
Alan, Alfin begitupun bunda terdiam usai Aisyah memberitahukan bahwa ada para wartawan di lobi mencari Alan dan Kansha. Kemudian bunda menoleh pada Alan yang memasang raut bingung.
“Bagaimana Lan? Kamu mau diwawancarai?” tanya bunda meminta pendapat.
Alan terdiam berfikir, sejujurnya dia tak ingin. “Aku rasa ini bukan waktu yang tepat.” Jawab Alan.
Bunda mengangguk menyetujui, “Kalau begitu biar Alfin kamu temui para wartawan itu dan bilang bahwa masmu tak ingin diwawancarai, minta pengertian mereka.” Kata bunda.
Alfin mengangguk, “Kalau gitu aku pergi.” Pamitnya.
Alfin berjalan cepat menuju lobi. Begitu tiba, tampak sekelompok para wartawan mengobrol riuh dan dijaga ketat oleh pihak keamanan dari rumah sakit dan selusin para penjaga berjas hitam.
Alfin maju ke hadapan para hiena yang haus berita itu dan langsung diserbu. Beruntung, para penjaga yang seperti bodyguard itu langsung membuat parameter manusia uantuk melindungi Alfin. Alfin lalu berbicara di depan kilatan lampu kamera.
“Saya selaku perwakilan dari korban selamat jatuh pesawat Key Asia meminta pengertiannya bahwa korban tak ingin diwawancarai begitu mengingat ini masih dalam tahap pemulihan. Dan saya harap, teman-teman pers bisa bekerja sama untuk tidak mengganggu kenyaman para pasien di rumah sakit. Sekian dan terimakasih.”
Begitu Alfin selesai berbicara, lelaki berjas putih khas dokter itu langsung berjalan cepat kembali ke dalam. Para wartawan terus memanggil-manggilnya agar berhenti dan memberikan keterangan tambahan. Bahkan banyak para wartawan yang ingin menerobos masuk namun berhasil dihalangi.
Alfin kembali ke kamar inap kakaknya dengan selamat. Dokter berusia 23 tahun itu menghembuskan nafas lega. Tadi itu merupakan pengalaman pertamanya berbicara di hadapan kamera sebegitu banyaknya. Dia yakin wajahnya juga akan tampil di TV. Jadi haruskah dirinya menyiapkan tanda tangan? Takut-takut ada yang ngefans dengannya. Alfin terkekeh geli dengan fikiran konyolnya itu.
“Bagaimana Fin? Sudah?” tanya bunda.
Alfin mengangguk sebagai isyarat kemudian duduk di samping bunda. “Tadi itu para wartawan banyak sekali hingga banyak pihak keamanan ikut turun tangan lalu ada pria berjas hitam seperti bodyguard juga ikut menghalangi. Sepertinya itu suruhan orang tua Kansha.” Cerita Alfin.
“Syukurlah. Setidaknya saat ini kita fokus pada pemulihan Alan. Jangan hiraukan terlebih dahulu para wartawan itu.” Ujar Bunda bijak.
***
__ADS_1
“Para wartawan diluar tadi banyak sekali. Untung orang tuamu cepat tanggap dan menyuruh para bodyguard untuk menjaga. Kalau tidak, mereka pasti akan menerobos masuk.” Kata Bu Sari lega.
Kansha menghela nafas. Dia juga seorang reporter sebenarnya, tentu tahu bagaimana perasaan sebagai sesama rekan pers. Tentunya mereka harus mendapatkan berita bagaimanapun caranya. Kansha sama seperti mereka, terkadang malah menunggu hingga berjam-jam untuk mendapatkan sebuah berita. Dia bahkan pernah menginap semalaman penuh di depan rumah target beritanya. Sedikit radikal memang, tapi mau bagaimana lagi, kebersambungan hidupnya ditaruhkan pada dapatnya berita atau tidak.
“Kansha, ibu harus pergi nanti karena ada urusan. Nanti mama dan papa kamu akan datang menggantikannya.” Ujar Bu Sari tiba-tiba.
Kansha membeku, sial, dirinya belum siap menghapi kedua orang tuanya terutama sang mama. Dia takut kehilangan kendali.
“Bu, apa gak bisa ibu saja disini? Kansha belum siap bertemu mereka.” Ucap Kansha memohon.
Bu Sari mengelus rambut Kansha dengan lembut. “Kansha, mau bagaimanapun mereka tetap orang tua Kansha. Orang tua yang sudah membesarkan Kansha dan merawat Kansha. Kesalahan di masa lalu tak perlu diungkit kembali. Orang tua Kansha juga sudah menyadari kesalahannya dan mereka ingin memperbaikinya. Dan apakah Kansha tak rindu mereka? Kansha sudah jauh dari mereka selama sepuluh tahun ini.” ujar Bu Sari memberi pengertian.
Bu Sari tahu, Kansha masih bimbang dan takut. Kejadian kelam 13 tahun lalu tak mudah untuk dilupakan. Karena kejadian itu juga keluarga yang awalnya penuh cinta jadi terpecah belah dan saling membenci. Kansha harus melewati proses ini cepat atau lambat agar dua pihak itu bisa kembali menjadi keluarga.
“Tapi bu..”Kansha masih ragu.
“Kansha, tatap ibu dan dengarkan.” Ujar Bu Sari menatap mata Kansha dan mau tak mau Kansha juga ikut menatap mata Bu Sari. “Sebuah keluarga akan tetap jadi keluarga meskipun keluarga tersebut pernah bertengkar hingga saling menjauh. Meskipun kamu bukan putri kandung mereka tapi kamu tetap putri mereka. Mereka merindukan kamu dan ingin memperbaiki hubungan denganmu.” Tutur Bu Sari lembut.
Ceklek
Bersamaan itu, Grace dan Andrian sampai di kamar inap Kansha.
“Mereka sudah datang. Kalau begitu ibu pulang duluan ya. Nanti ibu kesini malam ini.” pamit Bu Sari memeluk sebentar anak asuhnya itu. Setelah itu meninggalkan ruangan setelah bertukar senyum dengan Grace dan Andrian.
Grace dan Andrian berjalan pelan menghampiri Kansha yang masih duduk di ranjang dan melihat ke arah lain. Grace tahu bahwa Kansha masih marah dan mungkin membencinya.
“Kansha, Nak.” Panggil Grace pelan. Kansha menutup matanya erat begitu suara halus sang mama mengalun memanggil namanya. Sudah lama sekali rasanya namanya dipanggil dengan lembut oleh mamanya.
__ADS_1
Grace memegang bahu Kansha. Kansha terkesiap lalu menoleh pada wanita yang sudah merawat dan menyayanginya kala kecil itu. Grace menatapnya dengan penuh kasih sayang. Di sampingnya ada Andrian. Lelaki yang namanya ia sebut pertama kali ketika bisa berbicara. Rasanya dua wajah itu makin menua dan mengurus. Banyak beban menggelayut di raut pasangan Williams itu namun Kansha juga melihat ada banyak warna kebahagiaan yang turut serta.
“Bagaimana kabar kamu?” tanya Grace lembut.
“Sudah lebih baik.” Jawab Kansha pelan.
“Syukurlah, kalau kamu merasa sakit atau apapun itu jangan ragu untuk bilang ya. Kesehatanmu jauh lebih penting saat ini.” kata Grace. Kansha mengangguk.
“Kansha, ada yang mau kami sampaikan padamu soal—“ omongan Grace terpotong begitu Kansha menghentikan ucapannya.
“Jangan bicara soal hal itu dulu. aku takut akan kehilangan kendali lagi.” Kata Kansha sedikit memohon.
Grace mengangguk. Ia memakluminya, sama dengan Kansha, Grace pun masih belum sanggup membahas hal itu dengan leluasa. “Mama mengerti. Kejadian itu sudah lalu dan sekarang saatnya kita menatap masa depan. Mama ingin berjalan menyongsong hari esok dengan kamu juga.” Kata Grace berharap.
“Aku sudah bersalah dan merenggut kebahagiaan kalian. Bagaimana mungkin aku bisa berjalan beriringan lagi dengan kalian?” tanya Kansha pilu. Dia sebisa mungkin menahan laju air matanya.
Grace memeluk Kansha. Kansha terdiam terkejut ketika mamanya tiba-tiba memeluknya. “Mama dan papa sudah merelakan apa yang terjadi. Itu juga bukan kesalahan kamu. Kami justru yang minta maaf sudah membuat kamu merasakan kerasnya hidup di usia belia. Kami sebagai orang tua merasa sangat tidak bertanggung jawab.” Ujar Grace dengan nada bersalah.
“Kansha sudah maafkan. Lagian itu juga akibat perbuatanku sendiri. Kalian tidak salah. Aku yang minta maaf.” Kata Kansha mulai terisak.
Grace makin memeluk erat Kansha, air matanya mulai turun dengan deras. Andrian yang sedari tadi berdiri diam juga tak kuasa menahan keharuan. Keluarga kecilnya sudah mulai kembali utuh.
“Papa.” Panggil Kansha tiba-tiba. Dia menoleh pada Andrian. Lelaki dingin yang didalamnya penuh kehangatan.
“Maafkan papa.” Ujar Andrian menangis. Dia ikut memeluk Kansha dan Grace. Andrian menangis terisak begitu Kansha memanggilnya Papa. Sudah lama sekali ia tidak dipanggil dengan sebutan itu. Betapa Andrian merindukannya.
“Kita bangun dari awal ya. Kita buka lembaran baru. Bersama sebagai sebuah keluarga yang tidak akan hancur lagi.” Kata Andrian tergugu. Kansha dan Grace mengangguk dengan masih terisak.
__ADS_1
Hari ini, sebuah keluarga yang retak kini mulai menyatu kembali. Meski sama-sama terluka oleh waktu, namun mereka berharap bahwa waktu juga akan menyembuhkan luka mereka. Seiring bersatunya mereka sebagai keluarga.
Di luar, Bu Sari yang menyaksikan keluarga kecil itu ikut tersenyum haru. Tuhan tak salah menakdirkan Kansha hidup sebagai putri Williams. Karena Tuhan tahu bahwa Kansha akan hidup bahagia.