My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 75.


__ADS_3

Halo, semuanya. Apa kabar? Semoga baik-baik saja dan tetap bahagia ya. Yuhuuu, I'm back !πŸ€—πŸ˜—


Terima kasih sudah mendukung dan mendoakanku ya, aku sangat tersentuh banget ketika liat komenan kalian. Jumlah viewers ku juga naik pesat padahal aku sebelumnya khawatir dengan hiatusnya seminggu ini, jumlah pembacaku semakin turun. But, thank you so much, itu tidak terjadi. Sekali lagi terima kasih yang sudah setia menunggu kisah amburadul ini, hehe.πŸ™πŸ’™


Keep enjoy ya untuk bab ini. Bab 76 nya akan di up pukul 14.00.


Udah itu aja, langsung baca aja kuy. Jangan lupa vote, koment dan likenya ya😊


Selamat membacaπŸ’™


Β ---------------------------


Alan membonceng Kansha melaju membelah jalanan Jakarta yang tak pernah tidur. Selama perjalanan, hanya suara lalu lalang kendaraan malam yang mengisi. Mulut kedua insan itu terkatup. Terlebih Kansha yang sudah menyerah menanyai Alan dengan rentetan kebingungan yang hanya dijawab kebisuan dari lelaki itu.


Kansha masih tak mengerti. Sudah jelas dia meminta diantarkan ke rumah sakit, Alan pun sudah menganggukinya. Tetapi kenapa lelaki itu tiba-tiba berubah fikiran dengan tak terduga dan malah ingin membawanya ke apartemen milik Alan.


Tak lama, Alan dan Kansha sampai di gedung apartement. Alan memakirkan motornya di basement, setelah itu naik menuju lantai tiga, apartement Alan. Mereka masuk beriringan.


Sampai di lantai tiga, Alan menggiring Kansha ke nomor rumahnya. Dia menekan beberapa angka dan pintu terbuka. Alan pun masuk. Tapi Kansha ragu. Dia terdiam di ambang pintu. Pikirannya berkecamuk, antara haruskah dia masuk atau tidak. Bagaimanapun, ini bukan rumahnya, ditambah Alan adalah seseorang lelaki dan ini sudah malam. Kesimpulannya, Kansha harus waspada, semua manusia memiliki sifat jahat di dalam dirinya bukan? Termasuk Alan.


Alan berhenti melangkah, dia menyadari bahwa Kansha tidak masuk mengikutinya. Alan pun berbalik.


"Kenapa tidak masuk?" tanyanya.


"Jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kamu malah membawaku ke apartementmu padahal kita sudah setuju mengantarku ke rumah sakit untuk mengambil mobilku?" todong Kansha yang masih berdiri di ambang pintu.


"Masuk saja dulu." kata Alan tak menjawab pertanyaan Kansha.


Kansha sontak menggeleng. Dia tak akan masuk sebelum dia mendapat jawaban memuaskan dari Alan.


Alan menghela nafas, "Aku akan menjawab kalau kamu sudah masuk. Ini sudah malam."


"Sudah tahu sudah malam, malah mengajakku ke rumahmu. Harusnya kita sudah di rumah sakit sekarang." kesal Kansha.


"Itu sebabnya aku membawamu kesini." tukas Alan.


"Apa maksudnya?" tanya Kansha bingung.


"Karena sudah malam, aku tidak jadi mengantarmu kesana. Akan sangat berbahaya kalau kamu menyetir larut malam seperti ini." jelas Alan.


Kansha tertegun. Dia menatap Alan tak percaya di ambang pintu. Tak disangka, Alan mengkhawatirkan keadaannya.


"Aku tidak apa-apa. Aku sudah biasa." tukas Kansha mengabaikan debaran jantungnya.


Kini giliran Alan yang menggeleng, "Terlalu berbahaya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kalau kamu mengantuk bagaimana? Kulihat kamu bahkan terus menguap sepanjang perjalanan tadi."


Kansha terdiam. Dia memang kelelahan hari ini. Alhasil dia jadi mengantuk dan terus menguap sebagai dampaknya. Alan ternyata memerhatikan itu.


"Sudah dapat jawabannya kan? Ayo masuk." ucap Alan lagi.


Kansha masih terdiam berfikir. Yang dikatakan Alan memang benar sih. Dia sudah sangat kelelahan dan ingin segera tidur. Rasa laparnya bahkan kalah telak dengan rasa mengantuknya. Namun Kansha masih memiki pertanyaan lain. Bolehkah dia menginap di rumah Alan? Dan bagaimana dengan mobilnya?


Alan menyadari bahwa Kansha masih bingung. Mata wanita itu sudah sayu tetapi harga dirinya dan fikiran logisnya masih menguasai. Dia tahu apa yang Kansha fikirkan sekarang.


"Kamu tidak perlu risau soal kamu menginap ditempatku. Lagipula ini hanya semalam, tak akan ada masalah. Aku juga akan pergi ke rumah utana, jadi kamu hanya akan sendirian disini. Dan soal mobilmu, berikan saja kunci mobilmu, aku akan membawanya besok." kata Alan menjawab semua pertanyaan Kansha yang sedari tadi terus menjadi beban fikiran perempuan berusia dua puluh lima tahun itu.

__ADS_1


Kansha mendongak dan matanya tetap menatap tak percaya pada Alan.


"Kamu serius?" tanyanya.


"Aku serius." angguk Alan tenang.


Kansha sudah melunakkan tatapannya. Namun matanya masih menyalang memperingati, "Baiklah, hanya semalam. Dan jangan lupa ambil mobilku besok, pokoknya begitu aku bangun, mobilku sudah ada di basement gedung ini."


"Aku berjanji."


"Baiklah kalau begitu."


"Jadi sudah bisa masuk sekarang bukan?"


Kansha mengangguk. Alan lalu menyampingkan badannya dan mempersilakan Kansha masuk terlebih dahulu. Setelahnya, Alan menutup pintu dan menyusul Kansha yang sudah berada di ruang tamu.


Kansha yang sudah masuk lebih dahulu langsung berdecak kagum melihat luasnya apartement lelaki itu. Warna catnya yang putih dengan aksen kayu membuat rumah ini serasa bersih. Lantai kayunya juga sangat nyaman. Semua perabot tertata rapi, tak ada bau aneh, rumah ini malah terlihat rapi dan harum.


"Rumah ini jarang ditinggali. Aku biasanya kesini untuk beristirahat setelah penerbangan dini hari karena letaknya tak jauh dari bandara." celetuk Alan.


"Rumahmu lebih luas dibanding dugaanku. Kamu memang pria sukses."


Alan tertawa mendengar pujian bernada datar dari Kansha.


"Duduklah dahulu, aku akan mengambil minum." ucap Alan.


Kemudian Alan menuju dapur. Dapur bisa dilihat oleh Kansha karena tidak ada sekat apapun yang menghalangi. Dan begitu Alan membuka kulkas, rombongan bahan makanan yang tersusun rapi, membuat liur Kansha menetes. Dia menjadi lapar lagi.


Kruyuk


"Aku akan memasakanmu makanan." katanya.


Kansha bereaksi, dia langsung menggeleng. "Tidak usah, aku tidak lapar." tolaknya.


"Lalu tadi suara apa?" tanya Alan geli.


"Suara? Aku tidak mendengar apa-apa." Kansha pura-pura bingung.


Alan memutuskan mengikuti permainan Kansha.


"Tadi kudengar ada suara kruyuk seperti perut kita kelaparan." katanya serius.


"Itu bukan perutku. Aku tidak lapar sama sekali." tukas Kansha cepat.


"Benarkah?" Nada Alan makin serius. "Kalau itu bukan perutmu, mungkin perutku."


"Benar, itu perutmu." angguk Kansha.


"Kasihan sekali perutku." Alan menyentuh perutnya, dia pura-pura terlihat sedih dan merasa bersalah. "Maafkan aku karena telah membuatmu kelaparan dan tak bisa mencerna makanan apapun. Aku akan memasakanmu pasta dan ayam goreng." lanjutnya.


Mendengar perkataan Alan, Kansha seketila tergiur kembali. Mendengar kata pasta dan ayam goreng membuat cacing di perutnya berdemo ria. Kansha menyentuh perutnya sebentar.


"Ayo ke dapur, aku bisa membuat ayam goreng yang renyah diluar tapi lembut didalam. Kamu juga pasti bisa mencernanya dengan baik." sandiwara Alan masih berlanjut. Dia pun melangkah pergi menuju dapur.


"Tunggu!" cegah Kansha. Alan pun berhenti melangkah.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alan tanpa berbalik. Dia asik menahan tawanya.


Kansha menggigit bibirnya. Dia malu tapi harus memaksakan diri mengatakannya. Rasanya tak enak bila kamu harus tidur dengan perut keroncongan. Layaknya tidur tanpa selimut di musim dingin. Tak akan tidur nyenyak dan malah tersiksa.


"Aku lapar. Eh maksudku, perutku juga lapar. Beri aku makanan juga." kata Kansha pelan.


Alan menahan tawanya mati-matian. Dia benar-benar puas sudah menjahili Kansha. Meski tak ada kata memohon, nada suara Kansha sudah mencirikan bahwa wanita itu putus asa.


"Baik, aku akan memasak satu porsi untukmu juga." kata Alan.


Alan lalu kembali melangkahkan kakinya menuju dapur, tapi lagi-lagi suara Kansha menghentikannya. Alan seketika berbalik.


"Apa?"


"Umm..ayam gorengnya." Kansha berhenti berbicara.


"Ayam gorengnya?" ulang Alan.


"Goreng dengan kulitnya juga, jangan lupa harus renyah." kata Kansha cepat.


Alan tak bisa menahan tawanya lagi. Dia menyemburkan tawanya begitu keras. Wajah Kansha memerah karena malu.


Alan terus tertawa membuat Kansha kini kesal. Dia mengambil bantal sofa dan melemparkannya pada Alan.


Bug


Alan berhenti tertawa ketika bantal sofa menghantam wajahnya.


"Yuhuu! Strike!" sorak Kansha senang.


"Kansha!" seru Alan terkejut.


"Habisnya kamu terus saja meledekku. Tawamu itu sangat menyebalkan." dengus Kansha.


"Hahaha." Alan kembali tertawa.


Kansha semakin kesal. Dia melepas sepatu haknya dan hendak melemparnya pada Alan. Alan seketika berhenti tertawa.


"Woah, Kansha!" seru Alan ngeri melihat hak sepatu Kansha yang runcing itu.


"Berhenti tertawa dan segera masakkan makan malam." tekan Kansha serius.


"Iya-iya, tapi singkirkan itu dahulu." kata Alan.


Kansha menurunkan sepatunya. Alan pun menghela nafas lega.


Namun karena pada dasarnya Alan itu jahil.


"Kansha." panggil Alan.


Kansha menaikkan alisnya sebelah. "Apa?"


"Ayam gorengnya.... goreng dengan kulitnya juga, jangan lupa harus renyah juga kan?" ejek Alan kembali.


Wajah Kansha memerah. "ALAN!" teriak Kansha melempar sepatunya.

__ADS_1


Alan berhasil menghindar, di lari terbirit-birit masuk ke dapur.Tak lama suara tawa Alan kembali menggema.


__ADS_2