My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 120.


__ADS_3

"Aura, itu memang kejadian yang menyakitkan untukku juga. Tapi kamu harus sadar bahwa Kania sudah meninggal. Karena itu adalah takdirnya."


Aura terdiam mendengar pernyataan Kansha. Dia mendelik penuh kemarahan.


“Bagimu, Kania memang tidak berharga. Tapi bagi semua orang, Kania jauh lebih berharga untuk dipertahankan daripada dirimu.” Balas Aura. “Kamu tidak punya hak merebut apa yang Kania punya. Siapa dirimu yang dengan lancang menyingkirkan Kania untuk menjadi satu-satunya? Kamu hanyalah sampah, Kansha. Dan seorang sampah sepertimu seharusnya berada di tempat sampah alih-alih bermimpi menjadi seorang putri.” Lanjutnya tajam.


Kansha tersentak. Hatinya terasa sedikit berdenyut kala Aura menghinanya. Apa salahnya bila sampah sepertinya ingin menjadi putri? Apakah ini salahnya menjadi seorang anak angkat?


Tapi alih-alih membalas dengan marah, Kansha malah tersenyum membuat Aura mengernyit.


“Aku akui aku memang berasal dari tong sampah. Tidak ada yang menginginkanku. Aku harus bersyukur kala Grace Williams mau berbaik hati merawatku. Tapi aku tidak sejahat itu untuk menyingkirkan Kania dari keluarganya. Semuanya hanyalah kecelakaan belaka.”


Sudut bibir Aura terangkat sedikit, “Syukurlah kalau kamu mau mengakuinya bahwa kamu memang seorang sampah. Tapi aku masih belum bisa puas. Jasad Kania masih terombang-ambing di lautan sana sedangkan kamu masih hidup baik-baik disini. Dan sekarang untuk menebusnya, nikmatilah hadiah penghiburan untuk Kania yang sedih dan kesepian disana. Nikmatilah setiap kebencian yang akan dilontarkan orang-orang padamu. Jangan pernah coba-coba membela diri kalau kamu sungguh menyayangi Kania.” tandas Aura.


Usai mengatakan itu, perempuan itu langsung masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Kansha sendiri.


Sepeninggal Aura, Kansha tak langsung pergi. Dia malah duduk di kursi taman tempat Kania dan Aura selalu menghabiskan waktu bersama.


Kansha merasakan semilir angin yang tiba-tiba berhembus. Daun-daun dari pohon belakangnya melambai tenang menghantarkan rasa sejuk pada kepala belakangnya. Kansha terbaring di kursi taman. Dia menutup matanya dan semilir angin langsung menyentuh kepalanya lembut. Merasakan seakan-akan Kanialah yang mengelus rambutnya.


***


Alan sudah sampai di bandara. Setelah mengambil resiko ekstream yang mungkin akan mengancam kariernya, Alan mendarat dengan selamat. Dia langsung menelfon adiknya, Alfin.


“Halo, assalamu’alaikum mas.” Sapa Alfin dari seberang telfon.


“Waalaikum salam, Fin. Bagaimana?” tanya Alan tanpa basa-basi.


“Aku sudah mencari Kansha kemana-mana, tapi dia tidak ada dimanapun. Ponselnya bahkan sudah tidak aktif. Aku frustasi mencarinya, mas!” keluh Alfin.


Mendengarnya, Alan makin dirundung kekhawatiran. Kansha berada dalam kondisi mengkhawatirkan saat ini. Perempuan itu tidak pernah melampiaskan emosinya ketika terlilit masalah. Tapi sebaliknya, Kansha selalu melakukan sesuatu yang kadang berbahaya dan beresiko. Seperti halnya ketika di rumah sakit dulu. Alih-alih marah-marah atau menangis hingga menjerit-jerit, dia malah langsung menusuk nadinya dengan jarum infus karena rasa bersalahnya pada Kania.


Bisa dibilang, kondisi mental Kansha selalu menukik jatuh kala menyinggung soal Kania.


“Sekarang jemput mas dulu. Mas yang akan mencarinya.” Pungkas Alan.


“Hah? Jangan bilang mas—“


“Iya, mas di bandara sekarang.” Ucap Alan mengerti maksud Alfin.


“Double shit! Mas kok bisa sih?” seru Alfin terkejut.


“Umpatanmu ya!” tegur Alan.


Alfin hanya meringis kecil. Dia tidak sengaja mengucapkannya saking terkejut.


“Habisnya tindakan mas selalu saja diluar nalar. Bagaimana bisa mas pulang ke Jakarta? Lalu bagaimana dengan penumpang mas? Siapa yang akan mengemudikan pesawatnya kalau mas pulang?” tanya Alfin beruntun.


“Nanti saja menjawabnya. Sekarang jemput mas saja dulu. Dan awas, jangan beri tahu bunda soal kepulangan mas.” Ucap Alan sambil mewanti-wanti adiknya yang kadang seperti ember bocor itu.


“Kalaupun tidak kuberi tahu, bunda pasti akan tahu cepat atau lambat. Siap-siap saja dipukul pakai centong nasi.” Ejek Alfin.


“Cepat saja jemput, dasar cerewet!”


Alfin berdecih, "Tunggulah di parkiran."


***


Setelah menelfon adik tengilnya itu. Alan duduk di kursi tunggu bandara. Sambil menunggu adiknya, dia menghubungi Kansha.


Maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silakan coba beberapa saat lagi.


Alan kembali menelfon Kansha dan lagi-lagi jawabannya tetap sama.

__ADS_1


Maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silakan coba beberapa saat lagi.


Alan berdecak. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kansha kini. Dimana perempuan itu berada? Alan sungguh khawatir dan cemas.


Dia juga tidak tahu tempat apa saja yang biasa didatangi Kansha bila sedang terkena masalah. Alan jadi sadar bahwa dia memang belum mengenali Kansha seluruhnya. Berbeda dengan Kansha yang seperti bisa membaca fikirannya, dirinya malah sangat payah. Ketika Kansha sedang sedih atau terlibat masalah, dirinya bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Dia selalu kalah cepat dengan adiknya itu. Alan selalu jadi nomor dua yang tahu apa yang terjadi soal Kansha. Dan Alan merasa menyesal. Dia selalu tak ada kala Kansha membutuhkannya.


Rumah pohon!


Tiba-tiba dua kata itu terlintas difikirannya. Alan ingat bahwa salah satu tempat yang biasa didatangi Kansha dan tak seorang pun yang tahu hanyalah rumah pohon. Alan bahkan masih ingat bahwa Kansha pernah menyebutkan bahwa dirinya adalah satu-satunya yang pernah dibawa ke rumah pohon. Jadi besar kemungkinan Kansha ada disana.


Dan bagai semesta mengiyakan spekulasi Alan, Alfin datang tepat waktu dengan terengah-engah.


“Mas, sudah kubilang tunggu di parkiran saja malah di—“


Belum selesai Alfin mengomel, Alan langsung menarik tangan Alfin dan kembali berlari. Alfin yang sudah kelelahan karena berlari kini harus berlari lagi karena diseret oleh Alan tanpa penjelasan.


Tak berapa lama, kedua kakak beradik itu sudah di luar bandara.


“Dimana mobilnya?” tanya Alan tak sabar.


“Disana.” Tunjuk Alfin pada sebuah mobil range rover hitam miliknya.


“Kunci mobil?” pinta Alan. Alfin langsung menyerahkannya tanpa berfikir panjang.


Setelah mendapat kunci mobil, Alan kemudian langsung melepaskan kopernya dan berlari menuju mobil. Belum sempat Alfin menyusul, Alan langsung melajukan mobil Alfin dan pergi meninggalkan Alfin.


“Eh, eh mas! Berhenti!” seru Alfin panik. Dia berlari mengejar mobil sambil menyeret koper Alan tapi sayangnya mobil tidak berhenti.


Alfin yang kelelahan karena berlari mengejar mobil langsung berdecak kesal.


“Dasar Alan brengsek!” umpatnya kesal. Ini adalah kali pertamanya dia mengumpat begitu pada kakaknya.


Usai mengumpat, dia menendang koper seolah-olah itu Alan dengan keras. Tapi setelah itu dia malah—


“Aduh!” ringis Alfin memegang kaki kanannya yang berdenyut sakit. Dia mengumpat dalam hati. Kakaknya dan koper sama-sama menyebalkan!


***


Alan sudah sampai di tepi hutan. Dia memakirkan mobilnya di sebuah pekarangan besar sebuah rumah rumah, tempat biasa dia dan Kansha memakirkan kendaraan mereka. Setelah itu, Alan turun dan langsung berpapasan dengan seorang bapak-bapak yang Alan ketahui sebagai penjaga rumah pohon Kansha.


“Ada yang bisa saya bantu, mas?” tanyanya, namanya Ardi dengan ramah.


“Saya Alan. saya juga pernah kesini beberapa kali dengan Kansha.” balas Alan ramah. “Saya ingin tanya apakah Kansha ada disini?”


“Mbak Kansha tidak kesini, mas.” Jawab Pak Ardi.


“Benarkah?”


“Iya mas. Kalaupun mbak Kansha kesini, beliau pasti memarkirkan mobilnya disini dan memberitahu saya soal kedatangannya untuk menjaga mobilnya. Tapi mobilnya saja tidak ada, mas.” Jelasnya.


Alan mengusap rambutnya gelisah. “Tapi mungkinkah Kansha datang tidak dengan naik mobil?”


“Itu tidak mungkin mas, jaraknya jauh dari perkotaan, Mbak Kansha mungkin tidak akan sanggup berjalan kaki atau naik angkutan umum.” Balas Pak Ardi terkekeh.


“Tapi siapa tahu kan? Atau bisa jadi Kansha kesini tanpa sepengetahuan bapak.” Tukas Alan masih berfikir positif.


“Itu bisa jadi sih, mas.” Sahut Pak Ardi.


“Kalau begitu saya izin ke rumah pohon ya, pak.” Pinta Alan.


“Silakan saja, mas.” Sahut Pak Ardi memberi izin.


“Terima kasih, Pak.” Ucap Alan tersenyum lega.

__ADS_1


“Sama-sama, mas. Tapi saya minta maaf saya tidak bisa mengantar mas, saya harus membeli peralatan baru untuk rumah pohon. Mbak Kansha soalnya sudah pesan pada saya beberapa hari yang lalu.”


“Tidak apa-apa, pak. Saya bisa sendiri. Saya masih ingat jalannya.”


Usai itu, Pak Ardi pergi meninggalkan Alan sendiri. Alan juga tak membuang-buang waktu. Dia langsung masuk hutan untuk menuju ke rumah pohon. Dia berjalan cepat sambil meneriakkan nama Kansha.


“Kansha!”


“Kansha!”


Alan terus memanggil nama Kansha dengan keras. Dia khawatir karena hari sudah semakin sore dan matahari pun sudah tidak terliht hingga langit terlihat menggelap lebih cepat. Alan bahkan bisa merasakan hembusan angin cukup kencang di sekelilingnya. Dia menyadari bahwa sebentar lagi akan turun hujan.


Alan mempercepat langkahnya. Tak berapa lama, dia sampai di tanah lapang yang berdiri rumah pohon. Alan masuk ke rumah pohon yang gelap itu. Dia naik ke atas dan langsung terdiam. Dia tidak menemukan kehadiran Kansha disini.


Tak menyerah, Alan langsung masuk ke ruangan sebelah. Ruangan yang berisi peralatan pribadi Kansha yang pernah dilihat oleh Alan dulu. Tapi nihil, Kansha juga tidak ada disana. Bisa dipastikan Kansha tidak datang ke rumah pohon.


Tapi kalau dia tidak datang kesini, lantas kemana perginya Kansha?


Frustasi, Alan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


***


Alfin sudah sampai di rumahnya dengan menggerutu. Dia memang terus menggerutu sepanjang perjalanan. Hingga supir taksi merasa heran dan terus kebingungan kala penumpangnya itu terus melipat bibir sambil berkomat-kamit.


“Loh, Fin, mobilmu dimana?” tegur bunda begitu Alfin tengah membayar ongkos taksi.


“Digondol maling.” Balas Alfin singkat.


“Hah?” Bunda mengernyitkan dahinya bingung.


“Nanti kalau mobilnya kembali, Alfin minta tolong pukul kepala malingnya pakai centong nasi ya Bund.” Pinta Alfin sambil berjalan masuk.


Bunda yang mendengarnya hanya bisa menggeleng keheranan.


***


Langit sudah menggelap sepenuhnya. Alan masih di jalanan mencari Kansha. Gemuruh petir dan guntur saling bersahutan. Angin juga berhembus lebih kencang. Hanya tinggal menghitung detik, awan hujan akan menumpahkan isi perutnya ke bumi.


Dan benar saja, hujan turun. Alan bertambah diliputi kekhawatiran yang menggunung. Dia terus mencari Kansha meski jalanan licin dan penglihatannya juga terganggu karena rintik air yang menghalangi kaca mobil.


Setelah mencari kemana-mana, Alan akhirnya memberhentikan mobilnya. Dia kelelahan karena terus mencari tapi hasilnya nihil. Jejak Kansha tak ditemukan dimanapun.


Alan lalu mulai menjalankan kembali mobilnya. Satu lagi tempat terakhir yang belum dia kunjungi dan satu-satunya harapan Alan saat ini. Apartement Kansha.


Ada alasan kenapa Alan menomor terakhirkan rumah itu. Itu karena Kansha bilang bahwa apartementnya mengalami kebocoran dan sedang diperbaiki. Kansha juga mengatakan bahwa dia tak akan tinggal disana sampai apartementnya selesai direnovasi. Jadilah Alan tidak kesana.


Tapi kini Alan mulai goyah. Bisa saja Kansha memang berada di apartementnya. Entah itu di kafe, taman atau bahkan di unitnya. Alan pun melajukan mobilnya lebih cepat menuju kawasan apartement Kansha.


Kini waktu sudah menunjukkan angka enam. Adzan maghrib juga sudah berkumandang. Hujan makin deras. Sinar cahaya oranye terus membiaskan diri pada air hujan. Dan diantara itu semua, Alan sampai.


Dia menghentikan mobilnya kala melihat siluet seseorang yang sedang berdiri menghadap gedung apartement. Alan mulai was-was. Mungkinkah itu—


“Kansha!” panggil Alan buru-buru keluar mobil.


Seseorang itu langsung menoleh kala ada yang berteriak memanggilnya. Dan alangkah senangnya Alan, bahwa itu adalah Kansha.


“Kansha!” panggil Alan langsung berlari menghampiri Kansha yang berdiri diam.


Sedangkan Kansha mengernyit kala dia melihat Alan berdiri tak jauh darinya.


“Alan?” gumamnya tak percaya.


Greb

__ADS_1


Dan bersamaan dengan gumamamnya, Kansha merasakan tubuhnya terdorong pelan ke belakang karena Alan yang berlari langsung memeluknya.


Diantara ratusan orang yang dia kenal, diantara semua kemungkinan-kemungkinan, dan dari semua tempat, mengapa Alan selalu menemukannya lebih dulu?


__ADS_2