My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 91.


__ADS_3

Alfin turun ke lantai bawah usai dari kamar Alan. Dia berjalan menghampiri keluarganya yang tengah menonton televisi bersama. Namun begitu duduk, ponsel Alfin bergetar di saku celananya. Alfin pun segera mengeceknya.


Kansha


Alfin, kamu punya waktu luang besok? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.


Alfin membaca pesan yang dikirim Kansha semenit lalu itu. Setelah itu dia langsung membalasnya.


Alfin


Kebetulan aku juga. Tapi besok aku harus mengantar bunda dan Aisyah berbelanja. Aku hanya bisa menemuimu setelahnya.


Di seberang sana, Kansha melihat pesan balasan dari Alfin. Terdiam sesaat, Kansha kemudian mulai mengetik sesuatu.


Kansha


Bukankah harusnya Alan? Ini sangat urgent, aku akan menjemputmu nanti. Berikan alamatnya padaku.


Alfin mengernyitkan dahinya begitu melihat balasan Kansha. Ada apa dengan Kansha sebenarnya. Apalagi balasannya sangat tidak terduga. Dia ingin menjemput dirinya apa bagaimana? Alfin tidak mengerti.


Alfin


Apa maksudmu dengan menjemput? Kalau yang kamu maksud saat kita bertemu nanti, tidak perlu. Aku bisa kesana sendiri.


Kansha


Masalahnya, besok siang, aku harus terbang ke Seoul. Aku hanya bisa berbicara denganmu sebentar. Jadi sambil menuju bandara, aku akan pergi ke rumahmu.


Alfin makin mengernyit. Dia terkejut dengan pesan balasan Kansha. Gadis itu akan kesini? Tapi itu sama saja dengan masuk markas lawan. Ada Aisyah dan Abinya disini. Belum lagi dengan keluarga Aisyah yang akan datang besok. Bagaimana kalau Kansha dikeroyok nanti?


Alfin


Masalahnya, disini juga ada Aisyah dan abinya. Keluarganya pun akan datang besok. Kamu tidak masalah?


Dua menit kemudian..


Kansha


Tunggu, ada keluarganya Aisyah? Ada apa memangnya?


Alfin menganga, astaga, jadi Kansha belum tahu?Dia bersama Alan seharian ini dan Alan tidak memberitahunya? Tapi kalau seperti ini ceritanya, Alfin juga tidak tahu harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


Terlebih, Alan saja tidak memberitahunya. Lalu bagaimana dengannya? Dia malah tidak punya hak mengatakannya tanpa seizin Alan. Kakaknya pasti memiliki alasan mengapa Kansha tidak diberi tahu.


Frustasi, Alfin tidak tahu harus membalas apa.


***


Kansha menekuk alisnya begitu pesannya hanya dibaca Alfin saja. Beberapa menit berlalu, pesannya belum juga dibalas. Kansha jadi bingung.


"Kenapa dia belum membalas juga?" gumamnya.


Akhirnya, Kansha kembali mengetikkan sesuatu di roomchat nya dengan Alfin.

__ADS_1


Kansha


Kuanggap iya berarti. Aku tidak tahu mengapa kamu tidak membalas dan hanya membaca pesanku saja. Tapi besok aku akan datang ke rumahmu. Aku akan mengirim pesan begitu aku sudah sampai.


Kansha menekan tombol Enter. Dan anehnya, pesan itu langsung bercentang biru yang artinya Alfin masih ada di roomchat mereka. Kansha pun menunggu balasan Alfin.


Beberapa menit berlalu, Alfin tak membalasnya lagi. Kansha merasa makin bingung dan aneh. Dahinya tertekuk dalam kala melihat Alfin sudah tidak online.


"Ada apa dengannya?" gumam Kansha.


Menyerah, Kansha menutup roomchat nya dengan Alfin. Dia lalu menaruh ponselnya di atas nakas dan bersiap tidur.


Dan begitu, Kansha sudah terlelap, ponselnya menyala karena notifikasi yang muncul.


Alfin


Baiklah..


***


Kansha sudah bersiap menuju rumah Alfin. Dia juga sudah mengemas kopernya dan menaruhnya di bagasi mobil. Kali ini perjalannya juga cukup lama. Progress pembangunan kantornya di Seoul, sudah hampir rampung beberapa persen lagi.


Kansha mengendarai SUV nya menuju perumahan Alfin. Di siang hari, jalanan Jakarta sudah macet. Dia baru sampai di depan gerbang perumahan Alfin setelah menempuh satu jam perjalanan.


Begitu Kansha hendak melapor di pos penjagaan, mobil berwarna silver berhenti di depannya. Kansha mengalihkan pandangannya pada si pengendara mobil yang ternyata adalah Alfin.


"Kansha!" panggil Alfin begitu keluar dari mobil.


Begitu Alfin hendak menjawab, pintu belakang mobil terbuka, muncul Bunda dan Aisyah. Kansha dibuat terkejut akan kehadiran Aisyah yang menatapnya tanpa senyuman.


"Kansha? Bunda senang sekali bisa ketemu kamu lagi." sela Bunda antusias. Dia langsung memeluk Kansha.


Meski terkejut, Kansha tetap menyambut bunda Alan itu dengan senyum lebar. Dia membalas peluka bunda Alan itu dengan lembut.


"Aku juga senang bisa bertemu tante lagi." sapa balik Kansha.


"Panggil saja bunda. Oh ya, kamu ada keperluan dengan Alfin kan? Ayo ke rumah bunda saja."


Kansha bertukar pandang dengan Alfin. Dan Alfin hanya bisa menggeleng. Bagaimanapun, Kansha tidak boleh datang ke rumahnya disaat ada Aisyah dan abinya. Alan juga tidak tahu bahwa Kansha akan datang.


"Eee, tidak usah, bunda. Aku dan Alfin bisa membicarakannya lain kali saja. Kata Alfin kalian sedang sibuk di rumah. Aku tidak mau merepotkan." tolak Kansha halus.


"Tidak apa-apa, hanya sekedar minum teh tidak masalah bukan. Lagipula Mbak sudah jauh-jauh kesini." celetuk Aisyah.


Kansha membulatkan matanya dan langsung menatap Alfin. Alfin seketika menutup matanya pelan begitu mendengar perkataan Aisyah. Dia tidak tahu mengapa Aisyah bisa berkata demikian.


"Iya Aisyah benar. Tapi apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya bunda.


Kansha hendak membuka mulutnya begitu Aisyah langsung menyela, "Sudah bun. Dia kan temannya Mas Alan." jawab Aisyah sambil menekankan kata 'temannya' sembari menatap Kansha.


"Oh begitu toh. Bagus kan, kalau begitu. Ayo Kansha ke rumah bunda saja. Lagipula kamu bisa lebih leluasa berbicara dengan Alfin." bujuk bunda lagi.


Kansha menatap Alfin lagi dengan putus asa. Alfin pun segera mengambil alih.

__ADS_1


"Bunda, Kansha harus melakukan perjalanan bisnis siang ini. Waktunya tidak banyak. Takutnya kalau dia mampir ke rumah, Kansha bisa terlambat."


"Benarkah?" tanya bunda terkejut. Kansha langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya, bun--"


ting!


Kalimat Kansha tersela oleh notifikasi ponselnya. Ada pesan suara dari sekretarisnya, Seli. Kansha pun izin mengeceknya.


Seli


"Maaf bu, saya baru diberi kabar, bahwa penerbangan akan ditunda satu jam lagi karena saat ini di Seoul sedang mengalami hujan deras disertai angin kencang. Hujan sudah mengguyur Seoul selama lima jam terkahir dan belum ada tanda-tanda reda. Pihak maskapai takut bahwa bila penerbangan dipaksakan, akan berdampak fatal. Diperkirakan hujan akan reda sore nanti."


Pesan suara dari Seli, membuat Kansha mematung. Dan parahnya lagi, baik bunda, Alfin maupun Aisyah mendengarnya dengan jelas.


"Penerbangannya ditunda?" tanya Bunda. Kansha mengangguk pelan dengan kecewa.


"Kalau begitu bagaimana kalau kamu menunggu saja di rumah bunda? Rumah bunda dekat dengan bandara. Kamu bisa langsung kesana begitu waktunya tiba." tawar bunda.


Kansha dan Alfin kembali bertukar pandang. Dia baru saja lolos dari satu masalah, dan kini malah ada masalah baru. Dia juga tidak terlalu tega terus menerus menolak ajakan tulus bunda.


Alfin tetap menggelengkan kepalanya sebagai isyarat. Sedangkan Aisyah terus menatapnya yang kini dengan senyuman yang Kansha yakini berisyarat, 'Awas saja kalau kamu mengiyakannya, akan kugoreng kamu hidup-hidup'


Mungkin tidak separah itu. Tapi pada dasarnya sama. Aisyah juga tidak mengharapkan kehadirannya disana.


Kansha yang tidak tega, akhirnya mau tak mau mengiyakan. Bunda bersorak senang sedangkan Alfin langsung melotot kaget padanya.


Kansha hanya membalas Alfin dengan tatapan putus asa.


***


Alan baru saja rapat dengan beberapa dewan direksi di perusahaan maskapai tempatnya bekerja. Jangan heran, sebab Alan bukan hanya sekedar pilot saja melainkan dia juga memiliki beberapa saham dan jabatan lain disana. Ayahnya sendiri adalah pemegang saham terbesar.


Alan langsung menuju mobilnya hendak pulang. Namun begitu duduk di kursi pengemudi, ponselnya berdering. Nama Alfin muncul di layar.


"Halo, assalamu'alaikum, Fin." sapa Alan.


"Mas dimana sekarang?" ditelfon, nada suara Alfin terdengar panik dan buru-buru.


"Mas baru saja ke mobil, sebentar lagi pulang." jawab Alan sedikit bingung.


"Mas cepatlah pulang!"


"Ada apa memangnya?" Alan mengernyitkan dahinya.


"Bunda mengajak Kansha ke rumah."


"Apa?" Alan terkejut. "Kok bisa?"


"Ceritanya panjang. Intinya mas cepat pulang. Masalahnya di rumah ada Aisyah dan abinya. Belum lagi keluarga Aisyah akan datang sebentar lagi. Kansha tidak tahu kan bahwa besok mas akan lamaran?"


Usai Alfin berucap, Alan membeku.

__ADS_1


__ADS_2