My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 130.


__ADS_3

Kansha kini kembali ke rumah Williams. Dia sebenarnya sudah mengajak Aisyah juga, tapi Aisyah tidak mau karena sungkan. Apalagi dia teringat dengan kejahatannya pada Kansha yang pasti membuat orang tua angkat kakaknya merasa tak nyaman dengannya. Jadilah Aisyah tinggal sendirian di rumah. Perempuan itu juga tengah mempersiapkan program pascasarjananya yang seperti dia rencanakan dan Kansha.


Di rumah, Kansha diperlakukan sebagai ratu. Dia diperlakukan dengan baik dan dibuat senyaman mungkin. Kansha bahkan harus tetap di ranjang. Dirinya tidak boleh beranjak barang semeterpun. Semua yang dia inginkan, akan diambilkan oleh Grace dan Bi Ningsih. Seperti sekarang, Kansha ingin ke kamar mandi dan Grace ingin memapahnya.


“Aku bisa sendiri, ma. Serius.” tolak Kansha untuk ke sekian kalinya.


“Kaki kamu itu masih sakit dan jangan banyak bergerak.” Sanggah Grace.


“Tapi kamar mandi juga hanya berjarak lima meter dari sini. Aku tidak apa-apa. Lagipula aku hanya ingin mencuci rambutku saja.” Rengek Kansha. Dia sungguhan bisa sendiri.


“Iya, mama bantu.” Ucap Grace hendak meraih tangan Kansha.


“Ma..aku tidak ingin merepotkan mama terus. Untuk hal seperti ini aku bisa sendiri.” Kansha kembali merengek. Dia sudah besar dan canggung rasanya bila diperlakukan seperti anak kecil.


“Kansha, kalau kamu baik-baik saja, mama juga tidak perlu membantumu segalanya. Tapi sekarang kamu sedang sakit bahkan kamu tidak bisa berjalan dengan baik karena kakimu. Jadi biarkan mama membantumu. Ayo.” Grace meraih tangan kanan Kansha dan melingkarkannya di pundaknya.


Kansha menyerah. Dia pun pasrah hendak di bagaimanakan oleh Grace. Kansha pun berdiri dengan susah payah dibantu Grace. Mereka berjalan berdampingan menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Grace mendudukan Kansha di atas penutup toilet sedangkan dirinya kembali ke kamar. Tak lama, Grace kembali ke kamar mandi dengan membawa sebuah kursi. Kansha terbelalak melihatnya.


“Untuk apa mama membawa kursi?” tanya Kansha.


“Tentu saja untuk kamu.” Jawab Grace cepat. Perempuan diujung empat puluh itu pun kembali memapah Kansha dan mendudukannya di kursi. “Kamu kan ingin keramas, pasti rasanya tidak nyaman kalau terus berdiri jadi mama membawakanmu kursi.” Jelas Grace.


Kansha seketika terharu dengan perhatian mamanya. Dia menatap Grace yang tengah mengisi baskom dengan air hangat.


“Terima kasih, ma.” Ucapnya tulus.


Grace membalasnya dengan seulas senyum lembutnya.


Setelah mengisi baskom, Grace lalu melingkarkan handuk kecil di pundak Kansha untuk mencegah agar baju Kansha tidak basah. Setelah itu dia mengambil shower dan mengguyurkannya pada rambut Kansha pada intesitas kecil. Rambut Kansha pun seketika basah. Grace lalu mematikan shower dan menaruhnya kembali setelah itu mengambil sampo Kansha. Garce menaruh samponya sebiji jagung ke atas rambut Kansha. Setelah itu tangannya yang basah menggosok-gosok rambut Kansha. Busa sampo pun seketika menyelimuti semua rambut Kansha. Grace juga sesekali memijit kulit kepala Kansha yang menghantarkan kenyamanan pada perempuan berusia dua puluh lima tahun itu. Saking nyamannya, Kansha bahkan sampai memejamkan matanya. Pijatan ibunya selain membuatnya nyaman juga menenangkan. Kansha bahkan bisa merasakan otaknya menjadi rileks.


“Ketika kamu kecil, mama sering mengeramasimu sambil memandikanmu. Dan mama merasa senang karena kini melakukannya lagi.” Celetuk Grace.


Kansha yang mendengar ucapan Grace seketika membuka matanya.


“Aku juga serasa kembali ke masa kecilku. Aku masih ingat aku bermain bola dengan anak laki-laki di taman. Aku ingat mama memandikanku sambil mengomel karena aku jadi kotor di seluruh badan.” Kekeh Kansha sambil mengenang masa lalu.


“Terus mama nanya, apa kamu mau mengulanginya lagi atau tidak? Terus kamu bilang tidak. Tapi tahu-tahu besoknya kamu juga seperti itu. Bahkan jauh lebih parah. Bajumu sobek, lututmu berdarah dan tanah mengotori seluruh badanmu.” Timpal Grace dengan nada sedikit sebal.


“Aku bilang tidak karena aku tidak ingin dengar mama mengomel lagi.” Aku Kansha terkekeh.


“Dasar anak nakal.” Dengus Grace.


“Hahahaha.” Kansha tertawa mendengarnya.


“Nih, balasan untuk anak nakal sepertimu!” Grace tiba-tiba menyemprot Kansha dengan shower dengan air besar. Kansha yang tak siap, seketika menutup matanya sambil terkekeh. Air masuk ke matanya tapi dia tetap tertawa.


“Hentikan, ma, hahaha, aku mengaku salah.” Dan tawa Kansha dan Grace berderai di ruangan kecil itu.


***


Alan sedang berdiri di depan sebuah pintu jati besar berwarna kayu. Dia memencet bel rumah itu. Tak lama, pintu itu terbuka menampilkan Bi Ningsih.


“Eh, Mas Alan toh. Bibi kira siapa. Ayo masuk, mas.” Sambut Bi Ningsih ramah. Alan memang sudah akrab dengan Bi Ningsih.


“Terima kasih, Bi.” Ucap Alan tersenyum. Lelaki itu pun mengikuti Bi Ningsih masuk kedalam rumah.


“Mas mau minum apa?” tawar Bi Ningsih.


“Apa saja, Bi.” Balas Alan sopan.


Bi Ningsih mengangguk. Perempuan paruh baya itu kemudian pergi ke dapur meninggalkan Alan sendiri di ruang tamu. Tak lama, Bi Ningsih datang kembali dengan nampan ditangannya. Segelas jus jeruk dan sepiring kue dihantarkan ke meja.


“Silakan mas, diminum dulu sambil bibi panggil non Kansha-nya.” Persilakan Bi Ningsih.


“Terima kasih ya bi.”


Bi Ningsih pun kembali pergi. Kini dia menuju lantai dua untuk memanggil Kansha.


“Non, ada Mas Alan di bawah.” Ujar Bi Ningsih begitu masuk ke dalam kamar Kansha.


“Serius?” mata Kansha jadi berbinar-binar. Dia segera bangun dari duduknya.


“Giliran Alan datang saja semangatnya minta ampun.” Celetuk Grace sebal. Grace mematikan hairdryernya karena Kansha yang tiba-tiba saja berdiri.


“Calon suami datang, masa tidak semangat.” Balas Kansha terkekeh.


“Dasar bucin kamu!”


***


tok


tok


Alan yang sedang membaca majalah langsung menoleh kala mendengar suara hentakan tongkat. Di atas tangga, ada Kansha yang langsung tersenyum lebar menatapnya dan Grace yang memapah Kansha disampingnya. Alan pun sigap langsung menghampiri mereka.


"Kamu jangan turun. Aku saja yang naik ke sana." larang Alan.


"Kalau begitu kita ngobrol di ruang keluarga saja." sahut Kansha. Grace pun langsung membantu Kansha membalikan badannya dan berbalik pergi.


Alan pun bangkit berdiri sambil membawa jusnya dan naik ke lantai dua. Di lantai dua, ada Kansha yang duduk di sofa bersama Grace.


Alan pun menghampirinya dan

__ADS_1


menyalami Grace lebih dulu.


Setelah menyalami Grace, Alan berdiri di hadapan Kansha. Kansha pun seketika tersenyum.


"Hai." sapanya sambil melambaikan tangan. Alan tersenyum melihatnya.


"Ya sudah karena sudah ada calon suamimu. Mama kebawah dulu ya." ucap Grace sambil menekan kata calon suami.


Kansha terkekeh mendengar nada kecemburuan yang tersarat dari nada Grace.


"Baik, tante." ucap Alan.


"Jaga Kansha ya, Lan. Jangan biarkan dia melukai kakinya lebih parah." ucap Grace. "Kamu juga jangan bergerak serampangan." lanjut Grace kini menatap Kansha dengan kilat tajamnya.


"Mama fikir aku anak kecil apa." dengus Kansha.


"Tante tenang saja. Kansha juga bukan masokis. Dia tidak mungkin menikmati rasa sakitnya." timpal Alan sambil terkekeh geli.


"Kata siapa? Aku selalu jadi masokis didalam hubungan kita." tukas Kansha lebay.


Alan terdiam karena terkejut sedangkan Grace berdecak.


"Dasar, cewek kasmaran." cibirnya. "Sudahlah, mama lama-lama mual kalau disini terus."


"Hati-hati loh ma, siapa tahu itu calon adik aku sudah hadir!" teriak Kansha pada Grace yang sudah turun tangga.


"Adik kepalamu soek!" balas Grace sebal.


Kansha tertawa keras mendengar tanggapan penuh kekesalan mamanya.


"Sepertinya kamu sedang dalam suasana hati yang baik."celetuk Alan.


Kansha menoleh pada Alan dan seketika mengangguk.


"Mungkin karena semuanya sudah usai. Tidak ada lagi kekecewaan, tidak ada lagi kesalahpahaman, tidak ada lagi kemarahan, benci bahkan dendam. Tidak ada lagi yang tersisa. Aku merasa sudah lega saat ini. " jawab Kansha tersenyum tenang.


"Dan duniamu kembali damai, begitu?" ucap Alan terkekeh geli.


Kansha langsung mengangguk, "Benar, aku merasa seperti sudah menyelamatkan dunia!" timpal Kansha ikut terkekeh.


"Aku ikut senang kalau kamu merasa seperti itu. Sudah waktunya kamu bahagia." ujar Alan setelah tawaya reda.


"Bahagiaku kan kamu. Kamu harus bahagia dulu sebelum membahagiakanku." timpal Kansha.


"Untuk membahagiakan diri sendiri saja sulit apalagi membahagiakan orang lain. Tapi kalau kamu beda kasusnya. Aku akan melakukan segalanya untuk membuatmu bisa tetap tersenyum."


Alan mengucapkan itu dengan nada sungguh-sungguh hingga Kansha merasa terharu. Alih-alih tersipu.


"Oh ya, bagaimana soal Aura?" tanya Kansha mengalihkan pembicaraan.


"Pencemaran nama baik?"


Alan mengangguk. "Orang yang menyebarkan soal masa lalumu di acara itu adalah Aura. Dia bersekongkol dengan Pak Benny yang jelas-jelas membencimu. Dia juga menyuap kru acara itu untuk mempermudah rencananya." jelas Alan.


"Lalu Pak Benny, dia juga ditahan?"


"Iya, Pak Benny juga dituntut atas penipuan. Aku tidak tahu pastinya. Tapi kata Alvaro, ini ada hubungannya dengan perusahaanmu."


Kansha mengangguk membenarkan. Dia tahu apa yang dimaksud Alan.


"Hari saat kamu datang ke kantorku dan tidak ada karena aku terbang mendadak ke Seoul, itu karena investorku membatalkan kerja sama karena pemerasan dan penipuan oleh Pak Benny." jelas Kansha.


"Itu berarti baik Aura maupun Pak Benny tidak akan lolos. Orang tuamu pasti berusaha keras untuk tetap menjebloskan mereka berdua."


"Jadi Alvaro yang mengurusnya, kan?" tanya Kansha.


Alan mengangguk.


***


Beberapa hari setelahnya, kondisi Kansha sudah membaik. Memar diseluruh tubuhnya pun sudah memudar seiring waktu. Kakinya yang sempat retak dan ligamennya yang robek juga sudah pulih. Tapi meskipun begitu Kansha belum masuk kerja.


Kini Kansha yang sudah rapi memakai celana kain dan kemeja putih tengah menunggu di depan kantor polisi. Entah apa yang terjadi tapi Kansha nampak gelisah. Dia sebenarnya sedang menunggu seseorang.


"Kansha." panggil seseorang dari jauh yang ternyata adalah Alvaro.


"Selamat pagi." sapa Kansha tersenyum begitu Alvaro mendekat.


"Pagi. Ayo masuk." ajak Alvaro. Kansha mengangguk dan mengikuti Alvaro masuk ke kantor polisi.


Alvaro pun mengisi daftar kunjungan dan meminta agar bertemu dengan Aura yang kini masih ditahan.


"Aura belum dipindahkan ke lapas tahanan karena dia memang belum didakwa. Jadilah dia hanya mendekam di sel tahanan." ucap Alvaro. Mereka memang tengah menunggu Aura yang sedang dibawa oleh petugas.


"Tapi dia akan segera dijatuhi hukuman kan?" tanya Kansha.


"Iya. Aura terjerat tiga tuntutan sekaligus. Kecil kemungkinan dia akan bebas lebih cepat. Apalagi lawannya adalah Williams." balas Alvaro.


"Kamu tidak masalah?" tanya Kansha menatap Alvaro.


"Apa maksudmu?" tanya Alvaro bingung.


"Aura adalah mantan pacarmu. Tapi kamu malah jadi pengacara orang yang menggugatnya."


Alvaro seketika mendesah, "Meski aku sedikit merasa aneh karena Aura dipenjara, tapi itu lebih baik. Aura sudah berlebihan. Apalagi semuanya sudah menjurus pada tindak kriminal. Terlepas dari alasan apapun dia melakukannya, aku tetap tidak akan membenarkan tindakannya."

__ADS_1


"Tapi kamu yang akan menuntutnya sendiri, tidak apa-apa bagimu?"


Alvaro menggeleng, "Tidak ada yang salah dengan tindakanku. Aku membela pihak yang memang benar. Dan Aura harus dihukum atas tindak kejahatannya meskipun harus aku sendiri yang melakukannya."


Kansha baru saja hendak membalas, kala pintu terbuka. Aura datang dengan tangan terborgol bersama seorang petugas wanita. Aura pun di dudukkan di kursi.


"Sepertinya kamu pulih dengan cepat. Sayang sekali dulu aku tidak melumpuhkanmu sekalian." sapaan kasar dari Aura hanya membuat Kansha tersenyum tenang.


"Seharusnua kamu melakukannya agar tuduhan padamu semakin besar." balas Kansha.


"Tidak masalah untukku." sahut Aura acuh. "Aku malah senang bisa bermalas-malasan. Disini memiliki banyak hal baik." lanjutnya sambil menyilangkan kakinya dengan sombong.


"Benarkah? Baguslah kalau begitu." sahut Kansha tidak peduli.


"Tapi apa yang kamu lakukan disini?" tanya Aura tersadar bahwa Kansha pasti datang dengan suatu tujuan.


"Wah, tak kusangka kamu cepat menyadarinya ya." komentar Kansha.


Aura tak menanggapinya. Hingga Kansha melanjutkannya.


"Aku datang kesini untuk menyelesaikan sesuatu denganmu."


"Apa?"


"Soal pencabutan salah satu tuntutanmu. Pencemaran nama baik, aku mencabutnya."


"Atas dasar apa kamu mencabutnya?"


"Karena aku tahu kamu melakukan itu karena Kania. Aku juga cukup berterima kasih karena hal itu aku bisa mengklarifikasi semuanya. Sesuatu yang membuat bebanku terangkat tinggi."


Aura berdecih sinis. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kansha.


"Seharusnya kubunuh dirimu langsung saat itu." ucap Aura penuh tekanan. Ekspresinya berubah menyeramkan.


"Seharusnya kamu langsung menembakku saat pistolmu ditodongkan ke pahaku. Tapi kalau kamu melakukannya, alih-alih mendekam selama dua tahun, kamu mungkin akan disini belasan tahun."


"Aku tidak peduli meski nanti dicap pembunuh sekalipun. Yang terpenting kamu musnah dari muka bumi." balas Aura tak main-main.


"Yah, lihat siapa yang berbicara sekarang? Kalau kamu mendekam disini belasan tahun, akan lebih mudah untuk menghilangkan semua yang kamu miliki seperti aset mendiang papamu. Aku baru tahu bahwa semuanya diberikan pada yayasan kami."


"Kamu dan dia memang sama-sama tak tahu malu. Tua bangka itu bahkan melukaiku di saat terakhirnya. Akan lebih menyenangkan kalau kusiksa dia lebih dulu bersamamu. Tapi syukur juga karena dia mati duluan, dia bisa kekal di neraka." ucap Aura sambil tersenyum kecil. Senyum yang amat menakutkan.


"Sepertinya kamu sangat membencinya." komentar Kansha yang bahkan tak perlu dibenarkan lagi.


"Lebih besar daripada kebencianku padamu. Dia adalah iblis yang sudah menciptakan iblis."


"Entah aku harus mengatakan ini atau tidak, tapi kurasa kamu salah paham lagi." cetus Kansha.


Aura melengos mendengarnya.


"Papamu tidak benar-benar membencimu. Mungkin istilah yang tepat adalah, dia menyadarinya di saat terakhir. Nyatanya, semua aset yang diberikan pada yayasan sejujurnya memang tak ada milikmu."


"Kenapa mengatakan hal sejauh itu hanya untuk kalimat terakhir yang menjengkelkan itu? Aku sangat kesal kamu tahu, saking kesalnya aku ingin membakar yayasanmu!" seru Aura kesal.


Kansha menggeleng, "Tidak, tidak perlu sampai sejauh itu, Aura. Aku pernah mengatakan padamu untuk berhenti menilai dari sudut pandangmu. Semua yang kamu lihat bukanlah keseluruhannya."


"Lalu apa yang kamu maksud?!"


"Papamu sebenarnya tidak terlalu kejam juga. Dia tidak memberikan semuanya untuk yayasan kami. Tapi dia juga tidak bodoh untuk langsung memberikannya padamu. Jadi dia menyerahkan semuanya pada orang tuaku untuk dikelola sementara setelah akhirnya kamu siap untuk mengambil alih."


Aura terbelalak kaget. Dia mencondongkan tubuhnya, "Apa kamu bilang?"


"Papamu tidak sungguh membencimu. Dia tahu bahwa selama ini dia terlihat membencimu karena keluarganya yang menjauhinya. Tapi sejak meninggalnya ibumu, papamu mulai sadar bahwa apa yang dia lakukan selama ini padamu adalah salah. Tidak benar bila kamu disalahkan atas kekacauan yang terjadi pada hidupnya. Tapi kepribadian papamu memang keras dan cenderung kasar hingga dia tidak bisa mengutarakan perasaannya. Dia ingin mengakui kesalahannya tapi kamu yang selalu berbicara keras padanya akhirnya selalu membuatnya tidak jadi. Papamu sudah emosi duluan karena mendengar ucapanmu." tutur Kansha.


"Dan di hari kematiannya, papamu sebenarnya ingin menemuimu di apartementmu. Aku tahu karena aku melihat alamat terakhir yang disimpan di GPS-nya. Kata sekretarisnya, dia ingin mengajakmu makan malam bersama. Tapi sayangnya, kecelakaan itu terjadi."


Aura terdiam tak percaya dengan penjelasan Kansha.


"Kalau ingin berbohong, kusarankan lebih baik realistis lagi." desis Aura.


"Sudah sangat realistis makanya kamu menyangkalnya. Namanya juga manusia, dia selalu tak percaya dengan kebenaran yang dikatakan orang lain padanya. Tapi terserahmu juga sih. Kamu punya waktu banyak untuk memikirkannya." ucap Kansha acuh tak acuh sambil mengendikkan bahunya.


Dan tiba-tiba Kansha berdiri.


"Saya sudah selesai." ucap Kansha pada petugas yang sedang menunggui mereka.


"Ayo pergi." ajaknya pada Alvaro.


"Tunggu! Jelaskan padaku apa maksud perkataanmu itu?!" cegah Aura.


"Kukira ucapanku sudah sangat jelas." balas Kansha hendak berbalik.


"JELASKAN PADAKU DULU, JALANG!" teriakan Aura yang penuh kemarahan seketika menghentikan langkah Kansha.


Kansha kembali berbalik "Papamu tidak membencimu sampai akhir hayatnya. Dia menyesali perbuatannya. Tapi anaknya tidak tahu hal itu dan malah mengutukinya agar kekal di neraka." tandas Kansha kini langsung pergi tanpa berbalik. Alvaro mengikutinya tanpa suara.


Sepeninggal Kansha dan Alvaro, Aura yang masih tak percaya, kembali berteriak. Dia berteriak-teriak memanggil-manggil Kansha yang sudah pergi.


"KAU BOHONG, KAN?"


" KEMBALI KANSHA! JELASKAN PADAKU!"


"KANSHA!"


Tapi Kansha tak menyahutinya. Hingga Aura menyerah dan duduk lunglai di kursi. Dia menyugar rambutnya penuh rasa frustasi. Masih tak percaya dengan fakta yang menghantamnya telak itu.

__ADS_1


__ADS_2