
Di sebuah ruangan yang penuh dengan berkas menumpuk. Jam dinding di sudut kiri yang terus berdetak menambah angka. Serta seorang perempuan yang berkutat dengan segudang pekerjaannya.
Alan yang bosan menunggu, mengeluarkan ponselnya lalu mengarahkan kamera ke arah Kansha.
Cekrek
Kansha mendongak ketika mendengar suara kamera. Ada Alan yang memegangi ponselnya dengan santai tanpa dosa.
"Kamu tahu, mengambil foto orang tanpa izin itu adalah pelanggaran hukum?" ucap Kansha.
Alan menurunkan ponselnya, "Benarkah?"
"Menurut Pasal 115 UU HC yang menyatakan bahwa: "Setiap Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara Komersial baik dalam media elektronik maupun non elektronik, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)". ” jelas Kansha panjang lebar.
"Kamu lulusan bisnis tapi hafal hukum seperti itu?" tanya Alan tak percaya.
"Aku seorang reporter. Dan reporter pasti selalu berhubungan dengan pengambilan gambar, jadi aku harus tahu tentang hukumnya juga." balas Kansha.
"Kalau begitu, apakah yang ini juga pelanggaran hukum?"
Alan tiba-tiba berdiri dan menghampiri Kansha. Dia memutar kursi Kansha hingga berhadapan dengannya. Kansha menelan ludah ketika Alan tepat berada di depannya dalam jarak dekat.
Alan melirik meja Kansha, kemudian mengambil ponsel Kansha. Dia lalu memegang tangan Kansha dan menempelkan ibu jari Kansha pada ponsel miliknya sendiri. Setelah terbuka, Alan mengarahkan kamera ke wajah Kansha. Dan Kansha hanya memerhatikan tindakan Alan tanpa bersuara.
Cekrek
Kansha mengedipkan matanya ketika suara kamera berbunyi.
"Apa yang kamu--"
Perkataan Kansha terputus oleh tindakan Alan yang tiba-tiba memotret hasil foto di ponsel Kansha dengan ponsel miliknya. Kansha mengernyitkan dahinya. Setelah selesai, dia mengembalikan ponsel Kansha ke meja.
"Ini tidak disebut pelanggaran bukan?" tanya Alan sambil memperlihatkan hasil fotonya.
"I-itu.."
"Aku menggunakan ponsel milikmu dan memotret hasilnya dengan ponselku. Jadi ini milikku, aku bisa menyimpannya bukan?" potong Alan menatap Kansha.
Jantung Kansha berdegup cepat tatkala Alan menatapnya penuh arti. Lalu cepat-cepat Kansha tersadar.
"Apa yang kamu lakukan sebenarnya." ucap Kansha menepis ponsel Alan pelan. Kursinya kembali dia putar ke arah meja.
Alan lalu berjalan ke depan meja Kansha, "Baru-baru ini aku menonton drama tentang hukum. Ada adegan ketika pemeran utamanya membahas masalah ini. Aku hanya penasaran." jawab Alan.
Kansha menatap tak percaya, "Drama? Sejak kapan kamu melihat drama?"
"Untuk bisa meluluhkan hati seorang perempuan, aku harus belajar. Kata rekan kerja perempuanku, menonton drama adalah hal yang bagus."
Kansha tak mampu menahan tawanya melihat wajah Alan yang polos tanpa ekspresi, "Kalau begitu seharusnya kamu menonton drama romantis, bukannya drama tentang hukum." ujar Kansha tertawa.
"Setelah itu aku sadar, bahwa aku tidak perlu menonton romantisme orang lain ketika aku bisa menciptakan adegan romantis untuk diriku sendiri." ucap Alan membuat Kansha menghentikan tawanya.
"Apa maksudmu?" tanya Kansha tak mengerti.
"Kansha, menonton drama romantis hanya akan membuat kita iri." balas Alan dengan tatapan serius.
"Lalu bagaimana?"
Alan mencodongkan tubuhnya ke arah Kansha. Kansha yang diperlakukan seperti itu, seketika memundurkan badannya.
"Kamu terlalu dekat." ucap Kansha menatap horor.
"Aku sedang serius." tukas Alan.
"Aku tahu. Tapi bisakah kita berbicara dengan posisi normal?" pinta Kansha. Atau kalau tidak, maka dia jamin, dirinya akan meledak sebentar lagi.
Alan menanggapinya dengan memundurkan tubuhnya. Dia hanya berdiri di depan Kansha tanpa membuat posisi aneh-aneh lagi.
"Ayo, makan." ucap Alan mengurungkan perkataan yang akan diucapkannya.
"Kamu tidak akan melanjutkan perkataanmu?"
"Untuk apa, kalau kita sebentar lagi akan mengalaminya." balas balik Alan. Kansha hanya mampu terdiam.
"Alan." panggil Kansha pelan.
"Kenapa?" tanya Alan.
Kansha yang awalnya menatap lantai, kini menatap Alan dengan saksama.
"Kurasa..kamu harus ke dokter jiwa."
***
Kansha dan Alan sampai di restoran cepat saji. Itu karena keinginan Kansha sendiri. Dia merasa ngeri dengan sikap Alan yang aneh. Dan kalau dia terus bersama Alan di waktu yang lama, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada jantungnya nanti.
Kansha menggigit pelan burger miliknya namun dengan tatapan yang mengarah pada Alan. Alan makan dengan normal. Tapi bagi Kansha itu masih termasuk aneh. Mungkin ini masih termasuk dampak serangan kejutan tak biasa Alan.
"Jangan sampai matamu keluar karena terus menatapku." celetuk Alan dengan tenang masih menyuapkan makanan ke mulutnya.
Kansha terkesiap, dia lalu memutuskan tatapannya dan beralih memakan burgernya dengan cepat.
Alan hanya tersenyum geli.
Mereka lalu makan tanpa bersuara kembali. Keramaian dan kebisingan pengunjung lain tidak mampu meluluhkan keheningan di meja mereka.
Brak
"Maaf, aku terlambat."
Kansha dan Alan mendongakkan kepalanya. Ada Alfin yang berdiri di depan mereka. Kemeja putihnya sedikit basah oleh keringat.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Alan.
"Oh, Kansha yang menyuruhku kesini." jawab Alfin enteng. Dia duduk di samping Kansha dengan santai.
__ADS_1
Kansha menatapnya dengan bingung seolah mengatakan, "Kapan aku mengatakannya?"
"Maaf ya, lalu lintasnya macet." jawab Alfin merasa bersalah.
Kansha masih menatapnya dengan raut mengernyit. Alan yang melihat Alfin dan Kansha saling bertatapan seketika menyeletuk,
"Kamu sungguh menyuruhnya kesini?" tanya Alan tidak percaya.
"Eee..tentu." angguk Kansha gagap. Dia diberi isyarat oleh Alfin.
"Kamu pasti tidak memiliki pekerjaan lain hingga menganggu makan siang orang lain." desis Alan.
"Mas, siapa yang menganggu siapa? Kansha sendiri yang menyuruhku kesini. Katanya, " Alfin menatap Alan, "Dia kurang nyaman makan berdua denganmu." lanjutnya santai.
Kansha menatap Alfin dengan tidak percaya. Matanya melotot pada adik Alan itu.
Kansha memukul bahu Alfin, "Kapan aku pernah mengatakannya?" bisik Kansha.
Alfin menatap Kansha dengan senyuman manis, "Fakta bahwa kamu mengirimkan alamat restoran ini padaku berarti kamu ingin aku datang kesini. Dan karena kamu ingin aku datang, itu berarti kamu tidak ingin makan berdua saja dengan Mas Alan."
Kansha menganga, hipotesis apaan itu.
"Aku mengirimkan alamatnya karena kamu yang memintanya." sanggah Kansha kembali berbisik.
Alfin berganti berbisik, "Itu karena aku khawatir."
Alan yang melihat mereka berbisik di dengannya seketika memukul meja membuat Alfin dan Kansha menoleh ke arahnya.
"Kalau kamu tidak nyaman makan denganku, katakan saja. Tidak perlu membawa Alfin kesini." ucap Alan datar.
Kansha menggelengkan kepalanya dengan panik, "Tidak, aku tidak berfikir seperti itu." ucapnya.
Dia lalu memukul bahu Alfin lagi membuat Alfin mengaduh.
"Hei, berhentilah mengatakan omong kosong. Aku tidak pernah mengatakan itu padamu." bisiknya kesal.
"Aku tidak mengatakan omong kosong. Aku mengatakan ini karena aku peka terhadap perasaanmu." balas Alfin tenang.
Ingin rasanya Kansha menjahit mulut sembarangan Alfin.
"Aku pesan dulu ya. Jangan kemana-mana." ucap Alfin. Dia lalu mengelus rambut Kansha lembut. Alan menatapnya tanpa ekspresi.
"Apa yang kamu lakukan!" desis Kansha kesal. Dia melirik Alan, melihat reaksinya.
"Debu restoran bisa membuat rambutmu kotor." jawab Alfin. Dia lalu tersenyum manis dan meninggalkan meja.
"Dasar gila." gumam Kansha.
"Sepertinya kamu dan Alfin memiliki cerita yang tidak kuketahui." celetuk Alan melipat tangannya.
Kansha yang sedang mengunyah, seketika berhenti.
"Cerita apa yang kamu maksud, aku tidak mengerti." balas Kansha gugup.
"Apapun. Hingga bisa membuat orang lain salah sangka."
"Bisa saja yang mulanya teman jadi kekasih?"
Kansha menyemburkan sodanya hingga percikan soda itu menodai baju Alan.
"Oh maafkan aku. Aku tidak sengaja." seru Kansha panik. Dia menggapai tisu bermaksud membersihkan noda di baju Alan.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." ucap Alan menepis tisu Kansha.
Kansha sedikit kecewa, dia lalu menaruh tisunya di meja.
"Aku tidak sengaja menyemburkan minumanku karena ucapanmu. Bagaimana bisa kamu berfikir seperti itu?"
Alan manaruh tisu bekas membersihkan pakaiannya. Dia lalu mengendikkan bahu.
"Maka buat aku percaya bahwa aku tidak salah paham."
Bruk
Sebelum Kansha sempat menjawab, Alfin terlebih dahulu tiba. Dia menaruh nampan makanannya sedikit keras. Kemudian duduk di samping Kansha kembali.
"Apa yang kalian bicarakan? kenapa tidak melanjutkannya?" tanya Alfin tanpa dosa.
Kansha hanya membalasnya dengan mulut yang komat-kamit. Matanya menatap tajam Alfin.
"Dasar sialan."
***
Kansha, Alan dan Alfin berjalan menuju arah parkiran. Kansha yang berada di tengah-tengah kakak beradik itu merasa sedikit tidak nyaman karena atmosfer yang diciptakan Alan dan Alfin. Entah ada apa, tapi Kansha merasa Alan dan Alfin bersikap aneh.
"Kansha pulang denganku." celetuk Alan tegas.
"Tidak, aku yang akan mengantarnya." tolak Alfin.
Alan menatap datar Alfin, "Dia datang denganku maka pulangpun harus denganku."
Tawa Alfin pecah, "Mas fikir kalian anak SD, harus selalu bersama?" ucap Alfin.
"Maka biarkan kami bersama." tandas Alan.
Alfin menghentikan tawanya, "Tidak." pungkas Alfin datar.
Kansha yang sudah lelah dengan pertengkaran dingin dua beradik ini mendesah keras.
"Hentikan. Kepalaku sungguh pusing saat ini." ucap Kansha lelah.
Dia lalu berjalan lunglai menjauh dari mereka dan berdiri di pinggir jalan.
"Kamu mau kemana? Aku yang akan mengantarmu." kata Alan menyusul.
__ADS_1
"Kansha, aku yang akan mengantarmu." Tak lama, Alfin sampai.
Alan dan Alfin saling berpandangan. Kilatan muncul dari mata mereka.
Kansha memutar bola matanya, "Aku bisa sendiri." pungkas Kansha. Dia lalu merentangkan tangannya dan menyetop taksi yang lewat. Beruntungnya dirinya.
"Taksi." panggilnya.
Taksi itu berhenti di depan Kansha. Sebelum masuk, dia menatap Alan dan Alfin bergantian.
"Kalian tahu, sikap kalian sungguh aneh. Dan aku tidak mengerti apa ada masalah yang terjadi diantara kalian tapi saranku, selesaikan masalah kalian." ucap Kansha.
Tanpa sempat mendapat jawaban, Kansha segera masuk ke dalam taksi. Kemudian taksi itu pergi.
Alan dan Alfin tidak mencegahnya. Mereka memandangi taksi itu hingga hilang dari pandangan.
Kemudian Alan menatap Alfin dengan dingin, "Ada yang ingin kubicarakan padamu."
Namun dibalik tatapan penuh kilatan antara Alan dan Alfin, ada sebuah kilatan lain yang mengawasi mereka di kejauhan. Kilatan itu adalah sebuah kamera yang di pegang seseorang bertudung hitam.
***
Aura memandangi foto-foto hasil suruhannya untuk mengawasi Kansha. Dia menatap satu persatu foto yang memperlihatkan kegiatan Kansha dan siapa saja orang yang ditemui wanita itu. Lalu dengan tenang, memisahkan foto-foto yang mengandung potret Alan didalamnya.
Ting
Bel cafe berbunyi pertanda ada pelanggan yang masuk. Dia adalah Aisyah.
"Mbak Aura." sapa Aisyah ketika duduk di hadapan Aura.
"Ini apa?" tanya Aisyah bingung ketika dia disodorkan jajaran foto Kansha.
"Perhatikan siapa yang ditemuinya." ucap Aura.
Aisyah memerhatikan satu persatu foto Kansha hingga matanya melebar tatkala ada Alan di beberapa fotonya.
"Mbak Kansha masih berhubungan dengan mas Alan?" seru Aisyah.
"Bukan masih tapi makin. " ralat Aura, "Di hari lamaran itu, Alan dan Kansha menghabiskan waktu bersama di hutan. Dan ini adalah yang terbaru. Alan mengunjungi perusahaan Kansha dan makan siang bersama." Aura menunjukkan beberapa foto pada Aisyah.
Aisyah mengepalkan tangannya melihat betapa dekatnya interaksi mereka.
"Aisyah, kamu sudah kalah." tandas Aura.
Aisyah menggelengkan kepalanya tegas, "Aku tidak akan kalah dari perebut itu. Mas Alan hanya milikku seorang." ucapnya berapi-api.
"Tapi di foto ini, Alan dengan jelas mendekati Kansha. Dia jatuh cinta padanya." balas Aura.
"Mbak, sebenarnya mbak berada di pihak siapa? Kenapa mbak malah mendukung Mbak kansha?" seru Aisyah.
"Itu karena kamu terlalu lemah. Mempertahankan barang mainanmu sendiri saja tidak bisa. Dan kini bagaimana caranya mengambil kembali mainanmu setelah direbut orang?"
"Aku pasti punya cara. Mas Alan tidak nungkin semudah itu melupakan rasa cintanya padaku dan semua kenangan kami."
Aura menggelengkan kepalanya, "Aisyah, kamu terlalu naif. Lelaki adalah makhluk paling tak setia di dunia ini. Melupakan rasa cinta sama mudahnya seperti membalikkan telapak tangan."
"Tapi aku yakin Mas Alan tidak begitu. Kami sudah bersama bertahun-tahun. Banyak kenangan indah yang kami ciptakan bersama-sama. Tidak, Mas Alan tidak mungkin menyukainya." sanggah Aisyah yakin.
"Kalau begitu katakan, apa yang mau kamu lakukan terhadap permasalahan ini." tandas Aura.
"Semuanya bermula dari Mbak Kansha. Andai dia tidak ada, maka hubunganku dengan Mas Alan baik-baik saja." desis Aisyah.
"Berarti yang harus kamu lakukan adalah menyingkirkan sumber utama masalahnya." timpal Aura.
"Bagaimana caranya?" tanya Aisyah.
"Simpel. Kamu punya dua opsi." jawab Aura.
"Apa itu?"
"Membuatnya menyingkir dari hidup Alan atau bahkan menyingkirkannya dari dunia ini. Tapi saranku, opsi nomor dua yang terbaik."
"Maksud mbak, mbak Kansha harus mati?" tanya Aisyah terkejut.
"Tikus bagi petani adalah musuh bebuyutan. Daripada menyingkirkannga dari padi tapi pada akhirnya akan kembali, lebih baik membunuhnya tanpa ampun. Itulah kenapa ada yang namanya racun tikus." perkataan Aura di tempat penuh orang ini masih sama menakutkannya.
"Mbak, tapi manusia tidak sama dengan tikus." lirih Aisyah.
Aura tersenyum, "Tentu saja tidak. Tapi konsepnya sama. Membunuh penganggu."
"Tapi.." Aisyah ragu-ragu dan takut. Dia memang membenci Kansha tapi tidak separah itu hingga harus membunuhnya.
"Kamu tidak perlu melakukannya. Aku hanya membagikan pemikiranku padamu. Bagimanapun, rasa dendammu masih tak kalah kuat dengan dendamku padanya." desis Aura.
"Tapi Mbak Kansha salah apa pada mbak hingga membuat mbak sebenci ini?" tanya Aisyah penasaran.
"Entahlah. Aku bahkan tidak tahu apa kesalahan Kansha memang sebesar itu. Tapi yang kutahu, dia telah merebut hal berharga di hidupku. Perundungannya semasa SMA, tidak berarti apa-apa dengan penderitaan yang harus kutanggung." ucap Aura. Matanya yang menyorot tajam mulai memanas.
"Aura, ada kabar buruk!"
"Sahabat kamu, hanyut di laut!"
"Tubuhnya tidak ditemukan. Polisi memastikan bahwa mustahil korban selamat."
"Pihak keluarga memutuskan bahwa Kania meninggal dunia."
"KANIA!"
Dan setitik air mata jatuh dari mata Aura.
...-----------...
Maafkan aku terlambat up🙏 Itu karena jujur, aku kehilangan inspirasi dan gak tahu harus nulis apa🙏😭 Tapi semoga tetap suka. Dan kisah ini hanya fiksi belaka ya, tidak ada maksud menjelekkan seseorang, organisasi dan lain-lainnya.
Jangan lupa like, vote dan koment sebanyak-banyaknya yaa. Jangan jadi sider aku mohon🙏
__ADS_1
Terima kasih, dan Selamat Berpuasa semuanya🙏🤗