
“Aku ingin masuk islam.”
Klontang
Uhuk
Sendok yang dipegang Grace seketika jatuh dan menimbulkan suara keras ke lantai. Sedangkan Andrian tersedak oleh makanannnya.
“Kamu melindur atau mabuk sih? Bicara asal begitu.” Tukas Grace. Kansha yang melihat reaksi orang tuanya hanya meringis kecil. Sudah dia tahu dia pasti akan dianggap tak waras oleh orang tuanya.
“Aku serius, ma. Aku sudah memikirkannya matang-matang dan keputusanku sudah bulat. Aku ingin berpindah keyakinan.” Jelas Kansha lagi. Kini dengan nada lebih meyakinkan.
Andrian dan Grace saling bertukar pandang. Mereka sadar bahwa Kansha tak main-main dengan ucapannya.
“Duduklah.” Ucap Andrian dulu. Kansha mengangguk, dia lekas duduk di ujung meja, di depan kedua orang tuanya.
“Katakan, kenapa kamu ingin berpindah keyakinan?” tanya Andrian.
“Aku—“
“Ingat, jangan becanda! Keyakinan bukan untuk dipermainkan. Kamu harus serius dan teguh dengan keputusan kamu. Apalagi kalau kamu melakukan ini karena kamu akan menikah dengan Alan yang bukan sekeyakinan denganmu.” Potong Grace.
Kansha yang tadi disela mengangguk. “Aku tahu, ma, pa. Tapi aku serius. Alasannya, bukan karena aku akan menikah dengan Alan. itu sungguhan keinginan dari hatiku. Selama ini aku tidak pernah tenang. Mama tahu alasan aku tak pernah ke gereja bahkan untuk sekedar berdoa? Itu karena aku merasa ada sesuatu dalam diriku yang memberontak. Dan aku sudah menemukan jawabannya. Yaitu islam.” Jelas Kansha.
“Kamu yakin alasannya karena itu? bukan karena Alan atau keluarga kandungmu?” sela Grace.
Kansha terkejut mendengarnya, “Darimana mama---“ dia tidak meneruskan ucapannya.
Grace terlihat salah tingkah yang membuat Kansha makin menebak-nebak hingga dia sampai pada satu tebakan yang paling masuk akal.
“Mama...juga mencari kedua orang tuaku?” tebak Kansha.
Grace terdiam sesaat lalu mengangguk pelan. “Kami sudah mencarinya cukup lama.”
“Lalu sejak kapan mama tahu?” tanya Kansha lagi.
“Tepat pada malam kematian ayah kandungmu.” Timpal Andrian.
“Oh.” Angguk Kansha.
“Dan kamu, sejak kapan kamu tahu siapa orang tua kandungmu?” tanya Grace balik.
Kansha terdiam sesaat.
“Sudah cukup lama. Hanya saja karena aku masih tak yakin sebelumnya.” Jawab Kansha.
“Kenapa tidak bilang pada kami?”
“Apa yang harus kukatakan? Aku bahkan tidak tahu bahwa kalian juga mencarinya.”
Grace dan Andrian terdiam mendengarnya begitupun Kansha yang hening setelahnya. Mereka sama-sama terdiam. Sama-sama terkejut dengan fakta masing-masing.
“Jadi, keputusanmu sudah bulat?” tanya Andrian kembali pada fokus pembicaraan sebelumnya.
Kansha mengangguk, “Bukan karena orang tua kandungku juga seorang muslim. Tapi kurasa memang sedikit ada hubungannya.” Ralat Kansha cepat. “Tapi pada dasarnya karena aku sendiri. Aku sudah bertanya pada banyak orang dan aku sudah cukup lama mengenal islam meski baru-baru ini aku jatuh hati.” Lanjutnya.
Andrian mendesah begitupun Grace. Mereka saling diam hingga Kansha merasa gugup tanpa alasan. Sejujurnya, dia tak yakin bila orang tuanya akan menentang. Itu karena Grace dan Andrian adalah orang yang berfikiran terbuka. Tak mungkin mereka akan mengekang kebebasannya. Tapi dia juga tak yakin bahwa mereka akan menyetujuinya. Apalagi ini terlalu mendadak.
Lalu keraguan demi keraguan yang menekan dada Kansha lenyap tatkala melihat orang tuanya mengangguk.
__ADS_1
“Kalian mengizinkannya?” tanya Kansha memastikan.
Dan Andrian juga Grace kembali mengangguk sebagai jawaban. Kansha tersenyum sumringah.
“Terima kasih, ma, pa!” ucapnya terharu.
“Kami sadar bahwa itu adalah hidupmu. Kamu yang memutuskan dan kamu yang menjalaninya. Kami hanya bisa berpesan agar kamu jangan pernah bemain-main dengan agama apapun. Kamu punya Tuhan yang akan meminta pertanggung jawabanmu nanti. Jadi meski kamu berbeda keyakinan dengan kami nantinya, kami tetap orang tuamu dan kamu tetap anak kami.” Ucap Grace.
Kansha makin tersenyum lebar. Prasangkannya pada orang tuanya tepat. Bahwa mereka tak mungkin menentangnya. Andrian dan Grace adalah orang tua terbaik baginya.
“Meski nanti aku seorang muslim, dan pastinya akan menjalani prosesi pernikahan dengan islam, aku ingin kalian tetap hadir disana.” Pinta Kansha.
Andrian dan Grace mengangguk pasti, “Tentu. Meski papa tidak bisa menikahkanmu, papa tetap bahagia bisa menyaksikan putri semata wayang papa menikah.” Sahut Andrian tersenyum.
Kansha makin tak bisa menahan keharuan. Dia bergegas berdiri dan berlari ke pelukan orang tuanya. Dia memeluk erat Andrian dan Grace dan mengucap terima kasih amat sangat.
“Terima kasih, ma, pa. Aku mencintai kalian.” Bisik Kansha terisak.
“Sama-sama, sayang. Kami juga mencintaimu. Tetap bahagia ya, nak.” Sahut Grace ikut menangis.
Dan Kansha berani jamin, bahwa dia bukan lagi Upik Abu yang bermimpi menjadi Cinderella. Karena dia sudah menjadi Cinderella sejati. Tanpa syarat dan tanpa batas waktu.
***
Dan kabar Kansha yang hendak menjadi muaalaf itu menyebar secepat angin. Setelah memberitahu kedua orang tuanya, dia juga memberi tahu Alan dan keluarganya. Nana, Ruben dan Alvaro amat terkejut mendengar berita mendadak itu. Meski begitu mereka tetap bahagia dan mendoakannya agar bisa menjadi pribadi lebih baik dan konsisten dengan keputusannya. Tapi diantara semuanya, yang paling bahagia adalah Aisyah. Perempuan itu terharu dan bersyukur bahwa satu-satunya keluarganya tersisa mau memeluk islam sepertinya.
Dan Bu Warni juga orang yang paling menyambut baik kabar bahagia ini. Bersama Farah, Kansha diberi wejangan dan pesan tentang keinginan mualafnya. Dan Kansha resmi masuk islam di Hari Jum’at ba’da Dzhur dengan disaksikan semua orang tercintanya. Dia bersaksi atas tauhidnya dengan linangan air mata. Kansha tak pernah merasa seemosional ini sebelumnya. Ada rasa keharuan dan kerinduan mendalam begitu dia mengucap dua kalimat syahadat.
Setelah proses mualaf, Kansha duduk berdampingan dengan bunda di taman masjid. Lalu bunda menyerahkan sesuatu ke pangkuan Kansha.
"Apa ini, bunda?" tanya Kansha bingung.
Kansha pun membuka kotak misterius itu dan seketika terpaku. Hadiah yang diberikan bunda adalah sebuah mukena putih tulang dengan hiasan renda di tepinya.
"Ini..sungguh indah, bun." puji Kansha tak bisa berkata-kata.
Bunda tersenyum, "Ini adalah hadiah dari bunda. Selamat ya, Na, kamu resmi menjadi seorang muslimah. Semoga kamu bisa memakai mukena ini dengan sebaik-baiknya. Bersujudlah dengan khidmat acapkali kamu shalat nanti. Insyaallah Allah akan selalu menyertai jalanmu."
Kansha mengangguk mengerti, dia mengusap mukena itu dengan lembut. "Kansha tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Rasanya seperti semua beban yang menyiksa Kansha lenyap seketika begitu Kansha msngucapkan dua kalimat syahadat. Kansha juga senang sekali karena semua orang yang Kansha sayangi, mendukung keputusan ini." ucapnya.
"Bunda sangat bahagia begitu mendengar bahwa kamu akan masuk islam dari Alan. Bunda kira, bunda sedang berhalusinasi." timpal bunda.
Kansha tersenyum mendengarnya, semua orang yang mendengar kabar ini juga tirut merasakan kebingungan dan keterkejutan. Mereka berfikir bahwa mereka bermimpi atau mereka sedang dikerjai.
"Terima kasih bunda atas semuanya." ucap Kansha menatap bunda.
Bunda tersenyum mengangguk, "Sama-sama. Kamu kan calon menantu Bunda. Jadilah istri solehah ya, Nak." pesan bunda sembari mengusap hijab putih yang dipakai Kansha.
"Insyaallah, bun." angguk Kansha.
***
Dan setelahnya, Kansha mulai membiasakan diri menerapkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-harinya. Dia yang selalu bangun siang, kini memasang alarm agar bangun lebih pagi untuk melaksanakan shalat Subuh. Tapi karena belum terbiasa, tak jarang Kansha melewatkan alarmnya. Namun ada Alan yang menjadi alarm bangun pagi lainnya. Lelaki itu menelfon Kansha pukul empat pagi untuk membangunkannya.
Dan Kansha juga masih awam tentang pengetahuannya seputar islam. Alhasil Bu Warni dengan senang hati menawarkan pelajaran agama pada Kansha termasuk mengaji. Jadilah setiap sore Kansha menyempatkan diri ke sekolah madrasah Bu Warni untuk belajar agama. Dan bila dia tidak membawa mobil, maka Alan selalu sigap menjadi supirnya kapanpun.
Seperti saat ini, Kansha baru saja selesai belajar dan Alan sudah bertengger manis di pelataran madrasah untuk menjemputnya.
Kansha pun dengan senyum merekah masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan Bu Warni.
__ADS_1
"Bagaimana pelajarannya?" tanya Alan ketika mereka di dalam perjalanan.
"Sangat menyenangkan. Semakin kukorek tentang Islam, semakin menarik. Aku sangat suka sekali."seru Kansha antusias.
Alan tersenyum mendengarnya, "Sejak kamu memutuskan muaalaf, aku tak henti-hentinya mengucap syukur. Kini kita tidak memiliki penghalang apapun lagi."
"Tapi, Lan, tidak masalahkah untukmu bahwa aku masih belum berhijab?" tanya Kansha dengan nada hati-hati. Pasalnya meski sudah memutuskan muaalaf, Kansha masih belum memakai hijab. Dirinya baru memakai pakaian serba panjang saja.
Alan tersenyum menenangkan, "Tidak apa-apa. Semuanya perlu proses. Jalani saja perubahanmu dengan senyamannya ya. Insyaallah suatu saat nanti kamu pasti tergerak untuk menjadi muslimah seutuhnya. Aku doakan." ucapnya.
"Terima kasih, Alan." balas Kansha tulus.
"Untuk apa berterimakasih?" tanya Alan.
"Karena kalau bukan kamu yang pertama kali mengenalkan islam padaku, aku mungkin tidak akan sebahagia sekarang. Aku menyadari bahwa pertemuan denganmu sudah mengubah hidupku." ucap Kansha.
"Aku juga. Hidupku mendadak berubah sejak kedatanganmu. Lebih berwarna, lebih ramai dan lebih nyaman. Aku tidak yakin bagaimana hidupku seandainya aku tidak bertemu kamu." balas Alan sambil menatap Kansha dengan senyum lembutnya.
Kansha balas tersenyum. "Kini, kita tinggal mempersiapkan pernikahan kita. Oh ya, ada yang ingin kutanyakan." ucap Kansha.
"Apa?" tanya Alan.
"Apakah papaku boleh tetap menghadiri akadku?" tanya Kansha.
"Tentu saja. Hanya saja, beliau tidak bisa menjadi wali nikah. Karena syarat wali nikah haruslah beragama islam." jawab Alan.
"Lalu siapa yang akan menjadi walinya?"
"Apakah dari keluarga Aisyah, ada paman atau saudara laki-laki?"
Kansha terdiam lalu mengendikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Kalaupun ada pastilah akan sangat canggung."
***
"Wali nikah?"
Setelah perbincangannya dengan Alan, Kansha langsung mendatangi Aisyah untuk bertanya.
"Setahu Aisyah, ada. Itu adalah kakaknya Abi. Tapi--" Aisyah menjeda ucapannya. Nampak ragu dan bimbang.
"Tapi kenapa?"
"Paman Aisyah itu, sangat membenci kami. Tepat ketika semua aset Abi ludes dirampok, semua keluarga menjauhi kami termasuk kakak lelakinya. Padahal disaat beliau kesusahan, Abi selalu membantunya. Siapa sangka begitu keadaan berbalik, dia tidak mau membantu bahkan memutuskan ikatan keluarga." jelas Aisyah. Ada sedikit nada marah tersirat dari nadanya.
"Lalu dimana dia sekarang?"
Aisyah menggeleng tidak tahu.
"Kamu tidak memiliki informasi apapun lagi soalnya?" tanya Kansha memastikan.
"Saat kejadian itu, Aisyah baru lahir. Itupun diceritakan oleh umi. Wajahnya bahkan Aisyah tidak tahu."
Kansha menghela nafas. "Ya sudah. Kalau begitu kita pakai wali hakim saja." putus Kansha.
"Tapi kalau kakak ingin mencarinya, sepertinya bisa. Ada seseorang yang mengenalnya dengan baik."
Kansha memperbaiki posisi duduknya, "Siapa?"
"Mbak Aura." tandas Aisyah.
__ADS_1