My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 42. Tur ARC


__ADS_3

Sebelumnya aku minta maaf banget, dengan kejadian ini. Actually, ini salahku yang mungkin teledor. Dan aku sedang memperbaiki bab-bab yang tadi kacau. Aku ucapin banyak makasih buat pihak Noveltoon yang udah aku recokin gara-gara ini baik di apl maupun di whatsapp, terima kasih karena mau sabar dengan keteledoranku🙏


Aku juga minta maaf ini bikin kalian gak nyaman, tapi aku usahain mulai besok gak akan ada kesalahan kayak gini lagi🙏 Tolong ingetin author buat minum Aqua ya!😅


----------------------------


 


Alan tiba di tempat tujuannya. Setelah parkir di basement, Alan kemudian masuk ke lobi. Nama ARC terpampang megah di dinding lobi.


“Ada yang bisa saya bantu?” sambut resepsionis dengan ramah pada Alan.


“Saya ingin bertemu dengan Kansha. Dia ada?”


“Bu Kansha sedang meeting. Apakah Anda sudah memiliki janji?” Alan menggeleng.


“Kalau begitu, maaf Anda tidak bisa masuk.” Kata resepsionis itu.


Alan diam, kemudian berkata, “Tolong hubungi Kansha, dia kenal dengan saya.”


***


Begitu Kansha selesai rapat, Seli kembali masuk ke ruangan Kansha. Selain untuk membawa kembali gelas-gelas dan piring yang kosong, Seli juga memberitahukan tentang kedatangan Alan.


“Taruh saja winenya disini.”kata Kansha. Seli mengangguk.


“Oh ya, bu ada seorang laki-laki yang ingin bertemu dengan ibu. Namanya Alan, dia bilang dia kenal dengan ibu.”


Kansha yang tadi tengah meneguk wine, seketika diam mendengus. Untuk apa lelaki itu datang kesini setelah kemarin memporak-porandakan hatinya.


“Suruh masuk saja.” Kata Kansha singkat. Dia juga penasaran untuk apa Alan datang ke kantornya.


“Baik bu.”


Beberapa saat kemudian, Alan masuk ke ruangan. Dia menoleh pada Kansha yang masih minum-minum. Alan lalu duduk di depan kursi Kansha.


“Ini jam kerja, dan kamu malah mabuk-mabukan?” sindir Alan.


Kansha mendengus dan mengabaikan pertanyaan Alan. Alan mengernyit bingung melihat sikap Kansha.


“Kamu kenapa? Apa ada masalah?” tanya Alan.


Kansha mendengus dalam hati, yang ada masalah itu Alan. Dia jadi seperti ini karena Alan.


“Untuk apa kamu kemari?” tanya Kansha ketus.


“Aku ingin membalikan syalmu yang tertinggal di mobilku kemarin.” Kata Alan. Dia menyerahkan goodybag itu yang langsung disambar oleh Kansha.


“Sudah kan? Silakan pergi.” Usir Kansha.

__ADS_1


“Kansha, sepertinya suasana hatimu benar-benar sedang buruk. Katakan, aku salah apa padamu hingga kamu tidak ramah seperti ini?” tanya Alan.


“Tanyakan saja pada dirimu sendiri.” Jawab Kansha masih ketus.


“Aku tidak merasa punya salah sedikitpun padamu. Harusnya aku yang marah padamu.”


Kansha mengernyit bingung.


“Kamu tahu aku kemarin hampir saja kecelakaan pesawat tapi kamu boro-boro menelfonku, mengirim pesan untuk menanyakan keadaanku saja tidak. Kamu sungguh tidak sepeduli itu?”


Kansha menganga. Dia menatap sengit Alan. Apa dia bilang, tidak peduli? Dia justru saking pedulinya hingga menelfonnya siang malam ratusan kali. Jangankan dijawab oleh Alan, yang ada dia harus adu mulut dengan Aisyah. Dan setelah itu, Alan malah tidak menghubunginya lagi. Jadi dimana letak kesalahan Kansha?


“Seharusnya aku yang mengatakan itu. Aku menelfonmu dari siang hingga malam. Ratusan panggilan dariku dan tidak ada satupun yang kamu angkat.” Kecuali satu, itupun Aisyah yang mengangkatnya, lanjut Kansha dalam hati.


Alan mengernyitkan dahi bingung. “Apa maksudmu? Tidak ada satupun panggilanmu di ponselku.” Kata Alan. Dia menunjukkan log panggilannya dan tak ada panggilan dari Kansha sama sekali.


Kansha ternganga. Dia lalu memperlihatkan log panggilannya. Nomor Alan dia hubungi sebanyak 117 kali. Alan terkejut sekali.


“Tapi kenapa di ponselku tidak ada? Aneh sekali.” Gumam Alan.


Kansha menahan emosinya. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah Aisyah. Dasar ular, desis Kansha.


“Apa Kansha?” tanya Alan. Dia tadi mendengar sesuatu dari mulut Kansha.


Kansha menggeleng, “Lupakan saja. Mungkin ada kesalahan.” Kata Kansha. Alan mengangguk.


Kansha melihat arlojinya, “Kurasa tidak untuk saat ini. aku ada rapat dengan tim manajemen sebentar lagi. Tapi kalau kamu mau, aku akan menyuruh Seli untuk menemanimu keliling. Nanti setelah selesai, aku akan mengajakmu makan siang. Bagaimana?” tawar Kansha.


Alan mengangguk setuju.


***


Disinilah Alan, tengah menjelajahi kantor ARC bersama sekretaris Kansha. Dimulai dari lobi, deretan penghargaan ARC dipajang dengan begitu mewahnya. Catnya yang krim membuat kesan formal dan anggun.


Seli lalu membawa Alan ke ruang kerja. Deretan meja-meja dan orang-orang yang tengah bekerja menyapa penglihatan Alan. Ruang kerja itu ternyata dibagi beberapa departement. Ada Jurnalistik, Manajemen, HRD, IT dan lain-lain.


“Ini ruang Tim Jurnalistik.” Kata Seli menunjuk sebuah ruangan luas dengan beberapa sekat. Dan ternyata tim Jurnalistik dibagi beberapa tim lagi, yaitu tim 1, 2, 3 dan 4.


“Apa mereka memiliki tugas yang berbeda?” tanya Alan. Seli mengangguk.


“Tim Jurnalistik 1, bertugas di bagian berita ekonomi dan politik. Tim Jurnalistik 2 bertugas dibagian berita pendidikan, sosial dan kriminalitas. Tim Jurnalistik 3 bertugas di bagian berita bisnis dan olahraga. Dan Tim Jurnalistik 4 untuk berita selebriti.” Jawab Seli.


Alan mengangguk mengerti. Rupanya ARC sangat lengkap dan mendetail. Berita di berbagai sektor sudah memiliki divisinya masing-masing.


Seli lalu membawa Alan ke ruang studio. Ada tiga studio disana, satu untuk radio, dua lainnya untuk syuting streaming mereka.


“Awalnya ARC berfokus mempublikasikan berita melalui tabloid atau majalah, namun kini setelah Bu Kansha memimpin, ARC juga merambah ke radio dan layanan streaming. Bu Kansha percaya kalau kini sudah lumayan banyak orang terutama anak remaja meninggalkan televisi dan beralih menggunakan ponsel untuk menonton berita. Jadi kami membangun studio layanan streaming dan radio untuk mengikuti arus.” Jelas Seli.


“Dia luar biasa.” Puji Alan. “Oh ya, ada yang ingin saya tanyakan padamu.” Lanjut Alan.

__ADS_1


Seli mengangguk, “Silakan.”


“Kansha pada awalnya pegawai disini seperti kalian dan kini dia memegang kendali ARC. Apakah ada perbedaannya?”


“Sejujurnya, saya juga terkejut dengan hal itu. Saya bersama dengan Kansha di tim Jurnalistik 1. Kami melalui suka duka bersama dan ketika ARC dikabarkan akan bangkrut, Pak Benny menekan Kansha untuk meliput berita ilegal padahal Kansha tidak ingin melakukannya. Tapi karena tahu kami semua menggantungkan nasib di ARC, Kansha akhirnya mau. dari kejadian itu, saya berfikir bahwa Kansha benar-benar seseorang yang luar biasa. Dan ketika dia memimpin ARC, saya sudah yakin kalau dia bisa memajukan ARC. Terbukti sekarang, semakin majunya perusahaan, namun semakin rendah hatinya.”


“Saya kini benar-benar merasa sangat nyaman di ARC. Oh ya, tingkat kesejahteraan pegawai meningkat 20 persen menjadi 99 persen setelah Bu Kansha memimpin. Ada buktinya, mari ikuti saya.” Kata Seli.


Seli membawa Alan menuju gedung lain setelah melewati taman dan mushala. Mereka tiba di gedung dua lantai. Lantai pertama merupakan kantin mewah nan luas. Alan berdecak kagum.


“Awalnya ARC tidak memiliki kantin sendiri, namun Bu Kansha membangunnya begitu dia mulai memimpin. Kantin ini akan selalu menyajikan minuman dan camilan serta sarapan setiap paginya. Tapi untuk makan siang,biasanya kami semua makan bersama.”


“Makan bersama? Seluruh pegawai?”


Seli mengangguk, “Termasuk para petinggi kantor tak terkecuali Bu Kansha.”


“Kamu pasti terkejut. Tapi itu memang sungguhan. Biasanya dulu kami makan sendiri-sendiri atau membeli dari luar. Tapi kalau menjelang siang dan pekerjaan kami masih menumpuk, kami terbiasa makan seadanya bahkan tidak makan sama sekali. Bu Kansha menyadarinya dan banyak pegawai yang jatuh sakit. Oleh sebab itu beliau membangun kantin ini. pokoknya ketika jam menunjukkan pukul dua belas siang, semua kegiatan pekerjaan ditunda dulu dan kami makan bersama. Bu Kansha juga sangat berbaur, intinya tidak berbeda jauh dari dulu hingga kini dia menjabat.”


“Saya akan membawa kamu ke ruang yang jauh lebih menakjubkan lagi.” Ajak Seli.


Alan dan Seli menaiki tangga dan mereka sampai di lantai dua. mata Alan langsung membelalak ketika melihat pemandangan apa yang tersaji di lantai dua itu.


Sofa-sofa berwarna-warni berjajar estetik dengan karpet bulu tebal yang halus. Penerangan dengan warna hangat menenangkan mata Alan. Belum lagi, komputer game juga berjajar rapi di samping lemari minuman. Snack-snack berbagai ukuran dan merek juga terjajar rapi di rak. Dan banyak para pegawai yang tengah bersantai.


“Ini apa?” tanya Alan tak percaya.


“Ini ruang bersantai. Seorang jurnalis harus selalu siaga dua puluh empat jam, agar berita yang didapat selalu up top date dan segar. Terkadang kami harus liputan hingga larut malam, dan siangnya kami pasti akan kelelahan. Itu sebabnya Bu Kansha membangun ruangan ini. Selain untuk tidur siang, kami juga bisa bersantai dan bermain untuk merelakskan otak. Dan ruangan yang tertutup itu.” Lalu Seli menunjuk sebuah ruangan yang tertutup gorden tebal.


“Itu ruangan khusus untuk tidur siang. Agar tidurnya nyenyak maka ruangan itu kedap suara. Di dalamnya juga ada kamar mandi agar bisa langsung segar. Dan di samping ruangan tidur, ada ruangan khusus merokok. Selain di ruangan itu, tidak ada area yang diizinkan untuk merokok.”


Alan masih terdiam takjub. Kansha, dia benar-benar jenius. Empatinya pada kesejahteraan pegawainya sungguh tinggi. Dia membangun ARC bukan hanya sebagai tempat menghasilkan uang saja akan tetapi juga sebagai rumah kedua. Dia memikirkan dengan matang terkait produktivitas para pegawai.


Seli menoleh pada Alan. “Saya sudah mengenalkan seluk beluk ARC. Kata Bu Kansha, Anda tunggu saja disini, Bu Kansha akan datang sebentar lagi.” Kata Seli.


Alan mengangguk, “Terima kasih sudah menemani saya berkeliling.” Ucap Alan tersenyum sopan.


Seli mengangguk sopan kemudian pamit meninggalkan Alan.


Alan yang ditinggal sendiri, jadi bingung apa yang harus dia lakukan. Hingga dia menghampiri salah satu kursi disudut dan duduk disana. Alan menunggu hingga lima belas menit, namun Kansha belum juga muncul. Alan kemudian menguap dan mulai mengantuk. Cahaya hangat dari lampu membuainya ke dunia mimpi.


***


Kansha sampai di ruang bersantai setelah meeting hingga satu jam lamanya. Dia merasa bersalah pada Alan yang menunggunya selama itu. Alan pasti bosan sekali. Kansha mengedar kesekeliling, mencari keberadaan lelaki itu. Hingga matana terpaut pada seseorang yang tidur dengan menumpukan kepalanya di meja.


Sudut bibir Kansha terangkat kemudian menghampiri Alan yang masih tertidur pulas. Keajaiban ruangan ini juga ternyata menular pada Alan.


Kansha ikut merebahkan kepalanya di meja dengan melipat tangannya sebagai alas, persis yang dilakukan Alan. Wajahnya saling berhadapan dengan Alan. Kansha menatap wajah Alan dengan saksama. Rupa Alan yang tengah tertidur pulas adalah rupa paling polos yang pernah dia lihat. Ingin Kansha melihat wajah ini di sepanjang tarikan nafasnya. Namun, fakta bahwa Alan akan menikahi calon istrinya membuat Kansha tak berani bermimpi lebih jauh lagi.


Dan andai waktu berhenti, izinkan Kansha memiliki Alan sebentar. Larut dalam fikirannya, tanpa sadar perlahan mata Kansha ikut memejam.

__ADS_1


__ADS_2