My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bonus Chap : Alfin's Initial Story


__ADS_3

Di sebuah kamar dimana seorang laki-laki tengah tertidur pulas. Wajahnya terlelap damai tanpa mengetahui apa yang terjadi. Dan sedetik kemudian, mata lelaki itu terbuka.


Alfin bangun perlahan. Dia memegangi kepalanya yang berdenyut. Telinganya juga berdengung. Sial, ini pasti efek semalam. Niko, teman kampusnya itu dengan gilanya mencekoki minumannya dengan alkohol dan parahnya Alfin tidak menyadarinya sama sekali. Seharusnya dia sudah tahu bahwa Niko brengsek itu tidak akan memberikan teh padanya dengan mudahnya.


Alfin melirik jam tangannya, tepat sekali dia bangun pukul satu lebih dua puluh menit pagi. Dia harus mengejar penerbangan ke Barcelona pukul setengah tiga pagi nanti.


Tapi Alfin tiba-tiba menutup mulutnya. Perutnya serasa bergejolak. Lelaki itu tanpa kata langsung menuju kamar mandi dan menumpahkan semua cairan yang tertahan di kerongkongannya.


Dan tanpa Alfin sadari, seseorang terbangun di ranjang yang sama. Orang itu bangun akibat mendengar suara muntahan Alfin yang terdengar keras. Kaki jenjang orang itu menggapai lantai. Rambutnya acak-acakkan dan bau minuman langsung menguar dari tubuhnya. Perempuan itu mendesah pelan. Dia kehilangan kendali akibat semalam.


***


Insiden tadi masih terbayang dalam benaknya. Bagaimana bisa dia tidur dengan perempuan lain? Alfin sialan, kemana kesadaranmu kabur semalam?


Tapi ada hal lain yang harus Alfin perhatikan saat kini. Jika suatu saat nanti dia bertemu dengan wanita asing tadi, dia akan benar-benar minta maaf dengan sungguh-sungguh.


Alfin kini tengah berada di bandara lagi. Setelah insiden salah kamar itu, dirinya langsung check out dari hotel tanpa memberitahu teman brengseknya itu dan hendak melakukan penerbangan ke Spanyol. Sesuai perkataannya pada Kansha dan Alan, dia hendak menjenguk kekasihnya.


Setelah penerbangan panjang Bali menuju Barcelona, Alfin tak lantas beristirahat. Meski lelah, lelaki itu langsung menuju apartement gadisnya. Sudah setahun dia tidak datang, tapi dia masih ingat bagaimana cara dan rute dari bandara untuk sampai di kediaman gadisnya. Tapi kali ini ada yang aneh, karena biasanya setiap kedatangannya ke Spanyol, kekasihnya selalu berdiri setia menunggunya dengan mengacungkan papan namanya dengan semangat. Tapi kini, kekasihnya tak menjemputnya bahkan tak bisa dihubungi sama sekali. Dan itu membuat Alfin khawatir terlebih dia tidak mengerti dengan pesan yang dikirimkan kekasihnya untuk mengatakan agar dia tidak datang.


Dengan perasaan hati tak menentu, Alfin sudah sampai di tempat tujuannya. Hanya perlu naik lift menuju lantai sembilan, maka flat gadisnya sudah sampai.


Tapi Alfin langsung bingung ketika melihat ada mobil polisi dan juga ambulans serta masyarakat yang berkerumun di depan gedung apartement kekasihnya.


"¿Por qué se suicidó"


(Kenapa dia bisa bunuh diri?)

__ADS_1


"Muy triste."


(Sangat menyedihkan.)


Alfin menguping pembicaraan beberapa perempuan paruh baya itu. Dia mengernyit bingung.


Ada yang bunuh diri?


Alfin pun memutuskan bertanya.


"Disculpe, ¿puedo hacer una pregunta ¿Qué pasó realmente aquí"


(Permisi, bolehkah saya bertanya? Apa yang sebenarnya terjadi disini?)


Para ibu-ibu itu menoleh lalu salah seorang menjawab, "hubo un estudiante extranjero que se suicidó anoche."


Alfin terkejut, " ¿El es un hombre"


(Dia laki-laki?)


Entah kenapa Alfin tiba-tiba menjadi gugup.


Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Alfin makin memucat. Kalau ibu itu menggeleng, berarti kalau bukan laki-laki maka...


Karena di apartement sekitar ini hanya ada tiga mahasiswa yang tinggal disini. Dua laki-laki dan satu perempuan.


Tidak mungkin, kan?

__ADS_1


"Gracias." ucap Alfin setelah itu dia berjalan menuju pintu gedung dengan perasaan khawatir.


Tapi begitu dengan masuk, dia terhenti kala melihat beberapa orang petugas medis dan dua polisi berjalan mendorong sebuah brangkar yang tentunya ada seseorang yang terbaring dengan kain putih menutupi seluruh tubuhnya.


Semua orang langsung berbisik-bisik. Alfin menelan ludahnya dan mendekati brangkar itu.


"Disculpe, ¿puedo echar un vistazo un momento?" Alfin meminta izin untuk melihat wajah jasad itu sebentar.


(Permisi, bisakah saya melihatnya sebentar?)


Petugas itu memperbolehkannya. Dan dengan tangan gemetar, Alfin membuka kain putih itu. Dan begitu dibuka.


Deg


Sebuah rupa tak asing, sebuah rupa yang amat dirindukan, telah menutup matanya. Terbujur kaku dengan wajah pucat. Senyum yang biasa menghiasi wajahnya sudah tak ada. Alfin terhantam begitu keras. Dia lemas.


"Tidak mungkin." lirihnya melawan kenyataan.


...--------...


Author bawa kabar gembira!!


Akan ada spin-off MHMP dengan kisah Alfin!! Yeay🎉🎉


Tapi cerita ini berdiri sendiri alias tidak perlu membaca kisah Alan-Kansha. Dan genrenya juga akan aku ubah sedikit lebih unik dan berani.


Penasaran? Check this out ke sebelah ya😊👉

__ADS_1


__ADS_2