My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
BAB 71.


__ADS_3

"Nana...dia sedang hamil."


Kansha bangkit dari duduknya. Dia menatap Alvaro dengan raut terkejut luar biasa.


"Apa? Apa kamu bilang?!" pekik Kansha keras. Semua penghuni kantin menoleh ke arahnya.


"Nana tidak hamil tapi kenapa kamu bilang dia hamil?" tanya Kansha bingung.


Alvaro menunduk, tidak mampu menatap Kansha.


brak


Kansha menggebrak meja, membuat Alvaro menjengit kaget. Dia menatap Alvaro.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi." ucap Kansha dengan dingin.


Alvaro menelan ludah dengan kasar. Dia menatap horor Kansha yang masih menghujamkan tatapannya padanya.


"Nana merahasiakannya dan aku tidak sengaja mengetahuinya. Akhirnya.."


Kansha menyela, "Akhirnya kamu membantunya merahasiakannya? Kalian berdua bersengkongkol membohongiku?"


"Aku bisa menjelaskannya padamu." kata Alvaro dengan nada panik.


"Menjelaskan apa? Wah, aku tidak percaya temanku sejak SMA dan sahabatku yang kuanggap keluarga membohongiku." sindir Kansha kesal.


"Bukan begitu. Aku tidak bermaksud membantunya merahasiakannya padamu. Nana memiliki alasannya sendiri dan aku tidak tega padanya." Alvaro mencoba membela diri.


"Lalu, katakan apa alasannya." tegas Kansha.


Alvaro menelan salivanya, dia mengedar kesekeliling. Beberapa orang menonton pertengkaran mereka. Alvaro lalu bangkit dari duduknya.


"Aku akan menjelaskannya di tempat lain." kata Alvaro. Dia menarik tangan Kansha.


"Tidak mau. Jelaskan saja disini."


"Tidak bisa, Kansha. Lihat sekelilingmu," suruh Alvaro. Kansha pun mengedarkan tatapannya ke sekeliling mereka. Beberapa orang berbisik melihat mereka.


"Baik, tapi penjelasanmu tidak boleh kurang satu huruf pun." tekan Kansha.


"Iya, aku berjanji." kata Alvaro.


***


Alvaro dan Kansha sampai di apartement lama Alvaro yang menjadi tempat tinggal sementara Nana. Alvaro pun meminta Kansha duduk sebentar di ruang tamu sementara ia masuk ke kamar Nana.


Begitu masuk ke kamar, Alvaro langsung menuju tempat sampah, tempat dulu dia menemukan surat rumah sakit itu. Tapi begitu dilihat, tak ada apapun. Alvaro mengambil tempat sampah itu. Tempatnya bersih.


Nana, pasti sudah menyembunyikannya di tempat lain, fikir Alvaro panik.


Alvaro pun menuju laci meja. Dia membuka satu persatu laci, namun tak menemukannya. Dia pun beralih ke lemari Nana. Begitu dibuka, Alvaro langsung mengorek-orek isi lemari. Namun, lagi-lagi surat itu tidak ditemukan. Alvaro mengacak rambutnya frustasi. Jika dia tidak menemukannya, Kansha pasti akan menggorengnya hidup-hidup.


Dimana dia menyimpannya?, gumamnya sambil mendesah pelan.

__ADS_1


Bagai tersadar, Alvaro menoleh ke arah ranjang. Dia menatap ranjang berseprei pink lembut itu dengan diam.


Mungkinkah..


Alvaro lalu menuju ranjang. Dia langsung menyibakkan selimut dan bantal, suray itu tertemu. Nana ternyata menyimpannya di bawah bantal dan selimut. Alvaro pun langsung mengambilnya dan membereskan ranjangnya kembali. Setelah itu, dia keluar menemui Kansha.


Sedangkan di ruang tamu, Kansha menggoyang-goyangkan kaki. Dia bosan menunggu Alvaro yang tak kunjung keluar.


"Lama sekali dia." decak Kansha.


Kesal menunggu, Kansha pun hendak menyusul Alvaro. Namun begitu dia bangun, Alvaro muncul dari kamar.


"Lama sekali sih. Kamu sedang ngapain sebenarnya?" gerutu Kansha.


"Aku minta maaf. Aku sedang mencari ini." Alvaro menyerahkan surat itu ke tangan Kansha.


Kansha menerimanya dengan bingung. Alvaro pun menyuruhnya membuka surat itu. Kansha pun menurutinya. Dan begitu dibuka, nama rumah sakit terpampang besar di kepala suratnya. Kansha pun membacanya dengan saksama.


"Berdasarkan hasil lab, dengan ini menyatakan bahwa Nona Adindra Anaya, POSITIF HAMIL?!" pekik Kansha di akhir kalimatnya. Matanya membulat saking terkejutnya.


"Ini.." Kansha menatap Alvaro. Kansha tidak bisa berfikir jernih. Dia masih tenggelam dalam keterkejutannya.


"Sejak awal, Nana memang hamil tapi dia menyembunyikannya darimu. Aku juga tanpa sengaja mengetahuinya ketika aku datang ke apartementku beberapa waktu lalu. Surat ini ada di tempat sampah kamarnya. Nana pun memintaku merahasiakannya darimu." jelas Alvaro.


"Kamu!" tunjuk Kansha pada Alvaro. "Harusnya kamu katakan padaku, kenapa malah membantunya bersengkongkol? Tahu begini, aku tidak akan membiarkannya menjadi relawan!"


"Aku juga tidak tahu kejadiannya bakal begini. Kufikir saat itu alasan Nana masuk akal jadi aku setuju membantunya." sanggah Alvaro.


"Alasan? Alasan apa yang dia punya untuk membenarkannya?!" teriak Kansha kesal.


"Aish, sial." umpat Kansha menatap Alvaro penuh penghakiman.


"Maafkan aku." ucap Alvaro menyesal.


"Dia fikir, aku orang seperti apa himgga dia tidak mau mengatakannya padaku. Kufikir, persahabatan kami sudah dalam hingga tidak perlu ada rahasia lagi diantara kami." kata Kansha kecewa.


"Kansha, Nana benar-benar memiliki alasannya sendiri. Dia memikirkanmu ketika dia merahasiakan hal ini. Dia juga merasa bersalah."


"Diam kamu! Aku terlanjur kesal pada kalian berdua. Intinya, aku kecewa terutama padamu. Aku merasa seperti orang bodoh yang mudah kalian bohongi."


"Kansha..bukan begitu..."


Kansha menyela perkataan Alvaro dengan tatapannya yang sengit dan mematikan. Alvaro pun seketika menutup mulutnya.


"Aku harus menyusulnya dan menyeretnya pulang." tegas Kansha kemudian berjalan ke arah pintu.


"Tunggu, Kansha." Alvaro menarik tangan Kansha. Otomatis Kansha berhenti.


"Apa sih?!" Kansha menyentakkan tangannya.


"Kamu tidak bisa kesana seperti itu Kansha. Disana sedang dalam kondisi bahaya. Lagipula, kamu tidak tahu dimana lokasi pastinya."


"Aku bisa menanyakannya pada pihak rumah sakit."

__ADS_1


Kemudian Kansha kembali berjalan, tapi Alvsro kembali menahan lengannya.


Kansha berdecak kesal, dia menatap Alvaro dengan tajam.


"Apalagi sih?!"


"Sebelum kamu kesana, lebih baik kamu menemui satu orang dulu."


"Siapa?"


Alvaro tak menjawab. Dia malah menatap Kansha dengan intens. Memintanya melalui tatapannya, memikirkannya sendiri. Kansha terdiam. Kemudian tak lama, dia membelalakkan matanya.


"Tidak. Aku tidak sudi." ucap Kansha tegas.


"Kansha, kamu harus mengatakannya. Lagipula, dia adalah orang yang paling berhak mengetahuinya."


"Kamu fikir lelaki itu akan peduli? Aku juga tidak ingin membiarkan Nana tersakiti lagi."


"Kansha, kurasa Ruben sudah sangat menyesal. Lagipula cepat atau lambat, Ruben pasti tahu. Bisa saja kan melalui ini, mereka berdua bisa berbaikkan."


"Tidak. Jawabannya tetap tidak!" keukeh Kansha.


"Kansha..Ruben adalah ayahnya. Dia harus tahu bahwa ada darah dagingnya dalam tubuh Nana." bujuk Alvaro kembali. Kali ini dengan nada lebih lembut.


"Bagaimana bila Ruben tidak mau bertanggung jawab? Aku tidak rela bila Nana harus membesarkannya sendiri." tukas Kansha.


"Meski begitu, Ruben harus tetap tahu. Mungkin saja, melalui calon anak itu, mereka bisa berbaikkan? Dan kurasa sepertinya Ruben juga menyukai Nana hanya saja dia belum menyadarinya."


"Jadi jawabannya dia mau bertanggung jawab apa tidak?" tanya Kansha kesal.


"Kamu bisa memastikannya begitu sampai di hadapan Ruben dan kita akan tahu."


Kansha berfikir sebentar. Dia lalu mengangguk meski terpaksa. Alvaro benar, Ruben harus tahu agar Nana tak semakin menderita. Dan mungkin saja, seperti yang dikatakan Alvaro, mereka bisa bersam. Untungnya, logikanya masih menguasainya.


"Baik, kita akan menemuinya. Tapi..." Alvaro yang awalnya tersenyum senang kini merasa was was.


"Tapi kalau sampai dia tidak mau bertanggung jawab, akan kupatahkan ***********. Dan KAMU.." Kansha menunjuk Alvaro.


"Kamu juga tidak akan mendapatkan maaf dariku." ancam Kansha.


Alvaro menelan saliva dengan susah payah.


******


Hai, maaf banget ya, baru up๐Ÿ™๐Ÿ™โ˜น๏ธ


Aku semakin sibuk dengan serangkaian ujian dan tugas. Jadinya kepalaku pusing dan otakku error. Ditambah, tak ada insipirasi sama sekali๐Ÿ™๐Ÿ˜ญ


Maaf episode kali ini sedikit. Tapi aku janji, besok akan lebih panjang dan lebih seru lagi. Buat yang terus tanya kenapa adegan Alan sama Kansha sedikit, tenang aja, mereka udah ada porsinya sendiri nanti. Aku hanya menyesuaikannya dengan alur cerita yang kubuat sejak awal.


Tetap cintai kisah ini ya, dan Selamat Hari Senin! ๐Ÿ’™๐Ÿ’™


Psst : Jangan lupa, vote, koment dan likenya yaa. Aku sangat berharap appresiasi kalian๐Ÿ™๐Ÿค—

__ADS_1


See you...


__ADS_2