
Hari demi hari terus terlewati, sudah tiga minggu dan kesehatan Alan dan Kansha mulai membaik. Alan dan Kansha bahkan tak perlu memakai kruk maupun kursi roda. Luka mereka berangsur pulih. Hingga ini adalah hari terakhir Kansha di rumah sakit. Dan sudah tiga hari ini, dia belum bertatap muka dengan Alan.
“Kansha, nanti kamu masih perlu istirahat di rumah beberapa hari baru kamu boleh bekerja lagi.” Kata Grace. Dia sibuk membereskan pakaian Kansha dan mengemasnya ke dalam koper saking banyaknya.
“Bosan, mam. Aku sudah istirahat disini berminggu-minggu masa perlu istirahat lagi?” protes Kansha. Dia juga sudah merasa baikan bahkan dirinya bisa berlarian tanpa merasa lemas.
“Ini semua demi kebaikan kamu, jangan membantah.” Ucap Grace tegas. Kansha merenggut.
“Ayo Kansha kita pulang.” Celetuk Andrian begitu tiba di kamar inap Kansha seusai mengurus perizinan pulang.
“Ada yang lupa atau ketinggalan?” tanya Bu Sari. Kansha terdiam lalu menggeleng.
Andrian lalu mengambil koper Kansha. Sedangkan Grace dan Bu Sari menuntun Kansha. Nana berjalan di belakang mereka.
Kansha mendesah sembari langkahnya yang makin menjauh dari kamar inapnya. Dia tak tertinggal dan tak lupa apapun. Begitu dia keluar dari rumah sakit, maka kehidupannya yang baru akan dimulai.
***
“Mas Alan, kata dokter mas sudah bisa pulang.” Beritahu Aisyah.
Alan bersorak senang, lega rasanya dia sudah tak perlu tiduran di ranjangnya ini yang sudah dia tempati tiga minggu ini. dia akhirnya bisa kembali ke rumah, ke ranjang kesukaannya yang sudah satu bulan lebih kosong.
Tapi tunggu, kalau dirinya sudah boleh pulang, maka begitupun dengan Kansha. Tapi sudah tiga hari ini dia tak tahu bagaimana kabar Kansha.
“Alfin, kalau begitu Kansha juga sudah bisa pulang?” tanya Alan.
“Seharusnya begitu.” Jawab Alfin mengangguk.
“Kalau begitu mas ke kamar inapnya dulu.” kata Alan.
Alan dan Alfin menuju kamar inap Kansha. Namun bukannya di dalam ada Kansha yang masih memakai pakaian rumah sakit, apa yang ditemui Alan sungguh mengejutkan. Tak ada Kansha, kamarnya bersih dan kosong. Apa Kansha sudah meninggalkan rumah sakit dan tak memberitahunya?
“Dimana Kansha?” tanya Alfin kebingungan.
__ADS_1
Alan terdiam dengan bahu melemas. Kansha pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya.
“Sepertinya dia sudah pergi.” Balas Alan.
“Tapi dia belum berpamitan dengan Mas kan? Kenapa dia pergi begitu saja?” tanya Alfin kebingungan.
Alan mendesah dan menatap kosong ke depan, “Dia sepertinya tak mau kembali bertemu.” Ujar Alan.
***
Grace menuntun Kansha menuju kamarnya. Kamar bernuansa laut yang sudah tak ia tinggali 10 tahun ini. kansha melihat ke sekeliling, nuansanya masih sama. Penuh dengan kenangan masa kecilnya.
“Mama sengaja nyuruh Bi Ningsih buat bersihkan kamar kamu. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama.” Kata Grace.
Kansha mengangguk sebagai jawaban. Dia masih menatap ke sekeliling kamarnya, lalu matanya terpaut pada kotak biru langit di atas meja belajarnya. Grace mengikuti arah pandangan Kansha dan mengerti arti tatapan Kansha.
“Kotak itu isinya semua surat-surat kamu yang pernah kamu kirimkan pada kami. Bi Ningsih menyimpannya dengan baik lalu mama menaruhnya di kotak itu.” Ujar Grace menjawab tatapan Kansha.
“Mama tahu soal surat-surat itu?” tanya Kansha terkejut.
“Maafkan mama yang pernah menyuruh Bi Ningsih membuang surat-surat kamu ya. Dan coba kalau Bi Ningsih menuruti perintah mama, mama tidak mungkin tahu isi hati kamu selama pergi.” Lanjut Grace dengan nada bersalah.
Setiap hari saat hilangnya Kansha, Grace memang kerap berdiam diri di kamar putrinya ini. Membaca lembaran demi lembaran surat yang pernah dikirimkan Kansha. Dan dirinya merasa amat bodoh dan menyesal kerena membiarkan anak bungsunya itu luntang-lantung di jalan.
“Tapi kenapa surat kamu hanya sampai lulus perguruan tinggi?” tanya Grace.
“Oh, soal itu. Aku menulis surat untuk Kak Kania dan selalu kuhanyutkan ke laut.” Kata Kansha.
“Kapan?”
“Aku menulis surat itu setiap tanggal penting, ulang tahunnya, ulang tahunku, ulang tahun mama dan papa, tanggal pernikahan kalian dan tanggal kejadian itu.” Kata Kansha dengan nada sangat pelan di akhir kalimatnya.
“Apa yang kamu tuliskan dan kenapa?”
__ADS_1
“Aku hanya ingin Kak Kania tahu bahwa setiap saat, setiap waktu yang kuhabiskan, aku selalu teringat padanya. Bahwa aku menunggunya sampai kapanpun dan bahwa aku tak pernah melupakannya serta merasa bersalah. Aku harap laut mampu mengantarkan suratku padanya. Memberitahukannya bahwa, aku menyayanginya lebih dari apapun.” Ujar Kansha.
Grace tersenyum lembut, dirinya makin merasa bersalah. Dia tak seharusnya menutup mata akan kebenaran itu. Grace lalu memeluk Kansha dan dibalas dengan erat dengan Kansha.
“Kita do’akan yang terbaik untuk kakak kamu. Dan mama yakin, dia juga akan bahagia melihat kita bahagia.” Kata Grace tersenyum lembut.
***
Alan terdiam di kasurnya. Fakta bahwa kansha pergi begitu saja dan tak berpamitan padanya membuatnya merasa kecewa. Mereka sudah mengalami suka duka dan hidup bersama di berbagai kesulitan selama di pulau. Sudah seharusnya Kansha meninggalkan sedikit informasi tentangnya agar mereka tetap berhubungan dan berkomunikasi. Tapi Kansha hanya meninggalkan cerita soal masa lalunya. Dirinya sepertinya benar-benar hanya dianggap tong sampah.
Aisyah mengetuk pintu kamar Alan. Alan menoleh pada Aisyah dan mempersilakannya masuk.
“Mas Alan, kata bunda diminum dulu obatnya.” Ujar Aisyah. Dia lalu menyodorkan nampan berisi air putih dan obat-obatan. Alan menerimanya dan langsung meneguknya.
Setelah selesai, Aisyah menaruh nampan itu di nakas dan berbicara dengan nada lembut, khasnya. “Mas Alan, ada yang mau Aisyah bicarakan dengan Mas.” Ujarnya sopan.
Alan mengangguk, “Silakan Aisyah apa yang mau kamu bicarakan?”
Aisyah menunduk ragu, dia memilin ujung kerudungnya. Tak tahu harus mulai berbicara darimana.
Alan yang hanya melihat Aisyah terdiam seketika menegurnya, “Aisyah?”
“Ah iya Mas?” sahut Aisyah.
“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Alan kembali.
“Hmm, sebelumnya maaf bila Aisyah lancang. Tapi ini soal pernikahan kita.” Kata Aisyah. Mendengar kata pernikahan, seketika Alan terdiam. Alan menunggu-nunggu apa yang disampaikan Aisyah mengenai rencana pernikahan mereka.
“Rencana pernikahan kita mau kapan mas?” tanya Aisyah. Alan terdiam dahulu sebelum menjawab. Memikirkan jawaban apa yang harus disampaikannya. Jujur saja, Alan lupa soal itu dan belum dia fikirkan kembali.
Melihat Alan yang terdiam, cepat-cepat Aisyah menyela, “Mas bukan maksudnya Aisyah tidak sabar dan tidak mengerti kondisi mas yang baru pulih. Tapi abi yang menanyakannya agar ada kepastian.”
“Aku tahu soal itu, Aisyah. Tapi jujur, mas belum memikirkannya lagi, mengingat banyak kejadian yang terjadi belakangan ini, mas rasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.” Jawab Alan hati-hati.
__ADS_1
“Aisyah mengerti mas. Aisyah akan menjelaskannya pada abi.” Tukas Aisyah.
“Terima kasih Aisyah kamu mau mengerti.” Ujar Alan tersenyum.