
“Huwaaa!!”
Sebuah tangisan keras menggema di seluruh rumah besar keluarga Williams. Grace bergegas turun begitu mendengar suara tangisan dari belakang rumah. Begitu dia sampai ke sumber suara, terlihat Kansha menangis sambil menendang-nendang udara. Grace langsung menghampirinya.
“Ya ampun sayang! Kenapa menangis?” tanya Grace panik.
Kansha terus menangis dan kini tangannya sambil menunjuk-nunjuk ke arah sebuah kandang kelinci. Grace mengikuti arah telunjuk Kansha dan bingung mendapati salah satu kelinci tidak ada.
“Loh yang satunya kemana?” tanya Grace bingung. Seharusnya kelinci di kandang itu ada dua, tapi kini hanya ada satu.
Kansha tak menjawab, dia malah terus menangis. Tentu saja dia sedih. Itu adalah kelinci peliharaannya dengan kakaknya dan kini malah tidak ada satu. Kansha tidak tahu kemana kelinci itu pergi. Karena tahu-tahu begitu Kansha melihatnya tadi, kelinci itu sudah tak ada padahal sore kemarin masih ada.
Grace memeluk Kansha yang terus saja menangis. Dia mengusap-ngusap surai kecoklatan Kansha sambil menenangkannya.
“Shutt, jangan menangis ya. Nanti mama cari kelinci kamu yang hilang.” Hibur Grace.
Kemudian terdengar suara derap langkah tergesa-gesa dan sepasang kaki kecil melangkah cepat menghampiri ibu dan anak itu. Kania datang sambil membawa bonek**a beruangnya.
“Ada apa? Adik Kansha kenapa menangis?” tanya Kania begitu melihat adiknya bersimbah air mata.
“Kelincinya tidak ada satu. Sepertinya hilang atau dibawa pergi. ” ujar Grace sama bingungnya. Tapi bagaimana bisa hilang, padahal kelinci itu selalu berada dalam kandang kalaupun dibawa pergi semisal dicuri, seharusnya dia sudah menangkap pelakunya. Di rumah sebesar ini dengan pengawasan ketat, tidak mungkin orang luar masuk begitu saja dan mencuri.
“Kelincinya tidak hilang kok. Kania memberikannya pada teman Kania.” ucap Kania polos.
Kansha berhenti menangis begitu mendengar jawaban Kania. Grace juga terkejut.
“Kania memberikannya pada teman Kania?” tanya Grace tak percaya.
Kania mengangguk, “Dia teman Kania yang sangat cantik.” Balas Kania polos.
“Kenapa Kania memberikannya pada teman Kania? Kania belum meminta izin pada adik Kansha kan?” tanay Grace lembut.
Kania merasa bersalah, dia lupa tidak meminta izin pada adiknya. “Maafkan Kania." Ucapnya pelan.
“Lalu kenapa Kania memberikannya?”
“Itu karena teman Kania selalu sedih. Dia bilang tidak ada yang bisa dia ajak bicara selain Kania. Dia juga kesepian karena tidak punya teman. Jadi Kania memberikan salah satu kelinci padanya agar dia tidak kesepian lagi.” Jelas Kania.
Grace terdiam sesaat. Dia merasa bangga pada sikap empati Kania pada temannya. Tapi permasalahannya adalah Kansha. putri keduanya itu mungkin belum mengerti akan sikap kebaikan yang ditunjukkan kakaknya itu.
“Tapi ini kelinci Adik Kansha, Kania belum meminta izin padanya. Adik Kansha sangat sedih karena salah satu kelincinya tidak ada.” ucap Grace. Dia mengusap bekas air mata yang membasahi pipi bulat Kansha. Kansha juga masih sesenggukan di pangkuan ibunya.
Kania tiba-tiba berjongkok. Dia menatap Kansha penuh rasa bersalah. “Maafkan Kania ya. Kania lupa tidak meminta izin dari Adik Kansha.” ucapnya. Tapi Kansha tak menjawab, dia terus saja sesenggukan. Terlihat kesedihan masih mewarnai raut wajahnya.
Grace menengahi, “Ya sudah tidak apa-apa. Sejujurnya mama bangga dengan Kania karena Kania baik pada teman Kania. Tapi Kania harus ingat bahwa lain kali Kania harus meminta izin pemiliknya dahulu, tidak boleh langsung membawanya begitu saja. Disini yang Kania beri adalah kelinci milik Adik Kansha, jadi Kania harus meminta izin dahulu pada Adik Kansha sebelum memberikannya pada teman Kania.” jelas Grace lembut.
Kania mengangguk pelan, “Maafkan Kania ya ma. Adik Kansha, maafkan Kania.”
Grace mengelus rambut Kania, “Anak baik.” Pujinya bangga.
Grace lalu beralih menatap Kansha yang kini sudah mulai reda tangisannya, “Nanti kita beli yang baru ya, sayang. Jangan menangis lagi.” Hiburnya.
Kansha akhirnya mengangguk pelan.
***
Drrt drt
Kansha membuka matanya begitu suara alarm terdengar. Dia mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat jam yang tertera disnana. Sudah pukul enam pagi. Kansha melakukan peregangan dahulu sebelum bangun dengan susah payah.
Kansha langsung memulai rutinitas paginya. Dia meminum segelas air putih setelah itu mencepol rambutnya. Perempuan itu lalu menuju kamar mandi. Alih-alih langsung mandi, dia malah menyikat gigi dan mencuci muka. Setelah selesai Kansha keluar kamar.
Begitu dia turun tangga, aroma harum masakan menguar memenuhi seluruh rumah dan paru-parunya. Kansha jadi terdiam. Dia berfikir siapa yang sedang memasak sedangkan Bi Ningsih masih ada di kampungnya?
Bagai tersadar, Kansha langsung berlari turun dan menuju dapur.
“Ma!” serunya terkejut. Dia langsung senang kala melihat siluet mamanya yang sedang memasak sesuai harapannya.
“Selamat pagi, putri tidur.” Sapa Grace riang. Dia berbalik menghadap putrinya.
“Kapan mama pulang?” tanya Kansha bingung meski begitu dia tetap merangsek maju ingin memeluk Grace.
Tapi Grace merentangkan kedua tangannya ke depan, “Eit, stop! Mama bau bawang, nanti saja pelukannya.” Cegah Grace.
Kansha mengabaikannya, dia malah langsung memeluk Grace erat.
“Bagiku mama tetap yang paling wangi.” Ucap Kansha tersenyum.
Grace terkekeh mendengarnya tapi dia tetap membalas pelukan Kansha. “Dasar anak nakal.” Ucapnya.
“Jadi kapan kalian pulang?” tanya Kansha begitu selesai berpelukkan.
“Sekitar pukul empat pagi. Kami tidak tega membangunkanmu lagipula kami punya kunci cadangan.” Jelas Grace menjawab detail seakan tahu bahwa Kansha akan bertanya lagi.
“Kalau papa dimana?” tanya Kansha celingak-celinguk.
“Papamu sedang berolahraga di sekitaran taman.” Jawab Grace.
“Oh begitu.” Sahut Kansha mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kufikir mama akan datang hari jumat. Mama pulang mendadak?” tanya Kansha lagi.
__ADS_1
“Pekerjaan papa sudah selesai jadi kami lebih memilih pulang. Lagipula kamu sendirian terus di Jakarta, siapa yang akan mengurusmu sedangkan kamu saja snagat sibuk?”
“Aku sudah meminta Bi Ningsih untuk segera pulang tapi Bi Ningsih bilang kesehatan suaminya terus memburuk.”
“Lalu?”
“Aku meminta membawanya ke Jakarta karena perawatan medis disini lebih canggih.”
Grace menganggukan kepalanya, “Lalu apa jawaban Bi Ningsih?”
“Bi Ningsih bilang kalau suaminya tidak kunjung sembuh, dia akan membawanya ke Jakarta seperti yang kusarankan.”
“Mama jadi khawatir Bi Ningsih akan mengundurkan diri.” Ujar Grace sambil memindahkan nasi goreng ke dalam piring besar.
“Kalau begitu maka kita akan kerepotan. Paling tidak, kita mungkin harus mencari yang baru. Tapi tidak ada yang sebaik dan sebagus Bi Ningsih.”
“Tentu saja. Beliau sudah bekerja di keluarga kita selama hampir tiga puluh tahun. Dia sudah seperti anggota keluarga kita.” Timpal Grace sambil membawa masakan yang dia buat menuju meja makan.
“Semoga saja kesehatan suaminya membaik. Aku belum siap kehilangan Bi Ningsih.” Imbuh Kansha sambil mengikuti sang mama dengan membawa mangkuk besar berisi masakan lainnya.
“Sarapan sudah siap.” Tandas Grace senang. Dia selesai menata semuanya dengan cepat berkat bantuan Kansha.
“Papa kamu juga sudah pulang sepertinya. Mama ke atas dulu ya, menyiapkan pakaian papa.” Ucap Grace. Kansha mengangguk kemudian mamanya itu meninggalkannya sendirian di meja makan.
Kansha duduk di meja makan. Dia memeriksa ponselnya sambil mengunyah mentimun. Dia melihat jam yang tertera di layar ponselnya, penasaran apakah Alan sudah bangun atau belum. Tapi sepertinya lelaki itu sudah bangun. Alan jauh lebih rajin dibanding dirinya. Kansha terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
“Selamat pagi.” Suara berat papanya menarik indera pendengaran Kansha.
“Pagi, pa.” Balas Kansha dan dengan semangat langsung menghampiri papanya dan meminta pelukkan.
“Sikapmu seperti anak kecil saja.” Ujar papanya terkekeh. Tapi dia tetap memeluk putrinya tersebut.
“Sedewasanya anak perempuan, dia masih anak kecil bila bersama papanya.” Ucap Kansha santai. Dia lalu mengecup pipi papanya, “Aku merindukan papa.” Lanjutnya.
“Kamu tadi tidak mengecup mama?!” protes Grace.
Kansha melepas pelukan papanya kemudian mengecup pipi mamanya, “Aku merindukan mama. Sudah ya jangan iri lagi.” Ujarnya terkekeh. Grace hanya mencebik.
Kemudian keluarga kecil ini mulai makan dengan tenang. Suasananya hangat dan harmonis. Banyak topik yang mereka bicarakan di meja makan itu. Dan tak jarang, suara tawa juga bergema di seluruh rumah. Ini adalah kali pertamanya lagi rumah ini kembali hangat dan ramai setelah tiga bulan.
***
Seusai sarapan bersama, keluarga Williams tengah berkumpul di ruang keluarga. Tiga cangkir teh dan sepiring buah juga tersaji di atas meja. Suasananya damai hingga suara Kansha memecah kedamaian mereka.
“Ada yang ingin kusampaikan dengan kalian.” Ucapnya.
“Apa?” tanya Grace sambil meminum tehnya.
Kansha nampak ragu. Dia menggigit bibir bawahnya dan tangannya saling bertautan. Dia selalu melakukan dua tindakan itu kala merasa bimbang.
“Aku...begini..aku..” Kansha terbata-bata. Astaga, dia sungguhan tidak tahu harus bicara dimulai dimana.
“Katakan saja. Jangan takut.” Ucap Andrian tenang.
Kansha akhirnya berusaha mengumpulkan keberaniannya dan mulai berbicara, “Aku..AKAN MENIKAH.” Serunya cepat.
“Apa, nak? Tidak kedengaran.” Ucap Grace mengeryit. Bicaranya terlalu cepat jadi Grace tak menangkap katanya dengan baik.
“Aku akan menikah.” Ulang Kansha kini dengan nada yang lebih jelas.
Krik krik
Grace dan Andrian sama-sama terdiam. Mereka menatap Kansha dengan aneh.
“Kubilang aku akan menikah.” Ucap Kansha lagi. Dia bingung dengan reaksi kedua orang tuanya.
Brak
Kansha berjengit kaget kala Grace meletakkan cangkir tehnya dengan keras. Dia menatap horor mamanya.
“MENIKAH?” seru Grace. Kansha mengangguk takut-takut.
“Apa aku tidak boleh menikah?” tanya Kansha polos.
Pletak
“Aw! Sakit! Ssh.” Ringis Kansha begitu Grace menjitak kepalanya.
“Kamu bilang kamu tidak punya kekasih, lalu bagaimana akan menikah?” tanya Grace kesal.
“Aku bilang seperti itu, berarti aku juga sudah punya calon! Masa aku menikah tanpa pasangan sih ma.” Tukas Kansha tak habis fikir.
“Siapa calon kamu? Mama dan papa mengenalnya?”
Kansha kini jadi diam, “Mungkin iya, mungkin tidak.” Jawabnya ragu.
“Iya atau tidak?!” seru Grace.
“Aish, iya tapi hanya sebatas nama. Kalian belum pernah bertemu dengannya.” jawab Kansha ikut berteriak.
“Berapa lama kalian pacaran? Kenapa langsung memutuskan menikah? Siapa namanya? Seperti apa wajahnya? Pekerjaannya apa?” tanya beruntun Grace.
__ADS_1
“Aku tidak tahu kapan kami mulai bersama. Kami juga tidak pacaran karena dia langsung melamarku.” Balas Kansha pelan.
“APA? Kalian tidak pacaran dan dia langsung melamar? Dan kamu menerimanya?” Kansha menganggguk.
“Kamu menerimanya?! Lalu darimana kamu tahu dia baik atau tidak. Cinta denganmu atau tidak. Bagaimana kalian saling menyesuaikan diri. Pernikahan bukan pacaran yang bisa seenaknya putus!” seru Grace kesal.
Kansha mendesah pelan, “Ma, aku menerimanya karena aku yakin dengannya. Bukankah itu bagus kalau ada lelaki yang langsung melamar kita alih-alih mengajak berpacaran? Itu berarti dia adalah lelaki sejati dan serius dengan kita. Kenapa mama malah marah-marah?” tukas Kansha. “Iya kan, pa?” lanjut Kansha meminta dukungan dari papanya.
“Kansha benar.” Ucap Andrian. Kansha mengangguk puas.
“Mama tidak marah-marah. Mama hanya khawatir denganmu. Kamu sudah tua dan memang waktunya menikah tapi masalahnya kami tidak tahu soal ini dan kamu sama sekali tidak pernah memberitahu kami. Bagaimana tanggapan kami soal pasanganmu.” Ujar Grace. “Iya kan, pa?” lanjut Grace melirik Andrian.
“Mamamu benar.” Balas Andrian. Grace tersenyum puas sedangkan Kansha tak percaya bahwa papanya tadi memihaknya dan kini malah memihak mamanya.
“Papa dukung siapa sih? Aku atau mama?” decak Kansha sebal.
“Papa tidak mendukung siapapun. I’am free.” Tandasnya tak bisa diprotes lagi.
“Pokoknya mama tidak akan memberi restu sebelum kamu bawa lelaki itu kehadapan papa dan mama.” Pungkas Grace.
“Aku memang sudah membicarakan soal itu. Dia dan keluarganya akan menemui kalian hari minggu.” Jelas Grace.
“Tunggu, dia akan datang dengan keluarganya? Itu berarti bukan lagi dalam tahap pengenalan. Itu sudah hampir resmi!”
Kansha kini amat lelah. “Tentu saja itu belum resmi, papa dan mama belum memberikan restu.” Tukas Kansha.
“Memang seperti apa lelakinya?” sela Andrian.
“Dia baik, tampan, rajin, mapan, pokoknya dia sudah memenuhi syarat kriteria calon menantu idaman. Dijamin papa akan menyukainya luar dalam!” ujar Kansha berapi-api.
“Dia sudah pernah datang ke rumah?” tanya Andrian lagi.
Kansha tersentak, “Eh?”
“Dia sudah pernah datang ke rumah atau ke apartementmu?” tanya Andrian sekali lagi.
“Apa itu penting?” gumam Kansha.
“Jangan bilang, dia pernah datang ke rumah atau apartementmu.” Selidik Grace.
Kansha menggaruk tengkuknya, dia tidak tahu harus menjawab apa jadi lebih memilih memalingkan pandangannya.
“Jadi pernah.” Tandas Grace dengan nada penuh penekanan.
“Di-dia hanya datang untuk mengajakku jogging. Dia juga pernah memasakkanku makanan karena saat itu aku sedang sakit.” Jawab Kansha terbata-bata.
“Tidak ada hal lain lagi kan?” Grace masih curiga.
“Tentu saja tidak. Dia lelaki yang baik. Dia juga meminta izin padaku sebelum ke datang rumah. Dia lebih mementingkan manner.” Jelas Kansha meyakinkan.
Ting tong
Setelah Kansha mengatakan itu, bel rumah berbunyi. Kansha, Andrian dan Grace sama-sama menatap arah pintu. Lalu Andrian bangkit berdiri.
“Biar papa saja.” Ucapnya.
Andrian lalu berjalan menuju pintu. Setelah itu dia membuka pintu dan seseorang berjaket bomber berwarna army berdiri tepat didepan pintu sambil membawa seikat bunga. Ekspresi orang itu yang awalnya tersenyum kini berubah terkejut kala mendapati orang tak terduga yang membuka pintu.
“Siapa kamu?” tanya Andrian dengan nada menyelidik.
“Saya Alandra, Om.” Jawab orang itu yang ternyata Alan dengan sopan meski masih terkejut.
“Apa kita pernah bertemu?” tanya Andrian lagi.
Alan mengangguk, “Di rumah sakit setahun lalu. Saya orang yang bersama Kansha ketika terdampar dulu.” jelas Alan.
Andrian menganggukan kepalanya, “Oh jadi kamu?” Alan mengangguk cepat.
“Ada perlu apa kesini?” tanya Andrian lagi sambil melirik bunga yang dibawa Alan.
“Saya—“ belum selesai Alan berbicara, Andrian keburu memotongnya.
“Kansha! calon suamimu datang!” teriak Andrian tiba-tiba.
Dan Kansha yang mendengar teriakan Andrian, langsung terbelalak kaget.
Kansha berlari menuju pintu diikuti mamanya.
"Alan?" pekik kecil Kansha. Disampingnya, mamanya berdiri.
"Dia calon suamimu?" tanya Andrian menoleh ke arah Kansha.
Kansha mengangguk.
"Kamu tahu dia akan datang?" tanya Andrian lagi.
"Ten-tu saja. Aku tahu dia akan datang. Sudah kubilang dia orang yang sopan." balas Kansha berbohong. Aslinya dia tidak tahu kalau Alan akan datang.
"Tapi aku belum memberitahumu." tukas Alan polos.
Kansha tersentak. Dia melirik papanya takut-takut yang menatapnya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Dia lelaki yang baik. Dia juga meminta izin padaku sebelum ke datang rumah. Dia lebih mementingkan manner.”
Astaga.. Kansha yakin dia akan mati ditangan papanya.