
“Jaga dirimu, Na.” Kata Kansha memeluk Nana.
Nana balas memeluk Kansha. Kansha dan Alvaro tengah mengantar kepergian Nana menuju Kalimantan. Dan selepas mengantar Nana, mereka akan menuju pengadilan, tempat pembacaan keputusan sidang hak tanah panti.
“Aku akan menghubungi begitu sampai. Doakan saja agar sinyalnya tidak terlalu buruk.” Ujar Nana setengah becanda.
Kansha tersenyum kecil, “Tower provider mu sudah menyebar ke seluruh pelosok. Jadi jangan ada alasan sinyalmu jelek. Aku akan menghubungi beberapa kali dalam seminggu nanti.”
“Aku hanya akan pergi selama sebulan. Jangan dibuat berlebihan dong.” Protes Nana.
“Baiklah.” Angguk Kansha. “Hati-hati ya. Safe flight.” Ucap Kansha sekali lagi memeluk sahabatnya itu.
Kemudian seorang laki-laki berjaket bomber menghampiri mereka. Itu Alfin yang nampak keren dengan kacamata hitamnya.
“Si bos sudah datang.” Kata Nana sedikit menyindir.
“Hidupmu disana tergantung aku. Jadi jangan macam-macam.” Peringat Alfin dengan mata melotot.
“Hello! Memang nya kamu siapa hingga aku harus bergantung padamu?” cibir Nana.
“Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Ayo pergi, keberangkatannya tinggal sepuluh menit lagi.” Ajak Alfin.
“Hei, bung. Jaga sahabatku ya. Dan sabar-sabar dengan sifatnya yang cerewet. Kamu pasti lebih tahu dariku. Kalian teman SMA.” Kata Nana menoleh pada ALvaro.
“Sebenarnya, kami tidak sedekat itu saat SMA. Jadi aku masih perlu waktu untuk mencari tahu sifat-sifat Kansha.” tukas Alvaro melirik Kansha.
“Kuyakin kamu bakal punya lebih banyak waktu melakukannya. Jangan dibuat beban.” Hibur Nana melirik Kansha. Dan Kansha hanya balas menukar pandangan bingung.
Alfin yang melihatnya merasa jengah. Astaga, ini Nana berencana menjadi mak comblang apa gimana. Jelas-jelas dia pendukung Kansha Alan forever. Masa malah belok dengan Alvaro. Kisah ini tak akan seru lagi dong. Dan untuk mengatasi hal ini, cepat-cepat Alfin menyela.
“Nah, sudah waktunya berangkat. Ayo.” Ajak Alfin menarik tas ransel yang digendong Nana.
Nana tergerak mundur. Dia menyeru protes pada Alfin yang tak ada lembut-lembutnya.
“Kamu benar-benar kasar! Bagaimana bisa punya kekasih kalau sifatmu bahkan radikal seperti ini?” seru Nana kesal. Dia berkacak pinggang pada Alfin yang hanya berdiri dengan jengah. Kansha dan Alvaro yang melihatnya hanya menahan geli.
“Makanya dipercepat dong. Dan lagi, aku selalu berlaku lembut pada wanita contohnya Kansha. tapi kalau kamu sih..” Dia menatap Nana dari bawah ke atas. Melihat dandanan Nana yang hanya memakai jeans dan jaket. Kemudian menatap Kansha yang memakai dress anggun berwana peach. Alfin lalu menatap Nana kembali, dan dengan raut menyesal, dia berkata, “Aku tak yakin kamu perempuan.”
Nana melotot marah. Dia memukul pundak Alfin berkali-kali bahkan menendang Alfin. Kansha yang melihatnya berusaha melerai.
“Oke, jangan berantem lagi. Kalian akan berangkat sebentar lagi dan ini bukan waktu yang tepat untuk perang otot. So, kalian harus bergegas.” Kata Kansha.
Nana melepaskan pitingannya pada Alfin dan menatap Alfin dengan sengit. Dia kemudian menatap Kansha dan mengucap selamat tinggal.
“Aku pergi, Kansha. Sampai jumpa Alvaro.” Pamit Nana kemudian lagsung berbalik pergi setelah menginjak kaki Alfin.
“Aw! Dia memang sangat kasar. Bagaimana bisa aku berakhir dengannya selama sebulan nanti? Aku tidak akan sanggup.” Kata Alfin sedih.
Kansha menepuk bahu Alfin membuat Alfin menoleh padanya. “Jaga dia ya. Kabari kalau ada apa-apa. Dan oh ya, mungkin Nana pernah memberitahumu bahwa dia alergi wortel.” Pesan Kansha.
“Dia tidak pernah memberitahuku. Tapi aku akan mengingatnya. Aku tidak sanggup bertanggung jawab kalau dia kenapa-kenapa.” Timpal Alfin.
Kansha mengangguk dengan tersenyum. “Aku mengandalkanmu.” Katanya sekali lagi menepuk pundak Alfin.
Alfin mengangguk. Tapi sebelum pergi, dia mendekat pada Kansha dan membisikan sesuatu.
“Kansha, apapun yang kamu lihat belum tentu benar kenyataannya. Jadi tanyakan untuk lebih jelasnya. Jangan berasumsi sendiri.” Bisik Alfin.
Kansha mengernyit bingung. Dia menatap Alfin. Namun Alfin hanya mengendikan bahu. Dia pun melambaikan tangannya.
“Aku pergi. Sampai jumpa.” Pamit Alfin kemudian berbalik pergi meninggalkan Kansha dan Alvaro.
Alvaro menoleh pada Kansha. “Ayo pergi, Kansha.” ajak Alvaro.
Kansha mengecek arloji ditangannya dan mengangguk. Dia balas menatap Alvaro.
“Ayo menangkan pertarungan ini.” ucap Kansha dengan sorot penuh keyakinan.
***
Alvaro dan Kansha sudah sampai di gedung pengadilan. Mereka pun melangkah menuju pintu masuk. Namun langkah Kansha terhenti ketika melihat sebuah siluet tak asing yang duduk di depan gedung utama. Dia adalah Alan.
“Alan? kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Kansha bingung ketika dia sudah sampai di hadapan Alan.
“Aku mendengar kalau sidang akan dilaksanakan hari ini makanya aku kesini.” Jawab Alan tersenyum.
Kansha menahan kedutan senyumannya. Senyumnya hampir mengembang tatkala orang yang ia rindukan ada disini.
“Lalu kamu datang karena...”
“Aku ingin memberikan dukungan. Tidak mudah bagi orang lain untuk duduk di depan persidangan. Jadi aku ingin sedikit menenangkan mereka. Lebih banyak yang mendukung lebih baik bukan.” Kata Alan tersenyum lebar.
Kansha mengangguk kuat. “Terima kasih.” Kata Kansha tersenyum.
“Sama-sama. Kansha yakinlah bahwa Tuhan selalu tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Kita juga sudah berusaha dan hasilnya kita serahkan semuanya. Semuanya akan baik-baik saja.” Ujar Alan.
“Aku juga berharap demikian. Tapi aku juga khawatir. Kita kekurangan bukti.” Ujar Kansha menoleh pada Alvaro.
Alan terdiam. Dia lalu kembali melengkungkan senyumnya.
“Hidup itu penuh misteri, Kansha. Dan penuh keajaiban.” Ujar Alan tersenyum minsterius.
***
Sidang sudah dimulai. Alvaro sudah duduk ditempatnya begitupun Kansha, Alan dan rombongan panti. Pihak lawan juga sudah duduk rapi. Meski hanya diwakili oleh tim kuasa hukumnya dan sekretaris Pak Geovano saja.
Kansha duduk dengan cemas bersama Bu Marni. Dari panti perwakilannya hanya Bu Marni, Bu Laras dan Sinta, anak perempuan di panti yang tertua. Sedangkan yang lain hanya menunggu di panti. Karena bagaimanapun persidangan tidak baik dirasakan bagi anak kecil yang masih polos.
__ADS_1
Persidangan terus berjalan. Perdebatan demi perdebatan terus terjadi baik dari pihak panti yang diwakili Alvaro maupun dari lawan. Bukti dari masing-masing pihak juga terus diperlihatkan. Hingga saatnya pihak Alvaro melakukan argumen terakhir untuk memenangkan persidangan.
“Pengklaiman hak tanah Panti Asuhan yang dilakukan oleh pihak terlapor adalah kekeliruan. Pasalnya, tanah seluas hampir satu hektar itu merupakan tanah dengan sertifikat yang jelas beratas nama Panti Asuhan Pelangi. Jadi pihak terlapor tidak berhak mengklaim begitu saja yang merupakan harta milik orang lain.” Kata Alvaro.
“Sertifikat yang jelas? Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa sertifikat atau akta itu tidak legal. Tidak ada penguatan hukum sama sekali. Kalian bahkan harus dituntut karena telah memalsukan sertifikat kepemilikan.” Sanggah pihak lawan.
“Ini yang akan saya katakan, yang mulia. Bahwa alasan kenapa sertifikat itu kosong karena hasil dari perbuatan licik dan melanggar hukum yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.” Jelas Alvaro mengundang keterkejutan dari semua yang hadir terutama Bu Marni.
“Kami mencurigai ada yang aneh pada sertifikat milik klien kami dan menyadari bahwa sertifikat itu telah dipalsukan.” Lanjut Alvaro tegas. Semua orang makin terkejut.
“Berdasarkan argumen itu, kami mencoba menelusurinya dan mendapat bukti yang amat mengejutkan.” Ucap Alvaro. Dia lalu mengeluarkan sebuah map coklat dan menyerahkannya pada hakim.
“Ini adalah bukti bagaimana sertifikat tanah itu telah dipalsukan. Motifnya jelas, tak lain adalah penipuan.” Kata Alvaro menatap pengacara pihak lawan yang beraut pucat.
Hakim lalu membuka map itu dan membaca selembar kertas yang merupakan bukti percakapan antara sekretaris pejabat itu dan seseorang yang diduga kenalannya dimana isinya adalah sekretaris itu menjual tanah itu untuk kepentingan pribadi dan menjualnya pada Bu Marni namun karena tak ingin ketahuan oleh bosnya, dia pun membuat sertifikat palsu.
“Bukan hanya itu, kami juga berhasil melacak oknum agen penjual tanah pada klien kami itu dan menemukan bukti transfer sejumlah uang yang diduga merupakan imbalan dari sekretaris itu pada agen abal-abal itu.”
Wajah Arman, sekretaris itu mendadak pias. Kedoknya telah terbongkar. Si pengacara menatap penuh pertanyaan pada sekretaris.
“Tapi tetap saja bukti itu tidak bisa dijadikan bukti kuat mengenai hak kepemilikan tanah ini. Bagaimanapun klien kami tidak pernah menjual tanah ini dan lagi kalaupun ingin dilaporkan maka buat laporan penipuan. Tapi yang jelas, tanah itu tetap milik kami.” Tukas pengacara lawan.
Alvaro tersenyum. Membuat pengacara itu bingung. Kemudian Alvaro menatap meja hakim.
“Di dalam map itu juga ada sertifikat tanah yang legal dan resmi serta bukti transaksi bertanda tangan Pak Geovano, sebagai pihak penjual.” Kata Alvaro dengan menatap pengacara lawan di akhir kalimatnya.
Hakim pun mengambil sertifikat itu dan menganggukkan kepala.
“Notaris itu ternyata betulan seorang notaris hanya saja dia tidak tahu bahwa pekerjaannya telah diplagiat. Sebenarnya, sertifikat palsu yang berada di tangan klien kami adalah sertifikat buatan oknum ketiga. Notaris itu asli membuatkan sertifikat hanya saja sertifikat itu ditukar oleh sang sekretaris. Bukti transaksi juga sudah kami dapatkan dimana sang sekretaris menempelkan tanda tangan atasannya sendiri karena nama Pak Geovano lah yang terdaftar sebagai pemilik tanah.”
“Anda pembohong! Bagaimana bisa seorang pengacara berbohong seperti itu!” seru pengacara lawan. Dia mulai kewalahan.
“Benar atau tidaknya itu semua keputusan hakim. Yang jelas, bukti yang saya dapatkan merupakan legal dan tak pernah diada-ada.” tukas Alvaro tenang.
Kemudian hakim mengambil alih pembicaraan. Dia siap membacakan keputusan. Semua orang terdiam dengan jantung berdegup. Alvaro juga sudah berusaha semampunya. Dia hanya berharap bahwa hasilnya akan sesuai dengan perjuangannya selama ini. Semua orang harap-harap cemas. Kansha memegang tangan Bu Marni dengan erat, saling memberi kekuatan.
“Berdasarkan bukti dari pihak tergugat, maka kasus perebuatan hak tanah jatuh pada pihak tergugat.bila pihak lain merasa keberatan silakan mengajukan banding dan akan kami selenggarakan sidang di waktu lain.” Putus hakim.
Kansha dan rombongan panti bersorak bahagia. Kansha memeluk Alan tanpa sadar. Alan membeku. Kansha yang kini berganti mematung. Dia tidak sadar bahwa tadi memeluk Alan. Kansha pun melepaskan pelukannya dan menatap Alan canggung.
“Maaf, aku tidak sengaja.” Ucap Kansha canggung.
“Tidak apa-apa.” Balas Alan ikut merasa gugup.
Kansha lalu mengalihkan pandangannya pada Alvaro. Dia tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya pada Alvaro. Alvaro membalasnya dengan senyuman tak kalah mempesona.
***
“Terima kasih, nak Alvaro, nak Kansha. sudah membantu ibu dan panti. Ibu amat bahagian sekali.” Ucap Bu Marni terharu,
“Sama-sama bu. Sesama manusia harus saling membantu. Saya juga berterima kasih pada ibu karena mau mempercayakan kasus ini pada saya.” Jawab Alvaro.’
Alvaro mengangguk.
“Ibu harus segera ke panti. Lain kali datanglah ke panti ya, ibu ingin membalas budi kalian.”
“Baik bu. Nanti kapan-kapan kami main kesana.” Kata Kansha.
“Oh ya bu. Ini sertifikat yang asli. Ibu simpan dengan baik ya bu,” kata Alvaro menyerahkan sebuah map merah.
“Terima kasih ya. Ibu benar-benar sangat bodoh karena mau-maunya ditipu oleh agen abal-abal.” Kata Bu Marni kecewa.
“Ibu tidak bodoh. Agen itu adalah suruhan sekretaris Pak Geovano. Untungnya notaris yang dipakai tetap berbadan hukum dan legal. Jadi kita masih bisa memperjuangkannya.” Kata Alvaro.
Bu Marni tersenyum bahagia. “Ibu sangat lega sekali. Sekali lagi terima kasih ya.” Ucap Bu Marni. Kansha dan Alvaro mengangguk sembari tersenyum.
“Kalau begitu ibu duluan ya. Jangan lupa mampir ke panti. Ibu akan menyiapkan makanan enak untuk kalian.” Kata Bu Marni.
“Siap bu.” Seru Kansha dengan senyum lebar.
Setelah kepergian Bu Marni, Kansha dan Alvaro menghampiri Alan yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya mengobrol dengan Bu Marni. Alan pun menyambut mereka.
“Kamu seharusnya duduk dulu. siang ini sngguh panas dan kamu kepanasan.” Kata Kansha.
“Aku laki-laki lagipula suhu di pulau jauh lebih terik dibanding ini.” timpal Alan.
“Selamat ya. Akhirnya kamu memenangkan kasus ini.” lanjut Alan menatap Kansha dengan bangga.
“Sebenarnya ini bukan karenaku juga. pahlawannya ada disini. Aku bahkan tidak tahu bahwa ada bukti baru yang sangat kuat.” Ucap Kansha melirik Alvaro.
“Sebenarnya, pahlawan disini bukanlah aku tapi..” Alvaro melirik Alan.
“Tanpanya, panti akan kehilangan tempat tinggalnya.”
Flashback On
“Kami sedang menangani kasus perebutan hak kepemilikan tanah. Apa Kansha tidak pernah memberitahumu?”
Alan terdiam. Entah kenapa dia merasa kalah. Jelas, bahwa lelaki didepannya ini tahu jelas bahwa Kansha tak memberitahunya.
“Aku tidak tahu. Dan sekarang aku ingin tahu, tentang apa kasus itu?”
“Dan apa alasannya hingga aku harus memberitahumu?” tanya Alvaro.
“Kamu pasti sedang mengalami kesulitan. Itu sebabnya kamu juga datang menemui Kansha untuk meminta saran mungkin?” tebak Alan.
“Darima kamu tahu?” ujar Alvaro tersentak. Dia memang datang menemui Kansha hendak meminta saran pada gadis itu karena kasusnya menemui jalan buntu tapi siapa sangka bahwa Kansha tidak ada ditempat.
__ADS_1
“Hanya menebak. Tapi sudah pasti dengan jelas itu alasannya.”
“Kamu benar.” Alvaro mengangguk. “Kasus kami menemui jalan buntu. Sejak awal kami memang kekurangan bukti sedangkan hari persidangan makin dekat. Aku tidak tahu harus melakukan apa jadi aku memutuskan datang menemui Kansha tapi dia tidak ada.”
“Kamu bilang kasusmu tentang perebutan tanah?” alvaro mengangguk.
“Coba jelaskan lebih rinci lagi.” Pinta Alan.
“Haruskah?”
“Kamu tahu tidak ada salahnya meminta pendapat atau bercerita pada orang lintas pekerjaan. Siapa tahu ide mereka lebih segar dibanding otak pengacara yang sudah buntu?” kata Alan. “Maksudku..tak ada salahnya meminta bantuan bukan.” Ralat Alan.
Alvaro menghela nafas, dia pun mulai bercerita dari awal hingga akhir. Sesudah itu, Alvaro mengamati raut Alan yang terdiam. Alvaro tersenyum kecil.
“Sudah kuduga bahwa kamu juga tidak akan terlalu membantu.” Kata Alvaro dengan nada skeptis.
Alan tak mendengarkannya. Dia asik berfikir. Tak berapa lama, dia menoleh pada Alvaro. “Aku ingin melihat sertifikat itu.”
“Untuk apa?”
“Lihat saja dulu. Kalau aku benar, akan kuberitahu.” Kata Alan. alvaro pun mengeluarkannya dari tasnya dan menyerahkannya pada Alan.
Alan mempelajarinya dengan serius. Dia tiba-tiba mengernyitkan dahi. Dia lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Kemudian raitnya tiba-tiba berubah.
“Apa yang kamu lakukan?”
Alan menunjukkan layar ponselnya, Alvaro ternganga terkejut.
“Ini penipuan.”
***
Alan dan Alvaro sampai di suatu tempat seperti kantor. Kemudian mereka berdua masuk dan meminta bertemu dengan pimpinan di kantor ini. Setelah sampai di ruangan pemimpinnya, Alan langsung menjelaskan maksudnya.
“Teman saya sedang menangani sebuah kasus tentang kepemilikan tanah. Pada sertifikat itu untuk notarisnya berasal dari kantor ini. lalu saya menyadari ada yang aneh dan mencari nama kantor anda di internet dan nama pimpinannya bukanlah anda. Namanya Tiffany bukan Rika.”
“Maksud Anda? Nama saya bukanlah Tiffany.” Kata Rika bingung.
“Tolong lihat sertifikat ini.” Alvaro menyerahkan sertifikat itu ketangan Rika. Rika pun terkejut.
“Saya memang notaris untuk penjualan tanah ini tapi mengapa nama saya diganti? Dan ini bukanlah tanda tangan saya.” Ujar Rika bingung.
Alan dan Alvaro saling berpandangan. Firasat Alan benar, ada yang tidak beres dengan sertifikat ini.
“Ini adalah sertifikat milik klien kami dan katanya sertifikat ini palsu. Tapi anda bilang anda menangani penjualan tanah pada klien kami?.”
Rika mengangguk. “Beberapa tahun yang lalu seseorang datang dan meminta saya menangani sertifikat penjualan tanah. Saya benar-bear mengeluarkan sertifikat yang asli bukan palsu. Tapi ini..”
“Siapa orang itu?”
“Sekretaris pak Geovano sendiri. Katanya Pak Geo tidak bisa datang makanya diwakilkan oleh sekretarisnya. Dia bahkan membawa scan tanda tangan pak Geo dan menyerahkan bukti bahwa dia sudah meminta izin darinya.”
“Lalu dimanakah sertifkat yang asli?”
“Masih ada di saya. Sekretaris pak Geo hanya memfoto itu sebentar lalu dikembalikan pada saya dan tidak pernah mengambilnya lagi makanya saya menyimpannya.”
“Boleh kami lihat?”
“Tentu. Sebentar.” Rika lalu pergi menuju sebuah rak besar dan matanya mulai mencari dengan memindai. Kemudian dia mengambil sebuah berkas dan kembali ke tempat duduknya. Dia lalu menyerahkannya pada Alvaro.
Alvaro membukanya dan membacanya. Matanya terbelalak kaget. Isinya sangat berbeda dengan sertikat milik Bu Marni. Ini sudah jelas penipuan.
“Klien kami membutuhkan sertikat yang asli. Jujur saja, kami akan menghadiri persidangan dalam waktu dekat. Bolehkah sertifikat dan kesaksian anda menjadi bukti kami?”
***
Selepas menyelesaikan urusan dengan Rika. Alan dan Alvaro kini berada di apartement Alan. Malam sudah cukup larut tapi kedua lelaki itu malah masih terjaga. Di meja berkas-berkas bersileweran. Alvaro tengah menyusunnya sedangkan Alan tengah memangku laptop.
“Sudah waktunya.” Kata Alan mengalihkan atensi Alvaro.
Alvaro meletakkan berkas yang sudah disusunnya itu dan mendekati Alan.
“Kamu yakin ini akan aman?” tanya Alvaro. Dia masih ragu.
“Tentu saja tidak. Hacking bukan tindakan bagus tapi kita perlu menemukan bukti bukan? Lagipula kita hanya akan mengambil bukti kejahatan sekretaris itu bukannya mengacak-acak datanya.” Kata Alan.
“Aku mulai.” Alan mulai sibuk mengetik. Alvaro melihatnya dengan tatapan takjub sekaligus bingung. Dia tidak mengerti apa yang tengah dilakukan Alan. dan kata-kata asing itu.
“Selesai.” Ucap Alan tak berapa lama. Dia lalu membaca isi percakapan sekretaris Pak Geo itu dengan seseorang yang diduga komplotannya.
“Aku sudah menemukan korbannya. Aku akan mengambil stempel tanda tangan Pak Geo dan mengatasnamakannya. Tenang saja, sertifikatnya akan kupalsukan agar lelaki tua itu tak curiga.” Gumam Alan membaca isi chat itu.
Alan dan Alvaro saling berpandangan. Mereka kini sudah memegang kartu as.
Flashback Off
“Astaga! Aku tidak percaya kalian melakukan itu.” pekik Kansha terkejut.
“Aku juga. Tapi Alan sungguh berani dan nekad. Jujur saja, aku bahkan tidak kepikiran melakukannya.” Timpal Alvaro.
“Aku hanya membantu sedikit. Dan soal hacking itu, memang melanggar hukum sih tapi untuk menghentikan agar tidak ada banyak korban, lebih baik melakukkan meski harus nekad.”
“Kalian luar biasa.” Puji Kansha takjub.
“Oh ya, aku harus kembali ke kantor. Aku akan mentraktirmu makan lain kali Kansha.”celetuk Alvaro. Dia menyadari bahwa dia sudah terlambat untuk ka kantor. Dia dan timnya harus rapat evaluasi mengenai kasus ini.
“Tidak masalah. Berhati-hatilah.” Ucap Kansha. Alvaro mengangguk. Dia pun menepuk bahu Alan tanda perpisahan dan meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Kini tinggal Alan dan Kansha saja. Mereka terdiam. Tidak ad ayang memulai pembicaraan.
“Mau makan siang?” tawar Alan.