My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 128.


__ADS_3

Kansha langsung dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya cukup parah. Lebam dimana-mana dan darah juga menutupi sebagian wajahnya. Dan sejak dibawa ke ambulans, Kansha sudah tak sadarkan diri.


Semuanya amat khawatir pada Kansha, pun dengan Alan. Lelaki itu tak hentinya berdoa mengharap keselamatan Kansha pada Sang Kuasa. Tangannya terus menggenggam tangan dingin sang pemilik hatinya.


Jika Alan ada di dalam ambulans menemani Kansha, maka yang lainnya menyusul dibelakang kecuali Alvaro yang pergi mengejar Aura yang hendak melarikan diri.


Di dalam ambulans, suasana amat tegang. Kekhawatiran Alan pun terus memuncak kala Kansha belum juga sadarkan diri. Dia juga terus menyalahkan dirinya karena tak bisa melindungi kekasih hatinya ini.


"Ssh." suara desisan lirih terdengar dari mulut Kansha.


Alan tersentak kala kedua kelopak mata Kansha terbuka.


"Kansha? Kamu sadar?" bisik Alan penuh pengharapan.


"Aku mengantuk, Lan." lirih Kansha.


Alan menggelengkan kepalanya keras. Air matanya langsung mengalir.


"Tolong jangan pejamkan matamu. Tidurnya nanti saja ya begitu kamu sudah diobati." pinta Alan takut.


"Aku lelah, Lan." balas Kansha. Nadanya pun mengisyaratkan kelelahan yang amat sangat.


"Tidak, Kansha. Tolong-kumohon jangan." pinta Alan lagi.


Tapi Kansha tak menjawabnya lagi. Dia langsung memejamkan matanya dengan erat. Wajahnya seketika damai.


Tapi Alan langsung membeku. Sedetiknya dia meraung, memanggil nama Kansha berkali-kali agar perempuan itu terbangun.


"Kansha!"


"Kansha!"


Tapi sebanyak apapun namanya dipanggil, Kansha tidak kunjung terbangun.


***


Di sisi lain, Alvaro mengejar Aura yang melarikan diri dengan mobilnya. Jalanan yang mereka lalui, amat lengang dan itu memudahkan Aura yang mengebut gila-gilaan di jalan untuk menghindari Alvaro.


Tapi Alvaro tak menyerah, dia terus berusaha mencari kesempatan untuk menghentikan mobil yang dikendarai Aura itu.


Pokoknya, yang menjadi priotarisnya adalag Aura tidak boleh melarikan diri. Perempuan itu harus mendapat hukuman atas perbuatannya.


Kemudian sebuah belokan muncul di depan mereka. Alvaro menggunakan kesempatan ini untuk bisa menyalip mobil Aura.


Dan Aura juga menyadarinya. Dia tidak boleh sampai disalip Alvaro di kelokan itu. Aura pun menginjak pedal gas dan mobilnya melaju lebih cepat dari sebelumnya.


Di sisi lain, Alvaro tahu bahwa Aura mempercepat mobilnya. Dia pun tak mau kalah. Lelaki itu menekan pedal gas hingga kecepatan mobil hampir di ambang maksimum.


Dan itu hanya terjadi sepersekian detik. Kala mobil Alvaro yang kecepatannya super gila itu berhasil berbelok mulus dan berada di depan mobil Aura. Dan begitu dia sudah di depan mobil Aura, Alvaro langsung menghadang mobil Aura.


Begitu mobil Aura berhenti. Alvaro langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Aura yang masih di dalam mobil.


Tok Tok


"Turun." titah Alvaro.


Aura tak menanggapinya. Dia malah memalingkan wajahnya seolah tak melihat Alvaro.


Karena tak mendapat tanggapan, Akvaro berusha membuka pintu tapi pintunya terkunci. Dia pun langsung mengetuk-ngetuk kaca mobil lagi.


"Turun." titah Alvaro lebih tegas.


Aura yang tak tahan dengan Alvaro langsung menurunkan kaca mobilnya.


"Apa? Ingin menangkapku?"


"Kamu bersalah, Aura. Kamu harus menerima resiko dari perbuatanmu sendiri."


"Aku tidak bersalah! Perempuan jalang itu pantas menerimanya!" sentak Aura.


"Kamu tetap harus menerima hukuman. Sekarang turun!"


Tapi Aura keukeuh tak ingin turun hingga Alvaro kehilangan kesabaran. Lelaki itu kembali menuju mobilnya. Setelah itu dia kembali ke mobil Aura dengan membawa sesuatu.


"Turun atau kupecahkan kaca mobilmu!" ancam Alvaro.


Aura tersenyum remeh, "Kamu berani melakukannya?" tantang Aura tak percaya.


Brak


Aura tersentak kala suara hentakan kunci pass hampir memecah jendela depannya.


"Apa yang kamu lakukan?!" sentak Aura emosi.


"Turun sekarang." titah Alvaro dingin.


"Kamu tega melakukan itu padaku? Sebenarnya apa sih masalahmu denganku?" seru Aura kesal.


"Aku hanya ingin kamu mempertanggung jawabkan perbuatanmu, apa itu sulit?"


"Hanya demi Kansha, kamu rela melakukan sejauh ini?"

__ADS_1


Alvaro mengabaikan perkataan Aura. "Turun, Aura."


Aura tak menanggapinya. Dia sudah terlanjur marah pada tindakan Alvaro.


"Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau kamu terkena serpihan dari jendela mobilmu." ucap Alvaro ancang-ancang hendak menghancurkan lagi jendela mobil Aura dengan kunci pass yang dibawanya.


Aura berdecak kesal dan akhirnya dia keluar dari mobil.


"Apa? Sekarang apa lagi?!" seru Aura marah.


Alvaro tak langsung menjawab, dia malah mengambil kunci mobil Aura yang masih tertancap.


Baru saja Aura hendak memprotes akibat kunci mobilnya yang tiba-tiba diambil, Alvaro langsung menarik tangan Aura. "Ikut aku." katanya.


"Tidak!" ucap Aura langsung menghentakkan tangannya.


"Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, Aura."


"Apa? Apa yang sudah kulakukan?!"


"Kamu menculik bahkan menyiksa Kansha. Kansha bahkan hampir saja meninggal. Itu sudah masuk tindakan kriminal, Aura!"


"SUDAH KUBILANG DIA PANTAS MENDAPATKANNYA. DIA PEMBUNUH, ALVARO!" teriak Aura.


"KAMU YANG PEMBUNUH!" balas Alvaro ikut berteriak. "Kamu yang jadi pembunuh disini, Aura. Kamu hampir membunuhnya." lanjutnya dengan nada yang lebih tenang.


"Dia sudah menghilangkan Kania selamanya. Kania bahkan--" Aura tak bisa melanjutkan ucapannya. Dia tiba-tiba merasa emosional.


"Aura, itu semua hanya salah paham. Kansha tidak pernah mungkin mempunyai niatan untuk menyingkirkan kakaknya sendiri. Daj lagi, saat itu usianya lima tahun, menurutmu apakah mungkin anak lima tahun bisa merencanakan kejahatan seperti itu?"


"Tapi Kania tenggelam di laut karena menyelamatkannya. Aku mungkin bisa memaafkannya kalau Kania selamat atau paling tidak--" Aura menjeda ucapannya. Air matanya tiba-tiba menitik. "Atau paling tidak...jasadnya masih ada. Tapi bahkan jasadnya saja tidak ada, Al. Dia masih terombang-ambing di laut."


Aura terisak kecil. Bagaimanapun dia juga manusia biasa. Dia juga mengalami kesedihan saat ditinggal orang tersayang. Apalagi Kania, teman malaikatnya ini memiliki hati yang baik. Di saat dunia memusuhinya kala kecil, ada Kania yang tetap setia menemaninya. Menjadi telinga, hati dan pundaknnya. Dan Kania direnggut begitu saja oleh Semesta melalui Kansha.


Tak bolehkah Aura merasa marah dan dendam?


Karena hidupnya kembali kelabu tanpa kehadiran Kania. Ditambah dengan kepergian sang ibu yang menyisakan duka mendalam baginya di kala SMP. Aura merasa dunianya sudah runtuh seutuhnya.


Kehilangan Kania dan ibunya membuatnya memusuhi dunia dan orang-orang yang bahagia diatas penderitaannya.


Alvaro yang merasa simpati, menjatuhkan kunci pass yang digenggamnya dan langsung menarik Aura dalam pelukannya. Dan Aura langsung menangis sesenggukan disana. Dia menumpahkan semuanya pada dada mantan kekasihnya yang pernah dia sakiti dulu.


Usai tangisannya reda, Aura langsung melepaskan diri. Dia memalingkan wajahnya. Merasa malu karena menangis begitu hebat di pelukan Alvaro.


"Aku tahu kamu melakukan ini karena tidak adil. Tapi tetap saja, caramu salah. Kamu tak akan bisa menemukan kepuasan bahkan ketenangan hati meski berhasil membunuh Kansha. Aku yakin Kania tidak berharap hal seperti ini. Bagaimanapun, Kansha adalah adiknya. Kania pasti akan kecewa padamu." ucap Alvaro.


Aura tak membalas, dia tetap saja memalingkan mukanya. Wajanya memerah karena tangisan.


"Hanya ada satu cara agar membuat Kania bisa tenang. Yaitu dengan memaafkan dan menerima semua yang terjadi. Bagaimanapun itu hanya luka di masa lalu. Kita harus hidup tanpa terikat lagi dengan masa lalu. Tapi bukan dilupakan, melainkan diterima lapang dada. Itu hanyalah musibah."


"Baiklah." ucapnya pasrah.


Alvaro tersenyum senang.


"Ayo, kita ke mobilku saja. Mobilmu akan kusuruh orang lain membawanya." ucap Alvaro.


Aura mengangguk. "Kamu jalan duluan." ucapnya.


Tapi begitu Alvaro membalikan badan, Aura langsung melarikan diri. Dan Alvaro sadar itu, lelaki itu langsung berbalik dan mencekal tangan Aura.


"Lepaskan! Alvaro, lepaskan!" serunya.


"Kamu ingkar janji, Aura." desis Alvaro.


"Kamu fikir aku akan menyerahkan diri? Cih, hanya di mimpimu saja!" decihnya.


Aura terus meronta-ronta agar Alvaro melepaskan tangannya. Tubuhnya tetap membelakangi Alvaro yang mencekal lengannya keras.


"Kubilang, lepas--" Aura menghentikan ucapannya. Dia terpaku pada sesuatu yang ditodongkan Alvaro ke wajahnya.


"Kabur lagi, kutembak kepalamu." ancam Alvaro dingin.


"Da-darimana ka-ka mu-mu dapat pi-pistol itu?" tanya Aura terbata-bata.


Alvaro mengangkat satu alisnya, "Menurutmu?"


"Itu ilegal, Alvaro."


"Aku hanya perlu menyembunyikannya dari pihak berwajib." balas Alvaro acuh.


Aura terdiam. Dia terlalu takut dengan pistol yang siap diletuskan Alvaro kapanpun ke dahinya itu.


"Jadi apa pilihanmu?" tanya Alvaro.


Aura mengangkat kedua tangannya, pertanda dia menyerah.


"Pilihan yang bagus." ucap Alvaro.


Alvaro langsung menarik satu tangan Aura menuju mobilnya. Pistolnya tetap dia todongkan pada Aura. Dan begitu Aura masuk ke mobil, Alvaro langsung memasukan pistolnya ke saku jasnya. Lelaki itu pun turut masuk ke dalam mobil.


"Rahasiakan soal kepemilikan senjata ini kalau kamu mau selamat." tandas Alvaro datar.

__ADS_1


Aura mau tak mau mengangguk.


***


Kansha sudah ditangani oleh dokter. Dia sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat. Untungnya Kansha tidak kehilangan banyak darah meskipun lukanya cukup parah. Perempuan itu bahkan sudah hampir stabil, hanya perlu menunggunya siuman saja.


Alan terus menemani Kansha yang belum siuman. Tangan dingin Kansha digenggam erat oleh tangan hangat Alan, menghantarkan kehangatan pada Kansha agar suhu tubuhnya naik. Sedangkan, Alfin dan Aisyah menunggu di luar. Dan Ruben serta Nana pulang ke rumah terlebih dulu meskipun awalnya Nana menolak dan ingin menunggu Kansha hingga siuman.


Kembali lagi ke dalam ruang rawat, Kansha perlahan membuka kedua matanya. Dia mengerjap pelan kala kepalanya berdenyut ngilu. Alan yang sedang menumpukan kepalanya pada ranjang Kansha seketika tersentak kecil kala rambutnya seperti diusap perlahan.


"Kansha?" bisik Alan serak. Dia mendongak dan matanya bertemu pandang pada wajah Kansha yang pucat.


"Haus, Lan." bisik Kansha.


Alan tanggap, dia segera beranjak dan mengambil minum di atas nakas. Dia meminumkannya pada Kansha yang menenggaknya hingga habis. Setelah selesai, Alan menaruh gelas kosong itu ke atas nakas kembali.


"Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?" tanya Alan.


Kansha menggeleng pelan, "Aku hanya merasa tenggorokanku sakit. Kurasa aku terlalu banyak berteriak."


"Apa yang sudah dilakukan Aura padamu, hem?" tanya Alan.


"Dia memukulku dan menendangku saja. " jawab Kansha.


"Sialan. Dia harus diberi pelajaran." desis Alan emosi.


"Alan, jangan marah. Aku bisa memahaminya. Dia sedang marah padaku."


"Mana ada marah hingga hampir membunuh seperti itu? Dia sudah berniat membunuhmu, Kansha." tekan Alan.


"Aku tahu, tapi itu tidak terjadi kan. Aku masih disini, didepanmu saat ini."


"Tapi tetap saja--"


"Alan, aku sudah tidak apa. Berjanjilah untuk tidak melakukan apapun pada Aura. Biarkan hukum yang membalasnya."


"Tapi Kansha---"


"Alan, aku mohon." pinta Kansha.


Alan mendesah kasar. "Baiklah. Kamu terlalu baik jadi orang, Kansha." rutuknya.


Kansha terkekeh pelan mendengarnya.


"Dimana yang lainnya?" tanya Kansha.


"Ada di luar tapi Ruben dan Nana pulang lebih dulu. Nana sedang hamil muda, tidak baik kalau dia masih di rumah sakit selarut ini."


Kansha mengangguk mengerti.


"Kalau begitu tolong panggilkan yang lainnya." pinta Kansha.


Alan mengangguk. Lelaki itu langsung menuju pintu. Dia membuka pintunya sedikit.


"Ayo masuk, Kansha sudah siuman." beritahunya pada Alfin dan Aisyah.


Alfin dan Aisyah yang sedari tadi diluar seketika mengucap syukur. Mereka pun langsung masuk ke dalam ruangan seperti. yang dipinta Kansha.


"Bagaimana Aura?" tanya Kansha begitu Alfin dan Aiyah mendekat.


"Kata polisi yang tadi bersama kami, Aura sudah berada di kantor polisi. Dia memang sempat kabur tapi Alvaro mengejarnya." jawab Alfin.


"Begitu. Terimakasih atas bantuan kalian ya. Terimakasih sudah menyelamatkanku. Kalau kalian tidak ada saat itu, aku mungkin sudah tinggal nama." ucap Kansha tersenyum tulus.


"Sama-sama, mbak. Yang penting mbak selamat, kami sudah senang." sahut Aisyah lega.


Kansha tersenyum sambil mengangguk.


Drrt


Tiba-tiba ponsel Aisyah berbunyi. Aisyah meminta izin untuk mengangkat telfon. Telfon itu berasal dari nomor tak dikenal.


"Halo." ucap Aisyah.


"Maaf kami dari Kepolisian, apakah benar ini mbak Aisyah Zakariyanissa, putri Pak Zakariya?"


"Iya betul, pak. Ada apa ya?" tiba-tiba perasaan Aisyah tidak enak.


Dan begitu polisi itu mengatakan yang sebenarnya, Aisyah tiba-tiba melemas. Dia bahkan menjatuhkan ponselnya.


***


Tiga orang dewasa berpakaian formal tampak berjalan tergesa-gesa di bandara. Mereka adalah pasangan Williams dan Kevin. Mereka baru saja kembali ke Indonesia kala mendengar berita soal Kansha.


Tapi begitu mereka hendak ke mobil, suara Kevin menghentikan langkah mereka.


"Orang tua kandung Nona Kansha ditemukan." ucapnya.


"Apa?" seru Grace terkejut. Mereka langsung menatap Kevin yang sedang menatap ponselnya dengan tatapan serius.


"Hanya saja, ada kabar buruk."

__ADS_1


Andrian dan Grace terdiam menunggu kelanjutan ucapan Kevin.


Kevin menatap kedua atasannya itu, "Beliau baru saja meninggal dunia."


__ADS_2