
Langit malam musim gugur Kota Seoul selalu memiliki daya pikat tersendiri bagi orang-orang yang melihatnya, termasuk Kansha. Menyaksikan langit Seoul yang bersinar sendirian membuat hati Kansha sedikit tenang. Memang, pelarian terbaik dari masalah adalah menyendiri.
Di belakang Kansha yang asik menatap pemandangan malam, ada Alvaro yang berjalan pelan menghampirinya. Lelaki itu berdiri disamping Kansha dan ikut menatap apa yang dilihat Kansha.
"Minum?" tawar Alvaro menjulurkan sebuah gelas berisi cairan keemasan. Kansha menggeleng.
"Aku berjanji tidak akan minum-minum lagi." ucapnya.
"Kenapa?" tanya Alvaro.
Kansha hanya mengendikkan bahu, "Karena tidak baik untuk kesehatan." Dia lalu beralih menatap Alvaro, "Kamu juga hentikan kebiasaan minum mu." lanjutnya.
"Ini yang terakhir kalinya. Aku harus memiliki gaya hidup sehat untuk kedepannya." tukas Alvaro.
Kansha mengangguk, "Baguslah, kalau kamu sadar." timpalnya.
"Kansha." panggil Alvaro.
"Apa?" balas Kansha menoleh.
"Sudah 7 tahun, kita tidak bertemu. Kamu masih tampak sama saat SMA." ucap Alvaro dengan pandangan lurus ke depan.
"Memang kamu mengenalku?" tanya Kansha.
Alvaro mengangguk, "Kamu kan populer. Essaimu selalu terpajang di mading."
"Tapi kamu tidak mengenalku secara pribadi. Kamu hanya mengenalku lewat tulisan." tukas Kansha kembali beralih menatap ke depan.
"Itu karena aku tidak punya kesempatan." gumam Alvaro.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Kansha tidak mendengar.
"Sebenarnya aku pernah bertemu denganmu di perpustakaan."
"Benarkah?" tanya Kansha penasaran.
Alvaro mengangguk.
"Aku bahkan masih ingat bahwa kamu sedang membaca tentang burung albatros."
Kansha terdiam, mencoba mengingat-ingat. Semenit kemudian, dia ingat. Itu saat dia duduk di bangku kelas tiga.
"Aku tidak tahu kalau kamu ternyata mendengarkan." balas Kansha.
"Aku tidak sengaja melakukannya. Kamu membaca lumayan keras." tukas Alvaro.
Kansha tersenyum malu, "Itu memang kebiasaanku saat tidak ada orang."
"Aku pernah mendengar bahwa kamu hampir saja tidak akan melanjutkan sekolahmu." celetuk Alvaro lagi.
Kansha mendesah, "Kufikir itu hanya berita kecil, tapi ketua OSIS sepertimu tahu rupanya."
"Kenapa?" tanya Alvaro.
Kansha merenung, "Itu karena saat itu aku tertimpa musibah. Kondisi keuangan Bu Sari sedang menurun. Aku tidak tega bila harus terus memaksakan harus sekolah." jawab Kansha pelan.
"Bu Sari, mengalami kecelakaan benar kan?"
Kansha menoleh, "Darimana kamu tahu?" tanyanya terkejut. Pasalnya dia ingat, bahwa dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun tak terkecuali guru sekolahnya.
Alvaro bergerak-gerik tak biasanya, namun ekspresinya masih tenang seperti sebelumnya.
"Aku mendengarnya dari seseorang kenalanku." jawab Alvaro.
"Tapi aku tidak pernah mengatakan hal itu pada siapapun di sekolah." tukas Kansha bingung.
"Bukan dari sekolah." Alvaro menggeleng. "Tapi dari Aura."lanjutnya.
"Aura?" seru Kansha terkejut.
"Dia memang teman satu sekolah kita, tapi dia selalu tahu informasi apapun." karena informasi itulah, aku terjebak dengannya. lanjutnya dalam hati.
"Tidak heran. Dia terlalu berkuasa." komentarnya.
"Oh ya, kamu berpacaran dengan Aura, bagaimana ceritanya?" tanya Kansha penasaran.
Alvaro terdiam cukup lama.
"Entahlah. Semuanya mengalir begitu saja." jawaban Alvaro tak cukup memuaskan Kansha.
"Ceritakan lebih banyak lagi." pinta Kansha.
Alvaro menarik nafas, "Tidak ada yang perlu diceritakan. Lagipula semuanya sudah usai dan usang."
Kansha mencebik, "Ih, kamu pelit sekali."
Alvaro tersenyum tipis, dia lalu menatap Kansha.
"Kalau aku menceritakannya. Kamu pasti akan membenciku."
***
Alan dan Alfin masih berada di rumah sakit. Tadi sore ketika pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa bunda sudah bisa pulang. Jadi malam ini, bunda akan pulang ke rumah.
Alfin sedang membereskan pakaian bunda. Sedangkan Alan sedang bertelfonan dengan ayahnya. Setelah menutup panggilan, Alan menghampiri bunda.
"Ayah sudah sampai di rumah, bun. Ayah minta maaf tidak bisa datang menjemput jadi ayah akan menunggu di rumah." kata Alan menyampaikan pesan ayahnya.
"Iya, bunda masih kesal sama ayah. Sudah tahu anaknya mau lamaran, malah terbang." gerutu bunda.
Ayahnya memang pulang terlambat. Seharusnya beliau pulang kemarin malam tapi karena ada delay akibat badai yang menerpa Inggris, jadi penerbangannya di tunda.
Alan hanya diam, dia tidak bisa menimpali atau menukas. Soalnya, ayahnya memang agak salah sih. Tapi Alan juga mengerti perasaan ayahnya sebagai sesama pilot. Ayahnya sudah lama tidak terbang. Ini menjadi kali pertamanya dalam lima tahun.
"Ayo, bun. Supir sudah di depan." kata Alan. Bunda mengangguk.
"Fin, sudah selesai?" tanya Alan menoleh pada adiknya.
Alfin selesai merisleting tas kemudian mengangguk, "Sudah mas."
"Ayo bun." Alan memegang tangan kanan bunda. Alfin pun mengapit tangan kirinya dengan satu tangan memegang tas.
__ADS_1
"Tidak ada yang ketinggalan kan?" tanya bunda memastikan.
"Insyaallah tidak bun." jawab Alfin.
Setelah itu, Alan, Alfin dan bunda keluar ruangan rawat beriringan.
***
Esok paginya, suasana di kediaman Alan amat ramai. Itu karena bunda yang sudah sehat betul katanya sedang memasak dengan antusias bersama calon menantunya. Ini adalah hari yang bahagia karena lamaran yang sempat tertunda, kini bisa dilaksanakan. Awalnya Alan ingin di undur hingga minggu depan, namun bunda menolak. Beliau ingin secepatnya acara ini dilaksanakan lagipula bunda sudah membaik.
Ketika para wanita di rumah Alan memasak, beda dengan para lelaki. Ayah dan Zakariya sedang mengobrol sembari minum kopi. Sedangkan Alan dan Alfin tidak kelihatan batang hidungnya semenjak usai sarapan.
Rupanya Alan mengajak Alfin menuju kamarnya karena ada yang ingin lelaki itu tunjukkan pada adiknya. Alfin menurut tanpa banyak bertanya.
Alfin mengikuti Alan menuju walk in closet. Disana ada lemari kayu yang penuh dengan kemeja Alan. Alan memutar lemari itu dan ruangan lain muncul. Alfin terbelalak takjub.
"Sejak kapan mas punya ruangan rahasia?" tanya Alfin.
"Semenjak rumah ini dibangun. Mas sengaja meminta para tukang untuk membangun ruangan lain." jawab Alan kemudian masuk ke dalam ruangan itu diikuti Alfin. Setelah itu dia kembali memutar lemari ke posisi semula.
"Mas terlalu cerdas. Orang rumah tidak akan tahu ada ruangan lain karena mas membangunnya di walk in closet." puji Alfin.
"Kamu juga cerdas, membangun ruang kerja di balik lemari seperti ini." timpal Alfin.
"Itu karena aku menyimpan bahan penelitian yang berbahaya bagi orang awam." balas Alfin.
"Jadi apa yang ingin mas tunjukkan padaku?" lanjut Alfin.
"Berbaliklah." titah Alan.
Alfin berbalik dan matanya berbinar kembali ketika melihat satu set komputer yang menampilkan seluruh isi rumah kecuali kamar.
"Wah, ini CCTV? Di rumah kita ada CCTVnya? Dimana? Kok aku tidak pernah lihat." ucap Alfin beruntun.
"Kameranya cukup kecil jadi bila tidak terlalu diperhatikan tidak akan kelihatan." jawab Alan.
"Mas kenapa pasang CCTV? Dan tidak bilang-bilang lagi."
"Mas sudah cukup lama memasangnya. Ketika keluarga kita berlibur bersama di Bali, mas pergi duluan karena harus menghadiri upacara penghargaan, ingat?" Alfin mengangguk.
"Saat itulah, mas memasangnya. Mas sengaja tidak memberitahu hal ini pada orang rumah. Alasannya untuk keamanan. Mas tidak bisa selalu mengawasi rumah, jadi mas memasangnya. Dan bila ada kejadian yang tidak diinginkan seperti kejadian kemarin, mas bisa mengetahuinya segera." ucap Alan melanjutkan.
Alfin mengangguk-anggukan kepalanya, "Aku mengerti, mas. Intinya Mas benar-benar hebat." puji Alfin sekali lagi. Alan tersenyum.
"Dan oh ya, ini yang mau mas tunjukkan." Alan duduk di kursi kemudian mulai mengoperasikan CCTV. Alfin hanya melihatnya tidak mengerti sama sekali.
Alan lalu memutar video tayangan yang sudah dia lihat kemarin siang. Di dapur, saat tersangkanya melakukan rencananya.
"Coba kamu perhatikan baik-baik."
Alan menekan play. Disana tampak seseorang yang mencurigakan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sesudah dirasa aman, orang itu menaburkan sesuatu ke dalam masakan. Dia mengaduknya pelan dan merapikannya agar tidak terlihat mencurigakan. Setelah itu, dia keluar dari dapur secepat mungkin.
Alan menghentikan video.
"Sudah lihat kan, siapa pelakunya?" tanya Alan menatap Alfin.
Alfin syok. Dia menatap Alan tak percaya.
Alan menghembuskan nafasnya berat, "Mas juga tidak menyangka. Mas lebih ke perasaan terkejut, tidak percaya dan kecewa. Mengapa dia bisa tega melakukan hal itu pada bunda. Apa sebenarnya tujuannnya mendekati kita selama ini. Bunda sudah baik dengannya tapi apa ini yang dibalas pada bunda?" Alan mencurahkan perasaannya yang terluka.
Alfin mendesah, "Jadi apa yang akan mas lakukan?" tanyanya.
Alan menggelengkan kepalanya, "Mas tidak tahu."
"Hari ini, apakah mas akan membongkar semuanya?" tanya Alfin hati-hati.
Alan menatap Alfin cukup lama.
***
Kini keluarga Alan dan beberapa sanak saudara Aisyah sudah berkumpul di ruang utama. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Acara akan dilangsungkan sebentar lagi.
Acara pertama-tama, dibuka oleh ayah Alan. Beliau menyampaikan sambutannya dan rasa syukurnya atas hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin beberapa generasi antara keluarganya dan keluarga Aisyah.
Setelah ayah, giliran Zakariya. Beliau juga menyampaikan hal yang sama terkait rasa bersyukur dan terimakasihnya atas apa yang dilakukan oleh keluarga Alan pada keluarganya. Beliau juga berharap, bahwa hubungan antara Alan dan Aisyah akan menjadi perekat lebih kuat lagi bagi keluarga mereka kedepannya.
Setelah itu, acara utama dimulai. Yaitu tentang permintaan Alan untuk menjadikan Aisyah calon istrinya. Sebenarnya, Aisyah dan Alan sudah dijodohkan bertahun-tahun lamanya, namun baru kini secara resminya. Jadi acara ini termasuk acara penting bagi kedua belah pihak.
Alan dan Aisyah saling berdiri berhadapan dengan Aisyah yang menundukkan pandangannya. Aisyah yang nampak cantik dengan gamis putih bersihnya dan Alan yang nampak gagah dengan koko putih dan celana pentalon hitam.
"Silakan, Alan dimulai." ucap ayah.
Alan mengangguk pelan, dia lalu menatap Aisyah yang masih menundukkan pandangannya.
"Bissmillahirrahmanirrahim. Saya Alandra Kenandra," Alan berhenti. "Membatalkan pinangan dan hitbah saya pada Aisyah Zakariyanissa."lanjutnya tegas.
Semua orang terpekik kecil begitupun Aisyah yang langsung mendongakan wajahnya. Dia menatap Alan dengan terkejut.
"Saya tidak ingin melanjutkan rencana pernikahan kami." jelas Alan sekali lagi. Pernyataannya mengundang tanda tanya dan keterkejutan dari semua orang.
"Alan, apa yang kamu lakukan?" tanya bunda bingung.
Alan terdiam sebentar kemudian menatap Aisyah dengan dingin.
"Karena saya tidak ingin memiliki istri seorang perempuan yang tega melukai orang di sekitarnya dan melakukan kebohongan besar." jawab Alan.
Semua orang terkejut kembali. Bisik-bisik terdengar di seluruh penjuru. Mereka semua bingung apa yang dimaksudkan Alan.
"Apa maksud kamu Alan?" tanya Zakariya tak sabar.
Alan tak menjawab, dia malah mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat segiempat di sakunya kemudian mengacungkannya di depan Aisyah.
"Kertas ini adalah hasil pemeriksaan Aisyah terkait kondisinya. Disini tertulis jelas, bahwa Aisyah Zakariyanissa tidak mengidap kanker otak seperti yang dikatakannya." ucap Alan lantang dan penuh penekanan.
Semua orang menarik nafas, mereka terkejut bukan main mendengarnya tak terkecuali Zakariya. Dia juga terkejut karena sebelumnya dia tidak tahu bahwa penyakit Aisyah adalah bohongan.
"Mas Alan..aku bisa jelaskan." ucap Aisyah gemetar. Air matanya menetes.
"Ada lagi." ucap Alan tak mengindahkan.
Alan melirik Alfin, Alfin yang mengerti langsung bangkit berdiri kemudian mengambil laptop yang dia taruh di meja ruang keluarga. Setelah itu dia menghampiri bunda.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya bunda.
"Bunda lihat sendiri tapi Alfin mohon bunda jangan syok." jawab Alfin. Alfin lalu menekan play dan tayangan CCTV yang disimpan Alan sebelumnya terputar.
Bunda mulai menunjukkan raut terkejut yang sangat kentara. Membuat semua orang penasaran apa yang sedang dilihat bunda. Usai tayangan itu selesai, Alfin mengambil laptop itu dari pangkuan bunda.
"Bunda, tolong katakan apa yang bunda lihat." pinta Alan.
Bunda tampak memucat. Bibirnya bergetar. Namun dia mulai berbicara terbata-bata, "Aisyah..memasukkan..sesuatu..ke..dalam..masakan..di..dapur."
Aisyah makin memucat, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sesuatu itu adalah serbuk kacang. Awalnya serbuk itu bukan ditujukan pada bunda, karena Aisyah pasti tahu bahwa bunda alergi dengan kacang melainkan dia tujukan pada orang lain. Namun sayang, orang itu tidak memakannya, dan malah bunda yang memakannya hingga bunda jatuh pingsan." jelas Alan dingin.
Aisyah menggelengkan kepalanya dengan panik. "Mmass..iitu.ssalah paham." ucapnya terbata-bata.
"Aisyah, aku menerimamu apa adanya, tapi kenapa kamu bisa melakukan ini? Belum lagi dengan kebohongan Om Zakariya pada keluarga kami selama ini."
Alan menatap kecewa pada Zakariya.
"Kke..bo..hongan aapa?" tanya Zakariya was-was.
"Ayah, apakah ayah tahu bahwa Aisyah bukanlah putri pertama Om Zakariya?" Alan malah bertanya pada sang ayah.
Ayah terdiam. Dan Alan rasa jawabannya tidak.
"Dua tahun sebelum Aisyah lahir, terlebih dahulu lahir seseorang bernama Azzahra Zakariyanissa. Tapi sayangnya Azzahra menghilang sejak bayi. Kemudian lahirlah Aisyah, Om Zakariya memutuskan mengubur dalam-dalam soal Azzahra bahkan mencoretnya dari kartu keluarga. Hingga yang orang-orang tahu, hanya Aisyahlah putri tunggalnya. " jelas Alan.
Semua orang kembali terkejut akibat fakta tak terduga ini. Keluarga Zakariya juga nampak paling terpukul, karena mereka juga tidak tahu tentang kebenaran ini.
"Alan tidak masalah bahwa Aisyah bukanlah putri pertama, Alan juga tidak terlalu kecewa terkait kebohongan Om. Karena Alan tahu, itu mungkin membuat om terluka hingga memilih melupakannya. Alan menerima Aisyah, mencintai Aisyah bukan karena perjodohan saja. Alan tulus mencintainya. Dan cinta itu berubah kekecewaan tatkala Aisyah berbohong mengenai penyakitnya bahkan melukai bunda. Alan tidak bisa menerima itu." ucap Alan dengan nada terluka.
Aisyah menundukkan kepalanya, dia mulai menangis sesenggukan.
"Alan terpaksa membongkar semuanya disini, bukan untuk menyebarkan aib Aisyah melainkan untuk memberinya pelajaran bahwa apa yang dia lakukan salah dan sudah menyimpang."
"Mas Alan, hiks, hiks, Aisyah minta maaf yang sebesar-besarnya. Demi Allah, Aisyah khilaf." ucap Aisyah terisak.
"Untuk apa kamu melakukan ini, Aisyah?" tanya Alan.
"Itu karena kecemburuan yang sudah membutakan Aisyah. Mas terlalu dekat dengan wanita lain padahal wanita itu haram untuk mas. Mas terlalu perhatian padanya dan sering menghabiskan waktu bersama. Sedangkan dengan Aisyah, mas selalu menjaga jarak." ucap Aisyah mencurahkan isi hatinya selama ini yang ia pendam.
"Aisyah marah, Aisyah kecewa, Aisyah cemburu, Aisyah tidak terima. Mas Alan calon suami Aisyah!"
Alan mengembuskan nafas berat, "Mas minta maaf kalau kamu merasa seperti itu. Mas mengerti. Tapi mas dengan Kansha, tidak ada hubungan apapun. Mas akui mas memang pernah makan siang dengannya tapi hanya sebatas itu. Kami tidak melakukan hal yang di luar batas."
"Mas Alan berbohong! Mas jelas-jelas berciuman dengannya waktu di danau!" pekik Aisyah terluka.
"Ciuman? Astagfirullah, apa yang kamu katakan? Mas tidak pernah melakukan hal di luar batas seperti itu dengan yang bukan mahram mas!"
"Aisyah memiliki buktinya." Aisyah lalu mengambil tasnya kemudian membuka ponselnya dan mengutak-atik sebentar. Setelah itu menunjukkannya pada Alan.
"Lihat? Mas mau berkelit seperti apa lagi disaat buktinya sejelas ini." tantang Aisyah.
Alan menatap foto itu dengan seksama.
"Kami tidak berciuman, saat itu ada laba-laba di pundak Kansha, mas membantu menyingkirkannya karena dia takut dengan laba-laba." jelas Alan.
"Kebohongan apa lagi ini, mas? Baik mas dan mbak Kansha mengatakan hal yang sama. Apa kalian sudah janjian sebelumnya?"
Alfin yang tak tahan lagi, maju kemudian mengambil ponsel Aisyah dari tangannya. Aisyah tidak sempat mencegahnya.
Alfin menatap foto itu dengan seksama. Setelah selesai, dia memperbesar foto itu dan menunjukkannya pada Aisyah.
"Lihat ini." Alfin menunjuk pada titik kecil berwarna hijau. "Ini adalah laba-laba yang dimaksud. Kalau diambil dari sudut ini, siapapun akan mengatakan mereka berciuman. Tapi coba kalau dilihat dari sudut lain. Sepertinya fotografer ini sangat berpengalaman." ucap Alfin.
"Itu..bohong..kalian berbohong!" seru Aisyah tak terima.
"Mas tidak tahu kamu dapat foto ini darimana, tapi yang jelas itulah kebenarannya. Mas tidak peduli kamu percaya atau tidak, tapi mas sudah menjelaskan padamu sejujur-jujurnya." ucap Alan.
"Maaf bunda, maaf ayah, dan maaf om, tapi Alan ingin membatalkan pinangan Alan pada Aisyah." lanjut Alan menatap satu persatu dimulai bunda, ayah dan Zakariya.
Ayah mengangguk, "Ayah mengizinkan kamu bila itu keputusanmu."
Semua orang terkejut begitupun Aisyah.
"Tidak, ayah. Ayah harus mendengarkan penjelasan Aisyah." ucap Aisyah panik.
"Saya juga menerima keputusan, Nak Alan." sela Zakariya. Aisyah menatap abinya dengan syok.
"Saya sebagai abi Aisyah memohon maaf atas kesalahan yang dilakukan anak saya. Saya tidak tahu bahwa Aisyah akan melakukan hal seperti itu. Saya juga meminta maaf karena telah merahasiakan soal Azzahra." lanjut Zakariya pelan. Wajahnya penuh rasa bersalah.
"Abi.." lirih Aisyah tak percaya.
"Aisyah, terima lapang dada apa yang menjadi keputusan Nak Alan. Kamu memang bersalah terlepas dari apapun alasannya. Abi harap kamu dengan dewasa mau bertanggung jawab." ucap Zakariya.
Aisyah makin terisak, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maafkan mas, Aisyah." ucap Alan terakhir kalinya.
***
Kansha berlari menembus jalan setapak hutan. Dia baru saja landing dua puluh menit lalu kala sebuah kabar membuat dirinya terkejut bukan kepalang.
Mas Alan membatalkan pernikahannya dengan Aisyah. Kini mas Alan pergi begitu saja. Dia nampak kacau dan terluka.
Ucapan Alfin menggema di benak Kansha. Dan entah kenapa, Kansha malah menuju hutan begitu tahu Alan pergi. Firasatnya mengatakan bahwa Alan tengah menyendiri di rumah pohonnya.
Dan begitu daun terakhir disibakkan, Kansha menghentikan langkahnya. Nafasnya terengah-engah menemukan siluet seseorang yang sedang duduk bersandar di balkon rumah pohon. Dia adalah Alan.
Alfin benar, Alan nampak tak baik-baik saja.
...-------------...
Aku minta maaf atas keterlambatan upnya. Itu karena aku ada ujian mendadak dan baru selesai tadiππ
Semoga penyelesaikan konfliknya puas yaπ dan tetap enjoy dengan kisah ini.
Jangan lupa vote, koment, dan likenya π€π
Terima kasih :)
__ADS_1