
Aura terus mengurung diri di kamar apartementnya. Sejak pemakaman papanya, Aura memang pulang ke apartementnya alih-alih ke rumah besarnya. Toh tidak ada gunanya, baik di apartement maupun di rumah, dia selalu kesepian. Dan lelaki itu, sudah pulang begitu selesai mengantarnya.
Dan alih-alih bersedih yang jelas bahwa dia tak merasa sedih sama sekali, Aura menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Pekerjaannya ini akan membantunya mencapai tujuannya satu-satunya. Dan karena sudah tak ada penghalang lagi, dirinya bisa bebas melakukannya.
Tapi sebelum itu, Aura sedang berdiskusi dengan kuasa hukum papanya terkait pewarisan aset yang ditinggalkan papanya. Dan mata Aura terbelalak kala mengetahui semua aset papanya akan disumbangkan ke yayasan pendidikan milik Williams.
Yayasan pendidikan milik Williams yang diberi nama Cendikia itu memang kerap menerima donasi dan sponsor dari berbagai perusahaan. Yayasan itu terdiri dari ribuan anak kurang beruntung baik yang yatim piatu hingga berkebutuhan khusus yang ditelantarkan keluarganya. Anak hilang, korban kekerasan keluarga hingga anak yang tak cukup finansialnya untuk bersekolah juga ditampung disana. Kepala yayasan itu sendiri adalah Grace Williams.
Tapi yang membuat Aura tak habis fikir adalah--
“Bagaimana bisa papa saya mendonasikan semua asetnya untuk yayasan milik Williams? Apa dia tidak teringat saya sebagai anaknya sekalipun?” seru Aura marah-marah pada kuasa hukum keluarganya itu di telfon.
“Maaf Aura soal itu saya tidak tahu menahu. Mendiang hanya menyuruh saya membuat surat warisan untuk mendonasikan semua asetnya pada yayasan Cendikia milik Williams.” Ujar kuasa hukum keluarganya itu.
Aura berdecak kesal. Setelah apa yang dia lalui selama ini? setelah luka yang diberi papanya selama ini padanya, lelaki itu malah tak memikirkan dirinya dan langsung mendonasikan semuanya? Kurang ajar, kalau tahu begitu seharusnya Aura biarkan papanya itu menderita lebih dulu sebelum dijemput ajalnya.
“Dimana surat wasiatnya?” tanya Aura menahan emosi.
Hening sesaat kemudian kuasa hukum keluarganya berkata dengan nada hati-hati, “Aura, kamu tahu kan bahwa surat wasiat ini tidak bisa kamu robek atau bahkan dibatalkan?”
“AKU TAHU!” Seru Aura marah. “Jadi dimana suratnya? Tunggu, apakah Williams sudah tahu hal ini?” tanya Aura mengubah pertanyaannya.
“Sa—“
“Tidak perlu dijawab disini. Sekarang bawa surat wasiatnya dan temui aku di perusahaan.” Titah Aura memotong ucapan kuasa hukumnya.
“Aura, tapi sa—“
Bip
Belum selesai kuasa hukum papanya berbicara, Aura langsung menutup telfonnya. Perempuan itu kemudian membanting ponselnya ke atas ranjang.
“AAA!” teriaknya penuh emosi.
Prang
Aura berteriak penuh amarah sambil melemparkan semua barang-barang di meja riasnya. Dia mengacak rambutnya frustasi. Tangannya terkepal erat. Pokoknya dia harus mendapatkan kembali haknya. Aset lelaki itu tidak boleh jatuh ke tangan Williams tanpa dia punya hak sepeser pun.
***
Di sisi lain, Nana sedang duduk santai sembari berswafoto. Sedangkan Ruben, dia tengah memasakkan makan malam untuk istrinya itu. Mereka memang masih di Lombok untuk berbulan madu.
Ruben sesekali melirik Nana yang nampak asik mengatur angle yang pas untuk fotonya. Lelaki itu tersenyum simpul kala melihat rangkaian pose Nana dalam berbagai gaya.
Nana lalu melihat Ruben yang tengah tersenyum menatapnya melalui kamera. Nana seketika membalikkan badannya.
“Kenapa kakak terus senyum dari tadi?” tanya Nana bingung.
“Karena kamu lucu.” Balas Ruben singkat.
“Lucu? Aku sedang tidak melakukan apapun. Aku hanya sedang berfoto.” Tukas Nana bingung.
Ruben terkekeh geli mendengarnya. Dia lalu mencuci tangannya kemudian menghampiri Nana dan duduk disampingnya.
“Fotomu lucu.” Jelas Ruben tersenyum.
Nana mengusap tengkuknya, merasa malu.
“O-oh.” Tanggap Nana.
Drrt
Nana membuka ponselnya. Sebuah pesan dari Kansha menarik perhatiannya. Dia membacanya sekilas kemudian tersenyum kecil. Ruben yang melihat istrinya tersenyum sambil menatap ponsel seketika penasaran.
“Mengapa kamu tersenyum sambil menatap ponsel?” tanya Ruben.
Nana tak menjawab. Dia langsung menunjukkan layar ponselnya pada Ruben. Ruben membacanya sekilas.
“Oh, jadi malam ini Kansha dan Alan akan meminta restu dari keluarga Alan?” ulang Ruben.
Nana mengangguk, “Aku tidak menyangka bahwa mereka bisa sampai dalam tahap ini. Sekarang aku menyadari bahwa mereka memang sudah berjodoh sejak awal.” Timpal Nana.
Ruben mengangguk-anggukan kepalanya, “Yang namanya jodoh memang sudah diatur. Sekeras apapun kita berusaha mengabaikannya, pasti bakal kembali lagi.” Ucap Ruben sedikit ambigu.
Nana tiba-tiba saja merasa tersentak, “Kakak berkata seperti itu karena cinta kakak pada Kansha masih belum pudar, benar kan?” tanya Nana tiba-tiba.
Ruben terkesiap kaget mendengar pertanyaan Nana yang tak terduga. Dia seketika menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kakak sudah melupakannya. Kakak bilang seperti itu karena itu benar kan? Kisah Kansha hampir persis dengan kisah kita. Sekeras apapun kakak mencoba mengabaikan perasaanmu karena perasaanku pada wanita lain, pada akhirnya kita tetap bersatu. Padahal kakak tidak pernah memiliki pemikiran untuk menikah denganmu.” Jelas Ruben.
Nana menghela nafas lega mendengarnya. “Kufikir kakak masih belum bisa melupakan Kansha. Tapi Kakak tidak terbebani dengan pernikahan ini kan?”
Ruben menyentil dahi Nana pelan membuat Nana tersentak kecil.
“Dasar perempuan, mikirnya selalu aneh-aneh saja. Kakak menikahimu karena kakak mencintaimu. Jadi hilangkan pemikiran negatif apapun dari kepala kecilmu itu.” ucap Ruben.
Nana tersenyum malu. Dia langsung memeluk Ruben erat dan dibalas tak kalah erat oleh Ruben.
“Maafkan aku.” Lirih Nana.
“Aku sayang kamu.” Bisik Ruben sambil mengecup puncak rambut Nana. Nana tersenyum bahagia begitu mendengarnya.
***
“Kansha, maafkan aku.”
Kansha seketika menatap Alan penuh rasa cemas. Dia berusaha mempelajari raut Alan yang terlihat sendu itu. Kansha menggelengkan kepalanya pelan, itu bukan seperti yang difikirkannya kan?
Sama seperti Kansha yang merasa cemas, bunda dan Alfin juga merasakan hal yang sama. Terlebih saat melihat raut ayah yang tak terbaca. Mereka menjadi menduga-duga apa yang telah terjadi dari pembicaraan rahasia mereka.
“Kansha, aku—“
Pletak
“Aduh!” ringis Alan tiba-tiba sambil mengelus kepalanya yang kesakitan.
“Jangan banyak becanda. Katakan yang sejujurnya.” Titah ayah yang rupanya menjitak kepala Alan tadi.
Alan hanya berdecak sebal. “Ayah nih tidak bisa diajak kompromi!” ucap Alan.
“Kamu tidak lihat muka Kansha sudah cemas seperti itu?” ujar ayahnya. Alan seketika melirik Kansha yang terdiam begitupun bunda dan Alfin yang masih terdiam dan bingung tidak tahu apa yang terjadi.
Alan seketika maju hendak mendekati Kansha. Kedua tangannya terentang kecil seperti hendak memeluk. Ayah yang melihat tanda bahaya langsung menarik baju belakang Alan. Alan jadi termundur ke belakang.
“Apa yang kamu mau lakukan?” desis Ayah datar.
Alan meringis malu, niatnya ketahuan oleh sang ayah.
“Kalian belum sah. Jangan saling bersentuhan seperti itu.” ujar Ayah.
Ayah melirik Alan menyuruhnya dengan isyarat agar anaknya yang mengatakannya. Sementara itu Ayah memilih terdiam.
“Ekhem, Kansha.” panggil Alan.
Kansha menatapnya dengan raut penasaran dan cemas yang bersatu padu.
“Ketika kita bertemu orang tuamu, aku akan mengajak kedua orang tuaku juga.” ucap Alan.
Kansha terdiam. Dia tidak bisa mencerna maksud Alan. Dia hanya berdiri bingung.
“Maksud Mas, kalian sudah mendapat restu dari ayah?” celetuk Alfin cepat tanggap.
Kansha yang mendengarnya langsung terkesiap. Dia menatap Alan penuh keterkejutan.
Alan mengangguk senang, “Ayah sudah memberikan izin.” jelasnya.
“Alhamdulillah.” Seru bunda turut bahagia. Dia langsung menatap Kansha dengan senyuman bahagia.
Kansha menutup mulutnya karena terkejut. Dia kira skenario terburuk yang terjadi. Dia kira ayahnya Alan tak akan memberi restu pada mereka. Tapi ternyata tidak. Kansha sangat bahagia mendengarnya.
“Kenapa ayah bisa merestui mereka?” tanya Alfin yang tak bisa membendung rasa penasarannya.
Bug
Sebagai ganjaran pertanyaannya, bunda memukul paha Alfin cukup keras hingga membuat lelaki itu mengaduh.
“Tanyakan saja pada Masmu. Apa jaminannya untuk restu dari ayah.” Ucap ayah sembari tersenyum kecil.
***
“Apa maksud ayah soal jaminanmu untuk restunya?” tanya Kansha saat dalam perjalanan pulang.
Seusai berbincang sebentar, Kansha hendak pulang karena sudah malam. Alan pun mengantar perempuan itu.
“Hanya sebuah janji menenangkan.” Sahut Alan singkat.
__ADS_1
“Apa?” tanya Kansha penasaran.
Flashback On
Ayah membawa Alan menuju ruang kerjanya di lantai dua. Alih-alih duduk, mereka malah berdiri saling berhadapan.
“Katakan, kenapa kamu memilihnya?” tanya Ayah tanpa basa-basi.
“Karena dia pas untuk Alan.” jawab Alan singkat.
“Pas? Dalam hal apa?”
“Karena dia melengkapi kekurangan dan kelebihan Alan. Ketika Alan hanya terbawa emosi dan langsung menyimpulkan tanpa kebenaran lain, Kansha dengan sabar membuat Alan menyadarinya. Ketika Alan terus salah paham padanya, Kansha tidak pernah marah dan sekalipun menjauh. Dia tidak meminta pembenaran ataupun menyalahkan Alan. Caranya membantu Alan adalah cara yang paling dewasa.”
“Tapi kenapa harus dia? Dia tidak satu keyakinan denganmu.” Tukas ayah tak habis fikir.
Alan terdiam sesaat kemudian dengan nada tenang menjawab, “Ayah, bagi Alan toleransi adalah hal yang penting. Bukannya Alan tidak ingin mencari pasangan yang satu agama dengan kita, tapi hanya karena perasaan Alan hanya untuknya seorang. Bukankah ada beberapa sahabat nabi yang juga menikah dengan perempuan non muslim?”
“Alan, dalam mencari pasangan, bukan hanya soal duniamu saja. Tapi akhirat juga harus kamu perhatikan. Apakah kamu tidak ingin bersama istrimu di syurga nanti? Dan Kansha jelas tidak bisa melakukannya.”
“Alan tahu soal itu. Tapi ayah, kita tidak tahu pada siapa hati ini akan berlabuh. Alan mencintai Kansha dengan segala kekurangannya. Meskipun Alan tidak akan bisa bersama Kansha di akhirat nanti, setidaknya Alan bisa menua dengannya di dunia. Meski Alan tidak bisa membawa Kansha, Alan akan membawa amalan Alan dan berkumpul dengan kalian di syurga.”
“Ayah hanya takut, kamu terpengaruh. Bagaimanapun kamu seorang muslim. Bagaimana kalau kamu terpengaruh dan akhirnya murtad?”
Alan dengan tegas menggeleng.
“Alan hanya mencintai Kansha bukan memujanya. Alan bisa mengorbankan apapun tapi tidak dengan Tuhan Alan. Bukankah dalam ayat terakhir Al-Kafirun juga dijelaskan, Bahwa bagiku Tuhanku dan bagimu Tuhanmu. Alan rasa itu sudah sangat jelas bagi ayah.”
Ayah menghela nafas pelan. Sejujurnya dia ingin membebaskan apapun pilihan anak-anaknya termasuk dalam memilih calon istri. Dirinya tak masalah dengan perbedaan yang ada karena perbedaan pada dasarnya adalah konsep saling melengkapi. Tapi masalahnya adalah dirinya khawatir pada keimanan sang putra.
“Ayah, insyaallah iman Alan kuat. Kansha juga bukan orang yang akan mempengaruhi Alan untuk masuk ke dalam ajarannya. Dia orang baik. Dia memiliki sikap toleransi tinggi. Dia mungkin seorang pimpinan yang merupakan non-muslim tapi toleransinya pada pegawainya yang rata-rata muslim, membuatnya membangun masjid cukup besar di perusahaannya. Kansha bahkan meminta semua orang menghentikan pekerjaannya tepat ketika adzan dzuhur berkumandang. Kansha bahkan menerapkan peraturan mengenai makan siang bersama yang dilakukan setelah para pegawai muslim selesai shalat. Padahal dia bukan seorang muslim. Dia cukup mengabaikan hal itu dan membiarkan orang lain mengerjakan urusannya masing-masing tanpa perlu dia harus mencampurinya.” Tutur Alan.
“Dan acapkali kita makan siang bersama, Kansha selalu meminta Alan untuk menjemputnya selepas Alan beribadah. Dia bahkan pernah meninggalkan restoran karena saat itu Alan harus shalat. Disekitar restoran itu tidak ada masjid. Jadi Kansha menghentikan makannya dan kami pergi secepatnya untuk mencari masjid. Dia takut bahwa waktu shalat dzuhur akan habis.”
Ayah jadi terdiam mendengar penjelasan super panjang dari Alan. Dia mulai merasa diyakinkan oleh anaknya. Mendengar tindakan Kansha yang diceritakan Alan membuatnya cukup merasa bangga. Kalau benar Kansha seperti yang diceritakan Alan, maka Kansha cukup memenuhi syarat untuk menjadi menantunya. Bagaimanapun juga dirinya tak ingin lebih dalam mencampuri urusan anaknya. Alan berhak menentukan dan memutuskan sendiri kebahagiannya. Dia sebagai orang tuanya hanya harus mengawasinya dan menegurnya bila Alan menyimpang.
“Kamu berjanji tidak akan menjual agamamu demi perempuan?” tanya ayah.
Alan mengangguk tegas. “Alan berjanji.”
“Bagaimana kalau sewaktu-waktu Kansha menyuruhmu keluar dari agamamu atau bercerai dengannya kalau kamu tidak ingin memenuhinya. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya ayah lagi sambil menatap Alan yang kini malah terdiam.
“Kamu tidak bisa menjawabnya?” tanya Ayah ketika Alan terus diam saja.
Alan menggeleng pelan, “Kami akan berpisah.” Ucapnya.
“Kamu terdengar ragu mengatakannya.” Tukas ayah.
Kini Alan dengan berani menatap mata ayahnya yang terus menyipit melihat tekad di mata Alan.
“Secinta-cintanya Alan pada Kansha, Alan masih lebih mencintai Allah dan Islam.” Ucap Alan tegas.
Mendengar pernyataan putranya, Ayah mengangguk puas. Dia kini tidak punya alasan lagi untuk menentang keinginan sang putra. Karena baginya, lelaki sejati yang dipegangnya adalah ucapannya dahulu. Dan Ayah hanya perlu menagih janji lisan Alan bila suatu hari nanti kejadian yang tak diinginkan terjadi. Meskipun dia berharap bahwa pernikahan Alan akan terjadi hanya sekali seumur hidup.
Lelaki paruh baya itu kini hanya bisa berdoa akan kebahagian sang putra baik untuk esok, nanti hingga menjelang usia senja. Dan semoga saja Alan bisa bersama pasangannya di syurga nanti.
Flashback Off
“Wah, kalimat terakhirmu sangat bagus.” Puji Kansha.
“Kamu tidak merasa kecewa atau kesal?” tanya Alan sambil melirik Kansha.
Kansha menggeleng, “Untuk apa aku merasa kecewa bahkan kesal? Perkataanmu benar. Kamu tidak boleh menjual agamamu demi perempuan termasuk aku. Secinta-cintanya kamu pada makhluk Tuhan, kamu harus lebih mencintai Sang Penciptanya.”
Alan tersenyum mendengarnya. Dia memang tak salah memilih Kansha sebagai calon istrinya. Kansha amatlah kooperatif dengan keadaan mereka. Dia tidak pernah mengeluh atau kesal karena perbedaan mereka. Kansha justru terus mendorong Alan agar lebih dekat dengan Allah.
“Jadi hari apa aku bisa menemui kedua orang tuamu?” tanya Alan membuka topik pembicaraan lain.
“Hari Sabtu. Papa dan mama pulang jum’at dini hari soalnya.” Ucap Kansha.
“Apa tidak terlalu mendadak? Orang tuamu mungkin masih kelelahan.” tukas Alan dengan raut mengernyit.
“Lalu mau hari apa dong?” tanya Kansha.
Alan terdiam sesaat untuk berfikir, “Bagaimana kalau minggu sore saja? Kamu juga bisa menjelaskan mengenai kondisi kita sebelumnya.” Usul Alan.
Kansha mengangguk setuju, “Baiklah. Berarti sepakat ya minggu sore. Jangan sampai ingkar janji atau terlambat. Papaku tidak suka orang yang tidak disiplin waktu.”
__ADS_1
Alan mengangguk pasti, “Demi meminta putrinya dari orang tuanya, aku bahkan rela datang tiga jam lebih awal.”