My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 110.


__ADS_3

"Mbak adalah Azzahra, benar kan?”


Kansha menghentikan langkahnya. Dia membeku sesaat setelah Aisyah bertanya. Itu adalah pertanyaan tapi bagi Kansha rasanya seperti pernyataan.


Dan Aisyah hanya melihat Kansha terdiam tanpa menanggapi, membuatnya kembali bersuara, “Mbak—“


Namun ucapannya terhenti kala Kansha membalikkan tubuhnya. Perempuan itu menatap Aisyah tanpa ekspresi.


“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.”


“Mbak adalah Azzahra, kakak kandungku yang menghilang sejak bayi.” Jelas Aisyah.


Mata Kansha bergetar pelan namun ekspresinya tetap tenang.


“Bukan aku.” Tukas Kansha.


Aisyah seperti tak terima, dia dengan tegas menggeleng. “Aku melihatnya sendiri. Begitu aku membuka mata, aku melihat ada mbak yang terbaring di sampingku dengan selang yang mengalirkan darah.”


“Hanya dengan itu kamu langsung menyimpulkan sendiri?”


Aisyah kembali menggeleng, “Golongan darahku adalah salah satu golongan darah paling langka di dunia. Dan mendapati mbak memiliki golongan darah yang sama denganku, aku yakin ini bukan suatu kebetulan. Di keluarga kami, hanya Umi dan aku yang memiliki golongan darah itu.”


Kansha tersenyum kecil, “Kamu konyol sekali. Bukan berarti hanya karena itu langka, hanya keluargamu yang memilikinya. Golongan darah itu dimiliki 2,55 % populasi di dunia. Itu tidak setara dengan hanya satu atau dua orang saja.”


“Tapi Kak Zahra memiliki golongan darah itu.” pungkas Aisyah tak menyerah.


Kini Kansha terdiam. Sejujurnya, dia tahu mengapa Aisyah memiliki pemikiran yang sama dengannya. Karena dia juga menyimpulkannya dari proses tranfusi darah itu.


“Kalau itu kebetulan, maka ada berapa banyak peluang yang bisa diambil? Hidup tidak dipenuhi dengan kebetulan mbak. Semuanya ada ikatan takdir masing-masing.” Ucap Aisyah. Dan bisa memiliki golongan darah O- yang sama, bisa saja bukan kebetulan.


“Sudah kubilang aku bukan Azzahra!” seru Kansha mulai kesal.


“Aku tahu mbak berusaha menolak kenyataan. Karena mbak sudah dengar semuanya. Pembicaraanku dan Abi yang menyakiti hati mbak.” Lirih Aisyah.


Kansha terkejut. Aisyah tahu?


“Kamu...”


“Aku tahu mbak menguping di balik pintu. Mbak mendengar semuanya dari awal dan aku sangat yakin, penolakan mbak saat ini karena mbak sakit hati dengan perkataan Abi.”


Kansha sudah kalah. Dia sudah muak sekarang kalau harus terus berpura-pura tidak ada yang terjadi. Nyatanya dia butuh pengakuan meski dirinya sudah pasti akan menolak keadaan sebenarnya.


“Anggap saja aku Azzahra, maka aku akan sangat menyesal dilahirkan di keluarga kalian. Kalau sejak awal kalian memang membenciku, maka jangan lahirkan aku ke dunia ini dan hanya membuatku menderita. Bila aku adalah Azzahra, aku tidak pernah ingin memiliki keluarga seperti kalian.” Tandas Kansha tajam.


Aisyah menarik nafasnya. Hatinya serasa ditusuk dalam oleh panah yang tidak terlihat. Nyatanya harapannya tak terkabul. Kansha membencinya.


“Aku minta maaf. Ini semua salahku.” Lirih Aisyah menunduk dalam.


Kansha menghembuskan nafas pelan, berusaha meredakan sesak dihatinya. “Aisyah, hanya ada satu cara agar Azzahra bisa memaafkanmu.”


Aisyah mendongak, “Apa mbak? Katakanlah.” Ucapnya dengan nada penuh harap. “Apapun itu, akan kulakukan agar mbak bisa memaafkanku.” Lanjutnya. Dia sangat butuh maaf dari kakaknya agar bebannya bisa terangkat.


Kansha menatap lurus pada manik Aisyah yang menatapnya penuh harap.


“Anggaplah Azzahra tidak pernah ada.”


Deg


***


Kansha, Alan dan bunda sedang berjalan keluar rumah sakit. Mereka memutuskan pulang setelah menjenguk Aisyah. Dan sepanjang perjalanan, Kansha hanya terdiam. Membuat bunda dan Alan menjadi bingung. mereka menduga ini ada kaitannya dengan pembicaraannya bersama Aisyah. Dan itu adalah privasi Kansha, jadi bunda dan Alan tidak berhak bertanya.


Kini mereka sampai di lobi. Bunda menghentikan langkahnya membuat Kansha dan Alan juga berhenti.


“Kalian jadi datang malam ini kan?” tanya bunda memastikan.


Alan melirik Kansha dan sama-sama menganggukkan kepala.


“Yasudah berarti bunda siap-siap dulu. Kalian kalau hendak pergi kemana dulu terserah.”


“Kami akan mengantar bunda.” Tukas Kansha.


Bunda menggeleng sambil tersenyum, “Tidak usah. Bunda bersama supir.” Tolaknya. Kansha mengangguk mengerti.


“Sudah ya bunda pulang dulu. kalian hati-hati di jalan. Sampai ketemu nanti malam.” Ucap bunda tersenyum.


Kansha dan bunda saling berpelukkan, “Hati-hati di jalan bunda.” Ucap Kansha.


Usai sepeninggal bunda, Kansha dan Alan kembali melanjutkan langkah mereka menuju parkiran. Setelah sampai di parkiran, mereka masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan, Alan membuka percakapan.


“Apa yang kamu bicarakan dengan Aisyah?” tanyanya penasaran.


“Kamu bilang tidak akan bertanya.” Balas Kansha.


Alan hanya meringis kecil, “Aku penasaran. Kalau begitu tidak perlu dijawab.” Ucapnya.


Kansha tersenyum tipis sambil mengangguk.


“Kita akan kemana setelah ini?” tanya Alan lagi.


Kansha terdiam berfikir lalu berkata, “Aku ingin membeli hadiah untuk ayah dan bunda tapi aku bingung harus membeli apa.”

__ADS_1


“Ayah suka dengan dasi, dia punya banyak koleksi dasi di lemarinya. Kalau bunda, bunda lebih suka kue. Tapi jangan membeli kue, soalnya bunda membuatnya untuk malam nanti.” Balas Alan.


Kansha kembali berfikir, “Kalau begitu belikan hadiah yang lain untuk ayah. Karena dasi ayah sudah banyak jadinya tidak akan spesial lagi. Tapi apa ya?”


Alan hanya diam, dia juga tidak tahu.


Kansha kemudian menjentikkan jarinya, dia lalu menatap Alan senang, “Bagaimana kalau syal?” tanyanya.


“Syal?” ulang Alan.


Kansha mengangguk semangat, “Rute terbang Ayah kini lebih sering ke Eropa atau negara subtropis lainnya. Kalau diberikan syal, ayah bisa memakainya saat musim dingin.”


Alan mengangguk menyetujui, “Akhir-akhir ini ayah memang lebih sering terbang ke Eropa saat musim dingin. Koleksi syalnya juga tidak terlalu banyak.”


Kansha tersenyum senang mendengarnya. “Tapi kalau bunda, harus dibelikan apa ya?” kini Kansha bingung lagi.


“Kehadiran kamu saja sudah merupakan hadiah terindah untuk bunda.” Celetuk Alan.


Kansha memukul pundak Alan pelan membuat Alan terkekeh.


“Apa ya?” tanya Kansha kembali serius.


“Tapi aku serius. Cukup Kansha Andara, bunda akan tersenyum sepanjang malam.” Ucap Alan lagi.


Kansha mendengus, “Yang serius dong!”


Tak lama, mata Kansha bersinar. Dia sudah terfikirkan sesuatu.


“Bagaimana kalau seperangkat cangkir teh?”


***


Suasana sebuah pusat perbelanjaan di pusat jantung Jakarta terbilang sangat ramai. Setelah memutuskan ingin beli hadiah apa, Kansha dan Alan langsung ke pusat perbelanjaan.


Mereka memutuskan pergi membeli syal lebih dulu. Dan sejak sepuluh menit lalu , Kansha masih memilih syal.


“Menurutmu syal seperti apa yang disukai ayahmu?” tanya Kansha dengan matanya yang tak lepas dari beragam syal dihadapannya.


“Menurutku yang itu bagus.” Ucap Alan menyentuh syal berwarna kream.


“Ini?” tanya Kansha memastikan. Alan mengangguk.


“Ayah tidak suka warna yang terlalu mencolok. Kurasa warna itu cocok.”


Kansha mengangguk setuju.


Setelah dari toko syal, mereka langsung membeli hadiah untuk bunda. Sedari tadi Kansha juga bingung memilih yang mana karena kesemuanya berbeda.


“Corak seperti apa yang bagus ya?” tanya Kansha bingung.


“Itu.” tunjuknya.


Kansha menatap set itu dan langsung terpukau.


“Kamu memang memiliki selera yang bagus.” Puji Kansha. Dia langsung setuju dengan set yang dipilih oleh Alan.


Setelah berbelanja, mereka pulang ke apartement Kansha.


Di sepanjang perjalanan, mereka tak henti-hentinya berbincang ringan. Meski senja sudah hampir terlihat, lalu lintas belum macet. Sepertinya semesta tengah berbaik hati pada mereka.


“Kufikir aku akan lama di supermarket mengingat sifat perempuan yang selalu lama berbelanja. Tapi sepertinya kamu tidak. Kamu langsung memutuskannya begitu saja.” Celetuk Alan.


“Kamu sepertinya tahu sekali soal perempuan.” Sindir Kansha.


Alan terkekeh, “Itu karena bundaku adalah perempuan. Beliau selalu lama dalam berbelanja.” Ucapnya sedikit curhat.


“Aku bukan tipe orang yang senang berbelanja lama. Aku tahu bagaimana pegalnya harus menunggu lama seseorang yang belanja. Aku juga mudah menerima masukkan dari orang bersamaku saat belanja.”


“Aku semakin yakin tidak salah pilih.” Ucap Alan.


“Apa maksudmu?”


“Yah, aku tidak salah pilih memilih calon istri.” Jawab Alan menatap Kansha.


Kansha tersenyum lebar, “Aku memang tipe ideal untuk dijadikan istri. Kamu beruntung aku memilihmu.” Ucapnya sombong.


Alan tertawa keras mendengarnya. Dalam hati, dia setuju.


Drrt


Tiba-tiba ponsel Kansha bergetar. Kansha pun langsung mengambil ponselnya yang berada di tasnya. Dia langsung menjawab telfon yang ternyata dari Alvaro.


“Halo, Al.” Sapa Kansha. Alan langsung meliriknya begitu Kansha berbicara.


“Aku menelfonmu dari kemarin, tapi ponselmu selalu tidak bisa dihubungi. Kamu baik-baik saja kan?” tanya Alvaro di seberang sana.


“Umm, ponselku memang mati kemarin. Ada apa memangnya?” tanyanya bingung. Pasalnya, sejak kemarin banyak sekali yang mencarinya.


“Papa Aura meninggal dunia.”


“Apa?” Kansha terlonjak dari kursinya. Seruannya membuat Alan menoleh kembali.


“Papa Aura meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan. Aku menghubungimu karena hal ini.”

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Alan menyela.


Kansha melirik Alan lalu menutup speaker ponselnya, “Papa Aura meninggal dunia.” Ucapnya.


Alan nampak terkejut sama seperti Kansha.


“Lalu bagaimana keadaan Aura sekarang?” tanya Kansha. Meski hubungan mereka tidak akur, tapi Kansha tetap saja sedih mendengar Aura berduka.


“Ini yang ingin kubicarakan padamu.”


“Apa maksudmu ingin membicarakannya denganku?” tanya Kansha bingung.


Hening sesaat. Alvaro belum menjawabnya hingga Kansha mendengar Alvaro berdeham kecil. Lelaki itu terdengar ragu ingin mengatakannya.


“Kurasa kebencian Aura tidak sedangkal itu padamu. Dia terus mengutukmu saat pemakaman papanya.”


Kansha terkesiap. Dia menghembuskan nafasnya pelan.


“Apa salahku sebenarnya padanya?” lirih Kansha.


“Makanya aku ingin membicarakan hal ini padamu. Aku ingin meluruskan semuanya. Aku takut, karena kejiwaan Aura yang sedang terguncang, aku takut dia juga melukaimu.”


Kansha mengangguk setuju, “Kapan kita akan bertemu?”


“Besok bagaimana? Akan kukirimi alamatnya.”


“Baiklah. Aku setuju.”


“Kalau begitu aku tutup dulu ya.”


Alvaro sudah menutup telfonnya tapi Kansha masih terdiam dengan ponsel di telinganya. Alan yang melihatnya menepuk tangan kiri Kansha yang berada di atas paha.


“Ada apa?” tegur Alan.


Kansha menghela nafas pelan, “Kata Alvaro, Aura terus mengutukku sepanjang pemakaman papanya. Dia merasa bahwa kebencian Aura padaku sangat dalam.” Cerita Kansha.


“Lalu bagaimana?” tanya Alan.


“Aku akan bertemu dengan Alvaro besok untuk membicarakan hal ini. Aku harus menyelesaikan masalah ini dengannya.”


“Oh.” Sahut Alan langsung fokus menatap depan.


Kansha mengernyit bingung dengan respon yang diberikan Alan.


“Ada apa dengan respon ‘Oh’ mu itu?”


“Kamu akan bertemu Alvaro, dan dia laki-laki.” Ucap Alan datar.


Kansha terkekeh pelan, “Memangnya kenapa kalau dia laki-laki?”


“Tidak ada.” balas Alan jutek.


Kansha tersenyum lebar, sepertinya ada bau-bau cemburu.


“Ya sudah, aku akan bertemu laki-laki itu. Kalau diingat-ingat, aku dan Alvaro pernah satu tenda ketika SMA.” Kompor Kansha.


Ctitt


Alan mengerem mobilnya mendadak membuat Kansha otomatis terpental ke depan.


“Alan! apa yang kamu lakukan?!” pekik Kansha terkejut.


“Kamu bilang apa tadi? Satu tenda?!”


“Kamu mengerem mendadak karena itu? kamu tidak tahu betapa bahayanya tadi? Untung saja lalu lintas sedang lengang.” Gerutu Kansha masih terengah-engah.


“Katakan, apa maksudmu dengan pernah satu tenda saat SMA?” tanya Alan.


Kansha mendelik kesal, lelaki itu malah peduli soal ucapannya bukannya nyawanya.


“Aku dan dia pernah ikut lomba di alam. Kami hanya memiliki satu tenda setiap timnya untuk lomba penjelajahan.” Jelas Kansha kesal.


Mata Alan terbelalak, “Kalian berdua tidur bersama?” tanya Alan lagi.


“Tentu saja tidak! Kami tidur di penginapan. Tenda itu hanya untuk lomba saja.” Jelas Kansha lagi.


“Oh.” Sahut Alan, diam-diam lega di hatinya. Alan lalu mulai melajukan lagi mobilnya.


“Kamu tidak ada yang ingin disampaikan begitu?” tanya Kansha.


“Aku lega.” Balasnya senang.


“Lega apa?” tanya Kansha bingung.


“Lega karena kamu tidak tidur satu tenda dengannya.” sahut Alan ringan.


Kansha menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Wajahnya memerah karena menahan marah.


“Apa lagi yang ingin kamu sampaikan?” tanya Kansha masih baik-baik.


Alan menggeleng dengan raut bingung, “Apa lagi memangnya?”


Kansha sudah sampai pada batasnya. Dia mencubit paha Alan dengan keras.

__ADS_1


“Aww! Sakit, Kansha!” jerit Alan kesakitan.


“Rasakan! Dasar tidak punya hati!” teriak Kansha kesal.


__ADS_2