
Kansha menghentikan langkahnya kala Aura berdiri bersandar di hadapannya. Dan Aura yang melihat kehadiran Kansha langsung berdiri tegak dan menghampirinya.
“Berita yang mengejutkan.” Ucapnya dengan senyum menyebalkan.
“Ini perbuatanmu?” tanya Kansha.
Aura menggeleng sambil terkekeh geli, “Aku adalah perempuan, bagaimana bisa suaraku menjadi laki-laki? Lagipula aku ada di barisan penonton, kamu juga tahu hal itu.”
“Mungkin benar bukan kamu. Karena kalau iya, maka tindakanmu sangat kekanak-kanakan.” Timpal Kansha kemudian langsung berjalan pergi meninggalkan Aura.
Aura hanya tersenyum kemudian berkata dengan riang, “Hari peringatan Kania dua hari lagi, dan selagi menunggu itu, nikmatilah kebencian yang ada.” serunya setelah itu berlalu pergi.
Kansha menghentikan langkahnya. Rautnya datar dan seakan tak terpengaruh. Perempuan itu tak menanggapinya dan langsung melanjutkan langkahnya.
***
“Apa?”
Alan sangat terkejut kala mendengar ucapan dari Alfin. Dia langsung mengecek internet dan berita tentang Kansha menjadi trending. Dia mengklik sebuah berita dan belasan komentar bernada kebencian serta kekeceawaan langsung menarik perhatiaannya. Di antaranya banyak yang merasa marah karena masa lalu Kansha hingga banyak spekulasi muncul bahwa Kansha membunuh kakaknya agar bisa menjadi satu-satunya putri Williams. Mereka mengatakan Kansha kriminal dan berbagai sebutan lainnya. Alan berdecak kesal. Mereka yang tidak tahu apa-apa langsung saja menyimpulkan sendiri. Mereka tergiring oleh opini yang tidak terbukti kebenarannya.
“Aku sudah mencoba menghubungi Kansha lebih dulu sebelum menghubungi mas, tapi ponselnya tidak aktif. Aku takut terjadi sesuatu dengannya.” suara Afin kembali terdengar.
“Mas akan pulang sekarang.” Tandas Alan.
“Mas juga jangan panik dulu. Aku akan mencari Kansha lebih dulu. Mas masih memiliki jadwal penerbangan disana, jadi jangan mengecewakan para penumpang maskapai mas.” Ucap Alfin.
“Kansha jauh lebih penting! Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya? mas tidak akan memaafkan diri mas kalau sampai itu terjadi!” serunya merasa khawatir. Dia tidak tahu bagaimana kondisi Kansha terutama mentalnya karena ini.
“Mas, percayalah, Kansha tidak apa-apa. Jangan korbankan seratus orang penumpang mas hanya gara-gara ini. Aku akan mencari tahu keadaan Kansha dahulu." bujuk Alfin.
Alan menghela nafas kasar, "Kabari mas begitu kamu menemukan Kansha." pungkasnya.
"Akan kubari. Mas tenang saja. Fokus pada penerbangan mas, jangan terpengaruh dan akhirnya malah membuat semakin buruk."
Alan mengangguk. "Baiklah." katanya.
Kemudian telfon ditutup oleh Alfin. Dan Alan masih terdiam di tempatnya. Fikirannya jadi semrawut. Dia lalu menghidupkan televisi dan berita tentang Kansha sedang disiarkan.
Nama pasangan pebisnis sukses Williams memang bukan nama yang asing lagi. Tangan jeniusnya dalam mengelola bisnis menjadikannya sebagai pasangan pebisnis paling sukses di dunia menurut majalah Forbes. Dan baru-baru ini nama putri mereka Kansha Andara Williams terseret skandal masa lalu dimana dia dituduh telagh menyebabkan kakaknya yang tak lain Kania Andara Williams meninggal dunia. Tak diketahui pasti kapan dan dimana insiden itu terjadi. Hingga berita ini disiarkan, kami belum mendapat--
ceklek
Alan mengalihkan pandangannya kala kamar hotelnya dibuka. Muncul Elang, rekan kerjanya sesama pilot.
"Aku juga sudah melihat beritanya. Beritanya langsung jadi topik perbincangan." Komentar Elang sambil melihat ke layar televisi yang menampilkan potret Kansha.
"Padahal mereka bukan selebritis tapi kenapa bisa berita ini jadi sangat terkenal?"
Elang lalu menunjuk televisi yang menampilkan wajah Andrian dan Grace, "Mereka keluarga pebisnis yang paling sukses. Mereka bahkan masuk dalam daftar 10 orang terkaya di dunia. Jadi wajar kalau mereka jadi pembicaraan. Terlebih lagi Williams selalu menutup-nutupi soal keluarganya. Ini pasti jadi kesempatan emas orang-orang karena menemukan celah soal kehidupan pribadi keluarganya."
"Bukankah kamu bilang ingin mengemudikan pesawat dari Bali?"celetuk Alan.
"Tentu saja, aku kan disini bersamamu." jawab Elang.
"Kamu ingin menjadi pilot alih-alih jadi co-pilot?"
"Itu keinginan terbesarku." balas Elang sungguh-sungguh.
"Sungguh?"
__ADS_1
Elang mengangguk semangat, "Tentu saja. Kenapa? Kamu ingin menyerahkan posisimu padaku?" tanya Elang antusias.
"Kamu bisa mengendalikannya sepuasmu." balas Alan.
"Sungguh?" tanya Elang berharap.
Alan mengangguk.
"Wah, Alan terimakasih!" seru Elang langsung memeluk rekan kerjanya itu.
Alan menepuk-nepuk pundak Elang,"Aku yakin kamu bisa melakukannya dengan baik. Jangan gugup dan tetap tenang." pesan Alan.
"Pasti, Lan. Terimakasih." angguk Elan terharu di pelukan Alan.
"Sekarang aku harus pergi." Alan tiba-tiba mendorong tubuh Elang dan pelukan mereka terlepas.
"Pergi kemana?" tanya Elang bingung.
"Ke Jakarta." balas Alan singkat. Dia mengambil kopernya di dalam lemari. Untung saja dia belum sempat membongkar kopernya jadi tidak ada yang perlu dibereskan.
"Hah?" Elang masih belum mengerti dengan situasinya.
"Aku akan kembali ke Jakarta." ulang Alan.
"Tapi kita masih ada satu hari lagi." tukas Elang masih bingung.
"Itu kamu, aku tidak. Aku menyerahkan penerbangan besok padamu." sahut Alan.
"Apa? Tidak bisa, Lan." tolak Elang.
"Kenapa? Kamu bilang ingin menjadi pilot daripada co-pilot."
"Semangat ya! Kudoakan agar kamu landing dengan selamat." sela Alan. Dia memegang koper di satu tangannya dan tangan lainnya membuka pintu kamar hotel.
"Semangat!" ucap Alan dengan mengepalkan tangannya ke atas. Setelah itu dia menutup pintu kamar.
"Eh, Lan!" seru Elang menyusul Alan yang tiba-tiba saja pergi.
"Aku tidak bisa melakukannya sendiri!" teriak Elang pada Alan yang sudah menjauh.
"Ada Riko yang bisa membantumu." teriak balik Alan.
"Riko kan masih pemula. Lan!" panggil Elang khawatir.
Tapi Alan tak menjawabnya lagi. Dia sudah masuk ke dalam lift. Elang jadi terdiam. Kepalanya dipenuhi kekhawatiran. Dia menyesal telah mengatakan iya.
***
Setelah berbicara dengan Kansha, Aura masuk ke mobilnya dengan senyum terulas di bibirnya. Namun begitu menghidupkan mesin, pintu disampingnya terbuka. Kansha masuk dan duduk begitu saja di kursi penumpang.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aura.
"Ceritakan padaku soal hubunganmu dengan Kania." balas Kansha tanpa basa-basi.
"Apa?"
"Ayo jalan." tandas Kansha mengabaikan balasan Aura.
Aura pun tak punya pilihan lain selain menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Kansha Andara Williams diketahui bukanlah putri kandung pasangan Williams melainkan hanyalah anak angkat saja. Selain itu Kansha diketahui telah menyebabkan putri kandung Williams yang tak lain kakaknya sendiri meninggal dunia. Tak dipastikan kapan itu terjadi tapi kini publik menjadikan Kansha sasaran kebencian atas perilakunya.
"Mulai sekarang kamu harus tutup kuping jika berada bersama orang lain." celetuk Aura.
"Mereka tidak tahu kebenarannya dan sudah menyimpulkannya sendiri, persis denganmu, kan?" sindir tajam Kansha.
"Aku tahu karena aku memiliki bukti. Aku bukan orang yang berfikiran sempit." balas Aura.
"Kita masih belum tahu." tukas Kansha lagi.
Dan pembicaraan mereka terhenti. Kansha dan Aura sama-sama fokus menatap jalana. Hingga mobil Aura sampai di sebuah komplek mewah.
"Aku tidak tahu apakan ini jalan yang benar atau tidak. Karena sudah terlalu lama." ucap Aura sambil terus menyetir.
"Terus lurus saja." sahut Kansha singkat.
Aura menoleh ke arah Kansha yang terus menatap ke depan.
"Tempat ini pasti masih ada di dalam ingatanmu." komentar Aura sinis.
"Tentu saja. Aku tidak sebodoh dirimu." balas Kansha pedas.
"Kalau kamu terus menghinaku, lebih baik kamu turun!" seru Aura marah.
"Tidak perlu karena kita sudah sampai." tukas Kansha santai. Dia langsung turun begitu mobil Aura berhenti.
Aura juga keluar dari mobilnya, dia mendejati Kansha yang berdiri diam sambil menatap suatu tempat.
"Tamannya masih terawat." komentar Aura.
Kansha lalu mengedarkan kesekelilingnya. Taman bermain di komplek perumahannya dahulu sebelum insiden itu terjadi. Semuanya masih sama. Dimulai dari ayunan yang sering dia duduki dengan kakaknya yang mengayuninya hingga perosotan berbentuk belalai gajah, tempat penuh kenangan dengan kakaknya dulu.
"Disitulah aku bertemu dengan Kania." celetuk Aura sambil menunjuk suatu tempat dimana ada sebuah kursi taman panjang yang dinaungi pohon besar.
"Dulu disana belum ada kursi tapi aku masih ingat tentang pohon ini. Aku sering menghabiskan waktu disana."
"Kamu memiliki kelincinya?" tanya Kansha mengabaikan ucapan Aura.
"Kelinci? Darimana kamu tahu soal itu?" tanya Aura.
Sebelum menjawab, Kansha duduk di kursi taman itu dan menghadap Aura, "Suatu hari salah satu kelinciku hilang dan pelakunya adalah Kania. Dia mengambil kelinci itu untuk temannya yang kesepian." tutur Kansha.
"Aku yang kesal karena kelinciku diambil tiba-tiba membuntutinya kesini agar tahu siapa teman yang dimaksud Kania. Dan aku melihat seorang anak kecil sebaya denganku, duduk mengobrol dengan Kania sambil memangku kelinciku. Disitulah aku sadar bahwa dia adalah orang yang merebut Kania dan kelinciku."
"Dan orang itu aku." timpal Aura.
"Kalau kamu membenciku karena insiden Kania, maka kebencianmu tidak berdasar." ujar Kansha.
"Aku tidak salah dalam membenci karena nyatanya kamulah pelakunya. Kamu yang sudah menghilangkan nyawa Kania." kata Aura masih tenang.
Kansha tersenyum kecil, "Perlu waktu lebih dari sepuluh tahun agar aku bisa meyakinkan kedua orangtuaku. Bagaimana denganmu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini? "
"Kamu pasti tidak pernah merasa bersalah atas tindakanmu."
"Kamu hanya orang asing yang tidak tahu apapun tapi bertindak seakan sok tahu."
Aura mengabaikan ucapan Kansha, "Andai dia tidak menyelamatkanmu, dia pasti masih ada. Bukan dia yang harus meninggal saat itu tapi kamu." ucapnya penuh kemarahan.
Kansha kini menghela nafas, "Aura, itu memang kejadian yang menyakitkan untukku juga. Tapi kamu harus sadar bahwa Kania sudah meninggal." Kansha menjeda ucapannya lalu menatap Aura yang wajahnya sudah memerah, "Karena itu adalah takdirnya." pungkasnya.
__ADS_1