
Grep
Alan langsung menarik Kansha kedalam pelukannya. Tak diperdulikannya oleh rintik hujan yang deras, Alan tetap merasa gelisah. Namun begitu mendapati kehangatan tubuh Kansha yang terasa pada dadanya, Alan mampu bernafas lega. Perempuan yang dicintainya baik-baik saja.
“Kamu kehujanan.” Ucap Kansha pelan membuat Alan merenggangkan pelukan mereka.
“Kamu juga.” balas Alan menatap Kansha yang mendongak menatapnya.
“Kenapa kamu disini? Bukannya kamu ada jadwal terbang?” tanya Kansha. Alan tak membalasnya. Dia terus menatap Kansha dengan pandangan tak terbaca.
“Kamu lagi-lagi mempertaruhkan hidupmu demiku. Padahal aku tidak apa-apa. Bagaimana kalau kamu terkena sanksi atau paling parah dipecat?”
“Maka aku tak akan menyesal.” Balas Alan kembali memeluk Kansha. Dan Kansha tak menjawabnya dan memilih membalas pelukan Alan.
***
Kini setelah hujan-hujanan, mereka berdua masuk ke dalam apartement Kansha yang rupanya sudah selesai direnovasi. Alan sedang mandi sedangkan Kansha asik menikmati secangkir teh hangat dengan handuk yang melingkar di tubuhnya.
Sambil menunggu Alan, Kansha banyak merenung. Dia sungguh tak tahu harus melakukan apa atas masalah yang terjadi. Entah dia harus bagaimana. Dia sungguh tidak tahu. Dan entah kenapa perkataan Aura terus bergaung dalam kepalanya seakan mendiktenya bahwa itu adalah jawaban yang benar yang harus dia lakukan.
Ceklek
Kansha mengalihkan pandangannya pada Alan yang keluar dari kamar. Lelaki itu nampak segar dengan rambut yang basah. Sekilas Kansha merasa terpesona pada keindahan yang dimiliki makhluk Tuhan ini. Hingga tepat ketika Alan melangkah menghampirinya, jantung Kansha serasa hampir meledak.
“Ada apa melihatku seperti itu?” tanya Alan bingung ketika menyadari Kansha memerhatikannya sangat intens.
Kansha terkesiap. Dia langsung memalingkan wajahnya pada arah lain.
“Panas. Aku mandi dulu.” ucap Kansha sambil mengipas-ngipasi wajahnya yang memanas tiba-tiba. Setelah itu langsung melesat kabur ke kamar.
“Panas? Apa pemanasnya terlalu tinggi?” gumam Alan bingung.
***
Disisi lain, dibelahan dunia lain, dimana daun oranye berguguran, dan dimana angin malam jauh lebih hangat daripada malam lain, pasangan Williams baru saja pulang ke hotel. Mereka baru saja selesai melakukan peninjauan terakhir mengenai proyek supermart mereka.
Grace langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia kelelahan dan merasa pusing. Mengikuti suaminya kemanapun memang sangat melelahkan. Seharusnya dia menuruti permintaan Kansha untuk tetap diam di rumah saja. Tapi dia malah keukeuh ingin ikut karena merasa percuma kalaupun di rumah, Kansha juga sama-sama sibuk. Itu kan sama saja dengan dia kesepian juga.
“Mandi saja dulu, ma. Jangan langsung berbaring.” Ucap Andrian sembari tengah melepas dasinya.
“Mama bahkan terlalu lelah untuk berdiri.” Balas Grace.
Andrian selesai melepas dasinya. Dia lalu menatap Grace yang sudah memejamkan matanya itu. Jangan sampai istrinya tertidur ketika memakai riasan yang lengkap dan pakaian kerja yang belum diganti.
“Ayo bangun. Kamu harus mandi sebelum tidur atau kamu akan merasa tidak nyaman.” Ucap Andrian lembut. Dia mengusap bahu istrinya itu pelan.
“Nanti saja.” Tolak Grace malah membenamkan wajahnya pada bantal.
Andrian menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak punya cara lain. Andrian tiba-tiba saja mengangkat tubuh Grace. Grace tersentak kaget ketika merasakan tubuhnya diangkat.
“Eh, pa! Turunkan mama!” seru Grace.
“Kamu harus mandi dulu, ma.” Balas Andrian sambil berjalan menuju kamar mandi.
“Kan mama sudah bilang, nanti!” tukas Grace sebal.
“Kalau begitu kita mandi bersama saja.” Pungkas Andrian.
Blam
Begitu mengucapkan kalimat itu, pintu kamar mandi ditutup disertai dengan jeritan kekesalan Grace Williams.
***
Kansha baru saja mandi. Dia keluar ke ruang tamu dengan celana training dan sweater hijau hangat. Rambutnya juga sudah kering. Tubuhnya pun sudah tak sedingin tadi.
Kansha duduk disamping Alan yang langsung mengangsurkan teh padanya. Kansha menerimanya dan tersenyum berterima kasih.
“Jadi apa yang kamu lakukan ketika berdiri di depan apartement tadi?” tanya Alan.
__ADS_1
“Tentu saja untuk masuk kedalam. Kamu fikir aku disana sedang menari?” balas Kansha sambil terkekeh.
“Kenapa hujan-hujanan?”
“Aku datang kesini naik taksi. Dan taksinya tidak bisa mencapai gedung. Jadi—“ Kansha tak melanjutkan ucapannya.
“Mobilmu kemana?” tanya Alan lagi.
“Di stasiun televisi.” Balas Kansha.
“Jadi kamu pulang dari stasiun televisi dengan naik taksi? Kenapa?” tanya Alan terkejut.
Kansha terdiam sesaat. Bukan itu kenyataannya. Tapi dia memilih mengangguk.
Alan mendengus tak percaya. “Kadang otak jenius selalu disalahartikan oleh tindakanmu.”
Kansha hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hatinya, dia meminta maaf karena telah berbohong.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Alan serius.
“Tentu saja tidak.” Sahut Kansha terkekeh pelan.
“Siapa sih yang menyebarkan itu? dasar kurang kerjaaan. Dia bahkan menyebarkan berita bohong!” seru Alan kesal.
“Itu Pak Benny.” Jawab Kansha. Dia sudah menyelidikinya, dan dugaannya benar bahwa itu adalah Pak Benny, mantan bos ARC.
“Kamu harus mengklarifikasinya.” Ucap Alan berapi-api.
Kansha seketika menggeleng. Alan langsung terperanjat kaget ketika melihat tanggapan Kansha.
“Kenapa?” tanyanya.
“Apa yang harus diklarifikasi ketika berita itu benar?” tanya balik Kansha.
“Itu—“ Alan jadi terdiam. Dia berfikir soal apa yang salah dari berita itu.
“Ada yang salah.” Seru Alan tak lama.
Kansha menoleh dengan tatapan bertanya, “Apa?”
“Soal kamu dituduh membuat Kania meninggal. Kamu tidak membunuhnya. Dia menyelamatkanmu yang hampir terseret ombak. Dan soal tuduhan kamu melakukan itu karena demi posisimu. Saat waktu kejadian, kamu masih kecil, tidak mungkin kamu sudah berfikir soal posisi atau kekayaan.” Jelas Alan.
“Itu hanyalah rumor yang disimpulkan para media atas pernyataan Pak Benny.” Tukas Kansha.
“Itu sebabnya kamu harus mengklarifikasi kebenarannya! Namamu jadi tercoreng karena berita ini. kamu bahkan dicap pem—“ Alan sadar dia hampir saja tidak mengontrol ucapannya. Dia seketika terdiam.
“Pembunuh?” tanya Kansha mengerti. “Aku memang membunuhnya meski tidak secara langsung.” Pungkas Kansha pelan.
“Kansha..” sela Alan tak setuju.
“Aku sudah dibenci oleh kedua orang tuaku selama dua puluh tahun hidupku. Aku tahu apa yang mereka rasakan sesungguhnya padaku. Meski kini mereka mengatakan bahwa mereka sudah baik-baik saja dan memaafkanku, aku tahu bahwa didasar lubuk hati mereka, mereka masih kesakitan. Mereka masih sedih atas kehilangan Kania. Ditambah dengan jasadnya yang tak ditemukan, membuat hati mereka menangis setiap malamnya. Sudah banyak kesedihan yang kutorehkan pada mereka dan Kania. Kuharap aku bisa menebus pengampunanku pada mereka. Dan mungkin dengan adanya berita ini, setidaknya bisa mengurangi beban mereka. Aku rela dibenci dan dicap jahat apapun. Karena aku memang bersalah.” Tutur Kansha pelan.
“Kansha, ini bukan kesalahanmu. Berhentilah merasa bersalah.” Tukas Alan lembut.
Kansha seketika menggeleng keras, “Aku bersalah, Lan! Seluruh dunia tahu hal itu!” seru Kansha dengan tarikan nafas cepat. “Aku bersalah karena telah merenggut semua milik Kania. Ini semua miliknya, Lan. Orang tuanya, rumahnya, kasih sayangnya, masa depannya, ini semua adalah milik Kania. Dan aku merebutnya!” lanjut Kansha yang pada akhirnya menangis.
“Aku merebutnya! Aku menyingkirkannya! Aku menghilangkan hidupnya, Lan!” isak Kansha dengan kepala tertunduk.
Alan langsung memeluk kepala Kansha yang terus saja menunduk. Racauan Kansha yang penuh rasa bersalah membuat lelaki itu menitikkan air mata.
“Kansha, hei, lihat aku.” Pinta Alan menghentikan racauan perempuan itu dan membuatnya menatap matanya.
“Kamu tidak bersalah. Kamu berhak untuk hidup dan bahagia. Itu semua sudah menjadi takdir Kania. jangan merasa bersalah lagi, Sayang.” Ucap Alan lembut.
Namun mendengar ucapan Alan tak membuat Kansha merasa lega. Dia malah langsung terisak hingga akhirnya Alan menarik perempuan itu kedalam pelukannya.
“Kalau begitu, menangislah. Menangis saja, tidak apa. Tumpahkan saja semuanya.” Ucap Alan sambil mengelus punggung Kansha yang naik turun. Dia menyadari bahwa Kansha memang butuh pelampiasan. Kansha sudah terlalu banyak menanggung beban. Dan sudah waktunya bagi perempuan ini untuk menumpahkannya.
Dan di dalam pelukan Alan, Kansha menangis sejadi-jadinya. Untuk kali pertamanya, dia merasa lelah—amat lelah. Hingga yang dia inginkan hanyalah menangis sekerasnya. Menjeritkan kesakitannya selama ini. Dia hanya ingin menghilangkan beban yang sudah dia tanggung dengan penuh kesakitan ini. kini dia tak ingin merasa sok kuat dan sok baik-baik saja. Karena nyatanya, dia tak sekuat itu. tubuhnya sudah melemah seiring dengan rasa berdosanya pada Kania yang terus menggunung.
__ADS_1
Dan untuk menumpahkannya, dia hanya terus menangis sejadi-jadinya.
***
Setelah mandi bersama yang dadakan, Grace dan Andrian kini sedang makan malam bersama. Sambil makan, Grace mencoba menghubungi putrinya. Namun setelah beberapa kali ditelfon, ponsel Kansha tidak aktif. Grace jadi bingung apa alasannya. Dan semua itu mengundang rasa penasaran Andrian.
“Ada apa, ma?” tanyanya.
“Ini mama menghubungi Kansha beberapa kali, tapi tidak diangkat ya.” Jawab Grace bingung.
“Mungkin dia sedang makan malam. Atau mungkin masih sibuk?” sahut Andrian.
“Tidak biasanya, anak itu tidak menjawab telfon.” Gumam Grace merasa aneh.
“Sudahlah, ma. Mungkin saja Kansha memang sedang sibuk. Peresmian kantor barunya di Seoul tinggal menghitung minggu, jadi dia pasti sedang mempersiapkannya.” Jelas Andrian menenangkan.
Grace akhirnya mengangguk menyetujui karena ucapan suaminya masuk akal.
Mereka pun makan dengan tenang kembali. Tapi ketenangan itu diinterupsi oleh kedatangan Kevin, sekretaris Andrian yang tiba-tiba saja masuk tanpa izin.
“Ketuk pintu dulu sebelum masuk.” Tegur Andrian meski merasa bingung dengan tindakan tak biasa Kevin.
“Maaf, pak, bu. Tapi ada berita mengejutkan terjadi.” Ucap Kevin serius.
“Berita apa?” tanya Grace penasaran.
“Soal rahasia masa lalu Nona Kansha dan insiden meninggalnya Nona Kania. Semuanya sudah terungkap.” Tandas Kevin.
Prang
Grace menjatuhkan sendok dan garpunya ke lantai. Dia dan Andrian sama-sama membeku karena terkejut dan syok.
****
Permirsa, Putri pasangan Williams, Kansha Andara Williams terjerat skandal yang menghebohkan publik. Hari ini, di sebuah acara bincang-bincang seorang penelfon pria mengungkapkan mengenai rahasia masa lalu Kansha yang selama ini disembunyikan pada publik, kansha Andara Williams diketahui bukanlah putri kandung pasangan Williams dan melainkan hanya seorang anak angkat. Informasi lain yang tak kalah mengejutkan adalah bahwa Kansha telah membunuh kakaknya sendiri yang tak lain adalah putri kandung Williams di sebuah liburan musim panas dahulu kala. Entah kapan waktu terjadi tepatnya, tapi publik seketika geger terlebih karena selama ini Williams menutup-nutupinya.
Aisyah langsung menjatuhkan remotnya. Wajahnya terus terpaku pada layar televisi yang menampikan wajah Kansha. Perempuan itu lalu melihat caption pada berita tersebut dan seketika langsung merasa marah.
“SI ANAK ANGKAT KANSHA ADALAH PEMBUNUH?!” seru Aisyah marah. “Apa-apaan itu?”
Zakariya yang baru saja keluar membeli makanan seketika merasa keheranan kala melihat raut putrinya yang terlihat marah. Zakariya yang menyadari Aisyah sedang menatap sesuatu seketika mengikuti arah pandang Aisyah dan lansung terkejut kala di televisi ada potret Kansha dengan caption yang aneh.
“Aisyah.” panggil Zakariya.
“Iya Bi?” sahut Aisyah yang baru menyadari bahwa Abinya sudah pulang.
“Bukannya itu orang yang sudah menyelamatkanmu waktu kecelakaan dulu? Siapa namanya? Abi lupa.”
“Namanya Mbak Kansha, Bi.” Jawab Aisyah.
“Ah iya, Kansha! Tapi kenapa dia ada di berita dan mengapa tulisan dilayarnya seperti itu?” tanya Zakariya.
“Mbak Kansha dituduh membunuh saudarinya sendiri. Tapi aku yakin, itu adalah fitnah. Mbak Kansha tidak mungkin melakukannya.” Sahut Aisyah serius.
“Sepertinya kamu sudah tidak membenci Kansha lagi.” Komentar Zakariya.
Aisyah terdiam gelagapan. Tapi akhirnya dia mengangguk, “Aku sudah salah telah menuduhnya yang bukan-bukan. Aku juga tahu bahwa selama ini kebencianku tidak berdasar.” Ucap Aisyah pelan.
“Syukurlah, kalau begitu.” Sahut Zakariya lega.
“Tapi kini, Mbak Kansha malah tersangkut masalah kembali. Entah apa yang terjadi saat ini padanya. Tapi aku yakin Mbak Kansha pasti sedang kesulitan.” Desah Aisyah cemas.
“Tenang saja. Dalam penggambaran Abi, Kansha seperti perempuan yang dewasa dan kuat. Dia pasti akan bisa mengatasi masalahnya. Kamu jangan terlalu khawatir.” Ucap Zakariya tenang.
Aisyah menanggapinya dengan keterdiaman.
Andai Abi tahu siapa itu Mbak Kansha sebenarnya, Abi pasti tidak akan setenang ini. Entah sampai kapan aku harus menyembunyikan ini semua. Dan Kini mbak Kansha sedang tersandung masalah. Seharusnya kami sebagai keluarganya, ada disana mendukungnya dan membantunya. Aku jadi merasa amat bersalah batin Aisyah.
Setelah itu, Aisyah terus menghela nafas.
__ADS_1