
Kansha tiba di suatu lingkungan perkampungan bersih dan asri yang terletak di pinggiran kota. Dia berjalan pelan mencari tempat bernama Nusa Alliyah. Kansha tidak tahu tempat apa itu, hanya saja begitu dia menemukan tempat itu, banyak anak berlarian di halaman. Plang besar bertuliskan Nusa Alliyah tercetak jelas.
Kansha berhenti di depan pagar, dia ragu masuk karena tidak melihat tanda keberadaan Bu Warni. Hingga kemudian seorang perempuan muda berhijab toska datang menghampirinya.
“Ada yang bisa saya bantu, mbak?” sapanya ramah.
“Saya hendak bertemu dengan Bu Warni, apakah beliau ada?” tanya Kansha canggung.
Senyum perempuan muda itu makin lebar, “Mbak pasti Mbak Kansha ya?” tebaknya.
“Darimana kamu tahu nama saya?” tanya Kansha bingung.
“Ustadzah tadi berpesan bahwa beliau akan kedatangan tamu perempuan.” Jawab perempuan itu.
“Ah begitu.” Balas Kansha menganggukan kepalanya.
“Oh ya, nama saya Farah, mbak. Kata ustadzah, mbak langsung saja masuk ke kantor.” Ujar perempuan itu lagi. Nadanya yang ramah dan lembut mengantarkan kenyamanan pada Kansha.
“Bisa tolong tunjukkan dimana kantornya?” pinta Kansha.
Farah mengangguk, “Ayo ikuti saya, mbak.” Ajaknya.
Farah pun mulai berjalan menuju bangunan dibelakangnya. Kansha mengikutinya tanpa bicara lagi. Mereka masuk ke dalam bangunan itu dan menemukan beberapa koridor panjang layaknya sekolah. Suara anak-anak yang sedang belajar terdengar saling bergaung.
“Ini sekolah ya, Farah?” tanya Kansha penasaran.
“Iya, mbak. Ini namanya madrasah.” Jawab Farah tetap berjalan lurus. Kemudian dia berbelok kanan menuju sebuah koridor lain.
“Madrasah?” tanya Kansha bingung.
“Madrasah itu adalah kata lain dari sekolah dalam bahasa Arab. Tapi bedanya madrasah disini beroperasi di sore hari. Dan khusus membahas mengenai agama islam.” Jelas Farah.
Kansha mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
“Para siswanya masih anak-anak ya?”
Farah mengangguk sambil menoleh pada Kansha sekilas. Dia lalu mulai menjelaskan kembali sambil tetap memimpin jalan.
“Pendidikan agama itu adalah salah satu hal yang wajib dipelajari sejak kecil. Dan anak-anak disini itu mulai mempelajari agama sejak usianya 7 tahun. Usia itu adalah batas usia yang wajib untuk melaksanakan shalat. Dan mbak pasti pernah mendengar bahwa kepribadian seseorang kala dewasa ditentukan dari sikapnya sejak kecil. Jadi anak-anak ini sedang dibimbing sejak kecil untuk mengenal agamanya dan mempelajari akhlak yang baik.” Jelasnya.
Kansha kembali mengangguk-anggukan kepalanya. Dia layaknya anak kecil yang polos tidak tahu apa-apa sebelum diberi penjelasan.
“Jadi rata-rata usia anak disini adalah tujuh tahun?”
“Sejak mereka kelas satu SD, orang tua mereka langsung memasukkan anak-anaknya ke sini.” jelas Farah sambil menoleh dengan tersenyum.
Setelah menjawab, Farah langsung berhenti. Mereka sudah sampai di sebuah ruangan besar dan memiliki plang diatasnya. Ruang Guru. Begitulah isi plangnya.
“Kita sudah sampai, mbak. Ustadzah Warni ada di ruangan sebelahnya yang tertutup oleh kaca.” Tunjuk Farah pada sebuah ruangan yang berada di ruang guru itu.
Kansha mengangguk, “Terima kasih Farah. Sudah mengantar saya.” Ucap Kansha tersenyum.
Farah balas tersenyum, “Sama-sama mbak. Sudah sewajarnya kita sebagai sesama manusia saling membantu.” Balasnya.
Kansha mengangguk untuk terakhir kalinya, “Kalau begitu saya masuk dulu.” pamitnya.
“Mbak.” Panggilan Farah membuat Kansha yang hendak masuk tidak jadi. Kansha berbalik kembali dan menatap Farah penuh tanya.
“Ada apa?” tanyanya.
Farah tersenyum lembut, “Semua orang memiliki takdir dan hidayahnya masing-masing. Dalam menjemput hidayah ada kalanya kita akan kesulitan dan merasa goyah. Tapi begitu kita sudah membulatkan keputusan, maka Allah akan senantiasa menolong kita. Yakinlah, bahwa tak ada hidayah yang lebih baik melainkan hidayah menerima Keesaan Allah.”
Kansha terdiam mendengar pernyataan Farah. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, apakah yang dimaksud Farah sebenarnya? Ataukah mungkin Farah sedang membahas mengenai prosesnya mendapat pencerahan?
“Kamu...” Kansha tak meneruskan ucapannya.
Dengan senyuman yang masih melengkung, Farah mengangguk seakan mengerti apa yang hendak ditanyakan Kansha.
“Semangat, mbak. Mbak pasti bisa.” Ucapnya menyemangati.
***
__ADS_1
Kansha masuk ke ruang guru setelah Farah pergi. Ruangan itu nampak lengang dan kosong. Sepertinya karena ini sudah masuk waktu mengajar, begitu tadi kata Farah. Kansha pun terus berjalan hingga sampai di ruangan lain yang tertutup kaca seperti yang dikatakan Farah. Dia mengetuknya dan suara seseorang yang hendak di temui terdengar.
Pintu kaca itu dibuka dari dalam dan muncul Bu Warni dengan gamis toskanya yang nampak anggun. Beliau tersenyum lebar melihat kedatangan Kansha.
“Kansha. ayo masuk.” Ucap Bu Warni masih ramah seperti dulu.
Kansha pun masuk ke dalam diikuti Bu Warni yang sebelumnya sudah menutup pintu. Kansha duduk di salah satu sofa coklat di depan meja kerja Bu Warni sedangkan Bu Warni sedang menyeduh teh.
“Saya senang sekali begitu kamu mengirimkan pesan untuk bertemu. Saya kira kamu sudah lupa dengan saya.” Ucap Bu Warni sembari menaruh segelas teh hangat di depan Kansha.
“Saya mana mungkin lupa dengan ibu. Justru saya yang khawatir kalau ibu sudah lupa dengan saya karena bagaimanapun, pertemuan kita terbilang cukup singkat.” Timpal Kansha.
“Saya mana mungkin lupa. Alhamdulillah, ingatan saya masih cukup kuat meski bertemu denganmu sekilas. Karena saya fikir saya harus mengingat kamu.”
“Kenapa ibu harus mengingatnya?” tanya Kansha.
“Karena saya yakin kita akan bertemu kembali. Dan benar saja, kita kembali dipertemukan.”
Kansha tersenyum tipis mendengarnya, “Sebenarnya saya memiliki tujuan hendak bertemu dengan ibu.” Ujarnya.
“Apakah itu?” tanya Bu Warni penasaran.
Kansha malah terdiam ragu. Dia memainkan kedua tangannya. Tidak tahu harus mulai dari mana.
“Saya bingung, bu.” Ucap Kansha akhirnya memberanikan diri.
Bu Warni tak membalas, dia membiarkan Kansha meneruskan ucapannya hingga selesai.
“Sebenarnya cerita ini sangat rumit dibanding kelihatannya. Tapi saya sungguh bingung saat ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang aneh pada diri saya. Dan itu ada hubungannya dengan pembicaraan kita dahulu.” Lanjut Kansha dengan raut mengernyit saking bingungnya.
“Tidak apa-apa, coba jelaskan pelan-pelan.” Ucap Bu Warni.
Kansha terlebih dahulu membasahi bibirnya, merasa gugup untuk alasan tak jelas.
“Saya sebenarnya bukan anak kandung orang tua saya saat ini. mereka mengadopsi saya ketika saat bayi saya ditinggalkan di depan rumah mereka. Dan saya baru tahu bahwa orang tua kandung saya masih ada. Ceritanya cukup rumit tapi intinya mereka beragama muslim.” Tutur Kansha. Bu Warni mendengarkan cerita Kansha dengan seksama.
“Kemudian saya juga memiliki calon suami yang tidak satu keyakinan dengan saya. Dia beragama islam sedangkan saya tidak. Kami bertemu saat kami sama-sama terdampar di pulau tak berpenghuni saat tragedi pesawat jatuh setahun lalu.”
“Disana calon suami saya menjelaskan pada saya apa itu islam. Awalnya saya tidak tertarik dengan islam karena saya juga bukan penganutnya. Hanya saja setelah tragedi itu, hidup saya mulai berubah. Saya dikelilingi oleh orang-orang baik yang sangat religius soal islam. Mereka sering menjelaskan pada saya tentang apa itu islam dan keistimewaannya. Dan tanpa sadar hal itu membuat keyakinan saya goyah. Puncaknya adalah ketika ayah kandung saya wafat, dan beliau meninggalkan sebuah surat dan kerudung dimana isi tulisannya menyentuh hati saya. Beliau bertanya, apa saya mau untuk memakai kerudung itu demi kebahagiaan saya? Sejak saat itu, hati saya bergejolak aneh. Rasanya sangat tidak nyaman dan yang awalnya seperti terasa kosong, tiba-tiba saja seperto terisi penuh. Alih-alih merasa sesak, saya malah merasakan sebuah kelapangan yang damai.” Jelas Kansha sarat atas kebingungan yang mendalam.
Bu Warni tersenyum usai mendengar cerita super panjang dari Kansha itu.
“Apakah yang kamu rasakan itu sebuah hal yang menurutmu baik atau justru terasa buruk?” tanya Bu Warni.
“Rasanya sangat nyaman tapi saya tidak tahu untuk alasan apa. Tapi menurut saya itu hal baik.” Jawab Kansha.
“Maka jawabannya hanya satu." tandas Bu Warni.
"Apa itu, Bu?" tanya Kansha penasaran.
Bu Warni kembali melengkungkan senyumanya, kali ini lebih lebar.
"Selamat, Kansha. Pintu hatimu sudah terketuk oleh hidayah Allah."
Kansha terdiam, "Apa?" sahutnya pelan.
"Kansha, agama islam adalah agama yang tidak pernah memaksa. Mereka yang awalnya tak muslim, telah diketuk pintu hatinya oleh Allah melalui kelembutan islam. Banyak orang yang mungkin mendapatkannya, tapi hanya sedikit yang merasakannya. Allah telah mengkhendakinya bahwa sudah saatnya kamu berjalan di jalan yang lurus."
Kansha masih terdiam. Wajahnya serasa panas menggelitik akibat ucapan Bu Warni.
"Maksud ibu, saya tertarik ingin masuk islam?"
Bu Warni hanya tersenyum, "Sebentar." Bu Warni tiba-tiba beranjak berdiri. Perempuan itu menuju ke sebuah rak yang berisi banyak buku-buku yang tak Kansha ketahui. Lalu Bu Warni kembali setelah mengambil sebuah Al-Qur'an. Dia mendekati Kansha.
"Ini namanya Al-Qur'an. Kitab sucinya umat islam. Disini banyak dalil-dalil Allah yang mengatur semua hal di alam semesta. Termasuk tentang nikmatnya islam. Cobalah sentuh sedikit."
Bu Warni tiba-tiba saja meminta Kansha menyentuh Al-Qur'an.
"Bisakah saya melakukannya?" tanya Kansha bimbang. Dia bukan seorang muslim, tak apakah dia memegangnya?
"Tidak masalah." balasnya.
__ADS_1
Kansha pun mulai mengangkat tangan kanannya. Ini kali pertamanya dia hendak nenyentuh kitab suci umat islam itu. Makin mendekat, tangannya berubah gemetaran.
"Sentuhlah, tak apa." ucap Bu Warni lagi.
Kansha pun meregangkan tangannya, tangan kanannya pun akhirnya menyentuh cover Al-Qur'an itu. Tapi begitu tersentuh, Kansha langsung menjauhkan tangannya. Tangannya gemetaran hebat.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Bu Warni.
"Entahlah. Rasanya sangat aneh. Dan begitu aku menyentuhnya, aku merasakan sensasi sejuk dan tanganku langsung gemetaran sendiri." jawab Kansha bingung.
"Ibu juga merasakan itu. Tiap kali selesai mengaji, ibu selalu mendekap Al-Qur'an ke dada ibu sebentar, dan rasanya sangat sejuk di dalam hati. Entah kenapa. Ini sangat ajaib. Kegundahan hati ibu juga langsung lenyap begitu saja."
Kansha menahan nafasnya, "Aoakah itu berarti, aku sungguhan.."
Bu Warni tiba-tiba memegang kedua tangan Kansha membuat si empunya menatap Bu Warni.
"Ibu tahu kamu masih diliputi kebimbangan dan kekhawatiran. Ibu juga tidak memaksakan apapun padamu. Ibu hanya bisa. mendukungmu dan mendoakanmu saja. Ingat Kansha, setiap orang yang menjalani hidupnya, harus memiliki arah dan penuntun yang jelas. Dan didalam hal ini, umat islam memiliki Al-Qur'an dan sunah rasul. Serta Allah azza waza'ala yang senantiasa berada di sisi kita. Tak ada agama seindah islam. Dan tak ada hidayah yang lebih baik daripada Keesaan Allah."
Yakinlah, bahwa tak ada hidayah yang lebih baik melainkan hidayah menerima Keesaan Allah.
Tiba-tiba ucapan Farah terngiang di benaknya. Ucapan yang persis sama dengan apa yang barusan dikatakan Bu Warni. Benarkah, Kansha sudah siap menjemput hidayah itu?
***
Kansha pulang ke rumah dengan kuyu. Pembicaraannya dengan Bu Warni masih menghantuinya.
Tapi alih-alih merasa bertambah bingung, Kansha malah merasa akan menemukan jawabannya.
"Selamat datang, putri mama. Kamu kok baru pulang?" sapaan Grace membuat Kansha kembali ke alam sadarnya.
"Hai, mam. Tadi aku bertemu seorang teman dulu." jawab Kansha.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang naik dan mandi ya. Habis itu kita makan malam bersama." ucap Grace lembut.
Kansha mengangguk pelan. "Kalau gitu, aku naik dulu ma." pamitnya.
Kansha pun naik ke lantai kamarnya berada. Dia langsung masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang. Tubuhnya yang lelah dan berkeringat membuatnya malas untuk beranjak bangun.
Kansha mengambil ponsel dari saku celananya. Dia melihat aplikasi perpesanan miliknya dan tak ada chat dari siapapun termasuk Alan. Sepertinya lelaki itu belum pulang.
Bosan karena tak ada apapun di dalam ponselnya, Kansha menaruh ponselnya dengan sembarangan di samping tubuhnya. Dia malah memejamkan matanya. Merasa pening atas apa yang dia lalui seharian ini.
Tak ada hidayah yang lebih baik melainkan hidayah menerima Keesaan Allah.
Kansha seketika membuka matanya. Dia tersadar oleh ucapan Bu Warni dan Farah yang sama persis.
"Tapi apakah aku pantas?" gumamnya menjadi berkecil hati. Dia adalah manudia yang punya banyak kekurangan dan dosa, apakah pantas dia masuk ke dalam agama sesuci islam?
“Agama Islam sepertinya memang menarik.” Komentar Kansha.
Alan mengangguk membenarkan, “Aku memang bukan orang yang religius tapi aku selalu bangga dan beryukur bisa menjadi seorang muslim.”
Kansha tiba-tiba saja tersentak dengan perkataan Alan dulu ketika di pulau. Benar, siapapun berhak masuk islam baik itu laki-laki, perempuan, bahkan mantan narapidana sekalipun. Asalkan niat mereka sudah teguh atas nama Allah dan mengharap nikmat-Nya, maka tak ada alasan lagi untuk dia selalu berkelit. Kansha sudah tahu jawabannya dari kebimbangannya selama ini.
Dia ingin masuk islam.
Kansha tiba-tiba saja bangun dari rebahannya. Dan bagai ada secercah cahaya menyentuh lembut dirinya, hatinya menjadi tenang dan lapang. Kansha langsung keluar kamar dan hendak menemui kedua orang tuanya.
Begitu sampai di ruang makan, dimana ada Graca yang sedang berbincang dengan Andrian, Kansha menghentikan langkahnya.
"Eh, Kansha. Ayo makan." ajak Grace menyadari kehadiran putrinya.
"Ma, pa. Ada yang ingin kusampaikan pada kalian." tandas Kansha masih tetap berdiri di tempatnya.
"Apa?" tanya Grace penasaran.
"Sebelumnya aku ingin mengatakan bahwa apa yang hendak kusampaikan ini telah melalui pemikiran yang matang dan lama. Aku sudah lama memikirkannya dan saat ini aku merasa ini sudah saatnya."
Andrian dan Grace menunggu Kansha berbicara hingga selesai.
Dengan tekad di matanya, Kansha berucap tegas, "Aku ingin masuk islam." tandasnya mantap.
__ADS_1