
"Jadi, kamu gagal total?” seru Nana. Malam ini Kansha bertandang ke apartement Nana dan curhat mengenai tes itu.
Kansha mengangguk sedikit lesu, “Bukankah jawabannya memang sudah jelas? Alan tidak mungkin menyukaiku, dia sudah memiliki Aisyah. Aku saja yang bodoh malah ingin melakukan tes segala.”
Nana menggaruk kepalanya bingung. Dia tidak menduga ini sejujurnya. Pasalnya menurut pengamatannya selama ini, Alan cukup intens mendekati sahabatnya ini. jadi Nana terfikir bahwa Alan mungkin menyukai Kansha namun tak menyadarinya karena terhalang hubungannya dengan Aisyah.
“Yasudah berarti kamu tidak boleh berharap lagi. Alan memang bukan jodohmu berarti.” Kata Nana.
“Dari awal aku memang tidak berharap demikian. Aku sadar dan tahu tempatku dimana. Aku tak mungkin merebut posisi Aisyah. Dia jauh lebih baik dariku dari segala hal. Alan akan sangat bodoh bila melepaskan Aisyah.” Timpal Kansha tersenyum ikhlas.
Nana menepuk-nepuk bahu sahabatnya ini. dia tidak pernah menyangka bahwa dia dan Kansha sama-sama tidak beruntung mengenai hal percintaan. Sama-sama menyukai orang yang menyukai orang lain. Namun bukan salah mereka juga kan kalau menyukai orang itu, yang namanya perasaan tidak bisa dikendalikan mau berlabuh kemana.
“Oh ya, ada yang mau kusampaikan padamu.” Celetuk Nana mengalihkan pembicaraan. Kansha menoleh.
“Dua minggu lagi, aku akan melakukan pekerjaan relawan di pedalaman Kalimantan. Ada sebuah desa disana yang terisolir dan membutuhkan perawatan kesehatan dan aku mengajukan diri ikut.” Kata Nana gembira.
Kansha tidak terkejut sama sekali. Sahabatnya ini memiliki hati malaikat. Nana sangat suka menolong orang dan kecintaannya pada dunia kesehatan membuatnya sering melakukan semacam pekerjaan relawan. Meski Nana tidak mengambil jurusan medis saat kuliah, namun Nana sudah memiliki beberapa sertifikat yang mengukuhkan namanya menjadi relawan profesional. Dia juga bisa melakukan CPR, pertolongan pertama, bahkan dia pernah ikut tim bedah darurat saat ada bencana gempa bumi beberapa waktu silam.
“Kali ini, kita juga akan bekerja sama dengan Rumah Sakit Pelita, ada beberapa dokter dan perawat darisana yang akan ikut.” Lanjut Nana.
“Berapa lama?” tanya Kansha.
Nana terlihat berfikir, “Kurasa sekitar satu hingga dua bulan? Aku belum tahu, saat rapat kemarin aku tidak hadir. Jadi aku akan datang pada rapat selanjutnya minggu depan.”
“Kalau begitu berhati-hatilah. Meski ini bukan yang pertama, tapi tetap jaga dirimu. Pekerjaan itu tidaklah mudah dan membutuhkan fisik yang kuat.” Pesan Kansha.
Nana tersenyum mengangguk pasti. “Tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Nanti aku kirimkan oleh-oleh ya,”
Kansha tersenyum, “Jangan bohong kamu. Kalimantan terkenal dengan kelapa sawit, jadi bawakan aku minyak kelapa sawit nanti.” ujar Kansha becanda.
“Siap, komandan!” kata Nana memberi hormat membuat Kansha tertawa.
Ceklek
Tawa mereka berhenti ketika pintu terbuka dan masuklah Ruben yang menjinjing tas kerjanya. Dia tersenyum ramah ketika melihat bukan hanya ada Nana melainkan Kansha juga ada.
“Kamu sudah lama disini?” tanya Ruben. Dia duduk di sofa berhadapan dengan Kansha dan Nana.
Kansha mengangguk. “Sejak sore tadi.”
Kansha menyadari bahwa ini kesempatan Nana dan Ruben untuk dekat, Kansha pun ingin pamit pulang. Namun sebelum itu, sebuah pertanyaan diajukan oleh Ruben yang membuat Kansha dan Nana saling berpandangan.
“Kansha, kamu memiliki waktu besok malam?” tanya Ruben begitu Kansha hendak berdiri.
Kansha menatap Nana yang kini sudah memalingkan muka. Sebagai seorang wanita, Nana tahu kemana arah pembicaraan Ruben. Jadi dia lebih memilih memalingkan muka menyembunyikan rasa sedihnya.
“Eee, aku punya.” Angguk Kansha pelan.
Ruben tersenyum senang. “Kalau begitu, aku ingin mengajakmu makan malam bersama. Kamu mau?”
“Aku bisa tapi Nana juga ikut kan?” tanyanya melirik Nana.
Ruben terdiam kemudian menggeleng. “Aku minta maaf tapi hanya kita berdua untuk saat ini. ada yang ingin aku katakan padamu.” Tolak Ruben halus membuat Nana menghela nafas pelan. Air matanya sudah diujung.
Kansha menoleh pada Nana lagi yang sekarang menatapnya tanpa suara. Kansha bingung haruskah menyetujui ajakan Ruben atau tidak. Tapi kalau dia menyetujui, maka hati Nana akan semakin patah. Tapi kalau tidak, dia tidak tahu kapan harus berbicara mengenai sesuatu yang terjadi diantara mereka. Pasalnya Nana juga tak mau mengutarakannya dan Kansha fikir dia bisa membantu. Dia hanya ingin meluruskan semuanya. Dan Kansha fikir ini kesempatannya.
“Kurasa aku bisa.” Kata kansha akhirnya. Ruben yang mendengarnya tersenyum senang berbanding terbalik dengan raut Nana yang bertambah mendung.
“Kalau begitu, aku akan menjemputmu.” Kata Ruben.
“Tidak usah, kak. Kirimkan saja alamatnya padaku, aku akan datang sendiri.” Tolak Kansha.
“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok malam.” Ujar Ruben.
Kansha mengangguk pelan kemudian beranjak berdiri hendak berpamitan. “Kalau begitu, aku pulang dulu.” pamit Kansha menoleh pada Nana yang masih memalingkan mukanya. Kansha tahu dia sudah menyakiti hati sahabatnya.
Ruben ikut berdiri, “Hati-hati di jalan.” Kansha mengangguk kemudian pergi.
Setelah mendengar pintu tertutup, Nana lekas bangkit.
Ruben yang melihat Nana berdiri hendak menyapa, “Na—“
“Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kakak, tinggal dipanaskan lagi saja.
Aku ke kamar dulu. “ potong Nana tanpa menatap Ruben. Kemudian dia segera masuk ke kamarnya meninggalkan Ruben yang terdiam bingung.
Brak
Nana sedikit membanting pintu ketika masuk. Dia meluruh di balik pintu dengan tangan membekap mulutnya. Dia fikir, setelah kebersamaan yang cukup lama, Ruben akan meluluhkan hati untuknya. Namun ternyata, cinta Ruben masih sama. Masih berlabuh pada tempat yang sama.
Jadi apakah Nana tidak memiliki kesempatan lagi? Akankah, cintanya memang akan berakhir mengenaskan? Ataukah dia memang tidak pantas dicintai hingga orang yang dia cintai bahkan mencintai sahabatnya sendiri. Nana tak ingin berebut dan bersaing dengan Kansha, tapi rasanya sulit ketika dia mencoba merelakan.
Nana hanya berharap bahwa entah besok malam, atau malam-malam lainnya, kebahagiaannya akan datang. Meskipun tak bersama Ruben.
****
Kansha mengemudi mobilnya dengan pelan. Kejadian itu berputar di benaknya. Bagaimana ketika Nana memalingkan mukanya untuk menyembunyikan perasaannya dan bagaimana ketika Nana tidak menatapnya ketika hendak berpamitan. Kansha rasa bahwa dia sudah melukai Nana. Haruskah dia membatalkan janjinya pada Ruben? Akan tetapi, Ruben akan kecewa dan menganggap bahwa dia memberi harapan kosong. Belum lagi, dia harus meluruskan semuanya pada Ruben. Soal hubungan persahabatan mereka, perasaannya dan perasaan Nana.
Kansha kemudian mematikan mesin mobil dan menepi di sebuah minimarket. Dia hendak membeli beberapa cemilan.
__ADS_1
Kansha masuk ke dalam minimarket dan memilih beberapa snack kesukaannya. Setelah itu dia menuju lemari minuman dan ketika hendak mengambil sebuah botol yogurt yang tinggal satu, ada sebuah lengan lain yang lebih dulu mengambilnya. Kansha menoleh dan matanya bersibobrok dengan seseorang yang ternyata Alvaro.
“Kansha?” seru Alvaro terkejut. Kansha juga ikut terkejut, dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Alvaro.
“Alvaro?”
“Iya aku, wah aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu. Oh iya, tadi kamu mau mengambil yogurt ini kan? Untukmu saja.” Kata Alvaro menyerahkan minuman itu ke Kansha.
“Makasih.” Ucap Kansha masih bingung.
“Ada yang ingin kubicarakan padamu setelah ini.” kata Alvaro.
Kemudian Alvaro dan Kansha duduk di kursi depan minimarket setelah membayar belanjaan mereka. Alvaro sudah membuka beberapa snack dan sedari tadi asik makan. Mengabaikan Kansha yang duduk diam menatapnya.
“Jadi apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Kansha ketika Alvaro selesai makan.
“Ah maaf, aku keterusan makan jadi mengacuhkanmu. Aku belum makan malam soalnya.” Kata Alvaro terkejut ketika Kansha ternyata menunggunya.
“Kamu sebaiknya makan berat bukan snack seperti itu.”
“Tidak apa, aku sudah terbiasa. Aku jarang makan berat kecuali makan siang.”
“Jadi ada apa?” tanya Kansha mengarahkan kembali ke topik pembicaraan.
“Bagaimana keadaanmu sebelumnya? Lukanya cukup parah bukan? Aura menyakitimu terlalu dalam waktu itu.” tanya Alvaro meneliti Kansha.
“Aku sudah tidak apa. Hanya memar biasa, sudah sembuh dalam seminggu.”
Alvaro mengangguk lega, “Syukurlah. Aku takut sekali kalau Aura sangat menyakitimu. Dia memang sudah kelewat batas. Dan kudengar kamu membatalkan tuntutannya?”
Kansha mengangguk, “Heem, aku membatalkannya.”
“kenapa?”
“Kenapa yang kenapa? Bukanya kamu sendiri yang meminta agar pacarmu itu tidak dipenjarakan?” tanya balik Kansha.
Alvaro menggaruk kepalanya, “Iya, soalnya hidup Aura juga tidak terlalu beruntung. Dia hanya berdua dengan ayahnya yang bahkan tidak memedulikannya, aku hanya takut kalau dia dipenjara, dia akan merasa bahwa hidup ini sangat jahat padanya. Dia pernah ingin melakukan bunuh diri dulu. makanya aku tak ingin masalah ini mengguncang jiwanya lagi, ditambah kamu menyinggung soal kematian ibunya.” Jelas Alvaro panjang lebar.
Kansha termenung, dia menghembuskan nafas pelan. “Aku tahu. Aku memang sudah kelewatan, itu sebabnya aku membatalkan tuntutannya. Aku juga tidak mau ribet dan mengurus ini itu dengan pihak berwajib. Hanya berharap, bahwa Aura bisa sadar dan menjadi lebih baik.”
Alvaro mendesah lega, “Terima kasih Kansha. Kamu memang baik. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu seperti apa.” Kata alvaro tersenyum berterima kasih.
“Sama-sama. Tidak perlu membalas apapun. Hidupku sudah baik saat ini jadi tak perlu menghancurkan hidup orang lain.” Balas Kansha tersenyum.
Alvaro tersenyum mendengarnya. Dia sangat tersentuh dengan kebaikan hati Kansha. Dia menyesal andai saat SMA dia mencoba lebih pengertian dan membuka mata pada masalah teman-temannya, maka tak akan ada tindakan perundungan yang dialami Kansha. Sebagai ketua OSIS saat itu, ia merasa gagal.
Drtt
“Halo.” Sapa Alvaro.
“......”
“Ah iya, aku tahu. Aku akan tiba di panti asuhan sekitar pukul delapan pagi.” Jawab Alvaro pada si pembicara telfon.
“.....”
“Kirim saja alamatnya padaku. Aku akan kesana sendiri. Tapi kamu yakin, bahwa panti asuhan itu memang akan digusur?”
Kansha menoleh pada Alvaro ketika mendengar penyataan Alvaro. Panti asuhan? Digusur?
“Kalau begitu, itu sesuai dengan tujuan kita.”
“.....”
“Baiklah, aku mengerti.” Kemudian Alvaro menutup telfonnya.
“Maaf ya, ada urusan pekerjaan jadi sedikit lama menunggu.” Kata Alvaro menatap tak enak pada Kansha.
“Tidak apa-apa. Oh ya tadi kudengar kamu berbicara tentang panti asuhan yang akan digusur?” tanya Kansha penasaran.
Alvaro mengangguk pelan, “Iya, mereka bersengketa mengenai kepemilikan tanah dengan pejabat daerah. Pejabat itu ingin menjual tanah itu dan menjadikannya sebuah taman hiburan tapi disana ternyata sudah dibangun panti asuhan.” Jawab Alvaro.
“Kenapa bisa begitu?”
“Sebenarnya menurut keterangan dari pihak panti, bahwa tanah itu sudah menjadi milik sah mereka. Mereka bahkan menunjukkan sertifikat tanah itu tapi menurut pengacara di pihak lawan, sertifikat itu palsu, bahkan di kantor pertanahan, tanah itu tidak terdaftar atas milik mereka. Jadi mereka selama ini berada di tanah ilegal dan pejabat itu ingin menuntutnya.”
Kansha terkejut. Dia tidak menyangka ada masalah seberat itu yang sedang dihadapi oleh anak-anak tak berdosa. Fikirannya jadi melayang pada pertemuannya dengan Kanaya. Anak kecil polos itu menangis terharu ketika Kansha mau membeli semua dagangannya.
“Jadi apa yang harus dilakukan?” tanya Kansha menaruh rasa prihatin.
“Pihakku sudah mencoba bernegoisasi dengan mereka agar mereka tidak menuntut panti, bagaimanapun juga disana banyak anak-anak tidak berdosa, masa kecil mereka akan bertambah suram bila harus berhadapan dengan hukum. Jadi pihak mereka memutuskan alternatif lain yaitu angkat kaki dari tanah itu dengan kata lain panti itu harus digusur.”
“’Hanya itu? Lalu dimana mereka akan tinggal?” tanya Kansha cemas. Alvaro menggeleng.
“Aku tidak punya kuasa untuk itu. Tugasku hanya membantu dalam hal hukum saja. Jujur saja, aku ingin membantu tapi aku tidak memiliki banyak uang untuk melakukannya. Dan bila aku meminta perusahaan ayahku berinsvestasi, aku juga tidak bisa. Hubunganku sangat buruk dengan beliau saat ini.” kata Alvaro frustasi.
“Aku pernah mendengar rumor itu tersebar di grup angkatan. Katanya kamu tidak ingin mewarisi perusahan ayahmu dan memilih mendirikan firma hukum sendiri.”
Alvaro mengangguk, “Gara-gara itu juga aku putus dengan Aura. Ayah dan Aura tidak mempercayai kemampuanku dan itu sebabnya Aura memuskanku karena tak ingin jatuh miskin denganku andai aku gagal.” Katanya tersenyum miris. “Ah, maaf aku jadi membicarakan hubungan pribadiku.” Lanjut Alvaro.
__ADS_1
“Tidak apa. Aku mengerti perasaanmu, aku juga pernah diposisimu. Memulai semua dari awal tidak mudah. Hanya orang bermental baja dan bervisi ke depan yang sanggup melakukannya. Orang-orang seperti itu adalah ciri orang sukses sebenarnya.” Hibur Kansha.
Alvaro tersenyum tipis, “Kamu orang pertama yang memberikan energi positif untukku sejak aku mendirikan firma hukumku. Ternyata begini rasanya, bisa dipercaya oleh orang lain membuat perasaanku lebih baik.” Kata Alvaro.
“Aku hanya punya diriku sendiri ketika aku mulai SMA, aku mengandalkan diri untuk terus berprestasi dan mendapat beasiswa. Hingga aku bisa di tempatku saat ini, semua karena kepercayaan pada diriku sendiri. Orang lain tak akan peduli dengan prosesnya, mereka semua hanya ingin melihat hasil saja.”
Alvaro mengangguk dengan senyum mengembang, “Jadi begini rasanya berbicara dengan si jenius bahasa. Kata-katanya sangat dalam namun tetap menyenangkan.”
Kansha ikut tersenyum, “Oh ya, boleh aku ikut denganmu ke panti asuhan itu?” tanya tiba-tiba Kansha.
Alvaro mengerutkan kening, cepat sekali pembicaraan mereka berubah. “Kenapa tiba-tiba sekali?”
“Aku ingin ikut memberi dukungan pada mereka. Bagaimanapun juga, aku sama seperti anak-anak itu, masa kecilku juga tidak terlalu menyenangkan. dan karena aku juga sangat suka anak kecil, aku mungkin bisa menghibur mereka.”
Alvaro mengangguk menyetujui. “Boleh. Aku malah sangat senang kalau kamu datang dan ikut bersimpati. Kalau begitu besok aku jemput kamu saja, kita bersama-sama kesana.”
“Baiklah, terima kasih Alvaro.” Sahut Kansha senang. Alvaro yang melihat senyum mengembang Kansha terbawa senang.
***
Kansha dan Alvaro kini dalam perjalanan menuju panti asuhan. Tadi sebelumnya, Kansha meminta mampir ke toko mainan dan toko baju. Dia hendak membelikan hadiah untuk anak-anak itu.
Setelah berkendara selama satu jam di jalanan yang sedikit familiar di benak Kansha, mobil Alvaro sampai di sebuah panti asuhan. Plang Panti Asuhan Pelangi terpampang gagah bersanding dengan sebuah tanda Akan Digusur yang membuat hati Kansha teriris.
“Ayo masuk.” Ajak Alvaro menoleh pada Kansha yang masih menatap plang itu.
Alvaro dan Kansha kemudian masuk ke panti itu. Panti ini sangatlah bersih dan sederhana, banyak anak-anak kecil berkeliaran, mereka bermain dengan senang seolah tak ada masalah dan beban yang ditanggung. Kansha salut dengan ketangguhan mereka.
Alvaro membawa Kansha ke aula utama, disana sudah berkumpul tim Alvaro dan Bu Marwah, pengurus panti. Wajah Bu Marwah terlihat sendu dan mendung. Rupanya masalah ini membuat Bu Marwah sangat kefikiran.
Usai mengenalkan Kansha pada mereka, Alvaro dan timnya mulai menjelaskan strategi apa saja yang akan dilakukan untuk berhadapan dengan pihak lawan. Kansha mendengarnya dengan saksama. Melihat Alvaro, dia jadi terfikirkan Ruben. Mungkin Ruben bisa membantu juga, nanti Kansha akan menanyakannya.
Lalu tak lama, seorang gadis kecil datang dengan langkah terseok. Betisnya mengucurkan darah begitupun siku tangannya yang tergores. Bu Marwah langsung menghampirinya.
“Ya ampun, Kanaya! Kamu kenapa bisa luka lagi, nak?” seru Bu Marwah cemas.
Begitu nama Kanaya disebut, Kansha sontak menoleh, matanya membulat begitu tahu Kanaya adalah Kanaya yang sama yang dia temui tempo lalu. Pantas saja, ia merasa familiar dengan jalan yang tadi dilewati, rupanya Kansha pernah mengantarkan Kanaya kesini. Kanaya mengutuk otaknya yang kini gampang lupa.
Kansha menghampiri Bu Marwah yang tengah mencemaskan kondisi Kanaya. Anak itu tidak menangis sama sekali, seperti tempo lalu.
“Kanaya, masih ingat kakak?” tanya Kansha ketika mendekat.
Kanaya menoleh dan rautnya menunjukkan terkejut dan senang tak kentara, “Kak Kansha?”
***
Setelah pulang dari panti asuhan dan berakhir pertemuannya dengan Kanaya, Kansha dengan perasaan tak semangat datang ke restoran yang tadi dikirimkan alamatnya oleh Ruben. Namun Ruben masih tidak nampak batang hidungnya, padahal dia sudah menunggu hingga lima belas menit.
Kemudian, tiba-tiba lampu padam. Kansha mengedar sekeliling, tak lama lampu kembali menyala. Dan didepannya ada Ruben yang berdiri di atas panggung disaksikan semua para pengunjung. Kansha terdiam.
Ruben menatap Kansha penuh cinta, pianis kemudian mulai menekan tuts piano. Alunan lembut lagu Yovie & Nuno, Janji Suci mengalun lembut selaras dengan suara Ruben yang amat merdu. Kansha dari dulu memang mengakui bakat menyanyi pria itu. Untuk sedetik, Kansha merasa terbuai.
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Ruben menatap dalam pada manik Kansha. Ingin agar Kansha memusatkan seluruh perhatiannya pada setiap bait yang mengandung kesungguhannya.
Aku ingin mempersuntingmu
‘Tuk yang pertama dan terakhir
Akhirnya, sebuah kalimat penuh pemujaan dan impian masa depan sudah dilayangkan oleh Ruben. Impiannya menikahi Kansha, sudah ia ajukan pada gadis pujaannya. Dia tersenyum lembut tatkala melihat Kansha yang terdiam masih tak percaya.
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku akan mengulang tuk meminta
Satu kata dihapus oleh Ruben. Dia akan tetap mengulang lamarannya pada gadis itu bila ia ditolak lagi. Cintanya terlalu besar pada Kansha bila harus menyerah karena satu kata penolakan.
Satu keyakinan hatiku ini
Ruben berjalan mendekati Kansha dengan senyum terukir bahagia.
Akulah yang terbaik untukmu
Begitu kalimat terakhir dinyanyikan, Ruben berlutut di depan Kansha. Jemari kanannya menyodorkan kotak cincin yang berisi sebuah cincin berlian. Kansha menutup mulutnya ketika Ruben benar-benar melamarnya.
“Kansha, aku tahu aku bukan lelaki yang sempurna. Tapi aku ingin bersamamu, dan menjadi lelaki yang sempurna untuk melengkapimu. Aku ingin menghabiskan masa saat ini, masa depan dan masa tua denganmu dan memandangmu sesuka hatiku di setiap hela nafasku. Sera menjadikanmu satu-satunya pendamping hidupku dan ibu dari anak-anakku. Kansha Andara Williams, maukah kamu menikah denganku?”
Kansha terdiam. Dia menatap Ruben dengan gelisah. Belum lagi dengan sorakan para pengunjung lain, membuat bebannya bertambah. Kini Kansha dalam dilema besar.
Kansha menutup matanya erat-erat bersiap mengatakan jawabannya.
Maafkan aku, Nana.
__ADS_1
“Aku—“