My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 78.


__ADS_3

Pagi menyingsing menyinari desa Mauri. Alfin terbangun ketika terdengar suara ayam berkokok. Alfin menggerakkan kepalanya yang terasa pegal karena tertidur dengan melipat tangannya. Setelah itu Alfin menengok ke arah Nana, perempuan itu masih tertidur lelap.


Alfin bangkit dan bersiap melaksanakan shalat shubuh. Namun sebelum itu, dia menghampiri beberapa rekan kerja wanitanya untuk menemani Nana kalau-kalau Nana sudah sadar.


Usai mengerjakan shalat subuh, Alfin duduk mengobrol bersama rekan kerjanya. Namun bukannya ikut mengobrol, Alfin malah asik melamun. Dia tidak tahu harus menghadapi Nana bagaimana. Dia juga tak bisa menemui perempuan itu sekarang karena takut akan meledak. Alfin mendesah pelan. Kepalanya makin pusing semakin memikirkannya.


Tak lama, seorang tentara menghampiri mereka diikuti seseorang pria berperawakan tinggi dengan celana jeans yang kotor karena tanah.


“Dokter Alfin.” panggil tentara itu. Tapi Alfin bergeming, hingga Andy yang duduk disampingnya menepuk bahunya. Alfin terkesiap, dia menoleh pada Andy dan Andy menunjuk ke arah belakang Alfin.


“Dokter Alfin, ada seseorang yang katanya ingin menjemput seorang relawan disini.” Kata tentara itu.


Alfin bangkit dari duduknya. Dia menelisik pria asing itu dengan pandangan bertanya.


"Siapa.." tanya Alfin bingung.


“Saya Ruben. Dan saya kesini ingin menjemput Nana.” ucap lelaki itu.


Mendengar perkataan pria asing itu, Alfin terkejut bukan main.


***


Disisi lain, Nana juga sudah terbangun. Tubuhnya pun sudah lebih baik dan terasa segar. Nana pun menyadari kehadiran Ririn dan Putri. Mereka berdua yang diminta Alfin menjaganya.


“Kak Nana sudah sadar?” tanya Putri. Nana mengangguk.


“Ada yang sakit? Sebentar aku periksa dulu.” Ririn pun menempelkan stetoskop pada nadi Nana setelah itu melepasnya lagi.


“Sekarang sudah tidak apa-apa. Tapi jangan melakukan hal yang berbahaya lagi. Janin kamu sangat lemah.” Ucapnya.


Nana mematung kaget. Tubuhnya membeku ditempat. Mereka sudah tahu?


“Kalian...” Nana tak meneruskan ucapannya.


Ririn dan Putri mengangguk.“Kamu pingsan kemarin malam hingga Alfin kalang kabut. Dan setelah diperiksa kamu ternyata sedang mengandung.” Jelas Ririn.


Nana makin membeku. Jantungnya berdegup kencang. Kalau Alfin kalang kabut ketika dia pingsan, itu berarti Alfin tahu dia sedang mengandung. Bagaimana dia nanti menghadapi Alfin? dan apa yang harus dia katakan? Alfin pasti akan menuntut penjelasan darinya. Nana mengacak rambutnya merasa frustasi.


“Iya, dokter Alfin mungkin akan dapat SP karena mengizinkan perempuan hamil menjadi relawan terlebih lagi di daerah terdampak bencana.” Tambah Putri.

__ADS_1


“Tapi kenapa kamu merahasiakan hal ini? kamu tidak---“


Plak


“Aw!” tiba-tiba Putri dipukul oleh Ririn. Putri pun berhenti bicara ketika Ririn melirik Nana.


Nana menoleh pada keduanya. Dia tahu apa yang dimaksud Putri. Nana menghela nafas.


“Aku sudah tidak apa-apa. Kalian bisa keluar sebentar? Aku ingin sendirian.” Pinta Nana sedikit mengusir.


Putri dan Ririn saling berpandangan dengan mata Ririn yang melotot padanya. Putri menggeleng pelan sebagai isyarat bahwa itu bukan salahnya.


Tiba-tiba Nana berdeham menghentikan tindakan isyarat kedua perempuan dihadapannya. “Aku benar-benar ingin sendirian.” Tegas Nana.


Ririn dan Putri kembali berpandangan. Lalu Ririn dan Putri bangkit dari duduknya.


“Kalau begitu, kami pergi dulu. Jangan lupa dimakan buburnya. Oh ya, karena ibu hamil tidak bisa minum obat sembarangan. Aku cuma bisa memberi kamu vitamin saja.” Kata Ririn.


“Terima kasih.” Ucap Nana tersenyum sambil mengambil botol vitamin yang diberi Ririn.


“Sama-sama. Kalau begitu kami permisi.” Pamit Ririn dan Putri. Mereka pun keluar posko meninggalkan Nana sendirian.


Larut dalam fikirannya, Nana tak sadar tendanya terbuka. Dibaliknya, muncul dua pria berperawakan tinggi. Nana menoleh ketika tenda posko terdengar disibakkan. Matanya langsung melebar tatkala yang datang adalah Alfin dan RUBEN?!


***


Kansha terbangun dengan alarm yang menyala nyaring. Dia mematikan alarm ponselnya dan melihat jam sudah menunjukkan angka enam pagi. Kansha langsung duduk dan meregangkan tubuhnya. Dia sepertinya belum sadar bahwa dia bukan berada di kamar miliknya.


Kansha turun dari ranjang, dia menghampiri jendela lebar disamping ranjangnya. Kansha menyibakkan tirai putih dan cahaya hangat matahari langsung menerpa wajahnya dengan halus.


Usai menikmati cahaya matahari, Kansha segera membereskan kasur Alan dan merapikan kamarnya. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Setelah segar, Kansha keluar kamar.


Begitu keluar kamar, bau hangat roti panggang langsung tercium di inderanya. Kansha menuju dapur dan siluet punggung tegap Alan menjadi pemandangan menakjubkan paginya.


“Selamat pagi.” Sapa Kansha.


Alan yang sedang memunggunginya berbalik dan menatap Kansha dengan senyuman menawan.


“Pagi, tidur kamu nyenyak?”

__ADS_1


Kansha mengangguk, “Mobilku sudah kamu ambil?”


“Sudah. Aku mengambilnya tadi subuh.” Jawab Alan sambil berjalan membawa dua gelas susu ke meja makan. Kansha mengikutinya.


“Terima kasih. Dimana kunci mobilnya? Aku mau pulang.”


Alan yang tengah menata meja makan seketika berbalik. “Sarapan dulu saja.” Katanya singkat.


Kansha menggeleng tidak mau, “Aku sudah terlalu lama disini. Aku sarapan di kantor saja.” Tolaknya.


“Kalau begitu tak akan kuberikan kunci mobilmu.” Ancam Alan.


Kansha berdecak sebal, “Kamu kekanakkan sekali sih. Mana kunci mobilku?” pinta nya lagi.


“Akan kuberi ketika kamu selesai sarapan.” Tegas Alan tak mau kalah.


Kansha berdecak kesal. Tiba-tiba dia langsung mendekati Alan dan meraba-raba saku jaketnya. Alan berusaha menghindari Kansha yang tengah mencari kunci mobilnya.


“Mana kuncinya?” seru Kansha. Dia masih berusaha menyerang Alan.


“Tidak ada disana.” Jawab Alan sibuk menepis serangan Kansha.


Kansha terus menyerang Alan dengan menggelitiknya, bahkan menonjoknya. Tapi Alan bergeming. Dia terus berkelit dengan mengatakan tak akan memberikan kuncinya pada Kansha.


“Mana kuncinya Alan?!” pekik Kansha sudah kehilangan kesabaran. Dia menarik jaket Alan dengan keras.


“Tak akan ku—Oh!” Kansha menarik jaket Alan terlalu keras hingga Alan tak sempat menahannya. Kansha yang kehilangan keseimbangan terjatuh dengan Alan diatasnya.


Bruk


Kansha dan Alan mematung. Mata mereka melebar saking terkejutnya. Dan tidak menyadari bahwa mereka saling menatap manik satu sama lain. Jantung Kansha berdegup cepat. Sedangkan Alan tiba-tiba memegang dada kirinya. Suara degupannya anehnya sangat kencang dan terasa oleh Kansha. Kansha menatap horor dan langsung mendorong Alan hingga terjatuh dari tubuhnya.


Kansha bergegas berdiri. Begitupun Alan yang berdiri canggung.


“Aku mandi saja dulu. jangan lupa taruh kunci mobilnya di atas meja.” Ucap Kansha cepat.


Tanpa menunggu jawaban Alan, Kansha cepat-cepat pergi ke kamar.


“Tadi itu apa?” rutuknya dengan wajah memerah.

__ADS_1


Disisi lain, Alan hanya mampu terdiam. Dia memegang dada kirinya. Degupan jantungnya yang tak biasa masih terasa kencang. Wajahnya tiba-tiba memerah.


__ADS_2