My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 73.


__ADS_3

Alvaro dan Kansha keluar dari kantor Ruben dengan sejuta keterdiaman. Alvaro berjalan tenang di belakang Kansha yang tengah kesal padanya.


Kansha tiba-tiba berhenti yang otomatis membuat Alvaro turut menghentikan langkahnya. Kansha kemudian berbalik menatap Alvaro dengan datar.


"Jangan ikuti aku." ucap Kansha jutek.


"Kamu masih marah?" tanya Alvaro dengan baik-baik.


"Tentu saja. Jadi jangan coba mengangguku dulu atau kalau tidak, ku cabik-cabik mulutmu!" ancam Kansha dengan melotot marah.


Alvaro mendesah pelan, "Kita bahas sembari pulang saja ya." katanya. Alvaro lalu menarik tangan Kansha tapi Kansha segera menepisnya.


"Aku pulang sendiri. Sampai jumpa."


Kansha pun kembali berjalan meninggalkan Alvaro. Alvaro panik, dia segera mencegat Kansha kembali.


"Aku akan mengantarmu."


"Tidak usah. Aku bisa sendiri." tolak Kansha ilfeel.


"Kamu pergi denganku maka kamu harus pulang denganku." bujuk Alvaro.


"Aku bukan budakmu." desis Kansha kesal. Dia lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Kansha! Kansha tunggu!" panggil Alvaro. Dia berdecak ketika Kansha malah berlari. Alhasil Alvaro cepat-cepat masuk ke mobilnya untuk mengejar Kansha.


Kansha yang tahu bahwa Alvaro mengikutinya mempercepat larinya. Dia mengumpat beberapa kali karena Alvaro tak menyerah.


"Kansha!" panggil Alvaro.


Kansha terkesiap ketika mobil Alvaro beberapa meter lagi darinya. Kansha lalu melihat ada sebuah jalan mirip gang karena kecil di sampingnya. Tak mau berfikir lama, Kansha memasuki jalan itu. Alvaro terkejut melihatnya.


Alvaro menghentikan mobilnya. Dia hendak keluar mobil mengejar Kansha tapi dering telfon menghentikannya. Di ponselnya tertulis nama Kenan, yang menelfonnya. Alvaro pun terpaksa mengangkatnya.


"Halo." kata Alvaro tak sabaran.


"Halo, Al, kamu punya waktu sekarang? Hasil labmu sudah keluar."

__ADS_1


Alvaro tersentak, secepat itu?


"Besok saja bagaimana? Aku sedang terburu waktu." kata Alvaro menengok ke arah gang kecil tempat Kansha tadi pergi.


"Kusarankan sekarang juga. Ada banyak hal yang harus kubahas denganmu."


Alvaro terpekur. "Apa separah itu?" tanyanya pelan.


Kenan terdiam di seberang telfon. Lalu menghembuskan nafas pelan.


"Kita akan melihatnya."


Alvaro terpekur kembali. Entah kenapa perasaanya menjadi campur aduk. Alvaro berfikir, pilihan apa yang akan dia pilih. Mengejar Kansha ataukah pergi ke rumah sakit melihat hasil lab nya. Jujur, Alvaro tak ingin opsi kedua. Dia takut dan cemas. Namun rasa penasaran juga turut dia rasakan. Akhirnya Alvaro memutuskan untuk mengikuti kata hatinya.


"Aku akan kesana sebentar lagi."


Alvaro menoleh pada gang kecil yang dimasuki Kansha, dalam hati dia mengucap maaf. Alvaro lalu menyalakan kembali mesin mobilnya dan mengendarainya menuju rumah sakit.


***


Kansha berlari kecil dan tak menoleh ke belakang. Setelah berlari hampir lima menit. Kansha berhenti, dia terengah-engah. Dia menoleh kembali ke belakang, tak ada tanda-tanda Alvaro yang mengikutinya.


Kansha merasa amat kesal pada Alvaro. Mulutnya yang ikut campur membuatnya kesal setengah mati padanya.


Kansha lalu kembali menatap ke depan, dia baru sadar bahwa dia sudah terlalu jauh masuk. Gang ini amat kecil dan pengap. Kansha seketika merinding.


"Kenapa aku bodoh sekali. Pakai lari ke gang lagi." rutuk Kansha.


Kansha memutuskan kembali. Dia berjalan melewati jalan yang dia lewati. Tak berapa lama, dirinya sudah berada di jalan besar kembali. Kansha menghembuskan nafas lega. Namun kebingungan kembali melandanya.


"Nah, sekarang bagaimana caranya aku pulang?" gumamnya. Kansha menoleh ke kiri kanan, tak ada taksi yang lewat. Kansha melihat arlojinya. Pukul 21.45.


"Sial." umpat Kansha. Dia lalu mengambil ponselnya namun begitu dihidupkan, ponselnya habis batrai. Dan seketika mato kembali. Fiks, lengkap sudah penderitaannya.


Kansha mendesah keras, dia pun berjalan lunglai. Mengikuti kata hatinya harus ke arah mana.


Kansha terus berjalan tak tentu arah. Dia sangat asing dengan jalan yang dia lalui. Meski belum menunjukkan tengah malam, tetapi jalanan itu tetap sepi. Berbeda dengan definisi Jakarta adalah kota tak tidur.

__ADS_1


srek


Kansha mematung. Sebuah suara membangunkan bulu kuduknya. Dia menoleh di arah belakangnya. Tak ada apapun.


"Ssiapa itu?" lirih Kansha merinding.


Kansha mencoba mengatud nafasnya. Dia kembali berjalan. Dalam hatinya semoga dia sampai ke halte bus atau ada taksi yang. lewat.


Doanya terkabul. Lima puluh meter di depannya, ada halte bus. Kansha mempercepat lajunya. Dan tak lama, dia sampai di depan halte bus. Suasananya sepi.


Kansha duduk dengan was-was. Dia takut bila tiba-tiba ada penjahat datang. Ataukah begal.


Ketakutanya terwujud. Segerombolan laki-laki yang seperti tengah mabuk menghampirinya. Jalannya sempoyongan dan bau alkohol tercium jelas di hidung Kansha. Kansha seketika menggigil ketakutan.


Sekelompok lelaki mabuk itu menyadari kehadiran Kansha. Bagai harimau menemukan daging segar, mereka langsung mendekati Kansha. Tatapan mereka memerah dan tak fokus.


"Cantik-cantik kok sendirian? Mau abang temanin?" goda seorang laki-laki berkumis tebal. Matanya menatap kurang ajar pada lekuk tubuh Kansha.


Kansha meringset ketakutan. Dalam hatinya dia seketika menyesali malah kabur dari Alvaro. Harusnya dia pulang saja dengan lelaki itu tapi dia malah mau sok mandiri.


"Cantik, mau menemani malam abang tidak?" goda lelaki lain. Dia hendak mencubit pipi mulus Kansha tetapi Kansha langsung menghindarinya.


"Jual mahal sekali, cantik." kata lelaki itu tertawa. Lelaki lainnya pun ikut tertawa. Mereka makin mendekati Kansha. Kansha makin mundur dengan mata ketakutan.


"Ttolong." lirih Kansha. Suaranya amat kecil saking takutnya.


"Tidak ada siapapun disini. Cuma ada abang-abang saja." timpal lelaki berambut panjang dengan senyum penuh nafsu.


"Ayolah, cantik. Malam ini saja." kata lelaki lain. Mereka makin mendekati Kansha. Ada yang mencoba mencubit pipinya lagi bahkan ada yang mencoba menyentuh paha Kansha. Kansha terus menghindarinya. Tak terasa air matanya menetes.


Tolong aku, Tuhan, harapnya dalam hati.


Kansha makin ketakutan, tenaganya seolah tak bersisa. Dia lemas. Kansha meringsek makin mundur. Ucapan, godaan dan racauan penuh nafsu terus bergema di telinganya. Dia memejamkan matanya tatkala pundaknya direngkuh seseorang.


Mungkin inilah akhir hidupku, batinnya putus asa.


bug

__ADS_1


Kansha membuka matanya ketika suara tonjokan terdengar. Matanya membelalak kaget bahwa lelaki yang merengkuh pundaknya bukanlah para lelaki mabuk itu. Kansha mendongak dan rautnya terkejut amat luar biasa. Bahwa lelaki itu hendak menolongnya dan dia adalah..


"Alan?"


__ADS_2