
Aisyah segera dilarikan ke rumah sakit. Begitu pintu UGD ditutup, Kansha terdiam dengan perasaan amat cemas. Kecelakaan Aisyah nampak agak parah. Banyak darah yang mengucur dari tubuh gadis itu. Kansha menggigiti bibirnya, perasaan cemas dan khawatir makin menguasainya.
Tak berapa lama, dokter keluar. Kansha langsung berdiri menghampiri dokter yang menangani Aisyah.
“Bagaimana dok?” tanya Kansha tak sabaran.
“Kondisi pasien diambang kritis. Meski hanya kecelakaan motor, tetapi benturannya sangat keras hingga pasien kekurangan darah.” Jelas dokter.
Kansha bertambah cemas, “Stok darahnya ada kan?”
Dokter menggeleng pelan, “Masalahnya golongan yang dimiliki pasien amat langka. Hanya sekitar 2,55 % dari populasi dunia yang memilikinya.” Jawab Dokter.
“Golongan darah apa itu?”
“O-“ balas dokter singkat.
Kansha terdiam sesaat, hatinya seperti bergemuruh entah kenapa. Ada sesuatu dari dirinya yang menggelegak begitu mendengar jenis golongan darah yang dimiliki Aisyah.
Mengabaikan perasaan hatinya yang aneh, Kansha beralih menatap dokter, “A-ambil darah sa-saya dok.” Ucap Kansha terbata-bata. “Saya O-.” Lanjut Kansha.
***
Kansha tengah terbaring di kasur rumah sakit. Satu tangannya tertancap jarum infus untuk tranfusi darah. Dia lalu menoleh ke samping kirinya, ada Aisyah yang terbaring tak sadarkan diri. Kansha terus memerhatikan Aisyah. Memerhatikan fitur wajahnya, rahangnya, hingga lekukan alis gadis itu. Dan Kansha baru menyadari bahwa hampir sebagian fitur wajah Aisyah mirip dengannya.
Hasil Tes DNA Atas Nama Kansha Andara Williams dan Aisyah Zakariyanissa
Kansha kembali mengingat kilasan kala dia menerima hasil tes DNA antara dirinya dan Aisyah. Semakin Kansha memikirkannya, semakin Kansha ingin tak mempercayainya. Bukan karena tak ingin, tapi dia hanya belum siap mendengar kenyataan pahit tentang asal-usulnya.
Wajah Kansha makin pucat. Kansha pun memilih memejamkan matanya untuk meredakan kepalanya yang berdenyut sakit dengan wajah menghadap pada langit-langit.
Namun tanpa Kansha sadari, begitu dirinya menutup mata. Dua buah kelopak mata lainnya terbuka. Aisyah membuka matanya begitu ia rasa ada aliran darah yang mengalir ke dalam tubuhnya. Dia menoleh dengan susah payah ke samping kanannya, menatap kehadiran seseorang yang sama sekali tak dia duga dan tak dia harapkan. Kemudian mata gadis berhijab itu melirik aliran darah yang keluar dari lengan Kansha. Cukup lama, hingga Aisyah merasa hatinya bergemuruh. Dia lalu menatap Kansha kembali dengan pandangan tak seperti biasanya. Rautnya melemas ketika menyadari sesuatu. Dan tanpa disangka, air matanya menitik pelan. Bibir pucat itu menggumamkan sesuatu yang hanya mampu didengar dirinya sendiri.
Aku menemukannya...
****
Kansha duduk di ruang tunggu. Sudah sepuluh menit sejak dia mendonorkan darahnya dan dokter yang menangani Aisyah belum keluar sama sekali. Tak dia hiraukan mengenai wajahnya yang telah memucat. Kansha malah menatap plester di lipatan lengannya. Tempat darahnya disedot keluar untuk didonorkan pada Aisyah.
Tap tap
Suara derapan langkah kaki berbunyi cukup keras hingga dirasa pemiliknya mungkin berjalan cepat. Kansha berdiri seketika begitu seseorang menuju ke arahnya.
“Apa kamu yang menelfon saya lewat telfon Aisyah?” tanya lelaki itu. Dia Zakariya yang datang dengan raut amat cemas tak terkira.
Kansha hanya mampu berdiri mematung. Dia baru pertama kali bertemu dengan Zakariya. Dan bisa Kansha lihat, ada banyak kemiripan antara ayah dan anak itu. Namun hati Kansha malah merasa lain. Seakan-akan ada bagian dari dirinya yang merasakan kerinduan amat dalam pada sosok dihadapannya ini. Namun bukan hanya rindu, melainkan juga ada emosi marah, kecewa, sedih bahkan cemburu. Dia tidak tahu kenapa, Kansha hanya merasa wajahnya semakin memanas.
“Nak?” tegur Zakariya begitu melihat Kansha hanya terdiam.
Kansha terkesiap, dia berusaha mengendalikan ketenangan hatinya. “Saya menelfon Anda lewat ponsel Aisyah. Maafkan saya, Aisyah seperti ini gara-gara saya.” Jelas Kansha merasa bersalah.
“Memangnya apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Zakariya.
“Saya dan Aisyah sedikit bertengkar sebelum insiden ini terjadi. Dia mengejar saya tapi saya sudah terlanjur menyebrang jalan. Aisyah bermaksud menyebrang juga namun naas, ada motor berkecepatan tinggi melaju ke arahnya.” Jelasnya.
“Apa kamu..Kansha?” tanya Zakariya sedikit ragu.
Kansha terdiam sesaat lalu mengangguk.
“Jadi ini yang namanya Kansha. Saya Zakariya, ayahnya Aisyah. Terima kasih sudah membawa Aisyah ke rumah sakit.” Ucap Zakariya.
Kansha sedikit terperangah. Ini bukanlah apa yang dia bayangkan sebelumnya. Dia kira beliau akan marah padanya begitu dia tahu bahwa dirinya adalah Kansha. Dia bahkan secara tidak langsung sudah mencelakai putrinya.
“Anda tidak marah?” tanya Kansha bingung.
Zakariya hanya tersenyum, “Untuk apa saya marah? Saya tahu kamu tidak pernah memiliki niat buruk pada putri saya. Justru saya yang meminta maaf padamu terkait sikap Aisyah yang kekanak-kanakkan.”
Kansha hanya mengangguk pelan.
Kemudian terdengar pintu UGD terbuka. Kansha dan Zakariya menghentikan pembicaraan mereka dan bergegas menghampiri dokter.
“Anda keluarga Aisyah?” tanya dokter itu pada Zakariya.
“Saya ayahnya.” Balas Zakariya.
“Syukurlah Anda sudah datang. Tranfusinya berjalan lancar dan alhamdulillah kondisi Aisyah sudah stabil.” Jelas dokter itu membuat Kansha dan Zakariya mendesah lega.
“Lalu apa anak saya sudah siuman dok?” tanya Zakariya lagi.
“Sudah pak. Pasien juga sudah boleh dijenguk hanya saja jangan terlalu banyak diajak bicara. Biarkan pasien beristirahat.” Jawab dokter itu.
“Baik dok, terima kasih.” Ucap Zakariya.
“Sama-sama, pak.” Kemudian dokter itu menatap Kansha,” Oh ya, kamu baru saja melakukan tranfusi darah, otomatis kamu akan kehilangan energi. Minumlah air putih atau teh dan istirahat yang cukup. Terlebih lagi, darah kamu cukup langka.” Lanjut dokter memberikan nasihat.
“Baik, dok.” Angguk Kansha.
Zakariya yang belum mengerti dengan arah pembicaran dokter dan Kansha seketika menyela, “Apa maksud pembicaraan kalian? Apa Aisyah sempat kekurangan darah?”
“Betul pak, pasien kekurangan darah dan untungnya mbak Kansha ini memiliki golongan darah yang sama jadi tranfusi bisa segera dilakukan.” Jelas dokter itu yang membuat Kansha dan Zakariya menatapnya.
“Kamu memiliki golongan darah O- juga?” tanya Zakariya terkejut.
Kansha mengangguk.
“Kebetulan yang sangat luar biasa. Katanya golongan darah itu termasuk langka didunia. Di keluarga kami, selain Aisyah, hanya uminya yang memiliki golongan darah itu.” tutur Zakariya.
Kansha hanya mampu terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan dirinya merasa makin tak enak akan sesuatu.
“Kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya pamit permisi. Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan begitu persyaratan administrasinya sudah selesai.” Ucap Dokter itu.
“Terima kasih dok.” Ucap Zakariya dan Kansha selang satu detik.
“Sama-sama, kalau begitu saya permisi.” Pamit dokter kembali masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
“Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa Aisyah.” Ucap Zakariya menghadap Kansha.
Kansha mengangguk, “Sama-sama, pak.” Balasnya lirih.
“Saya harus mengurus administrasi dahulu, kalau begitu saya permisi.” Pamit Zakariya.
Kansha hanya menganggukkan kepalanya. Zakariya menukar senyum terakhir dengannya kemudian berlalu pergi.
Usai kepergian Zakariya, Kansha yang awalnya menatap arah yang berbeda, kini membalikkan badannya. Menatap lorong yang dilalui Zakariya tadi. Perasaannya campur aduk. Fikirannya menjadi berat seketika.
***
Aisyah sudah dipindahkan ke ruang inap. Di dalam ruangan juga ada Zakariya yang senantiasa menunggu kesadaran sang putri.
Tak lama, Aisyah membuka matanya perlahan. Samar-samar cahaya lampu dan langit-langit putih menyentuh retinanya. Dia tak perlu menatap sekeliling, karena dia yakin sedang berada dimana. Ruangan yang penuh bau obat-obatan itu, amat mudah dikenali.
“Aisyah kamu sudah sadar, nak? Alhamdulillah.” Ucap Zakariya lega.
“Minum.” Lirih Aisyah serak.
Zakariya cepat tanggap. Dia segera meraih segelas air putih di atas nakas dan meminumkannya pada Aisyah. Begitu beberapa tegukan air masuk ke mulutnya dan membasahi tenggorokannya, Aisyah merasa sedikit segar.
“Abi.” Panggil Aisyah lirih begitu Zakariya sudah menaruh gelas di atas nakas.
“Iya, nak? Ada yang sakit?” tanya Zakariya langsung merasa cemas.
Aisyah menggeleng.
“Abi, Aisyah sudah menemukannya.” Lirih Aisyah.
***
Kansha baru saja pergi ke kantin untuk membeli air minum. Setelah membeli air minum, Kansha hendak kembali ke ruang inap Aisyah. Dia sudah diberitahukan dimana ruangannya tadi oleh perawat. Dia bermaksud mengecek kondisi Aisyah sekaligus meminta maaf. Bagaimanapun juga, secara tidak langsung penyebab gadis itu kecelakaan adalah karena dirinya. Andai dia tidak mengabaikan panggilan Aisyah yang menyuruhnya berhenti, maka Aisyah tidak perlu menyebrang hingga akhirnya tertabrak.
“Abi, Aisyah sudah menemukannya.”
Begitu Kansha hendak menyentuh daun pintu, dia mendengar suara samar-samar Aisyah. Kansha mengurungkan niatnya masuk dan mendekatkan diri ke pintu. Berusaha lebih jelas mendengar percakapan mereka.
“Apa maksudmu?” didalam ruangan, Zakariya bertanya dengan bingung.
Aisyah nampak terdiam cukup lama hingga akhirnya memberanikan diri menatap wajah Zakariya.
“Kak Zahra, Aisyah tahu siapa dia dan dimana keberadaannya.” Tandasnya.
Zakariya mematung. Wajahnya terlihat terkejut namun cepat-cepat berubah marah.
“Aisyah, sudah abi bilang beberapa kali, jangan pernah lagi mengungkit soal Azzahra! Azzahra sudah tiada, berhentilah mencarinya!” seru Zakariya.
“Tapi bi, Kak Zahra nyatanya masih ada dan sehat. Apa abi tak merindukannya? Apa abi tak ingin menemuinya?” tanya Aisyah.
Zakariya merasa tercekat. Bohong kalau dia mengatakan bahwa dia tidak merindukan anak perempuannya yang telah lama menghilang. Bohong kalau dia mengatakan bahwa dia tidak ingin menemuinya. Nyatanya, di dalam lubuk hatinya terdalam, sesuatu yang tak ingin diakui olehnya menggelegak memberontak.
Aisyah sedikit tersenyum menyadari bahwa pertanyaannya mampu membungkam abinya. “Abi merindukannya, abi ingin bertemu dengannya. Meski abi berusaha mengubur dalam-dalam semua hal tentang Kak Zahra, tapi abi tetap tidak bisa. Karena Kak Zahra adalah darah daging abi. Meski abi membencinya, meski abi tidak ingin kehadirannya, Kak Zahra masih tetap ada di hati abi.” Tukas Aisyah berani. Dia hanya ingin abinya sadar.
“Sebenarnya apa salah Kak Zahra hingga abi ingin menghilangkannya dari hidup kita? Kak Zahra menghilang itu karena kesalahan kita. Andai abi lebih memilih mengejar para perampok itu untuk menyelamatkan Kak Zahra, maka Kak Zahra masih ada hingga sekarang.” Tak terasa air mata Aisyah menetes.
“Kalau abi lebih memilih menyelamatkan Azzahra, maka kamu dan nyawa umi yang akan melayang. Abi tidak ingin kehilangan dua nyawa sekaligus hanya untuk menyelamatkan satu nyawa!” seru Zakariya emosi. Bayangan akan kejadian kelam perampokan di rumahnya dua puluh tiga tahun silam kembali terputar.
“Lalu apa abi tidak merasa bersalah pada Kak Zahra? Abi tidak pernah mencarinya dan malah berusaha melupakan Kak Zahra seolah-olah Kak Zahra tidak ada.” sanggah Aisyah.
“Abi mencarinya, Aisyah! Abi mencarinya sangat lama hingga abi nyaris gila!” Zakariya kini ikut menangis, “Tapi seberapa lama pun abi mencarinya, kakakmu menghilang bagai ditelan bumi. Dan hal itu hanya membuat umimu makin menderita. Dia bagai mayat hidup hingga kamu yang masih bayi bahkan harus rela minum susu formula karena ASI umimu yang mengering.” Lanjut Zakariya pilu.
“Jadi itu sebabnya abi memutuskan untuk melupakan sosok Kak Zahra bahkan mengeluarkannya dari kartu keluarga kita?”
Zakariya mengangguk. “Kalau tidak seperti itu, umimu akan terus menderita dan sekarat.”
“Tapi bukankah ini terlalu kejam bagi Kak Zahra?” tanya Aisyah masih merasa tak adil.
“Lebih baik menyakiti satu orang untuk menyelamatkan dua orang. Bagi abi, umi dan kamu sama berharganya. Dan abi tidak ingin kehilangan lagi.”
Aisyah menghela nafas berat, dadanya merasa amat sesak tak terkira. Ribuan penyesalan menghimpit paru-parunya hingga dia tidak bisa bernafas dengan jernih. Entah seberapa banyak dosa dan luka yang dia torehkan sejak lama pada kakaknya itu, Aisyah hanya berharap bahwa kakaknya mau mengampuninya.
“Kuharap Kak Zahra tidak mendengar semua perkataan abi.” Lirih Aisyah. Air matanya kembali menitik pelan. Seolah-olah ikut merasakan luka dan kepatah hatian kakaknya.
Namun, tanpa diketahui Aisyah dan Zakariya. Seseorang mendengar semuanya dengan baik. Nyatanya doa Aisyah tak terkabul karena seseorang itu sudah mendengar semuanya dari awal hingga akhir. Semua kenyataan pahit tentang asal-usulnya. Dan semua ucapan Zakariya yang menghujam jantungnya dengan keras. Andai dia punya pisau, dia ingin mati sekarang. Hatinya sudah terlalu pilu mendengar bahwa dirinya tak diinginkan oleh ayahnya sendiri.
Kansha terduduk lemas dengan punggung menyender lemah ke dinding. Dia terisak tanpa suara karena tenaganya seolah sudah habis. Tak dipedulikannya pada lantai rumah sakit yang dingin karena nyatanya ucapan ayahnya jauh lebih dingin dan menyakitkan dari ini. Kansha mendesah pelan, dia sudah tidak punya harapan lagi. Karena pada akhirnya, semua harapan yang memupuk pada hatinya akan berakhir tragis tanpa sempat dia meminta penjelasan.
Layaknya mengenai asal usulnya, Kansha sudah mendengar semuanya tanpa dia minta sekalipun. Meskipun itu tragis dan menyakitkan.
Cukup lama Kansha terduduk sambil menangis di depan ruang inap Aisyah, hingga dia memutuskan untuk berdiri. Dengan bantuan kursi tunggu di depannya, dia berusaha menopang tubuhnya sendiri. Setelah berhasil berdiri, Kansha mengusap air matanya. Kemudian berjalan pergi dengan tersendak-sendat.
Setelah sampai di lobi, Kansha berhenti sebentar. Dia lalu membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Menekan sebaris nomor.
Telfonnya diterima seseorang.
“Bantu aku mencari sebuah tempat.” Tandas Kansha.
***
Aura sedang berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Seperti kebanyakan wanita pada umumnya, dia memang gila belanja. Entah belanja baju, tas maupun sepatu, belanja adalah salah satu caranya menghilangkan stress.
Selesai berbelanja, Aura turun ke lantai satu untuk membeli beberapa minuman. Dia lalu mendekati lemari pendingin dan mencari minuman kesukaannya. Begitu ketemu, Aura membuka pintu lemari pendingin itu dan mengulurkan tangannya meraih minuman favoritnya. Bersamaan dengan itu, sebuah tangan juga turut mengambil minuman yang sama dengan Aura.
Aura menoleh pada orang itu. Wajahnya menjadi terkejut begitu menyadari siapa orang itu. Namun ekspresinya kembali biasa.
“Kamu menyukai minuman aneh ini juga rupanya.” Ucap Aura.
Orang itu yang awalnya juga terkejut kini bersikap tenang, “Ini tidak aneh hanya segelintir orang yang menyukainya.” Timpalnya.
“Dan sepertinya kamu dan aku segelintir orang itu.” imbuh Aura.
Alvaro hanya mengendikkan bahunya, “Aku tidak suka disamakan denganmu.” Ucapnya acuh.
__ADS_1
Aura hanya tersenyum mendengar perkataan yang mungkin cukup menyelekit di telinga sebagian orang.
“Ayo makan siang, kutraktir.” ajak Aura tenang.
“Tidak bisa, aku sibuk.” tolak Alvaro.
Aura makin melengkungkan senyumnya, “Tapi pada akhirnya kamu tidak akan bisa menolakku.”
***
“Sudah kubilang kamu tidak akan bisa menolakku.” Ucap Aura penuh kemenangan kala dia melihat Alvaro menyusulnya. Mereka tengah berada di restoran jepang.
“Katakan apa maumu.” Ucap Alvaro tanpa basa-basi.
“Kamu seperti menganggapku akan mengancammu.” Komentar Aura.
“Bukankah memang seperti itu? kau juga melakukan hal yang sama terakhir kalinya.” Balas Alvaro skeptis.
Aura mengabaikan pernyataan Alvaro dan malah mengajukan pertanyaan lain, “Bagaimana hubungangmu dengan Kansha?” tanyanya.
Alvaro hanya diam tidak menjawab.
“Kamu belum menyatakan perasaanmu?” tanya Aura lagi.
Namun lagi-lagi, Alvaro hanya terdiam.
“Sepertinya belum. Tentu saja, mana berani kamu menyatakan perasaanmu disaat dosamu padanya tujuh tahun lalu belum kamu akui.” Tandas Aura ringan.
“Katakan apa maumu sebenarnya.” Tekan Alvaro.
Aura hanya tersenyum, “Apa jadinya bila Kansha tahu hal itu? mungkinkah dia akan marah padamu bahkan membencimu? Tapi bila dilihat dari sikapnya, mungkin dia akan memaafkanmu kalau kamu jujur sekarang.”
Alvaro hanya menanggapinya dengan tatapan sedingin es.
Aura lalu menggeleng dengan raut seakan-akan merasa takut, “Jangan menatapku seperti kamu akan memangsaku hidup-hidup. Bagaimanapun juga aku tidak sejahat itu untuk mencampuri urusanmu dengan Kansha. Itu adalah masalahmu, aku tidak memiliki hak mencampurinya.”
Alvaro berdecih, “Bukankah itu yang kamu lakukan terakhir kali? Kamu mengancamku dengan bukti-bukti sialan itu dan menyuruhku untuk mengawasi Kansha dan pada akhirnya kamu melakukan itu untuk menjatuhkan Kansha bahkan melukainya lewat Aisyah.” Tandas Alvaro dingin.
Aura bertepuk tangan kagum, “Sudah kuduga, deduksi seorang pengacara memang luar biasa.” Pujinya.
Melihat tak ada tanggapan apapun dari Alvaro, Aura menghentikan tepuk tangannya.
“Tapi meski hanya sebentar, kamu berhasil mendapatkan banyak bukti soal perselingkuhan Kansha dan Alan. Dan aku melakukan itu bukan semata-mata ingin membalas dendam, tapi aku melakukannya untuk sepupuku yang merasa dikhianati.”
"Kansha tidak berselingkuh dengannya." sanggah Alvaro.
Aura hanya mengendikkan bahunya acuh, "Bagiku, dia tetap selingkuh karena jalan bersama seseorang yang sudah memiliki calon suami. Kamu pasti membelanya karena kamu menyukainya."
"Katakan sebenarnya apa yang kamu inginkan? Aku sudah tidak ingin berbicara hal yang makin tak masuk akal denganmu." Alvaro akhirnya tak tahan lagi. Aura makin lama makin mengorek banyak informasi darinya. Dan dia tidak tahu apa niat perempuan itu sebenarnya.
"Aku sedang tidak menginginkan apapun.Tapi kalau kamu memaksa, aku ingin bantuanmu sedikit lagi."
"Kalau untuk berniat buruk dengan Kansha, aku tidak mau." tolak Alvaro tegas.
"Alvaro, apa kamu punya pilihan? Jangan lupa, kunci rahasiamu ada padaku. Aku memiliki semua bukti soal kecelakaan tak bertanggung jawabmu pada Kansha." ucap Aura percaya diri dan tenang.
Alvaro menahan kekesalannya dengan mengintimidasi Aura melalui tatapannya.
"Aku bukan bonekamu yang bisa kamu perintahkan seperti dulu. Cukup saat SMA, kamu mengekangku dan mengancamku, namun kini tidak lagi. Aku tidak ingin mengikuti perintahmu lagi." tegas Alvaro penuh penekanan.
"Kalau begitu, siap-siap untuk dibenci oleh wanita yang kamu sayangi. Begitu aku membongkar semua buktinya, "Aura menatap Alvaro lamat-lamat, "Maka jalanmu mendapat pengampunan dari Kansha akan tertutup." desis Aura penuh penekanan.
Alvaro terdiam cukup lama kemudian menatap Aura dengan tenang, "Kamu tahu, kenapa kamu menjadi seperti ini?"
Aura mengernyitkan keningnya, "Apa maksudmu?"
"Kamu menjadi jahat karena kamu merasa kurang dicintai. Kamu iri pada kebahagian sekecil apapun yang dialami orang lain. Sikapmu yang sering melimpahkan kesalahan pada orang lain adalah dampak dari ketidakdewasaanmu. Kamu menganggap dirimu adalah ratu yang titahnya harus selalu ditaati. Kamu merasa hanya karena kamu lebih kuat dari segi mental, bukan berarti dunia seolah berputar disekelilingmu. Kamu salah, Aura. Ada alasan kenapa semua orang mulai meninggalkanmu," Alvaro menjeda sebentar perkataannya.
"Itu karena dirimu sendiri. Karena dirmu. Dirimu dan dirimu." pungkas Alvaro.
Aura makin menekuk alisnya, dia tidak menduga akan mendengar pernyataan remeh dari mantan kekasihnya itu.
"Aku memang amat berdosa pada Kansha hingga aku tak yakin akankah Kansha mau mengampuniku atau tidak. Kamu benar, karena hal itulah aku tidak berani mengungkapkan perasaanku. Aku bahkan menjadi tunduk padamu lagi karena masalah sialan ini."
"Tapi kini aku tidak peduli lagi. Meski kamu ingin mengungkapkan segalanya pada Kansha, aku tidak masalah. Sudah waktunya aku menerima hukumanku. Entah dengan menyerahkan diriku pada polisi atau bahkan menghilang dari hidupnya selamanya. Aku hanya ingin ketidakadilan yang dirasakan Kansha dan keluarganya menghilang."
"Sungguh keberanian yang menganggumkan." puji Aura sinis. "Dan sungguh kebodohan paling idiot yang pernah kudengar." lanjutnya.
"Aku memang bodoh, aku memang idiot.Tapi setidaknya, aku tidak salah mencintai seseorang." balas Alvaro telak.
Aura terdiam dengan kemarahan yang hampir menguar ke permukaan.
"Jadi, lakukan apapun yang kamu mau. Aku sudah tidak peduli lagi." pungkas Alvaro terakhir kalinya.
Tanpa menunggu jawaban dari Aura, Alvaro bangkit berdiri. Kemudian dia berbalik hendak pergi.
"Alvaro, berhenti." desis Aura.
Namun Alvaro tak menanggapi dan terus melangkah menjauh.
"Alva--" ucapan Aura terhenti kala tekfonnya berdering di dalam tasnya.
Dia mengambil ponselnya. Dan sebaris nomor tak biasa terpampang di layar. Itu 110. Nomor darurat kepolisian.
Aura lalu menjawabnya dengan sedikit bingung.
"Halo." sapa Aura.
Dan begitu perkataan seseorang dari seberang telfon membuat Aura seketika membeku.
"Apa? Papa saya meninggal?" pekiknya.
Alvaro yang tak jauh dari sana, segera menghentikan langkahnya. Dia berbalik cepat menghadap Aura. Dilihatnya, Aura terdiam membisu dengan wajah pucat.
__ADS_1