My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 33. Kisah Romantis Selalu Tak Ada Kelanjutannya


__ADS_3

Paginya, Nana sudah sadar. Dokter mengatakan bahwa kondisi Nana mulai pulih. Nana hanya perlu menjaga pola makannya dan menghentikan ketergantungan obat pereda nyeri dan alkohol.


“Bagaimana perasaanmu, Na?” tanya Kansha.


Nana yang tengah duduk di ranjang mengangguk sembari tersenyum, “Aku sudah lumayan membaik. Terima kasih ya karena sudah menolongku.” Sahut Nana.


“Sama-sama. Lagipula kita itu adalah keluarga. Oh ya kemarin malam, bagaimana kamu bisa..”


“Ah, aku melewatkan makan siang dan makan malam lalu karena merasa maag ku kambuh aku akhirnya minum obat pereda nyeri. Eh, malah keterusan minum-minum.” Ucap Nana sedikit tertawa.


“Kamu gila. Sejak kapan kamu jadi sering minum-minum? Dan lagi, kenapa kamu terus minum obat yang bahkan tidak diresepkan dokter?” Kansha menatap tajam pada Nana dan suaranya sarat akan emosi.


Nana tersenyum kecil melihat sahabat terdekatnya ini sedang emosi padanya. “Aku hanya sedikit merasa stress saja hingga akhirnya minum. Dan soal obat itu, awalnya itu diresepkan oleh dokterku tapi lama kelamaan aku jadi kecanduan terlebih aku sering melewatkan jam makanku.” Balas Nana pelan. “Aku minta maaf dan jangan marah.” Lanjutnya memelas.


Kansha mendesah pelan dan melunakkan tatapannya, “Ya sudah. Tapi ingat, jangan melakukan hal konyol seperti kemarin. Aku akan mengawasi jam makanmu mulai saat ini. Dan bila kulihat kamu minum-minum lagi, awas saja.” ancam Kansha.


“Aku tahu. Aku juga kapok.” Timpal Nana.


“Baguslah.” Ujar Kansha mengangguk.


“Oh ya, kak Ruben kemana?” tanya Nana celingak-celinguk. Pasalnya, sejak ia terbangun, lelaki berkacamata itu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


“Kak Ruben pergi membeli sarapan.” Jawab Kansha.


Nana mengangguk, “Oh ya bagaimana dengan lamaran kemarin? Kamu menerimanya kan?” tanya Nana setengah riang, setengah sedih.


Kansha tak menjawab. Dia malah menatap mata Nana, mencari esensi pada makna pertanyaan yang dilontarkannya. “Ada apa kamu melihatku seperti itu?” tanya Nana sedikit gugup.


Kansha meresponnya dengan mengalihkan pandangannya lalu mengangkat bahunya. “Aku belum menjawab apapun. Lamarannya keburu batal.” Balasnya.


“Batal?” pekik Nana. Kansha mengangguk.


“Itu pasti karena aku yang menelfonmu kemarin kan. Maafkan aku, gara-gara aku lamaran Kak Ruben dan kamu batal.” Ujar Nana merasa bersalah.


“Itu lamaran kak Ruben, bukan lamaranku. Lagipula sejujurnya aku sedikit berterimakasih. Aku belum siap menjawab apapun. Lamarannya terkesan mendadak dan kuyakin, kamu juga ikut terlibatkan.”


Nana mengangguk membenarkan, “Iya, aku sengaja memberitahukan pada Kak Ruben bahwa kamu sedang berlibur dan memanfaatkannya untuk melamarmu.”


“Kenapa kamu lakukan itu?”


“Kenapa? Tentu saja, karena Kak Ruben mencintaimu.” Nana berkata dengan perih dihatinya.


Kansha mendesah. Kini Nana dimatanya, adalah seorang pembohong patalogis.


Drrt


Ponsel Kansha bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal terpampang dilayarnya. Kansha membukanya dan seketika mendengus.


“Ada apa, Kansha?” tanya Nana ketika melihat raut Kansha.


Kansha memasukkan ponsel kesakunya kemudian menggeleng, “Tidak ada.” katanya singkat. “Oh ya, aku ada urusan sebentar ke luar,dan kurasa Kak Ruben akan datang sebentar lagi.” Lanjut Kansha kemudian beranjak berdiri.


“Oh yasudah. Kamu hati-hati ya,” kata Nana. Kansha mengangguk kemudian keluar dari ruang rawat Nana.


***


Alan sedang mengantri sarapan di salah satu warung bubur. Dia terdiam sebentar kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Halo.” Sapa seseorang diseberang telfon dengan nada serak khas bangun tidur.


“Kamu baru bangun?” tanya Alan.


“Aku baru menyelesaikan shift malamku. Seusai shalat subuh, aku tidur lagi.” Balas Alfin, adiknya.


“Ah begitu.”


“Ada apa menelfonku pagi-pagi begini? Kakak mencuri sesuatu? Sekarang ada di kantor polisi mana?” tanya Alfin melantur.


“Apa sih yang kamu bicarakan? Dasar konyol.” Kata Alan kesal.


“Lalu ada apa menelfonku pagi-pagi?”


Alan berdeham sebentar, merasa malu mengatakannya. “Kamu pasti sudah bertukar kontak dengan Kansha, kan?” tanya Alan pelan.


“Apa kak?” ulang Alfin.


“Aku meminta kontak Kansha darimu.” Kata Alan malu.


Alfin yang diseberang telfon mendadak bangun. Dia menahan tawanya ketika Alan meminta kontak Kansha. Apalagi dengan nada Alan. Astaga, Alfin rasanya ingin tertawa keras.


“Apa sih kak yang kakak bilang? Kakak minta kontak siapa?” pancing Alfin tersenyum geli.


Alan yang berada dibaliknya, kini beraut aneh. Masa dia harus mengulangi apa yang dikatakan? Sungguh dia merasa malu. Wajahnya bahkan sudah memerah.


“Kansha.” Ucap Alan pada akhirnya.


“Siapa kak?” Alfin mengulangi pertanyaannya. Senyum geli masih tersungging.


“Kansha.” Ulang Alan sedikit keras.


“Apa kak? Tidak kedengaran.” Alfin rupanya masih ingin menggoda Alan.

__ADS_1


“KANSHA.” Teriak Alan. Alfin yang mendengarnya serasa pengang namun tetap tertawa


Namun, Alan juga melupakan fakta bahwa dia tak sendiri disini. Ada banyak pembeli melihatnya dengan aneh. Alan tersenyum malu dan mengelus tengkuknya.


“Jadi cepat berikan atau kalau tidak, kakak tidak akan menjamin koleksi figure mu masih utuh.” Ancam Alan pelan.


“Astaga. Iya-iya, akan kukirimkan. Ancamanmu selalu saja berbahaya.” Dengus Alfin.


“Cepat kirimkan.” Ucap Alan. Dia lalu menutup telfonnya tanpa mendengar jawaban dari Alfin.


Tak lama, pesan masuk dari nomor Alfin yang didalamnya terdapat sederet nomor Kansha. Alan mengucap terimakasih setelah itu menyimpan nomor Kansha di kontaknya. Setelah itu, Alan mengetikkan sesuatu pada chat room Kansha.


Aku membawakanmu sarapan. Dimana kamu sekarang?


^^^-Alan^^^


Alan mengirimkan pesannya pada Kansha dan setelah menunggu beberapa saat, Kansha menjawab pesannya.


Kansha


Sepertinya kamu sudah tidak payah lagi. Darimana kamu mendapatkan nomorku? Mengemis pada adikmu? Aku di Rumah Sakit Bakti Pertiwi. Bawakan aku burger dan kentang goreng double.


Alan menggeleng melihat jawaban yang dikirimkan Kansha.


“Mas, ini buburnya.” Suara penjual menginterupsi aktivitas Alan. Alan langsung beranjak dan menerima kantung kresek yang didalamnya terdapat bubur pesanannya.


“Semuanya berapa mas?” tanya Alan.


“Tiga puluh ribu.” Jawab penjual itu. Alan mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu dan sepuluh ribu lalu menyerahkannya pada si penjual itu. Setelah mengucap terimakasih, Alan keluar dari warung itu dan langsung menyetop taksi yang lewat didepannya.


“Ke Rumah Sakit Bakti Pertiwi, pak.” Kata Alan pada supir taksinya.


***


Alan sampai di rumah sakit. Dia keluar dari taksi dan langsung disuguhi siluet Kansha yang tengah menunggunya di lobi. Alan melangkah menghampirinya.


“Aku bukan pasiennya. Mengapa memberi bubur. Mana burger dan kentang gorengnya?” tanya Kansha begitu Alan sudah didepannya.


“Bubur jauh lebih baik. Lalu mana ada restoran cepat saji yang buka pukul enam pagi? Kurang-kurangilah makan-makanan cepat saji.” Balas Alan.


“Kamu juga sarapan dengan makanan cepat saji.” Dengus Kansha pelan. Namun tetap terdengar oleh Alan.


“Ah, jadi benar kan. Kalau figur yang kulihat ketika di restoran itu kamu! Kenapa main lari begitu saja?” todong Alan.


Kansha berdeham singkat, “Kamu saja yang tidak bisa mengejar.” Katanya acuh.


Alan menganga mendengar jawaban Kansha. Kansha yang melihat reaksi Alan menahan tawa dan langsung mengambil bungkusan dari tangan Alan.


“Kamu traktirkan? Terima kasih.” Ucap Kansha tanpa dosa.


“Jadi ini bukan untukku saja?” tanya Kansha pada Alan yang berhenti berjalan.


Alan mendengus kemudian berbalik, “Itu ada dua porsi. Kamu serakah sekali ingin makan semuanya.”


Kansha hanya tersenyum tanpa dosa.


***


Kansha dan Alan duduk di kantin rumah sakit dan mulai memakan bubur yang dibeli Alan. Mereka makan dengan tenang. Suasana kantin juga masih lengang. Waktu saat ini menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit.


“Jadi bagaimana keadaan sahabatmu?” tanya Alan memecah keheningan.


“Sudah membaik.” Jawab Kansha dengan tetap mengunyah.


“Kapan kamu pulang?” lanjut Kansha menatap Alan.


“Nanti pukul delapan pagi. Kamu sendiri?”


Kansha menggeleng, “Dibatalkan untuk hari ini. kemungkinan pulang besok atau lusa. Kita menunggu kondisi Nana yang membaik.” Balas Kansha.


Alan mengangguk mengerti. “Kalau hari ini mungkin kamu akan naik pesawat yang dikemudikan olehku.”


“Sok tahu kamu. Penerbanganku sore hari tahu.” Ucap Kansha memeletkan lidahnya. Alan hanya mengelus rambutnya dengan malu.


“Oh ya, aku membeli sesuatu disini. Mungkin kamu mengenalinya.” Kata Alan lagi. Alan mengeluarkan sebuah kotak kecil dan diulurkannya pada Kansha.


Kansha melap tangannya kemudian mengambil kotak kecil itu. “Bukalah.” Titah Alan. Kansha membukanya dan seketika terdiam. Dia menatap Alan yang menatapnya bingung.


“Ada apa?” tanya Alan bingung melihat reaksi Kansha yang diluar dugaan.


“Darimana kamu dapat ini?” tanya Kansha balik. Dia begitu kebingungan dan terkejut kala isi kotak itu adalah gelang tenun yang pernah ia beli beberapa tahun lalu yang kini sudah hilang.


“Aku teringat dengan ucapanmu yang mengatakan bahwa gelangmu hilang terbawa ombak laut. Kamu terlihat sedih makanya aku membeli ini. Aku tidak tahu apakah itu gelang yang kamu maksud atau bukan.” Jawab Alan.


Kansha masih menatap Alan membuat Alan sedikit gugup. Dia tidak bisa menebak apa yang ada difikiran perempuan ini.


“Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Kansha tiba-tiba. Dia bertanya dengan nada serius membuat Alan bingung dengan maksud pertanyaan Kansha.


“Apa maksudmu?”


“Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kenapa kamu masih mengingat setiap ucapanku padamu? Kenapa kamu mau membeli ini? kenapa kamu peduli?”

__ADS_1


Alan terdiam mendengar pertanyaan Kansha yang bertubi-tubi itu. Dia sungguh bingung harus menjawab apa. Pertanyaan Kansha menimbulkan pertanyaan lain di benaknya. Adalah—mengapa Alan peduli?


“Aku hanya teringat padamu lagipula kufikir itu bisa dijadikan hadiah untukmu ketika kita bertemu kembali.” Jawab Alan pada akhirnya.


“Seyakin itu kamu akan bertemu denganku lagi?” tanya Kansha. Alan mengangguk yakin.


Alan kini dengan berani menatap mata Kansha, berusaha tidak lagi terintimidasi, “Sebenarnya ada banyak jejak-jejak yang kamu tinggalkan. Pertemuan kita tujuh puluh persen adalah dengan usaha, dan kurasa tiga puluh persennya adalah takdir.”


"Salah." ucap Kansha. Alan mengerutkan kening tak mengerti. "Sebagian besar pertemuan kita adalah takdir. Ada banyak peluang dari kebetulan yang bukan didapat oleh usaha. Seperti halnya pertemuan kita."


“Sangat romantis.” Kata Kansha pelan. Dia masih menatap kedalaman mata Alan.


Lalu Kansha melanjutkan, “Saking romantisnya, ada banyak kisah yang tak ada kelanjutannya.”


***


Ruben masuk ke ruang rawat Nana dengan menenteng kantung kresek. Di dalamnya ada sarapan untuknya dan Kansha.


“Kak Ruben.” Sapa Nana. Dia lalu duduk dan menatap Ruben yang menghampirinya.


“Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?” tanya Ruben. Dia menaruh belanjaannya di meja.


Nana mengangguk riang, “Sudah lebih baik. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Kata Kansha, kakak melakukan CPR darurat untukku.”


“Sama-sama. Syukurlah kalau kamu sudah lebih baik. Kakak ikut lega mendengarnya.” Balas Ruben tersenyum.


“Oh ya, itu apa kak?” tanya Nana menunjuk kresek yang dibawa Ruben.


Ruben mengikuti telunjuk Nana, “Oh itu sarapan. Ngomong-ngomong dimana Kansha?”


“Kansha ada urusan tadi. Dia sudah keluar dua puluh menit yang lalu.” Jawab Nana.


“Urusan? Urusan apa?” Nana menggeleng tidak tahu.


“Oh ya kak, soal lamaran kemarin malam. Aku minta maaf gara-gara aku lamaran kakak batal.” Ucap Nana merasa bersalah.


Ruben tersenyum menggeleng, “Tidak apa. Mungkin belum waktunya. Masih ada waktu lain.” Balas Ruben.


Nana terdiam, “Eh?” gumam Nana. Dia terdiam ketika Ruben mengatakan masih ada hari lain.


“Oh ya, kamu sudah sarapan?” tanya Ruben. Nana menggeleng pelan.


Ruben mengalihkan pandannya pada makanan khas rumah sakit yang belum dimakan Nana. Dia mengambilnya kemudian mendekatkannya ke hadapan Nana.


“Dimakan dulu.” titah Ruben. Nana menggeleng tidak mau.


“Rasanya aneh. Aku tidak suka.” ujar Nana mengernyitkan dahi tidak suka.


Ruben menghela nafas, lalu menyendokkan bubur tanpa rasa itu ke mulut Nana, “Buka mulutmu, kakak suapi.”


Nana terkejut, “Kakak serius? Eh, tidak usah.” Tolak Nana.


Ruben menggeleng, “Kalau tidak begitu, kapan kamu akan makan sedangkan kamu harus minum obat.”


“Cepat buka mulutmu.” Titah Ruben sekali lagi. Nana menurut dan membuka mulutnya, menerima suapan dari Ruben.


Ruben terus menyuapi Nana. Dan Nana mau tak mau mengunyah dan menelannya meski rasanya aneh. Jantungnya terus berdebar kencang ketika wajah Ruben hanya berjarak satu meter didepannya. Wajahnya juga mungkin sudah memerah. Semoga saja kakak tingkatnya itu tidak mendengar degup jantungnya bahkan tidak menyadari bahwa mukanya tengah memerah.


Lalu lima menit kemudian bubur yang disuapi Ruben habis. Nana menerima gelas air dari Ruben dan menenggaknya hingga setengah. Kemudian Ruben menaruh mangkuk kosong tadi diatas nakas. Dan tanpa kata mengambil obat Nana dan menyerahkannya pada Nana.


“Minum.” Ucap Ruben. Nana mengambil obat-obat itu dan langsung menenggaknya. Kemudian Ruben menyerahkan minum pada Nana.


“Beristirahatlah.” Ucap Ruben ketika sudah selesai. Dia menaruh botol obat dan gelas kosong tadi di atas nakas lalu beranjak bangun.


“Kakak mau kemana?” tanya Nana begitu Ruben hendak melangkah.


“Kakak akan mencari Kansha dahulu. Dia belum sarapan. Kamu tak apa sendirian disini?”


Nana melunturkan senyumnya, kemudian mengangguk pelan. “Tak apa. Pergilah kak.” Ucapnya dengan nada pahit.


***


Ruben berjalan mencari Kansha di sekeliling koridor rumah sakit. Kemudian Ruben sampai di kantin rumah sakit dan terkejut ketika Kansha tengah bersama seseorang lelaki.


Ruben mendekat. Mereka sepertinya tengah berbicara serius. Namun Ruben tidak bisa mendengarnya. Dia kemudian lebih mendekat dan mulai jelas siapa lelaki itu. Namun Ruben merasa tak pernah melihatnya. Atau mungkin pernah?


“Kansha.” Panggil Ruben pada akhirnya.


Kansha yang dipanggil namanya seketika menoleh begitupun lelaki itu.


“Kak Ruben?”


Ruben mendekat dan menghampiri Kansha yang kini sudah berdiri diikuti lelaki asing itu.


“Dia siapa?” tanya Ruben menunjuk Alan.


“Ah, kalian belum saling berkenalankan.” Ucap Kansha berusaha tenang. “Kak Ruben, ini Alan, dia orang yang bersamaku ketika kejadian itu.” Alan menatap Ruben dan mengangguk. “Alan, ini Kak Ruben, kakak tingkatku.” Ruben mengangguk.


“Alan.” Ucap Alan mengulurkan tangannya.


“Ruben.” Balas Ruben menjabat tangan Alan.

__ADS_1


Alan dan Ruben masih saling berpandangan dengan tangan yang masih terpaut. Tampak ada pandangan tak biasa yang dilayangkan satu sama lain. Entah kenapa, suasananya menjadi aneh.


"Kurasa kita pernah bertemu." ucap Ruben tiba-tiba.


__ADS_2