My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab. 51


__ADS_3

Setelah rapat, Kansha termenung di kantornya. Dia sudah berusaha menghubungi Nana, namun ponselnya tidak aktif. Dia sangat khawatir pada sahabatnya itu. Dia jadi berfikir, apakah dia keterlaluan semalam? Padahal dia hanya ingin membantu saja bahkan dia tidak menyebutkan nama Nana, Ruben sudah pasti tahu sendiri.


Kansha mengerang, dan sedetik kemudian ponselnya bergetar. Dia menggapai ponsel di meja dan membuka pesan yang rupanya dikirim Alvaro.


Alvaro


Mediasi gagal. Kini harus bersiap untuk sidang.


Kansha mendesah. Masalah sepertinya datang bertubi-tubi kali ini. Kemudian Kansha bangkit dari duduknya. Dia berniat menuju kantor orang tuanya.


Tak lama, Kansha sampai di perusahaan Williams Company. Kansha segera masuk ke lobi dan disambut hangat oleh resepsionis. Mereka sudah tahu bahwa Kansha adalah putri direktur mereka. Kemudian Kansha diarahkan ke ruang ibunya, karena sang ayah tengah meeting.


“Ma.” Sapa Kansha ketika masuk ruangan ibunya.


Grace yang tengah memeriksa dokumen seketika mendongak dan mengembangkan senyumnya melihat kedatangan putrinya tercinta.


“Ada apa kemari, Kansha?” tanya Grace sambil melepas kacamatanya.


Kansha duduk di sofa kantor Grace, “Aku ingin tahu hasil soal yang aku ajukan kemarin.” Kata Kansha.


“Oh, soal itu.” Timpal Grace. Dia menatap Kansha yang kini penuh harap.


“Mama belum bisa memberitahu apapun. Karena hal seperti itu harus dirumuskan oleh seluruh dewan yayasan. Permasalahan itu akan mama bicarakan pada rapat dewan minggu depan nanti.” Jawab Grace.


Kansha mendesah dengan bibir melengkung ke bawah. “Apa tidak bisa sekarang saja? Kata temanku, mediasinya gagal jadi hanya bisa menunggu palu hakim.” Kata Kansha mencoba membujuk.


Grace menggeleng tegas, “Kansha, semua ada peraturannya. Kita tidak bisa seenaknya begitu. Kamu juga pasti mengerti karena kamu adalah direktur ARC. Tidak semua hal bisa diputuskan sendiri.”


Kansha mendesah kemudian mengangguk mengerti. Yah, dia hanya perlu bersabar hingga minggu depan.


Grace yang melihat Kansha murung juga ikut menghela nafas. Hatinya sakit melihat sang putri tertimpa masalah. Grace juga bangga pada Kansha, dia mau membantu orang yang bahkan tidak dikenalnya. Sikap empatinya pada sesama membuat Grace menyesal karena dulu pernah menyia-nyiakan permata berharganya. Dia ingin menghibur Kansha.


Grace kemudian bangkit membuat Kansha menoleh. “Ayo belanja.” Ajak Grace tiba-tiba.


Kansha mengeryit bingung, “Tiba-tiba?” tanyanya.


Grace mengangguk. “Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua dan kalau menunggu sama-sama luang sih pasti sulit, jadi sekarang saja mumpung kamu kesini.” Katanya riang.


Kansha terdiam berfikir kemudian mengangguk. Grace menanggapinya dengan senyum melengkung kemudian menggandeng Kansha dengan senang.


***


Grace dan Kansha tengah berbelanja di sebuah toko baju di salah satu supermarket terbesar di Jakarta. Supermarket ini adalah milik Williams Company.


Kansha mengikuti kemanapun mamanya pergi. Mamanya yang asik memilih-milih dan dirinya yang membawa belanjaan. Tapi tak apa, asal mamanya senang, Kansha sih rela.


“Dress ini cocok buat kamu.” Kata Grace menelisik sebuah dress pink cerah dengan renda putih di bagian dada. “Lusa nanti, akan ada makan malam bersama direktur Indoprima. Kamu harus ikut.” Lanjut Grace kemudian menempelkan drees itu di badan Kansha dan mengangguk.


“Ma, aku tidak bisa datang. ARC sedang dalam sibuk-sibuknya. Kami harus mempersiapkan soal peresmian pembangunan cabang baru di Korea Selatan.” Tolak Kansha.


“Kansha, acaranya kan malam hari. Masa kamu bekerja hingga malam sih. Mama tidak setuju ya.” Kata Grace melotot.


“Bukan itu juga, tapi maksudku, aku harus mempersiapkan segalanya. Lusa depan aku akan terbang ke Korea Selatan untuk menghadiri acara peletakan batu pertama.” Jelas Kansha lagi.


“Ya sudah deh. Kamu juga harus istirahat sebelumnya.” Kata Grace mengalah.


Kansha tersenyum senang kemudian mencium pipi kanan Grace, “Thanks mam.” Katanya.


Setelah itu, Grace terus berbelanja tanpa henti. Lepas dari toko baju, masuk ke toko sepatu. Lepas dari toko sepatu masuk ke toko perhiasan. Grace memang gila belanja, sekalinya belanja, dia akan memborong semua barang. Itu sebabnya, dia jarang berbelanja saat ini, paling hanya setahun dua kali. Dan dibelakang Grace yang masih semangat, ada Kansha yang kini sudah letih.

__ADS_1


“Ma, masih lama?” tanya Kansha capek.


“Sebentar ya. Tunggu dibayar dulu. nanti habis itu kita makan.” jawab Grace menyadari bahwa putrinya kelelahan.Kansha mengangguk lesu.


Setelah itu, Grace menyuruh sopirnya untuk menaruh semua belanjaan di mobil sementara dia dan sang putri mampir untuk makan siang. Mereka makan di restoran Jepang. Kansha dan Grace memang penyuka makanan Negeri Matahari Terbit itu.


Usai memesan, Kansha menelungkupkan kepalanya di meja dan mendesah pelan. Grace menyadari ada yang salah dengan Kansha lekas bertanya.


“Kamu sepertinya memiliki masalah lain. Mau cerita?” tawar Grace mengelus surai lembut Kansha.


Kansha menggeleng kemudian mengangguk membuat Grace mengeryit bingung. Selepas itu, Kansha duduk tegak kembali dan menatap mamanya dengan mencebik sedih.


“Aku bertengkar dengan Nana.” Katanya sedih.


“Nana? Nana sahabatmu itu?” tanya Grace. Kansha mengangguk pelan.


“Kenapa kalian bisa bertengkar? Apa masalahnya?”


Kansha menghela nafas sebelum bicara. “Kemarin malam, aku dilamar oleh Kak Ruben. Tapi aku menolaknya dan mengatakan bahwa ada orang lain yang menyukainya dan Kak Ruben tahu Nana orangnya. Sepertinya malam itu mereka bertengkar hebat karena besoknya Nana menyambangiku di kantor dan marah-marah. Penampilannya kacau dan aku merasa sangat bersalah. Dia sangat kecewa padaku padahal aku hanya berniat membantu saja.” Tutur Kansha sedih.


Grace mengelus rambut Kansha pelan, dia bisa merasakan hatinya patah tatkala melihat Kansha yang murung seperti ini.


“Terkadang ada beberapa hal yang tak perlu kita campuri. Contohnya seperti perasaan Nana pada Ruben. Cinta itu seperti harga diri. Kita akan meledak bila ada yang mencoreng harga diri kita. Ada kalanya kita lebih memilih berjuang sendiri untuk cinta kita daripada dibantu. Kamu tidak salah, hanya saja caramu kurang tepat dan membuat Nana melampiaskan kekecewaannya padamu.” Kata Grace membuat Kansha makin tertunduk sedih.


“Jadi aku harus bagaimana? Aku terus menghubungi Nana tapi dia tidak menjawabnya.” kata Kansha frustasi.


“Biarkan saja Nana sendiri dulu. Dia perlu waktu untuk menenangkan diri. Dan setelah itu, mama yakin dia akan membaik dan kamu hanya perlu bicara dengan kepala dingin pada Nana. Bersabarlah dan biarkan waktu menenangkan hatinya lebih dulu.” saran Grace.


Kansha mengangguk mengerti membuat Grace memeluk Kansha dengan lembut. Dan Kansha menumpukan kepalanya di dada sang ibu. Tak ada obat gundah lebih baik kecuali sandaran sang ibu.


***


“Bun, masih lama?” tanya Alan lesu. Pasalnya ini sudah satu jam dan sang bunda masih betah memilih hijab.


“Sebentar lagi ya Lan.” Kata Bunda masih asik memilih hijab untuknnya.


Sebentar lagi versi bunda adalah setengah jam dalam waktu nyata. Dan yang membuat Alan makin melemas adalah bundanya hanya memilih dua hijab saja padahal mereka sudah menghabiskan waktu yang lama. Ini seperti pepatah, seribu foto yang diambil wanita, hanya satu yang dipost di sosmed. Gedeknya minta ampun tapi tak berani melawan karena takut jadi durhaka.


Bunda yang menyadari bahwa Alan terus menghela nafas, cekikan pelan. Putranya itu memang tak suka belanja jadi kalau dia ingin belanja, Alan pasti akan kabur dan Alfin yang kena getahnya.


“Harusnya yang disini Alfin, bunda sama Alfin sama-sama suka belanja, bisa menghabiskan hingga berjam-jam.” Desah Alan.


“Alfin kan sedang sibuk di rumah sakit, Aisyah juga sudah pulang ke Riau. Kamu saja yang menganggur makanya kamu yang bunda tarik. Lagipula kamu harus terbiasa, bagaimana kalau istri kamu lebih gila belanjanya dibanding bunda? Kamu mengeluh bisa habis sama istri kamu.” Kata bunda dengan nada sedikit mengejek.


“Tentu saja aku harus menemaninya. Generasi keluargaku tergantung mood istriku.” Timpal Alan lesu. Bunda hanya tertawa.


“Ayo, makan. Kita ke restoran favorit kamu.” Ajak bunda. Alan seketika berbinar.


Setelah membayar semua belanjaan, Alan dan bundanya menuju restoran Jepang yang tadi disambangi oleh Kansha dan Grace. Alan yang semula bersuka cita kini malah terkejut tatkala melihat di salah satu meja, ada Kansha yang tengah berbincang dengan ibunya.


“Alan, itu bukannya Kansha? Orang yang selamat bersamamu dulu?” terlambat, bunda sudah melihat Kansha. Bunda masih familier dan ingat dengan rupa Kansha.


“Bunda salah lihat. Itu bukan Kansha.” Sangkal Alan panik.


“Ah benar kok. Bunda punya ingatan bagus.” Tukas bundanya merasa yakin.


“Bun, Alan tidak jadi makan. Kita pulang saja yuk.” Ajak Alan. Alan seketika berbalik hendak melarikan diri. Namun suara teriakan bundanya menghentikan langkahnya.


“Kansha!” teriak bunda. Alan menutup matanya erat. Sial, dia tidak bisa melarikan diri kali ini.

__ADS_1


Kansha yang dipanggil namanya seketika menoleh, dia menyunggingkan senyumnya pada bunda. Dia juga masih ingat dengan sosok bunda Alan itu. Dia pun melambaikan tangannya ke arah bunda.


Bunda ikut melambaikan tangan, dia pun menarik tangan Alan dan menyeretnya menuju meja Kansha dan Grace.


“Wah, tidak disangka bertemu lagi. Ini sudah enam bulan semenjak di rumah sakit itu. Kansha apa kabar?” tanya bunda ramah. Dia langsung duduk di depan Grace dan mau tak mau Alan duduk di depan Kansha.


Kansha menyunggingkan senyumnya, “Baik tante. Aku juga tidak menyangka tante masih ingat denganku.” Jawabnya sopan.


“Oh ya, tante, ini ibuku. Mama, ini bundanya Alan, dia orang yang selamat denganku dulu.” lanjut Kansha saling mengenalkan.


Grace dan bunda berjabat tangan sambil tersenyum ramah satu sama lain.


“Saya Grace, mamanya Kansha.” Kata Grace ramah.


“Saya Alena, bundanya Alan.” Balas Bunda tak kalah ramah.


“Dan ini, Alan. Mama belum mengenalnya secara resmi bukan?” lanjut Kansha melirik Alan yang sedari tadi tak bersuara.


“Kata siapa? mama sudah mengenalnya. Ketika kamu tak sadarkan diri saat itu, mama menitipkanmu pada Alan karena harus menemui dokter, Nak Alan ini yang menemanimu hingga sadar.” Tukas Grace. Kansha menoleh pada Alan tersenyum namun hanya dibalas lengosan oleh Alan membuat Kansha mengernyit bingung.


“Kalian sudah saling kenal rupanya.” Kata Kansha mengabaikan sikap tak biasa Alan.


“Oh ya, maaf kami tiba-tiba bergabung. Saya senang saja tadi melihat Kansha, sudah lama tidak bertemu.” Ujar Bunda malu.


“Tidak masalah. Saya juga senang memiliki teman baru. Kalian akan makan bukan? Bergabung saja dengan kami.” Tawar Grace ramah. Kansha dan bunda mengangguk antusias namun Alan menggeleng.


“Kita makan di meja lain saja bunda. Jangan menganggau acara Kansha dan ibunya.” Kata Alan.


“Loh, tidak masalah kok. Saya justru senang banyak yang bergabung.” Sanggah Grace.


“Terima kasih tante, tapi tidak perlu. Kami permisi. Selamat makan tante.” Kata Alan sopan. Dia lalu membantu bundanya berdiri.


“Iya, benar kata Alan kami sebaiknya tidak usah bergabung. Kami tidak mau menganggu acara kalian.” Timpal bunda memasang tampang tak enak meski tak bisa menutupi bahwa dia bingung dengan tindakan Alan.


Grace mengalah, dia pun mengangguk mengerti. Kemudian bunda dan Alan pamit. Kansha hanya menatap Alan dari kejauhan. Alan nampak berbeda, dan Kansha merasakannya.


Apa dia punya masalah? Dia tampak dingin padaku Fikir Kansha.


***


Di nun jauh, seorang gadis berhijab tengah berada di kamar ibunya. Aisyah, baru saja pulang beberapa jam lalu. Dia pun membantu sang abi untuk membersihkan rumah. Aisyah juga membereskan lemari sang umi yang belum dibuka sejak kepergiannya tiga tahun lalu.


Aisyah membersihkan lemari uminya yang masih sama tata letaknya. Seketika Aisyah merindukan sosok bidadarinya itu. Air matanya menitik namun segera dihapusnya. Dia tak boleh menangis dan membuat uminya sedih disana.


Aisyah membersihkan dan merapikan baju-baju uminya. Kemudian dia membuka satu laci dibawah tumpukan baju uminya. Namun laci itu terkunci. Aisyah pun beranjak berdiri dan mencari kuncinya.


Aisyah mencarinya di antara sela-sela baju sang umi. Kemudian mencari di antara hijab uminya dan berhasil menemukannya di sebuah saku gamis uminya. Aisyah pun duduk kembali dan memasukkan kunci berwarna emas itu ke lubang kunci.


Kunci itu masuk dengan mulus kemudian Aisyah memutar kunci perlahan, entah kenapa dia malah deg-degan. Kemudian setelah dua putaran, laci itu terbuka dan Aisyah langsung menarik laci itu. Apa yang didalamnya, membuat Aisyah mematung.


Aisyah mengambil barang-barang yang berada di laci uminya. Ada dua buah foto dan satu lembar seperti data diri. Aisyah memerhatikan foto itu, itu adalah seorang bayi yang mungkin berusia kurang dari satu tahun. Tapi yang membuatnya bingung, itu bukan dirinya. Dia pernah melihat fotonya ketika bayi dan berbeda dengan figur di foto yang ditemukannya ini. Aisyah lalu membalik foto dan ada sebuah tulisan disana.


...Azzahra Zakariyanissa....


...1 Mei 1995...


Aisyah tersentak. Siapa itu Azzahra Zakariyanissa? Apa hubungannya bayi itu dengan keluarganya hingga bayi itu memakai nama marganya.


“Azzahra Zakariyanissa? Siapa itu?” gumam Aisyah.

__ADS_1


__ADS_2