
"Hacih.” Sudah berulang kali Kansha bersin. Ia bahkan tidak bisa menikmati makanannya. Kansha merasa kepalanya pusing dan tubuhnya menggigil kedinginan.
“Kansha, kamu tidak apa-apa?” tanya Alan cemas.
Kansha menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku kayaknya lagi flu saja.” Jawab Kansha lalu kembali memakan ikan bakar tangkapan Alan itu.
Alan masih terdiam memerhatikan Kansha. Kansha terlihat pucat dan tidak sehat. Kansha bahkan memeluk lututnya dan beberapa kali meringis kedinginan.
Alan meletakkan ikan bakarnya di pelepah pisang lalu mendekati Kansha. Ia mengecek suhu Kansha dengan punggung tangannya. Alan terkejut ketika merasakan suhu panas menjalar dari dahi Kansha.
“Kansha kamu demam!” seru Alan panik.
Kansha menatap sayu pada Alan yang kini dilanda cemas. “Jangan khawatir, hanya demam biasa.” Ucap Kansha lemah.
Alan menggeleng mendengar jawaban Kansha, dan tanpa kata segera membopong Kansha. Kansha berseru kaget, dan meminta turun namun Alan tetap bergeming. Alan membaringkan Kansha di gubuk mereka. Kansha memejamkan matanya. Ia tidak percaya bahwa ia akan jatuh sakit di pulau ini dengan Alan yang bahkan menggendongnya.
Alan berfikir keras. Mencoba mencari cara untuk menurunkan demam Kansha. Apa yang harus kulakukan agar Kansha sembuh? gumam Alan.
“Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali.” Ucap Alan. Alan hendak bangkit namun lengannya ditahan Kansha.
“Mau kemana?” tanya Kansha lirih.
“Mencari obat untuk menurunkan demammu.” Jawab Alan tersenyum lembut lalu menurunkan tangan Kansha dan keluar dari gubuk. Kansha menatap kepergian Alan.
Alan masuk ke dalam hutan. Seingatnya, ada tanaman putri malu di sekitaran hutan. Putri malu ampuh untuk menurunkan demam. Lalu Alan melihat sekumpulan putri malu. Alan tersenyum senang lalu menghampiri tanaman putri malu itu.
Alan mengamati sebentar, kemudian mengeluarkan pisau lipat Kansha dan memotong batang putri malu dengan hati-hati. Ia berhasil mendapatan sejumput putri malu.
“Kurasa sudah cukup.” Ujar Alan lalu kembali menuju gubuk.
Alan kini bingung, apa yang harus dia lakukan agar tanaman ini mampu menurunkan demam Kansha. Karena seharusnya, tanaman itu direbus dan diambil airnya. Namun jangankan panci, air saja yang ada hanyalah air laut dan air dari kelapa muda.
Alan lalu terfikirkan sesuatu. Ia menumbuk tanaman putri malu menjadi hancur. Setelah dirasa cukup, Ia kembali ke gubuk dan menghampiri Kansha yang kini sedang terbaring lemah. Alan membalurkannya pada kening Kansha. Kansha yang tengah memejamkan mata seketika terbuka ketika ada sesuatu yang ditaruh di keningnya. Ia lalu meraba sesuatu itu namun dicegah oleh Alan.
“Jangan disentuh.” Ucap Alan.
“Alan, ini apa?” tanya Kansha.
“Daun putri malu. Putri malu memiliki khasiat untuk menurunkan demam. Harusnya sih dengan cara direbus dan diminum airnya, namun karena kita tidak memilikinya, aku hanya bisa menumbuknya dan membalurkannya pada keningmu. Semoga tetap membantu meringankan.” Jawab Alan panjang lebar.
Kansha tersenyum haru. Perhatian Alan sungguh membuatnya merasa bahagia. Ia berfikir, jatuh sakit di tengah keadaan terdampar rasanya bukan hal buruk—bila pada kenyataannya ia dirawat oleh Alan. Bahasa gaulnya sih, No Problem.
__ADS_1
“Terima kasih.” Ucap Kansha tulus. Alan mengangguk.
“Istirahat saja dulu agar demammu bisa turun.” Kata Alan. Kansha mengangguk lalu memejamkan matanya lagi.
***
Namun hingga menjelang siang, demam Kansha makin tinggi. Alan sangat khawatir terlebih ketika melihat Kansha menangis tanpa suara dengan mata terpejam. Alan merasa tidak berguna. Bukannya menyelamatkan Kansha, Kansha malah tambah sakit.
Alan mendekati Kansha yang kini sudah berkeringat dingin. Kansha nampak tidak tenang dalam tidurnya. Alan duduk di dekat Kansha. Ia memerhatikan bagaimana bibir ranum itu kini bisa sepucat itu.
“Sshh.” Kansha meringis dalam tidurnya. Alan mengusap rambut Kansha membuat Kansha kembali tenang.
Lalu tak lama. Alan merasa ada suara baling-baling helikopter mendekat. Alan menajamkan pendengarannya. Harapannya melambung tinggi ketika suara itu bukanlah halusinasinya. Alan seketika bangkit dan keluar gubuk.
Betapa bahagianya ia ketika turun beberapa orang awak helikopter mendekatinya. Alan merasa sangat bersyukur.
“Anda yang membuat api kemarin malam?” teriak pilot helikopter itu sambil menunjuk bekas api unggun. Suaranya agak teredam oleh baling helikopter.
Alan mengangguk, “Iya. Saya juga salah satu korban penumpang pesawat Key Asia yang jatuh.” jawab Alan.
Semua awak terkejut mendengar pernyataan Alan. Akhirnya satu bulan pencarian mereka berhasil menemukan titik terang. Ada penumpang selamat dari kejadian tragis itu.
“Kami dari tim pencari. Saya Hendra. Pilot sekaligus ketua tim.” Ujar pilot itu memperkenalkan diri.
“Alan.” Balas Alan.
“Kemarin malam kami melihat titik cahaya seperti api tapi kami tidak bisa mendekat untuk memastikan karena persedian bahan bakar mesin sudah habis.” Jelasnya.
“Saya tahu. Kemarin malam kami mendengar suara helikopter dan melihat kalian terbang melintasi kami.” Timpal Alan.
Salah satu anggota tim mengernyit, “Kami? Maksudmu bukan hanya kamu yang selamat?” tanyanya. Alan terdiam. Ia lupa bahwa ada Kansha di gubuk. Tanpa menjawab pertanyaan tim pencari itu, Alan langsung berlari ke arah gubuk.
Para tim pencari hanya terdiam di tempat ketika Alan berlari pergi namun ketika Alan berteriak minta tolong, mereka langsung berlari menghampiri gubuk.
“Ada apa?”
Alan yang sedang memangku kepala Kansha menjawab dengan panik, “Berikan pertolongan pertama. Suhunya makin tinggi.” Sahut Alan.
Hendra memerintahkan salah satu awaknya untuk memeriksa Kansha. Setelah itu ia mengeluarkan sebotol air dan obat penurun demam untuk Kansha dari kantongnya. Alan menerimanya dan langsung meminumkannya pada Kansha. Alan bernafas lega ketika Kansha mulai tenang kembali dalam tidurnya setelah diberi obat.
Hendra nampak memerhatikan gadis muda yang dipangku Alan. Lalu betapa terkejutnya ia menyadari bahwa itu adalah anak majikannya.
__ADS_1
“Nona Kansha?” seru Hendra. Semua kru helikopter terkejut terkecuali Alan yang hanya menatap bingung.
“Ayo kita harus segera kembali sebelum kondisi nona Kansha memburuk!” seru Hendra lagi. Lalu pilot itu hendak menggendong Kansha namun Alan mencegahnya. Dia sendiri yang akan menggendong Kansha. Hendra mengangguk.
Alan menggendong Kansa dikuti para kru helikopter menuju helikopter. Setelah itu helikopter mulai naik meninggalkan pulau. Kansha membuka matanya dan menatap sayu pada Alan yang masih merangkulnya.
“Alan?” panggil Kansha lemas. Alan menoleh dan tersenyum lembut pada gadis bermata sayu itu.
“Kita selamat, Kansha.” Bisik Alan haru. Kansha memejamkan mata, menghalau air mata yang ingin melesak keluar karena haru. Kansha merasa seolah ia terbebas dari jurang yang tidak memiliki jalan keluar dimanapun. Dia akan ke daratan, menuju tempat keluarganya yang menunggu dengan kekhawatiran.
Namun keadaan jadi tidak baik ketika hujan mulai turun. Alan terkejut dengan hujan yang turun dengan deras. Laut dibawahnya juga terlihat mencekam. Ombak mulai bergelung. Dalam hitungan menit, badai besar mulai menggaung. Namun helikopter terus melaju membelah angkasa yang tetiba gelap.
***
“Kansha selamat?” seru Grace terkejut. Andrian juga terkejut, ia bahkan nyaris tersedak ketika Kevin mengatakan bahwa tim pencari menemukan dua korban yang ternyata merupakan korban pesawat jatuh.
“Belum dipastikan siapa korban yang selamat. Tim pencari hanya bilang bahwa mereka menemukan dua korban selamat ketika memeriksa pulau dimana titik cahaya itu terlihat. Kami sedang berusaha berkomunikasi melalui radio namun terputus karena cuaca di Laut Banda sedang buruk.” Jelas Kevin.
Grace melemas begitupun Andrian. Mereka syok dengan kabar mengejutkan ini. kevin sang sekretaris yang sudah menemani Andrian selama 23 tahun itu juga diam. Ia mengetahui bagaimana perasaan sang atasan. Dia tau semua soal permasalahan antara Kansha dan kedua orang tuanya karena ia adalah salah satu saksi mata ketika kejadian naas itu terjadi.
“Sebaiknya Anda berdo’a untuk keselamatan nona Kansha. Saya yakin nona Kansha masih hidup. Dan bila benar nona Kansha masih hidup, saya harap Anda bisa menyelesaikan masalah yang terjadi 13 tahun lalu.” Setelah mengatakan itu Kevin membungkuk hormat dan undur diri. Meninggalkan Andrian dan Grace dengan sejuta keterdiaman.
***
Hujan makin deras, langit sudah berubah gelap dan terlihat mengerikan. Helikopter terus melaju meski beberapa kali oleng karena hembusan angin yang besar. Namun mereka tidak bisa mendarat sama sekali. Mereka berada di tengah laut Banda, sejauh mata memandang hanya ada hamparan lautan yang kini ombaknya bergelora.
Alan memeluk erat Kansha yang meringkuk kedinginan. Suhu tubuhnya tidak panas namun malah menjadi dingin. Bibirnya pucat membiru kontras dengan matanya yang mencoba untuk terus terbuka. Alan sudah tidak memedulikan batasannya lagi, di fikirannya terpenting adalah bagaimana cara agar menjaga Kansha tetap hangat dan selamat.
“Alan.” Panggil Kansha serak dan lirih.
Alan menoleh dan menatap mata sayu Kansha, “Jangan bicara.” Kata Alan lalu kembali menatap kedepan.
Kansha menghela nafas, “Aku tidak apa bila tidak selamat.” Katanya lirih. Alan kembali menoleh dengan wajah terkejut. Ia nampak tidak suka dengan perkataan Kansha.
“Kita pasti selamat. Jangan bicara lagi.” Desis Alan. Ia menahan marah.
Kansha tersenyum tipis. Ia tidak tahu harus menanggapi apa. Alan masih memiliki harapan tinggi akan keselamatan hidupnya. Namun Kansha, tidak. Ia sudah pasrah dan menyerah. Ia bahkan bingung dengan tubuhnya saat ini. dia merasakan panas didalam namun diluar ia menggigil kedinginan karena suhu akibat hujan deras. Bibirnya pucat. Kepalanya sudah sangat berat dan sangat sakit seolah-olah ada seekor gajah yang diletakkan di kepalanya. Kansha bahkan tidak sanggup lagi untuk sekedar terjaga. Matanya makin berat. Ia akhirnya menyerah dan mulai terpejam dengan kepala terkulai ke samping.
Alan merasakan itu. Ia menoleh pada Kansha yang kini memejam dengan tubuh lemas. Alan memegang dahi Kansha, suhunya sangat dingin. Alan mulai panik. Ia menaruh telunjuknya di depan hidung Kansha. Nafas Kansha terasa pelan dan patah-patah. Alan semakin panik. Ia menepuk-nepuk pipi Kansha, mencoba membangunkan kesadaran gadis berusia 25 tahun itu.
“Kansha! Kansha, bangun! Jangan pejamkan matamu. Kansha!” seru Alan panik. Alan terus memanggil nama Kansha namun Kansha tak bergeming sama sekali. Matanya menutup erat seolah tak akan terbuka lagi.
__ADS_1