
“Selamat.” Andrian dan Gracelah yang pertama kali mengucap selamat atas kebahagiaannya. Dan Kansha hanya mampu berdiri dengan satu tangan menutup mulutnya untuk menahan isakan.
“Kamu sudah bukan gadis lagi. Kamu sudah menjadi seorang istri. Mama bangga dan bersyukur.” Lanjut Grace sambil memeluk putrinya dan menangis bersama. Alan dan Andrian yang melihatnya hanya bisa menenangkan.
“Aku tidak tahu harus berkata apa. Semuanya terlihat sangat indah sekarang. Aku bersyukur.” Isak Kansha.
“Sudah waktunya kamu bahagia. Lupakan semua masa lalu dan berjalanlah bersama suamimu mulai sekarang. Hiduplah dengan baik demi masa depan kalian.” Ucap Grace sambil mengelus surai Kansha dengan lembut.
Kansha mengangguk kuat, “Aku berjanji akan terus bahagia.”
Grace tersenyum mengangguk. Dia pun melepaskan pelukannya dan menatap Kansha terakhir kalinya dengan penuh sayang.
Setelah itu giliran Andrian yang memeluk Kansha. Lelaki berparas dingin itu tak seemosional istrinya. Hanya langsung memeluk tanpa berbicara apapun. Tapi Kansha mengerti apa yang ingin disampaikan papanya. Terbukti dari betapa erat pelukan Andrian padanya.
“Terima kasih atas semuanya, pa.” Bisik Kansha dalam pelukan Andrian.
“Papa yang terima kasih padamu. Terima kasih karena telah hadir di kehidupan kami. Terima kasih sudah mau memaafkan kesalahan kami dan mau tinggal bersama kami lagi.” Ucap Andrian balas berbisik.
“Kalian adalah orang tuaku. Tentu saja kalianlah tempatku harus pulang.” Sahut Kansha.
“Terima kasih, ya Nak. Maafkan papa sekali lagi. Dan terima kasih telah mengizinkan papa menyaksikan pernikahanmu.” Dan Andrian tak kuasa menahan tangis lagi. Untuk kali kedua setelah dia menangisi Kansha ketika hilang dulu, dia kembali menangis.
“Tolong jangan menangis. Papaku adalah orang yang hebat.” ucap Kansha dengan mata memerah mati-matian menahan isakan lagi.
“Kali ini tangis bahagia. Izinkan papa menangis terakhir kalinya untuk anak papa.” Jawab Andrian.
Dan tak berapa lama, pelukan mereka terurai dengan meninggalkan mata Andrian yang memerah setelah tangisnya mereda. Dia lalu menatap Grace yang melihat kearahnya dengan geli. Andrian pun menjadi malu karena tertangkap basah sudah menangis. Padahal dia berjanji untuk tidak emosional seperti istrinya.
Andrian lalu berdiri di hadapan Alan. Dirinya hanya menjabat tangan menantunya dengan sejuta tatapan yang sulit diartikan. Tapi Alan mengangguk tegas. Dia mengerti akan arti tatapan mertuanya padanya.
Flashback On
Kala itu ketika di malam yang dingin, Kansha kehilangan ayah kandungnya. Alan meninggalkan Kansha sendiri dengan Aisyah untuk bertemu Andrian. Bila Kansha ada di rumah duka, maka Andrian dan Grace sebenarnya juga ada disana. Hanya saja mereka memilih tidak menampakkan diri dan bertemu dengan Alan saja.
Tapi begitu Alan sampai di tempat yang sudah dijanjikan tadi dengan Andrian dan Grace, hanya ada Andrian disana. Tidak ada Grace maupun Kevin, sekretaris pribadinya. Alan pun hanya bisa keheranan kenapa Andrian bisa datang sendirian.
“Istri saya sedang mengurus pemberitaan media terkait masalah penculikan Kansha dan kematian ayah kandungnya bersama sekretaris saya.” Demikian jawaban Andrian.
“Apa Om tidak akan ke rumah duka?” tanya Alan.
Andrian menggeleng, “Hati saya sudah sangat sakit melihat Kansha terus menangis dari kejauhan. Mungkin saya akan meledak kalau harus menyaksikannya dari dekat.”
Alan mengangguk mengerti.
“Saya meminta kamu kesini karena ada yang ingin saya katakan padamu.” Ucap Andrian.
“Apa itu, Om?” tanya Alan penasaran.
“Setelah ini kalian akan menikah, saya masih ragu apakah saya harus memberikan restu padamu atau tidak.”
“Kenapa begitu Om? Apa saya tidak cukup baik dan pantas untuk mendampingi putri om?”
“Bukan itu. Justru saya tidak yakin apakah kamu bisa menerima Kansha dan menganggap Kansha pantas bisa bersanding denganmu.”
“Kansha sangat pantas bersanding dengan saya. Dia cerdas, cantik, baik dan sangat perhatian. Laki-laki manapun akan tertarik dengan kepribadian dan parasnya. Begitupun saya.” Jelas Alan.
“Bukan Kansha.” tukas Andrian. “Saya yakin Kansha memang wanita idaman seperti yang kamu sebutkan tadi. Saya tidak ragu apa Kansha bisa mendapatkan lelaki manapun yang dia inginkan ketika melihat apa yang dia miliki.”
“Lalu maksud om apa yang membuat Kansha pantas atau tidak?” tanya Alan bingung.
“Kehidupannya.” Tandas Andrian. “Kamu pasti sudah tahu bagaimana masa lalu Kansha. Permasalahannya sejak kecil lalu dia diusir dari rumah dan akhirnya kembali setelah kecelakaan maut itu. Bagi orang awam, kehidupannya sangat cacat, tidak sebaik gadis lain yang seumuran dengannya.”
Alan terdiam. Dia mengerti apa yang dikatakan Andrian. Andrian tidak bermaksud mencela putrinya tapi karena dia khawatir apakah dirinya akan menerima Kansha apa adanya meski masa lalu Kansha sangat buruk.
“Saya bertemu Kansha saat kecelakaan itu terjadi. Dan selama sebulan itu, cerita masa lalunya hanya pernah dibahas sekali olehnya. Dan saya bisa merasakan kegetiran dalam nada suaranya. Tapi saya tahu Kansha bukanlah gadis lemah yang terhanyut oleh keadaan sendiri. Selain nada pilu, tekad dan ketegarannya juga terasa dalam suaranya. Dan apa om tahu apa yang saya fikirkan saat itu?” tanya Alan sambil menoleh pada Andrian.
Andrian tak menjawab. Dia membiarkan Alan menjawab pertanyaannya sendiri.
“Dia gadis hebat, sungguh beruntung lelaki siapapun yang berhasil memenangkan hatinya. Itu yang saya katakan di otak saya. Saya iri dengan calon suaminya nanti. Menemukan pendamping hidup yang ketegaran dan kesabarannya bermental baja pastilah merupakan suatu anugerah. Bagi saya, alih-alih mendapatkan calon istri yang lembut nadanya tapi lemah saat ditindas, lebih baik mendapatkan seperti Kansha. Mungkin dia berbicara tanpa disaring, tapi dia jelas lebih baik untuk urusan menghadapi hidup. Benar bahwa tugas laki-laki adalah melindungi perempuannya, tapi saya ingin kami sama-sama berjuang bagi hidup kita tanpa harus bergantung pada satu orang. Karena saya juga memiliki kekurangan dan kelebihan Kansha akan menutupinya begitupun sebaliknya. Jadi saya merasa tidak ada kecacatan apapun dalam diri Kansha termasuk hidupnya. Saya mencintainya apa adanya dan tanpa syarat apapun.” Pungkas Alan panjang lebar.
Andrian terdiam merasa terenyuh atas ucapan Alan.
“Kamu akan tetap mencintai Kansha meski nanti Kansha tidak akan seperti sekarang? Akankah kamu tetap mengasihi dan melindunginya meski nyawamu taruhannya?”
Alan mengangguk dengan tegas, “Sampai rambut kami memutih atau bahkan saat salah satu dari kami lebih dahulu dipanggil Sang Pencipta, cinta kami akan selalu ada dan tak pernah pudar dilekang waktu.”
Andrian terdiam sesaat lalu menatap Alan lagi dengan sorot mata tajam, “Perkataanmu tadi bisa kamu pertanggung jawabkan?” tanya Andrian.
Alan mengangguk mantap, “Saya sudah berjanji dan saya akan menepatinya sampai habis nafas saya.”
Flashback Off
Andrian tersenyum menatap menantunya itu begitupun dengan Alan yang mengangguk hormat pada mertuanya. Tak ada yang perlu disuarakan, mereka sudah tahu apa keinginan masing-masing.
Kemudian Bu Sari datang dan langsung memeluk Kansha layaknya putri kandung. Beliau menangis tanpa suara dengan senyum terlukis di wajah paruh bayanya.
"Terima kasih untuk semuanya, bu. Ibu adalah pelindung Kansha." bisik Kansha penuh rasa bersyukur.
"Ibu yang berterimakasih. Terima kasih karena kamu mau tinggal bersama ibu. Terima kasih karena kehadiran kamu mampu mengobati kerinduan ibu pada anak kandung ibu. Kamu sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri. Dan ibu merasa beryukur bahwa ibu bisa menyaksikan putri ibu menikah dengan laki-laki yang dicintainya." balas Bu Sari dengan linangan air mata.
Kansha menganggukan kepalanya. Dua sudut bibirnya terangkat lebar, mengantarkan sejuta terima kasih dan penuh rasa syukur atas kebaikan semua orang yang mencintainya.
***
Dan semua tamu undangan pun menyelamati kedua pasangan ini. kisah romansa mereka menjadi daya tarik sendiri bagi orang – orang yang hadir. Dan tiba-tiba saja, di tengah suasana semarak resepsi, sebuah layar putih tiba-tiba muncul dan semua lampu padam seketika. Semua orang merasa kebingungan atas apa yang terjadi.
“Ada apa ini?” tanya Kansha bingung. Alan hanya menggeleng tidak tahu.
Kemudian satu lampu sorot di panggung menyala. Berdiri Nana dan Alfin dengan senyum terkembang.
“Ekhem, halo semuanya. Kami berdiri disini ingin memberikan selamat pada pengantin kita hari ini atas pencapaian tertinggi mereka di dalam hubungan cinta mereka. Berikan tepuk tangan.” ucap Nana semangat. Semua tamu bertepuk tangan.
“Kedua pengantin ini sama-sama memiliki perjuangan sendiri untuk menggapai cinta mereka. Banyak cobaan dan hambatan yang terus menghadang jalan mereka tapi berkat cinta mereka yang tak tergoyahkan, akhirnya di hari ini mereka bisa mengikat janji suci.”
Kansha dan Alan sama-sama saling tersenyum mendengar ucapan Nana yang mengandung makna itu.
“Kisah mereka yang seperti drama melankolis itu akhirnya menuju titik bahagia setelah terbanting ribuan kali. Saya selaku saksi bisu perjalanan cinta mereka merasa bersyukur. Asal semuanya tahu, di balik kedewasaannya dalam menghadapi Alan, setiap malam dia gelisah memikirkan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Tapi akhirnya Alan menyadari perasaannya sendiri yang pada akhirnya sahabat saya tidak perlu galau lagi.” Diakhir semua tamu tertawa. Kansha menatap sebal Nana karena membongkar aibnya. Nana memeletkan lidahnya.
Kemudian Alfin mengambil alih mic di tangan Nana membuat Nana berdecak kesal karena dia belum selesai bicara. Tapi Alfin tidak peduli, dia menatap Alan dengan senyum lebar.
“Selamat menikah, Mas Alan! Akhirnya mas tidak jomblo lagi kalau tidur. Alfin turut senang. Jangan main sendiri lagi ya mas, ajak kakak iparku untuk menemani.” Ujar Alfin usil. Semua tamu kembali tertawa, mengerti dengan maksud Alfin. Dan Alan hanya bisa menutup wajahnya karena malu sedangkan Kansha hanya terdiam karena tidak mengerti kenapa semua tamu tertawa padahal tidak ada yang lucu. Ataukah dia yang polos?
“Kenapa kalian semua tertawa?” bisik Kansha karena dirundung penasaran pada Alan.
Alan tersentak mendengar pertanyaan polos Kansha itu. Dia lalu menggeleng, “Jangan didengarkan. Anggap saja nyanyian iblis.” Bisik Alan. Kansha menganggukan kepalanya.
“Nah, sebagai hadiah pernikahan untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia ini, kami akan membawakan sebuah lagu yang aduhai dan menduhaikan. Judulnya—“ Alfin tiba-tiba berhenti. Dia melirik Nana, “Tadi apa judulnya?” bisiknya.
Nana hanya berdecak. Dia mengambil alih mic dari tangan Alfin dengan paksa seperti lelaki itu tadi.
“Seperti tiap pertemuan kedua insan yang memiliki keterkaitan, seperti tiap perpisahan yang tak ingin diharapkan, dan bagaimana awalnya sejauh langit dan bumi kini sedekat nadi, semua yang terjadi merupakan sebuah takdir. Dan Destiny dari Jim Brickman akan mewakili kisah mereka.” Ucap Nana.
Semua tamu bertepuk tangan tak terkecuali Alfin yang merasa terkejut dengan kemampuan bicara Nana. Lalu Alfin mendekati piano dan duduk di kursi yang disediakan. Sedangkan Nana sudah duduk cantik di samping Alfin.
__ADS_1
Dan satu not nada dikeluarkan Alfin. Hingga untaian nada selanjutnya mulai terangkai, mengalun lembut dari benda putih mempesona itu. Instrumental piano saja sudah memikat para tamu.
What if I never knew
(Bagaimana jika aku tidak pernah tahu)
Semua tamu menarik nafasnya kala suara lembut Nana terdengar. Suaranya memikat semua atensi.
What if I never found you
(Bagaimana jika aku tidak pernah menemukanmu)
I’d never have this feeling in my heart
(Aku tidak akan pernah memiliki perasaan ini di hatiku)
How did this come to be
(Bagaimana ini bisa terjadi?)
I don’t know how you found me
(Aku tidak tahu bagaimana kamu menemukanku)
But from the moment I saw you
(Tapi sejak aku melihatmu)
Deep inside my heart I knew
(jauh dilubuk hatiku, aku tahu)
Baby, youre my destiny
(Sayang, kamu adalah takdirku)
You and I were meant to be
(Kamu dan aku ditakdirkan untuk menjadi)
With all my heart and soul
(Dengan sepenuh hati dan jiwaku)
I give my love to have and hold
(Kuberikan cintaku untuk dimiliki dan dipegang)
And as far as I can see
(Dan sejauh aku bisa melihat)
You were always meant to be my destiny
(Kamu selalu ditakdirkan untuk menjadi takdirku)
And as I far as I can see
(Dan sejauh yang aku bisa lihat)
Sejauh yang bisa dilihat dan ditemui mereka berdua dalam perjalanan menemukan kebahagiaan.
From now until eternity
Sejak nafas berhembus kencang didekapanmu, hingga nafas terhenti. Sejak jantung terus berdegup cepat di dekatmu hingga jantung tak lagi berdetak.
You were always meant to be my destiny
Alan dan Kansha akan selalu terikat takdir. Karena Alan adalah takdir Kansha. Dan Kansha adalah takdir Alan.
****
Prok prok
Nana membungkukkan badannya sedikit dengan tangan didada sambil tersenyum manis sebagai bentuk salam penutup.
Kemudian mereka berdua turun dari panggung dan mendekati tempat mempelai.
“Bagaimana nyanyianku?” tanya Nana antusias. Dia bertanya pada Ruben alih-alih meminta pendapat pada Alan dan Kansha.
“Nyanyian kamu sangat merdu. Ibu dari anak-anakku memang pintar bernyanyi.” Puji Ruben manis. Nana tersenyum senang sambil mencubit pipi Ruben gemas. Mereka saling terkikik.
“Itu nyanyian untuk kedua mempelai seharusnya kamu bertanya pada mereka.” Sela Alfin jengkel melihat kemesraan tak tahu tempat pasutri itu.
“Sudah jelas mereka akan memuji. Untuk apa ditanyakan lagi.” Balas Nana acuh.
Alfin hanya mendengus sebal. Dia hanya memutar bola matanya malas.
“Kalian sangat hebat. Tidak kusangka kalian menyiapkan penampilan. Itu sangat spesial sekali.” Puji Kansha.
“Tentu saja. Itu berkat kekuatan ibu hamilnya.” Timpal Alfin. Nana menyikut Alfin kesal.
“Maksudnya?” tanya Kansha tidak mengerti.
“Empat hari sebelum pernikahan kalian, dia menelfonku tengah malam dan tiba-tiba ingin mengajakku duet di hari pernikahan kalian. Dan kalau aku menolak, dia akan mendatangiku di alam mimpi. Dia benar-benar gila.” Curhat Alfin berapi-api.
“Itu sebabnya kamu menerimanya? Padahal kamu tidak suka bernyanyi.” Balas Alan.
“Tentu saja aku terpaksa menerimanya. Ancamannya sangat serius dan akan membahayakan mentalku kalau dia sungguhan datang ke mimpiku. Cukup wanita yang berbaju putih datang, jangan ada wanita seram lainnya.” Ujar Alfin bergidik.
“Maksudmu aku disamakan dengan setan begitu?” salak Nana.
“Aku tidak pernah bilang begitu. Kamu saja yang merasa.” Kilah Alfin.
“Jelas-jelas kamu mengatakan aku wanita seram lainnya!” seru Nana tak mau kalah.
“Aku mengatakan itu?” tunjuk Alfin pada dirinya sendiri.
“Iya!” balas Nana cepat.
“Aku lupa. Maafkan aku tapi gejala ingatan pendekku mulai menyerang lagi. Anggap saja angin lalu.” Balas Alfin acuh.
Nana menganga kesal. Dia tidak bisa berkata-kata.
Dan suasana seketika hening di pelaminan kala Alvaro datang mendekat. Alfin, Nana dan Ruben jadi terdiam. Sedangkan Kansha memasang senyuman untuk lelaki itu di samping Alan yang wajahnya kaku.
"Selamat untuk kalian. Aku turut bahagia." setiap kata yang diucapkan lelaki itu bisa ditangkap jelas mengandung makna kebalikan lainnya.
"Terima kasih karena mau datang, Al. Aku tahu kamu cukup sibuk." balas Kansha.
Alvaro menggeleng, "Ini hari bahagiamu. Masa aku tidak datang. Paling tidak aku harus menyaksikan akad kalian."
Kansha tersenyum mendengarnya. Alvaro lalu menatap Alan yang masih berwajah datar.
__ADS_1
Alvaro mengulurkan tangannya, "Jaga Kansha baik-baik. Aku mempercayakannya padamu. Jangan sampai kamu membuatnya sedih. Maka aku tidak akan segan padamu." ucap Alvaro. Terlihat biasa saja padahal nadanya tajam di telinga Alan.
Alan balas menjabat, "Tenang saja, tidak akan kubiarkan satu tetes air mata saja turun dari matanya." ucapnya tegas.
Alvaro menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu aku pamit duluan. Maaf tidak bisa tinggal sampai selesai." pamitnya.
"Kamu ada urusan?" tanya Kansha.
Alvaro mengangguk, "Iya, aku harus ke suatu tempat."
Kansha tak bertanya lebih lanjut, "Kalau begitu hati-hati di jalan."
"Aku pergi. Sampai jumpa semuanya." pamitnya. Alvaro pun berjalan pergi.
Sepeninggal Alvaro, suasana tak hening lagi. Alfin dan Nana layaknya patung yang menahan nafas.
"Astaga, tadi canggung sekali. Meskipun dia membantu tadi tetap saja rasanya aneh saat bertemu dengan kalian." keluh Nana.
"Kalian saja yang ada-ada. Tidak ada yang terjadi diantara kami." tukas Kansha.
"Masa sih? Bukankah Alvaro menyukaimu?" cetus Nana.
Ruben memegang bahu Nana karena perkataan Nana yang asal.
Kansha melirik Alan lalu menatap kesal Nana, "Jangan memulai gosip!" seru Kansha.
Tiba-tiba Aisyah datang dengan terburu-buru.
"Kakak membebaskan Mbak Aura hari ini?" serunya mengundang kekagetan yang ada disana.
"Apa? Bukankah kamu bilang akan melakukannya setelah kita menikah?" sela Alan tak percaya.
"Alvaro yang meminta mempercepat. Lagipula tidak masalah kapan Aura akan dibebaskan toh itu tetap akan terjadi." jawab Kansha.
"Tapi tetap saja tidak hari ini. Bagaimana kalau sampai Mbak Aura kesini dan mengacau?" tukas Aisyah.
"Itu tidak mungkin."
"Bisa saja kan. Lagipula teman SMA mu itu pastilah masih memiliki dendam padamu." celetuk Nana.
"Ditambah dengan kamu yang membebaskannya sebelum masa hukumannya selesai." tambah Alfin.
"Aku tahu kalian semua khawatir. Tapi tenang saja. Aura tidak mungkin mencelakaiku lagi. Aku tahu itu." jelas Kansha.
"Mbak tahu dari mana?" tanya Aisyah.
"Intinya aku yakin Aura akan berubah. Lagipula Alvaro memintaku melakukannya itu berarti Alvaro juga percaya."
"Kenapa kamu malah percaya dengan lelaki yang tak lain mantan Aura?" sela Alan.
Kansha menoleh, "Aku tidak percaya karena Alvaro, aku percaya pada keputusanku sendiri. Lagipula Aura tidak akan kemana-mana selain ke yayasan."
"Bagaimana kalau dia kabur darisana?" tabya Ruben.
Semua orang tersentak dengan pertanyaan itu. Mereka menatap Kansha meminta penjelasan.
"Itu hal mustahil. Karena semua milik Aura ada di yayasan. Kecuali kalau dia ingin hidup mandiri dengan jadi gelandangan."
Semua orang masih diam. Raut mereka masih sama keruhnya. Dan Kansha mengerti. Dia tidak bisa memaksakan pendapatnya pada teman-temannya.
"Alvaro sekarang sedang pergi ke suatu tempat. Dan aku jamin, dia tidak akan membantunya."
"Maksud kakak, Mas Alvaro sedang ke tempat kak Aura?"
Kansha mengangguk, "Dan aku jamin, kita akan mendapat kabar baik."
***
Seperti yang dikatakan Kansha, Alvaro memang pergi ke lapas menjemput Aura. Dan tak menunggu lama, Aura berjalan mendekatinya dengan pakaian sederhana.
"Ayo." ajak Alvaro tanpa basa-basi.
Aura tak berkata apapun, dia langsung masuk kedalam mobil Alvaro. Dan Alvaro mengikutinya setelah memastikan Aura duduk.
"Kita kemana?" tanya Aura pelan.
"Yayasan." balas Alvaro singkat. Lelaki itu langsung menjalankan mobilnya.
Di jalan, tak ada pembicaraan apapun. Alvaro terus menatap kedepan tanpa berniat membuka percakapan apapun. Lalu Aura memecah keheningan.
"Hari ini Kansha menikah, benar kan?"
"Hem." balas Alvaro.
"Aku ingin kesana."
Alvaro menoleh, "Tidak perlu. Kalau kamu ingin mengacaukannya. Tapi kurasa itu sudah terlambat, akadnya sudah selesai."
"Bukan. Aku ingin memberi selamat dan meminta maaf padanya."
"Apa?"
"Aku sadar aku sudah banyak berbuat jahat padanya. Aku ingin meminta maaf."
"Kenapa baru sadar sekarang?" tanya Alvaro dingin.
"Itu karena Kansha. Dia seolah menamparku bahwa aku sudah tidak punya siapapun lagi. Aku tahu bahwa kalau aku berbuat jahat lagi, maka aku akan semakin kehilangan."
"Kansha yang mengatakannya?"
Aura mengangguk, "Dia bilang Kania, dan orang tuaku tidak ingin aku menjadi seperti ini. Katanya mereka pasti kecewa padaku. Dan kata-katanya terbawa ke dalam mimpiku."
"Jadi aku ingin berubah. Aku ingin menjadi manusia baik." tandasnya.
"Aku juga minta maaf padamu, Al. Aku salah selama ini. Selalu mengekangmu, memaksakan kehendakku padamu dan memaksamu menjadi pacarku padahal kamu mencintai Kansha. Aku juga yang menyuruhmu meninggalkan ibu Kansha di jalanan padahal kalau kamu tanggung jawab saat itu, mungkin hubunganmu dengan Kansha tidak akan sesulit sekarang. Dan pada akhirnya kamu tidak bisa bersatu dengan Kansha. Itu semua gara-gara aku. Aku minta maaf padamu." ucap Aura pelan dengan menunduk dalam.
Alvaro melemaskan tangannya pada kemudi tapi dia tidak menoleh pada Aura. Dia cukup terkejut dan tersentuh kala mendengar kata maaf dari Aura. Rasanya semua kesakitan yang pernah ditorehkan perempuan itu menjadi lenyap tak bersisa.
"Tidak masalah. Semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang perlu disesali. Aku dan Kansha memang tidak berjodoh. Jadi selalu ada hambatan diantara kami. Dan aku masih cukup sadar diri untuk tidak memaksakan takdir." ucap Alvaro lapang dada.
"Terima kasih. Al." balas Aura tulus.
Alvaro menganggukan kepalanya.
"Tapi dosaku masih banyak. Dan untuk menebusnya, aku akan bekerja dengan baik di yayasan dan pergi darisana begitu aku sudah menata kepribadianku lagi. Aku harap kamu mau mendukungku." pinta Aura.
"Tanpa kamu minta, aku akan mendukungmu selama itu hal yang baik." balas Alvaro menatap Aura.
Aura mengembangkan senyumannya membuat Alvaro menarik dua sudut bibirnya.
...----...
__ADS_1
Maaf untuk kemarin tidak Update🙏 Ada masalah dan aku hanya online sebentar disini untuk membalas komentar. Dan soal kritikan yang membangun dari teman-teman sudah kuterima dan akan kuperbaiki agar lebih baik lagi. Terima kasih ya atas sarannya. Silakan beri saran sepuasnya untukku agar aku bisa lebih baik lagi🙏😊💙