My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 123.


__ADS_3

Brak


Alan sedang berada di perusahaan maskapainya dan dia tengah dimarahi oleh direkturnya. Saking marahnya, direkturnya sampai menggebrak meja dengan keras. Lelaki paruh baya itu menatap Alan penuh amarah.


“Kapten Alandra, kali ini Anda sudah kelewatan!” desisnya.


Alan diam saja. Dia mengakui kesalahannya yang memang sudah kelewatan. Pesawat yang seharusnya dia piloti sudah mendarat dengan selamat di bandara. Dan sepertinya kabar bahwa dia telah menyalahi kewajibannya dengan menggantikan tugas dengan Elang telah terdengar ke telinga direktur Key Asia. Tapi Alan sama sekali tidak terkejut. Dia sudah tahu bahwa ini yang akan terjadi.


“Saya minta maaf, pak. Tapi saya memang memiliki keadaan yang sangat urgent hingga saya nekad berganti job dengan Elang.” Jelas Alan.


“Keadaan apa hingga membuat pilot paling profesional ini tidak menunjukkan profesionalismenya?”


“Hanya masalah keluarga tapi saya tidak bisa memberitahu Anda. Ini sangat pribadi.”


Brak


Direktur itu kembali menggebrak meja dan kali ini Alan sedikit tersentak kaget.


“Sepribadi apa hingga dirimu melalaikan tugas? Ini bukan dirimu, Alan. Kau tidak pernah seperti ini dulu. Bukannya bagimu masalah pekerjaan dan masalah pribadi tidak boleh dicampuradukkan? Tapi kenapa malah jadi seperti ini? Saya sangat amat kecewa padamu!” tekannya.


Alan menundukkan kepalanya, “Saya sungguh minta maaf.” ucapnya pelan.


“Kali ini saya tidak memaklumi kesalahanmu. Ini terlalu fatal, Lan! Meskipun syukurnya pesawat berhasil mendarat dengan selamat, tapi kamu harus tetap mendapat sanksi.” Putus direkturnya.


Alan mengangguk, “Saya menerima semua sanksinya. Saya memang bersalah karena tidak mematuhi aturan profesionalisme saya sebagai seorang pilot.”


“Bagus kalau kamu sadar.” Ucap direkturnya. “Adapun sanksinya, saya akan mengirimnya melalui surat resmi.” Lanjutnya.


“Baik pak. Sekali lagi saya minta maaf.” ucap Alan menunduk dalam.


“Saya akan memaklumimu sedikit karena bagaimanapun juga kamu adalah salah seorang pilot paling berharga dari maskapai ini. Dan saya masih bersyukur hingga kini bahwa kamu masih mau menjadi pilot kami meskipun setelah insiden itu.” ucap direktur itu.


Alan mengangguk sambil tersenyum, “Saya mencintai pekerjaan saya. Meskipun insiden itu amat menakutkan untuk saya, tapi saya tidak trauma sedikitpun. Saya tahu bahwa setiap pekerjaan pasti akan ada resikonya.”


Lelaki paruh baya itu mengangguk bangga.


"Saya memang marah denganmu tapi saya tetap merasa bangga.” Ucapnya sambil menepuk bahu Alan.


***


Kansha sedang duduk di kursi ruangannya. Di depannya berkas-berkas tertumpuk minta diselesaikan. Tapi sedari tadi Kansha tak tertarik sama sekali. Perempuan itu malah sedang melamun.


“Keluarga? Lelucon sekali.” decihnya terkekeh ketika dia mengingat kembali ucapan Aisyah.


Kansha tahu dia memang keluarga Zakariya. Tapi dia tidak pernah ingin mengakuinya. Setelah apa yang dia alami sampai kini? Haha, Kansha ingin tertawa keras.


Yah, ini tindakan impulsifnya karena luka hatinya yang disebabkan Zakariya.


Drrt


Alan


Mau makan sesuatu yang pedas?


Kansha tersenyum kecil begitu melihat pesan Alan. Alan seperti tahu bahwa suasana hatinya sedang buruk dan hanya lelaki itu yang bisa menenangkan hatinya yang bergemuruh. Tanpa menunggu lama, Kansha langsung menjawabnya.


Kansha


Aku ingin makan jjampong di restoran Korea favoritku. Pedasnya harus bintang lima!


Setelah membalas pesan, Kansha langsung merapikan barang-barangnya. Tak dipedulikannya dengan tumpukan berkas yang menggunung itu. toh dia tahu apa isinya. Semuanya membahas mengenai masalah kerugian yang dialami ARC. Kansha bisa mengabaikannya untuk saat ini. Bukan karena tak peduli tapi dia tahu bahwa ini bisa diatasi dengan cepat.


Kini Kansha hanya memerlukan penghiburan. Dan lelaki yang akan ditemuinya akan selalu menjadi pelipur laranya.


***


“Hah, hah, hah.” Alan terengah-engah karena panas yang amat terasa dimulutnya. Mulutnya bahkan sampai kebas. Wajahnya berkeringat deras.


“Hah, stressku sudah hilang kini.” Desah Kansha lega setelah meneguk kuah terakhir dari jjampongnya. Dia pun langsung mengambil susu dan meminumnya dengan rakus.


“Aku senang kalau stressmu hilang.” Komentar Alan masih kepedasan.


“Wajahmu sangat merah. Seharusnya kamu tidak pesan yang terlalu pedas.” Ujar Kansha khawatir.


“Kamu kan pesan yang paling pedas, aku tidak bisa membiarkanmu makan pedas sendirian.” Imbuh Alan.


Kansha tersenyum kecil merasa tersipu dengan ucapan Alan.


“Minum susumu agar pedasnya bisa hilang.” Suruh Kansha sambil mengulurkan sekotak susu.


“Seharusnya kita membawa garam.” Rutuk Alan tapi masih tetap menenggak susunya.


Kansha tersenyum kecil, “Susu jauh lebih baik tahu!”


Alan tak membalasnya, dia menegak susu dengan rakus. Dan tak berapa lama, pedasnya sedikit hilang.


“Jadi apa langkah kamu selanjutnya?” tanya Alan setelah terdiam cukup lama. Dia sudah tidak kepedasan lagi.


Kansha menggeleng pelan, wajahnya menjadi sendu. “Aku masih belum tahu.” Jawab Kansha jujur.


“Kenapa kamu keukeuh tidak ingin mengadakan konferensi pers padahal cara itu akan sangat mudah untuk membalikkan keadaan.”


Kansha menggeleng pelan, “Aku tidak ingin sebab Kania.” Mendengar ucapan Kansha, Alan sontak menoleh. “Aku tahu seberapa banyak apapun penebusan dosaku, dosaku tidak akan berkurang. Tapi aku hanya ingin sedikit meringankan rasa bersalahku padanya.”


“Dan ini adalah caranya? Dengan rela dibenci semua orang?”


Kansha mengangguk.


“Aku sudah pernah melewati fase ini selama dua puluh tahun. Melewatinya sekali lagi, tidak terlalu masalah, kan?”


Alan berdecak. Dia tidak percaya dengan ucapan Kansha.


“Tidak masalah? Kamu sadar apa yang kamu katakan?”


“Aku sangat sadar. Kamu mungkin kecewa dan bahkan kesal karena ini tapi aku sudah membulatkan keputusanku. Tolong hormatilah.”


“Kansha, sebenarnya apa sulitnya sih melakukan klarifikasi? Ketimbang kamu harus selalu menjadi sasaran kebencian semua orang.”


“Tidak sulit. Tapi aku tetap tidak bisa.”


“Meskipun ini untuk Kania anggap saja seperti yang kamu katakan tadi, tapi ini sudah kelewatan. Ada banyak cara lain untuk menebus rasa bersalahmu tapi tidak dengan cara ini. Ini namanya menyembunyikan kebenaran! Dan apakah Kania akan senang? Tidak, Kansha!”


“Aku tidak peduli akan hal itu. Meskipun aku tidak menjelaskannya bukan berarti kebenaran itu akan tertimbun selamanya. Tidak ada kebenaran atau kejahatan yang akan terkubur selamanya. Semuanya pasti akan terungkap. Itu sudah hukum alam.”


“Tapi Kansha—“


“Aku mohon jangan terus membujukku untuk melakukannya, Lan. Sebanyak apapun kamu membujukku, keputusanku sudah bulat. Ini adalah masalahku sendiri, dan aku yang berhak memutuskan semuanya.” Sela Kansha.


Alan mendesah pelan. Dia mengalah demi kebaikan Kansha. Lelaki itu lalu mengangguk.


“Aku menghormati keputusanmu. Tapi ingat, kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan mengatakannya padaku. Aku akan membantu sebisaku.” Pinta Alan.


Kansha tersenyum, “Terimakasih, Alan.”


***


Semilir angin malam masuk melalui sebuah jendela besar yang sengaja dibuka oleh si pemilik. Hawa sejuk Jakarta menyebar tak seperti biasanya yang penuh polusi. Malam ini damai tapi tidak sedamai hati seseorang yang tengah memandangi ribuan kelipan lampu Kota Jakarta dari ketinggian dua ratus meter ini.


Kansha berdiri diam di depan jendela apartementnya. Gaun putihnya berkibar ditiup angin. Anak rambutnya dengan nakal menari dipandu angin. Perempuan itu tengah merenungi semua hal yang terjadi pada hidupnya.


“Apa yang aku lakukan, itu salah kak?” gumamnya pada semilir angin yang berhembus pelan.


“Aku ingin menebus semua dosaku padamu tapi aku tidak tahu caranya. Lalu berita ini muncul begitu saja, dan teman manis mu menyuruhku untuk membiarkannya tanpa membela diri. Katanya itu adalah hadiah untukmu dariku yang selama ini kesepian karenaku.” Lanjut Kansha terus berbicara sendiri. Dia menganggap seolah-olah ada Kania didepannya sedang mendengarnya berbicara.


“Andai kamu masih ada, kakak pasti akan tumbuh menjadi gadis cantik. Kakak pasti akan menjadi seniman yang hebat seperti yang kakak impikan sewaku kecil dulu. Andai saja, aku tidak merenggut nyawa kakak. Andai semesta mau berbaik hati mengembalikan kakak. Aku akan sangat berterimakasih.”


Lalu semilir angin cukup kencang menerpa wajah Kansha seakan-akan itu tanggapan dari Kania atas ucapannya.


“Tapi aku tahu itu mustahil, kan. Tidak ada hal seperti itu di dunia ini. Semuanya hanya memiliki satu kesempatan. Tidak ada pengulangan lagi. Dan aku bersalah telah merenggut hidup satu kalimu di dunia, kak.”


“Aku harap kakak mau memaafkanku. Aku sudah mendapat ganjarannya dengan dibenci selama dua puluh tahun oleh papa dan mama. Tapi aku tahu itu tidaklah cukup. Dan aku siap menerima sanksi apapun lagi. Aku siap menerima kemarahan semesta padaku.”


Prang


Suara seperti sesuatu yang pecah terdengar. Kansha langsung menoleh ke sumber suara. Sebuah guci kecil yang disimpan di atas meja jatuh tiba-tiba. Kemudian Kansha terdorong kebelakang ketika hembusan angin menerpanya cukup keras.


“Kurasa perkataanku didengar olehmu, kak.” lirih Kansha.


***


Hari ini, pasangan pebisnis Andrian Williams dan Grace Williams akan mengadakan konferensi pers terkait isu pemberitaan yang sudah santer dua hari belakangan ini. Adapun isi konferensinya adalah untuk mengklarifikasi terkait kebenaran dari berita yang disebarkan oleh penelfon anonim saat acara talkshow Bincang Show. Kami akan menyiarkan secara langsung jalannya konferensi pers dalam dua menit lagi. Tetaplah bersama kami.


Tit


Andrian langsung mematikan televisi.


“Waktunya hampir tiba, pak.” Ucap Kevin menghadap Andrian.


“Bagaimana Kansha?” tanya Andrian.


“Kami tidak mengatakan rencana ini pada Nona Kansha sesuai perintah bapak. Tapi mungkin Nona Kansha sudah tahu dari pemberitaan di televisi.”


Andrian mengangguk, “Anak itu pasti akan datang kesini dan mengacaukannya. Jadi tahan dia, jangan sampai dia masuk sebelum konferensi ini selesai.” Titah Andrian.


Kevin mengangguk, “Baik pak.”


“Kamu yakin tidak akan mengikutsertakan Kansha pada konferensi pers?” tanya Grace yang sedari tadi diam saja.

__ADS_1


“Untuk apa ketika dia hanya mau diam saja? Lagipula bukannya membantu, dia malah akan mengacau. Kita sudah bersusah payah untuk memulihkan namanya dan dia malah tetap mau menggali kuburannya sendiri.” Tukas Andrian kesal.


Grace menghela nafas pelan, “Untuk soal itu, aku setuju denganmu.”


Kemudian Kevin terlihat mengecek jam tangannya setelah itu menatap Andrian dan Grace.


“Waktunya sudah tiba. Mari segera ke tempat acara.”


***


“Apa?! Williams akan mengadakan konferensi pers?” seru Kansha terkejut. Dia sampai menggebrak meja kala mendengar pemberitahuan dari Seli.


“Acaranya sudah hampir dimulai. Kalau ibu pergi sekarang, ibu mungkin akan sempat.” Ucap Seli.


“Kenapa mereka tidak memberitahuku bahkan parahnya tidak meminta izin dariku? Padahal ini masalahku. Aku yang berhak memutuskannya!” rutuk Kansha kesal.


“Mereka tahu bahwa ibu tidak akan setuju makanya Williams sengaja merahasiakan ini. Saya juga mendengar bahwa awak media disuruh tutup mulut hingga tidak menyiarkannya sebelum dua puluh menit acara akan dimulai.”


Kansha mendengus sebal. Dia langsung mengambil kunci mobilnya.


“Aku harus menghentikannya.” Putusnya. Setelah itu langsung berlari keluar ruangan.


***


"Halo, saya Andrian Williams, CEO Williams Company."


“Kenapa hanya Williams saja yang hadir? Dimana Kansha?” tanya Alfin kebingungan.


“Kansha tidak tahu soal ini. Orangtuanya sengaja tidak memberitahunya karena tahu Kansha akan menolak.” Jawab Alan sambil mengunyah kacang.


“Kenapa calon istrimu menolak?” tanya Alfin heran.


“Katanya ini untuk menebus rasa bersalahnya pada Kania. Padahal menurutku tidak masuk akal. Jika dia melakukan itu, berarti itu sama saja dengan menutupi kebenaran. Dan apakah Kania akan merasa senang?”


Alfin mengangguk setuju, “Kali ini Kansha memang salah mengambil keputusan.” Angguknya.


“Tapi mungkin saat ini Kansha sudah tahu dan bisa saja berusaha menghentikannya. Kenapa mas tidak kesana dan menghalanginya?” tanya Alfin.


“Tidak semua hal harus kuikutcampuri. Kansha mengatakannya kemarin, bahwa ini adalah masalahnya sendiri. Dan dia berhak memutuskan semuanya. Dan tidak ikut campur dalam setiap tindakan merupakan caraku menghormati keinginannya.”


Alfin bertepuk tangan dengan meriah, “Sudah diduga! Mas memang calon suami yang baik!” pujinya.


Alan tersenyum mendengarnya, “Sudahlah hentikan pembicaraan kita. Acaranya sudah dimulai.” Tunjuk Alan pada layar televisi.


Alfin menggerakan jarinya seakan mengunci mulutnya lalu mengangguk dan fokus menatap layar televisi.


***


“Menyebalkan! Kenapa papa dan mama tidak meminta izin dariku dan langsung saja memutuskannya? Aku punya alasan kenapa menolaknya” gerutu Kansha gusar.


Perempuan itu mengemudikan mobilnya dengan cepat. Acaranya sudah dimulai dan dia harus tiba disana sebelum orangtuanya mengklarifikasi segalanya. Tapi dia makin dipepet waktu sedangkan perjalanan masih jauh. Sepertinya ini salah satu strategi mereka agar dirinya terlambat menggagalkan acaranya. Karena tempat yang dipilih orangtuanya sangat jauh dari pusat Jakarta. Semakin bertambah gusar, Kansha melajukan kecepatannya.


Sepuluh menit kemudian, dia sampai di gedung acara konferensi pers. Tapi dia tidak langsung masuk. Dia tahu bahwa orang tuanya pasti menyiapkan halangan lainnya, terbukti dari jumlah penjaga yang berjaga sangat banyak. Kansha pasti akan dilarang masuk sampai acaranya selesai.


Alhasil, Kansha hanya bisa diam di dalam mobil sambil mencari cara bagaimana menerobos masuk kesana.


Tok tok


Kemudian jendela mobilnya diketuk seseorang dari luar. Kansha menoleh dan matanya seketika berbinar. Dia langsung keluar dari mobil.


“Oh, my beloved sister! Kamu akhirnya datang.” Sambut Kansha bahagia. Dia langsung memeluk Nana dengan erat.


“Tolong jangan erat-erat, nona. Saudarimu ini sedang mengandung calon keponakanmu.” Ucap Nana.


Kansha menyengir dan langsung melepaskan pelukannya.


“Pokoknya kalian harus membantuku.” Ucap Kansha kembali serius.


“Kita baru saja sampai dari bandara dan langsung bela-bela datang kesini dan hanya itu sambutanmu?” dengus Nana tak percaya.


Kansha menggeleng, “Itu tidak penting saat ini. Yang terpenting adalah kalian harus membantuku untuk bisa masuk kedalam sana.” Tukas Kansha.


“Aku sudah mendengar semuanya tapi kenapa kamu ingin menggagalkannya? Bukannya itu ide yang bagus untuk mengembalikan reputasimu?” tanya Nana tidak mengerti.


“Aku memiliki alasan tersendiri. Tapi yang jelas, aku harus menghentikannya. Jangan sampai mereka mengklarifikasinya.” Tutur Kansha serius.


“Kansha, aku bukannya ingin menentangmu tapi kurasa tindakanmu keliru.” Ujar Nana.


Kansha menggeleng, “Na, tolong percayalah padaku sekali saja. Aka hanya minta kamu membantuku. Tolong bantu aku, ya ya?” pinta Kansha merengek.


Nana dan Ruben saling berpandangan, jelas mereka saling bertukar pendapat lewat tatapan. Kansha yang tak sabar kembali membujuk.


“Ayolah, bantu sahabat tercinta kalian ini. Sekali saja, ya, ya? Kak Ruben? Nana? Please.” Bujuk Kansha menyatukan kedua tangannya.


Nana mendesah pelan. Dia akhirnya mengangguk mengabulkan permintaan Kansha.


“Kak Ruben bagaimana?” tanya Kansha menatap Ruben penuh harap.


Ruben bertukar pandangan sekali lagi dengan Nana lalu mengangguk, “Aku akan membantu juga.”


“Yes! Terimakasih!” sorak Kansha senang.


“Jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya Nana.


“Kalian hanya perlu mengecoh perhatian para penjaga dan aku akan menyelinap masuk.” Ucap Kansha.


Nana mengangguk mengerti, “Kalau begitu serahkan saja pada kami. Kamu tenang saja, dihadapanmu ini ada seorang desainer yang sedang sensitif karena kehamilan dan seorang pengacara yang punya seribu alasan. Jangan khawatir akan gagal!” seru Nana percaya diri.


Kansha mengangguk puas, “Aku percaya padamu, saudariku.” Tandasnya yakin


“Tapi kenapa aku pengacara yang punya seribu alasan?” sela Ruben.


“Kamu kan selalu bicara panjang lebar di persidangan. Memberikan alasan-alasan untuk memenangkan kasusmu, benar kan?”


Ruben memutar bola matanya malas, “Itu argumen, Na.” Koreksinya.


“Sama saja, kan? Argumen itu alasan.” Tukas Nana tak mau kalah.


“Tapi seribu alasan, itu membuatku terdengar seperti seorang playboy.” gerutu Ruben.


Tiba-tiba Nana menginjak kaki Ruben keras membuat Ruben mengaduh kesakitan, “Jangan berdebat dengan ibu hamil kalau tidak mau tidur diluar!” serunya sebal.


Ruben terkesiap lalu mengangguk pasrah. “Maafkan saya, Nyonya.” Ucapnya pelan.


Kansha yang melihat mereka berdua hanya bisa terkekeh.


***


Kansha, Ruben dan Nana berjalan mendekat ke gerbang utama. Gerbang utama itu dijaga sangat ketat. Bahkan ada lima penjaga yang berdiri tegap menghalangi gerbang. Kansha, Nana dan Ruben berhenti sebentar dan bersembunyi di belakang sebuah mobil tak jauh darisana.


“Penjagaannya pasti ketat. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Nana menatap Kansha.


Kansha masih mengawasi para penjaga itu lalu menoleh pada kedua temannya, “Kalian alihkan perhatian mereka. Kudengar ada pintu kecil disebelah timur tapi harus berjalan melewati gerbang utama dulu. Aku akan masuk lewat sana.” Ujar Kansha berstrategi.


Ruben mengangguk setuju. “Baik, kita ikuti rencana kamu. Tapi kamu harus cepat, waktunya sangat sedikit.”


Kansha mengangguk.


Kemudian Nana dan Ruben berdiri. Setelah saling berpandangan, mereka mulai menjalankan rencana. Nana dan Ruben berjalan menghampiri para penjaga. Sedangkan Kansha tetap bersembunyi menunggu waktu yang pas.


“Permisi, mas-mas. Ada acara apa didalam? Kok ramai sekali.” Sapa Nana ramah. Pasangan suami istri itu mendekati para penjaga dengan alami.


“Sedang ada acara bu.” Jawab seorang penjaga dengan pandangan tetap kedepan.


“Oh begitu. Acara apa pak?” tanya Nana penasaran.


“Hanya acara biasa.” Balas penjaga lagi.


“Katanya acara itu acaranya Williams ya? Saya lihat di berita.” Ucap Nana tambah mendekat.


“Bukan bu. Ibu salah.” Tukas penjaga berbohong.


Nana mengibaskan tangannya, “Eh, jangan bohong, pak. Beritanya sudah tersebar.” Ujar Nana santai.


“Kalau ibu tidak memiliki kepentingan lain, tolong segera pergi.” Usir penjaga yang merasa risih dengan kehadiran Nana dan Ruben.


"Bapak, jangan begitu dong! Saya lagi hamil, pak. Perasaan saya sensitif!” seru Nana kesal.


“Na.” Tegur Ruben, “Maaf, pak. Istri saya sedang hamil muda makanya perasaannya sensitif. Kami menganggu ya? Kalau begitu kami permisi.” Lanjut Ruben hendak mengajak Nana pergi tapi Nana malah tidak bergeming.


“Tunggu, sayang. Hmm, ini bau apa ya? Kenapa harum sekali?” gumam Nana terpesona.


“Bau apa?” tanya Ruben bingung.


Nana tak menjawab, dia malah mengalihkan tatapannya pada sesuatu objek di belakang para penjaga.


“Bau itu.” tunjuk Nana.


Ruben dan para penjaga langsung mengikuti arah telunjuk Nana dan seketika mengernyit bingung.


“Bau apa?” tanya Ruben tidak mengerti. Pasalnya di tempat yang ditunjuk Nana tidak apapun. Hanya ada sebuah taman dengan kolam mancur di tengahnya.


“Itu. Bau itu.” tunjuk Nana pada kolam ikan.


“Ikan? Kolam?” tanya Ruben bingung.


Nana mengangguk. “Sayang, kayaknya ikan hias digoreng enak deh.” Ucap Nana.

__ADS_1


Ruben dan para penjaga seketika melongo terlebih Ruben. Serius, Nana mengidam ingin makan ikan mas goreng? Ini hanyalah sandiwara ataukah sungguhan?


“Na.” Tegur Ruben berbisik. Mengingatkan Nana agar tidak kelewatan.


“Diam dan ikuti saja.” Bisik balik Nana penuh penekanan.


“Tapi kamu tidak sungguhan ingin makan ikan hias goreng kan?” bisik Ruben memastikan.


“Kamu fikir aku sudah tidak waras?” semprot Nana. Mendengarnya Ruben bernafas lega.


“Pokoknya sayang, aku ingin makan ikan hias goreng dari kolam itu!” tandas Nana kembali ke cerita sandiwaranya.


Ruben menggaruk kepalanya bingung, dia lalu menatap para penjaga di depannya. “Apa ikan itu bisa ditangkap, pak?” tanya Ruben.


Para penjaga saling berpandangan lalu kompak menggeleng tegas, “Itu ikan hias dan merupakan peliharaan perusahaan. Tentu saja tidak bisa.”


“Ih, kok seperti itu sih. Ah, sayang, pokoknya tangkap ikan itu untuk aku. Atau kamu mau anak kita ileran?” ancam Nana kesal.


“Tentu saja aku tidak mau. Tapi sayang, kan tadi kamu sudah dengar kalau ikan itu tidak bisa ditangkap.” Balas Ruben.


Kini Nana menyolot marah pada para penjaga. Dan seketika mereka langsung ketakutan ketika ditatap garang oleh ibu hamil itu.


“Bapak-bapak tidak punya hati sekali! Istri kalian juga pasti pernah mengidam dan bayangkan kalau ngidamnya tidak terpenuhi? Pasti istri kalian sangat sedih dan kalian sebagai suaminya sangat tidak bertanggung jawab membuat istri kalian yang sedang mengandung anak kalian sedih!” semprot Nana kesal.


“Pak, tolonglah. Sekali ini saja. Ini anak pertama kami dan kami sangat menantikannya. Tapi apa yang terjadi kalau misal dia nanti ileran?” bujuk Ruben memelas.


“Maaf tetap tidak bisa. Tidak boleh ada yang mengambil ikan di—“


“Hiks, huwa! Mama! Hiks, huwa!” tiba-tiba Nana mulai menangis keras. Ruben dan para penjaga terkejut.


“Na, jangan menangis.” Ucap Ruben mengelus pundak istrinya menenangkan.


Dia sangat hebat kalau soal urusan bersandiwara Batin Ruben memuji.


“Kalau misal kalian tidak mau, makanya biar saya saja! Kalian fikir saya tidak bisa menangkapnya sendiri?” seru Nana.


“Bu, tidak bisa. Ibu jangan bertingkah konyol.” Tukas penjaga.


“Biar saya yang tanggung resikonya! Dasar laki-laki tidak berperasaan.” Umpat Nana kesal.


Nana lalu berjalan hendak mendekati kolam tapi dia ditahan oleh para penjaga. Keadaan jadi kacau seketika. Nana yang memaksa masuk dengan Ruben yang melindunginya dan para penjaga yang berusaha menahan.


“Pokoknya saya harus goreng satu ikan disana!” teriak Nana.


“Tidak bisa, bu. Nanti kami kena marah kalau ibu mengambil tanpa izin!” balas seorang penjaga ikut berteriak.


“Tidak peduli! Pokoknya saya ingin makan ikan hias goreng sekarang!” teriak Nana lagi.


Dan diantara kekacauan itu, Kansha menerima isyarat tangan Nana yang menyuruhnya segera menyelinap masuk. Kansha berjalan pelan lebih dulu sembari mengendap-endap. Dia membungkuk sedikit kala hendak melalui gerbang utama tapi untungnya Nana dan Ruben menghalanginya dan membuat penjaga tidak menyadari kehadirannya.


Kansha dengan aman berhasil melewati gerbang utama namun begitu dia hendak masuk lewat gerbang samping, rencana berubah tak sesuai harapan. Rupanya para penjaga juga berjaga di gerbang samping. Kansha lalu melirik Nana dan menggeleng. Mengisyaratkan bahwa dia tidak bisa masuk. Nana melotot tak percaya, kemudian Nana melambaikan tangannya dan menunjuk Kansha agar berjalan melalui gerbang utama saja. Tapi Kansha menggeleng. Itu sama saja dengan cari mati. Meskipun dia berhasil melewati para penjaga di gerbang, tapi ada banyak penjaga lagi yang menunggunya didepan sana.


“Cepat masuk saja!” Kansha membaca gerakan bibir Nana.


Kansha akhirnya tak punya pilihan, perempuan itu mengikuti suruhan Nana. Dan begitu Kansha mengendap-endap masuk, Nana dan Ruben langsung menghalangi tubuh Kansha. Kansha pun berhasil mengendap masuk dan segera berlari menuju semak-semak lebih dulu.


Nana yang menyadari bahwa Kansha sudah berhasil, langsung berhenti. Nafasnya tersengal-sengal dan rambutnya acak-acakkan.


“Ibu, jangan bertindak seperti itu. Itu tadi bisa membahayakan janin ibu!” seru penjaga itu turut terengah-engah menghadapi energi Nana.


“Itu salah bapak yang tidak mau mengabulkan keinginan ngidam saya!” seru Nana sebal.


“Saya akan menelfon atasan saya dan meminta izin untuk memberikan satu pada ibu.” Saran penjaga.


“Nah dari tadi dong! Kalau saja dari tadi, kita tidak perlu capai-capai melakukan itu. Buat badan saya gerah saja!” ujar Nana dongkol.


“Sebentar bu.” Ucap penjaga hendak mengambil ponselnya.


“Eh, jangan! Tidak perlu, saya sudah tidak mood.” Cegah Nana.


“Hah? Kenapa bu?” tanya penjaga bingung.


“Ya sudah tidak mau saja. Saya sudah tidak mood lagi akibat perlakuan kalian.ayo, sayang, kita beli di pasar ikan saja.” Ujar Nana pura-pura keki.


Ruben seketika mengangguk, “Iya, ayo, aku antar sekarang.” Ucap Ruben.


“Permisi ya bapak-bapak yang tidak punya hati. Saya do’ain ngidam istri bapak-bapak bisa dipenuhi tidak seperti saya.” Pamit Nana. Setelah itu menggandeng Ruben dan langsung pergi.


“Kami minta maaf ya, bu!" Seru penjaga itu tidak enak hati.


“Kasihan juga ya, ngidamnya tidak jadi.” Komentar seorang penjaga lain. Dan teman-temannya hanya mendesah pelan.


***


Kansha bersembunyi di balik semak-semak dan mengawasi para penjaga yang berjaga di depan pintu gedung. Jumlahnya ada dua orang dan Kansha harus memikirkan cara agar bisa melewati mereka.


“Nana pernah mengajariku satu jurus. Aku harus menggunakannya agar bisa lolos.” Ucap Kansha.


Kansha pun berdiri dan langsung berlari menghampiri para penjaga itu. Biarlah dibilang bunuh diri toh dia punya tas dan sepatu hak tinggi yang bisa dijadikan senjata. Lagipula para penjaga itu tidak mungkin melukainya terlalu parah.


“Nona Kansha!” seru penjaga itu terkejut dengan kehadiran Kansha.


Bug


Kansha menanggapinya dengan pukulan dari sepatu hak tingginya ke kepala salah satu penjaga. Penjaga itu tumbang seketika karena pingsan.


“Ayo, kesini!” pancing Kansha dengan gerakan sok bela diri.


“Nona, saya tidak bisa melukai nona jadi menyerahlah.” Ucap penjaga itu.


“Jangan meremehkanku, dasar botak!” teriak Kansha sambil menendang kaki lelaki itu.


Bug


Lelaki itu seketika membungkuk kesakitan. Kansha memanfaatkan kesempatan itu. Perempuan itu kembali menendang wajah penjaga itu. Penjaga itu kembali menjerit kesakitan. Dia seketika lumpuh akibat tendangan Kansha.


"Maaf, pak. Saya terpaksa. Semoga wajahnya tetap utuh." ucap Kansha meringis.


"Aku harus segera masuk dan menghentikannya." Tersadar harus cepat-cepat sebelum para penjaga itu pulih, Kansha pun segera membuka pintu utama.


***


"Halo, saya Andrian Williams, CEO Williams Company." ucap Andrian yang didampingi Grace mengawali konferensi pers. Kilatan lampu kamera terus berkelip menyorotnya.


"Seperti yang sudah disampaikan pada media pers terkait tujuan konferensi pers ini adalah untuk mengklarifikasi isu mengenai putri saya, Kansha yang difitnah oleh oknum yang tak bertanggung jawab beberapa hari lalu."


"Jadi maksud Anda berita itu tidak benar?" seorang reporter berdiri menyela.


Seorang reporter lain turut berdiri dan menyela, "Kenapa Bu Kansha tidak hadir saat ini?"


"Tolong jangan menyela saya sebelum saya menyelesaikan penjelasan saya. Dan saya tidak membuka sesi pertanyaan apapun jadi tolong pahami dengan baik." sela Andrian.


Setelah suasana kembali terkendali, Andrian kembali melanjutkan. "15 tahun yang lalu, saya sekeluarga pergi berlibur di sebuah pulau di Korea Selatan. Disanalah insiden itu terjadi. Putri pertama saya, Kania Andara Williams terseret ombak saat bermain dengan adiknya, Kansha. Sebenarnya bukan hanya Kania melainkan Kansha juga ikut terseret. Tapi yang selamat hanyalah Kansha. Saya gagal menyelamatkan putri pertama saya." tutur Andrian dengan nada sedih.


"Tapi saat itu kami melihat kejadian itu adalah sebuah kesalahan dari putri kedua kami. Kania sebetulnya hendak menyelamatkan Kansha yang hampir terseret ombak karena jatuh dari batu karang. Tapi akibat kesedihan kami, kami menyalahkan Kansha atas insiden itu dan membencinya selama bertahun-tahun. Ditambah lagi dengan fakta bahwa dia bukanlah anak kandung kami, makin membuat kami bertambah benci hingga mengusirnya di usia 15 tahun."


"Benar, kejadian itu dialami ketika Kansha berusia 5 tahun. Dan Kansha bukanlah anak kandung saya." pungkas Andrian tegas. Bisik-bisik riuh terdengar di bangku para reporter. Kilatan lampu juga bertambah banyak.


"Kalian bayangkan, anak sekecil itu disalahkan atas perbuatan yang bukan salahnya. Kami bahkan mencapnya sebagai pembunuh dan mengusirnya dengan tega. Tapi untungnya, Kansha bertemu dengan seorang ibu baik hati. Beliaulah yang merawat Kansha hingga sebesar sekarang. Namanya Ibu Sari, dia pemilik Cafe Mentari. Kalian bisa main kesana kapan-kapan."


"Kemudian tragedi pesawat jatuh terjadi. Seperti yang sudah kalian tahu, salah satu korbannya adalah putri kami. Dan disaat itulah kami menyadari kesalahan kami dan kami menyesal karena telah menelantarkan putri kami sejak kecil." Andrian tiba-tiba saja menangis membuat keharuan terasa disekeliling aula.


"Biar saya yang melanjutkan." sela Grace pelan. Semua mata jadi memandang Grace.


"Saya sebagai seorang ibu merasa sangat bersalah dan tidak bertanggung jawab. Saya bukan ibu yang baik. Saya sudah kehilangan Kania dan saya tidak ingin kehilangan Kansha. Dan sejak Kansha dinyatakan selamat, kami berusaha membangun kembali keluarga kami yang sempat terpecah belah. Kansha, anak yang baik. Dia mau memaafkan kami dan kambali pada kami. Saya senang dipanggil 'mama' lagi olehnya."


"Jadi kesimpulannya adalah, Kania meninggal bukan karena salah Kansha. Itu adalah sebuah kecelakaan dan yang bersalah adalah kami sebagai orang tua yang kurang mengawasi anak-anak ketika bermain. Jadi saya pesan pada semua orang tua yang masih memiliki anak kecil, untuk menjaga dan mengawasinya dengan baik. Jangan sampai kejadian tragis seperti ini terulang."


"Kedua, soal status Kansha. Dia memang bukan putri kandung kami. Tapi dia tetaplah putri kami. Dia tetaplah hal berharga bagi kami. Dan kami tidak akan mengungkit mengenai statusnya lagi. Dia adalah putri kami. Kansha Andara Williams adalah putri Andrian Williams dan Grace Williams."


Cekrek


Cekrek


Seiring dengan berakhirnya penjelasan Andrian, suara flash kamera terdengar ramai. Semua reporter yang diundang sibuk menyeka air mata mereka alih-alih mencatat berita. Mereka terlalu terharu atas ucapan Andrian dan Grace.


"Papa, Mama." panggil seseorang dari belakang. Semua mata teralih ke sumber suara. Ada Kansha yang berdiri kaku menatap kedua orang tuanya.


"Kansha." panggil Andrian meminta Kansha untuk mendekat.


Kansha membasahi bibirnya dan mulai melangkahkan kakinya. Dia berjalan pelan mendekati podium, dimana papa dan mamanya berada. Suara kilatan kamera mengiringi tiap langkahnya.


"Dia adalah Kansha Andara Williams. Putri kami. Dan kami mencintainya tanpa batas dan syarat." ucap Andrian lantang ketika Kansha sudah berdiri di podium.


Grace mengelus pundaknya dengan lembut. Begitupun Andrian yang tersenyum penuh kasih padanya. Dan tak terasa air mata menitik di mata Kansha.


Dia mungkin gagal menghentikan konferensi pers ini tapi hatinya tetap senang. Dia bahagia mendengar semua ucapan orang tuanya tentang betapa mereka mencintainya.


Maafkan aku, Kak. Tapi aku tidak menyesal meski gagal menghentikan konferensi ini. batin Kansha.


***


Prang


Sebuah gelas kaca dilempar keras oleh seseorang pada televisi yang menampilkan wajah Kansha dan Williams didepannya. Televisi itu seketika retak dan mati.


"You will die, Kansha."

__ADS_1


Dan seusai kata penuh ancaman itu diucapkan, tangan orang itu terkepal erat penuh amarah. Dia menatap foto Kansha yang berdarah-darah tertempel di dinding. Seketika dia tertawa kesetanan.


__ADS_2