My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 66.


__ADS_3


Maafkan aku yang kemarin gak Upload. Aku baru aja selesai simulasi Uji Kom dan bener-bener keteteran🙏🙏☹️


Semoga kalian tetap setia dan suka dengan cerita ini. Maaf juga karena up yang lama🙏☹️


Selamat membaca dan jangan lupa vote, liks dan komennya ya! Aku sangat mengharapkan banget appresiasi dari kalian💙


Enjoy!


^^^Salam💙^^^


^^^KyGe^^^


-------------------------


"Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku? Kamu menyukaiku benar kan?"


"Bagaimana bisa..kamu menanyakan hal seperti itu?"


"Aku memang terlihat seperti lelaki cuek dan tidak peka, Tapi aku tahu arti setiap tatapan yang orang lain tunjukkan padaku. Termasuk kamu..kamu yang selalu menatapku diam-diam dengan mata hangatmu." ujar Alan dengan nada setengah berbisik.


"Jawaban apa yang ingin kamu dengar?"


"Apapun yang keluar dari mulutmu."


Kansha terdiam sebentar, Dia lalu menatap Alan. "Asal kamu mau berjanji sesuatu padaku."


"Apa?"


"Jangan pernah coba mengartikan jawabanku saat ini dan percepat pernikahanmu dengan Aisyah."


"Nomor satu bisa kupertimbangkan. Tapi untuk nomor dua, kenapa? Aku ingin tahu alasan nya."


"Karena..."


Kansha menatap Alan. Tubuhnya mendekat dan tiba-tiba, dia mencium bibir Alan.


Cup


Alan membeku. Kansha menutup matanya begitu menempelkan bibirnya di bibir Alan.


"Kansha."


"Kansha."


Kansha tersentak dalam lamunannya. Dia menoleh pada Alan yang berkacak pinggang padanya.


"Kamu melamun lagi." katanya.


Kansha menghembuskan nafas pelan. Dia fikir, itu kenyataan. Caranya mencium Alan amatlah nyata hingga Kansha berharap itu adalah sungguhan. Tapi syukurlah tidak. Logikanya masih menguasainya. Bila dia benar-benar mencium Alan, entah apa yang akan terjadi. Kansha tak berani membayangkannya. Kansha mengusap rambutnya dengan kasar.


"Kansha? Kamu baik-baik saja?" tanya Alan.


Kansha menunduk sambil mengangguk pelan. Untuk saat ini tubuhnya baik-baik saja, berbeda dengan hatinya yang masih bergemuruh.


"Apa yang kamu ingin katakan tadi?" tanya Alan lagi.


Kansha mendongak menatap Alan. "Yang mana?" tanyanya tidak ingat.

__ADS_1


"Soal kenapa kamu selalu menanyakan pertanyaan mengenai pernikahanku dengan Aisyah."


"Ah itu.." Kini mata Kansha bergerak tak menentu. Dia berfikir dalam-dalam. Bagaimana menjawab pertanyaan Alan.


"Kansha?" tegur Alan ketika Kansha hanya terus terdiam tak meneruskan ucapannya.


"Ah iya?" Kansha membasahi bibirnya. "Aku hanya ingin tahu. Maksudku, kamu sudah cukup lama bersama Aisyah. Tidak baik bila terus berlama-lama. Benar kan?" ujar Kansha berkata cepat.


"Kamu sepertinya sangat mengkhawatirkan hal ini." kata Alan dengan tatapan sedingin samudera.


"Apa sih. Khawatir?" Kini Kansha malah tertawa tak jelas. "Aku hanya berusaha menasihatimu." lanjutnya.


Alan hendak membuka mulutnya tapi Kansha menyelanya.


"Ayo menepi saja. Aku mual." katanya.


Alan sempat hendak membuka suara lagi tali setelah itu mengalah. Dia mendesah. Alan pun pada akhirnya mengangguk dan mulai mendayung kembali menuju tepian. Diam-diam Kansha merasa lega.


***


Sebuah truk militer datang membelah jalur setapak di balik sebuah bukit. Sekumpulan orang-orang berpakaian bebas dengan tas berat tergantung di pundaknya duduk dengan tenang. di sisi kiri mereka, dinding tanah penopang bukit terhampar dan sisi kiri mereka, jurang dalam siap menelan mereka. Rintik hujan masih terasa. Ini pukul lima sore dan hujan terus mengguyur mereka selama dua jam terakhir.


Tak lama, truk itu sampai di sebuah tanah lapang. Papan kayu reyot menyambut mereka dengan tulisannya yang sudah usang.


Selamat Datang di Desa Mauri


Para rombongan itu turun. Dimulai dari para perempuan dan berlanjut para lelaki. Mereka pun berbondong-bondong saling membantu menurunkan muatan dan menaruhnya di atas tanah becek. Tak berapa lama, sekumpulan orang berbaju tradisional menghampiri mereka.


Alfin, yang merupakan ketua tim mereka maju menyambut uluran tangan sang kepala desa. Mereka pun berkenalan satu persatu dan dengan ramah saling berjabat tangan. usai perkenalan basa-basi itu, rombongan Alfin dibawa masuk ke dalam desa.


Nana yang berjalan di barisan paling belakang. Tak henti-hentinya berdecak kagum. Rumah Adat Panjang berjajar di ruas kanan kiri mereka, rumah adat ini sudah termasuk langka. Karena pada tahun 1960-an beberapa rumah adat ini dihancurkan oleh pemerintah karena isu dugaan komunisme. Namun di Desa Mauri, masih ada beberapa rumah adat yang masih berdiri kokoh.


“Silakan duduk dahulu.” Ucap kepala desa tersebut. Namanya Mari dan untungnya dia bisa berbahasa Indonesia karena pernah merantau ke Bandung dulu kala.


Kemudian tarian sambutan dimulai. Sekumpulan lelaki berpakaian adat datang dengan menari berjingkrak-jingkrak diiringi musik daerah. Mereka kemudian menghampiri rombongan Alfin dan memintanya berdiri. Setelah rombongan Alfin berdiri, mereka mengelilinginya dengan terus menari. Kemudian sekumpulan wanita dengan pakaian adat datang dan membawa kalung bunga. Para perempuan diberikan kalung bunga sedangkan para lelakinya ikut menari dengan para lelaki berpakaian adat. Mereka pun larut dalam tarian. Suasana hangat dan ramah langsung tercipta. Meski baru bertemu, sangat terlihat kebersamaan mereka.


Usai tarian penyambutan, rombongan Alfin dibawa ke salah satu rumah Panjang. Mereka berdecak kagum ketika menaiki satu persatu undakan tangga. Mulut mereka menganga melihat betapa luasnya rumah ini.


Mereka dibawa ke salah satu sekat yang berada di ujung. Rumah adat ini memang dihuni oleh banyak keluarga yang bisanya dipisahkan oleh sebuah sekat. Dan tempat itu juga juga tak main-main. Ukurannya cukup untuk mereka bersepuluh.


“Kita istirahat dulu sebentar , Baru mulai bekerja.” Ujar Alfin memberi perintah. Para anggotanya mengangguk.


Alfin menata barang-barangnya dan menggelar karpet. Setelah itu dia langsung berbaring. Begitu tubuhnya menyentuh karpet, dia mengerang. Tubuhnya kaku karena perjalanan yang hampir memakan sepuluh jam. Tak lama, matanya menutup.


***


“Sekarang, kita beralih ke kabar kedua.”


Aura mengeluarkan sebuah amplop lagi. Kali ini lebih terlihat berat dibanding sebelumnya. Aisyah pun menerimanya dengan bertanya-bertanya.


“Ini apa?” tanyanya bingung.


“Lihat saja. Tapi kurasa kamu akan sangat terkejut.” Jawab Aura dengan seulas senyum aneh.


Aisyah pun membuka amplop itu. dan begitu melihat isinya, dia mematung. Isi-isinya keluar dan berserakan di ranjangnya.


“Ini..” Aisyah gemetaran. Dia menatap penuh pertanyaan pada Aura.


Aura mengambil salah satu foto dan memperlihatkannya langsung ke depan muka Aisyah.

__ADS_1


“Aku baru menyadari bahwa wanita yang kamu maksud sama dengan wanita yang sangat kubenci. Dan dia memang penggoda. Dia sudah lama berhubungan dengan calon suamimu.” Kata Aura.


Aisyah terkejut bukan main. Dia fikir, Kansha tidak akan mendekati Alan lagi. Dia fikir, dia salah menilai Kansha. Tapi bukti ini..mereka bahkan berciuman. Alan mengkhianatinya?


“Ini pasti bohong kan, mbak?” tanya Aisyah tak percaya sembari menunjukkan salah satu foto. Dia ingin sekali berharap bahwa ini adalah palsu dan hanya editan belaka. Tetapi..


“Aku tak akan berani membohongimu. Jadi ini nyata.”


Aisyah kembali mematung. Air matanya mengalir di pipinya yang mulus.


***


Alan dan Kansha tengah berjalan-jalan di taman sekitaran danau. Suasana sore itu sangat damai. Cahaya hangat matahari menyinari jalan setapak mereka. Mereka berjalan tanpa suara dimana Kansha berjalan di depan sedangkan Alan berada di belakangnya. Alan berjalan sambil melompat-lompat. Dia terus mengikuti kemana arah bayangan Kansha.


Kansha berhenti berjalan membuat Alan juga berhenti melompat-lompat. Kansha menoleh dengan kesal.


“Apa sih yang kamu lakukan?”


“Katanya kalau kita mengikuti arah bayangan seseorang, maka seseorang itu akan mengikuti kita selamanya.” Kata Alan menatap Kansha.


Kansha terkesiap. Dia berusaha menetralkan wajahnya yang berkedut. “Aku tidak ingin menjadi bayanganmu selamanya.” Balas Kansha datar.


“Aku tidak bilang menjadi bayangan. Lagipula menjadi bayangan itu susah-susah gampang.”


“Maksudnya?”


“Kamu bahagia bisa mengikuti kemanapun langkahnya. Dan sangat sedih karena kamu hanya menjadi bayangannya saja tanpa bisa memilikinya,”


“Itu sebabnya jangan jadi bayangan. Jadilah seseorang yang disinari cahaya matahari dan berdiri di hadapan orang yang dicintai dengan gagah.” balas Kansha.


Kansha mensejajarkan badannya tepat di depan Alan. "Seperti ini." lirih Kansha.


Mereka saling berhadapan. Pandangan mata mereka bertemu. Dengan sinar matahari yang menyorot, waktu serasa berhenti. Setitik rasa muncul di lubuk hati mereka. Rasa yang memiliki dua klausa pernyataan. Pembenaran dan kekeliruan.


“Alan, bagaimana kalau ternyata aku..” ucapan Kansha terhenti. Namun dia masih menatap Alan.


“Ternyata apa?” tanya Alan.


“Ternyata aku..”


Drtt


Ponsel Alan bergetar. Alan menghentikan ucapan Kansha dan mengambil ponselnya. Dia mengangkat telfonnya dan seketika panik.


“Baik, Alan kesana sebentar lagi.” Ujar Alan. setelah itu menutup telfonnya.


“Ada apa?” tanya Kansha bingung ketika Alan terlihat panik.


“Aisyah..dia kolaps. Aku harus ke rumah sakit sekarang.” Jawab Alan dengan sangat cemas.


Kansha tersentak. Hatinya berdenyut nyeri.


“Harus sekarang? Aku belum menyelesaikan perkataanku.” kata Kansha.


“Maafkan aku Kansha, tapi aku benar-benar harus pergi. Aku akan menghubungimu lagi.”


Begitu mengatakan itu, Alan langsung berlari pergi. Tanpa menengok ke belakang, Alan terus menjauh. Kansha memandanginya hingga punggung Alan tenggelam di kejauhan.


“Ternyata aku mencintaimu. Itu yang ingin kukatakan.” Lirih Kansha. Satu air matanya menetes.

__ADS_1


Mencintai Alan, membunuhnya perlahan.


__ADS_2