
Kansha terdiam usai Alvaro mengatakan hal yang tak terduga seperti itu. Suasana hening seketika. Lalu tiba-tiba Alvaro tertawa. Kansha jadi bingung.
“Aku becanda, Kansha. wajahmu serius sekali.” Ujar Alvaro tertawa kencang.
Kansha mengerjap bingung. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana bila dia juga tidak mengerti situasi yang terjadi ini.
“Kansha?” tegur Alvaro melambaikan tangan di depan Kansha.
“Hah?” Kansha seperti orang linglung.
“Kamu memikirkan apa sih? Soal tadi? Aku benar-benar becanda. Wajahmu sangatlah horror.” Kata Alvaro dengan nada geli.
Kansha sontak memukul pundak Alvaro. “Becandamu tidak lucu. Itu benar-benar situasi paling awakward yang pernah kutemui.” Ujar Kansha kesal.
“Hahaha. Maaf ya.” Kata Alvaro masih tertawa.
“Tapi aku serius. Daripada membohongi perasaanmu, lebih baik kamu mengakui hatimu. Tidak semua bisa diselesaikan oleh logika. Ikut andilnya sebuah perasaan juga harus dipertimbangkan. Mungkin akan terasa sulit tapi hati terdalammu tahu, seperti apa rasanya kemenangan sejati.” Lanjut Alvaro kembali serius.
“Mudah mengatakan itu tapi dalam realisasinya akan sangat sulit. Kamu tahu pepatah yang mengatakan, tingkat cinta tertinggi adalah melepaskannya mengejar kebahagiaan yang lain. Mencintai tidak harus selalu memiliki bukan? Ada cinta yang lebih murni dibanding itu. Yaitu mencintainya dalam diam dan mendo’akan kebahagiaannya dalam hening.” Timpal Kansha.
“Sangat sulit berdebat dengan jenius bahasa.” Komentar Alvaro dengan mendesah pelan.
Kansha tertawa pelan. “Aku juga akan kalah bila berdebat soal hukum denganmu.”
“Tentu saja. Aku harus mengembalikan lisensiku bila aku kalah berdebat nanti.” Tukas Alvaro.
Kansha dan Alvaro terus berbincang malam itu. Meski malam semakin naik, menyelimuti kedua insan yang masih terus berbincang banyak hal. Bintang jadi penerang alami dengan rembulan menemani mereka. Terkadang, berbincang dengan teman merupakan hal yang sering kita lupakan kebahagiaannya. Bagi kita, berbincang dengan orang lain adalah hal biasa. Namun siapa sangka, kita akan merindukan perbincangan dengan teman di saat usia kita sudah senja. Tak ada yang bisa mengobatinya selain kenangan di hati.
***
“Bagaimana keadaanmu Aisyah?” tanya Alan menanyakan kondisi Aisyah begitu Aisyah siuman.
“Aisyah baik-baik saja, Mas Alan. terima kasih karena sudah menyelamatkan Aisyah.” Kata Aisyah pelan.
“Ini semua karena Allah. Syukurlah kalau kamu sudah mendingan. Mas ikut senang mendengarnya.” Timpal Alan tersenyum.
Aisyah ikut tersenyum. Dia terharu sekali begitu ia membuka mata, orang yang pertama ia lihat adalah Alan. Alan menepati janjinya untuk tinggal menemaninya. Aisyah sungguh bahagia dan berharap bahwa dia dan Alan akan tetap seperti ini. sungguh, Aisyah tak ingin apapun lagi di dunia ini selain Alan. Bersama Alan, Aisyah memiliki kehangatan keluarga. Bersama Alan, Aisyah mengerti bagaimana rasanya sebuah kasih sayang. Dan Aisyah belum siap kehilangan itu semua.
“Aisyah, kamu memikirkan apa?” tanya Alan ketika Aisyah hanya terdiam seperti patung sambil menatapnya.
Aisyah terkesiap. Dia sudah melamun begitu lama di depan Alan. aisyah seketika menggeleng. “Aisyah tidak melamun, Mas.”
“Kalau begitu istirahatlah. Malam sudah larut.” Ucap Alan. aisyah mengangguk. Dia pun segera membaringkan diri di ranjang kembali.
“Selamat malam, Mas Alan.” ucap Aisyah.
“Malam, Aisyah. Semoga tidurmu nyenyak.” Balas Alan. Aisyah mengangguk kemudian memutup matanya. Aisyah pun kembali terbuai di alam mimpi.
Usai Aisyah tertidur, Alan keluar dari ruangan rawat dan segera menghubungi seseorang. Suara nada panggil terus berbunyi sedangkan sang empu belum menjawab telfon dari Alan. panggilan terputus, Alan pun menelfon kembali. baru pada nada sambung ketiga, telfonnya dijawab.
“Halo, Kansha.” sapa Alan.
Tak ada balasan dari sana membuat Alan mengeryit bingung.
“Kansha kamu masih disana? Kamu mendengarku?”
Kemudian terdengar suara kresek dari Kansha. setelah itu suara Kansha terdengar.
“Apa?” kata Kansha dengan nada sedikit jutek.
“Sepertinya suasana hatimu sedang buruk. Kamu menjawabku dengan ketus sekali.” Komentar Alan masih belum mengerti situasi.
Terdengar Kansha menggerutu disana. Alan makin mendekatkan ponselnya ke telinganya tapi tak mendengar apa yang dikatakan oleh Kansha.
“Kamu sedang menyumpahiku atau bagaimana?” tanya Alan.
“Apa yang mau kamu bicarakan?” Kansha mengabaikan pertanyaan Alan dan mengalihkan topik.
__ADS_1
Alan menghela nafas pelan. Dia sadar kalau Kansha tengah marah padanya. tapi Alan tak akan membahasnya dahulu. Dia harus menanyakan keadaan Kansha lebih dulu.
“Bagaimana dengan keadaanmu? Kudengar kamu terluka.” Kata Alan dengan nada lembut.
“Sudah lihat kan tadi ketika di lobi.” Balas Kansha jutek.
“Aku hanya melihat tanganmu diperban. Apa ada yang lain lagi? Apa kata dokter?” tanya Alan dengan nada sabar.
“Yang kamu lihat berarti lukaku memang itu. kamu mengharapkan dimana lagi? Atau kamu senang aku luka dimana-mana?” ujar Kansha dengan nada kesal.
“Kok kamu kesal sekali. Aku kan hanya bertanya.” Tukas Alan bingung.
Kansha berdecak, “Ada lagi yang ingin ditanyakan?”
“Tidak, tapi aku...”
“Kalau tidak ada, aku tutup.”
Tit
“Halo? Kansha? kansha?” panggil Alan berkali-kali. Tapi terlambat, sebelum menyelesaikan ucapannya, Kansha sudah lebih dulu mematikannya.
Alan menatap nama Kansha di layarnya. Pembicaraan mereka bahkan tidak satu menit sama sekali. Alan merenung. Dia sepertinya membuat Kansha kesal lagi.
Tapi kali ini karena apa?
***
Keesokan paginya, bunda dan ayah datang menjenguk Aisyah. Mereka baru saja pulang dari kondangan di Bogor dan begitu mendengar kabar bahwa Aisyah dilarikan ke rumah sakit, bunda dan ayah langsung datang.
“Kamu harus lebih hati-hati ya, nak. Jangan melamun ketika tengah berjalan apalagi saat mau turun tangga. Sangat berbahaya.” Pesan bunda dengan sorot khawatir.
“Iya bunda, maafkan Aisyah. Aisyah memang ceroboh.” Ucap Aisyah pelan. Dia merasa bersalah karena sudah membuat keluarga Alan khawatir padanya.
Bunda mengelus hijab instan Aisyah yang menutupi kepala Aisyah. “Tidak apa-apa. Lain kali jangan diulangi ya.” Aisyah mengangguk.
Alan mempause permainnya dan mendongak menatap bundanya. Dia pun mengangguk.
“kalau begitu, Alan pulang dulu bun. Kebetulan Alan memiki urusan siang ini.” kata Alan sambil beranjak berdiri. Dia memasukkan ponsel ke saku celananya dan memakai jaket.
“Urusan apa?” tanya bunda.
“Urusan dengan seorang teman, bun.” Jawab Alan dengan nada tak biasa. Aisyah yang mendengarnya merasa aneh.
“Yasudah. Sekarang pulang saja dulu. oh ya bunda sudah menyuruh bibi untuk masak. Kamu nanti bawakan juga untuk adikmu ya. Dia besok mau melakukan kegiatan relawan jadi dia harus makan banyak.”kata bunda.
“Kenapa harus dibawakan? Alfin juga pulang ke rumah kan bun.” Ucap Alan.
“Adikmu bilang dia mau menginap di apartementnya. Jauh lebih dekat soalnya dari bandara. Penerbangannya jam delapan pagi. Dia harus datang dua jam sebelumnya untuk prepare.” Jawab bunda.
Alan mengangguk mengerti. “Ya sudah bun. Alan mengerti. Kalau begitu Alan pulang dulu.” pamit Alan. dia melangkah mendekati bunda dan mencium tangannya begitupun pada ayah.
“Assalamu’alaikum” pamit Alan mengangguk kecil pada Aisyah sebagai salam.
***
“Pakaian santai lima set. Baju tidur tiga set. Sepatu boot, sandal jepit, senter.”
Nana terus menyebutkan barang-barang yang akan ia bawa besok. Dia tengah melakukan prepare sehari sebelumnya agar tidak kerepotan nanti. Nana terus menyebutkan satu persatu dan mencontrengnya ketika barang itu sudah ada.
Kemudian bel berbunyi. Nana menaruh draft list itu dan melangkah menuju pintu. Di monitor, ada Alvaro yang ternyata datang. Nana pun langsung membuka pintu.
“Alvaro! Ada apa kesini?” sapa Nana begitu Alvaro duduk di ruang tamu.
“Oh itu, aku ingin mengambil beberapa barang-barangku yang tertinggal saat masih kuliah dulu. boleh aku masuk ke kamar?” tanya Alvaro sopan.
“Tentu saja, ini juga rumahmu. Masa aku melarang pemiliknya sendiri. Tapi maaf ya, kamarnya berantakan. Aku sedang berkemas untuk besok.” Timpal Nana.
__ADS_1
“Tidak masalah. Terima kasih ya, Nana.” Ucap Alvaro. Dia pun masuk ke kamar lamanya yang kini dihuni Nana. Sedangkan Nana menuju dapur dan membuat minuman untuk Alvaro.
Alvaro masuk ke kamarnya. Dia pun langsung menuju meja belajarnya yang kini dipenuhi kertas desain milik Nana. Tak terlalu memperhatikan itu, Alvaro langsung menuju ke laci paling bawah. Dia membukanya dan barang yang dia cari langsung terlihat. Alvaro pun mengambilnya. Itu adalah sebuah album foto kecil masa SMA nya.
“Ini dia.” Gumam Alvaro. Dia mengelap debu-debu di album itu dan nama SMAnya langsung bersinar kembali. alvaro pun menutup laci dan berdiri lagi.
Alvaro menaruh album itu di meja. Dia pun membukanya. Dia mencari-cari kelas Bahasa -1, kelas Kansha.
Disana foto-foto siswa Bahasa-1 berjajar rapi. Ada foto satu kelas, ada juga foto yang mengambil close up masing-masing siswa. Mata Alvaro pun langsung tertuju pada Kansha. kansha yang beruat datar tanpa senyum dengan rambut poninya yang khas.
“Ternyata dia sudah secantik itu sejak SMA.” Gumam Alvaro menatap potret Kansha dalam-dalam.
Alvaro lalu menutup album itu. Dia pun mengambil album itu dari meja. Namun ketika hendak pergi, matanya tertuju pada sebuah kertas yang dilipat rapi membantuk persegi di kotak sampah disamping meja. Penasaran, Alvaro memungutnya.
Kertas misterius itu sudah berada di tangan Alvaro. Alvaro pun membuka lipatan kertas itu dan apa yang ada di dalam kertas itu, sungguh membuat Alvaro terkejut setengah mati.
“Al, ini aku buatkan minum untuk...”
Prang
Nana menjatuhkan nampannya begitu mendapati Alvaro tengah memegang kertas berlogo rumah sakit. Nana mendekat pada Alvaro.
“Alvaro.” Panggil Nana cemas.
Alvaro menatap Nana dengan tak bersuara. Dia masih terkejut atas kebenaran yang tertulis di kertas tersebut.
“Kamu jelas-jelas sedang hamil tapi kenapa kamu berbohong?” tanya Alvaro.
Wajah Nana mendadak pias. Alvaro sudah mengetahuinya.
“Al..aku bisa menjelaskannya padamu.” Kata Nana.
“Aku memang butuh penjelasanmu.” Ucap Alvaro.
***
Alvaro dan Nana sudah duduk berhdapan di ruang tamu. Nana memainkan tangannya, dia gugup setengah mati.
“Jadi jelaskan apa yang ada di kertas itu sebenarnya.” Kata Alvaro memulai pembicaraan.
Nana menghela nafas. Dia tidak bisa berkutik kembali.
“Di kertas itu kamu hamil. Tapi kenapa kamu berbohong dan mengatakan yang sebaliknya?” tanya Alvaro lagi.
“Ya, aku memang hamil dan aku berbohong soal hasil itu.” kata Nana mengakuinya.
“Apa alasannya?”
“Sebagai pengacara, kamu tahu dengan jelas soal rugi dan untung. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya disaat keadaan tidak menguntungkan untukku. Aku tidak mau menambahkan masalah lagi pada masalah yang bahkan belum selesai.” Jawab Nana.
“Sebagai seorang desainer, kamu tahu jelas soal pola dan konsepnya. Meski keadaan ini sama sekali merugikanmu, kamu harus tahu dengan jelas bahwa semua hal yang berkaitan dengan masalah awal, harus dirangkai. Hasil akhirnya baik atau buruk, tergantung pada konsep yang kamu inginkan sejak awal.” Balas Alvaro.
Nana tertawa kecil. “Kamu salah. Karena aku seorang desainer, aku tahu mana pola yang harus diambil dan mana yang harus dibuang. Mana bahan yang harus disimpan dan mana bahan yang harus disingkirkan. Oke, aku akui. Aku memang belum sanggup mengatakan kebenaran ini. Karena apa? Karena ini adalah masalahku sendiri. Aku yang menentukan harus menambah air, atau menambah api.”
“Na..aku tahu ini masalahmu. Tapi sikap kamu yang berbohong soal kebenaran ini yang tak bisa ku toleransi. Apalagi kamu juga membohongi Kansha yang notabene nya adalah sahabatmu. Apa jadinya bila Kansha tahu dia dibohongi. Dia akan sangat sedih dan kecewa.”
“Aku juga tidak ingin seperti ini. tapi aku memiliki pemikiranku sendiri. Aku bukannya akan menyembunyikan kebenaran ini selamanya. Pada akhirnya kebenaran ini akan terungkap. Dan selama menunggu waktu itu tiba, aku hanya mau mempersiapkan diri akan konsekuensi yang muncul saat kebenaran ini terungkap.”
Alvaro mendesah pelan. “Tolong hormati keputusanku.” Lanjut Nana dengan nada putus asa.
“Aku tidak bisa mencampuri urusanmu lebih jauh lagi. Itu adalah keputusanmu. Aku tentu harus menghormatinya.”
Nana mendesah lega. “Terima kasih. Tapi aku meminta satu hal padamu.”
“Merahasiakannya dari Kansha?” tebak Alvaro. Nana mengangguk.
“Jangan ucapkan sepatah katapun tentang ini. aku sendiri yang akan mengatakannya pada Kansha.”
__ADS_1