapi yang penting aku harus segera menjauhi masalah lain.”


“Masalah lain? Apa?”


“Tinggal di apartement mu akan menimbulkan masalah lain. Benar kata kakakmu, tidak sepatutnya wanita asing tinggal di apartement laki-laki.” Ujar Nana melirik Alan. Alan hanya menghela nafas.


“Mas, mas tega membiarkan wanita sendirian di luar sana? Nana sedang bertengkar dengan teman serumahnya dan keadaannya sedang tidak baik.” Bujuk Alfin.


“Tidak usah dilebih-lebihkan. Kondisiku baik-baik saja.” Tukas Nana. “Kalau begitu saya ke kamar dahulu untuk membereskan barang-barang saya.” Pamit Nana. Dia bangkit dari duduknya.


Tak lama, Nana kembali ke ruang tamu dengan menenteng tas berukuran sedang. Dia tersenyum dan berpamitan. Alfin tidak bisa mencegahnya. Dia menatap memelas pada Alan. hanya Alan yang bisa memutuskan semuanya.


“Mas..” rengek Alfin.


Alan menghela nafas , “Berhenti.” Kata Alan pada Nana yang hampir pergi dengan menenteng tas.


“Ada apa?” tanya Nana sembari berbalik.


“Duduk dulu sebentar sebelum kamu pergi.” Kata Alan.


Nana pun kembali duduk membuat Alfin menghela nafas lega.


“Siapa namamu?” tanya Alan.


“Saya Nana.” Kata Nana singkat.


“Nana? Aku seperti pernah mendengar namamu di suatu tempat.” Gumam Alan berfikir.

__ADS_1


“Iya, saya Nana temannya Kansha.”


Alan menoleh dengan raut terkejut. Mulutnya membuka saking kagetnya. Jadi ini Nana, sosok sahabat Kansha yang berselilisih dengan Alfin dahulu. Tapi bagaimana bisa? Apakah kebetulan memang seajaib ini?


__ADS_2