My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 22. Percobaan Bunuh Diri


__ADS_3

Kansha dinyatakan baik-baik saja ketika diperiksa oleh dokter. Hanya tinggal penyembuhan luka-lukanya saja. Kansha tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan. Dia masih diberi kesempatan menatap dunia sekali lagi.


“Kansha, dengar kan kata dokter, kamu tidak boleh kemana-mana dulu. Kaki kamu sedang di gips.” Ucap Bu Sari memperingatkan Kansha. Pasalnya Kansha adalah gadis yang hiperaktif.


“Iya bu. Ibu tenang saja, Kansha bukan anak kecil.” Timpal Kansha riang. Suasana hatinya tengah baik usai dinyatakan selamat dan baik-baik saja.


“Kansha.” Panggil Grace tiba-tiba. Kansha terdiam. Ia baru menyadari bahwa ada Grace dan Andrian di ruangan rawatnya.


“Iya?” ucap Kansha mencoba menguatkan diri. Dia siap mendapatkan makian atau kemarahan lagi dari kedua orang tuanya yang sudah membesarkannya selama 15 tahun itu.


“Maaf.” Kansha mematung. bukan—bukan ini yang ia duga. Bukan permintaan maaf yang meluncur dari bibir ibu angkatnya.


“A-aku..” Kansha tidak bisa melanjutkan omongannya karena disela terlebih dahulu.


“Maafin kami, Nak. Maafin Mama dan Papa yang sudah menyakiti kamu bahkan mengusir kamu dari rumah. Maafkan mama.” Ucap Grace tersedu-sedu. Andrian yang didekatnya mengusap bahu istrinya pelan.


"Mama malu sama diri mama sendiri. Mama sadar bahwa kamu sangat berharga. Mama tidak bisa kehilangan kamu. Cukup Kania, jangan kamu lagi.” Lanjut Grace.


Atmosfer ruangan tiba-tiba menjadi dingin dan kelabu. Kansha memejamkan matanya kuat-kuat. Bayangan 13 tahun lalu terbayang di fikirannya ketika nama Kania disebut mamanya. Rasa bersalah menghantam Kansha kuat menghasilkan denyutan sakit di kepalanya. Hatinya juga kembali patah.


“Keluar..” desis Kansha.


“Kansha..” ucap Bu Sari terkejut.


“Aku minta maaf, tapi tolong keluar sekarang. Semuanya.” Usir Kansha pelan.


Bu Sari, Nana dan Ruben menatap bingung bercampur khawatir namun tak urung keluar dari ruangan. Begitupun Kelvin dan Andrian yang mencoba membawa istrinya keluar. Grace meronta tidak mau.


“Kansha, mama mohon ma—“


“KELUAR!” teriak Kansha kini dengan nada keras.

__ADS_1


Teriakan keras Kansha bukan hanya mengagetkan Nana, Bu Sari, Kelvin dan Ruben yang sudah berada diluar, tetapi juga Andrian dan Grace yang masih didalam. Terutama Grace, hatinya makin terasa nyeri hingga ia menyerah membiarkan Andrian membawanya keluar.


Kansha menghela nafas pelan. Ia mengusap rambutnya dengan kasar hingga acak-acakkan. Air matanya sudah mengalir deras. Ia mencabut paksa jarum infus di tangannya mengakibatkan darah mengalir dari bekas jarum.


Kansha menatap kosong jarum infus itu lalu tanpa kata menusukkannya pada nadi di pergelangan tangan kanannya. Ia lalu menelungkupkan kepalanya pada lipatan lututnya. Tak dipedulikan denyutan sakit dari kakinya yang tengah di gips. Tidak ia pedulikan rasa sakit yang menghantam tangannya dengan darah mengucur deras dari pergelangan tangannya. Tak ada rasa sakit akibat retakan kakinya, tak ada rasa sakit akibat tusukan jarum infus yang menusuk dalam pada nadinya. Semuanya mati rasa. Mati akibat rasa bersalah dan penyesalan mendalam karena terenggutnya kehidupan Kania olehnya.


Dia pembunuh. Pembunuh Kakaknya, Kania. Dan sepatutnya seorang pembunuh tak harus hidup. Dirinya harus mati sebagai penebusan dosa.


Maaf, Kak Kania...


***


"Dok, saya denger kakak dokter adalah korban selamat pesawat jatuh. Bagaimana ceritanya dok?” pertanyaan sama itu adalah kali kesepuluh terlontar dari mulut rekan-rekan sesama dokter dan juga perawat pada Alfin.


“Alhamdulillah. Untuk ceritanya juga saya belum terlalu tahu, soalnya kakak saya hanya bercerita sedikit.” Hanya itu jawaban Alfin. Alfin adalah dokter di rumah sakit tempat dimana kakaknya dirawat.


Seusai mengatakan itu, Alfin secepat mungkin langsung kabur. Dia tidak mau dijadikan sumber berita lagi. Alfin berjalan cepat hingga tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.


“Aw!” pekik Alfin mengaduh. Ia terkesiap ketika snelinya kotor oleh kopi.


“Sneliku!” pekik Alfin. Dia bangun dan menatap kesal pada seorang wanita yang tadi menabraknya dan menumpahkan noda kopi pada snelinya.


“Mas! Kalau jalan lihat-lihat dong. Kopi saya jadi tumpah kan.” Omel wanita itu, dia adalah Nana.


Alfin berdecak, “Maaf mbak. Mbak yang harusnya jalan lihat-lihat, gara-gara mbak sneli saya jadi kotor. Tanggung jawab!” balas Alfin sambil menunjukkan bagian snelinya yang kotor.


“Kok jadi saya sih? Jelas-jelas kamu yang duluan nabrak saya. Ganti kopi saya!” sentak Nana sambil mengulurkan telapak tangannya seperti menagih uang.


Alfin menepuk keras telapak tangan Nana membuat Nana memekik kesakitan. “Aw! Kasar banget sih!” hardik Nana.


Alfin berkacak pinggang, “Pokoknya cuci sneli saya, kalau perlu laundry sekalian!” titah Alfin.

__ADS_1


Nana berdecak kesal, “Jelas-jelas kamu yang duluan nabrak saya. Harusnya kamu yang ganti kopi saya. Dasar cowok tidak bertanggung jawab!” umpat Nana.


“Kamu—“ ucapan Alfin terpotong ketika ada perawat yang menghampirinya sambil berlari.


“Dokter, pasien kamar 15, mengalami kolaps.” Ucap perawat itu.


Alfin menunjuk Nana, “Urusan kita belum selesai.” Seusai mengatakan itu Alfin langsung pergi diiikuti perawat yang tadi.


Nana hanya mencebik, “Dasar gila.” Umpat Nana sambil menjulurkan lidahnya.


***


“Dasar wanita gila. Bukannya minta maaf atau tanggung jawab malah nyalahin.” Gerutu Alfin sepanjang jalan. Snelinya kotor hingga ia terpaksa memakai sneli cadangan.


Alfin berhenti berjalan ketika melihat sekumpulan orang tengah berdiri gusar di depan ruang VIP. Lalu dibelakangnya muncul perawat yang berjalan cepat sambil membawa beberapa obat-obatan.


“Tunggu.” Cegah Alfin pada perawat itu. Perawat itu berhenti dan menoleh pada Alfin.


“Dokter.” Sapa perawat itu.


“Ada apa? ” tanya Alfin sambil mengarahkan dagunya pada kumpulan orang tadi.


“Mereka keluarga pasien. Saat ini pasien tidak sadarkan diri setelah mencoba bunuh diri seusai mengamuk.” Jawab perawat itu.


“Bunuh diri? Mengamuk?” tanya Alfin kaget.


“Iya, pasien mengamuk mengusir semua keluarganya keluar. Lalu keluarganya cemas karena tidak mendengar apapun lagi selama 10 menit ketika membuka pintu, pasien sudah tidak sadarkan diri dengan jarum infus menusuk nadinya.” Jawab perawat.


Alfin mengangguk, “Siapa nama pasiennya?”


“Kansha Andara, korban selamat pesawat jatuh.”

__ADS_1


Alfin mematung, “Kansha Andara?”


__ADS_2