My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 70.


__ADS_3

Aura mendorong kursi roda Aisyah menuju ke kamar inapnya kembali. Aura mengarahkannya ke depan jendela kemudian dirinya duduk di atas ranjang Aisyah. Mereka saling berhadapan.


“Ceritakan padaku ada apa sebenarnya?” tanya Aura.


“Mbak Kansha datang dan memberitahu soal berita gempa bumi dimana Alfin sedang menjadi relawan. Aku menyangkalnya dan bilang jangan percaya, tapi Mas Alan malah membentakku.” Tutur Aisyah sedih.


“Jadi itu sebabnya kamu pergi?”Aisyah mengangguk.


“Aisyah, seharusnya kamu tidak pergi begitu saja. Kamu jangan sampai membuat Alan berfikiran bahwa kamu wanita lemah karena gampang merajuk setelah dibentak satu kali.” Kata Aura gemas. Aisyah, gadis itu terlalu lemah. Bagaimana bisa dia bertarung dengan Kansha kalau mentalnya saja sudah melempem duluan.


“Tapi aku benar-benar sangat terkejut. Dalam hidupku, aku tidak pernah dibentak sekalipun. Aku sedih dan malu.” tukas Aisyah.


“Lalu sekarang bagaimana? Kamu meninggalkan Alan dan Kansha berdua saja. Kansha pasti merasa itu adalah kesempatannya mendekati Alan. Kalau kamu terus lemah seperti ini, maka jangan menangis bila Kansha berhasil merebut Alan.” kata Aura.


Aisyah membulatkan matanya. Matanya bergetar ketakutan. Dia tidak mau kehilangan Alan. Sama sekali tidak mau.


“Aku tidak mau kehilangannya, mbak. Aku mencintainya! Bagaimana bisa aku melakukannya.” Tukas Aisyah.


“Kalau begitu kuatlah. Jangan mau kalah dari Kansha!” seru Aura.


“Tapi caranya bagaimana agar aku bisa menyingkirkan Mbak Kansha dari hidup Mas Alan?” tanya Aisyah.


Aura menghembuskan nafas pelan. Dia berfikir sebentar. “Caranya hanya ada satu.” Kata Aura setelahnya.


Aisyah mendongak dan menatap Aura dengan berbinar-binar.


“Apa, mbak?”


“Buat mereka saling membenci.” Ujar Aura menatap Aisyah dalam-dalam.


***


Suasana di lokasi gempa, masih sama kacaunya. Hari makin naik, makin banyak korban berhasil diselamatkan. Ada yang tertimbun tanah, ada yang tergencet reruntuhan bangunan hingga ada yan terjebak di rumahnya karena akses keluar yang tertutup. Luka mereka juga tak ringan. Dan selama itu pulalah, tim evakuasi yang terdiri dari Tim SAR dan TNI serta tim medis, saling bahu membahu menyelamatkan para korban.


Sejak tadi pula, Nana tak henti-hentinya bekerja. Dia berlari dari satu bukit ke bukit lainnya membawa obat maupun para korban. Nana tak pernah beristirahat. Begitu ada panggilan dari tim evakuasi, maka dia langsung meluncur ke sumber suara. Dia bahkan sudah lupa dengan kondisi tubuhnya kini.


Nana berlari membawa sekotak obat dari posko evakuasi menuju bukit disebelahnya. Tempat para pengungsi. Para warga yang selamat memang belum bisa diangkut menuju kecamatan terdekat karena tadi hujan sempat mengguyur desa hingga tanah setapak yang merupakan satu-satunya akses jalan, becek dan licin. Belum lagi dengan kemungkinan resiko longsor yang menghantui di tiap sisi jalan, membuat mereka tak berani pergi. Itu sebabnya sambil menunggu bala bantuan, para pengungsi di ungsikan ke atas bukit yang lebih aman.


“Tadi siapa yang sakit perut?” tanya Nana pada pengungsi. Kemudian seorang ibu mengacungkan tangannya. Nana pun segera menghampirinya.


“Ibu meminta ini?” tanya Nana menunjukkan obat gosok. Ibu itu mengangguk.


“Bukan buat saya, tapi anak saya.” Kata ibu itu. dia menoleh pada seorang anak kecil yang terbaring dengan memegang perutnya.


Nana pun mendekati anak itu, Dia hendak memeriksanya. Dia membuka baju anak itu dan menaikkannya ke atas hingga dadanya. Tangan Nana pun menekan perut anak kecil itu, seketika anak itu meringis sakit. Nana pun menyasar ke beberapa bagian perutnya yang lain.


“Anak ibu mengalami sakit perut karena diare. Ditambah dengan cuaca dingin dan keadaan setelah gempa membuat penyakit cepat masuk.” Jelas Nana.


“Jadi bagaimana?” tanya ibu itu khawatir.


“Balurkan ini dulu pada perutnya nanti saya akan berkonsultasi pada dokter Alfin. saya takut ini akan menular pada anak lain. Dan jangan meminum air apapun lagi. Saya takut itu penyebabnya.”


Setelah itu, Nana kembali berlari menuruni bukit. Namun ditengah jalan, Nana berhenti. Dia memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit dan serasa kram.


“Kenapa perutku sakit? Apa aku terkena diare juga?” gumam Nana.


Nana berhenti sejenak sambil menekan-nekan perutnya dengan lembut, berharap rasa sakitnya mereda. Beberapa saat kemudian, perutnya tak sakit lagi, Nana pun kembali melanjutkan langkahnya. Tak lama, dia sampai di posko pengobatan.


“Alfin!” teriak Kansha begitu melihat Alfin di kejauhan. Dilihatnya Alfin sedang berbicara dengan salah satu perawat.


Alfin menoleh ke sumber suara, ada Nana yang melambaikan tangannya.


“Berikan korban cairan IV dulu setelah itu pantau kondisinya.” Kata Alfin. Perawat itu mengangguk kemudian pergi.


Melihat perawat itu sudah pergi, Nana pun bergegas menghampiri Alfin. Namun begitu beberapa langkah lagi, Nana tersandung kakinya sendiri dan hendak jatuh. Alfin yang melihatnya langsung sigap menangkap tubuh Nana.


Grep


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Alfin cemas.


Nana menghela nafas lega, “Aku tidak apa-apa. Terima kasih.” Kata Nana melepaskan rangkulan Alfin.


“Kamu harus berhati-hati! Ini bukan taman bermain yang membebaskanmu berlari-lari seperti itu. Ini tanah bencana! Kalau kamu tadi terluka bagaimana?” seru Alfin marah.


“Aku tidak sengaja. Siapa yang tahu aku akan tersandung kakiku sendiri.” Rutuk Nana.


“Jadi ada apa? Kenapa kamu berlari-lari seperti itu?” tanya Alfin.


Oh ya aku hampir lupa! Jadi tadi ada anak kecil yang mengeluh sakit perut dan kuduga itu karena diare. Aku takut air minum yang mereka minum itu terkontaminasi.”


“Sudah kuduga ini akan terjadi. Selalu bahaya kalau ada satu orang yang mengeluh diare, maka yang lainnya pun akan mengeluh hal yang sama. Ini seperti penyakit menular-tidak menular.” Tanggap Alfin.

__ADS_1


“Jadi bagaimana?” tanya Nana.


“Aku akan menyuruh seseorang untuk memeriksa air minum mereka. Dan yang sakit, pindahkan mereka ke tenda lain, jangan disatukan denagn yang sehat. Untuk meminimalisir lebih banyal orang yang sakit lagi.”


“Baiklah.” Angguk Nana mengerti. “Kalau begitu, aku dan beberapa relawan perempuan akan mengecek kesehatan para pengungsi satu persatu dan membawa yang sakit ke tenda lain.” Lanjut Nana.


“Baiklah.” Ujar Alfin.


Nana pun tersenyum kemudian berbalik pergi. Tapi suara panggilan Alfin menghentikan langkahnya. Nana pun lekas berbalik menghadap Alfin lagi.


“Nana.”


“Apa?”


“Jangan terluka.” Kata Alfin serius dan pelan. Nana mengangguk dengan tersenyum,


“Yes, sir! Kamu juga jangan terluka ya.” Sahut Nana riang. Setelah itu, Nana melambaikan tangan dan kembali pergi.


Alfin balas melambaikan tangan begitu punggung Nana sudah menghadapnya lagi. Alfin memperhatikan Nana yang berlari menjauh dan setelah tak kelihatan punggungnya, Alfin pun pergi.


***


Kansha masih berada di kantin rumah sakit. Meski pertemuannya dengan Alan sudah selesai tiga puluh menit lalu, Kansha masih betah duduk di kantin sendirian. Entah berapa banyak pemikiran yang menganggu otaknya. Entah berapa banyak emosi yang bersarang di hatinya. Kansha hanya ingin sendirian.


Lalu di kejauhan siluet seseorang muncul. Orang itu adalah Alvaro. Dia sedang berbicara dengan salah satu dokter kenalannnya. Alvaro belum sadar, ada Kansha yan berjarak dua ratus meter didepannya.


“Aku akan mengabarimu begitu hasil lab sudah keluar. Jangan khawatir dan tetaplah jaga kesehatanmu.” Ujar dokter itu pada Alvaro. Dia adalah teman lama Alvaro sewaktu kuliah dulu. Namanya Kenan.


“Aku sudah pasrah tentang apapun hasilnya. Kalau aku negatif, maka aku harus bersyukur. Tapi kalau ternyata positif..” Alvaro tak melanjutkan kata-katanya.


Kenan menepuk pundak Alvaro, “Kalau hasilny positif, maka aku akan melakukan upaya yang terbaik untuk membantumu.”


Alvaro tersenyum. “Terima kasih. Sudah kuduga kamu akan mengatakan itu.”


Alvaro lalu menatap lurus kedepan. Melihat lalu lalang orang-orang di kantin rumah sakit. Lalu matanya terpaku pada seseorang perempuan yang duduk menyendiri di salah satu meja. Dilihat dari jauhpun, Alvaro sudah tahu bahwa itu Kansha.


“Kita makan siang dulu di kantin. Makanan kantin rumah sakit masih lumayan enak dibanding makanan pasien.” Ucap dokter itu.


Alvaro memutuskan pandangannya pada Kansha dan beralih menatap temannya lagi.


“Aku tidak bisa makan siang denganmu hari ini. Akan kutraktir kamu lain kali.” Ujar Alvaro sembari menepuk pundak temannya.


“Ya sudah, sepertinya kamu juga sangat sibuk. Aku juga harus mengecek kondisi pasien ku.”


“Tenang saja. Aku duluan ya.”


“Sampai jumpa!” alvaro melambaikan tangannya sekali. Kenan pun pergi.


Selepas kepergian temannya, Alvaro langsung menghampiri Kansha. begitu sampai didepannya, Alvaro tersenyum tipis tatkala menyadari bahwa Kansha tengah tertidur. Alvaro lalu duduk di depan Kansha.


Cara Kansha tidur sungguh unik. Dia tidur sambil duduk. Orang lain pun tak akan menyadarinya. Ditambah dengan kacamata yang melekat di matanya. Orang lain akan melihat bahwa Kansha hanya sedang duduk.


Alvaro duduk sambil melipat tangan. Dia menatap dengan intens pada visual Kansha yang masih nampak cantik meski tengah tertidur. Dirinya makin menyesal karena tidak mengenal Kansha saat SMA dulu. Namun ini bukan berarti sudah terlambat, dia masih punya waktu mengenal Kansha dan akan Alvaro gunakan waktu itu sebaik-baiknya.


Tak lama, Kansha menggeliat pelan. Dia lalu membuka matanya dengan pelan. Dia menguap kecil. Dirinya yang setengah sadar, kini tersadar sepenuhnya ketika matanya bertemu pandang dengan Alvaro. Kansha pun langsung duduk tegak.


“Sejak kapan kamu disini?” pekik kecil Kansha.


“Sudah dua puluh menit yang lalu. Kamu tidur sangat pulas sekali. Begitu pulasnya, hingga orang lain mungkin tak menyadari bahwa kamu tengah tertidur.” Kata Alvaro setengah menyindir.


“Dua puluh menit? Itu terlalu singkat.” Tukas Kansha sambil menguap. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Alvaro.


Alvaro membelalak terkejut, dia tidak mengerti dengan jalan fikiran Kansha. Wanita lain mungkin akan merasa malu karena tertidur cukup lama bahkan didepan umum. Tapi Kansha, dia malah mengeluh karena waktu tidurnya kurang.


“Kamu luar biasa.” Puji Alvaro bertepuk tangan.


“Jadi apa yang kamu lakukan disini? Kamu bukan datang untuk menemuiku kan?” tanya Kansha santai.


“Tentu saja tidak. Mana kutahu kalau kamu ada disini. Aku sedang bertemu teman lamaku yang menjadi dokter disini.” Jawab Alvaro. Kansha ber’oh’ ria,


“Kamu sendiri? Kamu tidak mungkin datang ke rumah sakit untuk tidur kan?”


“Tentu saja tidak. Aku datang kesini untuk menemui temanku, keluarganya dirawat di rumah sakit ini.”


“Lalu kenapa bisa kamu berakhir tidur disini?”


“Itu karena aku terlalu lelah. Aku tidak tidur semalam.” Kata Kansha malu.


“Kenapa kamu tidak tidur? Pekerjaanmu terlalu banyak?”


“Bukan itu.” Kansha menggeleng. “Aku hanya kefikiran soal Nana.”

__ADS_1


“Nana? Ada apa dengannya?”


“Alvaro, kamu tidak lihat berita?” Kansha malah bertanya balik. Alvaro pun menggeleng polos.


Kansha berdecak, “Kamu pengacara tapi tak pernah melihat berita? Waktumu dihabiskan apa saja sih?”


“Setelah kasus panti asuhan itu aku menerima lebih banyak kasus lain. Jadi belakangan ini aku sibuk hingga tidak punya waktu untuk sekedar menyalakan televisi.”


“Kamu tidak punya waktu tapi masih sempat mengobrol dengan teman lamamu?”


Alvaro menbuka mulutnya namun tidak dan buru-buru mengatupkan bibirnya. Hampir-hampir dia akan keceplosan dan bilang dia kesini untuk memeriksa sesuatu. Bertemu teman lamanya, hanyalah alibinya saja.


“Itu karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Dia menikah bulan lalu dan aku tidak sempat datang. Jadi aku datang sekalian memberikan hadiah pernikahan.”


“Iya saja deh.” Tukas Kansha acuh.


“Aku serius tahu!”


“Iya-iya.”


“Kita kembali ke topik sebelumnya, apa maksudmu dengan aku tidak melihat berita?”


Kansha menghela nafas, “Kemarin ada berita soal bencana gempa bumi. Kamu tahu?” Alvaro menggeleng.


“Sudah kubilang aku tidak melihat berita.”


“Oh ya aku lupa.” Kansha menepuk jidatnya. Otaknya mulai malfungsi.


“Lalu?”


“Lalu tempat kejadian gempa itu di salah satu kecamatan di Kalimantan Barat. Dan baru kusadari bahwa itu tempat Nana menjadi relawan."


"Apa?" pekik Alvaro.


"Kamu serius? Kamu tidak sedang becanda bukan?"


"Aku serius saat ini." timpal Kansha.


Alvaro terhenyak di kursinya. Dia mengusap kepalanya dengan kasar. Jadi dia mengirim Nana ke lubang neraka?


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Alvaro tak sabaran.


"Aku baru mendengar kabar bahwa Nana selamat dan kini menjadi relawan disana."


"APA? RELAWAN?!"


"Kamu kenapa sih, tidakkah kamu sadar bahwa tanggapanmu sedikit berlebihan?" Kansha mengeryit aneh.


Alvaro mendesah keras, dia menatap Kansha dengan frustasi, "Maksudku, bagaimana bisa dia menjadi relawan disana sedangkan dia sedang ha--" Alvaro menutup mulutnya. Dia hampir keceplosan.


"Sedang apa?" tanya Kansha menaikkan alisnya.


"A-apa?" tanya Alvaro gugup.


"Perkataanmu belum selesai. Nana sedang ha..apa?"


"Sedang haid! dia sedang haid benar kan? dia akan sangat kesulitan disana nanti." ujar Alvaro terkekeh garing.


Kansha menyipitkan matanya. Dia menatap menyelidik pada Alvaro. Kansha rasa bukan itu maksud Alvaro sebenarnya. Jelas bahwa lelaki dihadapannya ini tengah menyembunyikan sesuatu.


"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Katakan!" tekan Kansha.


"Aku tidak menyembunyikan apapun kok." sangkal Alvaro berusaha tenang.


Kansha mencondongkan tubuhnya, dia menggebrak meja dengan pelan namun berhasil mengintimidasi Alvaro.


"Katakan atau kalau tidak aku akan memotong kemaluanmu!" ancam Kansha.


Alvaro menelan ludahnya ketakutan.


"Katakan Alvaro! atau aku akan sangat membencimu."


"Baiklah." Alvaro akhirnya menyerah. Dia tidak mau dibenci oleh Kansha sama sekali.


"Apa?" todong Kansha.


"Kuharap, kamu tidak akan memukulku setelah aku mengatakannya." kata Alvaro mencoba berkompromi dulu.


"Katakan saja dulu." tukas Kansha tak sabar.


Alvaro menghembuskan nafas pelan, "Nana..dia sedang hamil."

__ADS_1


"APA?!"


Kansha membulatkan matanya. Dia bangkit karena terkejut luar biasa.


__ADS_2