
Alan melamun di depan kolam renang rumahnya. Sudah tiga hari dia keluar dari rumah sakit dan sejak tiga hari yang lalu itulah dirinya juga hilang kontak dengan Kansha. Alan benar-benar merasa hilang semangat. Rasanya kejadian mereka terdampar di pulau seperti hanya ilusi saja.
Alfin yang niat awalnya mengambil minum, melihat Alan yang tengah duduk di kursi santai. Dia pun menghampiri Alan yang terus menjadi patung sejak tadi.
“Mas sehat?” tegur Alfin. Alan menoleh lalu mengangguk. Dia pun kembali ke posisinya semula.
Alfin geleng-geleng kepala melihat kakaknya yang seperti remaja galau itu. Terus grasak grusuk seperti cacing kepanasan, lalu sedetik kemudian diam tak bergerak seperti patung.
“Mas seperti sedang mengalami masa puber.” Ujar Alfin tertawa.
“Sembarangan kamu.” Tukas Alan.
“Lalu mas kenapa? Sikapnya jadi tidak jelas semenjak keluar dari rumah sakit.” Kata Alfin.
“Tidak usah dibahas, mas tidak apa-apa.” Timpal Alan.
“Ah, mas seperti ini pasti gara-gara Kansha yang pergi tanpa pamit kan? Dan mas tidak tahu apapun soal kontak pribadinya kan, makanya mas kehilangan dan tidak tahu harus mencari kemana.” Tebak Alfin tepat sasaran.
“Sok tahu kamu!” elak Alan.
“Kalau begitu, mas punya nomor nya? Kalau punya mengapa tak ditelfon?” tantang Alfin.
Alan terdiam, jangankan nomor ponselnya, dia bahkan tak tahu usia Kansha berapa. Astaga, dia benar-benar payah.
Melihat Alan yang terdiam, Alfin terkekeh, “Lihat kan, mas diam. Berarti mas tidak punya nomornya, mengapa pake sok-sokan mengelak.” Ejek Alfin.
“Bukan begitu, mas lupa.” Tukas Alan pelan.
Alfin mendengus, lalu tak urung kembali bertanya. “Kalau begitu minimal mas tahu dong nama akun sosial medianya? Kalian tak perlu punya nomor ponsel kalau tahu nama akun masing-masing.”
Soal itu, Alan juga tidak tahu.
“Astaga, mas! Kalian satu bulan hidup bersama, berbagi atap, berbagi makanan, berbagi minuman, kalian mengalami suka duka setiap saat. Tapi kalian tidak tahu soal kehidupan pribadi masing-masing? Apa sih yang kalian bicarakan sebenarnya?” seru Alfin panjang lebar. Matanya melotot saking tak percayanya.
“Kami berbicara soal masa lalunya lalu hal-hal—Benar juga, kenapa kita tidak pernah melakukan pembicaraan remeh seprti ini ya? Astaga.” Seru Alan frustasi.
Alfin geleng-geleng kepala. Dia ikutan pusing. Kakaknya itu dikenal orang yang perfeksionis dan tak pernah melupakan hal sekecil apapun. Intinya Alan bukan orang yang payah. Tapi kejadian ini membuat pandangannya pada sang kakak ikut berubah.
“Mas terlalu banyak terbang, makanya otaknya ikutan mabuk. Lain kali belajar dulu sebelum berlayar.” Ujar Alfin masuk ke dalam meninggalkan Alan.
__ADS_1
***
6 Bulan Kemudian...
Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan terlewati. Banyak hal yang sudah terjadi hanya dalam setengah tahun ini. kansha yang telah sembuh total kembali ke pekerjaannya dan memimpin ARC. ARC dibawah kepemimpinan Kansha meraih masa gemilang. ARC jadi satu-satu portal berita dan majalah online terbesar di Indonesia. ARC juga merambat ke banyak bidang. Merambah bidang berita lainnya.
Alan juga sama, dia kembali pada pekerjaannya sebagai pilot. Awalnya banyak yang meragukan soal kembalinya dia menjadi pilot secara dia pernah menjadi korban pesawat jatuh di maskapai tempatnya bekerja sendiri. Namun Alan membuktikan pada orang-orang yang meragukannya, bahwa dia bisa kembali tanpa memiliki rasa trauma apapun. Alan belajar bahwa mengemudikan pesawat membutuhkan persiapan dan konsentrasi yang matang. Dan jangan lupa untuk selalu berdo’a agar diberikan perlindungan oleh-Nya. Alan kembali menjadi pilot dengan jam terbang tertinggi.
Dan selama itulah, Alan dan Kansha tak pernah bertemu kembali. Mereka menjalani kehidupan masing-masing tanpa saling bersinggungan.
08.00 pagi
Alan sedang mengantri makanan di salah satu restoran cepat saji. Dia baru saja kembali dari Bali dini hari tadi. Jadi karena dia belum makan, Alan menyempatkan diri untuk mampir di restoran cepat saji di dekat bandara.
Setelah menunggu sebentar, tiba gilirannya memesan. Alan hanya memesan burger dengan kentang goreng dan air mineral botol. Setelah mendapat pesanannya, Alan lalu duduk di salah satu kursi yang berada di sudut. Restoran itu cukup lengang, karena tak banyak pengunjung di pagi hari. Membuat Alan bisa mengistirahatkan kepalanya. Dia suka pusing bila harus mendengar suara bising setelah terbang.
Alan makan dengan tenang sambil matanya mengedar ke sekeliling. Karena dia berada di sudut, Alan bisa melihat keseluruhan restoran, siapa saja yang berkunjung dan para pelayan yang berkeliaran. Namun tiba-tiba, matanya mengerjap ketika sebuah siluet yang dikenalinya tengah mengantri makanan di kasir. Alan menyipitkan matanya, dan bingo. Orang yang dia lihat adalah Kansha.
Alan segera beranjak berdiri hendak mendekati Kansha, membuktikan bahwa dugaannya benar. Namun baru beberapa langkah lagi, Kansha duluan pergi tanpa menengoknya.
“Terimakasih.” Ujar Kansha.
Namun setelah sampai parkiran, Alan tak melihat Kansha dimanapun. Alan mengedar sekelilingnya, mencari kalau-kalau Kansha ternyata bersembunyi. Namun nihil, jejak Kansha sudah tak ada dimanapun.
Alan tak patah arang, dia menanyai orang-orang yang lalu lalang di sekitaran parkiran. Namun tak ada yang pernah melihat orang seperti ciri-ciri yang disebutkan Alan. Alan terdiam di tengah parkiran, mendesah dan merasa ini mungkin bukan takdirnya bertemu Kansha hari ini. Alan pun pulang dengan lesu.
Alan mengendarai mobilnya menuju apartementnya. Memang, Alan memiliki apartemen mewah di bilangan Jakarta Selatan. Dia memang belum sepenuhnya tinggal di apartementnya, dia masih kerap pulang ke rumah. Namun bila dia pulang bekerja ketika dini hari atau sudah larut, Alan lebih memilih menuju apartementnya atau bila dia tengah stress dan banyak fikiran. Alan juga memilih kesini.
Alan sampai di basement. Setelah mengunci mobilnya, Alan membawa kopernya dan menuju lantai dimana apartementnya berada. Setelah sampai di pintu, Alan langsung masuk.
Alan menyalakan lampu dan seketika cahaya terang memenuhi ruangan. Alan menaruh kopernya di samping sofa dan dia langsung merebahkan diri di sofa. Dia menaruh satu tangan di atas matanya.
Lama Alan berada dalam posisi itu lalu dering telfon menyelanya. Alan merogoh ponselnya yang ada di sakunya lalu mengankat telfon dengan posisi yang sama.
“Halo, bun. Assalamu’alaikum.”
“....”
“Iya bun, Alan sudah sampai. Tapi Alan ada di apartement, mau istirahat sebentar sebelum pulang.”
__ADS_1
“.....”
“Iya bun, sebelum makan siang, Alan sudah pulang.”
“......”
“Waalaikum salam.”
Setelah itu Alan menutup telfonnya. Dia mendesah pelan lalu beranjak berdiri dan menuju kamarnya.
***
Kansha tengah duduk di ruangannya. Kejadian tadi nyaris membuatnya ketahuan oleh Alan. Sebenarnya Kansha tahu kalau ada Alan disana, tapi dia pura-pura tak melihatnya. Dan ternyata Alan memergokirnya. Untung dia berhasil sembunyi di belakang mobil ketika Alan mengejarnya hingga ke parkiran. Dia nyaris saja tidak lolos.
Kansha memutar-mutar pulpen sementara fikirannya melayang. Dia memiliki alasan mengapa ia memutuskan pergi begitu saja dan tak mau berhubungan dengan Alan lagi. Kansha merasa bahwa apa yang dipilih sudah benar. Hidup mereka tak lagi harus bersinggungan. Alan dan dirinya bisa menjalani hidup-hidup masing-masing.
Kansha lalu membuka ponselnya dan melihat –lihat postingan di Instagram. Dia menekan akun @Alandra_id, akun Alan. Dan kalau kalian penasaran darimana Kansha tahu nama akun Alan, jawabannya adalah dari Alfin. Adik Alan itu tak sepayah kakaknya, dia langsung meminta nama ig Kansha untuk dia ikuti. Kansha juga mengikuti kembali Alfin hingga dia tahu bahwa Alfin juga mengikuti akun kakaknya. Dan sejak saat itu, Kansha terus mengamati Alan dari jauh, dia tahu Alan sedang apa, sedang dimana hanya dari postingan yang dibagi Alan. Lelaki itu cukup gaul juga.
Kansha melihat postingan terakhir Alan yang diunggah 7 jam lalu. Alan ternyata sedang di Bali itu berarti tadi Alan baru saja pulang. Pantas Kansha bisa menemukan Alan, restoran itu dekat dari bandara rupanya. Jadi mulai saat ini, Kansha tidak boleh ke restoran itu lagi atau kalau tidak, dirinya bisa ketahuan lagi oleh Alan.
Kansha terus melihat-lihat postingan Alan. Alan cukup sering membagikan kegiatannya setiap saat dan itu memudahkan Kansha untuk cukup tahu soal kehidupan Alan. Setidaknya, rasa rindunya pun bisa terobati.
Tok tok
Seli, sekretarisnya masuk. Kansha menyimpan ponselnya di meja dan menatap Seli.
“Ada apa?” tanya Kansha.
“Maaf, bu sekarang waktunya rapat.” Ujar Seli. Kansha mengangguk lalu beranjak dari kursinya dan masuk ke ruang rapat.
***
“Untuk kalkumulasi bulan ini,ARC berhasil meliput 158 berita dari seluruh penjuru Indonesia, semuanya adalah berita ekslusif.”
Kansha mengangguk melihat presentase ARC yang semakin meningkat setiap bulannya. Bukan hanya jumlah dan kualitas berita yang meningkat, namun jumlah pegawai juga ikut meningkat. Kesejahteraan para pegawai juga ditahap stabil. Kansha berdecak bangga di dalam hatinya. ARC yang awalnya hanya perusahaan berita kecil kini jadi paling disegani dan terbesar di Indonesia.
“Untuk rencana selanjutnya, tim jurnalis 3 akan meliput Mandalika yang berada di Kabupaten Lombok Tengah. Mandalika ini baru diresmikan pada tahun 2017. Kami akan meliput tentang persiapan terkait 2 event internaional yang akan dilaksanakan di KEK Mandalika. Mandalika diketahui akan menjadi destinasi wisata sport tourism.”
Kansha mengangguk mendengar penjelasan salah satu pegawainya itu. “Kapan kalian akan kesana?” tanya Kansha.
__ADS_1
“Kami sudah melakukan koordinasi dengan pihak setempat dan akan berangkat lusa nanti.”