My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 106.


__ADS_3

Alfin seperti biasa sedang bermain PS di kamarnya. Hobi dokter ganteng itu memang tak jauh-jauh dari gaming maka waktu luangnya dia alihkan pada permainan. Seperti layaknya kebanyakan para gamers, tangan dan mulutnya sibuk sejak tadi. Untungnya dia tidak mengumpat meski terus kalah.


Lalu suara ketukan pintu menginterupsinya. Dia hanya melirik sebentar kemudian kembali ke dalam permainan. Alan yang melihatnya hanya mendesah pelan. Adiknya itu kalau sudah fokus pada game, meski ada perang dunia ketiga pun, dia pantang kabur sebelum menang.


Alan lalu masuk ke dalam kamar tanpa kata. Dia duduk di sofa seperti biasa. Menatap beberapa menit pada layar tv.


“Fin.” Panggil Alan setelahnya.


“Hem.” Sahut Alfin singkat.


“Fin.” Panggil Alan lagi.


“Heem.” Sahut Alfin kini sedikit lebih panjang.


“Alfin.” panggil Alan lagi.


“Apa mas?” akhirnya Alfin menyerah. Dia menoleh pada Alan.


Alan tersenyum kemenangan.


“Mas, mau memberitahukan soal hubungan mas dengan Kansha pada bunda dan ayah.” Ucap Alan.


“Ya bagus.” Tanggap Alfin kembali fokus pada permainannya.


“Tapi bagaimana cara mengatakannya ya, mas bingung.” lanjut Alan.


“Tinggal bilang, bunda, ayah, Alan sudah melamar Kansha. Bunda dan ayah merestui kan?” terang Alfin.


“Semudah itu?” tanya Alan.


“Bilangnya mudah, tapi tidak tahu reaksi mereka. Bunda sih sudah jelas tidak masalah. Tapi ayah?”


Alan termenung. Benar, alasan ayahnya lah yang membuat Alan bingung. Bunda memang sudah memberi izin, tapi ayah? Dia tidak tahu seperti apa ayahnya akan bereaksi. Terlebih lagi, dia baru saja batal dengan Aisyah dan kini malah meminang wanita lain. Dan parahnya, Kansha adalah non-muslim. Sedangkan Ayahnya adalah seorang yang amat religius.


“Bagaimana kalau ayah tidak merestui? Bagaimanapun Kansha adalah non-muslim.” Ujar Alan was-was.


“Kemungkinannya fifty-fifty. Menilik dari sikap ayah yang religius, beliau mungkin lebih menginginkan style seperti Aisyah, yang satu keyakinan dengan kita. Tapi ayah juga orang yang berfikiran terbuka, beliau pasti memiliki pemikiran yang lebih positif.” Jelas Alfin.


Alan masih tak tenang. Dia menggeliat-geliat di tempat duduknya. Satu masalah selesai, datang masalah lain. Alan sudah pusing duluan.


Menyadari masnya tidak menanggapi, Alfin menghentikan permainannya. Dia lalu mendongak menatap Alan.


“Mas, sebaiknya mas coba berbicara dulu. Bagaimanapun itu adalah rencana yang baik. Soal bagaimana tanggapan ayah, kita tidak tahu sebelum melakukannya kan.” Saran Alfin.


Alan mendesah, “Mas tahu. Tapi yang jadi masalahnya adalah mas baru saja berpisah dari Aisyah dan kini sudah meminang perempuan lain. Terlebih Kansha bukan seseorang yang dikenal ayah.”


“Lantas kenapa? Ayah kita orang yang baik kok. Mas jangan menjudge ayah adalah ayah mertua yang jahat.” Tukas Alfin.


“Tentu saja tidak. Mas hanya masih bimbang.” Sanggah Alan.


Alfin terdiam. Dia juga jadi pusing sendiri.


“Kalau begitu, bicarakan itu dengan Kansha. Apa dia akan tetap non-muslim ataukah pindah keyakinan.” Saran Alfin.


Alan menatap Alfin beberapa saat. Dia sudah memikirkan itu tapi Alan khawatir Kansha akan merasa terbebani. Terlebih keyakinan bukan sesuatu yang mudah dialih-alih. Dan bila Kansha pindah keyakinan, itu pun harus dari niatnya. Bukan oleh sebab dorongan dari dirinya atau hubungan mereka.


“Mas akan memikirkannya lagi.” Pungkas Alan. Dia lalu bangkit berdiri dan pergi dari kamar Alfin.


Alfin yang melihatnya hanya mendesah pelan.


***


Keadaan Kansha tak jauh berbeda dari Alan. Dia juga sedang banyak fikiran. Hasil tes DNA antara dia dan Aisyah masih terbayang di fikirannya. Dan entah dia harus senang atau kecewa. Kansha bahkan tak bisa berfikir jernih. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Kansha kembali menatap selembar kertas hasil tes DNA nya yang sempat di cetak kemarin malam. Namun seberapa kali dilihat dan dibaca pun, kalimatnya tetap sama. Semua kata-kata dan hurufnya tak ada yang berubah.


“Maaf bu, ada Pak Alan di lobi.” Beritahu Seli melalui interkom.


“Suruh dia masuk,” jawab Kansha.


“Baik bu.”


Kansha masih terdiam. Dia tidak tahu harus berbagi dengan siapa mengenai hal ini. Jelas karena dia butuh saran tapi dia belum siap memberitahukannya.


Tok tok


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Kansha. Dia cepat-cepat menyembunyikan kertas itu ke tumpukan berkasnya. Jangan sampai Alan tahu hal ini.


“Masuk.”


Alan yang mengetuk pintu masuk ke ruangan begitu dipersilakan. Dia tersenyum pada Kansha yang menyambutnya.


“Kenapa tidak bilang ingin datang kemari.” Ucap Kansha menampikan senyuman manis.


“Sengaja, untuk memberi kejutan.” Jawab Alan.


“Duduk dulu.” ucap Kansha. Alan lalu duduk di kursi sedangkan Kansha mengambil minuman di pantry.


“Apa ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Kansha sambil menaruh segelas kopi di meja.


Alan terlihat ragu tapi lalu memutuskan bicara.


“Soal hubungan kita.”

__ADS_1


Kansha menunggu kelanjutan ucapan Alan dengan dada berdebar-debar.


“Aku ingin mengatakannya pada kedua orang tuaku tapi..” Alan kembali menjeda ucapannya.


“Tapi?” Kansha menatapnya tak sabar.


“Tapi aku tidak tahu apa ayahku akan merestuinya atau tidak.” Tandas Alan.


Kansha terdiam. Masalah restu orang tua memang salah satu hal paling sulit. Terlebih lagi karena dia..


“Aku non muslim, benar kan?”


Alan mengangguk.


“Aku tidak memaksamu untuk mengikuti keyakinan yang sama denganku. Aku hanya ingin membicarakan hal ini denganmu. Bagaimana cara menghadapi kedua orang tua kita nanti.”


Kansha menghembuskan nafas pelan, dia sebenarnya tidak terkejut mengenai hal ini. Begitu dia menerima pinangan Alan, maka dia harus siap dengan resikonya. Termasuk soal perbedaan keyakinan mereka.


“Sejujurnya, aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Aku bahkan belum mengatakan soal hubungan kita pada kedua orang tuaku. Orang tuaku sedang melakukan perjalanan bisnis sejak beberapa bulan lalu.” Ujar Kansha.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Alan.


Kansha mencoba berfikir tapi tak ada jalan keluar yang berarti.


“Untuk sementara, kita jelaskan yang sebenarnya pada kedua orang tua kita termasuk soal keyakinan kita. Semoga saja mereka mau mengerti.” Putus Kansha.


“Apa kamu tidak memiliki niatan untuk masuk ke agama Islam?” tanya Alan.


Kansha terdiam mendengar pertanyaan tiba-tiba Alan.


“Aku belum memikirkan hingga sejauh itu.” ucap Kansha pelan.


Alan menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya. Dia mengerti, tentu saja. Pindah keyakinan bukan perkara gampang. Ada banyak pertimbangan yang harus fikirkan baik dan buruknya. Kansha pun sama halnya.


“Maafkan aku Alan. aku belum bisa memutuskan apapun.” Kata Kansha merasa bersalah.


Alan menggeleng, “Tidak apa-apa. Kita jalani semuanya pelan-pelan. Soal pertanyaanku, jangan dibuat beban. Aku menerimamu apapun keyakinanmu.” Sahut Alan tersenyum.


Kansha mengangguk lega.


“Jadi kapan kita menjelaskannya pada orang tuamu?” tanya Kansha.


“Kamu kapan bisanya? Aku mengikuti jadwalmu.”


“Malam ini juga bisa. Atau kapanpun terserah. Lebih cepat lebih baik.”


“Kalau begitu, nanti lusa. Aku ada penerbangan besok selama satu hari.”


“Oh ya, pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Alan mengganti pembicaraan.


Kansha melirik mejanya yang penuh berkas dan laptop yang menyala.


“Sudah lumayan selesai. Kenapa? Mau mengajakku makan siang?”


Alan mengangguk mengiyakan.


“Ayo. Kebetulan aku sudah lapar.” Balas Kansha menjadi riang. “Tunggu sebentar ya.” Lanjutnya.


Kansha menuju mejanya. Dia membereskan berkas-berkas sisa pekerjaannya kemudian mematikan laptop. Setelah itu dia mengambil tasnya.


"Ayo, Lan." ajak Kansha semangat.


Alan hanya tersenyum melihatnya. Mereka lalu keluar kantor bersama-sama.


***


Keesokan harinya,


Alan


Aku berangkat lima belas menit lagi.


Kansha sedang berada di cafe dekat rumahnya. Dia memang sedang libur bekerja.


Kansha


Safe flight, Alan. Jangan lupa berdoa sebelum take off.


Alan


Pasti. Sudah ya, aku akan briefing dulu.


Kansha membaca pesan Alan sambil menggigit sandwich. Dia lalu mengetikan balasan.


Kansha


Hati-hati. Kabari bila sudah sampai.


Setelah itu tak ada jawaban lagi dari Alan, sepertinya lelaki itu sudah mematikan ponselnya karena dia tidak lagi menunjulkan tanda online. Kansha pun menaruh ponselnya di atas meja dan fokus memakan makanannya sambil membaca buku.


Kansha yang sedang fokus makan sambil membaca buku itu seketika dikejutkan oleh suara gelas yang ditaruh kasar di mejanya. Kansha mendongak ke asal suara dan matanya membulat kala melihat kehadiran Aisyah.


Tanpa sempat berkata, Aisyah menaruh tasnya di atas meja lalu duduk menghadap Kansha. Dia menatap Kansha penuh benci.

__ADS_1


"Apa kamu tidak memiliki sopan santun sama sekali? Duduk tanpa izin dan menganggu orang yang sedang makan." ucap Kansha datar.


Aisyah tersenyum sinis, "Apa mbak tidak punya moral sama sekali? MENGACAUKAN HUBUNGAN ORANG LAIN DENGAN MEREBUT CALON SUAMI ORANG?" Aisyah mengatakannya cukup keras hingga beberapa pengunjung menoleh ke arahnya.


Kansha tetap menampilkan raut tenang.


"Saya tidak merebut calon suamimu." tandasnya.


Aisyah merasa muak sekaligus jijik mendengar nada tak berdosa dari Kansha.


"Memang benar ya, wajah cantik tak menjamin hatinya juga cantik. Lagipula mana ada maling yang mau mengaku." sindir Aisyah.


"Terserah apa yang kamu katakan." Kansha malas berdebat. Dia bangkit berdiri hendak membereskan barang-barangnya.


"Berhenti." cegah Aisyah. Namun Kansha tak mendengarkannya, dia malah terus membereskan barang-barangnya termasuk buku, earphone dan lainnya.


"KUBILANG BERHENTI!" seru Aisyah kehilangan kesabaran.


Kansha menghentikan tindakannya. Dia menatap Aisyah. Mereka berdua lagi-lagi jadi pusat perhatian para pengunjung.


"Kembalikan Mas Alan padaku." tandas Aisyah.


"Dia bukan barang." jawab Kansha singkat.


"Kubilang kembalikan Mas Alan. Dia calon suamiku!" pekik Aisyah tambah keras.


Kansha mengedarkan matanya sekeliling. Mereka benar-benar sudah menjadi pusat perhatian semua orang. Kansha lebih baik cepat mengakhirinya.


"Terserah apa yang kamu katakan." ucap Kansha. Dia mengambil tasnya dan hendak pergi.


"KAMU SUDAH MEREBUT CALON SUAMIKU." Teriak Aisyah membuat langkah Kansha terhenti. Bisik-bisik mulai terdengar di antara pengunjung.


"Aku sudah menganggap mbak sebagai kakakku sendiri. Aku bahkan masih bisa berfikir positif kala mbak terus berusaha menghabiskan waktu dengannya. Tapi kini, mbak malah merebutnya dariku. Padahal kami tinggal menikah beberapa bulan lagi. Apa salah aku mbak? Tidak adakah lelaki lain di luar sana yang lebih baik dan pastinya bukan calon suami orang?" lanjut Aisyah mendramatisir suaranya.


Bisik-bisik makin keras di antara pengunjung. Diantaranya ada yang tidak percaya tentang apa yang mereka dengar. Bahkan ada yang terang-terangan mengkritiknya hingga mengumpatinya. Kansha mendesah lelah, dia muak harus terus disalahkan lagi.


"Dengar, aku tidak pernah merebut Alan." jelas Kansha berbalik menghadap Aisyah.


"Aku berhubungan dengannya setelah kalian berpisah. Kalaupun aku ingin merebutnya, sudah kulakukan sejak dulu. Tidak perlu menghabiskan waktu berselisih dengan orang tak dewasa sepertimu." lanjut Kansha telak.


Aisyah sedikit tertohok namun berusaha bersikap tak terpengaruh.


"Itu karena cintanya masih kuat padaku. Tapi karena mbak terus menerus berada di lingkungan Mas Alan, membuatnya makin lama makin luluh. Apalagi kalian berdua bersama selama sebulan disaat aku dirundung khawatir karena tidak tahu keberadaaannya saat itu." tukas Aisyah merasa sedih.


Bisik-bisik bernada menggunjing terus menerus semakin riuh. Mereka menatap Kansha penuh rasa kesal karena mengira Kansha benar-benar tega merebut calon suami Aisyah yang mereka lihat sebagai wanita baik yang lemah.


"Apa kamu lupa ingatan atau pura-pura lupa? Aku dan Alan terkena tragedi dan kami terdampar di pulau selama sebulan. Kamu juga tahu hal itu." jelas Kansha mulai kesal.


"Lalu kenapa mbak masih berhubungan dengan Mas Alan? Kalian..kalian bahkan berciuman!"


Mendengar pernyataan Aisyah, semua pengunjung makin dibuat kesal padanya.


"Itu sih pasti pelakor."


"Iya, tidak punya akhlak sama sekali ya. Sudah tahu punya calon istri malah diembat. Apalagi sampai ciuman."


"Dia pasti tidak punya didikan oleh orang tuanya."


"Sayang ya, cantik-cantik pelakor. Seperti tidak ada lelaki lain saja."


"Mungkin dia hanya mengincar harta makanya mau merebut calon suami orang."


Bisik-bisik bernada merendahkan itu seperti berlalu lalang di telinga Kansha. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dan malah langsung menjugde. Kansha menghela nafas kesal.


"Berapa kali harus kujelaskan padamu, bahwa aku tidak berciuman dengan Alan." ujar Kansha penuh penekanan.


"Kalau Alan sampai memutuskan rencana pernikahan kalian, itu karena kesalahanmu sendiri. Kamu membohonginya dengan pura-pura sakit parah dan kamu bahkan mencelakai bundanya hingga masuk rumah sakit. Kalau aku ada di posisi Alan, aku pun akan memilih keputusan yang sama. Untuk apa memiliki calon istri yang berotak kriminal sepertimu." lanjut Kansha tajam.


Kini semua mata menatap Aisyah. Banyak yang terkejut dan tidak percaya apa yang mereka dengar barusan. Bisik-bisik bernada mencemooh kini beralih dilayangkan pada Aisyah.


"Kalau itu benar, maka yang salah mbaknya dong. Sampai mencelakai orang tua, kalau saya sih juga pasti bakal membatalkannya."


"Tidak menyangka kejadianya seperti itu "


"Sia-sia tadi membelanya, dikira korban tahunya pelaku. Licik sekali ya."


"Dia padahal kelihatan baik dan lemah lembut tapi hati siapa yang tahu. Jahat sekali."


Aisyah mengepalkan tangannya. Dia menatap penuh rasa benci pada Kansha. Niatnya yang ingin menjatuhkan Kansha malah berbalik pada dirinya sendiri. Tapi Aisyah tidak mau menyerah.


"Aku kira perbincangan 'menyenangkan' kita selesai. Aku pergi dulu." ucap Kansha. Dia kembali berbalik dan berlalu pergi keluar cafe.


Namun Aisyah masih tak mau menyerah. Dia bergegas mengejar Kansha.


"Mbak Kansha! Berhenti!" teriak Aisyah. Terlambat, Kansha sudah menyebrang jalan.


Aisyah yang tak mau kehilangan kesempatan segera mengejar Kansha. Dia menyebrang tanpa lihat kanan-kiri. Hingga dia tak sadar ada motor yang melaju cepat ke arahnya.


Bruk


Kansha menghentikan langkahnya kala mendengar suara seperti tubrukan itu. Dia menoleh pada jalan raya. Matanya terbelalak melihat Aisyah terbaring dengan penuh luka di tengah jalan sementara banyak orang yang menyaksikan segera berkerumun.


Kansha menjatuhkan tasnya, dia lalu berlari mendekati Aisyah yang sudah tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2